Pastor Eric Chang | Baptisan (2) |
Hari ini kita perlu mempelajari sesuatu yang sangat penting. Judul yang akan saya pakai untuk khotbah saya pada hari ini adalah: Roh Kudus dan Baptisan. Apakah hubungan antara Roh Kudus dengan baptisan? Saudara yang akan dibaptis pada hari ini pernah bertanya kepada saya, “Kapan kita menerima Roh Kudus? Sebelum, sesudah, ataukah pada waktu baptisan?” Saya berpikir bahwa ini adalah sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui semua orang. Saya sangat bersyukur saudara ini menanyakan hal ini.
ORANG KRISTEN ADALAH ORANG YANG MEMILIKI ROH KUDUS
Pertanyaan ini sangat penting sekali berdasarkan alasan yang berikut, “Siapakah seorang Kristen itu? Apakah artinya menjadi seorang Kristen? Dapatkah seseorang dikatakan sebagai orang Kristen jika ia percaya akan seluruh doktrin gereja? Dan karena ia benar-benar mempercayai semua doktrin tersebut, itu membuatnya menjadi orang Kristen? Siapakah seorang Kristen itu? Apakah ia seorang yang datang ke gereja setiap minggunya? Itukah yang menjadikan Anda seorang Kristen? Apakah seorang Kristen itu seseorang yang memiliki senyuman ala Colgate, Pepsodent, atau apa saja dan ia selalu tersenyum? Itukah yang menjadi seseorang itu Kristen? Apakah yang menjadikan seseorang itu seorang Kristen? Ataukah menjadi Kristen merupakan kombinasi dari semua itu?”
Rasul Paulus menjawabnya di Roma 8:9. Inilah yang menjadikan seseorang itu Kristen: Dia yang memiliki Roh Kudus yang disebut sebagai orang Kristen. Itulah sebabnya Paulus berkata di Roma 8:9,
“Siapa tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik-Nya”
Jika Anda tidak memiliki Roh Kristus, Anda bukan seorang Kristen. Inilah jawaban Paulus. Kita boleh percaya pada seluruh pengakuan iman rasuli. Kita boleh menerima Alkitab sebagai firman Allah, yang merupakan bagian dari penyataan iman kita. Kita boleh pergi ke gereja secara rutin atau bahkan turut aktif dalam kegiatan gereja. Namun, semuanya itu tidak menjadikan Anda seorang Kristen. Tiada satu hal pun di sini yang dapat membuat kita menjadi seorang Kristen. Alkitab memberikan jawabannya untuk hal ini: kita adalah orang Kristen, hanya jika kita memiliki Roh Kudus di dalam kita. Jika kita telah menerima Roh Kudus, kita adalah orang Kristen yang sesungguhnya. Tanpa Roh Kudus, sekalipun kita memiliki semua yang disebut di atas, kita tidak akan diakui oleh Kristus. Kita bukan miliknya. Ini menunjukkan betapa pentingnya pokok pembahasan ini. Lalu pertanyaannya ialah: kapankah kita menerima Roh Kudus, karena segalanya bergantung kepada apakah jika kita telah menjadi milik Kristus? Apakah kita sungguh adalah seorang Kristen sejati menurut pengertian Alkitab? Apakah kita telah menerima janji Roh Kudus itu?
TANPA ROH, KITA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN UNTUK HIDUP SEBAGAI ORANG KRISTEN
Mengapa penting untuk menerima Roh Kudus? Siapa pun yang telah mengenal Alkitab seharusnya mengerti bahwa kita hanya memiliki hidup apabila kita memiliki Roh karena Roh Kudus adalah Roh kehidupan. Kita hanya memiliki kekuatan Roh, kekuatan untuk menjalankan hidup kekristenan kita, pada waktu Roh Kudus diam di dalam kita. Jika kita gagal dalam hidup kekristenan kita, itu justru karena kita tidak memiliki kekuatan Roh. Kita tidak dipanggil untuk hidup di dalam kekristenan yang ideal seperti yang ditulis dalam Khotbah di atas Bukit dengan kekuatan diri kita sendiri. Tidak mengherankan bahwa semua sarjana yang menulis tentang Khotbah di Bukit berkata, “Mustahil sekali kita melakukan hal ini. Tidak mungkin kita menjalankan hidup kekristenan yang seperti ini.” Tentu saja mustahil. Itulah sebabnya Tuhan mengutus Roh Kudus — untuk membuat kita mampu menjalankan panggilan hidup yang mulia ini! Dia tidak pernah bermaksud menjerat diri kita untuk hidup sebagai seorang Kristen dengan kekuatan kita sendiri.
