Ev. Xiao Shan | Filipi 3:17-21 |
Jika Anda adalah seorang hamba Tuhan, apa yang menjadi misi Anda? Apakah mengabarkan Injil agar segala bangsa menjadi murid Yesus? Atau mengatur kelas-kelas pelatihan Alkitab agar orang percaya diperlengkapi dengan baik, agar mereka bisa turut bekerja di ladang Tuhan? Menyebarkan Injil ke berbagai tempat, atau memberikan pelatihan firman Tuhan merupakan dua hal yang sangat penting, tetapi bagi para hamba Tuhan, masih ada satu lagi tugas yang paling penting, tahukah Anda apa itu?
Mari kita buka Filipi 3:17-21,
17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikan dengan saksama orang-orang yang juga hidup sesuai dengan teladan yang kamu lihat dari kami.
18 Sebab, ada banyak orang yang hidup sebagai musuh-musuh salib Kristus. Tentang hal ini, aku sudah sering menceritakannya kepadamu dan sekarang aku menceritakannya lagi dengan air mata.
19 Akhir hidup mereka adalah kebinasaan, karena allah mereka adalah perut mereka, dan pujian mereka adalah hal-hal yang memalukan. Pikiran mereka hanyalah pada hal-hal duniawi.
20 Akan tetapi, kewarganegaraan kita adalah di surga, di mana kita dengan penuh semangat menanti-nantikan Juru Selamat, yaitu Tuan Yesus Kristus.
21 Ia akan mengubah tubuh kehinaan kita menjadi serupa dengan tubuh kemuliaan-Nya. Dengan kuasa-Nya itu, Kristus mampu membawa segala sesuatu tunduk kepada-Nya.
Meneladani Paulus dan Mereka yang Hidup Sesuai Teladannya
Di ayat 17, Paulus memberikan arahan yang sangat jelas kepada jemaat: kamu semua harus mengikuti teladanku, dan bukan itu saja, kanu juga harus mengikuti teladan semua orang yang mengikuti teladan kami. Paulus dengan jelas tahu bahwa tanggung jawabnya bukan untuk membangun jemaat baru, bukan untuk menghimbau orang untuk cepat-cepat dibaptis. Di dalam hatinya, dia hanya punya satu “tugas”: yaitu, menjadi teladan yang baik untuk diteladani oleh jemaat. Tidak kira apakah untuk jemaat Filipi, atau untuk jemaat lain, Paulus menetapkan ini sebagai obyektif utamanya. Dia meminta para murid untuk meneladani teladannya. Mari kita buka di 1 Korintus 11:1,
“Jadilah orang-orang yang menuruti teladanku, seperti aku juga terhadap Kristus.”
Dan 2 Tesalonika 3:9
“Bukan karena kami tidak memiliki hak untuk itu, melainkan untuk memberikan diri kami sendiri sebagai contoh bagimu untuk kamu ikuti.”
Bukan saja bagi jemaat Filipi, tetapi bagi jemaat Korintus atau Tesalonika juga, Paulus hanya mempunyai satu tugas, yaitu memimpin lewat teladan, sebagai suatu panutan untuk diikuti oleh jemaat.
Dalam hal apakah jemaat harus meneladani Paulus? Apakah dalam cara berpakaian? Para hamba Tuhan senang memakai baju putih berkerah, jadi apakah orang percaya juga turut memakai baju putih? Apakah dari segi pembawaan? Ada hamba Tuhan yang senang menangis sambil berdoa, apakah jemaat juga harus melakukan hal yang sama? Atau, apakah dari segi karunia? Para hamba Tuhan ada yang sangat bertalenta dalam hal musik, bisa main piano dan menyanyi, apakah itu berarti jemaat harus turut mengembangkan talenta musik?
Yang pasti, Paulus tidak sedang meminta jemaat untuk meneladaninya secara eksternal, peniruan eksternal ini tidaklah berarti. Yang Paulus inginkan adalah untuk mereka meneladani kualitas hidupnya, pengejarannya akan hal-hal rohani, hal-hal yang dari dalam.
Dikatakan di Filipi 3:13-15,
13 Saudara-saudara, aku tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya. Akan tetapi, satu hal yang kulakukan: aku melupakan apa yang di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.
