Slider

 

Jing Rong Wang |

Keluargaku – Menemukan Suka cita melalui Penderitaan
Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen yang menderita oleh karena kemiskinan, duka cita dan kesusahan. Ayahku Wang Li Gang, adalah anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan karena itu dia juga dinamai Anak Ketiga yang penuh kasih. Dia mengenal Tuhan ketika dia masih muda melalui jenderal atasannya, Feng Yu Xiang. Ayahku adalah seorang Kristen yang sangat ramah dan peduli, namun dia juga orang yang terang-terangan bicaranya dan lurus. Dia adalah laki-laki yang tidak akan tunduk pada kejahatan.

Aku adalah anak yang kelima dengan banyak saudara perempuan. Karena anak keempat juga seorang anak perempuan, nenekku menamai kakakku itu “Kesengsaraan Nenek”. Nenekku adalah seorang perempuan tradisional dengan nilai-nilai feudal. Dia lebih menyukai anak-anak lelaki dan tidak suka anak-anak perempuan. Maka ketika aku lahir, nenek lebih membenci aku lagi. Ketika aku berumur lima tahun, aku belum mampu berjalan. Nenek menamai aku “Si Timpang”. Dia dengan keras melarang ibu menatih aku dan memegangi aku. Aku dirawat seperti anjing. Apakah aku hidup atau mati tidaklah penting. Aku bertanya pada ibuku,”Mengapa mama tidak memegangi aku?” Dia dengan sedih menjawab, “Aku  tidak mempunyai kekayaan untuk menopang kamu. Jika aku mengangkat kamu, nenekmu akan memukul aku”. Ketika nenekku meninggal,  ibuku merawatku dengan penuh kasih saying dan aku tumbuh dengan cepat. Aku mulai sekolah ketika berumur tujuh tahun.

Di dalam keluargaku ada sepuluh orang dan kami semua bersandar pada satu-satunya keledai kami untuk menggiling tepung untuk kami. Setelah menjual tepung, kami membuat bubur dari dedak. Bubur ini mengenyangkan kami dan kami masih sering lapar. Aku tidak akan pernah melupakan syair yang ditulis oleh kakak lelakiku yang ketiga, yang menggambarkan keadaan keluarga kami yang menyedihkan. Syair itu ditulis pada bulan keduabelas tahun kabisat, ketika angin badai utara bertiup dan turun salju lebat. Syair itu kalau diterjemahkan berbunyi demikian:

            Akhir tahun lagi. Salju turun, putih dan tebal,

            Meleleh seperti kepulan asap yang wangi di tiap penjuru kota.

            Api penghangat tetangga menyala berkobar, rumah mereka, dimandikan

            Kehangatan api.

            Akhir tahun lagi. Salju turun, dingin dan tebal,

            Luruh di cerobong asap kami.

            Kami melihat badai salju, dengan mangkok kosong; pakaian kami, tua dan kotor.

Semua orang menyambut Tahun Baru dengan suka cita, menyiapkan segala rupa kelezatan bau gorengan dan kepulan asap makanan menyebar ke seluruh ruangan dan membangkitkan selera makan. Banyak keluarga pergi belanja sehingga mereka bisa menikmati Tahun Baru dengan memakai pakaian baru.

Tetapi tidak ada persiapan apapun di dapur kami, dan tidak ada apapun yang dimasak di kompor kami.

Memang, kami tidak mempunyai apapun untuk dimakan. Kami semua anak-anak perempuan jadi sedih, tetapi ayahku tidak susah sama sekali. Sebaliknya, dia mengajak kami memuja Tuhan. Kami anak-anak perempuan sangat suka menolong satu sama lain dan kakak laki-laki kami sangat mencintai kami. Dan Tuhan beserta kami. Dengan cara lain, keluarga kami masih mempunyai semangat merayakan liburan. Kemiskinan dan kekurangan yang amat sangat membuat kami menjadi suatu keluarga yang punya ikatan sangat erat.

Ketika ketiga saudara laki-lakiku tumbuh besar, mereka masuk sekolah Kristen. Akibatnya mereka tidak hanya menerima pendidikan yang baik tetapi juga suatu pondasi iman. Mereka suka memuji Tuhan, sambil memainkan flut dan hou lou qin, suatu alat musik bersenar dua. Masing-masing dari kami berbakat musik dan kami menjadi suatu keluarga yang sangat diberkati oleh Tuhan.

Dengan Segenap Hati, Kekuatan dan KesetiaanNya
Suatu hari, ayahku membawa keledai keluarga kami pada suatu persekutuan Kristen dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Keledai itu adalah satu-satunya mata pencaharian kami. Pada waktu itu, ayah hanya mementingkan hati yang mengasihi Tuhan. Dia tidak cemas akan hal lain sedangkan ibuku selalu kuatir, seringkali tidak bisa tidur memikirkan kebutuhan kami sehari-hari. Ayahku mempunyai iman dan pengharapan, bersandar kepada Tuhan yang mengasihi kami.

Tak lama setelah ayahku mempersembahkan keledai itu, Tuhan memberkati kami dengan dua kambing perah. Maka kami mulai menjual susu kambing. Secara berangsur-angsur, kambing kami berlipat dan pelanggan kami meningkat. Teman saudaraku juga memberi kami seekor sapi perah, maka tak lama kemudian kami mempunyai pemerahan susu sendiri. Kami adalah satu-satunya yang memiliki tempat pemerahan susu di kotapraja kecil kami, bahkan orang yang kaya sekalipun membeli susu dari kami secara berlangganan. Kami bersyukur kepada Bapa Surgawi yang telah menyediakan cara bagi kami untuk mencari nafkah secara tak terduga. Dan kami lebih bahagia karena hidup menjadi lebih tertata/ mapan.

Perang yang Tidak Kenal Belas Kasihan
Insiden Lugouqiao (Jembatan  Marco Polo, tahun 1937) menimbulkan peperangan yang tidak kenal ampun antara China dan Jepang. Tentara Jepang membunuh, merampas, membakar dan memperkosa dimana saja mereka pergi. Tiap orang dikecam oleh ketakutan. Keluarga kami, seperti semua orang lain, melarikan diri kepedesaan sedang ketiga saudara laki-lakiku berjuang melawan Jepang di sekolah. Kami tidak mengetahui keberadaan mereka dan hanya berdoa Tuhan melindungi mereka.

Ayahku adalah seorang laki-laki yang sangat patriotic dan sangat bangga akan bangsanya. Ketika dia sudah tidak sanggup menanggung hidup dibawah tekanan Jepang, dia juga memutuskan ikut melawan Jepang. Tetapi, musuh yang bengis menangkap dia hanya enam bulan setelah dia mendaftarkan diri. Sebelum dia dibunuh, dia meminta beberapa menit untuk berdoa. Sambil berlutut dia menyerahkan rohnya dan memohon kepada Tuhan untuk memelihara anak-anak dan isterinya.  Jadi ayahku dikuburkan di sebuah goa kuil sebagai martir.

Setelah itu, rumah kami dirampas habis-habisan. Hari itu tanggal 21 bulan keduabelas tahun kabisat. Angin kencang menyapu salju tebal dan es yang menutupi semua yang dapat dilihat. Dengan hilangnya segala sesuatunya dan matinya ayahku, ibuku mengalami dukacita yang tak terkatakan. Dan suatu hari, ketika dia sedang menangis dengan pahit, dia pingsan. Walaupun banyak orang mencoba untuk menyelamatkannya, dia tetap koma menunggu kematian yang segera terjadi. Kakak perempuanku dan aku menggoyang-goyang ibu dalam pelukan kami sambil merasakan dukacita yang tak terhingga. Kami tidak ingin meninggalkannya walau hanya sebentar. Kami meratap sejadi-jadinya, berteriak, “Mama! Oh, Mama!” dan “Oh Tuhan, Tuhanku! Tolong jangan biarkan Mama dalam kesengsaraan seperti ini!” Dan Tuhan mendengar tangisan kami. Dia melihat penderitaan dan kepedihan kami. Dia tahu bahwa hati kami hancur dan kami tidak tahu bagaimana kami bisa bertahan hidup. Maka Tuhan menaruh belas kasihan kepada kami. Ibuku sadar dari keadaaan komanya dan kami bisa berpelukan satu sama lain dengan erat dan dengan penuh cinta lagi.

Berjalan Melalui Lembah Bayang-bayang Kematian
Hari kedua setelah ayah meninggal, ibuku sangat sedih sekali. Dan ketika dia sedang berdoa, dia melihat tiga malaikat berpakaian putih lewat di sisinya sambil berkata, “Cepat tinggalkan tempat ini”. Ibuku terkejut. Malam berikutnya, kembali kejadian itu terulang ketika dia sedang berdoa, dia melihat tiga malaikat berpakaian putih itu melewatinya dan berkata, “Cepat tinggalkan tempat ini”. Ketika penglihatan itu muncul untuk ketiga kalinya pada malam berikutnya, mengertilah ibuku bahwa Tuhan sedang berbicara kepadanya. Dengan penuh iman dan ketakutan, dia segera mengumpulkan kami untuk meninggalkan tempat itu.

Melewati kegelapan malam, ibu menggandeng kami meninggalkan tempat mengerikan yang mengancam jiwa kami. Kami bisa mendengar anjing menyalak dengan ganas dan kami sangat ketakutan bahwa musuh akan mengejar kami. Di tengah dingin yang menusuk, kakak perempuanku dan aku bergiliran menggendong adik laki-laki kami yang masih kecil sambil memegangi tangan adik perempuan kami yang lain. Setiap kali kami tergelincir dan jatuh, kami bangun lagi. Sambil berjalan tanpa tujuan yang jelas kemana kami pergi, kami berseru, “O Tuhan! Tolong Bantu kami!” kami sangat kelelahan.

Menjelang dini hari, kami telah menempuh delapan  belas kilometer dan tiba di rumah Saudara Li Bao Ming. Dia adalah teman lama ayah dan seorang saudara seiman yang mencintai Tuhan. Dia dengan hangat menyambut keluarga kami, maka hati kami dipenuhi dengan damai dan kelegaan. Itu rasanya seperti setelah berjuang melewati badai ditengah laut, lalu mengalami air yang tenang dan damai.

Kami tahu kemudian bahwa sehari setelah kami melarikan diri, tentara musuh telah mengirim orang ke rumah kami untuk menangkapku dan kakakku perempuan. Jika kami tidak pergi malam itu, kami pasti telah binasa. Terima kasih Tuhan! PemikiranNya melampaui pemikiran kami. O Tuhan, betapa mulia pemikiranMu! Aku akan memuji Engkau selamanya!

Pada waktu itu, aku teringat kembali kata-kata ayah yang meremukkan hati di dalam doanya yang terakhir sebelum eksekusi hukuman matinya. Tuhan telah mendengar doanya, dan Tuhan tidak melupakan anak-anak dan isterinya. Di lembah baying-bayang kematian, kami mengalami perlindungan dan kepedulian Tuhan, yang mengasihi kami semua.

Kehangatan Kasih Ibu
Aku terutama ingin bersyukur kepada Tuhan karena memberi aku seorang ibu yang mengasihi Tuhan dan bersedia menderita untukNya. Pada masa itu ketika keadaan politik kacau dan bandit-bandit ada di mana-mana, hampir mustahil untuk bepergian. Banyak orang yang baik hati melihat betapa sulit bagi ibu kami untuk mengasuh lima anak. Jadi mereka mencoba untuk membujuknya untuk menikahkan aku dan kakakku perempuan dengan orang yang berada. Saat itu keadaan sangatlah tidak menguntungkan bila kami dibawa serta karena suasana huru-hara seperti itu.

