Ev. Xiao Shan | Filipi 1:3-5 |

Saya akan memulai dengan bertanya, “Gereja perlu terus bertumbuh, tetapi dari mana pertumbuhan itu harus bermula? Jemaat pada tahun yang lalu sekian jumlahnya, mengapa tahun ini tetap sama, tidak ada pertumbuhan sama sekali? Ada yang berkata, pertumbuhan itu harus bermula dari para pemimpin atau hamba Tuhan. Agar jemaat bisa bertumbuh, para hamba Tuhan harus berpendidikan, pernah melewati pendidikan teologia, dan yang terbaik adalah jika dia seorang yang terdidik, tetapi juga seorang prajurit lapangan. Dia harus mempunyai pengetahuan serta pengalaman serta menjadi orang yang serba bisa. Beberapa lagi berpendapat, agar gereja bisa bertumbuh, kita harus mengorganisasi pelbagai kegiatan, untuk menarik orang-orang yang berbeda-beda, seperti nonton bareng, ke konser musik, belajar bahasa Inggris atau memberikan kado gratis. Jadi, siapakah yang bertanggung jawab atas pertumbuhan gereja? Apakah metode yang harus dipakai untuk mendorong pertumbuhan jemaat?


PAULUS PALING MEMPEDULIKAN PENYEBARAN INJIL

Kita akan melanjutkan untuk mempelajari Filipi hari ini. Sebelum saya mulai, saya berharap untuk secara singkat menyentuh pokok-pokok penting di dalam kitab Filipi. Kitab ini tidak panjang, hanya empat pasal. Yang pernah membaca kitab Filipi akan menemukan bahwa Paulus sering berbicara tentang topik “sukacita”, dan kata-kata seperti “bergembira”, “sukacita”, “bersukacita” dan seterusnya tersebar di seluruh kitab ini. Karena itu, banyak yang mengira bahwa “sukacita” adalah tema utama kitab Filipi.

Memang benar bahwa Paulus selalu berbicara tentang sukacita, tetapi apakah itu berarti sukacita merupakan tema utama kitab Filipi? Mengapa Paulus bersukacita? Bagaimana sukacita ini memotivasi dia? Saya menimbulkan beberapa pertanyaan dengan harapan pertanyaan-pertanyaan ini akan membangkitkan minat Anda untuk merenungkan tema kitab Filipi ini. Saya tidak berencana untuk berbicara tentang sukacita hari ini, kita dapat mendiskusikan topik ini pada waktu yang akan datang kalau ada kesempatan.

Akan tetapi, terdapat suatu hal yang bisa kita perhatikan, yaitu, di dalam kitab Filipi, terdapat suatu hal yang menjadi keprihatinan utama Paulus, yakni bagaimana menyebarkan kabar Injil. Bahkan di dalam penjara, Paulus tidak mengeluh dan menghabiskan waktu mengasihani diri sendiri, tetapi sebaliknya, dia terus memikirkan tentang pekerjaan Allah, berpikir keras bagaimana dia dapat menyebarkan kabar Injil. Sebagai contoh:

1:5, … karena kerja sama yang kamu berikan dalam pemberitaan Injil sejak hari pertama sampai sekarang.

1:7, Baik ketika aku dipenjara maupun ketika aku memberikan pembelaan dan peneguhan akan Injil, kamu telah menjadi mitra bersamaku dalam anugerah Allah. 

1:12, … apa yang telah terjadi padaku justru telah membawa kemajuan bagi Injil.

1:27, Namun demikian, hiduplah dengan cara yang layak bagi Injil Kristus …berdiri teguh dalam satu roh, dengan satu pikiran, untuk berjuang bersama-sama bagi iman dari Injil.

2:16, Berpeganglah erat pada Firman kehidupan supaya pada hari Kristus, aku memiliki alasan untuk bermegah bahwa aku tidak berlari dengan sia-sia dan bekerja keras dengan sia-sia.

2:22, Seperti kamu tahu, Timotius telah membuktikan dirinya berharga, ia melayani bersamaku demi kemajuan pemberitaan Injil seperti seorang anak kepada ayahnya. 

