Ev. Xiao Shan |Filipi 2:25-30 |

Menurut Anda, orang yang seperti apa yang akan diingat Allah? Tentu saja yang diingat Allah adalah manusia-manusia Allah yang besar seperti Yohanes, Petrus, Paulus atau para misionaris seperti John Sung, Hudson Taylor. Mereka sangat berhasil dalam pekabaran Injil, membawa orang pada Tuhan dan juga mendatangkan pemulihan di dalam gereja, jadi tentu saja mereka akan diingat Allah. Apakah ini berarti bahwa hanya para murid yang besar, para misionaris yang besar yang akan diingat Allah? Di mata Allah, pelayanan seperti apa yang berharga? Saya berharap, PA kita hari ini akan memberikan jawaban yang jelas.

Kita akan melanjutkan untuk mempelajari kitab Filipi hari ini. Mari kita buka di Filipi 2:25-30:

“Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit. Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah. Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku. Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia. Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.”


Paulus Sangat Menghargai Epafroditus

Perikop ini menyebut tentang seorang yang bernama Epafroditus, siapakah dia? Anda mungkin tidak akrab dengan nama ini, dan hal ini dapat dimaklumi karena di seluruh Alkitab, nama ini hanya disebut dua kali di kitab Filipi, dan dia tidak lagi disebut di surat-surat yang lain di Perjanjian Baru. Jadi, siapakah Epafroditus? Apakah dia salah seorang dari para murid? Tidak. Apakah dia gembala di jemaat Filipi? Tidak. Apakah dia hamba Tuhan yang besar? Tidak juga. Dikatakan di ayat 25,

“saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.”

Epafroditus hanyalah seorang jemaat biasa di Jemaat Filipi, tidak dikenal, yang diutus oleh gereja untuk membawa barang keperluan Paulus. Karena Epafroditus bukan orang terkenal dan yang dilakukannya hanyalah membawa titipan bagi Paulus, jadi harusnya ini bukan suatu tugas yang penting, benar? Yang pasti, ini merupakan tugas yang sederhana yaitu, membawa sesuatu kepada Paulus. Siapa saja dapat melakukannya, sama sekali bukanlah tugas yang besar. Tapi yang aneh adalah, Paulus dengan sengaja mencatat nama Epafroditus dan pelayanannya di sini.

Tahukah Anda, berapa nama yang muncul di seluruh kitab Filipi? Selain Paulus, hanya adalah enam nama yang lain: Timotius, Yesus, Epafroditus, Euodia, Syntyche dan Clement (saya tidak memasukkan keluarga Kaisar yang disebut di Pasal 4:22). Apa yang tidak diduga adalah Paulus menyebut Epafroditus secara panjang lebar.

Paulus menyebut Epafroditus di Pasal 2. Tema utama Pasal 2 adalah “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Pertama, Paulus menasehati gereja untuk memiliki pikiran yang sama dengan Kristus Yesus, setelah itu, dia berbicara tentang bagaimana Yesus Kristus merendahkan diri demi keselamatan dunia, lalu Paulus melanjutkan dengan menggambarkan dirinya sebagai korban curahan demi gereja, dan memakai contoh Timotius, dengan mengatakan bahwa Timotius tidak mencari kepentingan dirinya sendiri, tapi hanya kepentingan Yesus Kristus. Yang terakhir, dia mengambil Epafroditus sebagai contoh, karena demi pekerjaan Kristus, Epafroditus meresikokan nyawanya. Dengan kata lain, Paulus menempatkan Epafroditus setara dengan Kristus, dirinya sendiri dan Timotius. Dengan cara ini, Paulus sedang memberitahu jemaat apa artinya seorang pelayan yang memiliki pikiran Kristus. Kita dapat melihat bahwa penilaian Paulus terhadap Epafroditus sangatlah tinggi.


Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Epafroditus?

Filipi 2:25,

“Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.”