Itu merupakan suatu dilemma yang sangat melukai ibuku. Namun dengan iman dia berkata, “Aku telah berjalan jauh. Bagaimana mungkin meninggalkan anak-anakku? Jika kami mati, kami mati bersama-sama. Aku tidak bisa meninggalkan mereka”. Dengan bergantung pada Tuhan untuk kuat bertahan, ibu dengan kami disisinya sanggup berjalan enampuluh kilometer dalam dua hari. Dia bernyanyi,

            Jangan takut; percaya saja.

            Jangan memandang manusia;

            Jangan melihat keadaan.

            Arahkanlah pandanganmu kepada Tuhan Yesus dan

            Berjalan denganNya ke rumah surgawi.

Aku bisa merasakan kekuatan Tuhan yang menopang ibu. Pancaran sinar di dalam dirinya bersinar terang seperti matahari terbit dan sinar itu akan selalu memancar dalam di dalam hatiku. Doa-doanya di waktu larut malam selalu menyentuh hatiku. Aku tidak akan pernah melupakan salah satu pujian kesukaan ibu, yang syairnya seperti ini:

            Berjalan di jalan surgawi memang sulit dan susah.

            Orang-orang salah paham, tetapi Yesus mengenal aku.

            Bapa yang penuh kasih selalu memeluk aku.

            Daging menderita, tetapi jiwa gembira.

Ketika memasak, ibu memompa peniup api dan menghembusi api seolah-olah dia sedang bermain akordeon. Ketika dia bernyanyi, seolah-olah ada iringan musik. Dia suka menyanyikan Mazmur 34, ibu menderita banyak tetapi dia masih penuh sukacita.

Masa Kesusahan
Segera setelah itu, hidup menjadi lebih sulit lagi. Ibu membawa kami ke kota dan bekerja sebagai penjahit bayaran, untuk pekerjaan ini dia dibayar setengah kilo tepung gandum perhari dan tujuh setengah kilo kue kedelai per minggu. Aku bangun awal tiap hari untuk memotong rumput yang dijual kepada pemilik ternak. Pada malam hari, aku bekerja sebagai go – fer (tukang pres kain/kertas). Aku memberikan tiap-tiap sen yang aku dapatkan ke ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kakakku perempuan dan aku harus belajar dan bekerja. Selama tiga tahun sekolah menengah pertama, aku tidak pernah membeli buku teks, tapi aku meminjam buku-buku teman sekelasku. Aku sering menangis waktu sekolah, sebab aku lapar dan juga sebab aku harus memakai pakaian compang-camping yang membuatku dihina. Aku sangat sedih sehingga aku sering berjalan lewat lapangan olahraga sendirian untuk berdoa kepada Tuhan. Hanya dengan menumpahkan segala isi hatiku kepada Tuhan aku bisa terhibur.

Kakakku perempuan diterima sekolah perawat untuk program empat tahun. Ketika waktunya tiba baginya untuk berangkat, aku membawa adik laki-lakiku untuk mengantarnya ke stasiun kereta api. Aku membelikannya beberapa roti kismis kering untuk makan di jalan, tetapi dia memberikannya kepada adik laki-laki kami sebab dia ingin memakannya. Jadi dia menempuh perjalanan menuju sekolah perawat di propinsi Henan dengan lapar. Dengan mata berkaca-kaca dan hati pedih aku melambai selamat jalan kepadanya sampai dia hilang dari pandangan. Selama tahun itu, aku sering mengalami kelaparan. Ketika kelaparan menguasaiku, aku menjerit kepada Tuhan memohon pertolongan. Aku sering mengumpulkan tumbuh-tumbuhan liar di ladang untuk mengisi perutku. Banyak orang menghinaku karena miskin, dan pandangan mereka yang menghina dan merendahkanku sering menyakiti hatiku. Sering pula aku tinggal di rumah sambil menangis sebab aku tidak melihat mereka. Aku berdoa di rumah dan menemukan damai dan penghiburan. Jika Tuhan tidak berada di sisiku saat itu, aku telah putus asa. Tuhan adalah kekuatan hatiku !

Dilatih Melalui Penderitaan
Aku ingat suatu kali sebuah bom ditembakkan oleh tentara Jepang mendarat tepat di sampingku. Aku terkubur oleh serpihan-serpihan bom, tetapi aku tidak terbunuh. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah memelihara hidupku.

Pada peristiwa lain, ketika aku sedang mencuci pakaian di sungai, seorang tentara Jepang lewat. Tanpa alasan apapun dia menendangku dan aku jatuh ke sungai. Aku tidak berani bergerak sama sekali ketika aku mengapung di air dan berseru dalam hati, “O Tuhan, tolong selamatkan aku.” Tentara Jepang itu tertawa terbahak-bahak dan kemudian meninggalkanku.

Ada kejadian lain lagi, seorang pengkhianat datang dengan tentara Jepang di waktu malam. Mereka tampak bengis ketika mau menggeledah rumah kami. Ketika aku menjawab pengkhianat itu dalam bahasa Jepang, dia tersenyum dan berkata, “Baiklah” lalu pergi. Sebetulnya itu adalah satu-satunya kalimat Jepang yang aku tahu. Tentara Jepang datang ke rumah kami sebab mereka tahu bahwa aku mempunyai  beberapa saudara laki-laki yang bergabung dengan tentara perlawanan anti Jepang. Jadi mereka secara tiba-tiba datang ke rumah untuk memeriksa jika saudara laki-lakiku ada di rumah. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah melindungi kami.

Tahun 1942,  aku diterima di Perguruan Tinggi Pelatihan Guru di Propinsi Xuzhou. Di sana, aku bisa makan kenyang sehingga kesehatanku membaik. Tetapi yang lebih penting bagiku adalah belajar dengan rajin. Aku bersyukur kepada Bapa di Surga yang telah memberiku kesempatan luar biasa seperti itu. O betapa aku ingin memuji NamaNYa!

Aku tidak akan pernah lupa saat aku pindah ke asrama perguruan tinggi itu. Meskipun malam itu dingin dan semua teman sekolahku telah tidur, aku masih berdoa di pekarangan. “Bagaimana mungkin aku tidur, O Tuhan, kalau aku tidak mempunyai selimut?” Aku menjerit. Maka aku berdiri di pekarangan menantikan kemurahan hati Tuhan. Sesaat kemudian, teman sekelasku, Wang Hua, yang dua tahun lebih tua dariku memanggilku masuk untuk tidur. Aku berkata kepadanya bahwa aku tidak mempunyai selimut. Dia berkata, “Kita bisa berbagi selimut milikku”. Sejak saat itu sampai kami lulus tiga tahun kemudian, dia sangat peduli kepadaku seperti kepada adiknya sendiri. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan untuk hal ini. Aku tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan seorang teman sekolah yang sangat mengasihi aku.

Di saat lain, ada  orangtua seniman yang datang ke Xuzhou. Ketika dia lihat pakaian tipisku, dia seketika melepas jaketnya yang tebal dan memberikannya kepadaku. Cuaca sangat dingin dan aku tidak tega melihatnya menggigil. Ketika kami berpisah, air mata membasahi mataku. Aku sangat menghormati kakakku. Kami besar dalam kekurangan dan kesusahan, maka kami saling mengasihi dan hati kami dipersatukan.

Sampai hari ini, dia sangat mengasihi Tuhan dan aku. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah mengijinkan kami tumbuh bersama dalam kemah pelatihan penderitaan.

Aku lulus tahun 1945 dan pulang sehari setelah wisuda. Kepala almamater mengundangku untuk mengajar disana, satu hal yang belum pernah kuimpikan. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk rahmatNya sebab pekerjaan ini memberiku kesempatan untuk membiayai sekolah adik laki-lakiku dan adik perempuanku. Mereka yang sebelumnya meremehkanku mendekat untuk berteman denganku. Sekarang keadaan jadi lebih baik, aku merasa lebih bahagia. Kebanyakan para siswa adalah orang Kristen, dan beberapa rekan kerja bahkan lulus dari seminari. Kami sering berkumpul untuk beribadah, berdoa dan bersekutu dan kami terus berhubungan dengan baik. Aku menghormati mereka karena kehidupan rohani mereka dan perilaku yang penuh kebijakan. Aku juga ingin pergi ke seminari supaya Tuhan bisa memakai aku. Aku berdoa kiranya Tuhan memberi aku kesempatan itu.

Berjalan dengan Tuhan melalui Bahaya
Selama masa itu, satu hal terjadi yang membuat aku mengalami manisnya bersama Tuhan ketika dalam bahaya. Peristiwa ini terjadi pada akhir tahun 1946, itu masa yang paling meresakan di China. Perang China-Jepang baru saja berakhir dan semua orang berharap bisa bernafas lega setelah delapan tahun huru-hara. Namun, kelompok Nasionalis dan Komunis bersiap mengobarkan perang saudara. Kami mendengar bahwa di beberapa daerah, pertempuran telah terjadi dengan gencar. Tidak jauh dari rumah kami, di Utara propinsi Jiangsu, pasukan perang Komunis Pasukan Baru ke-4 dan angkatan perang Nasionalis sedang mengumpulkan kekuatan mereka. Konflik mereka makin menghebat. Walaupun kami tinggal beberapa ratus kilometer dari zona pertempuran dan tidak bisa mendengar tembakan, kami banyak mendengar desas-desus dan bermacam-macam berita tentang kubu mana yang menang, dan betapa hancurnya kubu yang lain. Semua orang ketakutan. Saudaraku ketiga dan isterinya berada di Pasukan Baru ke-4, dan kami jadi cemas mengenai nasib mereka sebab pada waktu itu, angkatan perang komunis bukanlah tandingan angkatan perang Nasionalis. Setelah konflik besar di Selatan Propinsi Anhui, Pasukan keempat secara total disusun kembali setelah kehilangan panglima mereka, Ye Ting. Pasukan telah menyusut banyak jumlahnya dan perlengkapan perang mereka juga sangat jelek. Jika mereka harus terlibat dalam pertempuran lagi, mereka pasti kalah. Pada saat itulah ketakutan kami menjadi kenyataan.

Ada pertengahan Desember 1946, aku dengan tak terduga-duga menerima sebuah surat dari wilayah Siyang di propinsi Jiangsu. Kami tidak punya keluarga di Siyang. Dari siapa surat ini? Karena tentara Komunis dan Nasionalis sedang bertempur di wilayah Siyang, aku kira itu pasti berita dari saudara laki-lakiku ketiga. Dengan tergesa-gesa aku membuka amplop dan menemukan surat tulisan tangan yang tidak umum tetapi bagus yang menandakan bahwa surat itu ditulis oleh seorang perempuan:

Yth. Adik Perempuanku,

Aku telah ditangkap dan di penjara di kam tahanan Siyang.

Kamu tahu bahwa aku tidak bersalah.

Siang hari, aku menceritakan kepada keluargaku tentang keadaan sulit saudara ipar perempuanku. Seluruh keluarga terkejut dan susah. Aku bilang sama mereka bahwa kami harus pergi dan menyelamatkan saudara ipar perempuanku. Aku pikir Tuhan ingin kami mencintai orang lain; kami tidak bisa berpangku tangan ketika seseorang berada dalam bahaya.

Aku menemui kepala sekolah, seorang saudari seiman, sore itu juga. Setelah mendengarkan permintaanku untuk cuti, dia berada dalam situasi sulit. Akhir masa sekolah dekat dan sekolah pada kondisi yang paling sibuk. Kami sedang menyiapkan ujian akhir, memeriksa pekerjaan siswa dan membuat rapor. Lagipula, tidak ada orang yang dapat menggantikan aku, sebab kami kekurangan tenaga pengajar. Terlebih lagi, kepala sekolah juga sangat kuatir akan keselamatanku. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata, “Bukan saja aku akan kesulitan tanpa kamu di sekolah, tetapi aku juga kuatir akan bahaya yang akan kamu hadapi. Sebagai pemudi, bagaimana kamu bisa melewati garis pertempuran dengan selamat? Lagi pula, sekalipun kamu bisa menolong saudari ipar perempuanmu, dimana kamu akan menampungnya? Dia adalah Komunis, dan jika perempuan menemukan bahwa kamu sedang menyembunyikannya di suatu tempat, kamu akan menghadapi hukuman mati. Kita adalah sekolah Kristen. Jadi, kita harus menghindar terlibat dalam politik.”

