new-header-renungan
new-header-renungan
previous arrow
next arrow

 

Dwight A. Pryor |

Dalam terang kerangka pemikiran umat Yahudi ini kita bisa melihat dengan jelas makna penting dari janji Yesus yang tertuang dalam Injil Yohanes: “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Pertama, kita perlu pahami bahwa pernyataan ini ditujukan kepada orang percaya dan diawali dengan satu persyaratan: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.”

Dengan kata lain, Yesus tidak sedang menyampaikan suatu prinsip yang abstrak atau pun kesimpulan filosofis; Yesus sedang menawarkan undangan pribadi – yakni untuk melangkah mengikuti jejak-nya sebagai murid-murid dan untuk belajar mentaati firman Tuhan.

Kedua, untuk “mengetahui kebenaran” berarti secara pribadi dan penuh semangat  melibatkan diri dengan Yesus dalam suatu hubungan Guru dan murid. Kegiatan belajar cara Ibrani lebih dari sekadar penumpukan informasi atau data. Da’at Elohim (pengenalan akan Allah) adalah keakraban dan kekaguman yang terus bertumbuh terhadap Allah yang setia dan benar.

Keselamatan adalah anugerah, namun pemuridan adalah suatu perjalanan. Kita harus bertumbuh di dalam kasih karunia dan dalam pengenalan kita akan Yesus untuk bisa merdeka sepenuhnya. Karena kita ini “diselubungi oleh debu” Rav Yeshua (Rabi Yesus), kita diubah melalui pembaruan akal budi kita menurut petunjuk dan teladan-nya.

 “Kebenaran” dalam pandangan orang Yunani memang penting bagi kita, akan tetapi tidak memerdekakan kita. Kita bisa saja dipenuhi oleh informasi ilmiah namun masih terbelenggu dalam kehancuran jiwa dan hidup ini.

Suatu hubungan yang akrab, taat dan berdisiplin dengan Allah adalah ‘pengetahuan’ yang akan benar-benar memerdekakan kita.

Menghasilkan murid-murid

Manusia Yeshua, Yesus dari Nazareth, membawa misi dari Allah pada masa hidupnya: untuk menghasilkan banyak murid. Kita harus mengambil misi dan hidupnya dengan keseriusan yang sama seperti kita mengambil bagian dalam kematian, penguburan dan kebangkitannya. Memang benar bahwa ‘mengikut jejak’ atau ‘ikut’ Sang Guru dan belajar melangkah di jalan Allah itu bisa membawa pengorbanan yang besar, namun upahnya sungguh tak terhitung – kebenaran, damai sejahtera dan sukacita di dalam pemerintahan Allah yang memerdekakan.

Sebelum berpisah dari murid-murid-nya, Yesus menanamkan sebuah kewajiban di dalam diri murid-muridnya: misinya sekarang telah menjadi misi murid-muridnya juga. Mereka wajib meniru Dia. Dalam perjalanan hidup mereka selanjutnya, mereka juga wajib menghasilkan murid, mengajari bangsa-bangsa untuk memelihara perintah-perintahnya. Kewajiban yang berkelanjutan itu sekarang dipikul oleh para pengikut Yesus zaman sekarang. Kita tidak bisa menggenapi perintah ‘jadikanlah murid’ jika kita sendiri belum menjadi murid.

Sang Guru Utama dari Nazaret itu merupakan perwujudan terbaik dari pandangan umat Yahudi mengenai arti penting dan kekudusan dari kegiatan belajar itu. Kehidupan belajar dan mentaati dalam kekudusan akan memberi kemuliaan dan kehormatan bagi Tuhan dan Allah kita, dan akan benar-benar memerdekakan kita agar bisa menjadi semakin serupa dengan Dia yang setia dan benar.

(Dwight A. Pryor adalah Pendiri dan Presiden dari Center for Judaic-Christian Studies di Dayton, Ohio. Dia juga merupakan anggota dewan pendiri Jerusalem School of Synoptic Research di Israel.)