Jemaat Filipi telah menyiapkan sesuatu untuk keperluan Paulus, dan mereka mengutus seorang jemaat  – Epafroditus – untuk membawa titipan itu kepada Paulus. Perhatikan bahwa gereja tidak mengutus Epafroditus untuk merintis pekerjaan yang baru, juga tidak mengutus dia sebagai perwakilan untuk mengikuti rapat, tapi hanya mengutus dia untuk membawa sesuatu kepada Paulus, satu tugas yang sangat sederhana. Selalunya, orang berharap untuk bergabung dengan pelayanan yang penting dan menantang, tapi tidak terlalu berminat untuk menjadi tenaga jasa pengiriman barang – suatu tugas yang menyia-yiakan talenta mereka. Tapi Epafroditus tidak seperti itu. Dia melihat gereja mau mengirim sesuatu kepada Paulus yang sedang dipenjarakan, dia dengan senang hati menerima penugasan ini dan berangkat bersama barang-barang titipan.

Sekalipun hanya membawa barang-barang keperluan Paulus merupakan tugas yang sederhana, tapi Epafroditus masih perlu melewati perjalanan yang panjang dan sulit dari Filipi menuju Roma. Di masa kini, karena kemajuan transportasi laut, darat dan udara, setiap penjuru dunia kelihatannya dekat. Jika kita mau berangkat dari utara ke selatan, apakah untuk bekerja, berwisata atau kunjungan, semuanya dapat dilakukan dengan cepat dan nyaman. Kita bisa naik pesawat atau kalau mau berhemat, bisa naik kereta api. Semuanya sangat nyaman. Tapi di masa Paulus, jika kita mau berpergian dari Filipi ke Roma, maka kita harus melewati perjalanan yang jauh dan sulit. Mari kita melanjutkan dengan ayat-ayat 27-28.

“Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah. Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku.”

Di sini, dikatakan bahwa Paulus ingin mengirim Epafroditus kembali ke Filipi, tapi apa yang membuat Epafroditus tinggal lama di Roma? Dia hanya perlu menyampaikan titipan dari gereja pada Paulus, dan tugas itu sudah selesai, dan dia bisa kembali ke Filipi. Mengapa dia tinggal di Roma, dan sudah berapa lama dia tidak kembali ke Filipi? Lagi pula, disebutkan di sini bahwa Epafroditus sakit dan keadannya sangat parah di mana dia nyaris mati. Mengapa hal ini terjadi pada dia? Ayat 30 dengan jelas memberikan kita alasannya:

“Sebab oleh karena pekerjaan Kristus dia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.”

Alasan Epafroditus sangat sakit, bahkan nyaris mati adalah karena pekerjaan Kristus, dan mempertaruhkan jiwanya untuk melayani Paulus. Awalnya, Epafroditus hanya ingin menyampaikan titipkan dari gereja Filipi kepada Paulus dan tugasnya sudah selesai, dan dia dapat kembali untuk melaporkan situasi Paulus. Tapi apabila dia tiba di Roma, dan setelah bertemu dengan Paulus dan dia melihat kebutuhan Paulus, dan memutuskan untuk tidak pulang, tapi terus tinggal di Roma untuk melayani Paulus. Dia sama sekali tidak memikirkan kebutuhannya sendiri, tidak mempertimbangkan kesehatannya. Dia tidak terpikir untuk kembali dulu, melaporkan situasi dan keperluan Paulus pada gereja dan membiarkan gereja yang mengurus hal ini. Dari tindakannya sangatlah jelas bahwa Epafroditus tidak mencari kepentingan diri tapi hanya kepentingan Paulus, dia melihat diri Paulus sebagai lebih penting dari dirinya sendiri.

Seperti apa sikap Anda dalam melayani? Menurut pengamatan saya, terdapat tiga tipe orang di dalam gereja, tiga tipe sikap hati orang yang melayani: Pertama, orang yang asal asalan dalam melayani. Jika gereja mempercayakan sesuatu kepadanya, walaupun waktu yang lama sudah lewat, tugasnya masih belum terselesaikan dan bahkan pada akhirnya bisa tidak kunjung selesai; Tipe kedua adalah orang yang  sangat bertanggungjawab, dan pasti akan menyelesaikan tugasnya. Jika tidak hati mereka tidak akan tenang; Tipe ketiga adalah orang yang sangat langka, dan Epafroditus termasuk di dalam tipe ini, tipe yang melakukan lebih dari yang merupakan tugasnya. Sekalipun dia telah menyelesaikan tugas yang dipercayakan padanya, tapi karena dia melihat kebutuhan Paulus, dia tidak sampai hati untuk meninggalkan Paulus. Dia melakukan jauh lebih dari yang diperlukan, bahkan sampai dia jatuh sakit.