4:3,  … karena mereka telah bekerja keras bersamaku demi pelayanan Injil, juga bersama Klemens dan rekan-rekan sekerjaku yang lain…

4:15, Kamu sendiri tahu, jemaat Filipi, bahwa ketika awal pertama pelayanan Injil …  tidak ada jemaat yang mau berbagi beban denganku dalam hal memberi dan menerima, kecuali kamu.

Di dalam hati Paulus, apa yang menjadi keprihatinannya bukanlah keselamatannya, tapi bagaimana membagikan Injil, bagaimana menyebarkan kabar Injil. Pokok ini sangatlah jelas di dalam kitab Filipi.


KERJA SAMA DALAM PEMBERITAAN INJIL

Selanjutnya, kita baca Filipi 1:3-5:

3 Aku bersyukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
4 Dalam doaku untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita
5 karena kerja sama yang kamu berikan dalam pemberitaan Injil sejak hari pertama sampai sekarang. 

Pertama-tama, Paulus sedang memuji Jemaat Filipi dengan menyatakan bahwa mereka sehati dalam membagikan Injil. Persekutuan dalam mengambil bagian dalam pemberitaan Injil, termasuk mengorbankan nyawa, atau secara finansial, mendukung kebutuhan Paulus dan mendoakan dia dalam mendukung pekerjaan Injil.

Di Filipi 4:15-16:

15 Kamu sendiri tahu, jemaat Filipi, bahwa ketika awal pertama pelayanan Injil, setelah aku meninggalkan wilayah Makedonia, tidak ada jemaat yang mau berbagi beban denganku dalam hal memberi dan menerima, kecuali kamu.
16 Bahkan, ketika di kota Tesalonika, kamu mengirim bantuan untuk kebutuhanku lebih dari sekali.


MEMBERITAKAN INJIL DENGAN KETEKUNAN

Filipi 1:5-6:

3 Aku bersyukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
4 Dalam doaku untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita
5 karena kerja sama yang kamu berikan dalam pemberitaan Injil sejak hari pertama sampai sekarang.
6 Aku sungguh yakin bahwa Ia yang telah memulai pekerjaan baik di antara kamu, Ia juga yang akan menyempurnakannya sampai hari Yesus Kristus.

Paulus memuji jemaat Filipi karena telah sehati sejiwa membagikan Injil. Keterlibatan mereka dalam pekerjaan Injil, bukanlah sesuatu yang terjadi sekali saja, bukan terjadi secara impulsif, tetapi dilakukan dengan ketekunan. Mulai dari hari pertama, mereka telah mengambil bagian dalam memberitakan Injil, tidak pernah berhenti. Paulus tidak sedang membesar-besarkan. Para murid yang pertama dari jemaat Filipi menunjukkan semangat yang berapi-api, mereka menerima Paulus ke dalam rumah mereka. Mari kita baca di Kisah Para Rasul 16:11-15:

11 Karena itu, setelah berlayar dari Troas, kami langsung berlayar ke Samotrake, dan pada hari berikutnya ke Neapolis,
12 dan dari sana ke Filipi, kota utama di wilayah Makedonia dan sebuah kota jajahan Roma. Kami tinggal di kota itu selama beberapa hari.
13 Lalu, pada hari Sabat, kami pergi ke luar pintu gerbang kota menuju ke tepi sungai, tempat kami berpikir bahwa di sana ada tempat berdoa. Kami pun duduk dan berbicara dengan para wanita yang sedang berkumpul.
14 Seorang wanita bernama Lidia, dari kota Tiatira, seorang penjual kain ungu yang menyembah Allah. Tuhan membuka hatinya untuk memperhatikan apa yang Paulus katakan.
15 Dan, setelah Lidia dan semua orang yang tinggal di rumahnya dibaptis, ia memohon kepada kami, katanya, “Jika engkau menganggap aku percaya dengan teguh kepada Tuhan, datanglah ke rumahku dan tinggallah di sana.” Dan, ia mendesak kami. 

