new-header-renungan
new-header-renungan
previous arrow
next arrow

 

Tuhan bercakap-cakap dengan Adam di taman Firdaus. Dia berkata kepada Nuh untuk membangun bahtera. Dia berbicara kepada Musa di semak yang terbakar. Dia menjanjikan Abraham seorang anak laki-laki. Paulus mendengar suara dari surga di perjalanan menuju Damaskus. Namun apakah Tuhan tetap berbicara kepada kita hari ini? Jika ya, bagaimana? Kapan? Di mana?

Seringkali ketika orang-orang menanyakan pertanyaan ini, yang mereka maksudkan adalah suara yang terdengar (audible). Tuhan dapat melakukannya. Dia dapat melakukan apa saja yang diinginkan-Nya. Dia adalah Allah. Seseorang mungkin bertanya, lalu mengapa saya tidak dapat mendengar Tuhan berbicara kepada saya secara audible?

Saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijelaskan secara rinci di dalam Alkitab. Cara Tuhan bekerja adalah salah satu dari pertanyaan tersebut. Saya pikir “mendengar Tuhan berbicara” memiliki arti yang berbeda-beda pada tiap orang. Beberapa mungkin berpendapat, “Saya memerlukan jawaban atas hidup saya, atau krisis yang sedang dihadapi.” Lainnya mungkin berkata, “Saya telah bertanya kepada Tuhan tentang _________, tetapi Dia tidak pernah menjawab saya.”

Tuhan memperlakukan setiap kita sebagai anak-anak-Nya yang unik. Tidak satu pun dari kita adalah sama persis. Karena itu, Tuhan tidak “berbicara” dengan cara yang sama pada kita semua. Namun, berikut ini delapan cara yang sering digunakan-Nya untuk berkomunikasi dengan kita.

1. Melalui firman-Nya secara umum

2 Timotius 3:16 berkata bahwa Kitab Suci diilhamkan oleh Allah. Firman-Nya seringkali memberikan peringatan bagi kita, menguatkan, atau memberi pengajaran hidup. Itu adalah “kisah-Nya” – yang ditulis dengan kasih sebagai petunjuk dari Allah untuk kehidupan, “sehingga umat Allah dapat diperlengkapi sepenuhnya untuk setiap pekerjaan baik.”

Itu berarti Tuhan berbisik, kadang-kadang berteriak, semuanya melalui firman-Nya, memberi instruksi-instruksi dan prinsip-prinsip kepada kita tentang bagaimana kita harus hidup. Ketika kita menafsirkan Kitab Suci dengan Kitab Suci lainnya, kita menghindari logika yang tidak benar dan interpretasi salah yang menyelinap masuk. Jika seseorang berkata, “Tuhan berkata kepada saya untuk membunuh tetangga saya!” Apakah Anda mempercayai orang tersebut? Tentu saja tidak! Tuhan tidak pernah melanggar firman-Nya sendiri atau prinsip-prinsip-Nya. “Suara” tersebut tidak berasal dari Tuhan.

Saya memerlukan bantuan untuk membesarkan anak-anak saya. Tuhan “berkata” kepada saya mengenai hal tersebut di dalam firman-Nya, terutama di Amsal. Kesulitan dalam pernikahan? Tuhan juga berbicara mengenai hal tersebut. Ketika saya takut? Saya “mendengar” perkataan Yesus kepada murid-muridnya ketika mereka takut di malam badai: “Diam! Tenanglah!” dan itu seperti Tuhan berbicara kepada saya juga (Lukas 8:23-25).

2. Melalui anak-Nya, Yesus Kristus

Perjanjian Baru merupakan penggenapan atas rencana indah Allah, yaitu Injil: kabar baik tentang Yesus Kristus. “Allah, setelah berbicara dalam banyak kesempatan dan dengan berbagai cara pada zaman dahulu kepada para leluhur melalui para nabi, pada masa terakhir ini Dia berbicara kepada kita di dalam Putra, yang telah Dia tetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu; melaluinya pula, Dia telah menjadikan zaman-zaman.” Ibrani 1:1-2.

Melalui perkataan Yesus di Kitab Suci, kita dapat “mendengar” hati Allah dan suara Allah – dan tahu seperti apa sesungguhnya Allah. Kata-kata ini tidak ditulis untuk beberapa orang yang khusus, tetapi untuk seluruh dunia…(Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…”). Seseorang di Afrika, Jerman, China, dan Alabama dapat “mendengar” suara Yesus dengan membaca Alkitab yang sama.

Dengan mengumpamakan kita sebagai domba dan dia sebagai Gembala, Yesus berkata di Yoh 10:27, NKJV: “Domba-domba-ku mendengarkan suara-ku dan aku mengenal mereka dan mereka mengikut aku.” Mengapa? Karena domba mengetahui siapa dia. Mereka miliknya, dan mereka mengenal dia melalui suaranya. Yesus adalah gembala yang akan selalu menuntun mereka dengan penuh kasih pada jalan yang benar.

3. Melalui Alam dan Ciptaan Allah

“Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:20). Melalui semua yang telah Allah ciptakan dengan detil yang rumit dan keindahan yang luar biasa, kita dapat “mendengar” suara-Nya. Bagaimana? Dengan mengamati kekuatan semut yang mengumpulkan makanan sepanjang musim panas, kita belajar mengenai kebijaksanaan dan kerajinan. Dengan mempelajari langit, kita mengerti lebih dalam mengenai kehebatan Allah. Melalui penanaman dan pertumbuhan taman, kita “mendengar” mengenai keajaiban dari kematian dan kelahiran kembali.

4. Melalui Orang Percaya Lainnya

Tuhan dapat menggunakan teman, guru, orang tua, atau pendeta untuk menyampaikan pesan kebenaran-Nya kepada kita. Kata-kata yang disampaikan mungkin berupa peringatan, berkat, atau kata-kata profetis mengenai kehidupan kita. Kita dapat memilih mendengarkannya atau mengabaikannya, itu tergantung pada kita. Apakah kata-kata mereka sesuai dengan Kitab Suci? Akankah Tuhan mengkonfirmasi atau menegaskan kebenaran itu di dalam kita? “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” (Yak 3:17)

Saya “mendengar” Tuhan berbicara kepada saya berkali-kali melalui orang lain. Seorang teman baik pernah sekali mengingatkan saya tentang sikap tidak acuh saya pada hal yang membahayakan jiwa saya. Kata-kata dari seorang pembicara atau pengarang Kristen telah menantang dan berkali-kali menginsafkan saya. Dan saya “mendengar” Tuhan berbicara kepada saya melalui anak-anak saya melalui kata-kata mereka yang murni dan jujur yang berbicara langsung pada hati dan roh saya, mengingatkan saya tentang prioritas Allah yang sesungguhnya.

Semuanya ini mungkin tidak terdengar seperti cara “mendengar suara Allah”, tetapi bisa saja kita memaksakan Allah menjadi seperti yang kita bayangkan jika kita bersikeras bahwa Allah harus bertindak atau bereaksi dengan cara tertentu. Allah lebih besar daripada itu. Allah pernah berbicara melalui seekor keledai (Bilangan 20:28). Lalu mengapa Dia tidak dapat berbicara melalui siapa pun pada saat kapan pun atau dengan cara apa pun yang Dia inginkan?

Pada dasarnya, jika kita adalah anak-anak Allah, Allah mengasihi kita tanpa syarat dan tidak tanggung-tanggung menunjukkannya kepada kita. Bagian kita? Percayalah pada Dia!

Mendengarkan suara-Nya secara langsung (audible) sudah barang tentu akan memastikan keberadaan-Nya secara mengagumkan. Namun saya tidak pernah mendengar Allah melalui malaikat pembawa pesan. Saya tidak memiliki rekaman untuk menunjukkan kepada Anda seperti apa suara Allah. Tetapi saya pernah mendengar Allah “berbicara” dengan cara-cara di atas – dan beberapa lagi. Tetaplah membaca.

5. Melalui Musik

Mungkin salah satu cara terbaik saya dapat merasakan kehadiran Allah dan “mendengar” suara-Nya adalah ketika saya menyembah-Nya melalui musik. Mungkin ketika saya depresi dan mengalami masalah sulit di masa lalu, saya menumpahkannya dengan lagu-lagu Daud di Mazmur, seringkali menyanyikannya berulang-ulang kepada Allah dengan nada saya sendiri. Penyembahan dengan langsung dapat menarik perhatian saya pada Tuhan, seperti perintah sersan kepada prajurit-prajuritnya. Kata-kata dan nadanya membawa ketenangan, kegembiraan, dan gairah yang membuka telinga dan hati saya, dan segera mengangkat semangat saya.

Di 2 Tawarikh 20, Raja Yosafat menghadapi tentara musuh yang sangat besar yang dengan mudah dapat menghancurkan umatnya, tetapi dia melakukan hal yang aneh. Dengan deklarasi bahwa matanya tertuju pada Allah, Raja Yosafat mengangkat para penyanyi pujian: “Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (2 Tawarikh 20:21).

Tuhan “berbicara” dengan jelas. Dia melepaskan kuasa-Nya, dan tentara Yosafat mengalahkan musuhnya.

6. Melalui Keadaan

Ketika orang lain berkata mendengar suara Tuhan melalui keadaan, saya mencoba mengingatkan mereka untuk menguji kesimpulannya dengan bukti. Allah adalah Allah yang kudus, dan seringkali menggunakan keadaan untuk memperoleh perhatian kita. Namun Dia biasanya akan mengonfirmasinya dengan cara yang lain.

Ini yang terjadi pada kami sebelum saya dan suami saya menikah. Kami pacaran waktu SMA dan kami terlibat dalam apa yang bisa menjadi kecelakaan maut ketika sebuah mobil pick-up melaju kencang dan menabrak mobil kami. Melalui kecelakaan itu, suami saya merasakan Tuhan memiliki rencana khusus untuk hidupnya. Apakah dia “mendengar” Tuhan secara langsung? Tidak, tetapi melalui banyak doa, mencari firman Allah, dan berbicara pada yang lain, dia merasakan konfirmasi dari Allah. Beberapa bulan kemudian, dia berkomitmen memberikan hidupnya menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu.

Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa mereka tahu Tuhan berkata kepadanya tidak apa-apa untuk membeli sebuah mobil pick-up yang baru. Mereka telah mendoakannya dan keadaan mengonfirmasinya: dealer mobil setempat mempunyai warna dan model mobil yang mereka inginkan. Tetapi ada sebuah masalah kecil yang mereka abaikan. Penghasilan mereka tidak mencukupi untuk membeli mobil itu. Mereka mengabaikan bendera merah lainnya.

Melalui Musa, Allah menggunakan keadaan (tulah) untuk meyakinkan Firaun agar membebaskan umat Allah dari perbudakan. Tetapi Firaun tidak mendengarkan.

Beberapa kali Allah menggunakan keadaan untuk menguji iman kita. Kita tidak selalu tahu bagaimana menerjemahkan hal-hal yang terjadi pada kita. Baru-baru ini, untuk pertama kalinya saya berada di dalam mobil ambulans menuju ruang darurat sebagai pasien. Denyut nadi dan tekanan darah saya turun secara drastis. Selama beberapa menit saya merasa pusing dan semuanya menjadi gelap. Sangat menakutkan. Empat jam kemudian setelah melewati tes, tidak ditemukan penyebabnya. Dokter menyatakan saya sehat dan mempersilakan saya pulang.

Saya tidak tahu apakah Allah sedang berbicara kepada saya tentang sesuatu yang khusus, tetapi hal pertama yang saya lakukan adalah mengatakan kepada-Nya bahwa saya mendengarkan! Pesan yang saya terima adalah kehidupan – dan orang-orang yang saya kasihi – tiba-tiba menjadi sangat berharga bagi saya. Hal pertama yang biasanya saya tanyakan kepada Allah ketika keadaan berubah adalah “Tuhan, apakah ada sesuatu yang hendak Engkau ajarkan kepada saya melalui hal ini?”

7. Melalui Roh-Nya

Saya pernah mendengar seseorang mengajar tentang “bisikan Tuhan” melalui Roh, sementara yang lain berkata, “suara Tuhan yang tenang dan kecil.” Kita diciptakan serupa dengan Allah, dan ketika kita mengakui Yesus dan mengikutinya sebagai Tuan dan Juruselamat, Roh Kudus tinggal di dalam kita (Yohanes 14:17, 1 Korintus 3:16). Roh Allah berbicara kepada kita melalui hati nurani kita menolong kita membuat keputusan yang benar. Ketika kita dicobai, Roh yang sama mengingatkan dan mendorong kita untuk berbuat benar.

