Ev. Xiao Shan | Filipi 2:19-24 |
Jika Anda seorang gembala, dan Allah memberikan Anda satu kesempatan untuk meminta suatu hal yang dapat membantu Anda menjadi lebih efektif dalam melayani Dia, apa yang akan Anda minta? Apakah Anda akan meminta Allah untuk membuat Anda ahli dalam Perjanjian Lama dan Baru? Meminta Allah untuk memberikan Anda karunia penglihatan dan bernubuat? Pertanyaan ini sangat berkaitan dengan Pendalaman Alkitab kita hari ini.
Mari kita buka di Filipi pasal 2. Dituliskan di Pasal 2:19-24,
Dalam Tuan Yesus, aku berharap dapat segera mengutus Timotius kepadamu supaya aku dihiburkan ketika mendengar kabar tentang kamu. Sebab, aku tidak memiliki orang lain seperti dia, yang dengan tulus memedulikan kesejahteraanmu. Sebab, yang lain hanya sibuk memedulikan kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus. Seperti kamu tahu, Timotius telah membuktikan dirinya berharga, ia melayani bersamaku demi kemajuan pemberitaan Injil seperti seorang anak kepada ayahnya. Karena itu, aku berharap dapat mengutus dia segera setelah aku mengetahui apa yang akan terjadi denganku, dan aku percaya kepada Tuhan bahwa aku sendiri juga akan segera datang kepadamu.
SEMUA MENCARI KEPENTINGAN SENDIRI
Paulus sangat prihatin dengan jemaat Filipi, sekalipun dia berada di penjara dan tidak dapat berhubungan dengan mereka, dia sangat ingin mengetahui keadaan mereka. Pada zaman itu, komunikasi sangat berbeda dengan sekarang. Sekarang saat kita merindukan keluarga kita, kita hanya perlu menelpon atau mengirim email. Namun, pada zamannya Paulus, dia harus mempercayakan pesannya kepada seseorang yang akan menyampaikannya secara lisan, tidak ada cara yang lain. Akan tetapi, di antara teman sekerja Paulus, selain Timotius, tidak ada yang lain yang dapat diutusnya.
Mengapa Paulus hanya dapat mengirim Timotius? Di ayat 21,
“Sebab, yang lain hanya sibuk memedulikan kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.”
Siapa yang dikatakan oleh Paulus “hanya sibuk memedulikan kepentingannya sendiri”? Apakah orang-orang dunia? Memang bisa dimaklumi kalau orang-orang dunia, karena mereka memang mencari kepentingan diri mereka sendiri dan bukan kepentingan Kristus Yesus. Mereka tidak percaya pada Yesus, tentu saja mereka tidak akan mencari kepentingan Yesus Kristus. Namun, Paulus bukan sedang berbicara tentang orang-orang dunia, tetapi para pekerja yang melayani Allah! Sangatlah menyedihkan bahwa bahkan para pekerja yang melayani Allah tidak sepenuhnya peduli dengan kepentingan Yesus Kristus. Mereka bukannya tidak peduli, jika tidak, mereka tidak akan melayani Tuhan. Masalahnya adalah mereka bukan saja mencari kepentingan Yesus, melainkan juga mencari kepentingan diri mereka sendiri.
Jika Anda seorang hamba Tuhan, apakah Anda setuju dengan apa yang dikataan oleh Paulus? Tanyalah diri Anda: Apakah Anda hanya mencari kepentingan Yesus Kristus? Atau 80% kepentingan Yesus Kristus, 20% kepentingan diri sendiri? Memang tak dapat dipungkiri, sekalipun dalam melayani Tuhan, kita sedikit banyak mungkin mencari kepentingan diri. Saat membuat keputusan, kita selalu mempertimbangkan bagaimana untuk mengaturnya sesuai dengan keuntungan kita. Contohnya, gereja mengutus kamu ke tempat tertentu untuk memulai pelayanan baru, tetapi karena pelbagai alasan, Anda tidak ingin ke sana. Mungkin karena itu daerah orang miskin, atau mungkin cuacanya sangat dingin, dan juga karena Anda harus meninggalkan keluarga Anda. Pokoknya, semuanya tidak menguntungkan Anda. Namun, tentu saja Anda tidak akan jujur dalam hal ini, Anda hanya akan berkata, “Allah tidak menggerakkan hati saya untuk memulai pelayanan baru di tempat itu. Saya merasakan bahwa saya harus terus berada di sini karena saya sudah akrab dengan pekerjaan di sini, jadi saya harus terus membangun saudara yang di sini.”