14 Aku terus maju kepada tujuan untuk mendapat hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Yesus Kristus.
15 Marilah kita yang sempurna berpikir seperti demikian. Jika kamu tidak berpikir demikian, Allah akan menunjukkannya dengan jelas kepadamu.
Paulus meminta jemaat untuk meneladani aspirasi dan pengejaran rohaninya. Dia sedang mengejar tujuan di depan dengan sepenuh hati, mengejar kedewasaan, meneladani Kristus agar dapat mengenal Kristus, memperoleh Kristus. Semua orang percaya juga harus memiliki aspirasi yang sama, memiliki pengejaran yang sama. Mari kita melanjutkan di Filipi 4:9,
“Apa yang telah kamu pelajari, terima, dengar, dan lihat dari aku, lakukanlah semua itu, maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”
Paulus meminta jemaat bukan hanya untuk meneladani aspirasinya, tetapi juga harus menerapkan segala sesuatu yang telah mereka dengar, lihat dan pelajari, agar dapat mengalami hadirat Allah dan berkat Allah. Dengan kata lain, jemaat harus belajar dari kualitas hidup Paulus, aspirasinya, bahkan dalam kehidupan sehariannya. Berarti, kita harus meneladani kehidupan para hamba Tuhan, bukan saja secara eksternal; kita harus meneladani aspirasinya, bukan hal-hal yang eksternal.
BELAJAR DENGAN MENIRU
Terdapat dua alasan mengapa Paulus meminta jemaat meneladaninya: pertama, karena sangat dibutuhkan suatu teladan agar dapat mempelajari sesuatu. Bagi seorang murid, sangatlah penting untuk memiliki teladan agar dapat belajar dengan baik, demikian juga dengan hal-hal surgawi. Sebagai contoh, saat guru meminta kita belajar menulis saat kita kecil, bagaimana kita berlatih menulis? Anak kecil melatih dengan meniru; meniru apa yang telah dituliskan guru dan setiap hari melatih menulis dengan meniru tulisan guru. Demikian juga dalam mempelajari bahasa asing, mengapa sangat sulit untuk mempelajari bahasa asing? Alasannya sangatlah sederhana, karena tanpa lawan bicara sangatlah sulit untuk melatih percakapan lisan. Tanpa seorang yang dapat diteladani, kita hanya dapat belajar dari kamus, mendengar rekaman atau menggunakan imajinasi untuk membayangkan bagaimana suatu kata itu harus dilafal. Jadi, sangatlah sulit untuk mempelajari berbicara dalam suatu bahasa asing tanpa kita meneladani secara langsung. Saya mengenal seseorang yang sangat menguasai bahasa asing yang dipelajarinya. Alasan mengapa dia begitu fasih berbicara dalam bahasa asing itu adalah karena dia belajar secara langsung dari orang asing itu selama beberapa waktu. Jadi tidaklah mengherankan dia begitu menguasainya.
Harus ada teladan di depan untuk kita tiru. Hal ini berlaku untuk banyak hal di dunia ini, dan juga bagi kehidupan rohani. Bagi orang percaya, ajaran-ajaran rohani itu kedengaran agak abstrak: apa artinya mengejar kedewasaan? Bagaimana menjadi seorang Kristen yang baik? Satu-satunya cara bagi orang percaya memahami hal-hal ini adalah untuk menjadikan diri kita sebagai teladan. Kita harus menerapkan ajaran-ajaran itu supaya hanya dengan sekilas pandang orang yang melihat sudah mengerti. Sekalipun jemaat di Filipi tidak begitu mengenal argumentasi teologi yang dalam, tetapi saat mereka melihat Paulus mengejar apa yang di depan, sekalipun berhadapan dengan penderitaan, tetapi masih tetap bersukacita demi Kristus, mereka akan tahu, itulah teladan seorang yang rohani. Mereka juga akan tahu bagaimana untuk meneruskan perjalanan mereka dengan cara yang sama. Sekiranya mereka dapat meneladani aspirasi Paulus, mengikuti jejaknya, hidup sesuai dengan teladannya, mereka juga akan diterima oleh Allah, sebagaimana Paulus juga diterima oleh Allah.