Pada hari Sabat saat Paulus melihat suatu perkumpulan para wanita, dia lalu membagikan Injil dengan mereka. Salah satu dari wanita itu, Lidia meresponi apa yang disampaikan oleh Paulus, dia berserta seisi rumahnya memberi diri untuk dibaptis, dan mereka lalu mengundang Paulus untuk tinggal bersama mereka. Jemaat Filipi didirikan pada tahun 50 M. Sesuai dengan pemahaman tradisi, surat Filipi ditulis pada tahun 59-61 M. Ini berarti setelah 10 tahun, antusias jemaat Filipi dalam pemberitaan Injil tidak berkurang. Bukan hanya itu, Paulus yakin bahwa mereka pasti akan bertekun sampai kedatangan Yesus.

Banyak orang Kristen yang menikmati hubungan yang manis dengan Allah hanya pada saat mereka baru percaya. Mereka sangat berapi-api pada awalnya, berharap agar semua keluarga dan sahabat akan mengenal Allah, dan mereka meluangkan banyak waktu, tenaga dan uang untuk membagikan Injil dengan mereka. Namun, dengan berjalannya waktu, semangat ini berkurang.


MEMBERITAKAN INJIL MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB JEMAAT

Mari kita baca di Filipi 1:5 dan 7:

5 karena kerja sama yang kamu berikan dalam pemberitaan Injil sejak hari pertama sampai sekarang.

7 Sudah sepantasnya aku merasa seperti ini terhadap kamu karena kamu semua ada di hatiku. Baik ketika aku dipenjara maupun ketika aku memberikan pembelaan dan peneguhan akan Injil, kamu telah menjadi mitra bersamaku dalam anugerah Allah. 

Paulus memuji mereka karena bersekutu atau sehati sejiwa dalam memberitakan Injil. Siapa mereka ini? Apakah ada seorang pemimpin yang tertentu? Apakah ada seorang yang khusus yang bertanggung jawab untuk hal ini? Tidak, Paulus berkata, “kerja sama yang kamu berikan dalam pemberitaan Injil.” Dengan kata lain, pemberitaan Injil melibatkan kerja sama seluruh jemaat. Sesuatu yang memang sulit dicapai.

Banyak orang percaya yang mengira bahwa pemberitaan injil adalah pekerjaan seorang hamba Tuhan atau pendeta, tidak ada kaitannya dengan orang-orang percaya awam. Saya bukan hamba Tuhan, dan tidak pernah sekolah teologia, jadi bagaimana mungkin saya mengambil bagian dalam pemberitaan Injil? Sebenarnya, ini merupakan pemikiran yang keliru. Pemberitaan Injil bukan hanya tanggung jawab hamba Tuhan, tapi juga merupakan tanggung jawab setiap orang percaya.


BERJUANG UNTUK IMAN YANG TIMBUL DARI PEMBERITAAN INJIL

Anda mungkin berpikir karena Anda bukan hamba Tuhan, tidak pernah dilatih, dan juga tidak punya karunia berkhotbah, bagaimana saya bisa mengambil bagian untuk pemberitaan Injil.

Di Filipi 1:27,

Namun demikian, hiduplah dengan cara yang layak bagi Injil Kristus supaya kalau aku datang dan bertemu denganmu, atau kalau tidak datang, aku boleh mendengar bahwa kamu tetap berdiri teguh dalam satu roh, dengan satu pikiran, untuk berjuang bersama-sama bagi iman dari Injil. 

Karena penyebaran Injil adalah tanggung jawab setiap orang Kristen, lalu bagaimana kita dapat mengambil bagian? Ayat 27 memberikan kita jawabannya: Caranya adalah dengan berjuang dalam satu roh: sehati sejiwa. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa bahasa Yunani. Jika Anda meneliti kata “berjuang” dalam bahasa asli, katanya tidak hanya berarti bekerja keras, tetapi juga terkandung di dalamnya kekayaan makna.

“Berjuang” dalam kata Yunani terdiri dari dua kata, “bersama-sama” dan “berlomba”.  Apa yang mau disampaikan oleh kata ini? Kata ini berarti, apakah di arena lomba atau dalam suatu perlombaan olahraga, seluruh tim harus bekerja sama, berjuang bersama-sama, melakukan yang terbaik untuk mencapai sasaran.

