Pastor Joe Liang | Natal 2025 |

Sekarang, kelahiran Kristus Yesus adalah seperti berikut. Ketika Maria, ibu-Nya sudah bertunangan dengan Yusuf, sebelum mereka hidup bersama, dia ternyata mengandung dari Roh Kudus. (Matius 11:18)

30 Malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, Maria, karena Allah telah memberikan kasih karunia-Nya kepadamu. 31 Dengarlah, engkau akan mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki, dan engkau akan menamai-Nya Yesus… 34 Lalu, Maria berkata kepada malaikat itu, “Bagaimana hal ini akan terjadi sedangkan aku belum bersuami?” 35 Malaikat itu menjawab dan berkata kepadanya, “Roh Kudus akan datang atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungimu. Itulah sebabnya, Anak yang akan lahir itu adalah kudus dan akan disebut Anak Allah. (Lukas 1:30-31, 34-35)

Bagaimana mungkin Maria, seorang perawan, dapat mengandung dan melahirkan Yesus? Bagi manusia, itu mustahil. Bagi Yahweh, segala sesuatu mungkin. Dengan kata lain, pribadi Yesus adalah sebuah mukjizat. Natal adalah sebuah mukjizat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa tujuan Yahweh dalam mukjizat ini?


Yesus teladan kita, anak sulung di antara banyak saudara

Yesus itu seperti Adam. Baik Adam maupun Yesus diciptakan melalui mukjizat.

Kemudian, Yahweh Allah membentuk manusia dari debu tanah dan mengembuskan napas kehidupan ke dalam lubang hidungnya sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7)

Sebab, bagi siapa yang telah Dia kenal sejak semula, juga Dia tentukan sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)

Ketika Yahweh menjadikan Adam dari debu tanah, Adam menjadi anak sulung di antara seluruh umat manusia. Yesus itu seperti Adam. Melalui Perjanjian Baru, Yahweh ingin menciptakan “umat manusia baru” di dunia kita. Itulah sebabnya, “siapa yang ada di dalam Kristus, dia Adalah ciptaan baru”. Yahweh menjadikan Yesus sebagai anak sulung dari “umat manusia baru” ini. Yahweh menjadikan Yesus sebagai teladan bagi seluruh “umat manusia baru” untuk diikuti supaya kita “menjadi serupa dengan gambarannya”.

Inilah makna Natal, sebagaimana dijelaskan Alkitab.

Oleh karena itu, bukan hanya kelahirannya yang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah: ajaran Yesus, teladannya, dan pengorbanannya. Oleh karena itu, ketika kita merayakan Natal, akan lebih bermakna jika kita melihat melampaui Natal, untuk melihat teladan Yesus. Ini sepenuhnya tepat.


Teladan Yesus dari dua mukjizat kembar

Di tengah Injil ada dua mukjizat kembar, yaitu dua mukjizat yang sama, tetapi juga berbeda. Yang pertama ialah mukjizat memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan di Markus 6. Kemudian di Markus 8, Yesus melakukan mukjizat memberi makan 4000 orang hanya dengan 7 roti dan beberapa ikan kecil.

Ada pelajaran penting yang tersembunyi dalam kedua mukjizat itu. Ketika murid-muridnya lupa membawa roti dan berdiskusi satu sama lain tentang hal itu, Yesus menegur kekerasan hati mereka. Pada umumnya, ketika kita tidak menangkap atau mengerti pelajaran rohani yang harus kita pelajari, hal itu berkaitan dengan kekerasan hati!

14 Saat itu, murid-murid lupa membawa roti, dan hanya mempunyai sepotong roti di dalam perahu. 15 Yesus berpesan kepada mereka, “Awas! Berhati-hatilah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” 16 Lalu, mereka mulai berdiskusi satu dengan yang lain karena mereka tidak mempunyai roti. 17 Menyadari hal ini, Yesus berkata kepada mereka, “Mengapa kamu membicarakan soal kamu yang tidak mempunyai roti? Belum jugakah kamu menangkap atau mengerti? Apakah hatimu menjadi keras? 18 Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat? Kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidak ingatkah kamu 19 ketika Aku memecah-mecah lima roti untuk lima ribu orang, berapa banyak keranjang yang penuh dengan potongan sisa roti yang kamu kumpulkan?” Mereka menjawab, “Dua belas.” 20 “Dan, ketika tujuh roti untuk empat ribu orang, berapa keranjang yang penuh dengan potongan sisa roti yang kamu kumpulkan?” Mereka menjawab, “Tujuh.” 21 Yesus berkata kepada mereka, “Belum jugakah kamu mengerti?”

Apa yang Yesus harapkan agar dipahami oleh para murid?

Pemahaman umum yang sering kita dengar:

  • Kalian hanya memiliki sedikit untuk diberikan. Jangan khawatir. Persembahkan kepada Tuhan apa yang kalian miliki, Tuhan akan melipatgandakannya untuk memuaskan banyak orang.

Dengan mengamati lebih dekat, kita dapat mengetahui bahwa pemahaman ini berada di jalur yang benar. Akan tetapi, kita ingin memahami hal ini dengan lebih dalam.

Di Markus 6:41, kita baca,

Dengan mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit, Dia mengucap syukur dan memecah-mecah roti itu, lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dia juga membagi-bagi dua ikan itu kepada semua orang.


