previous arrow
next arrow
Slider

 

Roxanna Lim bekerja sebagai pekerja sosial yang membantu orang-orang yang cacat jasmani dan mental. Suatu hari ia mengunjungi seorang nenek miskin yang tinggal bersama empat cucunya. Setiap hari sang nenek bekerja di kebun menanam okra, dan cucu-cucunya dibiarkan sendirian untuk bermain di bawah pepohonan. Cucunya yang bungsu berumur 5 tahun dan dilahirkan dalam keadaan yang didiagnosa sebagai spastic quadriplegic. Lee Fong, anak yang cacat itu seringkali dibiarkan di bawah pohon selama berjam-jam dalam keadaan dikerumuni lalat karena tidak ada yang membersihkan kotoran dan kencingnya.

Kata Roxanna “Walaupun saya sudah 10 tahun bekerja dengan anak-anak cacat tetapi saya tidak pernah melihat seorang anak yang begitu terabai. Tidak ada yang mempeduli dan mengasihinya, dan ia sama sekali tidak punya harapan maupun masa depan.”

Orang yang bekerja di dalam pelayanan sosial seringkali harus melindungi diri dari kelelahan emosional dengan mengambil sikap apati saat berhadapan dengan penderitaan dan kesengsaraan. Itulah satu-satunya cara untuk menghindari burn-out emosional. Tetapi tidak demikian dengan Roxanna, “Saya kira kebanyakan orang mungkin akan menutup sebelah mata, tetapi saya memutuskan untuk mengangkat Lee Fong menjadi anak saya dan menyediakan tempat baginya di dalam rumah dan hati saya.”

Di mata kebanyakan orang, ini tentu saja satu tindakan yang tidak masuk akal. Apakah ada orang yang mau memikul beban yang bukan merupakan bagiannya? Sekalipun tergerak dan mau membantu, pasti terdapat banyak cara yang lain, tidak perlu mengadopsi menjadi anak, tambahan pula Roxanna bukanlah orang yang kaya. Perawatan seorang yang penyandang spastic quadriplegic merupakan pekerjaan penuh waktu. “Karena ia juga menderita epilepsi, ia harus minum obat tiga kali sehari dan selalu batuk dan kesulitan makan dan minum. Lee Fong juga sering mendapat mimpi buruk yang membuatnya histeris setiap kali ia ditinggalkan sendirian.” Roxanna akhirnya harus meninggalkan pekerjaannya untuk memberikan perhatian penuh kepada Lee Fong.

Kira-kiranya apakah yang mendorong Roxanna melakukan tindakan yang di mata dunia sangatlah tidak bijaksana. Keuntungan apa sih yang diperolehnya dengan mengorbankan karir dan kehidupannya demi merawat seorang anak yang cacat parah. Bukankah waktu-waktu Roxanna akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membantu dan menjangkau lebih banyak orang lewat pekerjaannya? Penaksir asuransi yang menghitung nilai ekonomi jiwa yang diasuransikan akan meletakkan hidup Roxanna sebagai lebih bernilai dari hidup seorang penyandang cacat yang tidak dapat menyumbang apa-apa kepada dunia dari segi apa pun. Begitulah cara kita menghitung.   

“Saya agak kaget dengan diri saya sendiri karena memilih untuk melakukan hal ini. Bagaimanapun, saya semakin jelas bahwa pilihan saya itu adalah hasil dari suatu jawaban langsung kepada doa saya – dan yang harus saya lakukan sekarang adalah menempatkan kepercayaan saya pada Tuhan yang Maha Esa untuk menjadikan saya ibu yang terbaik kepada Lee Fong.”

Dan Tuhan yang maha pengasih tidak pernah meninggalkan orang yang meresponi kasihnya. “Merawat seorang anak seperti Lee Fong, bukan saja sangat melelahkan tetapi juga sangat membebankan secara finansial. Tetapi tidak pernah satu kali pun Tuhan gagal menyediakan. Walaupun memang ada yang menjauhkan diri dari kami tetapi terdapat banyak yang secara misterius mengetuk pintu kami untuk menyumbang uang dan makanan – tanpa sempat kami mengucapkan terima kasih mereka sudah menghilang begitu saja.”

Sudah lima belas tahun Roxanna hidup bersama anaknya yang tersayang. Perawatan penuh kasih Roxanna tidaklah sia-sia, Lee Fong sekarang sudah bisa memahami saat orang berbicara kepadanya – ia akan senyum dan bahkan tahu memejam matanya untuk berdoa. Walaupun kehidupan yang mereka jalani tidaklah mewah tetapi hati mereka tidak miskin.

“Di tengah-tengah pergumulan kami. Saya selalu bersyukur. Sekalipun saya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau mengejar sebuah karir yang lebih bagus, tetapi waktu yang saya lewati bersama Lee Fong merupakan latihan yang bagus untuk mengejar hal-hal yang lebih berarti di dalam kehidupan. Saya mempelajari bahwa hasil dan prestasi bukanlah hal-hal yang sesungguhnya penting tetapi apa yang penting adalah kemampuan untuk menyentuh kehidupan lain lewat kasih dan pengharapan.”

Bukankah kasih itu suatu hal yang aneh? Semakin banyak Anda memberi kasih, semakin banyak Anda memilikinya.

(Sumber: Wheel Power, An Outstanding Mum, May 5 2005. The Star May 13, 2006 She Loves Her as Her own)