Kelihatannya sulit dimengerti kalau kita tidak tahu bagaimana harus memulai untuk berjuang bersama-sama dalam penyebaran Injil. Mungkin akan lebih mudah dimengerti jika saya mengubah gambarannya. Contohnya, terdapat pertandingan sepak bola di lapangan di mana ada 11 anggota di setiap tim. Setiap anggota tim mempunyai peran masing-masing. Setiap orang harus berjuang untuk memainkan peran mereka. Striker harus mencari kesempatan untuk menyerang, garis pertahanan harus menghentikan serangan lawan, dan penjaga gawang harus senantiasa siaga. Posisi mana yang paling penting di dalam tim? Pemain mana yang lebih unggul? Tanpa diragukan, setiap posisi sama pentingnya, setiap pemain harus unggul, berbuat yang terbaik, hanya dengan demikian mereka punya kesempatan untuk mencetak gol.

Pikirkan sejenak. Jika penjaga gawang berkata, “Kita harus mengandalkan striker untuk memasukkan gol untuk menang; untuk saya, ruang gerak saya terbatas, sekalipun mau membantu, saya tidak bisa, jadi saya bisa santai saja! Jika setiap anggota tim memiliki sikap ini, sikap tidak terlalu peduli, tim pasti akan kalah telak. Dengan cara yang sama, untuk menyebarkan Injil, seluruh gereja harus bekerja bersama-sama, setiap pemain harus memainkan peran masing-masing, setia dalam melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan.

Ada yang berkata, “Saya belum pernah melewati pelatihan Teologia, saya tidak dapat menguraikan Alkitab.” Ada yang berkata, “Suara saya kurang bagus, saya tidak bisa memimpin puji-pujian.” Semuanya ini tidak penting. Terdapat banyak bidang lain yang Anda bisa ambil bagian.

Contohnya saat ada yang sakit, kita bisa membesuk. Saat ada yang bermasalah, kita bisa menelpon untuk menanyakan kabar, untuk menghibur dan mendoakan dia. Saya masih ingat saat saya mengunjungi sebuah gereja, setelah pertemuan selesai, setiap orang sibuk mengobrol. Saya melihat seorang tante tua yang berusia 70 atau 80, dia tidak ikut ngobrol, tetapi dengan secara diam-diam sedang merapikan ruangan. Pelayanannya meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya. Jika seorang tante tua saja bisa menemukan perannya dalam gereja, bagaimana dengan kita?

Untuk menyebarkan Injil, seluruh jemaat harus berjuang bersama-sama dengan sehati sejiwa, hanya dengan cara ini, Injil dapat disebarkan, dan orang dapat mengenal Allah. Contohnya dalam sebuah pelayanan penyiaran radio. Alasan mengapa setiap hari bisa diadakan penyiaran adalah karena banyak yang mendukung di balik layar. Para pengkhotbah, jemaat dan saudara seiman. Ada yang mengumpulkan khotbah-khotbah, ada yang bekerja keras untuk mentranskripsi dari rekaman audio ke dalam bentuk tulisan supaya bisa dijadikan program siaran. Ada yang membuat buletin khotbah agar dapat dikirim ke pembaca di semua tempat. Jadi untuk mengirimkan buletin ke pembaca, banyak yang bekerja di balik layar tanpa banyak keluhan. Setiap anggota mempunyai tugas masing-masing.

Paulus berkata, “sehati sejiwa berjuang demi iman Injil”, dia sedang menggambarkan sebuah tim yang sehati sejiwa, bekerja sama untuk mencapai suatu sasaran. Setiap anggota mempunyai peran agar semuanya bisa bekerja sama untuk mencapai sasaran. Namun, bagaimana kita bisa bekerja sama untuk mencapai sasaran? Striker tidak mendapatkan bola, tetapi bola sampai ke dia lewat pemain lain. Seorang menendangnya ke striker dan dia yang memasukkan ke dalam gawang. Seluruh tim telah berjuang bersama-sama untuk memperoleh gol itu, jadi kemenangan ini milik siapa? Bukan striker, bukan penjaga gawang, tetapi ini merupakan kemenangan seluruh tim. Dengan cara yang sama, tidak kira apa peran kita, di mana posisi kita, selama Injil dikabarkan, selama ada yang bertobat dan berpaling pada Allah, selama Kerajaan Allah terus berkembang, maka kita senang.


