previous arrow
next arrow
Slider

 

Sadhu Sundar Singh |

sadhu-sundar-singh1

Bertahun-tahun yang silam ada seorang kudus yang setiap harinya, setelah usai bekerja akan mengunjungi sebuah gua di hutan untuk berdoa dan bermeditasi. Pada suatu hari seorang filsuf kebetulan melewati gua itu. Ia menemukan sang santo sedang berdoa di dekat pintu gua. Filsuf itu terkejut dan mendekati sang santo yang sedang berlutut. Tetapi sang santo begitu khusyuk berdoa sehingga tidak menanggapinya. Filsuf itu menunggu hampir setengah jam lamanya sebelum sang santo bangkit dan menyapa dia.

Keduanya duduk diam sejenak. Akhirnya sang filsuf memecah kesunyian dengan bertanya kepada sang santo:

Filsuf : Tahukah Anda jika gua ini terkenal sebagai sarang penyamun?
Santo : Ya tuan, saya sangat tahu. Gua ini tempat pertemuan penyamun tapi gua ini juga tempat perlindungan saya. Di dalam kota begitu berisik dan banyak gangguan. Jadi setelah selesai bekerja, saya datang ke tempat sepi ini dan beristirahat dalam hadirat Tuhan dan menyembah-Nya. Di sini saya meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain.Para penyamun memang sering mengunjungi tempat ini, tetapi mereka tidak pernah mengganggu saya. Salah satu dari mereka pernah berkata, “Lihat, santo, kami tidak buta dan tidak bodoh. Kami merampok orang yang meskipun tidak disebut perampok tetapi mereka merampok orang, sama seperti kami.”Saya tidak melaporkan mereka karena pemerintah tidak dapat mengubah mereka. Pemerintah hanya dapat menghukum mereka dan membuat hati mereka menjadi semakin keras. Tetapi saya berdoa kepada Tuhan yang dapat mengubah mereka dan memberikan mereka hidup baru. Beberapa dari mereka sudah berubah dan menjadi rakyat yang baik.Jadi, oleh kasih karunia Tuhan, pekerjaan spiritual ini saya lakukan dalam keheningan sama seperti ketika bekerja di tengah-tengah orang banyak.
Filsuf : Anda sesungguhnya percaya bahwa Anda sedang membantu orang lain dengan duduk sendirian di sini dan berdoa?
Santo : Ada orang yang menyamakan sikap doa dengan kemalasan. Itu salah. Pada kenyataannya, berdoa artinya kita terjun ke dalam samudera realitas dan menemukan mutiara kebenaran ilahi yang akan memperkaya bukan saja si penyelam tetapi juga orang lain.Sebagaimana seorang penyelam akan menahan napas sewaktu ia menyelam, begitu juga seseorang yang sedang bermeditasi dan berdoa akan menutup dirinya di dalam kamar sunyi, jauh dari gangguan dunia yang ramai. Barulah ia akan dapat berdoa dengan Roh Kudus yang tanpa-Nya kehidupan spiritual itu mustahil untuk dapat dijalani.Maksud saya sangat jelas: Tuhan bekerja dalam kediaman. Tidak ada manusia yang pernah mendengar-Nya ketika sedang berbicara ataupun bertengkar. Untuk mendengar suara-Nya, kita harus menanti di dalam keheningan.Lalu, dengan tanpa menggunakan suara ataupun kata-kata, Ia akan berbicara kepada jiwa yang ada di dalam ruang rahasia hati kita. Sebagaimana Ia sendiri adalah roh, Ia berbicara kepada roh dalam bahasa spiritual, memenuhi kita dengan hadirat-Nya dan akhirnya memulihkan dan menyegarkan kita selama-lamanya.
Filsuf : Keheningan itu penting. Saya juga tahu jika saya tidak berfokus di dalam keheningan, saya tidak dapat berpikir. Tetapi saya tidak yakin tentang Tuhan Anda yang diam itu. Apa yang menjadi bukti atas keberadaan-Nya?
Santo : Walaupun jutaan manusia mengalami hadirat-Nya, tetapi Ia eksis melampaui dan di luar pemahaman manusia. Ia hanya tinggal di dalam hati mereka yang memiliki iman seperti seorang anak kecil. Sama seperti pada saat Anda mendekatkan tangan ke perapian dan merasakan kehangatan api yang membuktikan adanya api, maka pengalaman akan Tuhan di dalam roh adalah satu-satunya bukti yang kokoh dan kuat akan keberadaan-Nya. Saya mengenal seorang wanita yang ketika ia berumur 12 tahun, ia diberitahu oleh gurunya tentang Tuhan dan kasih-Nya. Itu adalah kali pertama ia mendengar tentang Tuhan, tetapi saat gurunya masih berbicara ia berkata, “Ya, saya telah mengetahui hal ini. Hanya saja saya tidak tahu nama-Nya.”
Filsuf : Tetapi mengapa Anda berbalik dari dunia ini? Apakah Anda membenci dunia dan memandang diri Anda lebih mulia daripada yang lain?
Santo : Saya tidak membenci dunia, dan saya tidak berani memandang diri saya lebih hebat daripada orang lain. Saya hanyalah seorang yang lemah dan berdosa, tetapi kasih karunia itu yang menyelamatkan dan membantu saya. Saya juga tidak mengecam dunia. Saya hanya mengecam kejahatannya dan segala sesuatu yang ada di dalam diri saya yang menghambat kehidupan spiritual saya. Selama kita berada di dunia ini, tidaklah mungkin untuk kita meninggalkannya. Jika kita meninggalkan kota lalu tinggal di hutan, kita akan mendapati bahwa hutanpun adalah bagian dari dunia. Tidaklah masuk di akal untuk meninggalkan dunia. Tidak ada yang dapat meninggalkan dunia kecuali melalui kematian. Tuhan menempatkan kita di bumi ini untuk hidup, untuk bergerak dan ada. Kehendak-Nya yang kudus adalah supaya kita dapat menggunakan benda-benda di dunia ini dengan cara yang benar – untuk mempersiapkan diri kita bagi rumah spiritual kita yang abadi
Filsuf : Jika Anda seorang yang lemah dan berdosa, mengapa orang lain memanggil Anda orang kudus?
Santo : Seorang filsuf Yunani, Sokrates, pernah berkata bahwa seumur hidupnya, ia hanya mempelajari satu pelajaran – satu pelajaran tunggal, yaitu ia tidak tahu apa-apa. Setiap kali orang menanyakan hal apa yang membedakan dirinya dari orang banyak, Sokrates menjawab bahwa dirinya berbeda hanya dalam satu hal – yakni ia menerima kenyataan bahwa ia tidak tahu apa-apa, sementara orang lain dengan teguh berpegang pada keyakinan bahwa mereka mengetahui sesuatu. Biarlah orang lain berpikir semau mereka, tetapi saya bukan seorang yang kudus – mereka keliru. Saya hanya menginginkan keintiman dengan Tuhan. Dalam persekutuan dengan Dia, saya mengalami damai sejahtera yang tidak dikenal oleh dunia. Saya tahu bahwa saya seorang yang lemah dan berdosa tetapi kebanyakan orang justru tidak tahu kalau mereka adalah orang-orang berdosa. Karena itu, mereka juga tidak tahu ada obat penawar untuk dosa mereka, dan mereka mati tanpa pernah menemukan damai sejahtera yang telah saya temukan.

Sang filsuf akhirnya diam karena tidak tahu harus bertanya apa lagi.