Seorang Kristen adalah seorang yang supra-natural. Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus, “Karena perbuatanmu seperti ini, bukankah kamu manusia natural?” Nah, siapa di antara kita yang tidak natural? Tentu saja kita tidak natural. Kita adalah manusia supranatural jika kita adalah orang Kristen menurut pengertian Alkitab. Itulah sebabnya Paulus menantang jemaat di Korintus dengan berkata,
karena kamu masih duniawi. Sebab, jika ada iri hati dan perselisihan di antara kamu, bukankah kamu masih duniawi dan hidup secara manusia?
Apakah yang ditantang dalam hal ini? Artinya, “Engkau masih tidak hidup menurut sebagaimana orang Kristen seharusnya hidup — yaitu di dalam kekuatan Roh Kudus!” Itulah sebabnya surat Korintus semuanya berkenaan dengan Roh Kudus. Jemaat Korintus sebetulnya juga menitikberatkan masalah Roh Kudus, tetapi mereka lebih gairah dengan karunia-karunia Roh, daripada kekuatan Roh yang tinggal di dalam. Mereka menaruh perhatian pada manifestasi eksternal dari Roh daripada kekuatan batin dari Roh Kudus. Inilah kesalahan lainnya yang banyak diperbuat oleh orang Kristen. Mereka mencari hal-hal yang dapat terlihat. Inilah tandanya manusia yang natural. Manusia rohani tidak tertarik akan penampilan luar, atau pertunjukan eksternal. Berbahasa lidah atau tidak, adalah hal yang eksternal. Apakah Anda berbuah Roh dan memiliki kekuatan Roh dalam batin, inilah yang bersifat internal. Hal-hal ini yang jauh lebih berarti!
PERTANYAAN PALING PENTING: KAPAN ANDA MENERIMA ROH KUDUS?
Sekarang kita akan membahas satu pertanyaan penting. Sudahkah Anda memiliki Roh Kudus? Pertanyaan ini lebih penting daripada pertanyaan, “Sudahkah Anda menjadi seorang Kristen?” yang pengertiannya ngambang karena Anda mungkin tidak mengerti maksud pertanyaan ini sehingga Anda kembali bertanya, “Apakah maksudmu saya sudah menjadi seorang Kristen karena saya rutin ke gereja? Apakah saya percaya akan doktrin gereja? Atau, apakah saya harus berlaku sedemikian rupa sehingga terlihat rohani? Itukah yang dimaksud?” Sekali lagi, pertanyaannya adalah: “Apakah engkau memiliki Roh Kudus?” Jika Anda tidak pasti dengan maksud pertanyaan ini, tentu saja, Anda tidak begitu yakin akan artinya menjadi seorang Kristen dalam pengertian Alkitab yang sesungguhnya. Begitu juga Anda tidak mengerti arti menjadi seorang murid Kristus. Tahukah Anda jawaban kepada pertanyaan ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengetahui: Bagaimana kita menerima Roh Kudus dan pada waktu kapan kita menerima Roh Kudus tersebut? Di sini jelas kedua pertanyaan ini saling berkaitan. Jangan memberi jawaban yang mengatakan bahwa Anda telah menjadi Kristen selama 10 hingga 15 tahun. Hal itu tidak penting karena persoalannya ialah 10 tahun, 15 tahun dari kapan? Bagaimana Anda menghitung 10 tahun atau 15 tahun itu? Apakah itu terjadi pada saat Anda berlutut dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat? Atau, dari saat Anda menerima baptisan? Kapankah saat itu dan bagaimana caranya kita dapat mengukurnya? Banyak orang dibaptis beberapa tahun sesudah mereka melakukan semacam pengakuan iman. Dan mereka seringkali mengambil tolok ukurnya dari waktu mereka melakukan pengakuan iman. Menurut Anda kapan waktu yang tepat Anda dikatakan sebagai seorang Kristen? Jawabannya menurut Alkitab adalah pada saat Anda menerima Roh Kudus. Inilah satu-satunya pertanyaan yang perlu Anda jawab.
