new-header-kesaksian

 

Di tahun 2009, Pendeta Lee Jong-Rak menempatkan sebuah kotak di samping rumahnya. Kotak itu dilapisi oleh selimut bewarna merah muda dan biru lembut, dan sebuah lonceng kecil melekat ke pintu dan akan berbunyi jika dibuka. Tertulis di sisi kotak itu, “Ini adalah fasilitas untuk perlindungan kehidupan. Jika Anda tidak mau merawat bayi penyandang cacat, jangan membuangnya atau meninggalkan mereka di jalan. Bawalah mereka ke sini.”

Langsung setelah kotak itu ditempatkan, bayi-bayi yang penyandang cacat mental dan fisik mulai ditinggalkan, beberapa dengan tali pusarnya masih menempel.

Pendeta Lee yang sekarang berusia 57 tahun, mulai menerima bayi-bayi cacat sejak tahun 1998. Dan sejak itu, dia telah merawat lebih dari 36 bayi. Lee membesarkan mereka, mengasihi mereka dan mengantar mereka ke sekolah. Hari ini, 27 masih tinggal bersamanya, yang paling besar berumur 18 tahun dan yang paling kecil, baru berusia dua bulan.

Dua puluh lima tahun yang lalu, istri Lee, Chun-ja, melahirkan anak yang cacat dan selama satu bulan, Lee menjauhkan bayi itu dari ibunya. Dalam masyarakat Korea yang menghargai kesempurnaan fisik, bayi yang cacat merupakan suatu hal yang memalukan.

Kelahirannya anaknya yang cacat membuat Lee mempertanyakan imannya.

“Saya bertanya pada Allah, ‘Mengapa engkau memberi padaku anak yang cacat?’ Saya sama sekali tidak bersyukur untuk bayi ini,” kata Lee. Namun, saat dia melihat anaknya yang tidak berdaya dan tanpa pengharapan, ia mulai melihat betapa berharganya suatu kehidupan. Lee dan istrinya memutuskan untuk melakukan segalanya untuk memastikan anaknya hidup sekalipun doktor hanya memberinya beberapa bulan. Mereka memanggilnya Eun-man, yang berarti penuh dengan kasih karunia Allah.

Selama 14 tahun pertama, anaknya tinggal di rumah sakit. Untuk membiayai perawatannya, Lee menjual bisnis keluarganya, meminjam uang dan melakukan pekerjaan serabutan untuk menambah penghasilan.

Lee meluangkan berbulan-bulan di rumah sakit merawat anaknya dan mulai mengunjungi anak-anak penyandang cacat yang lain dan menghimbau orang tua mereka untuk tidak menyerah. Mereka mulai memanggilnya “pendeta”.

Anehnya, anaknya yang membuatnya menyalahkan Allah pada akhirnya membawanya lebih dekat dengan Tuhan.  Di tahun 1992, saat Eun-man berusia 6, Lee masuk ke sekolah theologia untuk mempersiapkan diri menjadi pelayan Tuhan.

Suatu hari, seorang wanita lanjut usia di rumah sakit meminta Lee untuk merawat cucunya yang lumpuh. Wanita itu berkata, jika Lee sudi merawat cucunya, dia akan percaya pada Tuhan dan menjadi seorang Kristen. Lee menerima anak itu yang masih tinggal bersamanya sampai sekarang. Beberapa bulan setelah Lee menerima anak itu, wanita itu meninggal dunia.

Seorang pekerja sosial meminta Lee untuk menerima seorang anak penyandang cacat mental yang dilahirkan seorang anak belia berusia 14 tahun yang mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol saat hamil. Anak yang bernama Hannah itu memang tidak diharapkan untuk bisa hidup lama. Namun Lee merawatnya dengan penuh kasih seperti anaknya sendiri. Dia terkesan dengan daya juang anak kecil itu. Lewat kasih dan perhatiannya Hannah hidup enam tahun lagi: “Saat Hannah meninggal, saya menangis. Kematian Hannah membuat saya jauh lebih sedih ketimbang saat orang tua saya meninggal.”

Kehidupan Hannah yang singkat dan kematiannya membuat Lee bertekad bahwa dia tidak akan pernah menolak anak yang membutuhkan. Firman Tuhan di Mzm 41.2 berkata, “Berbahagialah  orang yang memperhatikan orang lemah! Sejak itulah dia mulai menerima anak-anak penyandang cacat yang ditelantarkan. Tanpa pelayanan yang dilakukan oleh Lee, akan banyak anak-anak penyandang cacat yang dibuang di tempat sampah maupun di toilet-toilet umum.

Dinding rumah Lee sekarang dipenuhi oleh foto-foto anak-anak yang dirawatnya. Dari semua anak-anak yang ditempatkan di “kotak” di depan rumahnya, tiga telah kembali untuk tinggal bersama keluarga mereka, lima diadopsi dan tiga telah meninggal dunia. Lee mengasihi setiap anak yang dirawatnya, namun yang paling melekat di hatinya adalah Hannah yang dikuburkan pas di bawah pohon di depan rumahnya. Lee berkata, “Saya tidak dapat melupakannya, dan merupakan suatu penghiburan bahwa dia masih di sini.”

Peter A. Dietrich, seorang sukarelawan di tempat Lee berkata, “Misi Lee sangatlah berat. Saya tidak tahu ada orang yang ke tempatnya untuk pertama kali yang tidak tersentuh dan menangis.” Sekalipun terdapat institusi yang merawat anak-anak peyandang cacat tapi tidak ada orang yang digaji yang dapat memberikan kasih seorang ayah dan ibu kepada anak-anak tersebut seperti Lee dan isterinya.

Pelayanan Lee dan istrinya mengenapi perintah Tuhan untuk mengasihi sesama, seperti diri mereka sendiri utamanya yang tidak mungkin dapat membalasnya dan pembalasannya hanya akan datang dari Allah. “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya (Am. 19.17).

(Artikel tentang Pendeta Lee oleh John M. Glionna, pertama kali muncul di Los Angeles Times tanggal  19 Juni 2011)