FAKTOR KUNCI BUKANLAH SIBUK BEKERJA, TETAPI BERDIRI TEGUH

Paulus mendorong gereja untuk sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Injil. Apakah itu berarti kita harus mengadakan lebih banyak kegiatan? Awalnya ada dua pertemuan per minggu, lalu kita jadikan empat peremuan per minggu? Apakah semakin kita sibuk, semakin kita efektif? Sama sekali tidak. Hal-hal rohani bekerja dengan cara yang berlawanan. Semakin Anda sibuk, semakin Anda kekurangan ketenangan, dan pelayanan Anda menjadi semakin kurang efektif. Contohnya, dicatat di Lukas 10, bahwa Marta sibuk sekali melayani, dan hatinya sibuk, tetapi kesibukan dia tidak mendapat pujian dari Yesus. Contoh yang lain ada di Wahyu 2, jemaat Efesus memiliki ketekunan, dan juga bekerja keras demi nama Tuhan, tapi mereka telah kehilangan kasih mula-mula. Sebagai hasilnya, mereka ditegur oleh Yesus. Paulus berkata di Filipi 1:27,

…kamu tetap berdiri teguh dalam satu roh, dengan satu pikiran, untuk berjuang bersama-sama bagi iman dari Injil. 

Untuk menyebarkan Injil, kita harus berdiri teguh. Apakah hal ini mengagetkan Anda? Apa artinya “berdiri teguh”? Berdiri teguh berarti bekerja tanpa menyerah, ada unsur ketekunan. Kebalikan dari “jatuh, goyah, mundur dan menyerah”. Orang percaya yang teguh berdiri, adalah orang percaya yang sangat stabil, kehidupan spiritualnya seringkali diteguhkan dengan menaati firman Tuhan.

Saya perhatikan terdapat satu gejala umum di antara orang yang baru percaya, mereka semua punya hati untuk mengenal Tuhan, bahkan mau melayani Tuhan, tetapi mereka tidak selalu dapat berdiri teguh. Suasana hati mereka turun naik. Ada kalanya berapi-api, semangatnya tinggi untuk mempelajari Firman Tuhan, berakar dan mulai melayani di gereja. Akan tetapi, hati mereka menjadi dingin setelah beberapa waktu, mereka menjadi depresi mungkin karena mengalami kegagalan, mungkin perasaan mereka terganggu, mungkin karena terlalu sibuk di pekerjaan. Pada intinya, suasana hati menjadi tidak tenang, tidak punya waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa, dan bahkan tidak ikut pertemuan gereja. Renungkan hal ini, kalau perasaan mereka masih terombang-ambing, tidak dapat menjaga suasana hati sendiri, bagaimana mereka dapat menyebarkan Injil?

Dikatakan di Filipi 4:1,

Karena itu, Saudara-saudaraku yang kukasihi dan kurindukan, yang menjadi sukacita dan kebanggaanku, berdirilah dengan teguh dalam Tuhan. 

Sebelum mengakhiri suratnya, Paulus sekali lagi mengingatkan jemaat untuk berdiri teguh. Inilah yang harus dikejar oleh jemaat Filipi, dan hal ini juga merupakan hal yang harus kita kejar. Tidak kira apa peran kita, kita harus berpegang teguh melakukan bagian kita oleh kekuatan Tuhan. Tidak kira apakah pada waktu susah atau senang, kita harus teguh berdiri. Berdiri teguh, hari demi hari, tahun demi tahun, dengan demikian kita akan dapat menyebarkan Injil.                                                                            