Anda mungkin akan berpikir bahwa, “Saya sudah percaya pada Tuhan, dan juga sudah meninggalkan dunia ini, tidak lagi mencari uang, dan sekarang bahkan siap untuk melangkah di jalan sempit melayani Dia, ini sudah termasuk bagus.” Mencampurkan sedikit kepentingan diri sebetulnya hanya hal sepele. Kalau memang ini hal sepele, Paulus tidak akan kesulitan mengutus seseorang. Di antara teman sekerja Paulus, dia hanya dapat mengutus Timotius karena Timotius tidak mencari kepentingan dirinya sendiri melainkan kepentingan Yesus Kristus. Dapatkah Anda melihat bahwa kepentingan diri yang sedikit ini menimbulkan masalah besar. Mengapa saya berkata demikian?
Pertama, orang yang punya kepentingan diri, pada saat-saat kritis, pasti akan memilih apa yang menguntungkan dirinya. Terdapat satu prinsip yang sangat penting di dalam Alkitab. Mari kita buka di Matius 6:24,
“Tidak ada orang yang dapat melayani dua tuan karena ia akan membenci tuan yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada tuan yang satu dan meremehkan yang lain. Kamu tidak dapat melayani Allah dan mamon.”
Seseorang tidak bisa berinjak pada dua perahu pada waktu yang bersamaan. Anda tidak dapat melayani Allah dan melayani diri Anda pada waktu yang bersamaan. Dikatakan di ayat ini, “Kamu tidak dapat melayani Allah dan Mamon”. Alasan orang menyembah Mamon adalah karena uang sangatlah berkuasa, dengan uang Anda bisa melakukan banyak hal. Yesus telah mengajar para muridnya di Khotbah di Bukit: Pilihlah di antara Allah atau diri Anda sendiri. Anda harus memilih salah satu. Anda pasti tidak dapat melayani Allah dan melayani diri Anda sendiri. Jika Anda melakukan ini, Anda sedang menipu diri Anda sendiri. Pada titik yang menentukan, Anda akan memprioritaskan kepentingan diri. Jika Anda menjadikan keuntungan diri sebagai obyektif utama di dalam semua perencanaan, keputusan dan pengaturan, apakah Anda masih sedang melayani Allah?
Kedua, orang yang punya kepentingan diri, bukan saja gagal dalam membantu jemaat, malah sebaliknya, dia akan menjadi teladan yang buruk dan mempengaruhi orang lain. Dikatakan di Matius 10:24,
“Murid tidak melebihi gurunya, demikian pula hamba tidak melebihi tuannya.”
Pekerjaan seorang hamba Tuhan sangatlah berbeda dengan pekerjaan yang lain di dunia ini. Pekerjaan sebagai hamba Tuhan merupakan pekerjaan yang paling sulit karena seorang hamba Tuhan harus menjadi teladan, menerapkan firman kehidupan ke dalam hidupnya. Kita berseru meminta jemaat dengan segenap hati hanya mencari kepentingan Yesus Kristus, tidak mencari kepentingan diri, dan tidak membiarkan keluarga, studi dan pekerjaan menghambat kita dari mencari Allah. Mengapa semua seruan itu tidak ditanggapi? Alasannya sangat sederhana: Murid tidak melebihi gurunya, jemaat tidak melebihi gembalanya. Kalau gembala mencari kepentingan Yesus Kristus dan juga kepentingan diri, mengapa jemaat tidak bisa?
Yang terakhir, seorang yang egois, yaitu yang mencarri kepentingan diri, tidak akan memiliki pikiran Yesus Kristus.
Selain Timotius, Paulus tidak mempunyai teman sekerja lain yang dapat dia utus, karena yang lainnya mencari kepentingan diri mereka sendiri, tidak semata mencari kepentingan Yesus Kristus. Dengan kata lain, seorang yang egois tidak memiliki hati Yesus Kristus karena dasar dan motivasi dia berhubungan dengan orang lain bukan didorong oleh pikiran Kristus melainkan pada perspektifnya sebagai seorang manusia. Bagaimana melayani jemaat kalau tidak memiliki hati dan pikiran Kristus? Jika seorang gembala mengajar dari sudut pandang manusia, lalu bagaimana dia dapat membangun jemaat?
