new-header-renungan
new-header-renungan
previous arrow
next arrow

 

Perintah Paulus pada jemaat adalah, “Bersukacitalah senantiasa”. Satu perintah yang ingin kita taati, namun kenyataan dan realita kehidupan seringkali membuat kita tidak mungkin dapat menaatinya. Untuk bersukacita saat ada hal yang menyenangkan terjadi tidaklah sulit, tetapi bagaimanakah kita dapat bersukacita “senantiasa”? Bagaimana bersukacita pada saat hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi – hal yang seringkali kita alami?

Namun yang anehnya, justru inilah yang merupakan kehendak Allah bagi kita di dalam Kristus Yesus.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” – 1Th 5:18

Dikatakan di ayat ini adalah merupakan kehendak Allah bagi kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Ini berarti walaupun kita sedang ditimpa masalah atau malapetaka, kita tetap harus mengucap syukur. Ayat ini tidak memberi kita pilihan. Kalau kita tidak mengucap syukur dalam segala hal, berarti kita sedang tidak berada di dalam kehendak Allah, sedang mengingkari, tidak taat dan melawan kehendak Allah! Apa implikasi ayat ini? Ini berarti, dengan tidak mengucap syukur dalam segala hal kita sedang berada di luar jalur kehendak Allah dan sedang memberontak terhadap kehendak Allah dalam hidup kita. Tindakan tidak mengucap syukur adalah suatu tindakan pemberontakan yang halus terhadap Allah. Dan tidak ada pemberontak yang akan mengalami penyertaan Allah. Ini merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat dengan mengamati orang di sekitar kita. Orang yang selalu mengeluh dan negatif, seringkali tidak mengalami penyertaan Allah dalam hidup mereka. Karena tidaklah mungkin Allah menyertai orang yang tidak taat dan melawan Allahnya.

Tetapi apakah mungkin kita dapat mengucap syukur saat orang yang kita kasihi meninggalkan kita buat selama-lamanya? Tidaklah mungkin kita bisa mengucap syukur saat kita didiagnosa dokter sedang menderita penyakit kanker ataupun saat kita kecelakaan dan hal-hal yang buruk sedang terjadi. Tetapi bukankah semua situasi ini tercakup dalam keadaan “segala hal”. Ini memberitahu kita bahwa hal “mengucap syukur” itu sama sekali bukan persoalan perasaan tetapi persoalan “ketaatan”. Persoalannya adalah apakah kita akan taat atau tidak? Namun, mengapa? Mengapa kita diperintahkan Allah untuk melakukan hal yang begitu melawan perasaan dan naluri kita? Kalau kita mengerti alasan di balik suatu perintah akan lebih mudah untuk kita menjalaninya. Apakah ada alasannya?

Di Perjanjian Lama, Yusuf tidak tahu kenapa saudara-saudaranya membencinya sampai ke tahap mau membunuhnya. Yusuf yang awalnya adalah anak kesayangannya Yakub, akhirnya dikhianati saudaranya sendiri dan dijual ke dalam perbudakan di Mesir. Dari usia 17 sampai 30 tahun, hidup Yusuf tidak lepas dari masalah yang berakhir dengan dia dimasukkan ke dalam penjara, karena difitnah oleh istri Potifar yang genit. Yusuf kelihatannya tidak berbuat salah, tetapi mengapa hal-hal yang buruk terus saja menimpa dirinya. Di akhirnya semuanya, di  Kejadian 50.20, Yusuf berkata, “Memang kamu memaksudkan untuk melakukan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah memaksudkan semua itu untuk kebaikan, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Yusuf harus menjalani semua kejahatan yang menimpanya yang akhirnya membawa dia ke kedudukan sebagai orang yang paling penting di Mesir setelah Firaun. Tujuanya dari “segala hal yang buruk yang dialaminya” adalah agar Yusuf berada di dalam posisi yang dapat dipakai Allah untuk menyelamatkan satu bangsa!!!!