Poin ini mengingatkan saya akan seorang wanita yang bernama Joni. Dia melukai tulang punggungnya karena mengalami kecelakaan saat menyelam. Kecelakaannya membuat seluruh tubuhnya lumpuh. Dia hanya dapat menggerakkan kepalanya. Dia tidak dapat merawat dirinya sendiri. Saat kecelakaan itu terjadi, dia masih sangat muda dan cantik. Dia sama sekali tidak membayangkan kecelakaan itu akan terjadi. Kalau kita berada di dalam posisinya, kita mungkin akan berpikir untuk mati saja, dan bahkan tidak akan terpikir untuk menjadi penginjil dan menyebarkan Kabar Baik. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang yang seumur hidup harus duduk di atas kursi roda? Dia tidak bisa memasak untuk melayani orang, tidak bisa menyanyikan lagu-lagu rohani yang indah, dan bahkan tidak dapat membersihkan ruangan untuk acara pertemuan. Sekalipun dia mengalami kecelakaan ini, suatu peristiwa yang sangat disayangkan, tetapi secara pelahan-lahan dia mengenal Allah. Pengalamannya membuatnya menjadi peka pada kebutuhan orang lain dan membuatnya berjuang untuk menyampaikan Kabar Injil.

Pada Oktober 1996, seorang ahli bedah Ortopedi bernama Zhang Xu, terbang dari Beijing ke Yemen sebagai anggota tim medis. Setelah siang malam bekerja selama dua minggu, dia akhirnya punya kesempatan untuk bersantai. Lalu, dia bersama anggota tim yang lain memutuskan untuk bertamasya. Dalam perjalanan mereka melihat ada kolam dan dengan penuh semangat dia melompat ke dalam kolam. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa lompatan itu akan mengubah hidupnya. Kepalanya terhantuk batu yang ada di dalam kolam, tulang belakangnya patah. Kerusakan pada vetebranya sangat parah, dan seluruh tubuhnya menjadi lumpuh buat selama-lamanya.

Saat dia benar-benar putus asa, dia membaca kisah hidup Joni. Dia langsung tertarik dengan kisah hidup Joni. Semangat hidup Joni membuatnya termotivasi dan memacu semangatnya untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Bukan hanya itu, tapi peristiwa ini membuatnya dan ibunya akhirnya mengenal Allah yang hidup.

Anda mungkin berada dalam situasi Joni, menderita karena suatu masalah fisik yang berpanjangan, sangat kesakitan; atau Anda berada dalam situasi yang lain. Anda seorang ibu rumah tangga yang harus merawat anak dan suami; mungkin Anda seorang mahasiswa, selalu harus harus berhadapan dengan ujian dan tekanan; atau mungkin Anda seorang hamba Tuhan yang selalu dipusingkan dengan masalah gereja setiap hari. Tidak kira apa situasi Anda, berdoalah pada Allah, “Tuhan, karuniakanlah padaku anugerah-Mu, agar aku dapat berpegang teguh pada ajaran-Mu setiap hari, tidak tersandung saat berhadapan dengan pencobaan, dan tidak mundur saat diuji, dan dengan demikian dapat teguh berdiri oleh kasih karunia-Mu.

Situasi yang dihadapi setiap orang itu unik, hal-hal yang dihadapai oleh siswa dan ibu rumah tangga sangatlah berbeda. Jika Anda seorang pelajar, tetapi Anda bertekun membaca Alkitab, mengikuti ibadah, sekalipun sedang menghadapi tekanan ulangan di sekolah. Orang lain yang berada di dalam situasi Anda akan tersentuh saat dia mendengar bagaimana Anda  dengan iman menyerahkan hasilnya pada Tuhan. “Jika Anda bisa melakukannya, mengapa tidak saya?” Karena Allah bisa membantu dia, mengapa Dia tidak bisa membantu saya?” Dengan cara ini, lewat setiap situasi kita yang khusus, kita dapat mendorong orang lain yang sedang berhadapan dengan hal yang sama.

Hari ini, kita telah membaca Filipi 1:5, dan judul pesan hari ini adalah, “Sehati Sejiwa Menyebarkan Injil”. 

  1. Jemaat Filipi mengambil bagian di dalam penyebaran Injil, dan Paulus dibantu dalam setiap sisi termasuk finansial dan biaya hidup.
  2. Seluruh jemaat harus mengambil bagian di dalam penyebaran Injil.
  3. Jemaat harus bekerja keras bersama-sama, masing-masing menjalankan peran mereka untuk penyebaran Injil.
  4. Agar Injil dapat dikabarkan, Jemaat harus berdiri teguh, mengandalkan pada Allah dalam bersaksi tentang kehidupan kita pada semua orang.

 

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning
Warning.