Jika seorang jemaat datang dan bertanya, “Apakah saya harus menikah, atau melajang? Ada seorang gadis yang sepertinya sangat menyukai saya, apakah saya harus mempertimbangkan dia sebagai pasangan hidup?” Bagaimana Anda akan menjawabnya? Masalah utama di sini adalah apakah Anda dapat mengetahui apa kehendak Allah bagi saudara ini? Di mata Tuhan, apakah lebih baik untuknya menikah atau tetap melajang? Tanpa hati yang terfokus pada Allah dan berkomunikasi pada Allah, Anda tidak akan dapat memahami pikiran Allah, Anda juga tidak akan dapat menasihati jemaat sesuai dengan kehendak Allah
TIDAK SEORANG PUN YANG MEMPERHATIKAN KEPENTINGANMU
Dikatakan di Filipi 2:20,
“Sebab, aku tidak memiliki orang lain seperti dia, yang dengan tulus memedulikan kesejahteraanmu.”
Ayat ini memberikan kita definisi seorang Kristen. Orang Kristen yang sesungguhnya tidak hanya mempunyai agama, tetapi yang lebih penting adalah dia mempunyai hati Yesus Kristus. Mulai dari sekarang, dia mempunyai arah hidup yang baru, yang tidak hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi jemaat; tidak lagi mempedulikan urusannya sendiri melainkan urusan jemaat. Allah mencari orang yang demikian untuk memimpin umatnya, tetapi orang yang demikian sangatlah langka.
Di Perjanjian Lama, Allah mencari orang yang sehati dengan-Nya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, dan dia menemukan Musa. Musa dan Allah memiliki hati yang sama, tidak mencari kepentingan mereka sendiri, tapi hanya kepentingan umat. Mari kita buka di Keluaran 32:9-10,
“Sebab itu, tinggalkan Aku sendiri supaya murka-Ku menyala atas mereka sehingga Aku dapat menghabisi mereka. Namun, Aku akan membuat suatu bangsa yang besar darimu.” Namun, Musa memohon kepada Yahweh, Allahnya, dan berkata, “Ya Yahweh, mengapa murkamu menyala atas umat-Mu yang telah Engkau bawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?”
Bagaimana Musa menjawab Yahweh? Dikatakan di Keluaran 32:12,
“Mengapa orang Mesir harus berkata begini, ‘Dengan niat jahat, Dia telah membawa mereka keluar untuk membunuh mereka di pegunungan dan untuk membinasakan mereka dari muka bumi’? Berbaliklah dari murkamu yang menyala-nyala dan ubahlah niat-Mu untuk mendatangkan malapetaka atas umat-Mu.”
Musa memang sangat berbeda daripada yang lain. Dia memikirkan umat Israel dalam setiap hal. Sekiranya Anda berada di posisi Musa, Anda pasti akan merasakan bahwa umat Israel pantas menerima penghakiman dari Allah. Selama ini mereka orang yang suka bersungut-sungut, tidak kira apakah di Mesir atau setelah meninggalkan Mesir. Setiap kali berhadapan dengan masalah, mereka akan bersungut-sungut, tidak pernah belajar dari kesalahan mereka. Dan sekarang lebih parah lagi, mereka bahkan berani membangun anak lembu emas dan menyembahnya. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar dan tindakan yang sangat tidak berterima kasih pada segala sesuatu yang telah Allah kerjakan. Sangatlah dapat dimaklumi kenapa Allah mau menjalankan penghakiman ke atas mereka. Akan tetapi, Musa malah bermati-matian memohon kepada Allah demi pengampunan mereka. Mari kita membaca di Keluaran 32:31-32,
Musa pun kembali kepada Yahweh dan berkata, “Oh, bangsa ini telah melakukan dosa yang besar dan mereka telah membuat ilah emas untuk diri mereka sendiri. Namun, sekarang, jika Engkau berkenan, ampunilah dosa mereka; tetapi jika tidak, hapuslah namaku keluar dari kitab-Mu yang telah Engkau tulis.”
Musa dengan bersungguh-sungguh memohon di pihak mereka, dia bahkan berkata, “jika bangsa Israel tidak diampuni dari dosa mereka, hapuslah namaku keluar daru kitab-Mu yang telah Engkau tulis.” Demikianlah Musa merupakan seorang pelayan yang tidak mempunyai kepentingan diri, dan tidak heranlah Allah memilih dia menjadi pemimpin bangsa Israel.
