SC Chuah | Natal 2023 |

27 Ketika Yesus mengatakan ini, seorang perempuan yang berada di tengah-tengah orang banyak berseru, “Diberkatilah rahim yang telah melahirkan Engkau dan buah dada yang menyusui Engkau.”
28 Akan tetapi, Yesus berkata, “Sebaliknya, berbahagialah orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya.” (Lukas 11:27-28)

Seorang sastrawan bernama Mark Twain berkata:

“Dua hari terpenting dalam hidupmu adalah hari saat kamu dilahirkan dan hari saat kamu mengetahui alasannya.”

Jika kita membuka mata dan mengamati orang-orang di sekeliling kita, kita menemukan bahwa kebanyakan orang tidak tahu mengapa mereka dilahirkan. Paulus menggambarkan orang-orang yang belum mengenal Allah itu seperti orang yang “meraba-raba” dalam kegelapan (Kis 17:27). Umat Allah yang jatuh ke dalam dosa juga digambarkan dengan istilah yang sama (Ul 28:29, Yes 59:10). Sayangnya, banyak orang Kristen juga tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.   

Memakai bahasa yang alkitabiah, saya akan menggambarkan kedua hari terpenting tersebut sebagai hari saudara “dilahirkan” dan hari saudara “dilahirkan kembali”. Mengapa demikian? Kelahiran kembali adalah pemulihan hubungan dengan Allah, dan itu tentunya diikuti dengan rasa tujuan yang sangat kuat (a strong sense of purpose). Ketidakbertujuan dan ketidakberartian merupakan ciri khas dari kehidupan di luar Kristus. Sebaliknya, kelahiran kembali memberi tujuan dan arti kepada rutinitas keseharian kita. Mengapa saudara dan saya bangun pagi hari ini? Mengapa saudara ke sekolah, makan, minum, tidur, berkeluarga, beranak cucu, banting tulang mencari nafkah? Apakah tujuannya semua ini? Jika saudara memiliki tujuan hidup yang jelas, kehidupan menjadi terarah dan terfokus. Saudara tidak akan membuang-buang waktu dengan handphone tanpa tujuan.


PERINTAH ALLAH ADALAH TUJUAN HIDUP

Bagi Adam, tujuannya dinyatakan langsung setelah ia diciptakan (“lahir”).

“Beranakcuculah dan berlipatgandalah, dan penuhilah bumi, dan kuasailah itu. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, atas burung-burung di udara, dan atas segala yang hidup yang bergerak di bumi.”

Adam diberi tahu dengan sangat jelas tujuan hidupnya. Ia dipanggil untuk menjadi mitra Allah untuk membentuk dunia ini. Dunia ini tidak diciptakan dalam keadaan lengkap. Adam diberikan tugas untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai Allah.  

Hanya setelah Adam ditugaskan dengan sebuah pekerjaan, ia diberi tahu apa yang harus dimakannya. Dengan kata lain, memenuhi kebutuhan bukanlah tujuan hidup. Allah menyediakan apa yang kita butuhkan supaya kita dapat memenuhi tugas yang diberikan-Nya kepada kita. Sayangnya, di dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, memenuhi kebutuhan telah menjadi satu-satunya tujuan hidup bagi kebanyakan orang. Siapa saja yang berada dalam keadaan ini, berada dalam keadaan “tersesat” dan “tidak mengenal Allah” (Mat 6:32).

Perintah Allahlah yang menjadi tujuan hidup kita. Jika perintah-Nya merupakan tujuan hidup kita, bagaimana mungkin banyak orang Kristen masih bertanya-tanya tentang tujuan hidup mereka? Allah telah menyatakannya dengan sejelas-jelasnya kepada kita apa yang diharapkan-Nya dari kita. Kehendak Allah merupakan satu-satunya tujuan hidup orang percaya.


KEWAJIBAN SETIAP ORANG

Itulah kesimpulan di akhir kitab Pengkhotbah. Pengkhotbah adalah seorang raja yang memberikan hidupnya untuk mencari tahu tujuan dan makna hidup. Setelah banyak berpetualangan dan berfilsafah, inilah kesimpulan terakhirnya:

12 Lagi pula, anakku, berhati-hatilah. Menyusun banyak buku tidak akan ada akhirnya, dan belajar terlalu banyak akan melelahkan badan. 13 Akhir kata dari semua yang kita dengar ialah takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-Nya karena itulah kewajiban setiap orang. (Pengkhotbah 12:12-13)

Perhatikan kalimat “Akhir kata dari semua yang kita dengar”. Kitab Pengkhotbah mengandung semua filosofi dunia ini. Semua bentuk pemikiran yang ada tentang kehidupan ini, disebut di kitab Pengkhotbah. Setelah membahas semuanya, Pengkhotbah menyimpulkan: “takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-Nya karena itulah kewajiban setiap orang”. Perintah Allah adalah tujuan hidup  kita. Semua gaya hidup yang lain akan berakhir dalam kesia-siaan. Itulah pesan utama dari kitab Pengkhotbah.


PERINTAH ALLAH MENURUT YESUS

Beberapa kali orang Yahudi bertanya kepada Yesus: “Perintah manakah yang terpenting?” Mereka sebenarnya sedang menanyakan apakah tujuan hidup yang paling utama. Hari ini kita akan lihat apa tujuan hidup menurut Yesus. Yesus menyatakannya dengan jelas.

36 “Guru, perintah manakah yang terpenting dalam Hukum Taurat?”
37 Dan, Yesus berkata kepadanya, “Kamu harus mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu.
38 Ini adalah perintah yang terbesar dan yang pertama.
39 Yang kedua adalah seperti ini, ‘Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.’
40 Dalam kedua perintah ini, tergantung semua Hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:36-40)

Perhatikan kalimat terakhir pada ayat 40, “Dalam kedua perintah ini, tergantung semua Hukum Taurat dan kitab para nabi.” Inilah tujuan hidup kita. Jika kita tergolong sebagai umat percaya, kedua perintah kasih ini adalah tujuan hidup kita dan tidak ada yang lain. Inilah tujuan dari jemaat ini. Jika saudara memiliki tujuan yang lain, saudara tidak akan dapat bertahan dalam perjalanan rohani ini. Kalau jemaat ini menyimpang dari tujuan ini, atau ada tujuan lain yang ditambahkan, biarlah Tuhan sendiri yang bubarkan jemaat ini. Segala bentuk penyimpangan dari tujuan ini akan membawa kita kepada kemunafikan. Kemunafikan terjadi ketika kegiatan religius dilakukan tanpa kasih.

Kedua perintah ini merupakan tujuan hidup kita yang paling utama. Artinya, tidak ada yang lebih penting daripada Allah. Hidup ini bukan tentang anak, istri, suami, pekerjaan, uang, keinginan, atau bahkan kebutuhan saudara, melainkan tentang Allah. Semua itu hanya dimaksudkan untuk menunjang atau memenuhi tujuan yang terbesar itu.


PERINTAH MENGASIHI ALLAH BUKAN BEBAN

Perintah ini sekaligus memberi tahu bahwa Allah merindukan kasih kita. Mengapa kasih kita begitu penting bagi Dia? Karena kita penting di mata-Nya! Allah bukanlah pribadi cuek. Apakah kita mengasihi Dia atau tidak mempengaruhi-Nya secara mendalam karena kasih-Nya yang mendalam bagi kita.

Oleh karena itu, perintah ini bukanlah sebuah beban. Banyak orang yang terbeban saat mendengar perintah ini. Mereka memandang perintah untuk mengasihi Dia dengan segenap hati sebagai tuntutan yang membebankan! Sebenarnya kerinduan Allah untuk dikasihi kita menunjukkan betapa pentingnya kita di mata Allah. Ini merupakan hal yang luar biasa! Sangat tak terbayangkan kalau kasih kita begitu berarti bagi Dia.

Makna Natal yang sesungguhnya adalah bahwa Allah sendiri mengasihi kita dengan segenap hati-Nya, dengan segenap jiwa-Nya, dan dengan segenap pikiran-Nya. Pemazmur di Mazmur 40 yang mengatakan, “Many are Your thoughts towards us” (Banyaklah pikiran-Mu terhadap kami). Allah banyak berpikir tentang saudara dan saya. Allah sepertinya sedang berkata, “Thinking of you” (memikirkanmu). Menerima pesan seperti ini dari seorang teman akan sangat menyukakan hati kita, apa lagi dari Allah sendiri.

Jika saudara bisa mengerti hal ini, saudara akan mengalami pertobatan yang sangat mendalam. Kedatangan Yesus adalah untuk memulihkan sebuah hubungan yang mana Allah sendiri mengasihi kita dengan segenap hati-Nya, jiwa-Nya, dan pikiran-Nya dengan menyerahkan Anak-Nya. Itulah makna Natal.


PERINTAH MENGASIHI SESAMA MANUSIA

Mari kita lihat perintah yang kedua, “Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri”. Yesus memparafrase perintah tersebut di Matius 7:12:

“Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan kepada mereka karena inilah isi Hukum Taurat dan kitab para nabi”.

Pernyataan “inilah isi Hukum Taurat dan kitab para nabi” setara dengan Matius 22:40. Ini merupakan pernyataan yang menakjubkan. Isi Hukum Taurat dan kitab para nabi setebal 1.000 halaman dapat disimpulkan dengan satu kalimat singkat! Itulah perintah dan kehendak Allah dalam satu kalimat, yaitu “segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan kepada mereka”.

Itu berarti ketika kita berbicara mengenai tujuan hidup, tentang melakukan kehendak Allah dalam kehidupan kita, itu bukan hanya tentang berkhotbah, menjadi worship leader, terlibat program penginjilan melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan satu dengan yang lainnya. Bagaimana kita berhubungan dan memperlakukan satu dengan yang lainnya, itulah isi seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi. “Isi seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi” merupakan metonimi untuk perintah Allah, atau kehendak Allah.

Allah selalu berurusan dengan kita sesuai dengan cara kita berurusan dengan orang lain. Allah bersikap terhadap kita sesuai dengan cara kita bersikap terhadap satu sama lain. Hal ini dinyatakan dengan jelas di Mazmur 18:25-27

“Karena itu, Yahweh membalasku menurut kebenaranku, menurut kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang murah hati, Engkau tunjukkan bahwa Engkau sendiri murah hati. Terhadap orang yang tidak bercela, Engkau tunjukkan bahwa Engkau sendiri tidak bercela. Terhadap orang yang suci, Engkau tunjukkan bahwa Engkau sendiri suci. Namun, kepada yang jahat, Engkau berbelit-belit.

Allah bisa memperlihatkan dirinya belat-belit jika kita adalah orang yang bengkok. Jika kita suci, Dia akan memperlihatkan diri-Nya suci. Dengan kata lain, jika kita berbuat baik kepada sesama, Allah akan berbuat baik terhadap kita. Jika saudara memahami prinsip ini dengan baik, saudara tidak perlu sama sekali meminta Allah untuk memperlakukan saudara dengan baik. Kalau saudara menerapkan prinsip ini, Allah akan selalu baik terhadap saudara. Dia akan memperlakukan saudara dengan adil, dengan baik, dengan penuh belas kasihan karena kita telah memperlakukan sesama kita dengan cara yang sama.

Hal ini sangat penting khususnya dalam hubungan keluarga. Setiap keluarga Kristen harus memajang Matius 7:12 di tembok sebagai peringatan. Satu kalimat ini memiliki kuasa untuk mengtransformasi orang yang egois menjadi tidak egois. Di dunia ini, ada pepatah “familiarity breeds contempt” (keakraban menimbulkan penghinaan). Makin akrab kita dengan sesama, makin kita menghina dan tidak menghormati sesama. Perilaku paling kasar, egois dan tidak sopan seringkali kita lakukan di tengah keluarga kita. Kebanyakan orang memperlakukan orang luar jauh lebih baik daripada anggota keluarga sendiri. Akan tetapi, apa yang benar di dunia, tidak boleh menjadi benar di jemaat. Sebaliknya yang harus menjadi benar, keakraban menimbulkan rasa hormat! Sebuah keluarga Kristen yang sehat akan memperlihatkan rasa hormat yang tertinggi, rasa hormat yang bahkan langka di gereja. Berdasarkan prinsip ini, perilaku yang terbaik justru terjadi di tengah keluarga.   


LEBIH BERBAHAGIA DARIPADA MARIA?

Sebagai kesimpulan untuk Natal ini, mari kita kembali ke Lukas 11:27-28. Seorang perempuan memotong Yesus yang masih berbicara dan berseru memberkati Maria, bunda Yesus, “Diberkatilah rahim yang telah melahirkan Engkau dan buah dada yang menyusui Engkau.” Jawaban Yesus cukup mengejutkan karena diawali dengan kata “sebaliknya” (dalam teks Yunani asli). “Sebaliknya, berbahagialah orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya.” Seperti perempuan itu, kita tidak dapat menyangkal bahwa Maria memang sangat berbahagia dan sangat diberkati. Ia dipilih Allah untuk melahirkan Sang Mesias, Juruselamat dunia. Namun, menurut Yesus, kita semua yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya, berpotensi lebih berbahagia di mata Allah. Inilah kebenaran yang luar biasa yang Tuhan ingin sampaikan disini.

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning
Warning.