Slider

 

Henry Blackaby |

Di situ akan ada jalan raya

Yang akan disebutkan Jalan Kudus

Orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya

Dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya

– Yesaya 35:8

Pada tahun 1996, saya berada di Brownwood, Texas bersama Pendeta John Avant. Kami menghabiskan empat hari yang menakjubkan di hadirat Tuhan. Kekudusan sangat nyata di sana. Orang-orang yang hadir tidak tahan dengan kekudusan Tuhan, dan langsung mengakui banyak dosa.

Pagi berikutnya, ketika John tiba di kantornya, salah seorang pegerja awamnya berdiri di pintunya sambil menangis dan berkata, “Pendeta, saya harus bertobat.” Ada dimensi besar dalam hidupnya yang secara radikal terkuak. Minggu malamnya sekitar dua puluh denominasi gereja berbeda secara spontan membatalkan kebaktian mereka dan datang ke tempat di mana Tuhan bergerak. Jika Anda bertanya kepada mereka, mereka tidak akan bisa memberitahu Anda mengapa mereka datang. Hadirat Tuhan telah menarik mereka. Dan saat undangan diulurkan secara spontan, tangisan dan hati yang remuk terjadi di hadapan Tuhan. Walaupun orang-orang datang dari denominasi yang berbeda-beda, tampaknya mereka seolah satu umat yang dengan perasaan ngeri berdiri di hadirat Tuhan yang kudus – di hadirat Tuhan dengan semua dosa terpapar jelas.

Anda tidak berada di hadirat Tuhan jika dosa tidak dibukakan. Anda mungkin hanya mempraktekkan agama jika dosa tidak dibukakan. Anda akan tahu kapan Anda berada di hadirat Tuhan. Ketika Firman Tuhan dibagikan, itu berbeda dengan ketika orang-orang Farisi berbagi Firman. Ketika Roh Tuhan memakai Firman sebagai pedang, Roh Tuhan akan membelah jiwa, roh, tulang dan sampai ke sumsum.

Firman Tuhan “sanggup membedakan petimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4.12) secara mutlak, dan secara terbuka memaparkan hati kita kepada Tuhan yang kudus. Anda akan tahu kapan Roh Tuhan menggunakan Firman Tuhan.

Tuhan menyatakan hidup kita harus dipertanggung-jawabkan. Saya harus memastikan bahwa saya bertanggungjawab kepada Tuhan. Saya mungkin harus memeriksa hati saya sendiri dengan berkata, “Henry, jangan terus berkata bahwa Roh Tuhan sedang menggunakan Firman Tuhan jika dosa merajalela dalam kehidupan semua orang yang mendengar Firman Tuhan darimu. Jangan terus menipu dirimu sendiri. Hidupmu bukan jalan raya yang akan dilewati Tuhan. Hidupmu bukan jalan kudus kecuali kalau Firman Tuhan di tangan hamba Tuhan ini bekerja seperti pedang. Jika tidak ada kesadaran akan dosa ketika kita berkhotbah, berarti hidup kita tidak kudus! Alkitab berkata bahwa ketika Tuhan membangun jalan raya, itu adalah Jalan Kudus!

Merupakan beberapa hari yang menakjubkan saat kami menghabiskan waktu di hadapan Tuhan, dan kemudian membuka Firman Tuhan, dan kemudian menyaksikan bagaimana Tuhan mulai bergerak dalam cara-cara yang belum pernah saya lihat. Saya pernah memiliki beban mendalam bagi para mahasiswa. Kami berada di kampus Universitas Howard Payne selama tiga hari tiga malam.

Selasa malam, ketika kami selesai menyampaikan Firman Tuhan, John dan saya menyaksikan bukan apa yang dapat kami lakukan bagi Tuhan, tetapi apa yang dilakukan Tuhan di tengah umat-Nya. John sempat berkata, “Tuhan, jika ada seseorang di sini yang Kau sentuh secara mendalam dan mungkin ada sesuatu yang perlu dibagi, maukan Engkau membawanya kepada saya? Saya tidak akan mengusahakan atau memanipulasi hal itu.”

Dua pemuda datang atas inisiatif mereka sendiri. Selesai berkhotbah, kami bertanya apakah kedua pemuda itu mau berbagi cerita. Keduanya adalah pemimpin yang menonjol di kampus. Salah satu mulai bicara dengan hati remuk. Ia bercerita bahwa ia berada dalam belenggu pornografi dan nafsu. Anda hampir bisa mendengar seruan kaget tertahan, karena para pemuda ini menjadi panutan sebagai pemimpin. Mereka mulai mencurahkan isi hati mereka, menjelaskan bahwa hidup mereka tidak kudus, dan bagaimana hal itu membuat kehidupan doa mereka tertutup. Mereka berkata bahwa mereka masih memiliki penampilan seorang yang saleh – namun tanpa kuasa sama sekali. Mereka tidak memilik kuasa saat berdoa dan tidak ada kuasa saat membuka Firman Tuhan.

Mereka mulai mencurahkan isi hati mereka, meminta Tuhan mengasihani mereka, menyucikan mereka, dan menjadikan mereka suci dan kudus. Dengan air mata dan hati yang remuk, mereka mulai berbicara tentang kerinduan mendalam untuk kekudusan dalam hidup mereka.

Saya memandang mereka dan berkata, “Kalau begitu, jika Tuhan telah menginsafkan kalian untuk mengakui secara terbuka akan dosa kalian, maukah maukah kalian ke sebelah sana dan berdoa? Adakah orang-orang lain di antara kalian, para pemuda yang membiarkan pornografi dan nafsu dan dosa mencengkeram hidup dan hati kalian? Maukah kalian datang dan berdoa?” Seperti arus deras, dan kemudian badai. Para mahasiswa dari seluruh auditorium besar itu mulai berdatangan, dan mereka memenuhi area panggung – menangis, tersedu dan berseru kepada Tuhan.