PEMIMPIN YANG MEMIMPIN MELALUI TELADAN
Kedua, harus ada yang dapat dijadikan teladan supaya sebuah jemaat itu dapat dipimpin dengan baik, karena hanya pemimpin yang memimpin lewat teladan yang akan memiliki kuasa, hanya pemimpin demikian yang akan dipakai oleh Allah. Dikatakan di Titus 2:7,
“Dalam segala hal, jadikan dirimu teladan dalam perbuatan-perbuatan baik. Dalam pengajaran, tunjukkanlah integritas, kehormatan,…”
Perhatikan: Teladan seorang pemimpin dan ajarannya sangatlah erat berkaitan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Kuasa hanya datang dari teladan dan ajaran yang baik; tanpa teladan yang baik, bagaimana kita dapat menyakinkan orang lain? Mengapa, sekalipun ajaran Anda benar, sesuai dengan prinsip Alkitab, tetapi tetap tidak akan ada kuasa di dalam pelayanan Anda, dan pelayanan Anda tidak akan efektif. Hal ini adalah karena adanya masalah di dalam kehidupan Anda, sekalipun ajaran Anda benar, tetapi tidak diiringi oleh kuasa yang menyakinkan orang. Sebaliknya, seorang pemimpin yang mempunyai ajaran yang benar dan teladan hidup yang baik, pasti akan besar kuasanya karena dia akan sangat dipakai Allah. Sebagai contoh, seorang pemimpin yang menasihati jemaat untuk tidak serakah, mengasihi uang atau kekayaan, dan dia sendiri hidup sesuai dengan ajaran itu. Hal ini menjadi obyek pelajaran yang sangat baik. Karena saat Anda diuji dalam hal apakah harus hidup mengandalkan kekayaan atau Allah, Anda akan teringat pada kesaksian pemimpin itu, dan Anda akan dapat berkata, “karena pemimpin itu bergantung pada Allah, mengapa saya tidak? Karena pemimpin itu dapat mengalami kemurahan dari Allah, saya juga yakin Allah akan memelihara saya.” Dengan demikian, Anda akan lewat iman mengikuti jalan yang telah dilewati oleh pemimpin Anda. Lewat pemimpin itu, Allah sedang mendorong dan membangun Anda.
Kita buka di Filipi 3:17,
“Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikan dengan saksama orang-orang yang juga hidup sesuai dengan teladan yang kamu lihat dari kami.”
Paulus telah menjalani hidup yang berkelimpahan, dia memberikan teladan yang baik bagi jemaat. Inilah tugas Paulus yang juga merupakan tugas semua hamba Tuhan. Apakah Anda berani untuk menantang jemaat untuk meneladani Anda? Atau, Anda akan berkata pada mereka, “Teladanilah ajaranku, tetapi janganlah meneladani hidupku.” Hal ini mengingatkan saya akan satu hal. Saya mengenal seorang anak berusia 12 tahun. Dia pernah memberitahu saya tentang orang tuanya. Dia memberitahu saya ibunya punya toko dan setiap hari pulangnya sangat malam. Sekalipun dia tahu di mana toko ibunya, dia dilarang keras untuk ke sana. Tahukah Anda apa alasannya? Karena ibunya menjalani bisnis yang tidak benar. Dia tidak mengizinkan anaknya untuk ke tempat itu. Di dunia ini, ada orang tua yang memakai metode begini untuk mendidik anak mereka, mengajarkan kepada mereka untuk hanya menuruti kata-kata orang tua, tetapi untuk tidak meneladani apa yang mereka lakukan. Namun, gereja tidak berfungsi dengan cara ini, yang berlawanan dengan prinsip Alkitab.
Jangan Kita Meneladani Seteru Salib Kristus
Dikatakan di Filipi 3:18-19,
“18 Sebab, ada banyak orang yang hidup sebagai musuh-musuh salib Kristus. Tentang hal ini, aku sudah sering menceritakannya kepadamu dan sekarang aku menceritakannya lagi dengan air mata.
19 Akhir hidup mereka adalah kebinasaan, karena allah mereka adalah perut mereka, dan pujian mereka adalah hal-hal yang memalukan. Pikiran mereka hanyalah pada hal-hal duniawi.”