Saya tidak begitu mempedulikan kapan Anda mengangkat tangan pada waktu “alter call” dalam sebuah KKR atau pertemuan ibadah. Mungkin Anda telah mengangkat tangan Anda dengan hati yang tulus. Namun, apakah itu berarti Anda secara otomatis telah menerima Roh Kudus? Inilah pertanyaan yang harus kita pelajari secara mendalam. Apakah itu berarti dengan mengangkat tangan pada waktu panggilan dalam sebuah ibadah, kita telah menerima Roh Kudus? Sesuaikah hal ini dengan ajaran Alkitab? Barangkali itulah anggapan Anda, dan karena itu Anda menghitung pertobatan Anda dari tanggal Anda mengangkat tangan. Mari kita menyelidiki pertanyaan ini secara lebih mendalam lagi, bukan untuk mengetahui apa jawaban saya. Jawaban saya tidak berarti sama sekali. Jawaban Kitab Sucilah yang penting dan kita akan melihat jawabannya sekarang. Kapan kita menerima Roh Kudus? Apa jawaban Alkitab?
JAWABANNYA ADA DI KISAH PARA RASUL 2:38
Kita akan menggunakan ayat ini sebagai pedoman untuk mempelajari jawaban yang diberikan firman Tuhan. Di Kisah Para Rasul 2:38, Rasul Petrus sedang berbicara kepada orang banyak di Yerusalem setelah Roh Kudus turun pada hari Pentakosta. Masih ingatkah pada waktu Roh Kudus turun, banyak orang menjadi kebingungan. Karena inilah, orang banyak berkumpul, dan Rasul Petrus berbicara kepada orang banyak itu. Apa yang dikatakannya? Ayat 37 mengatakan ini:
Ketika mereka mendengar hal ini, tertusuklah hati mereka, lalu berkata kepada Petrus dan para rasul lainnya, “Saudara-saudara, apa yang harus kami lakukan?”
Perhatikan bahwa khotbah Petrus dimulai dengan ketuanan Kristus. Petrus tidak menyampaikan berita Injil yang kosong belaka. Perhatikan kata-kata kesimpulannya di ayat ke 34, “Sebab, Daud tidak naik ke surga, tetapi ia sendiri berkata, ‘Tuhan berkata kepada Tuanku, ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Aku membuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.’ Oleh karena itu, biarlah semua rumah Israel tahu dengan pasti bahwa Allah telah menjadikannya Tuan dan Kristus, inilah Yesus yang telah kamu salibkan.” Kristus adalah kata yang berarti “Yang Diurapi”, yaitu Raja Israel yang dijanjikan itu.
Menarik sekali di sini bahwa ia berbicara tentang Yesus sebagai Tuan. Tema inilah yang menusuk hati para pendengarnya. Mereka berkata, “…apa yang harus kami lakukan?” Betul, apakah yang harus kita lakukan sekarang? Perhatikan ayat ke 38,
38 Lalu, Petrus berkata kepada mereka, “Bertobatlah dan baptiskanlah dirimu masing-masing dalam nama Kristus Yesus untuk pengampunan dosa-dosamu, dan kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
39 Sebab, janji ini adalah untukmu, dan anak-anakmu, dan untuk semua orang yang masih jauh, sebanyak yang Tuhan Allah kita akan memanggilnya.”
Janji ini merupakan janji Allah. Janji apakah itu? Seluruh janji Allah terbungkus dalam bentuk karunia Roh Kudus. Jika Anda tidak memiliki Roh Kudus, Anda belum mendapatkan janji-janji-Nya. Janji ini datang kepada kita melalui iman. Karunia Roh diberikan kepada kita melalui iman. Dengan kata lain, jika Anda memiliki iman, Tuhan akan memberikan kepadamu Roh Kudus dan seluruh janji-Nya akan dinyatakan. Tidak ada janji lain di luar dari Roh Kudus itu sendiri. Tanpa menerima kuasa Roh Kudus, tidak mungkin ada janji.