Ketika dia selesai bicara, aku berkata, “Apapun dia, Komunis atau Nasionalis, dia adalah  saudari ipar perempuanku dan hidupnya dalam bahaya. Bagaimana mungkin aku berpangku tangan melihat dia mati? Aku tidak bisa membiarkannya mati. Aku harus pergi.”

Kepala sekolah mengerutkan dahi, “Jika kamu berkeras pergi, apa jadinya dengan pekerjaanmu di sekolah? Bagaimana kita menghadapi ujian akhir? Siapa yang akan menggantikan kelasmu?”

Aku mengalami dilemma, namun aku tidak bisa membiarkan saudari ipar perempuanku mati. Maka aku menjawab, “Aku tahu bahwa aku sudah membuat sekolah berada dalam situasi sulit, tetapi hidup seseorang menjadi taruhan.”

Ada keheningan yang lama. Menyadari bahwa aku tidak bisa dibujuk, kepala sekolah akhirnya berkata, “Jika kamu bersikeras, konsekuensinya bisa gawat.”

Demi saudari ipar perempuanku, aku telah membuat keputusan untuk berangkat ke Siyang, apapun resikonya. Ketika mendengar kata-kata kepala sekolah, aku sadar bahwa jika keputusanku untuk pergi membuat aku tak boleh mengajar lagi, aku bisa mengundurkan diri. Sebaliknya aku tidak mau membiarkan saudari ipar perempuanku demi kepentinganku sendiri. Kepala sekolah tetap diam dan kembali ke kantornya.

Semua saudara seiman di gereja dan juga para rekan kerjaku keberatan atas kepergianku. Mereka kuatir akan keselamatanku karena gencarnya perang yang sedang berlangsung di Siyang. Tetapi keputusanku sudah bulat.

Hanya setelah itu aku baru tahu bahwa permusuhan antara Pasukan Baru ke-4 Komunis dan tentara Nasionalis telah menjadi peperangan yang sesungguhnya. Kubu Nasionalis telah mengerahkan pasukannya untuk mengepung kekuatan Komunis dan mengalahkan mereka di tepi Danau Hongze. Strategi Komunis adalah mundur ke Utara untuk menggabungkan diri dengan Pasukan ke-8 di Selatan dan pusat Propinsi Shandong. Ketika kubu Nasionalis mengetahui rencana ini, mereka sangat cemas. Pemimpin pasukan berpikir jika Pasukan Baru ke-4 berhasil menyeberangi Jaringan Kereta Api Longhai, kubu Nasionalis ingin “melepaskan harimau kembali ke bukit.” Oleh karena itu, pemimpin Xuzhou diperintahkan untuk menghalangi kubu komunis dengan segala cara, agar tetap membuat mereka berada di sebelah Tenggara Jaringan Kereta Api Longhai. Begitulah keganassan dan kekejaman perang.

Pasukan dimana kakak dan saudari ipar perempuanku bergabung diburu oleh tentara Nasionalis ketika mundur ke Utara. Kakakku dan yang lain berhasil menyeberangi sungai sehingga terhindar dari kepungan musuh, tetapi saudari ipar perempuanku berada di antara mereka yang dihadang di sebelah Selatan tepi sungai dan tertawan. Beruntung dia tidak pernah mengungkapkan identitasnya. Ketika dia ditangkap, dia berpakaian sipil dan ngotot bahwa dia hanya mengunjungi keluarganya. Maka dia ditahan, menunggu anggota keluarganya untuk mengeluarkannya.

Sendiri di Jalan
Aku bersiap untuk membebaskan saudari ipar perempuanku sehari setelah aku menerima suratnya. Siyang berjarak beberapa ratus kilometer dari kota kami, dan transportasi terganggu karena peperangan. Satu-satunya rute yang bisa aku tempuh adalah lewat Xuzhou, lalu melalui Suining dan Suqdian ke Siyang, yang berarti aku harus berjalan memutar cukup jauh kebanyakan jalur berada di perbatasan propinsi Jiangsu Shandong dan Anhui. Aku  tidak punya banyak uang. Di sekolah,  kami tidak dibayar dengan uang tunai. Sebagai gantinya, tiap guru mendapat sepuluh atau duapuluh dolar, aku segera berangkat.

Aku membawa tas kainku dimana aku menaruh Alkitabku. Anda dapat membayangkan betapa berbahayanya bagi seorang perempuan yang berumur duapuluh tahun untuk bepergian sendiri melalui medan perang pada waktu itu. Yang dapat aku lakukan hanyalah menyerahkan segalanya ke dalam tangan Bapa yang Mahakuasa, berdoa kepadaNya untuk membuka jalan untukku.

Sebab peperangan masih belum menyebar ke bagian Timur, jalur lintas – sungai Api Jimpu masih dibuka. Karena itu aku bisa pergi ke Xuzhou dengan lancer. Tetapi aku tidak punya banyak uang sisa setelah membeli karcis kereta. Ketika kereta berangkat, aku melihat pemandangan yang suram lewat jendela. Tidak ada apapun kecuali Lumpur kuning dimana-mana. Aku bertanya-tanya seperti apa akhir tujuanku nanti, seraya aku berdoa kepada Tuhan di dalam hati. Aku tahu bahwa Dia adalah Juru Selamat Mahakuasa kami dan akan memimpin aku, apakah melalui nyala api atau air yang dalam, seperti tertulis di Yesaya 43:1-3.

Tetapi sekarang beginilah firman Tuhan,” yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau dengan namamu, engkau ini kepunyanKu. Apabila engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN,  Allahmu,  Yang Mahakudus,  Allah Israel,  Juru selamatmu. Aku menebus engkau dari Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.”

Aku turun kereta di Xuzhou ke dalam kenyataan perang. Baru satu tahun yang lalu aku belajar di sini, tapi perubahan kota ini begitu mengejutkan. Suasana di jalan suram dan tegang. Kebanyakan toko telah tutup, dan sedikit yang masih buka sudah setengah kosong. Namun, di tempat itu banyak tentara. Sejak zaman dahulu, Xuzhou adalah pusat transportasi untuk lima propinsi dan dikenal sebagai kota yang ramai dan damai. Karena alasan itulah, kota ini menjadi perebutan sebagai tempat strategis militer. Kini kota itu lebih dari sekedar kemah tentara, tapi juga menjadi Kantor Pusat Kendali Bandit Nasionalis China. Seluruh tanah nampak menyemburkan bau busuk pembantaian brutal, menakut-nakuti orang untuk lewat.

Aku berjalan mengelilingi jalan utama, berusaha mencari tahu bagaimana cara menuju ke Siyang. Aku diberitahu bahwa semua bentuk transportasi sipil telah dihentikan dan tidak akan mungkin jalan lagi. Lebih penting lagi, dengan pecahnya perang, wilayah ini telah menjadi suatu zona militer, terbatas hanya untuk pejabat yang berwenang. Aku percaya Tuhan pasti membuka jalan keluar untukku. Maka aku mendekati mereka yang berseragam tentara untuk menjajagi rencana apa yang kubuat.

Seorang prajurit melihat aku dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku seorang guru,” Aku menjawab.

“Seorang guru?”Dia melihatku dan bertanya, “Mau kemana kamu?”

Aku menceritakan kepadanya bahwa aku ingin pergi ke Siyang.

“Siyang?” Memandang aku dengan curiga, dia bertanya, “Buat apa?”

Aku memberitahu dia bahwa aku punya urusan untuk aku hadiri. Ini membuat dia lebih curiga lagi. Dia mulai mempertanyakan Bisnis apa? Darimana asalku? Dimana rumahku? Agar memeperoleh simpati dan kepercayaannya, aku memberi tahu dia bahwa kakak sulungku adalah seorang pemimpin resimen di Tentara Nasionalis ke-46, baru setelah itu dia melunak sedikit.

Dengan sikap yang berubah ini, aku mencoba untuk membuat beberapa permintaan. Aku meminta, “Karena tidak ada transportasi sipil, bolehkah aku pergi bersama kalian?”

Dia sedikit terkejut. Barangkali dia merasa permintaanku agak berlebihan. Barangkali dia kaget karena kemantapanku. Setelah berpikir, dia berkata, “Itu sangat berbahaya. Tetapi jika kamu tidak takut, kami dapat minta ijin kepada Tentara.”

Setelah pengaturan dibuat, aku berangkat dengan mereka. Pasukan mereka menuju ke arah Selatan daerah Siyang dan oleh karena itu akan lewat kota Siyang. Truk tentara yang aku tumpangi keluar dari gerbang Timur Xuzhou dan bergegas ke arah Tenggara. Katanya ini adalah jalur pelarian Xiang Yu dan Liu Bang setelah kalah perang di Xuzhou dekat Bukit Sembilan- Mil. Berdiri di truk tentara, aku dikelilingi oleh tentara yang berwajah suram. Tidak lama setelah meninggalkan Xuzhou, kami mendengar tembakan dari sebelah kanan dan kiri, yang terdengar makin gencar ketika kami jalan terus. Dalam waktu singkat, kami sudah berada di tengah kancah pertempuran, dan peluru berdesingan di atas kepala kami seperti kawanan belalang. Seolah-olah ada petasan besar meletus terus-menerus di sekitar kami. Aku ketakutan, dan bahkan para tentara gelisah. Aku pikir jika aku harus mati disini, keluargaku tidak akan tahu. Dan apa yang akan terjadi pada saudari ipar perempuanku? Siapa yang akan pergi ke kamp tahanan untuk menyelamatkannya? Aku tahu bahwa pada saat seperti ini, hampir tidak ada orang yang peduli kalau ada beberapa orang lagi yang mati. Sedang peluru berseliweran di sekelilingku, aku berseru kepada Tuhan. Dia perlahan menenangkan aku dan membantu aku untuk percaya bahwa tak peduli bagaimanapun sulit keadaan, tidak akan ada bahaya yang akan menimpaku.

Saat truk melaju terus, sebuah perintah telah dikeluarkan dari garis depan, agar kami berhenti dan menunggu perintah selanjutnya. Truk kami berhenti. Kemudian, kami jalan lagi dan harus berhenti lagi. Karena banyak berhenti di sepanjang jalan, saat kami mencapai Siyang hari sudah senja. Setelah meninggalkan Xuzhou pagi-pagi benar, kami telah menempuh perjalanan hampir sehari penuh dalam kedinginan, tanpa setetes airpun yang kami minum, apalagi makanan untuk dimakan. Tapi aku tetap berterima kasih dan memuji Tuhan. Dia telah dengan ajaib membawa aku melalui daerah terlarang yang mustahil aku lewati meski seandainya aku punya sayap!

Ketika malam tiba, aku sudah berjalan di sepanjang jalan kota Siyang. Aku tidak mengenal seorangpun. Yang membuatku lebih kuatir adalah bahwa aku belum pernah bertemu dengan saudari iparku sebelumnya. Berkat alamat yang dia kirimkan padaku, akhirnya aku menemukan tempat dimana dia ditahan, setelah melihat surat jalanku, penjaga menanyaiku, “Apa hubunganmu dengan Zhang Zhi”. Baru saat itu aku tahu bahwa saudari iparku dipanggil Zhang Zhi. Maka aku menjawab, “Zhang Zhi adalah saudara ipar perempuanku.” Lalu aku berkata lagi, “Aku tidak mengerti mengapa dia ditahan, tetapi dia menulis surat kepadaku untuk mengeluarkannya.”

“Baiklah,” kata mereka. “Tunggu di sini.”

Lebih dari setengah jam berlalu ketika mereka keluar tidak dengan satu wanita tapi empat. Aku kaget. Mereka semua umurnya kurang lebih sama dan berpakaian hampir sama juga. Mana saudara ipar perempuanku? Aku tahu mereka sedang mengujiku. Jika aku memilih orang yang salah, bukan hanya saudara ipar perempuanku yang akan ada dalam bahaya tetapi juga diriku. Dalam kepanikan, aku berseru kepada Tuhan untuk menolongku tenang melewati masa krisis itu.

Ketika aku berdiri disana, kehilangan pikiran, tiba-tiba salah satu dari para wanita itu berseru, “Saudariku, kamu telah datang!” dia nampak sangat bahagia. Hatiku juga melompat kegirangan. Ini pasti saudara ipar perempuanku! Betapa pandainya dia! Memandanginya dengan seksama dari atas sampai bawah, aku lihat bahwa dia seumurku dan sangat cantik. Aku pikir, apa yang sebaiknya aku katakan?

Untuk melepaskan ketegangan, aku menarik nafas dan berkata, “Ya Tuhan! Aku hampir terbunuh untuk bisa ke sini! Seandainya saja aku tidak mendapat tumpangan tentara, aku pasti tidak akan pernah bisa sampai ke sini, walau dengan sayap!” aku berpura-pura marah dan menyemprot dia, “Ada apa dengan kamu? Apa saja yang telah kamu lakukan, berkeliaran dalam keadaan berbahaya?”

Setelah itu, pengawal memeriksaku lagi, menanyakan dari propinsi mana asalku, profesiku, anggota keluargaku, hubungan sosialku, dan seterusnya. Aku tahu ini adalah prosedur rutin, maka aku mengatakan fakta saja. Aku beritahu mereka bahwa aku adalah seorang guru pada sekolah misionaris dan bahwa aku adalah orang Kristen. Untuk meyakinkan mereka, aku sengaja menceritakan kepada mereka bahwa kakak sulungku adalah seorang pemimpin resimen di Pasukan Nasionalis ke-46. Baru kemudian aku tahu bahwa Pasukan ke-46 ditempatkan didekat situ. Cara ini sangatlah untuk membebaskan saudara ipar perempuanku. Aku juga mengatakan bahwa aku mempunyai seorang kemenakan di Xuzhou, juga seorang tentara Nasionalis, agar memperkuat kredibilitas keluarga kami. Benar juga, mereka menjadi sangat ramah bahwa mereka tidak mencegahku untuk berbicara dengan saudara ipar perempuanku. Bahkan mereka mulai bertanya aku lulusan dari mana. Ketika aku beritahu mereka aku lulus dari Perguruan Tinggi Guru Propinsi di Xuzhou tahun 1945, mereka mulai bercakap-cakap mengenai siapa kepalanya dan siapa guru-guru perguruan tinggi itu dan sebagainya.

Dalam proses tanya jawab itu, seorang pemuda yang tampaknya seorang petugas masuk. Dia langsung menyapaku. “Kamu dari Perguruan Tinggi Guru Propinsi? Apa yang kamu lakukan disini?” Dia juga kebetulan lulusan Perguruan Tinggi Propinsi, satu tahun kakak tingkatku. Secara alami, aku sangat gembira bertemu teman sekolah lama. Aku pikir perencanaan Tuhan benar-benar mengagumkan! Kedatangan orang ini jadi kartu kemenanganku. Kesaksianku jadi terbukti. Pengawal menghentikan  tanya jawab mereka dan menyuruhku untuk beristirahat supaya mereka bisa membicarakan kasusku lebih lanjut. Aku merasa lega. Ketika mereka kembali, mereka menyuruhku mengisi beberapa formulir sesuai prosedur. Aku harus mencatatkan latar belakang  keluargaku dan menjelaskan mengapa aku bertindak sebagai penjamin untuk saudara ipar perempuanku. Setelah dua hari tinjauan ulang, permintaan jaminanku disetujui.

Ketika aku menerima berita pembebasan saudara ipar perempuanku, aku diliputi rasa syukur karena dia telah luput dari kematian. Tapi baru saja aku menemani saudara ipar perempuanku keluar dari gedung penjara, sesuatu yang menarik terjadi. Salah satu dari para tentara itu berkata kepadaku, “Karena kami sudah menyerahkan dia kepadamu, tidakkah seharusnya kamu berterima kasih kepada kami ?” Menurut kebiasaan orang China, “Terima kasih” dapat berarti banyak. Walaupun aku muda, aku memahami maksudnya. Aku merasa kepepet sebab aku tinggal punya sedikit uang. Jika aku memberikan apa yang kupunya, kami tidak akan punya ongkos pulang. Tetapi supaya segera dapat pergi secepat mungkin, aku tidak ragu-ragu. Ketika aku memberikan semua uangku, aku berseru kepada Tuhan di dalam hati, “O Tuhan, aku menyerahkan segalanya kepadaMu. Sama seperti Engkau sudah memimpinku menuju ke tempat ini, aku percaya Engkau dapat membawa kami pulang dengan selamat.”

Ketika kami meninggalkan pusat penahanan tanpa uang sepeserpun, aku bingung bagaimana aku dapat pulang. Yang pasti kami harus meningalkan tempat ini secepat mungkin. Tidak ada angkutan umum dan kami tidak menyewa kendaraan pribadi. Sejenak kemudian, aku bertemu teman sekolahku dari Perguruan Tinggi Guru Propinsi itu lagi. Ketika aku utarakan kesulitanku kepadanya, dia mengejutkan dengan mengatakan, “Tenang! Serahkan semua kepadaku. Aku akan mengatur agar kalian bisa pergi dari sini secepat mungkin.”

Dia datang mencariku pagi berikutnya. Secara kebetulan, sebuah truk tentara menuju Xuzhou sedang melintas, dan sopirnya adalah teman baiknya. Teman sekolahku menyuruhku naik truk itu dan berkata, “Tidak ada waktu untuk bicara lagi sekarang. Naiklah ke truk dan pulang. Itu yang terpenting!” Pagi itu  cuaca bagus tetapi sangat dingin karena musim dingin. Saudara ipar perempuanku dan aku duduk di truk dan memandangi dinding kota Siyang yang disaput sinar matahari. Kami tahu bahwa kami akhirnya menuju ke rumah.

Menoleh ke belakang, aku mengingat itu sebagai cobaan berat. Sepanjang perjalanan sejauh 50 kilometer, kami tidak punya apapun untuk dimakan atau diminum dan hanya sedikit pakaian untuk tetap membuat kami hangat dari udara dingin. Kami menuju ke rumah dari Xuzhou dengan berbaring di atas tumpukan batubara di dalam kereta muatan, kedinginan setengah mati karena tiupan angin ketika kereta bergerak maju. Tapi aku bersyukur kepada Tuhan sebab aku tahu bahwa Dia melatihku melalui masa sulit ini untuk mempunyai hati yang siap untuk menderita.

Semua orang sangat gembira ketika kami tiba di rumah. Walaupun saudara-saudara seiman di gereja mengeluh bahwa aku terlalu berani mengambil resiko, mereka senang bahwa aku telah kembali dengan selamat. Ujian akhir telah selesai dan setelah itu masa mengoreksi pekerjaan siswa. Setelah membantu saudara ipar perempuanku dapat tempat, aku memutuskan untuk mampir ke sekolah. Dengan hati berdebar, aku memasuki halaman sekolah, berharap kepala sekolah menerimaku lagi.

Tapi ketika dia melihat aku, dia hanya berkata satu hal: “Ini saat yang baik bagimu untuk mengoreksi.”

Keluargaku tinggal di kota kecil, maka semua tetangga kami tahu bahwa kami menampung seorang komunis di rumah kami. Beberapa orang khawatir bahwa rahasia ini mungkin tersebar, tetapi keluargaku dan aku bertekad untuk melindungi saudara ipar perempuanku, apapun resikonya. Kami tidak sadar bahwa sesuatu akan terjadi yang benar-benar mengubah rencana kami kemudian.

Tak lama setelah aku menyelesaikan semua koreksi dan penilaian, sebuah surat dari saudaraku ketiga tiba. Surat itu dibawa dari Tengkian, Propinsi Shandong, oleh seorang kurir yang mengetuk pintu kami pada malam hari dan segera pergi.  Saudaraku tidak tahu bahwa aku telah membawa pulang istrinya. Didalam suratnya, dia menyuruhku pergi ke Siyang segera untuk mengeluarkan istrinya dan menemaninya ke Tengxian. Aku harus menghubungi Pendeta Li Zai Dao dari Gereja Tengxian ketika aku tiba. Pendeta Li adalah teman sekelas pendeta kami di Huabel Seminari dan seorang yang bertanggungjawab. Hari berikutnya, aku berangkat dengan saudara ipar perempuanku, dengan hanya membawa tas kain yang berisi alkitabku.

Tak Satu Kokokan Ayampun Sejauh Seribu Mil
Kami pergi Xuzhou dulu, kemudian ke utara  ke Lincheng. Jaringan kereta api Lincheng adalah pusat gerilya melawan Jepang. Baru setelah tiba di Lincheng kami tahu bahwa  semua jalan kereta api menuju utara telah ditutup sebab pasukan komunis telah berkemah di sana. Sebuah wilayah sekitar 80 mil antara Lincheng dan Tengxian telah ditunjuk sebagai zona gencatan senjatan untuk kedua kubu. Dengan kata lain, kami harus lebih dulu berjalan ke seberang ke Tengxian. Cuaca waktu sangat dingin di bulan yang ke-12 tahun kabisat, setelah titik balik matahari musim dingin. Malam tiba lebih cepat ketika kami terseok maju.

Seolah-olah kami memasuki wilayah yang tak berpenghuni. Kami tidak melihat satu orangpun sepanjang hari. Seperti tertulis dalam buku-buku kuno, pada waktu peperangan, tidak satu kokokan ayampun dapat terdengar dalam 1000 mil di tengah padang. Kami mengalami keadaan sedih yang sama. Kami tidak melihat satu tentarapun, tetapi kami kadang-kadang mendengar tembakan tidak jauh dari kami. Bahkan kadang-kadang tembakan melintasi kepala kami! Ketika berjalan aku berkata kepada saudara ipar perempuanku, “Kita harus berdoa kepada Tuhan. Kalau saja Dia tidak menyelamatkan kamu, kamu pasti tidak akan keluar dari kamp tahanan. Sekarang, kita harus memohon Dia untuk memimpin kita jalan terus.” Maka kami berdoa sambil berjalan. Dan akhirnya, kami tiba di Tengxian tengah malam.

Pendeta Li Zai Dao menerima kami dengan ramah. Saudara ipar perempuanku hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya berada kembali di wilayah kubu komunis. Pagi berikutnya, ketika dia menuju aula panitia daerah komunis, dia melihat suaminya keluar dari gedung yang sama. Kakakku tertegun ketika mendengar istrinya memanggil namanya. Dia berdiri, bergumam berulang kali, “Aku tidak bermimpi, bukan?”