Di dalam Perjanjian Baru, dengan cara yang sama Allah sedang mencari orang yang memiliki hati-Nya, yang memedulikan jemaat. Paulus merupakan orang yang demikian. Dikatakan di Filipi 2:17,
“Sekalipun aku harus dicurahkan seperti cawan persembahan di atas kurban dan pelayanan imanmu, aku bergembira dan bersukacita dengan kamu semua.”
Sekalipun Paulus menjadi kurban yang dicurahkan sebagai persembahan pada Allah, dia tetap bersukacita. Paulus tidak memedulikan hidupnya. Di kitab Filipi, kita dapat melihat bahwa dia tidak pernah mengasihani dirinya sendiri karena dipenjarakan, tapi dalam setiap kesempatan dia menunjukkan kepeduliannya pada jemaat. Sekalipun dia berada di dalam penjara, dia sangat bersungguh-sungguh mempedulikan mereka, sangat ingin mengetahui kondisi dan perkembangan jemaat.
KESETIAAN TIMOTIUS YANG TERUJI
Dikatakan di Filipi 2:22,
“Seperti kamu tahu, Timotius telah membuktikan dirinya berharga, ia melayani bersamaku demi kemajuan pemberitaan Injil seperti seorang anak kepada ayahnya.”
Apakah Anda mengenal Timotius? Atau tidak begitu kenal? Timotius itu orang yang seperti apa? Dari bagian lain di dalam PB, kita tahu bahwa Timotius itu seorang anak muda, dan agak pemalu, dan kelihatannya tidak memiliki talenta yang spesial atau yang terlalu menonjol. Di dalam tulisannya, kita tidak membaca tentang dia melakukan mukjizat, mengusir setan, atau menyembuhkan orang sakit. Dia juga bukan salah satu dari kedua-belas murid Yesus. Kita dapat menggambarkan Timotius sebagai seorang pelayan Tuhan yang biasa-biasa saja. Mengapa Paulus begitu menghargai Timotius?
Paulus menyatakan sesuatu yang sangat spesial di ayat 22, “kesetiaan Timotius terbukti”. Ini berarti terbukti lewat ujian. Semua orang Kristen harus melewati ujian, untuk melihat apakah mereka lulus, apakah kualitas mereka memenuhi persyaratan Allah. Ini merupakan ajaran Alkitab yang sangat penting. Dituliskan di 1 Petrus 1:6-7,
“Dalam hal inilah, kamu sangat bersukacita, sekalipun untuk sementara waktu, jika diperlukan, kamu harus menderita berbagai macam pencobaan sehingga imanmu yang lebih berharga daripada emas yang fana, sekalipun telah teruji oleh api, terbukti murni dan menghasilkan pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada saat penyataan Kristus Yesus.”
Rasul Paulus membandingkan iman kita dengan emas, dan memakai api untuk mengilustrasikan ujian. “Ujian” di sini memiliki akar kata yang sama dengan kata “terbukti” di Filipi 2:22. Nasihat Petrus ini sangat tepat. Petrus sendiri melewati ujian yang diumpamakan sebagai api. Ujian yang paling berat datang padanya setelah Yesus ditangkap, saat orang bertanya apakah Petrus termasuk dari kelompok Yesus. Petrus menyangkal sampai tiga kali untuk mengamankan dirinya, supaya tidak dipermasalahkan. Petrus sepenuhnya gagal dalam ujian ini.
Sekalipun kegagalan ini menyakitkan, tetapi bukan berarti kegagalan ini merupakan kegagalan selama-lamanya. Banyak orang Kristen yang melewati kegagalan lalu tidak dapat berdiri kembali lagi, tidak dapat memulai lagi. Mereka tidak tahu bagaimana mengubah penyesalan menjadi pertobatan. Kebanyakan orang setelah gagal, hanya tahu bagaimana untuk depresi, mengasihani diri sendiri, mengutuk diri dan menyalahkan diri. Setelah gagal, mereka merasa tidak lagi dapat berdiri tegak apalagi melanjutkan melayani Allah. Petrus tidak seperti itu. Sekalipun dia telah gagal saat diuji, tapi setelah melewati kegagalannya yang menyakitkan, dia dengan serius merenungkan kelemahan-kelemahannya. Alasan mengapa Petrus gagal adalah karena dia bukan hanya mencari kepentingan Yesus, tetapi juga kepentingan dirinya sendiri. Karena inilah, pada saat-saat kritis, kepentingan dirinya yang mengambil tempat utama. Setelah itu, Petrus dengan sungguh-sungguh bertobat, dan juga memutuskan untuk tidak lagi mencari kepentingan dirinya sendiri, hanya mencari kepentingan Yesus Kristus. Iman Petrus telah teruji, sebagaimana emas diuji oleh api.