PERTOBATAN ADALAH PERUBAHAN TOTAL
Perhatikan di sini apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus. Apakah yang harus kami perbuat? Jawabannya jelas sekali. Bertobat! Bertobat berarti perubahan yang menyeluruh dalam kehidupan Anda. Ini menyangkut perubahan pola berpikir yang menyeluruh. Saya telah menjelaskan hal ini sebelumnya, dalam bahasa Yunaninya adalah “metanoia” — perubahan berpikir. Seluruh sikap mengalami perubahan. Perubahan ini juga terjadi dalam arah langkah hidup Anda. Inilah yang disebut pertobatan. Pertobatan bukan hanya berarti, “Baik, saya menyesali dosa saya dan meminta maaf.” Menyesal saja belumlah cukup. Pertobatan berarti saya telah berhenti berbuat dosa. Bukan hanya penyesalan, tetapi hidup saya yang lama telah berhenti sampai di sini. Saya begitu menyesal sehingga saya mengakhiri hidup yang lama. Inilah pertobatan. Pertobatan bukan hanya sekedar penyesalan, tetapi penyesalan yang mendorong saya berbuat sesuatu. Saya akan mengubah seluruh arah hidup saya. Baik, sekarang Anda telah bertobat, lalu apakah langkah berikutnya? “Bertobatlah dan berikan dirimu dibaptis” Petrus tidak mengatakan bahwa pertobatan itu sendiri cukup. Ia berkata: bertobatlah dan berikan dirimu dibaptis.
Gereja pada masa kini telah memperlakukan baptisan dengan sesuka hati. Mereka berbuat sesuka hati mereka. Mereka memperlakukan baptisan sebagaimana mereka memperlakukan segala sesuatu yang berasal dari Allah, sama seperti cara mereka memperlakukan Yohanes Pembaptis. Yesus berkata, “Elia sudah datang, tetapi mereka tidak mengenalinya dan memperlakukannya menurut kemauan mereka” (Mat 17:12). Hari ini kita memperlakukan firman Allah, kita memperlakukan baptisan, kita memperlakukan segalanya sesuka hati kita. Kita berkata, “Oh, baptisan itu tidak terlalu penting. Itu adalah hal yang eksternal. Dibaptis atau tidak itu tidak menjadi soal.” Siapa yang mengatakan hal itu tidak penting? “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis.” Ini firman Tuhan, bukan saya. Jika firman Tuhan berkata hal ini tidak penting, saya berhak mengatakan bahwa baptisan itu tidak penting. Akan tetapi, firman Tuhan tidak mengatakan itu.
BERTOBAT, DIBAPTIS DAN MENERIMA ROH KUDUS
Mengapa baptisan itu penting? Mengapa bertobat dan dibaptis merupakan hal yang penting? “Dibaptis” itu sendiri tidaklah cukup. “Bertobat” itu sendiri pun tidak juga cukup. Anda perlu, “Bertobat, dan dibaptis“. Anda memerlukan pertobatan internal dan pengakuan eksternal akan pertobatan tersebut di hadapan umum pada baptisan. Anda memerlukan apa yang dari dalam untuk dikeluarkan dalam bentuk ekspresi — mengakui — apa yang ada di dalam hati Anda. Itulah sebabnya Yesus berkata,
Jadi, setiap orang yang mengakui Aku di hadapan manusia, Aku juga akan mengakuinya di hadapan Bapa-Ku yang ada di surga.
Ia tidak hanya berkata, “Cukuplah percaya pada aku.” Ia berkata, “Percaya padaku dan mengakui aku di depan manusia. Jika engkau mengakui aku di depan manusia, aku juga akan mengakui engkau di depan Bapaku yang di surga.” (Mat10:32). Namun, gereja berkata, “Percaya sudah cukup. Pengakuan itu tidak penting.” Anda cukup menjadi seorang pengikut Yesus secara diam-diam. Tidaklah demikian! Anda mengakui dia jika Anda ingin diakui di depan Bapa. Inilah yang penting.
Oleh sebab itu, kita perlu bertobat dan dibaptis. Kenapa kedua hal ini dianggap begitu penting? Apakah karena hal ini merupakan bagian dari peraturan gereja? Ataukah karena hal ini merupakan hal yang dilakukan pada umumnya oleh orang-orang beragama? Sekali-kali tidak. Perhatikan sekali lagi, Alkitab berkata, “maka engkau akan memperoleh karunia Roh Kudus.” Inilah jawaban sebenarnya tentang bagaimana menerima karunia Roh Kudus tersebut. Alkitab tidak memberikan kita jawaban yang kurang jelas yang membuat kita menjadi kebingungan. Semua jawabannya terpampang jelas. Bertobat, dibaptis, yaitu dengan mengakui pertobatanmu, maka engkau akan menerima karunia Roh Kudus. Bertobatlah, biarkan hidupmu diubah secara menyeluruh. Cuci bersih dosamu melalui baptisan.