Apa artinya Yesus “mengucap syukur” untuk roti itu?

Pemahaman umum: Itu adalah kebiasaan Yahudi. Yesus mengucapkan doa, “berkat” sebelum makan. Menurut pemahaman ini, mungkin Yesus berkata: “Terima kasih, Bapa, atas makanan ini. Mohon berkati makanan ini, agar kami dapat sehat saat memakannya…”

Namun, pemeriksaan cermat terhadap konteks dan kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “mengucap syukur” (eulogeo) mengarah pada kesimpulan yang berbeda.

Kata “eulogeo” (mengucap syukur) layak mendapatkan terjemahan yang lebih akurat. eulogeo dapat memiliki arti yang berbeda tergantung pada situasi (konteks).

1. Allah memberkati manusia;
2. Manusia memberkati Allah (= memuji Tuhan);
3. Menguduskan, mempersembahkan (diri sendiri atau barang-barang) untuk dipakai Allah.

Yang jelas, makna 1. dan 2. tidak berlaku dalam konteks ini. Ini hanya menyisakan makna 3, yaitu, Yesus mengambil roti dan dia “menguduskannya” (= mempersembahkannya) untuk dipakai Allah.

 
Seketika itu juga, mukjizat terjadi

Mukjizat terjadi setelah Yesus mempersembahkan roti kepada Allah dan memecah-mecahkannya. Tepat pada saat itu, Bapa melipatgandakan roti. Dan Yesus terus memiliki lebih banyak lagi untuk diberikan.

Dengan mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit, Dia mengucap syukur dan memecah-mecah roti itu, lalu [terus-menerus] memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dia juga membagi-bagi dua ikan itu kepada semua orang. 42 Dan, mereka semua makan dan sangat kenyang. (Markus 6:41)

Kemudian, Yesus memerintahkan orang banyak itu duduk di tanah, dan Dia mengambil tujuh roti itu, dan setelah mengucap syukur, Dia memecah-mecahnya, dan [terus menerus] memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagikan kepada orang banyak. Mereka pun membagikannya kepada orang banyak. (Markus 8:6)

Perhatikan kata “terus-menerus” yang tersurat dalam bahasa Yunani. Dengan cara yang sama, ketika kita menguduskan atau mempersembahkan diri kita untuk dipakai Allah, Allah akan melakukan mukjizat. Allah akan memakai kehidupan kita untuk memuaskan banyak orang. Di jemaat awal, roti dan ikan sering dipakai untuk melambangkan orang Kristen itu sendiri. Roti dan ikan, tidak dipakai untuk terutama melambangkan apa yang dimiliki kita walaupun itu termasuk, tetapi diri kita sendiri.


Kisah Hidup Saya

Untuk mendengarkan kisah hidup saya, bagaimana Allah memakai diri saya Ketika saya mempersembahkan diri saya sepenuhnya bagi Allah, silakan klik tautan ini:

 

Kesimpulan

Inilah makna Natal. Inilah Kekristenan sejati seperti yang dijelaskan Yesus.

  • Saat ini, di dunia kita, Yahweh sedang menciptakan “umat manusia baru”. Dalam “umat manusia baru” ini, Yesus adalah Anak Sulung di antara banyak saudara dan saudari. Dia adalah Teladan kita.
  • Yesus mempersembahkan diri-Nya untuk melayani Allah. Dia memanggil kita untuk mengikuti-Nya, untuk mempersembahkan diri kita kepada Allah untuk pekerjaan keselamatan umat manusia, sama seperti Dia.

14 Karena kasih Kristus menguasai kami ketika kami menyimpulkan bahwa jika satu orang mati untuk semua, maka mereka semuanya mati. 15 Dan, Dia mati untuk semua supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan demi mereka. (2 Korintus 5:14-15)

Dua Pertanyaan Penting

Sebelum kita menutup, sekadar pengingat, saya ingin menyampaikan dua pertanyaan ini:

Pertanyaan pertama: Apakah Anda percaya pada mukjizat? Dapatkah Anda percaya pada Yahweh? Apakah saudara percaya, jika saudara mempersembahkan diri saudara sebagai roti untuk dipecah-pecahkan, Allah akan melakukan mukjizat untuk memuaskan banyak orang? Saya telah menyaksikan bahwa Allah akan melakukan mukjizat itu. Bagaimana dengan saudara?

Pertanyaan kedua:  Benarkah selama kita mempersembahkan sedikit yang kita miliki kepada Allah, Allah akan melipatgandakannya untuk memuaskan orang-orang yang lapar? Jawabannya: Ya dan tidak.

Memang benar, HANYA JIKA Anda setia dalam hal-hal kecil. Jika saudara selalu memaksimalkan apa yang telah Allah berikan kepada saudara, Allah akan melakukan mukjizat.

Jika tidak, tidak akan ada mukjizat. JIKA Anda tidak setia dalam hal-hal kecil, Anda akan kehilangan apa yang Anda miliki. Orang yang tidak setia dalam hal-hal kecil akan menemukan dirinya semakin miskin secara rohani, sehingga tidak memiliki apa-apa yang berarti untuk diberikan.

Sebab, setiap orang yang memiliki akan diberi lagi, dan ia akan berkelimpahan. Akan tetapi, dari orang yang tidak memiliki, bahkan apa yang ia miliki akan diambil. (Matius 25:29)

 

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning.