SC Chuah | Natal 2025 |
15 Biarlah damai sejahtera Kristus mengendalikan hatimu karena memang untuk itulah kamu dipanggil menjadi satu tubuh, dan bersyukurlah.
16 Biarlah perkataan Kristus tinggal di dalam kamu dengan melimpah, dengan segala hikmat kamu mengajar dan menasihati seorang terhadap yang lain, menyanyikan mazmur, lagu-lagu pujian, dan nyanyian-nyanyian rohani, semuanya dengan penuh ucapan syukur di dalam hatimu kepada Allah.
17 Apa pun yang kamu lakukan, dalam perkataan ataupun perbuatan, lakukan semua itu dalam nama Tuan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa, melalui dia.
Paulus mengulangi nasihatnya sampai tiga kali
Tiga kali dalam tiga ayat, Paulus mengingatkan kita untuk bersyukur. Paulus sangat sadar akan kecenderungan alamiah manusia untuk bersungut-sungut, mengeluh dan merengek. Kita tidak ragu-ragu mengungkapkan ketidakpuasan hati kita.
Kita juga melihat adanya perkembangan dalam nasihat Paulus ini, yang menjadi semakin spesifik. Pertama, bersyukurlah, sebuah pernyataan umum. Kita bersyukur karena panggilan kita menjadi bagian dari tubuh Kristus.
Kedua, penuh syukur “di dalam hatimu”. “Di dalam hati” berarti kita benar-benar memaksudkannya. Banyak ucapan syukur yang diucapkan asal saja, tidak sungguh-sungguh dimaksudkan. Sebagai umat Allah, kita harus belajar menjauhi basa basi sehingga kita tidak kedapatan mengucapkan kata-kata yang tidak kita maksudkan. Hal ini terutama penting ketika kita menyanyikan lagu pujian kepada Allah di gereja. A. W. Tozer pernah berkata, “Orang Kristen tidak berbohong, mereka hanya menyanyikannya di gereja.”
Yang ketiga, mengucap syukur “kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus”. Sebagai umat Allah, kita mengalamatkan rasa syukur kita kepada Allah Bapa. Dengan kata lain, kita tahu kepada siapa kita harus bersyukur. Dunia sekuler juga banyak berbicara tentang pentingnya rasa syukur, terutama di dunia psikologi. Mereka cukup sadar bahwa rasa syukur memiliki manfaat psikologis yang amat baik. Sebaliknya, “rasa tidak berterimakasih” merupakan sumber banyak masalah mental. Akan tetapi, kepada siapa mereka harus bersyukur? Jadi, mereka berbicara tentang rasa syukur yang abstrak. Sangat mungkin bagi seorang ateis untuk memiliki rasa syukur, tetapi tidak tahu harus bersyukur kepada siapa. Mereka dapat mengucap syukur kepada bintang keberuntungannya, atau kekuatan ilahi yang abstrak. Bagi orang percaya, kita tahu jelas siapa yang telah memberkati kita.
Rasa Syukur adalah sikap yang harus dipelajari
Sebagai umat percaya yang telah diberkati, kita harus “belajar” untuk senantiasa hidup dalam rasa syukur. “Belajar” berarti itu bukanlah sifat bawaan kita. Rasa syukur adalah sebuah sikap yang harus dipupuk dan dipelajari dengan sengaja, dengan penuh niat. Hal itu tidak datang secara alamiah. Hal ini terutama penting dalam situasi dunia yang tidak memberikan banyak alasan untuk kita bersyukur.
Kisah Keluaran adalah kisah yang menakjubkan. Allah telah melakukan mukjizat demi mukjizat yang mengherankan untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Akan tetapi, yang tidak kurang menakjubkan adalah betapa cepatnya sikap bersungut-sungut, menggerutu, tidak bersyukur dan tidak puas mulai terlihat.
Ketika saya pertama kali mempelajari hal ini pada awal kehidupan Kristen saya, saya cukup heran dengan sikap Israel ini. Akan tetapi, setelah sekian lama hidup di dalam gereja, saya semakin mengerti. Orang gereja menggerutu persis seperti orang tidak percaya walaupun Allah di dalam Kristus telah melakukan hal yang lebih besar daripada kisah Keluaran bangsa Israel. Sebagian besar dari kisah Israel dalam Perjanjian Lama adalah tentang hal ini. Dan semua ini ditulis sebagai peringatan bagi kita:
Jangan juga kamu bersungut-sungut sebagaimana mereka juga bersungut-sungut dan dibinasakan oleh malaikat maut. (1Kor 10:10)
Janganlah kita menyepelekan masalah bersungut-sungut, alias tidak tahu berterima kasih. Sikap bersungut-sungut akan membawa kita pada jalan maut. Jika hati saudara tidak dipenuhi rasa syukur, sebaiknya saudara STOP segala sesuatu dan melakukan evaluasi yang serius terhadap kehidupan saudara, terutama hubungan saudara dengan Allah.
Apa itu rasa syukur?
Rasa syukur adalah kesadaran akan kebaikan Allah dalam hidup kita. Rasa syukur timbul secara alamiah ketika kita merasa bahwa kita telah menerima lebih dari apa yang pantas kita dapatkan. Kita dikuasai rasa bahwa kita tidak pantas menerima apa yang telah diberikan kepada kita. Ketika seseorang mengalami keselamatan, itulah perasaan yang meluap dalam hati. Di hadapan Allah, kita hanya pantas menerima hukuman dan kebinasaan, titik. Akan tetapi, Allah malah mengangkat dan memuliakan kita. Sayangnya, di gereja ada banyak orang yang cerdas, pintar, baik dan ramah, tetapi sangat sedikit orang yang bersyukur.