Aku baru tinggal sehari di Tengxian ketika kakakku berkata kepadaku, “Ini bukanlah tempat bagimu untuk tinggal lama. Pasukan kami akan segera mundur. Pergilah secepat mungkin.” Pagi berikutnya kakakku mengirim ajudannya untuk mengantarku pulang. Kami mengambil jalur yang sama ketika aku datang. Lagi, tak seorangpun terlihat di sepanjang jalan. Setelah hampir 20 mil, ajudan itu nampaknya merasakan sesuatu dan tidak jalan lebih jauh. Dia berkata, “Terlalu berbahaya di depan! Aku tidak bisa menemani kamu lagi. Kamu harus melanjutkan perjalanan sendiri.” Setelah berkata demikian, dia berbalik dan meninggalkan aku – seorang wanita muda tanpa perlindungan apapun – seorang diri di jalan! Terlebih lagi hari mulai gelap. Aku memohon kepada Tuhan, “O Tuhan, tolong selamatkan aku!”

Lalu aku melihat suatu cahaya yang samara berkedip di kejauhan. Aku pikir itu mungkin Lincheng. Aku menuju ke arah cahaya itu, sambil berdoa ketika berjalan. “O Tuhan, tolong jangan sampai aku bertemu bandit atau binatang buas,” Aku berseru. “Tolong bawa aku dengan aman ke Lincheng. “Sekitar 2,5 km dari Lincheng, beberapa orang melompat dari kegelapan. Kelihatannya, mereka adalah tentara Nasionalis yang sedang bertugas jaga. Mereka mulai menanyai aku: Darimana asalku? Kemana tujuanku? Mengapa aku masih di jalan pada malam hari? Aku sangat tenang. Aku beritahu mereka bahwa aku dalam perjalanan pulang, dan aku perlihatkan bahwa aku tidak mempunyai apapun kecuali Alkitab. Mereka melihat di dalam tas kainku dan cepat-cepat menyuruhku pergi.

Baru setelah tiba di Lincheng aku menyadari bahwa walaupun ini adalah kota yang cukup besar, tak seorang penduduk sipilpun kelihatan. Jalanan dipenuhi dengan pasukan. Dengan cemas, aku berpikir dimana aku akan bermalam. Aku mulai berseru kepada Tuhan. Selagi berdoa, aku melihat seorang laki-laki tua berjalan melewatiku. Aku mengejar dia dan berteriak, “Tuan, dimana aku dapat menemukan penginapan?”

Sambil memperhatikan aku, dia menjawab, “Kamu mencari penginapan? Aku tidak melihat seorang penduduk sipilpun. Apakah kamu lihat?”

“Anda benar,” kataku. Tetapi aku ingin suatu tempat untuk tinggal bermalam.

Dia berpikir sebentar dan berkata, “Pada saat seperti ini, dimana kamu dapat menemukan penginapan untuk bermalam?”

“Tempat apapun tidak masalah. Aku hanya perlu beristirahat,” kataku.

Laki-laki tua yang baik hati itu menjawab, “Tampaknya kamu harus menginap di rumahku.”

‘Rumah’ orang tua itu adalah suatu gubuk jerami yang hampir rubuh. Hanya ada satu ranjang. Setelah menyalakan lampu minyak tanah dia berkata, “Di belakang pintu, ada rumput kering yang dapat kamu pakai sebagai alas tidur.” Sambil berbicara dia memberiku selimut koyak. Aku duduk diatas tumpukan rumput kering, meringkukkan kakiku dan menutupi diriku sampai di atas kepala dengan selimut tidur yang koyak.

Di tengah malam, terdengar gedoran pintu yang keras sekali. Orang tua itu melompat dari tempat tidur membuka pintu. Enam atau tujuh tentara masuk, bertanya jika ada orang yang telah datang ke rumahnya. “Tidak ada!” jawabnya. Mereka berkata jika mereka mendapati seseorang menginap di rumahnya, dia akan dapat masalah besar. Malam itu juga, tentara memeriksa rumah itu tiga kali. Karena kecilnya gubuk, tentara menginjak kakiku setiap mereka melangkah masuk rumah. Namun aku tidak ketahuan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tahu Dialah yang membutakan mata mereka sehingga mereka tidak menemukanku, bahkan waktu mereka berdiri tepat di sampingku. Karena aku tidak ingin membahayakan orang tua itu, aku berkata, “Biarlah aku pergi kalau tidak aku akan mencelakakan anda.”

“Tentu tidak!” dia menjawab. “Kamu ini seorang perempuan! Jika mereka menangkapmu, kamu akan hancur!”

Waktu itu hampir Festival Musim Semi (Tahun Baru China) ketika aku tiba di rumah. Terbaring di tempat tidur, sesekali mendengar bunyi kembang api, dan mengenang peristiwa beberapa hari yang lalu, aku merasa seolah-olah semua ini adalah mimpi. Aku berpikir, “Jikalau bukan karena perlindungan Tuhan, aku tidak tahu ada dimana aku sekarang!” Maka aku bertekad untuk mencintai Tuhan lebih dalam lagi, sama halnya Dia telah menunjukkan kasihNya kepadaku.

Tahun 1947, selama perang saudara antara kubu Nasionalis dan Komunis, suatu kali aku menyembunyikan siswaku di suatu ruang. Sebuah bom mendarat di sebuah rumah tidak jauh dari kakiku terluka oleh pecahan bom. Banyak yang lain juga terluka. Namun Tuhan berbelas kasihan padaku sehingga aku sembuh dengan cepat setelah operasi untuk mengeluarkan pecahan bom itu. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah menyelamatkanku dari kematian.

Aku Bersukacita
Pada akhir tahun 1948, China telah merdeka. Aku tidak ingin terus mengajar sebab aku ingin memusatkan diri pada Tuhan. Tuhan mengabulkan keinginanku tahun berikutnya, dengan memberiku kesempatan untuk masuk Seminari Teologi China.

Dalam masa keributan yang baru, tidak ada orang bisa bepergian tanpa surat rekomendasi atau surat ijin jalan. Jalan kereta api dekat rumahku ditutup, maka aku tidak punya pilihan lain kecuali berjalan sejauh 90 km dalam waktu 2 hari ke Bangbu. Dari sana, aku naik kereta ke Nanjing, dimana aku menginap di rumah kakak perempuanku. Tak lama kemudian, melalui rekomendasi Pendeta Xie, aku masuk seminari itu. Aku bersuka cita seolah-olah aku masuk surga dan bumi yang baru!

Seolah-olah tiap buluh rumput dan tiap tanaman di seminari membangkitkan semangatku untuk melayani Tuhan. Aku merasakan teman-teman sekolahku ramah dan memiliki kualitas yang mengagumkan. Dalam waktu tiga tahun, aku mempelajari suatu kebenaran dan hidupku diperbaharui.  Namun, aku belum merasa puas sama sekali. Aku berusaha keras untuk mengejar Yesus Kristus dengan semua kekuatanku sehingga aku dapat memilikiNya.

Selama di seminari, aku menawarkan diri untuk pergi ke rumah sakit lepra tiap minggu untuk memimpin kebaktian Minggu. Banyak teman di Seminari yang tidak mau pergi sebab penampilan pasien lepra menakutkan mereka. Tetapi aku tidak takut. Para pasien ini tinggal di kaki bukit dan mereka memaksa tubub-tubuh sakit mereka dengan cara apapun untuk bisa sampai ke gereja di puncak bukit untuk berbakti. Kapan saja mereka melihat kami datang, mereka menyambut seolah-olah Tuhan sendiri yang datang kepada mereka. Setiap kali, aku terharu meneteskan air mata. Tuhan menarik aku semakin dekatNya dan memberi aku rasa belas kasihan dan cinta lebih dalam untuk mereka. Sesungguhnya, aku merasa bahwa bukanlah aku yang menolong mereka, tetapi merekalah yang membantu aku mencintai Tuhan lebih dalam. Sayangnya, ketika pemerintah mengambil alih manajemen rumah sakit lepra, aku tidak bisa lagi mengunjungi mereka.

Aku terutama teringat kepada seorang guru dari Inggris di Seminari itu. Dia adalah seorang hamba Tuhan yang setia dan mewujudkan gambar Kristus di dalam hidupnya. Kuasa Tuhan dan hikmat ada pada dirinya hingga tiap kali bertemu dengannya aku mendapat pengajaran dari Tuhan. Aku mengantarkannya di stasiun kereta api ketika dia meninggalkan Hangzhou tahun 1952. Karena tidak tahu kapan aku pernah melihatnya lagi, hatiku pedih dan aku tidak bisa menahan air mataku. Ketika beberapa tentara Pasukan Pembebasan Rakyat melihatku, mereka memanggilku “anjing berlari” untuk kaum imperialis asing – dengan kata lain, seorang pengkhianat. Bagaimana mereka bisa memahami hal-hal rohani?

Merajut Bersama Dengan Satu Hati
Tahun 1952, ketika aku bekerjasama dengan Misi Perdamaian China, aku bertemu saudara Xia. Dia telah lulus dari Universitas dan keluarganya sangat berharap padanya. Dia tidak hanya menjadi orang Kristen, tetapi juga mempersembahkan dirinya untuk melayani Tuhan dan pergi ke Seminari. Karena marah, orang tuanya mengusir dia dari rumah untuk selamanya. Dia mulai berkhotbah di gereja Ling Liang di Hangzhou tahun 1952. Melalui saudara Petrus sebagai comblang, saudara Xia dan aku menikah tanggal 15 Maret 1953. Dibawah pimpinan Tuhan, kami berdua mempunyai tujuan yang sama seperti Paulus, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan (1 Korintus 2:2 ).”

Suamiku terutama suka membantu orang-orang muda, dan dia bisa berkomunikasi baik dengan mereka. Oleh sebab itu dia dikenal karena pelayanannya kepada kaum muda. Ini menarik banyak perhatian dan mulai menimbulkan masalah.

Tahun 1955, Kampanye Su Fan (serangan Kuburan) mulai. Walaupun kampnya ini mempunyai sasaran seni budaya, gereja jadi ikut terbawa ke dalamnya. Kami diminta untuk mengkritik Mr. Wang Ming Dao, pengkhotbah terkenal waktu itu Mr. Wang sebelumnya pernah datang ke desaku untuk memimpin kebaktian. Karena dia menekankan kekudusan di dalam khotbahnya, aku merasa bahwa dia adalah seorang hamba Tuhan yang setia. Bagaimana mungkin aku berani menyampaikan kritik yang tak berdasar pada hamba Tuhan? Karena kami tidak menuruti peserta kampanye ini, kami menjadi sasaran mereka. Puncaknya adalah gara-gara kami tidak bergabung dengan yang Gerakan Gereja “Tiga Diri” membuat kami dicap sebagai anti-revolusi. Akibatnya kami harus ‘belajar’ maksudnya, mengalami cuci otak dan ‘mengakui kejahatan kami’ tiap hari.

Suatu hari, Departemen Urusan Agama mengadakan suatu pertemuan dan perjamuan untuk para pekerja gereja di kota kami, juga mengundang kami untuk ikut kebaktian yang diadakan pemerintah. Pendeta Rong Guang menepuk punggung suamiku dan secara berkelakar berkata, “Saudara Xia, pesta hari ini terlaksana berkat anda!” Semua orang dalam suasana hati gembira, makan dan minum, tetapi suamiku sangat sedih dan tidak makan apapun. Pada saat puncak keceriaan itu, dia menyatakan, “Aku tidak akan bergabung dengan Gereja ‘Tiga Diri’. Kejutan ini membuat semua terdiam. Yang pertama berbicara memecah keheningan adalah Kepala Urusan Agama. “Jika kamu tidak mau minum cangkir penghormatan, maka nantikan cangkir hukuman!” dia berseru dengan nada marah. Pengecualian suamiku diumumkan minggu berikutnya. Hari itu tanggal 8 Januari 1955 dan juga hari anak sulung laku-laki kami lahir. Kami namai dia Zan Mei, yang berarti ‘Pujian.’