Belakangan, satu demi satu, mereka mulai mengungkapkan dosa-dosa luar biasa yang telah mencengkeram hati mereka. Mereka mulai dengan, “Saya sudah menjadi Kristen sejak kecil. Saya tumbuh dewasa di gereja,” atau “Saya adalah anak pendeta,” atau “saya adalah anak misionaris,” dan kemudian mereka mencurahkan isi hati mereka. Banyak dari para pemuda berpaling kepada para pemudi dan berkata, “Walaupun saya tidak benar-benar melakukan hubungan seks dengan siapa pun, saya hanya ingin kamu tahu saya telah mencemarimu dengan pikiran dan tindakan saya.” Sejumlah dari mereka berkata, “Saya minta teman-teman wanita memaafkan saya. Saya hanya ingin kalian tahu saya sangat menyesal atas siapa saya dan apa yang saya lakukan selama ini.” Dan mereka tersungkur di panggung dalam keadaan hati yang remuk.

Kemudian seorang mahasiswi muda yang cantik datang ke depan dan berkata, “Kalian berkata itu hanya masalah pria. Yah, kami wanita juga memiliki nafsu di hati kami.” Kemudian yang membuat saya tercengang, saat ia berkata, “Saya meminta teman-teman pria memaafkan saya atas cara saya berpakaian. Saya tidak berpakaian sebagaimana seharusnya seorang Kristen. Saya meminta teman-teman pria memaafkan saya. Tolong maafkan saya. Hati dan pikiran dan hidup saya sangat penuh dosa.”

Saya berkata kepadanya, “Saya ingin kau ke piano sana dan berdoa. Apakah ada di antara kalian para wanita muda yang letih dengan dosa kalian, dan ingin datang dan meminta Tuhan untuk membersihkan pikiran, hati dan hidup kalian? Maukah kalian datang?” Para gadis berlarian ke panggung, dan mereka mulai tersedu bahkan sebelum tiba di depan. Mereka saling mendatangi dan mereka menangis.

Di sana juga ada orang-orang dewasa. Saya berkata kepada orang-orang dewasa, “apakah ada di antara Anda yang perlu datang dan berdoa?” Salah seorang pria yang datang adalah pendeta. Putranya mahasiswa di universitas itu.

Ia memandang dan berkata, “Nak, saya telah menjadi teladan bagimu, tetapi di hadapan Tuhan dan Anda sekalian, Anda perlu tahu bahwa saya juga memiliki nafsu dan pornografi di pikiran saya dan hati saya sebagai pendeta.” Ia berkata, “Nak, maafkan ayahmu. Saya tidak mampu menjadi pemimpin rohani sebagaimana yang dimaksudkan Tuhan.”

Saya berkata, “Pak, Anda perlu datang ke sini. Mungkin ada orang-orang dewasa lain yang akan maju.”

Saya berpikir dalam hati saat mendengarkan dan menangis bersama mereka: Jalan kudus adalah sesuatu yang diciptakan Tuhan, tetapi ketika Tuhan menciptakan Jalan Kudus, Ia mengungkapkan dosa seperti api pemurnian.

Tiga setengah jam kemudian, saya berkata, “Mungkin sebagian dari Anda perlu pulang.”

Pendeta itu belakangan memberitahu saya, ‘Henry, ada orang-orang yang berlutut di depan Tuhan sepanjang malam. Mereka tidak tidur.”

Hari Selasa kami ada acara makan siang, dan saat itu penuh dengan hadirin. Selesai acara seorang wanita tua bertubuh kecil dengan dua tongkat bertatih-tatih mendekati saya. Ketika ia memandang saya, air mata mengalir di wajahnya. Ia berkata, “Umur saya delapan puluh delapan tahun, dan saya merindukan kekudusan di hadapan Tuhan lebih dari hal apa pun di dunia. Menurut Anda, bisakah Tuhan menjadikan saya kudus dan menggunakan saya di umur delapan puluh delapan tahun ini?”

Saya berkata, “Nona muda, Tuhan akan memberi Anda hari-hari terbaik dalam hidup Anda. Tuhan sedang menciptakan jalan raya kekudusan bagi Anda.”

“Oh,” katanya, “saya merindukan kekudusan lebih dari apa pun di dunia!”

Apa yang saya lihat terjadi adalah Tuhan menciptakan jalan raya kekudusan. Dan saya akan berkata -orang-orang yang tidak mengenal kekudusan tidak akan melintasinya! Mereka tidak akan! Jalan ini untuk mereka yang menyadari kekudusan Tuhan yang menakjubkan! Saya percaya kita memiliki generasi yang tidak memiliki pengalaman atau titik rujukan tentang kebangkitan rohani. Kita juga memiliki generasi yang hampir tidak memiliki titik rujukan mengenai pengalaman sejati akan kekudusan Tuhan. Anda tidak dapat berbicara mengenai kekudusan Tuhan tanpa, adanya, api pemurnian menyentuh setiap sudut hidup Anda, membuatnya terbuka seluruhnya di hadapan-Nya. Ketika Anda membaca Firman, Firman Tuhan itu seperti api yang menyala-nyala. Anda tidak dapat berpaling ke mana pun tanpa segala sesuatu di hati dan hidup Anda dibukakan kepada Tuhan. Tuhan yang maha kudus tidak main-main.

Jalan raya yang di atasnya kebangkitan rohani datang, adalah jalan raya kekudusan. Karena Tuhan itu kudus, hidup kita juga harus kudus.

(Dikutip and diedit seperlunya dari buku Kekudusan oleh Henry Blackaby, penulis buku Mengalami Tuhan )