Sejak zaman dahulukala, manusia sudah mengenal nilai emas. Negara akan menyimpan emas murni sebagai khazanah negara. Saat peperangan terjadi, nilai uang kertas menjadi tidak berharga, tetapi nilai emas tetap tidak berubah. Karena emas memiliki karakter yang unik: tidak kira apa yang terjadi, emas tidak akan berkarat dan kualitasnya tidak akan berubah. Emas juga bersinar terang dan menyilaukan, sangat membuat orang tertarik. Petrus berkata, “Setelah emas diuji kemurniannya dengan api, semua yang tidak murni akan tersingkir dan menjadi sangat berharga dan bernilai. Namun, iman yang telah diuji akan lebih berharga daripada emas, karena iman semacam ini akan memberikan kita tempat dalam kerajaan Allah, agar kita memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus kembali lagi.” Menurut catatan tradisi, Petrus setia sampai mati, dia mengorbankan hidupnya demi Allah.
Pabrik dan perusahaan besar banyak menekankan kualitas produk. Semua produk harus melewati proses inspeksi dan ujian yang ketat untuk memastikan kualitas produk itu bagus. Jika lewat inspeksi produk itu ternyata memenuhi standar yang ditetapkan, pabrik akan mengeluarkan label atau sertifikat, sebagai bukti pemenuhan standar yang telah ditentukan. Dengan demikian para konsumen bisa membeli tanpa kekhawatiran. Dengan cara yang sama, di dalam kerajaan Allah, terdapat satu jenis orang, yang telah melewati ujian dan telah menjadi layak. Mereka adalah orang yang tidak lagi hidup demi kepentingan diri dan yang bercahaya terang seperti emas.
Dikatakan di Filipi 2:22,
“Seperti kamu tahu, Timotius telah membuktikan dirinya berharga, ia melayani bersamaku demi kemajuan pemberitaan Injil seperti seorang anak kepada ayahnya.”
Ujian apa yang harus dilewati oleh Timotius? Ujian apa yang harus kita lewati? Di dalam kehidupan Kristen, ujian yang paling besar adalah ujian dalam hal relasi antar-manusia. Bagaimana Allah tahu bahwa hati kita itu total? Ujian apa yang akan Dia pakai?
Metode ujian yang pertama adalah lewat relasi manusia. Mari kita buka di 1 Korintus 16:10-11,
“Sekarang, jika Timotius datang, perhatikanlah supaya ia tidak merasa takut ketika bersamamu karena ia melakukan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku juga. Jadi, jangan ada orang yang memandangnya rendah. Bantulah dia dalam perjalanannya dengan damai agar ia dapat kembali kepadaku. Aku menantikannya bersama dengan saudara-saudara di sini.
Ada materi referensi yang berkata bahwa kitab 1 Korintus ditulis oleh Paulus pada tahun 56 Masehi, dan kitab Filipi ditulis pada tahun 61 Masehi. Pada waktu itu, Paulus mengutus Timotius ke Korintus. Sebelum Timotius tiba, Paulus menulis surat meminta para murid di Korintus untuk tidak merendahkan Timotius, karena dia adalah pelayan Tuhan, karena itu mereka harus menghormatinya.
Siapa saja yang telah membaca buku 1 Korintus tentu dengan baik mengetahui kondisi gereja pada waktu itu. Saya yakin Anda pasti tidak mempunyai kesan yang bagus tentang gereja Korintus. Kelihatannya terdapat pelbagai macam dosa di dalam gereja: perkelompokan, perselisihan, percabulan, keangkuhan dan bukan itu saja, jemaat juga mempertanyakan otoritas Paulus. Sekiranya Anda diutus ke gereja seperti ini, apakah Anda akan pergi? Anda mungkin berpikir di dalam hati Anda, “Mereka bahkan tidak menghormati Paulus, apakah mereka akan menghormati saya? Saya tidak akan bertahan di tempat itu! Saya muda dibanding Paulus dan tidak mempunyai banyak pengalaman sebagai gembala, bagaimana saya dapat membantu mereka?”