Kami tidak tahu kemana harus berpaling setelah dikucilkan. Suatu hari, suamiku berjalan-jalan dan bertemu istri Pendeta Yu. Ketika dia bertanya kemana suamiku mau pergi, suamiku berkata, “Aku sedang mencari apartemen.”

“Tinggal saja di rumah kami,” Ny. Yu berkata. Puji Tuhan! Tuhan mengetahui kebutuhan kami dan menyiapkan ruang sangat besar untuk kami.

Tanggal 28 Oktober 1955, suamiku ditangkap dan semua bukunya dirampas. Malam itu juga, Zan Mei tidak tidur sedikitpun. Dia tertawa gembira dan merangkak dari ujung ke ujung ranjang sampai dinihari! Dia belum pernah seperti ini sebelumnya. Tuhan memenuhi putraku dengan sukacita dan aku sendiri juga jadi penuh dengan rasa nyaman dan pujian. Setelah itu, aku mempersembahkan putraku kepada Tuhan.

Suamiku ditempatkan di suatu kamp kerja paksa di Qinghai selama 5 tahun dan kehidupanku sebagai istri seorang kontra revolusi juga jadi sulit. Tiap hari, aku bersama putraku harus ikut program cuci otak. Di sana aku menulis pengakuan dan mengalami pelecehan lewat kata-kata dan hukuman fisik. Suamiku diserang dengan jahat di radio dan di Surat Kabar Harian Zhejiang sebagai kontra revolusi. Aku hampir tidak makan dalam masa yang sangat meletihkan ini. Tetapi aku berterima kasih kepada Tuhan karena menyertaiku. Dengan bersandar padaNya, aku merasa damai sebab Dialah kekuatanku dan pertolonganku.

Suatu malam,ditengah angin kencang, saudara Zhang, orang muda yang mengasihi Tuhan, mengunjungi dan menghibur aku. Segera setelah itu, dia ditangkap. Tahun 1996, 40 tahun kemudian, dia mengunjungi aku lagi. Betapa gembiranya kami dapat bertemu lagi! Kami berbicara tanpa henti mengenai hari-hari yang gelap dan susah, tentang pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan menyakitkan. Bahwa kami bisa tetap hidup dan bertemu lagi adalah suatu keajaiban! Aku ingin bersyukur kepada Tuhan untuk rahmatNya yang ajaib.

Suatu ketika, Zan Mei terkena bronchitis serius. Dia terkena demam tinggi yang tidak turun-turun dan cahaya hidupnya nampak mulai surut. Tetapi karena aku tidak punya uang sepeserpun aku tidak bisa membawa dia ke dokter. Aku hanya bisa berlutut dihadapan Tuhan, memohon belas kasihanNya untuk putraku. Aku berdoa ketika semua orang tidur nyenyak. Tiba-tiba, saudara Yang mengunjungi kami. “Mengapa kamu datang pada larut malam?” Aku bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya. “Aku hanya merasa perlu mengunjungi kamu.”

Saudara Yang melihat betapa parahnya kondisi Zan Mei dan seketika membawa dia ke rumah sakit. Pada saat itu juga saudari Xie tiba. Dia juga merasakan suatu dorongan untuk  mengunjungi aku. Jadi dua orang ini menemani aku ke rumah sakit. Dokter berkata, “Seandainya kamu terlambat 5 menit saja, anakmu pasti telah meninggal.” Perawatan medis darurat yang tepat waktu telah menyelamatkan hidup Zan Mei. Sungguh ajaib Tuhan! Dia tidak membuat kesalahan dan suka menunjukkan kemurahan hati. Sekali lagi, aku mempersembahkan Zan Mei kepadaNya, berharap Dia akan senang menerima putraku untuk melayaniNya di masa mendatang.

Tahun 1957, aku kembali ke Shanghai untuk tinggal dengan ibu mertuaku, dan mulai mengajar sebab aku tidak ingin menambah beban keuangannya. Aku hanya mengajar 3 bulan sebab saat itu adalah puncaknya gerakan anti-kanan. Sekolah mengetahui bahwa aku orang Kristen dan istri seorang kontra-revolusi, dan memberitahuku bahwa aku tidak bisa menerapkan prinsip filsafat pendidikan Marx oleh karena pemikiran idealistisku (yaitu iman kristenku). Tanpa harapan mendapat pekerjaan, aku tidak punya pilihan lain kecuali meninggalkan Shanghai dengan putraku, mengemabara dari satu ke lain tempat. Sepanjang waktu itu, Tuhan menjaga aku di bawah perlindunganNya, menyelamatkanku dari banyak bencana dan godaan. Dan setiap kali ada bahaya dan kekurangan, Dia menyediakan tempat aman untuk aku berlindung Walaupun tidak ada orang untuk dimintai pertolongan, aku selalu berpaling kepadaNya untuk menyediakan keamanan yang aku rindukan.

Suamiku Dalam Kamp Kerja Paksa
Di dalam kamp kerja paksa suamiku, 3 bulan disiapkan untuk “pelatihan musim dingin” setiap tahun. Selama waktu itu, para narapidana digempur dengan serangan yang sangat keras.  Mereka menanyai suamiku tentang imannya, bertanya misalnya, “Mengapa kamu memegang imanmu? Kenapa kamu masih percaya kepada Yesus? Ayo bicara!” Dia kemudian mulai memberi kesaksian seperti, “Sebelum aku percaya pada Yesus, aku adalah orang yang tidak baik. Tetapi setelah aku percaya pada Yesus, aku menjadi ciptaan baru semua sebab Tuhan yang disalibkan menyelamatkan aku, mengubah aku dan memberi aku hidup kekal.” Setiap kali dia bersaksi, mereka mencambuk punggungnya dangan keras sebab mereka sangat marah bahwa dia berani “mengkhotbahkan takhyul” kepada mereka di wilayah mereka. Mereka melepaskan bajunya pada temperature -30 C. Tetapi badannya tidak bisa tahan dingin dan dia pingsan serta membeku. Sehingga mereka membawa dia ke rumah orang mati. Tapi dia mengejutkan mereka semua dengan dia siuman kembali seminggu kemudian. Setiap kali tekanan menjadi brutal, dia pingsan.

Puji syukur kepada Tuhan bahwa dia tidak harus mendengarkan “lolongan para serigala ini.” Sebagai gantinya dia dapat beristirahat dengan tenang di rumah orang mati!

Tahun 1958, aku pergi ke Xian dan tinggal di sana selama setengah tahun. Di sana, aku menerima surat yang sangat panjang dari suamiku. Surat itu ditulis saat dia bertugas jaga malam di rumah sakit pada suatu malam ketika turun hujan. Semua pasien tidur nyenyak. Keadaan sangat tenang dan tidak ada gangguan. Roh Kudus mengilhami dia untuk menulis surat tentang bagaimana dia merindukan Tuhan:

… O Yahweh, aku mengasihi Engkau! Aku dahaga akan Engkau! Di tanah yang layu dan kering, aku haus akan Engkau. Hatiku merindukan Engkau seperti Rusa merindukan air di tepi sungai. Kapan aku akan bisa kembali dan tinggal di RumahMu? Aku sering menelan air mataku, O Tuhan, tetapi ketika mengingat Engkau, hal yang manis mengisi jiwaku. Ketika mengingat Engkau, duka citaku berubah menjadi suka cita. Engkau adalah bunga Bakung di Lembah, tanpa Engkau aku tidak bisa hidup….

Ketika dia menyelesaikan surat itu, dia meminta penjaga yang bertugas untuk mengirimkannya. Bukan saja surat itu tidak dikirimkan, tetapi juga dia dicaci-maki. “Mentalitas borjuismu terlalu kuat. Kamu menulis surat cinta! Apa artinya semua ini “Yahweh, aku mengasihi Engkau! Siapakah Yahweh? Apakah Yahweh istrimu? Akankah dia mengerti suratmu? Tahukah kamu bahwa kamu adalah narapidana kamp kerja paksa? Kamu tidak punya hak untuk tulis surat cinta. Ambil kembali suratmu!”

Suamiku tidak berputus asa. Dia secara penuh memahami bahwa Roh Kuduslah yang mengilhami dan mendesak dia untuk menulis surat ini. Dia tahu bahwa Tuhan pasti mempunyai alasan yang sempurna untuk ini. Maka dia tetap memohon pengawal untuk mengirimkan surat itu. Sesungguhnya, surat itu memberikan kesan yang baik pada pengawal itu. Dia mengagumi apa yang dia lihat sebagai kreativitas dan akademis suamiku. Sebenarnya surat itu sangat menarik perhatiannya sampai pikirannya tidak bisa beristirahaat dalam waktu lama. Dia teringat kembali bagaimana dia menjadi yatim dan diasuh oleh neneknya. Neneknya adalah orang Kristen taat yang mengajak dia untuk menyembah Tuhan di gereja tiap hari minggu. Setiap kali neneknya berpuasa, dia juga menyuruh dia untuk puasa. Dia menghormati neneknya sebagai orang Kristen yang baik karena ia memuja Tuhan dengan ketulusan hati seperti itu. Setelah membaca surat ini, dia memikirkan suamiku, yang berpendidikan dan tampan., yang menyerahkan segalanya untuk imannya di dalam Tuhan. Bukan hanya itu, dia juga mau menderita untuk imannya. Pasti ada kebenaran dan alasan atas kemantapannya melakukan ini. Jadi, Roh Kudus bekerja di dalam hati penjaga itu. Dia ingat neneknya lagi dan yakin bahwa dia adalah orang Kristen yang bekerja bersama dengan Tuhan. Dengan cara ini, dia mulai mencari kebenaran tentang Tuhan.

Setelah beberapa waktu, kepala pengadilan jatuh sakit dan dia secara khusus meminta suamiku untuk mengunjungi dia. Tetapi, sebagai nara pidana kerja paksa, suamiku tidak punya kebebasan untuk pergi sendiri. Tuhan mengatur sedemikian rupa sehingga penjaga itulah yang mengawal dia dalam perjalanan. Mereka menempuh perjalanan dengan kuda. Ketika mencapai suatu dataran tinggi di atas bukit, penjaga itu mengusulkan mereka beristirahat. Kemudian, dia mulai merangkul suamiku dan mulai menangis. “Aku harus minta maaf pada anda,” dia berkata. “Aku ingin percaya pada Tuhan. Aku ingin bertobat dan percaya pada Yesus. Aku telah mengamati kamu sepanjang tahun ini dan kamu mempunyai Roh Tuhan di dalam diri kamu. Apapun juga yang kamu lakukan, kamu melakukan dengan segenap hati dan pikiran. Perilakumu luar biasa dan aku dapat melihat bahwa Tuhan ada bersama kamu.”

Itu adalah bukti bahwa Roh Tuhan hadir di dalam mereka berdua. Suamiku kemudian membaptis dia di dalam sebuah teluk yang jernih dan mereka berdua sangat bersukacita. Betapa ajaib Tuhan! Bukankah Dia bekerja dengan cara yang mengagumkan?

Tuhan Memegang Tanganku
Tahun 1959, aku pindah ke Beijing setelah saudaraku mendapatkan kartu tanda pendudukku (KTP) di sana. Aku  mengajar privat delapan anaknya dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Anak-anak sangat taat dan penuh hormat, dan aku mencintai mereka. Meskipun lelah, aku sangat berterima kasih. Iklim politik di Beijing tegang, tetapi pimpinan Tuhan selalu luar biasa. Untungnya, aku telah mendapatkan KTPku di Beijing, sebab KTP itu menyelamatkan aku dari banyak situasi berbahaya dan perlakuan yang tidak semestinya.