Kita mungkin tidak tahu apa alasan di balik semua hal yang buruk yang sedang menimpa diri kita, tetapi apakah kita dapat menyakini bahwa sekalipun dalam situasi yang paling parah, Allah tetap berdaulat dan memegang kendali? Keyakinan inilah yang membuat kita dapat mengucapkan syukur dalam segala hal. Jadi, alasan pertama mengapa kita dapat bersyukur dalam segala hal adalah karena kita menyakini bahwa Allah tetap berdaulat, tidak kira dalan situasi apa pun.

Tidak ada tokoh lain yang mengalami hal yang seburuk Ayub di dalam hidupnya. Dalam waktu satu hari, Ayub menerima empat pesan, masing-masing membawa berita terpisah tentang ternaknya, hambanya, dan sepuluh anak-anaknya. Ayub kehilangan anak-anak dan semua harta bendanya. Seolah-olah itu belum cukup parah, Ayub yang sedang berdukacita tiba-tiba menderita penyakit kulit yang mengerikan. Kita diberi kesempatan untuk melihat apa yang sedang terjadi di balik tabir, tetapi Ayub tidak. Kita tahu bahwa semuanya itu adalah ulah si Jahat. Iblis mendatangkan semua itu hanya dengan satu tujuan. Yaitu untuk membuat Ayub mengutuk Allah. Tujuan Iblis tercapai di dalam diri istri Ayub yang berkata, “Kutuklah Allah dan mati saja.” Istri Ayub jatuh ke dalam rencana dan jerat Iblis. Saat malapetaka atau hal-hal yang buruk terjadi, yang diinginkan oleh musuh adalah untuk kita menggerutu, mengkritik dan mengutuk Allah. Tetapi apa terjadi saat kita malah mengucap syukur kepada Allah? Dengan melakukan hal ini, kita sebenarnya sedang mematahkan rencana dan tujuan Iblis. Kita seolah-olah sedang memberikan satu TKO kepada Iblis. Kita sedang memberitahu Iblis yang sedang mencobai kita bahwa “Tidak, engkau tidak akan berhasil membuat aku jatuh ke dalam jerat engkau. Tujuan engkau tidak akan tercapai dalam diriku!” Alasan kedua kita mengucap syukur dalam segala hal adalah untuk mematahkan tujuan Iblis yang ingin membuat kita memberontak terhadap Allah.

Ayub berkata kepada istrinya, “Kaubicara seperti orang dungu/gila! Masakan kita hanya mau menerima apa yang baik dari Allah, sedangkan yang tidak baik kita tolak?” (Ayub 2.10).

Kalau kita termasuk orang yang tidak dapat mengucap syukur dalam segala hal, berarti kita tidak beda dari istri Ayub, yang hanya mau menerima apa yang baik dari Allah dan menolak apa yang tidak baik. Dan menurut Ayub, ini merupakan konsep orang yang dungu. Justru karena kita sedang hidup di dunia ini yang merupakan daerah kekuasaan musuh, tidaklah mungkin kita dapat bebas dari cobaan dan penderitaan.

Jadi kita dapat melihat setidaknya dua alasan mengapa kita mengucap syukur senantiasa. Satu adalah keyakinan kita bahwa Allah tetap pegang kendali tidak kira seburuk apa situasinya. Kedua, dengan mengucap syukur dalam segala hal, kita sebenarnya sedang mengalahkan tujuan Iblis dalam hidup kita. Kalau kita oleh kasih karunia Allah dapat tetap mengucap syukur dalam segala hal, Iblis tidak akan punya pegangan ke atas kita sama kali. Dengan cara demikianlah kita memuliakan Allah di dalam kehidupan kita!

“Aku bersyukur kepada-Mu dengan sepenuh hatiku, ya Yahweh Allahku; aku mau memuji kebesaran-Mu selama-lamanya” – Mzm. 86:12