new-header-kesaksian

 

John Powell |

“Kita Mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita” – 1 Yohanes 4.19

Sekitar 14 tahun yang lalu, saya berdiri memperhatikan satu per satu siswa-siswa di universitas tempat saya mengajar berbaris masuk ke ruangan kuliah untuk sesi pertama kursus “Teologia Iman’ saya. Itulah pertama kali saya melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang panjang. Saya tahu bahwa yang penting adalah apa yang ada di dalam kepala seseorang bukan di atasnya; tetapi di waktu itu saya tidak siap untuk orang seperti Tommy dan menganggapnya aneh – sangat aneh.

Ternyata Tommy seorang ateis yang tetap di kelas saya. Ia terus menerus membantah atau mengejek dengan senyumannya pada kemungkinan adanya Tuhan yang mengasihi tanpa pamrih. Selama satu semester kami hidup dalam keadaan yang relatif damai, walaupun ada kalanya, ia agak menyebalkan. Di akhir kursus itu, saat ia selesai menyerahkan soal ujian akhirnya, ia bertanya dengan nada yang agak sinis, “Apakah Anda pikir saya akan pernah menemukan Tuhan?”

Saya memutuskan untuk membuatnya kaget. “Tidak!” Saya dengan tegas menjawab.

“Oh,” ia menjawab. “Saya pikir itu adalah produk yang sedang Anda jual.”

Saya membiarkan dia berjalan sejauh lima langkah dari pintu, lalu berteriak, “Tommy! Saya pikir kamu tidak akan pernah menemukan dia, tetapi saya pasti ia akan menemukan Anda!” Tommy hanya mengangkat bahunya dan meninggalkan ruangan. Saya merasa agak kecewa karena ia tidak menanggapi kalimat saya yang terakhir.

Belakangan saya mendengar bahwa Tom telah wisuda dan saya merasa agak lega. Lalu saya mendengar kabar buruk: Tommy menderita kanker yang mematikan. Sebelum saya sempat mencarinya, ia datang ke saya. Saat ia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah sangat kurus, rambut panjangnya sudah rontok karena kemoterapi. Tetapi matanya terang dan suaranya tabah. “Tommy, saya sering memikirkan kamu. Saya dengar kamu sakit,” saya berkata tanpa berpikir.

“Oh ya, sangat sakit. Saya menderita kanker. Hanya tinggal beberapa minggu lagi.”

“Apakah kamu bisa sharing tentang hal itu?”

“Tentu saja, apa yang Anda ingin tahu?”

“Bagaimana rasanya kamu tahu akan meninggal di usia 24 tahun?”

“Sebetulnya, bisa lebih parah lagi!”

“Seperti apa?”

“Baiklah, seperti berusia 50 tahun dan tidak memiliki kerangka penilaian atau ideal. Seperti berumur 50 tahun dan masih berpikir bahwa minuman, wanita dan uang adalah hal-hal utama dalam hidup.

Tapi sebenarnya saya sesungguhnya mencari Anda tentang sesuatu yang pernah Anda katakan pada saya di hari terakhir kelas kita. Saya bertanya jika menurut Anda, saya akan pernah menemukan Tuhan dan Anda berkata tidak, “yang membuat saya kaget. Lalu Anda berkata, ‘Tetapi Dia akan menemukan kamu.’ Saya banyak memikirkan hal itu, walaupun pencarian saya tidaklah begitu intens di waktu itu. Tetapi saat doktor mengeluarkan tumor dari paha saya dan memberitahu saya itu kanker ganas, saya menjadi serius untuk menemukan Tuhan. Dan saat kanker itu menyebar ke organ-organ penting tubuh saya, saya mulai membanting pintu-pintu surga. Tetapi tidak ada suatu apa pun yang terjadi.

Dan suatu hari saya bangun pagi, dan daripada saya menyia-yiakan tenaga merayu pada Tuhan yang mungkin eksis atau tidak eksis, saya menyerah begitu saja. Saya memutuskan saya tidak peduli tentang Tuhan dan tentang kehidupan setelah maut – atau hal apa pun.

Saya memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu saya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Saya memikirkan tentang Anda dan sesuatu yang pernah Anda katakan di dalam salah satu kuliah: ‘Kesedihan yang terdalam adalah melewati hidup tanpa mengasihi.’ Tetapi akan sama sedihnya untuk meninggalkan dunia ini tanpa memberitahu orang-orang yang Anda kasihi bahwa Anda mengasihi mereka. Jadi, saya mulai dengan yang paling susah: ayah saya.

Ia sedang membaca koran saat saya mendekati dia. ‘Pa, saya mau berbicara.” ‘Baiklah, bicara,’ ia menjawab. ‘Maksud saya, hal  yang sangat-sangat penting Pa.” Korannya turun beberapa senti. ‘Ada apa?’ ia bertanya. ‘Pa, saya mengasihi Papa. Saya hanya mau Papa tahu itu.'”

Tom lalu senyum dan berkata dengan suatu kepuasan, seolah-olah ia merasakan kehangatan dan sukacita mengalir di dalam dirinya. “Koran itu langsung jatuh ke lantai. Lalu papa saya melakukan dua hal yang tidak pernah saya lihat dia lakukan. Ia menangis dan merangkul saya. Dan kami berbicara sepanjang malam sekalipun ia harus bekerja di keesokan harinya.

Dengan mama dan adik saya jauh lebih mudah. Mereka menangis bersama saya, dan kami saling memeluk dan membagikan hal-hal yang selama ini kami rahasiakan. Saya hanya menyesal karena sudah menanti begitu lama. Saya sudah berada di bawah bayangan maut, dan baru sekarang saya membuka diri untuk semua orang yang dekat dengan saya.

Lalu suatu hari saya berpaling dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang kepada saya saat saya memohon kepada dia. Sepertinya, Tuhan melakukan hal-hal dengan caranya sendiri dan di waktunya sendiri. Yang penting adalah kita benar. Ia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencarinya.”

“Tommy,” saya menarik nafas panjang, “Kamu sedang menyatakan sesuatu yang sangat universil. Kamu sedang berkata bahwa cara yang paling pasti untuk menemukan Tuhan bukanlah untuk menjadikan dia satu milik pribadi atau suatu penghiburan di saat kita membutuhkan, tetapi kita menemukan dia saat kita membuka diri untuk mengasihi.

Tom, bisa saya minta bantuan? Apakah kamu bisa datang ke kelas “Teologia Iman” saya dengan memberitahu siswa-siswa saya tentang apa yang telah kamu sampaikan ke saya tadi?”

Walaupun kami menjadwalkan suatu tanggal, tapi Tom tidak dapat menggenapi janjinya. Tentu saja, hidupnya tidaklah sesungguhnya berakhir dengan kematiannya, hanya saja sudah berubah. Ia telah membuat satu lompatan dari iman ke visi. Ia telah menemukan suatu hidup yang jauh lebih indah dari yang pernah dipandang oleh mata manusia atau yang dapat dibayangkan oleh pikiran manusia.

Sebelum Tom meninggal, kami berbicara untuk terakhir kalinya. “Saya tidak sempat menghadiri kelas Anda,” katanya.

“Saya tahu, Tom.”

“Maukah Anda memberitahukan kepada mereka untuk saya? Maukah Anda memberitahukan….seluruh dunia untuk saya?”

“Akan saya lakukan Tom. Saya akan memberitahu mereka.”

(Dikutip dan terjemahkan dari Chicken Soup for the Christian Soul)