Epafroditus Bekerjasama dan Berjuang bersama Paulus

Di ayat 25, Paulus berkata,

“Epafroditus – teman sekerjaku dan teman seperjuanganku.”

Tugas Epafroditus hanyalah sebagai pembawa titipan, tapi mengapa Paulus berkata bahwa Epafroditus adalah teman sekerjanya? Semua orang tahu bahwa Paulus adalah seorang murid yang hebat, memberitakan Injil dan membangun gereja di mana-mana. Tapi Epafroditus hanyalah tinggal bersamanya melayani dia, mengapa Epafroditus disebut sebagai teman sekerjanya? Hal yang dapat kita perhatikan dari hal ini adalah, di mata Allah, apa yang Epafroditus lakukan, tidak kira betapa tidak berarti sangatlah penting bagi Allah. Setiap orang yang memainkan peran di dalam pekerjaan Allah akan diingat oleh Allah. Mari kita buka ke Matius 10:41-42:

“Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridku aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Nabi adalah jurubicara Allah, untuk menyingkapkan hati Allah, dan status seorang nabi itu sangatlah luar biasa. Tapi seorang yang menerima seorang nabi akan menerima upah seorang nabi!! Apakah itu berarti bahwa hanya dengan menyediakan kamar, menyiapkan makan bagi seorang nabi, kita akan menerima upah seorang nabi? Ya, jika Anda dengan senang hati menerimanya, karena dia seorang nabi Allah, maka Anda sebenarnya sedang mengambil bagian di dalam pekerjaan Allah, hanya saja peran yang dimainkan itu berbeda, tapi upah Anda tetap besar!

Renungkan hal ini. Saat Epafroditus datang membawa titipan, salam dan berkat dari jemaat Filipi, melakukan perjalanan jauh ke Roma, untuk ke penjara mengunjungi Paulus, hati Paulus pasti sangat terhibur! Epafroditus datang pada waktu yang di mana Paulus dalam keadaan sangat membutuhkan. Paulus menerima kasih dan kepedulian. Dia mendapat pesan bahwa masih ada saudara yang mengingatnya dan mendukungnya dalam perjuangannya. Pekerjaan Injil bukanlah sesuatu yang dapat ditanggung oleh satu pribadi sendirian, tapi bergantung pada saudara-saudara seiman untuk bekerja bersama dalam satu hati. Mata spiritual Paulus sangatlah tajam, dia dapat melihat bahwa jemaat Filipi dengan memenuhi keperluan Paulus, mereka sedang melibatkan diri di dalam pekerjaan Injil. Epafroditus bukan saja dengan senang hati mewakili gereja untuk menghibur Paulus, tapi dia juga dengan senang hati tinggal bersama Paulus untuk melayani kebutuhannya. Semua ini termasuk mengambil bagian di dalam pekerjaan Injil. Di mata Paulus tidak ada perbedaan, selagi dilakukan dengan hati yang mengasihi, pelayanan kita pasti akan diingat Allah.

Paulus juga berkata bahwa Epafroditus adalah teman seperjuangannya, Epafroditus telah menjadi sekutu dekatnya dalam pertarungan spiritualnya. Apakah yang menjadi kualitas Epafroditus? Menurut Anda, apa yang harusnya menjadi kualitas seorang prajurit? Keberanian? Atau energi? Atau tubuh yang kekar dan kuat? Untuk menjadi sekelompok prajurit yang elit, apakah persyaratan yang harus dipenuhi? Mari kita buka di 2 Timotius 2:3-4,

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”

Perhatikan bahwa persyaratan utama menjadi seorang prajurit Kristus Yesus bukanlah keberanian, bukanlah kekuatan yang besar, tapi kerelaan untuk menderita bagi Kristus, dan juga untuk tetap fokus, tidak menyibukkan diri dengan kehidupan seharian, supaya dapat tetap setia pada tugas yang ada. Paulus berkata bahwa Epafroditus sedang berjuang bersamanya, dan memang sangat pantas gambaran ini karena demi pekerjaan Allah, Epafroditus sudah banyak menderita. Contohnya, dia harus meninggalkan keluarganya, berpergian jauh melewati perjalanan yang sulit untuk tiba ke Roma. Perjalanan ini sangat berat. Setelah tiba di Roma, dia tinggal bersama Paulus untuk melayani Paulus. Kondisi pada waktu itu tentunya tidak mendukung dan nyaman. Karena itu, Epafroditus akhirnya jatuh sakit.