Seperti yang telah saya sebutkan di awal tadi. Harus ada teladan supaya kita dapat belajar; untuk menjadi seorang yang rohani, harus ada teladan dari seorang yang rohani. Dengan demikian, gereja harus dapat membedakan apa yang benar dan palsu, supaya jemaat dapat melakukan pilihan yang benar. Paulus berkata,
“Terdapat dua tipe orang di dalam gereja. Satu adalah tipe yang meneladani Kristus, yang merupakan teladan bagi jemaat, tipe inilah yang harus Anda teladani; Ada satu tipe lagi yang bukan hanya tidak meneladani Kristus, tetapi merupakan seteru salib Kristus, mereka adalah teladan negatif di dalam jemaat, mereka inilah yang harus Anda waspadai.”
Terdapat orang percaya yang sejati dan yang palsu di dalam jemaat. Bagaimana kita membedakan keduanya? Dengan cara yang sama, terdapat pemimpin yang memberikan teladan yang baik dan ada juga yang memberikan teladan yang buruk. Bagaimana kita menilai? Apa ciri-ciri teladan yang buruk? Paulus menggunakan istilah yang unik untuk memberitahu kita ciri yang pertama. Kata yang dipakai Paulus untuk menggambarkan mereka adalah “seteru salib” Kristus. Paulus tidak menggambarkan mereka sebagai seteru Kristus, seteru Allah atau seteru gereja, tetapi Paulus menggambarkan mereka sebagai seteru “salib” Kristus.
CIRI-CIRI SETERU SALIB KRISTUS
Jadi apa yang diwakili oleh “seteru salib Kristus”? Salib Kristus mewakili jalan yang sempit. Para hamba Tuhan yang merupakan seteru salib Kristus, tidak memberitakan salib Kristus, karena mereka telah memilih jalan yang lebar dan luas, mereka tidak ingin berjalan di jalan yang sempit dan sesak itu. Paulus memanggil mereka sebagai seterus salib Kristus, karena yang mereka beritakan itu bertentangan dengan pesan salib Kristus, sebagaimana yang dikatakan di Galatia 6. Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus (Gal 6:12). Para hamba Tuhan ini takut ditolak, karena itu, mereka hanya memberitakan tentang “percaya dan Anda akan menerima hidup kekal”. Mereka akan menghindari dari memberitakan tentang salib, tentang kebenaran bahwa jalan menuju hidup itu adalah jalan yang sempit dan sesak.
Ciri yang kedua adalah: “Perut mereka adalah Tuhan mereka.” Apa artinya ini? Yang kita layani adalah Allah. Allahlah yang berdaulat di atas setiap dari kita. Bagi orang-orang ini, perut mereka sangat penting, sama pentingnya dengan Allah. “Perut” mewakili kebutuhan daging, saat perut lapar, ia memerlukan makanan. Bagi orang di dunia ini, tidak ada yang lebih penting daripada makanan. Ciri kedua adalah tipe orang yang sangat memedulikan urusan kedagingan, bagi mereka melayani kebutuhan daging mereka sama pentingnya dengan melayani Allah.
Ciri yang ketiga: “kemuliaan mereka adalah aib mereka.” Mereka bermegah di dalam aib mereka. Pokok ini sangat mengerikan. Hamba Tuhan yang membalikkan kebenaran, memuliakan apa yang mengaibkan. Saya pernah menonton satu wawancara di televisi dengan seorang pendeta yang homoseksual. Pendeta ini dengan penuh berani dan yakin berkata bahwa Yesus akan menerima dia, dan bahkan sangat-sangat mengasihinya karena Yesus adalah sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Menurutnya Yesus sangat peduli dengan orang seperti dia. Pada kenyataannya, sudah sangat jelas dinyatakan di dalam Kitab Suci bahwa Allah sangat membenci dosa homoseksual, dan juga jelas dikatakan bahwa orang yang demikian tidak akan mewarisi kerajaan Allah (di Roma 1 dan juga 1 Korintus 6). Jemaat biasa saja tidak akan melakukan dosa yang seperti ini, apa lagi seorang pendeta? Apa yang dikatakan oleh Paulus memang sudah menjadi kenyataan di depan mata kita: mereka bermegah di dalam aib mereka, mengakui apa yang jahat sebagai yang baik. Mereka sepenuhnya membalikkan apa yang benar dan salah!