Sebagai penulis, saya bergantung pada Roh Allah untuk diarahkan. Berkali-kali muncul ide-ide di kepala saya secara tidak terduga – dan beberapa kali langsung muncul setelah memohon pertolongan dari Allah. Saya memuliakan Tuhan untuk ide-ide yang bagus, karena bagaimana pun juga, Dialah sumber dari segala yang baik dan pemberian yang sempurna.

Mengapa menurut Anda sepuluh orang dapat “mendengar” sebuah khotbah, tetapi setiap orang akan pergi dengan kebenaran yang berbeda menurut masing-masing? Pada beberapa kasus, pembicara tidak pernah berkata-kata seperti yang mereka kira mereka “dengar”. Seringkali, mungkin itu adalah yang dimaksud dengan Roh Allah berbicara secara pribadi (rhema), kata-kata kebenaran yang hidup kepada roh kita. Itu adalah ketika Kitab Suci menjadi hidup di dalam kita – karena itu benar-benar diilhamkan oleh Allah.

8. Melalui Doa

Tiap cara yang telah saya bagikan, bahwa Allah dapat berbicara kepada kita hari ini saling berkaitan. Allah seringkali berbicara kepada kita melalui Roh-Nya, melalui doa. Kita mungkin tidak tahu bagaimana cara berdoa, tetapi firman Allah berkata bahwa Roh-Nya yang berdoa syafaat untuk kita (Roma 8:26-27).

Seringkali melalui doa dan puasa, pikiran kita menjadi lebih jernih dan hati kita lebih peka kepada Tuhan. Sekali lagi, kita mungkin tidak mendengar suara Tuhan secara langsung, tetapi Roh-Nya meneguhkan suatu arahan atau menjawab kita. Seiring dengan kebingungan memudar, kita dapat merasakan tuntunan-Nya di jalan yang baru. Kadang-kadang saat berdoa, Roh Allah mengingatkan ayat tertentu atau kebenaran firman-Nya yang dapat kita terapkan secara langsung.

Apakah itu terjadi secara cepat? Tidak selalu. Beberapa kali saya tetap tidak tahu harus berbuat apa, tetapi dengan iman saya bersyukur kepada Tuhan kapan pun dan bagaimana pun Ia akan menjawab. Satu hari, satu minggu, mungkin lebih dari satu bulan. Lalu suatu hari ketika mandi atau berjalan, sebuah pikiran muncul – “bisikan” halus yang hanya berasal dari Allah, disertai dengan damai-Nya.

9. Anda adalah Unik

Apakah Allah berbicara kepada kita dengan cara yang sama? Tidak, kita semua unik. Apakah ini satu-satunya cara Allah berbicara? Tidak. Dia adalah Allah yang kreatif. Dia berbicara dengan berbagai cara, termasuk melalui mukjizat. Di negara lain di mana kekristenan adalah tabu, Allah menyatakan diri-Nya berulang kali melalui mimpi. Berita demi berita mengkonfirmasi bahwa seseorang yang bukan orang percaya yang belum pernah mendengar tentang Yesus bermimpi tentang dia – tetapi tidak tahu siapa Orang itu – atau apa arti mimpi itu. Lalu seorang kurir datang, menunjukkan sebuah film tentang kematian dan kebangkitan Yesus, dan orang yang bermimpi tersebut mengenali orang yang berada di dalam mimpinya: Dia adalah Yesus, Anak Allah!

Ingatlah Satu Kebenaran

Bagaimana pun cara Tuhan menyatakan diri-Nya atau “berbicara” kepada kita, ingatlah pada satu kebenaran. Dia tidak pernah bertentangan dengan firman-Nya, dan pesan yang disampaikan selalu membawa kemuliaan bagi Allah. Alkitab mengingatkan kita mengenai menambahkan sesuatu pada firman Allah, firman Allah yang diilhamkan Allah, atau menerima kurir lain yang mengaku adalah Mesias (Wahyu 22:18-19; 2 Korintus 11:4).

Rebecca Barlow Jordan