Kita tidak tahu apa yang menjadi penyakit Epafroditus, tapi yang pasti, sakitnya sangat parah, sampai dia nyaris mati. Paulus sendiri orang kurungan dan memerlukan bantuan gereja Filipi untuk memenuhi kebutuhannya, bagaimana Paulus dapat merawat Epafroditus atau mencarikan tabib untuk Epafroditus? Dia berada di tanah orang asing, tidak ada famili, dan begitu jauh dari tempat asalnya dan bahkan tidak ada yang tahu bahwa dia sedang sakit. Gereja sama sekali tidak dapat menawarkan bantuan. Jika Anda berada di dalam posisinya, apa yang akan menjadi pilihan Anda? Kebanyakan orang akan membuat pilihan yang bijaksana: karena situasinya tidak bagus, sebaiknya hengkang saja, pulang secepatnya ke Filipi, melaporkan keadaan Paulus pada jemaat dan dengan saksama memikirkan rencana jangka panjang dan apa yang harus menjadi langkah selanjutnya.

Anda sekarang berada di dalam lingkungan yang nyaman, jadi akan merasa tidak perlu menderita untuk Kristus. Tapi saat Anda sakit, kondisi kesehatan menurun, Anda akan merasakan bahwa harga yang perlu dibayar itu sangat berat. Contohnya gereja mau mengutus Anda ke tempat tertentu, tempat yang polusinya sangat parah, langitnya tidak pernah cerah, dan udaranya penuh dengan segala macam debu dan polusi. Sedangkan Anda punya penyakit asma, dan mungkin harus minum obat seumur hidup. Apakah Anda akan berbicara di dalam hati Anda, “Tidaklah menjadi masalah untuk menjadi miskin demi melayani Tuhan. Tapi, jika yang dikorbankan adalah kesehatan, yang akan membuat saya seumur hidup mengidap penyakit yang tak dapat diobati, saya kira saya tidak akan sanggup. Tidak banyak orang yang sanggup berkorban segala-galanya termasuk kesehatan demi melayani Tuhan. Karena itu, kita dapat melihat mengapa Paulus memuji Epafroditus – Paulus dapat melihat bahwa Epafroditus memiliki pikiran Kristus. Sebenarnya, Epafroditus telah melaksanakan tugasnya dengan menyampaikan persembahan dari gereja kepada Paulus dan dia boleh dengan aman pulang. Tapi Epafroditus tidak memilih untuk melakukan itu, dia mengambil inisiatif untuk tetap tinggal bersama Paulus untuk melayani dia, tanpa sama sekali mempertimbangkan apa yang baik untuk dirinya sendiri.


Epafroditus Berfungsi seperti Imam

Dituliskan di Filipi 2: 25 dan 30,

“Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.”

“Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.”

Di sini, Paulus menggunakan kata yang unik untuk menggambarkan Epafroditus, ayat 25, “melayani aku dalam keperluanku”; ayat 30, “memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku”. Kata pelayanan muncul sebanyak dua kali. Kata “pelayanan” bukan kata sederhana yang sekadar berarti “memberi bantuan”, tapi kata ini khusus digunakan untuk memggambarkan imam yang melayani di bait Allah. Mari kita buka di Lukas 1:23,

Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.”

Perikop sebelum ini sedang berbicara tentang bapa Yohanes Pembaptis, Zakharia, yang “selesai waktu tugas jabatannya” sebagai imam Allah. Dia dipilih lewat undi menurut aturan keimaman untuk masuk ke ruang kudus dan mempersembahkan kemenyan pada Allah. Kata “tugas jabatan” di sini adalah kata Yunani yang sama dengan kata “pelayanan” yang dipakai untuk menggambarkan Epafroditus di Filipi 2. Mari kita buka ke satu ayat lagi, Filipi 4.18,