Ciri yang keempat: “pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”. Perkara duniawi tidak semestinya hal-hal jahat atau hal-hal yang menyalahi undang-undang. Hal-hal duniawi bisa saja hal-hal yang masuk akal, hal-hal berkaitan dengan sifat manusia, seperti studi, pekerjaan, keluarga, pernikahan dan lain-lain. Orang-orang seperti ini pikirannya tertuju pada hal-hal duniawi, yang berarti, mata mereka terfokus pada hal-hal duniawi, bukan pada hal-hal rohani. Kehidupan mereka terfokus seputar hal-hal duniawi dan pandangan mereka terbatas pada apa yang kasat mata.
Gereja harus Mencerminkan Keindahan Kristus
Filipi 3:20-21,
“20 Akan tetapi, kewarganegaraan kita adalah di surga, di mana kita dengan penuh semangat menanti-nantikan Juru Selamat, yaitu Tuan Yesus Kristus.
21 Ia akan mengubah tubuh kehinaan kita menjadi serupa dengan tubuh kemuliaan-Nya. Dengan kuasa-Nya itu, Kristus mampu membawa segala sesuatu tunduk kepada-Nya.”
Anak-anak Tuhan mempunyai identitas dan kewargaan yang unik: kita adalah rakyat surgawi, mempunyai kewargaan dari surga. Karena identitas yang unik ini, kita tidak mementingkan kekayaan di bumi.” Dikatakan di Ibrani 11:13 dan 16,
13 Dalam iman, mereka semua telah mati tanpa menerima apa yang dijanjikan, tetapi dengan melihat dan menyambutnya dari jauh, mereka menyadari bahwa mereka hanyalah para orang asing dan pendatang di bumi.
16 Namun, mereka merindukan yang lebih baik, yaitu yang surgawi. Oleh karena itulah, Allah tidak malu disebut sebagai Allah mereka sebab Ia memang sudah menyediakan kota bagi mereka sendiri.
Saya mengenal teman-teman yang meninggalkan keluarga mereka untuk bekerja di tempat asing. Karena mereka hanya berencana untuk tinggal selama dua tahun di tempat itu, mereka tidak membeli perabotan. Dengan cara yang sama, anak-anak Allah di bumi ini harus hidup sebagai perantau, hanya melewati tempat ini buat sementara waktu, dan bukannya selama-lamanya. Karena itu, gaya dan cara hidup kita harusnya sederhana, tidak disibukkan terus dengan hal-hal yang fana seperti teknologi, gadget atau mode terkini. Oleh karena kita hanya melewati tempat ini dan bukannya warga sini, kita tidaklah telalu dipusingkan dengan keuntungan atau kerugian materi atau uang. Kita mengalami kerugian? Tidak bermasalah, karena toh tidak bisa dibawa saat kita pergi. Kita harusnya memusatkan perhatian kita pada Allah, karena Dia telah menyiapkan tempat tinggal yang jauh lebih indah untuk kita.
Gereja jangan lupa menantikan kedatangan Yesus. Bagaimana menantinya? Apakah menanti secara pasif? Selalunya penantian itu digambarkan sebagai hal yang pasif, tetapi bagaimana penantian ini digambarkan di dalam Alkitab? Saat Alkitab berbicara tentang kedatangan kembali Yesus, hal ini tidak sebut sebagai semacam penantian yang pasif. Seperti menanti kedatangan seorang VIP, Anda tidak hanya akan menanti tanpa berbuat apa-apa. Sebaliknya, Anda akan mengambil langkah-langkah persiapan seperti mempersiapkan makanan dan akomodasi. Lalu, bagaimana kita harus menantikan kedatangan Yesus? Persiapan yang harus kita lakukan adalah meneladani contoh-contoh orang-orang rohani dan pada waktu yang bersamaan menjadi teladan bagi orang lain.
Mari kita buka di 1 Tesalonika 5:5-8,
5 Kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita tidak berasal dari malam atau kegelapan.
6 Sebab itu, janganlah kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi marilah kita tetap terjaga dan waspada.
7 Orang yang tidur, tidur pada malam hari dan orang yang mabuk, juga mabuk pada malam hari.
8 Namun, karena kita adalah anak-anak siang, marilah kita sadar, mengenakan baju zirah iman dan kasih, dan memakai ketopong pengharapan akan keselamatan.