Tahun 1960, banyak sekali orang meninggal karena kelaparan di propinsi Anhui dan Henan. Tidak  ada pekerjaan atau sawah untuk bertani. Karena menderita kelaparan, ibuku mencari perlindungan pada saudaraku di Beijing. Untungnya, Tuhan telah memimpinku ke Beijing lebih dulu, kalau tidak, ibuku, putraku Zan Mei dan aku harus kelaparan lagi. Bukankah ini suatu kebenaran meskipun aku tidak mengetahui apa yang akan  terjadi, Tuhan selalu memimpinku dengan tanganNya. Aku benar-benar harus berterima kasih kepada Tuhan untuk perlindunganNya.

Tahun 1961, suamiku tiba-tiba dipindahkan oleh penguasa penjara ke Danau Qinghai untuk mencari ikan. Pada waktu itu, kelaparan terjadi dimana-mana di seluruh negeri. Orang kebanyakan meninggal karena kelaparan tak terhitung jumlahnya, apalagi nara pidana kamp kerja paksa. Ikan adalah makanan kesukaan suamiku dan dia dikenyangkan tiap hari dengan makanan bergizi ini: roti rebus digoreng dengan minyak ikan. Dia pergi ke Qinghai dengan 2000 nara pidana tetapi hanya 200 yang bertahan hidup. Setelah empat bulan di Danau Qinghai, dia sangat sehat bahkan tidak pernah menjadi segemuk itu sebelumnya. Betapa ajaib Tuhan! Semua kemuliaan kepadaNya dan Dia memberi kemuliaanNya kepada anak-anakNya. Kemudian, semua orang mempersembahkan puji syukur kepada Tuhan ketika suamiku akhirnya pulang.

Musim dingin itu, temannya nara pidana kerja paksa diperbolehkan pulang. Tetapi, suamiku tidak ada dalam daftar nama yang akan dibebaskan. Hari bagi semua orang untuk duduk di bus menuju rumah tiba juga. Dia berdiri dekat barisan, ingin tahu bagaimana Tuhan akan memimpin dia sebab Tuhan telah memberitahu dia bahwa mereka yang ditawan akan pulang. Di detik terakhir, ketika mulai nampak tiada harapan, namanya dipanggil dan dia diberitahu untuk naik ke dalam bus dengan cepat. Dia penuh dengan rasa syukur. Tidak ada orang yang dapat menghalangi kehendak Tuhan sebab Dia berkuasa.

Karena itu suatu pagi di bulan Desember, suamiku tiba-tiba muncul dihadapan kami. Dia tidak memberi tahu kami sebelumnya kapan dia akan kembali, jadi aku merasa seolah-olah aku sedang bermimpi. Aku sungguh tidak percaya dan berterima kasih kepada Tuhan untuk karyaNya yang ajaib. Tuhan mengijinkan para hamba yang menyembahNya untuk pulang dengan selamat.

Melalui  rekomendasi Dr. Chen, suamiku mulai bekerja di Rumah Sakit Pusat di kota kelahiranku. Semuanya ada empat dokter yang bekerja di Departemen Pengobatan Internal. Mereka memberi semua orang Kristen yang telah dianiaya karena iman mereka. Tuhan terutama memberkati mereka dengan perlindunganNya dalam waktu yang sangat singkat itu, yang mereka nikmati bersama-sama sehingga mereka menyatakan kasihNya lebih manis dari madu.

Putraku kedua lahir bulan Agustus 1963, kemudian datang masa kampanye Si  Qing  (Empat pembersihan). Sekali lagi, suamiku harus menjalani sesi cuci otak di suatu sekolah politik. Sama dengan dulu, dia langsung mengalami serangan lewat kata-kata dan menerima kritik kejam untuk banyak hal, seperti “borjuis yang berpikir” dan iman di dalam Tuhan. Akhirnya, dia dikirim untuk bekerja pada sebuah media cetak sebagai bentuk “koreksi melalui kerja.” Walaupun pekerjaan itu dirancang untuk menyiksa dia, dia mengatasi berbagai kesulitan dan apapun yang dia lakukan, dia kerjakan dengan baik. Bahkan para pekerja yang paling berpengalamanpun tidak bisa menandingi ketrampilan dan ketangkasannya. Roh Tuhan ada bersama dia, memberkati dia dengan hikmat sebab dia memuliakan Tuhan dengan segala hal yang dia lakukan.

Tahun itu juga, aku dipecat ketika aku sedang mengajar di taman kanak-kanak kabupaten oleh karena imanku. Namun aku bersyukur pada Tuhan yang memberi aku dua tangan untuk menghidupi keluarga dengan merajut. Aku merajut dengan dua saudari lain dan dengan amat bahagia. Terima kasih Tuhan yang memberikan kekuatan tiap-tiap hari sehingga hatiku tetap setia dan kakiku tetap di jalanNya.

Menjadi Tontonan Bagi Dunia
Di tahun 1965, Revolusi Budaya mulai. Kami harus “dididik kembali” terus-menerus. Sekali kami memahami apa yang diajarkan, kami harus melancarkan kritik dan ejekan public melawan “roh banteng dan dewa ular,” suatu ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan religius bertakhyul. Aku tidak bisa bergabung dan karena itu segera menjadi sasaran. Tiap hari, kami harus menguasai diri kami sendiri melawan gangguan dan hinaan.

Tangggal 17 Juli 1965, pagi-pagi aku melahirkan putri kami. Suamiku menamainya Chen Shi, yang berarti “Malaikat Fajar.” Dia lahir dengan melepuh di seluruh badannya. Bayak obat harus dibubuhkan pada tubuhnya sampai hampir tidak menyerupai seorang bayi. Lebih lagi, kami diserang oleh gelombang panas sepanjang bulan berikutnya, dengan suhu mencapai 40 C. Kamar kecil kami menjadi sangat panas dan penuh sesak sehingga kami tidak bisa tidur. Maka kami duduk di luar pekarangan sepanjang hari, merasa pusing dan lemas karena panas. Puncaknya, bayiku sakit karena kekurangan gizi. Namun setelah dua bulan, puji Tuhan, dia berangsur-angsur membaik dan pipinya kelihatan berwarna merah lagi.

Antara tahun 1965 – 1969, tidak ada satu hari tenangpun untuk kami. Jika bukan oleh tuduhan dan pencemaran nama, kami harus berpawai di jalan memakai topi orang bodoh jangkung yang diletakkan dengan salah secara memalukan. Suamiku kelihatan menonjol sebab dia tinggi. Kami telah dibuat menjadi tontonan bagi dunia karena tuduhan yang tidak berdasar.

Aku sering berdoa dan bersekutu dengan seorang saudari yang tinggal di lingkungan yang sama. Maka penganiaya kami menuduh kami melakukan kegiatan rahasia dan membawa saudari itu, suamiku dan aku, untuk diinterograsi public dengan cermat. Lagipula, mereka menuduh kami dengan tuduhan yang tidak masuk akal – mengirimkan telegram ke Taiwan! Jadi mereka menahan kami dan berulangkali menggeledah rumah kami. Selama waktu itu, suamiku menderita sakit jantung, tekanan darah tinggi dan bisul perut. Jika bukan karena belas kasihan Tuhan, pasti akan sulit baginya untuk menanggung penyakit ini. Sungguh, jika Tuhan tidak bersama kami, kami pasti telah kehilangan keberanian sejak awal.

Di musim dingin1969, Kami Xia fang, dikirim ke daerah pedesaan. Kami menghibur diri kami bahwa itu tidaklah buruk. Setidaknya kami terlepas dari huru-hara politis di kota. Sedikit yang kami ketahui apa yang terjadi berikutnya. Suatu hari, sebuah truk melaju di sampingku dan beberapa orang menyuruhku untuk naik. “Tunggu sampai anak-anak dan suamiku kembali dan kita akan pergi bersama,” kataku. Tetapi mereka menolak dan menyeret aku sepanjang jalan seperti babi mati. Tanganku tergores dan terluka serta tubuhku banyak berdarah. Tepat waktu itu, suamiku dan anak-anakku muncul dan penyiksa kami mendorong kami ke truk itu. Mereka membawa paksa kami ke suatu tempat sejauh kira-kira 50 km. Mereka kemudian memerintah pejabat desa dan para petani untuk memperketat pengawasan terhadap kami, dengan mengatakan bahwa kami adalah mata-mata kelas tinggi dan kontra revolusi. Lagi, kami dijadikan tontonan di jalan dengan memakai topi orang bodoh dan tanda tulisan di leher kami. Para penganiaya di desa sama kejamnya seperti di kota. Jika Tuhan tidak memberi kami kekuatan yang melebihi manusia biasa, masa-masa itu pasti tak tertahankan. Tiap pikiran yang tertuju kepada Tuhan membawa banyak kemanisan dan penghiburan. Betapa aku merasakan bahwa aku tidak bisa hidup bahkan sebentarpun, tanpa Tuhan yang mengasihi kami.

Setelah beberapa waktu, rakyat desa mulai berubah sikap kepada kami, menjadi semakin ramah dan hangat. Kami tidak lagi tampak menakutkan bagi mereka. Suamiku melakukan banyak perawatan khusus medis yang sulit, dan dengan begitu memenangkan hati dan rasa suka mereka kepada kami. Kemudian, beberapa petani mulai suatu klinik masyarakat dan mengundang dia sebagai dokter juga. Di sana dia sukses mengobati banyak pasien dan orang-orang jadi gembira sebab banyak penyakit yang mengganggu mereka dapat disembuhkan.

Tetapi suatu ketika istri Sekretaris Li di brigade produksi jatuh sakit. Setelah memeriksanya, Sekretaris itu sangat tidak senang hati karena dia tidak diperlakukan dengan khusus. Maka dia punya alasan dan berkata, “Pak Xia, anda masih punya masalah dengan posisi politis dan ideology anda dan harus menjalani koreksi diri sebelum kembali ke pekerjaan anda.” Sekretaris Li dikuasai oleh marah sehingga dia memerintahkan kepala departemen produksi melakukan pembatasan yang lebih ketat terhadap suamiku dan memberi dia pekerjaan kasar yang paling sulit dan melelahkan. Akibatnya, penyakit lama suamiku kambuh lagi. Dia sangat sakit sehingga tidak bisa turun dari tempat tidur. Sejak saat itu, semua petani sangat menghormati Dr. Xia mereka dan dia dianggap sebagai orang desa dan dengan demikian memperoleh kepercayaan mereka. Kami bersyukur kepada Tuhan untuk hal ini.

Sebelas tahun setelah kami dikirim ke desa itu, rumah kami terbakar habis. Kami membangun kembali rumah itu tahun berikutnya, yang segera dikoyak lagi oleh badai topan. Sepanjang musim hujan yang amat deras, tiap bagian langit-langit kami bocor kecuali satu bagian kecil seukuran meja tulis. Seluruh keluarga bergerombol dibawah bagian yang tidak bocor itu dan suamiku memimpin menyanyi lagu pujian. Suara kami bergema dengan suka cita. Tapi orang desa berpikir bahwa kami sedang meratap sebab rumah kami roboh. Tetapi ketika mereka datang untuk menghibur kami mereka terkejut melihat kami menyanyi! Mereka menertawakan kami. Tapi kami memahami bahwa segala sesuatu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan (Roma 8;28). Kami bersuka cita, dengan bersandar pada janji Tuhan ketika Dia memberi kami kedamaian di dalam hati kami.

Pada kesempatan lain, ketika kami sedang menumbuk gandum ditanah terbuka, angin kencang datang, membuyarkan gandum dan meniupnya ke sungai. Kami telah lama berharap akan panen dan dapat makan roti kismis rebus. Sekarang, semua kerja keras jadi sia-sia. Semua yang telah kami tumbuhkan hilang ke air di depan mata kami. Orang desa menghela nafas tanda harapan, tetapi kami bersyukur kepada Tuhan meskipun kami mengalami berbagai kesulitan yang tak ada akhirnya. Aku ingat firman Tuhan di dalam Lukas 22:28, “…Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang aku alami.” Ketika kami bersandar pada Tuhan, hati kami merasa lega dan puas. Meski menghadapi kesusahan, kami masih bisa melompat kegirangan.