Mengingat apa yang telah Allah lakukan bagi kita dalam Kristus, kita orang percaya seharusnya merupakan orang yang paling bersyukur di dunia ini. Di kantor, di tempat kerja, di sekolah, di keramaian mana pun, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa kita seharusnya merupakan orang paling bahagia di sana.
Syukur kepada Allah atas pemberian-Nya yang tak terkatakan!
Ada berapa banyak orang di sekeliling kita yang dapat berbicara seperti ini? Siapa yang telah menerima sebuah pemberian dari Allah? Setiap orang percaya sejati benar-benar memiliki alasan nyata untuk merasa bersyukur setiap saat dari hidup kita. Dengan demikian, rasa syukur merupakan tanda pengenal seorang Kristen.
Pada Hari itu, saya berharap seluruh sisa hidup saya dapat dipandang hanya sebagai sebuah kartu ucapan terima kasih yang kecil kepada Bapa. Setiap hari tambahan yang diberikan merupakan kesempatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih itu. Setiap hari dijalankan dalam rasa syukur untuk melayani dan menyenangkan hati-Nya. Pada waktu yang bersamaan, kita juga hidup dengan penuh kesadaran bahwa tidak ada apa pun yang dapat kita lakukan untuk membalas kebaikan-Nya.
Bagaimana aku harus membalas kepada Yahweh atas semua kebaikan-Nya padaku? (Mzm 116:12)
Ini merupakan sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Tidak ada orang yang menyukai orang yang tidak tahu berterima kasih
Dari pengalaman hidup, kita tahu tidak ada orang yang menyukai orang yang tidak tahu berterima kasih. Sulit untuk bersikap murah hati kepada orang yang tidak tahu berterima kasih. Ada pepatah Arab yang berbunyi, “Seekor anjing yang berterima kasih lebih baik daripada manusia yang tidak tahu berterima kasih.” Memang benar, beri anjing makan tiga hari, sampai mati dia akan mengingat kita. Akan tetapi, jika kita memberi makan manusia seribu kali pun, belum tentu dia mengingat kita. Itulah kenyataan hidup. Oleh karena itu, kita bisa jadi apa saja di dunia ini, asal jangan jadi orang yang tidak tahu berterima kasih. Orang yang tidak tahu berterima kasih menutup pintu kemurahan. Sebaliknya, orang yang tahu berterima kasih membuka pintu kemurahan.
Bukankah ini merupakan salah satu pelajaran pertama yang diajarkan orangtua kepada anak-anaknya? “Say thank you!” Ini sebenarnya pelajaran sekolah minggu! Akan tetapi, pelajaran ini harus kita pelajari dengan susah payah sepanjang hidup kita.
Orang yang suka mengeluh akan menemukan akan ada semakin banyak hal untuk dikeluhkan. Dia divonis mengeluh sampai mati. Sebaliknya, orang yang bersyukur akan menemukan akan ada semakin banyak hal untuk disyukurinya. Ini adalah hukum alam yang dapat diamati dengan kasat mata, sesuai dengan Firman Allah:
Biarkan orang yang berbuat jahat tetap berbuat jahat, orang yang tidak suci tetap tidak suci, orang yang berbuat benar tetap melakukan kebenaran, dan orang yang kudus tetap menguduskan dirinya. (Wahyu 22:11)
Satu-satunya hal yang dapat menghentikan kutuk ini adalah pertobatan. Yesus di Lukas 6:35 menggolongkan “orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat” dalam satu kategori yang sama.
Rasa syukur adalah tanda pertumbuhan rohani
Pertumbuhan rohani adalah pertumbuhan dalam rasa syukur. Pertumbuhan rohani tidak berkaitan dengan lamanya seseorang menjadi Kristen, atau banyaknya pengetahuan tentang Alkitab. Pertumbuhan rohani berkaitan hanya dengan satu hal, yaitu kedekatan dengan Allah. Apakah mungkin kedekatan dengan Allah tidak menimbulkan rasa syukur?
Namun, sayangnya, seringkali semakin lama seseorang menjadi Kristen, semakin berkurang rasa syukurnya, semakin tidak puas, dan semakin kritis. Itulah tanda seseorang telah menyimpang menjadi lebih agamawi, tetapi tidak lebih rohani.
Rasa syukur membuat kita tetap rendah hati
Rasa syukur adalah pengakuan bahwa apa pun diriku dan apa pun yang kumiliki, berasal dari Dia. Rasa syukur melindungi kita dari dosa yang terburuk dalam kehidupan rohani ini: kesombongan dan keangkuhan. Orang cerdas yang mengakui bahwa kecerdasannya berasal dari Allah tidak akan menghina orang yang kurang cerdas. Akan tetapi, orang seperti ini teramat langka. Dari kehidupan Yesus dalam Injil, kita belajar bahwa kesombongan dan keangkuhan merupakan dosa yang paling berbahaya, dosa yang lebih buruk daripada perzinaan bahkan pembunuhan. Yesus mengarahkan kecamannya yang paling keras hanya pada satu golongan, yaitu yang sombong.
Kitab Suci berkata, “Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati.” Orang yang sombong akan menemukan Allah sebagai musuhnya. Sebaliknya, orang berdosa yang merendahkan diri akan menemukan Allah sebagai sahabat. Allah malah akan meninggikannya. Rasa syukur yang berterusanlah yang akan melindungi kita dari dosa yang paling dibenci Allah ini.
Ketika kita mengucapkan terima kasih pada seseorang, bukankah kita sering membungkukkan badan kita sedikit ketika kita mengucapkannya?
Pada Natal tahun 2025 ini, menjelang akhir tahun ini, marilah kita mengakhirnya dengan:
Syukur kepada Allah atas pemberian-Nya yang tak terkatakan!