Saat Anda bertemu dengan orang yang rohani, Anda akan dipengaruhi olehnya, dan hidup Anda juga akan berubah. Dengan cara yang sama, Anda juga harus menjadi teladan bagi orang lain, agar saat orang lain melihat Anda, mereka akan tertarik oleh kualitas Anda yang unik sebagai seorang Kristen, dan hidup mereka juga akan diubahkan secara perlahan-lahan.
PENGHARAPAN KEMULIAAN TUBUH KEBANGKITAN
Yang terakhir, janganlah pernah gereja melupakan tentang kebangkitan masa depan. Paulus meninggalkan segala sesuatu di belakang, menganggapnya sebagai kehilangan, dan juga menderita bersama Kristus, meneladani kematiannya. Mengapa dia melakukan semuanya itu? Karena pengharapan dia akan kebangkitan dari kematian. Itulah pengharapan Paulus dan hal ini juga harus menjadi pengharapan kita. Paulus memakai kata “hina” untuk menggambarkan tubuh yang diperbuat dari darah dan daging, dan “kemuliaan” untuk menggambarkan tubuh kebangkitan yang akan datang. Jangan salah paham, “hina” tidak berarti jahat, tetapi lebih menunjuk pada sesuatu yang lemah dan rendah.
Tubuh yang kita miliki sekarang itu lemah, akan jatuh sakit, terluka, menua dan mengalami maut. Sekalipun kita orang percaya, kita tetap harus melewati banyak kesusahan. Contohnya, ada yang karena sakit penyakit harus terlantar di ranjang buat jangka waktu yang panjang, dan tidak dapat bekerja. Ada yang karena kecelakaan, tubuhnya lumpuh, tidak bisa mandiri; ada juga yang karena sakit kanker, tidak berdaya dan tidak tahu harus bagaimana. Tubuh jasmani ini memang lemah, dan lambat laun akan menjadi tidak berdaya. Akan tetapi, ini bukan berarti, tamat sudah kisahnya. Allah telah menyediakan bagi kita keselamatan yang sempurna, tubuh yang dapat binasa ini akan diubah menjadi tubuh yang tidak dapat binasa, seperti yang dikatakan di 1 Korintus 15:52-54,
52 seketika itu, dalam sekejap mata saja, saat trompet terakhir: karena trompet akan berbunyi, dan orang mati akan dibangkitkan tanpa kebinasaan, dan kita akan diubahkan.
53 Sebab, yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa. Dan, yang dapat mati ini, harus mengenakan yang tidak dapat mati.
54 Ketika yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka genaplah firman yang telah tertulis: “Kematian sudah ditelan dalam kemenangan.”
Allah telah menyediakan bagi kita keselamatan yang berkelimpahan, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata kita, tidak pernah didengar oleh telinga kita, dan tidak pernah dipikirkan oleh imajinasi kita. Allah telah mengutus Yesus Kristus ke dunia ini untuk memberikan kita suatu teladan; Paulus mengikuti dan meneladani Yesus; jemaat meneladani Paulus, dan meneladani para pelayan yang mengasihi Yesus. Pada masa akan datang, bukan saja hidup kita akan mencerminkan keindahan Kristus, melainkan tubuh kita juga akan diubah secara jasmani, menjadi tubuh yang memuliakan Kristus.
Hari ini, kita telah melihat pada Filipi 3:17-21, dan judulnya adalah: “Ikutilah Teladanku.”
- Tugas paling penting seorang pemimpin bukanlah untuk membuka lebih banyak gereja, bukannya mendorong orang untuk dibaptis, tetapi tugas paling utama seorang pemimpin adalah untuk memimpin lewat teladan. Tanpa teladan, jemaat tidak akan pernah dapat menjadi rohani; tanpa teladan, pemimpin akan kehilangan wibawa dan tidak akan punya kuasa
- Untuk menjadi rohani, jemaat harus dapat membedakan apa yang benar dan palsu, untuk belajar dari orang yang rohani, bukannya dari seteru Kristus.
- Lalu, jemaat juga harus menjadi teladan, menarik bangsa-bangsa untuk berpaling pada Tuhan. Saat Yesus kembali, kita akan menikmati keselamatan yang sempurna, kita akan mempunyai tubuh yang dibangkitkan dan dimuliakan.