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

Paulus dengan sengaja menggunakan kata “pelayanan” untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh Epafroditus, sekalipun mungkin bagi orang lain, membawa kiriman barang-barang ke Paulus, untuk memenuhi kebutuhan Paulus merupakan hal yang sepele. Tapi bagi Allah, tugas yang dilakukan Epafroditus tidaklah beda dengan pelayanan seorang imam, yang mewakili gereja dalam mempersembahkan suatu korban yang disukai dan yang berkenan pada Allah. Memang sangat pantas bahwa Paulus menggunakan kata “pelayanan” untuk menggambarkan apa yang telah dilakukan oleh Epafroditus. Di dalam Perjanjian Lama, para imam adalah mereka yang dipisahkan khusus untuk melayani Allah. Dengan cara yang sama, Epafroditus juga mempersembahkan dirinya sepenuhnya. Pemikiran Allah itu berbeda dari pemikiran manusia. Epafroditus, sekalipun dia bukan siapa-siapa, dan walaupun dia orang percaya yang non-Yahudi, apa yang dia lakukan walaupun kelihatan tidak penting, tapi di mata Allah, dia adalah seperti seorang imam, yang berdiri di bait Allah melayani-Nya.


Gereja harus Belajar untuk menilai dengan cara yang Baru

Dikatakan di Filipi 2:29-30,

“Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia. Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.”

Gereja Filipi mengutus Epafroditus ke Roma, setelah beberapa hari dia harusnya kembali ke Filipi dan melaporkan pada jemaat keadaan Paulus. Tapi saat Epafroditus tiba ke Roma, dia melihat bahwa Paulus dalam keadaan yang membutuhkan. Lalu Epafroditus tinggal dan terus melayani dia. Sayangnya dia sendiri jatuh sakit, dan keadaannya parah. Akhirnya, bukan saja dia tidak dapat melayani Paulus tapi malah menyusahkan Paulus. Sistem komunikasi di zaman dulu tidaklah semaju sekarang, tidak ada telpon, apalagi Internet. Epafroditus tidak kembali ke Filipi sesuai dengan jadwal awalnya dan setelah dia jatuh sakit, jadi kepulangan malah tertunda lagi. Gereja tidak tahu apa yang sedang terjadi, jadi bisa saja salah paham. “Dia hanya ditugaskan dengan suatu tugas yang sederhana, mengapa mengambil waktu yang begitu lama dan masih belum pulang-pulang? Untuk apa berlama-lamaan di Roma? Apa yang sudah terjadi pada Epafroditus?”

Lewat kasih karunia Allah, Epafroditus secara pelahan-lahan mulai sembuh. Untuk menghindar kesalah-pahaman, Paulus mau dengan segera mengirim Epafroditus kembali bersama surat yang ditulisnya, agar gereja tahu bahwa Epafroditus memang sakit, dan nyaris mati. Dan lebih dari itu, dia jatuh sakit demi melakukan pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, gereja harus dengan sukacita menyambut dia, dan juga menghargai pelayan sepertinya.

Manusia senang memandang muka, bahkan setelah menjadi orang percaya, tetap sama saja. Di gereja, siapa yang akan memerhatikan orang yang tidak dikenal dan tidak penting? Tapi Allah memerhatikan orang seperti itu. Kadang-kadang bahkan ada orang Kristen yang merasa rendah diri karena tingkat pendidikan yang rendah, atau karena merasa dirinya tidak pintar. Namun pada kenyataannya, semuanya ini hanyalah merupakan penilaian manusia, bukan penilaian Allah. Sekalipun Anda tidak punya apa-apa, tidak mempunyai talenta spiritual yang spesial, bukan lulusan perguruan tinggi, tidak mempunyai penampilan yang menarik – semuanya itu tidaklah penting, selama Anda memiliki hati Kristus Yesus, mengasihi Allah dan mengasihi manusia lebh dari diri Anda sendiri – semua yang Anda lakukan pasti akan diingat Allah, diberkati Allah.

Hari kita kita telah melihat pada Filipi 2:25-30, judulnya adalah “Epafroditus yang Diingat Allah”.

Alasan mengapa Paulus begitu memuji Epafroditus adalah karena dia memiliki pikiran Kristus Yesus. Pada awalnya, dia hanya datang untuk membawa titipan untuk Paulus dan dengan demikian tugasnya sudah selesai, tapi dia berinisiatif untuk tinggal di Roma untuk melayani Paulus. Dan karena itu, dia akhirnya jatuh sakit, dan nyaris mati. Sekalipun bagi orang lain, Epafroditus hanyalah seorang yang tidak penting, tapi bagi Allah, hatinya, pelayanannya adalah seperti persembahan yang harum yang berkenan pada Allah.

 

Berikan Komentar Anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published.