Pembangunan Kembali Rumah Kami
Setelah sebelas tahun pengungsian, semua orang bisa kembali ke rumah – kecuali kami. Kami pernah berpikir untuk menyuap agar mendapat surat ijin, tetapi kami tidak punya uang maupun daya untuk melakukan itu. Maka kami memutuskan bahwa jika Tuhan menghendaki kami tidak pernah meninggalkan desa itu, itu pasti cukup baik untuk kami. Kemudian tak disangka-sangka, adik perempuanku dari Hongkong mengunjungi aku. Ketika dia tahu bahwa aku dikirim ke pedesaan oleh pemerintah, dia pergi menghadap yang berwenang dan bertanya, “Kejahatan apa yang diperbuat saudariku? Tolong beritahu mengapa dia masih tidak diijinkan untuk pulang?” Puji Tuhan! Pejabat yang berwenang hanya butuh waktu satu hari untuk memproses surat ijin tinggal di kotaku dan mengirimkannya kepada saudariku. Aku tidak melakukan sedikitpun usaha dan dengan begitu kami mampu lihat kemuliaanNya. Tidak ada apapun yang mustahil untuk Tuhan kami!

Tanggal 23 Desember 1980, aku kembali ke kota. Aku bersyukur kepada Tuhan karena saudariku membangun rumah tiga kamar untuk kami tinggali. Dua tahu kemudian, Tuhan memberiku visi untuk membuka taman kanak-kanak di rumah kami. Pada satu sisi ini memecahkan kesulitan keuangan kami dan pada sisi lain, tempat kami menyediakan pendidikan untuk anak-anak di lingkungan itu. Kebanyakan anak-anak bisa masuk ke taman kanak-kanak umum karena diperlukan surat keterangan dari tiga tingkatan pejabat berwenang. Karena taman kanak-kanakku meringankan pusingnya banyak orang tua. Mereka menghargainya meskipun kondisinya sangat terbatas. Pemerintah juga mendukung kami, dan aku diberi gelar “Pekerja Teladan.” Semua hal berjalan lancer sebab tangan Tuhan turut bekerja.

Kebaktian keluarga kami juga mulai bersamaan dengan pembukaan taman kanak-kanak itu. Lagipula, anak-anakku mulai masuk sekolah dan hati kami penuh dengan pujian. Dengan berkat khusus Tuhan, mimpi kami yang telah lama jadi terwujud – suamiku berkhotbah dan memimpin pemahaman Alkitab (PA) dan kami melayani Tuhan bersama-sama. Kami melihat Tuhan bekerja menyatakan kemuliaanNya dan banyak orang yang jadi percaya. Tetapi, kami juga menarik perhatian Gereja ‘Tiga Diri.’ Mereka mengundang suamiku untuk berkhotbah disana dan juga bekerja di rumah sakit mereka, tetapi dia menolak mereka. Kemudian, mereka menyulitkan kami dengan melaporkan kebaktian kami kepada pejabat. Sebab perkumpulan kami tidak terdaftar dan oleh karena itu tidak mempunyai surat ijin dari pemerintah, kami tidak diijinkan untuk berkumpul. Pejabat pemerintah menyuruh kami untuk berhenti mengadakan pertemuan-pertemuan. Maka tercerai-berailah orang-orang yang percaya. Tapi kami tetap bersekutu dengan dua atau tiga orang, walaupun kami tetap diawasi dengan ketat. Tuhan sendiri yang melindungi kami.

Api Yang Tersebar
Suatu malam dalam Pebruari 1993, aku bermimpi bahwa suamiku pergi kepada Tuhan. Di dalam mimpiku aku melihat kami menyanyikan “Tuhan Beserta Kamu Hingga Kami Bertemu Lagi,” “Bapa Surgawi Adalah Setia” dan “Di Pantai Mulia.” Aku juga melihat seorang saudara berkhotbah dan dia dipenuhi dengan Roh Kudus. Rasanya seperti suatu kebaktian kebangunan rohani. Aku belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya dan aku sangat berbahagia. Pagi berikutnya, aku menceritakan kepada suamiku aku telah bermimpi. Dia mencela aku, dan aku tidak boleh membicarakan mimpi di pagi buta. Maka aku berkata, “Kamu harus mendengarkan sebab ini penting dan menyangkut kamu.”

“Baiklah, ceritakan!” dia menjawab. Setelah dia mendengarkannya, dia sangat bahagia. Sejak waktu itu, aku mempunyai firasat bahwa sesuatu yang diluar harapanku akan terjadi kepadanya.

Tanggal 1 Maret 1993, pada ulang tahun pernikahan ke-40 kami, suamiku sakit parah. Semua anak kami  ada disisi tempat tidurnya dan mendonorkan darah kepadanya. Dia tidak bisa minum tetapi dia sadar dan sangat waras bicaranya. Semua anak kami menghormati ayah mereka dan suka mendengarkan wejangannya.

Sepanjang malam tanggal 29 Maret, suamiku tiba-tiba berteriak,”Haleluya! Pujilah Tuhan!”

Anak-anak kami bertanya padanya, “Papa, mengapa kamu sangat bahagia?”

Dia menjawab, “Aku melihat langit terbuka untukku. Tuhan akan segera membawa aku pulang.”

Pasien lain juga mendengar teriaknya. Dan dia meminta mereka untuk percaya akan Tuhan Yesus segera. Besoknya, keluarga kami mengadakan pelayanan kebaktian di rumah sakit dan suamiku yang berkhotbah. Dia menguatkan kami dan berkata, “Setelah  aku pergi, Gereja harus mulai kebaktian lagi.”

Semua anak kami ada di sana ketika ayah mereka berkata demikian, putra kami yang masih kecil kemudian berkata, “Aku ingin menyerahkan diriku dipakai oleh Tuhan. Berdoalah untuk aku, Papa.” Maka suamiku meletakkan tangannya ke atas kepalanya untuk berdoa dan mempersembahkan dia kepada Tuhan.

Tanggal 1 April, Tuhan memanggil suamiku. Wajahnya tampak berseri, seolah-olah dia tertidur. Dengan damai, dia pergi bertemu Yesus. Tidak pernah lagi dia akan mempunyai duka cita dan air mata karena dia sudah bersama Tuhan untuk selamanya.

Tanggal 5 April, 300 orang datang ke rumah pemakaman untuk mengikuti kebaktian mengenang almarhum. Bahkan sebelum itu, banyak orang datang untuk berjaga, memohon kepada Tuhan untuk melindungi kami dari gangguan apapun Tuhan benar-benar beserta kami dan kuasa Roh Kudus bekerja pada hari itu. Pendeta dan saudara seiman yang berdoa penuh kuasa Roh Kudus. Tidak pernah sebelumnya kami melihat peristiwa pemenuhan Roh Kudus seperti itu dan kami diberi visi. Manajer-manajer rumah pemakaman berkata, “Selama aku disini, aku belum pernah melihat pemandangan yang khidmat dan saleh seperti itu. Lagu pujiannya sangat menyentuh dan aku belum pernah mendengar musik yang indah seperti itu. Siapakah yang meninggal? Mengapa begitu banyak orang yang datang untuk menghormatinya? Betapa sangat menyentuh! Pastilah luar biasa percaya kepada Tuhan seperti yang dia lakukan itu. Kami mau percaya kepada Tuhan juga.”  Polisi hadir di kebaktian peringatan itu. Mereka telah mengawasi suamiku selama bertahun-tahun. Terpujilah Tuhan yang melindungi dia terus-menerus dari orang-orang ini sampai kematiannya.

Ketika Tuhan mengambil suamiku, aku sangat berduka cita. Kami telah berjuang dalam pertempuran rohani bersama-sama selama bertahun-tahun, berbagi hati dan pikiran yang sama. Aku bingung tanpa pasanganku. Walaupun anak-anakku mengasihi Tuhan, mereka belum dewasa. Karena banyak saudara seiman di gereja yang perlu diperhatikan, aku merasa kekuatanku terbatas dan memohon Tuhan untuk teman sekerja dalam pelayanan. Aku bersyukur kepadaNya yang telah mendengar permohonanku. Sejak saat itu, saudara-saudara seiman mulai berdatangan untuk membantuku secara teratur. Putraku yang masih muda juga mempunyai kesempatan untuk dididik melayani Tuhan. Dia begitu mengasihi Tuhan sehingga dia keluar dari pekerjaannya pada suatu lembaga penelitian supaya dapat belajar untuk melayaniNya secara sungguh-sungguh.

Setelah kematian suamiku, putra sulungku juga mulai mengasihi Tuhan. Dia berkata, “Papa telah meninggal, tetapi aku datang kedalam hidup.” Dia dengan sungguh-sungguh berharap pada suatu hari, dia juga akan dididik untuk melayani Tuhan. Semoga Tuhan memberinya kesempatan itu! Selama beberapa tahun ini, Tuhan besertaku dan seorang pendeta menunjukkan perhatiannya kepadaku dengan banyak cara. Banyak saudara seiman telah membantu aku sepenuh hati. Gereja telah banyak bertumbuh. Dan putraku yang lebih muda telah kembali dari pendidikannya. Ketika dia melihat bahwa aku tidak sehat, dia menyuruhku banyak istirahat. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk cinta kasih putraku. Tuhan telah mengijinkan aku menghampiriNya dalam ketenangan selama tahun-tahun akhir hidupku. Betapa sungguh ajaib Dia!

Kesimpulan
Aku ingat masa yang sulit di dalam hidupku ketika menghadapi banyak pencobaan dan penderitaan, aku tidak melupakanMu Tuhanku Yesus Kristus yang meninggal untuk aku di atas kayu salib. Aku tidak melanggar firmanNya dan aku memperoleh kedamaian karenanya.. Maka aku masih bisa melompat kegirangan di tengah penderitaan yang terus-menerus.

Menderita menjadi hal yang baik untukku. Penderitaan telah membuatku belajar perintah-perintahNya. Tuhan telah mengijinkan aku untuk mengecap banyak duka cita yang pahit, yang telah berubah menjadi berkatku saat ini. Para putraku, menantu perempuan, dan semua anak perempuanku percaya kepada Tuhan dan sangat mengasihiku juga. Ketika baik orang Kristen dan yang bukan Kristen sangat mengagumi keharmonisan keluarga kami dan mengatakan betapa diberkatinya aku, aku bersyukur pada Tuhan yang menunjukkan belas kasihan kepadaku dan memberiku rahmat yang melebihi pengertian dan kebutuhanku.

Sekarang, aku adalah wanita tua beruban yang menderita berbagai macam penyakit. Tetapi aku masih punya semangat yang sama untuk mengasihi Tuhan seperti pada masa mudaku. Kiranya Dia memang aku sampai aku melihatNya bertatap muka! Ketika aku menyelesaikan kesaksian ini, aku sungguh berharap bahwa kesaksian ini akan bermanfaat bagi saudara-saudara seiman yang berniat untuk melayani Tuhan. Tapi tolong ingat bahwa aku hanya orang tua biasa. Jangan menganggapku orang hebat sebab itu tidak pada tempatnya.

Oleh karena belas kasihan Tuhan, Dia tidak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya seperti aku (Matius 12:20). Oleh karena itu berkat rahmatNya dan pimpinan Roh Kudus, aku berharap bahwa saudara-saudara seiman akan mendorong satu sama lain untuk berlomba bersama, berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:14).

Anggota tubuh Tuhan yang lemah,

Jing Rong

Oktober 1999