Jemaat Korintus mempunyai banyak persoalan. Namun, Paulus tetap mengutus Timotius. Timotius sendiri juga tidak menolak untuk diutus meskipun ditugaskan di jemaat yang mempunyai begitu banyak persoalan. Sebaliknya, seperti biasa dia tidak mencari kepentingan diri melainkan hanya kepentingan Yesus Kristus. Karena Jemaat Korintus membutuhkan, maka dia taat dan melangkah pergi, melakukan yang terbaik dan melayani dengan sepenuh hati. Timotius bersandar pada kasih karunia Allah, dan melewati ujian ini dengan baik.
Metode yang kedua adalah ujian waktu. Mari kita buka di Kisah Para Rasul 16:1-5,
“Paulus juga datang ke Derbe dan Listra. Dan, lihatlah ada seorang murid di sana, namanya Timotius, anak dari seorang wanita Yahudi yang sudah percaya, tetapi ayahnya adalah orang Yunani. Ia dikenal baik oleh saudara-saudara seiman di Listra dan Ikonium.
Paulus ingin Timotius pergi bersama dengannya, maka ia mengajaknya dan menyunatnya karena orang-orang Yahudi yang tinggal di daerah itu. Sebab, mereka semua tahu bahwa ayahnya adalah orang Yunani. Sementara mereka berjalan melewati kota-kota, mereka menyampaikan ketentuan-ketentuan bagi orang-orang percaya agar ditaati, yang telah diputuskan oleh para rasul dan penatua yang ada di Yerusalem. Para jemaat pun diteguhkan di dalam iman dan jumlah mereka bertambah setiap hari.
Paulus mengenal Timotius sewaktu perjalanan misinya yang kedua. Pada waktu itu, Timotius sudah menjadi orang percaya, dan dikenal baik oleh orang-orang percaya di sana. Dengan demikian, Paulus membawa bersama Timotius dalam perjalanannya untuk meneguhkan iman jemaat. Allah juga memberkati mereka, menambahkan jumlah mereka setiap hari. Ada buku referensi yang memberi petunjuk bahwa pada waktu Paulus menulis kitab Filipi, Timotius dan Paulus telah melayani Tuhan bersama-sama lebih dari 10 tahun. Timotius masih sama seperti awalnya; saat dia mulai melayani Tuhan dia tidak mencari kepentingan diri sendiri, tetapi meninggalkan tanah kelahirannya, dan bekerja di ladang Tuhan. Saat Paulus dipenjarakan, dan memerlukan seorang teman sekerja yang memahami kondisi jemaat Filipi, dia masih dapat menyerahkan tugas yang penting ini kepada Timotius.
Sejak dari saat Anda memberikan diri untuk hidup bagi Tuhan dan mungkin 5 tahun sudah berlalu, kemudian 10 tahun berlalu, apakah Anda masih sama seperti pada awalnya? Apakah Anda masih dengan setia mengasihi Allah, tidak mencari kepentingan diri sendiri? Jika Anda masih bisa teguh berdiri oleh kasih karunia Allah, janganlah puas diri karena Anda masih belum menyelesaikan perlombaan. Masih ada perjalanan yang harus ditempuh di depan. Namun, kekuatan Anda itu akan bergantung pada bagaimana Anda menjalani kehidupan Anda sehari-hari.
Hari ini, kita telah melihat Filipi 2:19-24, judulnya adalah “Carilah Kepentingan Yesus Kristus”.
- Sepanjang zaman, Allah sedang mencari orang yang tidak mencari kepentingan diri, melainkan kepentingan umat.
- Allah akan menguji kita dengan pelbagai cara: lewat relasi antar-manusia, ujian waktu dll. Sekalipun, tingkat pendidikan kita tidak tinggi, kurang pengalaman sebagai gembala, tidak mempunyai karunia yang khusus, tetapi semuanya itu tidaklah penting. Selagi kita dapat menjadi seperti Timotius, tidak mencari kepentingan diri, melainkan hanya kepentingan Yesus Kristus, kita akan diingat Allah, kita akan dipakai Allah.