Mari kita kembali ke pertanyaan semula. Kapankah kita menerima karunia Roh Kudus? Apakah gereja memberitahu Anda bahwa Anda telah menerima Roh Kudus pada saat Anda mengangkat tanganmu? Apakah Alkitab berkata demikian? Kapan Anda menerima Roh Kudus? Pada waktu Anda percaya? Apakah pada waktu Anda berlutut dan membuat pengakuan? Apakah itu saatnya Anda menerima Roh Kudus? Jawaban Alkitab begitu sederhana. “Bertobatlah… dan berilah dirimu dibaptis… maka engkau akan menerima karunia Roh Kudus itu.” Lalu berapa lamakah? Apakah Roh Kudus akan berada di dalammu sesaat setelah engkau dibaptis? Atau berapa lamakah setelah dibaptis? Apakah tiga hari sesudah baptisan? Apakah lima hari? Seminggu? Tidak! Pada baptisanlah Anda menerima Roh Kudus. Ini merupakan hal yang luar biasa. Itulah yang dikatakan firman Allah. Itulah sebabnya baptisan dianggap begitu penting di gereja awal.
Akan tetapi, apakah yang telah kita lakukan hari ini? Kita memutuskan bahwa kita lebih tahu daripada Alkitab, dan kita memperlakukan Alkitab sesuka hati kita. Tidak menjadi persoalan apakah seseorang telah dibaptis atau tidak. Saya harus berkata bahwa keberanian gereja selalu mengherankan saya. Keberanian beberapa pendeta dan penginjil kadang-kadang juga mengherankan saya. Betapa beraninya kita berbicara seperti ini ketika firman Allah mengatakan yang sebaliknya! Tentu saja bukan ini saja bukti-bukti yang ada. Kita perlu menelaah Alkitab secara lebih mendalam lagi.
ROH KUDUS SEBAGAI METERAI, PENGURAPAN DAN JAMINAN
Roh Kudus digambarkan sebagai tiga hal, atau dengan tiga cara. Pertama, ia diberikan kepada kita sebagai meterai, yaitu meterai Roh Kudus. Pada waktu kapankah kita menerima meterai tersebut? Sudahkah kita dimeteraikan oleh Roh Kudus? Karena pengajaran yang tidak jelas pada masa sekarang ini, banyak orang Kristen tidak tahu apakah dirinya telah dimeteraikan oleh Roh Kudus atau kapankah mereka menerima meterai Roh Kudus tersebut. Pada masa kini terdapat kesamaran atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Kapankah kita dimeteraikan jika kita dimeteraikan oleh Roh Kudus?
Hal yang kedua adalah Roh Kudus disebutkan sebagai suatu pengurapan. Sekarang pertanyaannya adalah: Kapankah kita menerima pengurapan dari Roh Kudus? Di sini penting sekali untuk kita mempelajari hal ini sebab jika kita tidak mengerti akan hal ini, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui bahwa kita telah diurapi atau belum?
Ketiga, Roh Kudus disebutkan sebagai jaminan, sebagai panjar, atau semacam uang muka. Topik ini pernah saya bicarakan sebelumnya, maka saya tidak akan membahasnya secara lebih mendalam. Kapankah kita menerima jaminan Roh Kudus? Kapankah Roh Kudus diberikan kepada Anda sebagai uang muka? Kita akan menyelidiki apakah yang dimaksud dengan “dimeteraikan” oleh Roh Kudus. Bukan hanya penting mempelajari kapankah kita dimeteraikan, tapi arti dari meterai itu sendiri.
Di 2 Korintus 1:21-22 kita baca,
21 Dan, Allah yang meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, dan yang telah mengurapi kita,
22 yang juga telah memeteraikan kita dan memberikan Roh-Nya dalam hati kita sebagai jaminan.
Jadi Allah telah meletakkan meterai-Nya atas kita dan meterai ini adalah Roh Kudus, yang telah diberikan-Nya kepada kita sebagai “jaminan”. Jadi, ketiga kata ini dipakai dalam dua ayat ini. Kata “mengurapi” dipakai di ayat 21. Di ayat 22, kita lihat kata “meterai” dan kata “jaminan”.
Allah telah melakukan tiga hal kepada kita pada saat Roh Kudus diberikan kepada kita. Dia memeteraikan kita. Dia mengurapi kita. Dan Dia memberikan kita ‘jaminan’, atau lebih baik ‘uang muka’, atau ‘angsuran pertama’. Ibaratnya kita membeli rumah, kita tidak membayar keseluruhannya terlebih dahulu. Anda memberikan uang muka. Dalam bahasa Yunani aslinya pun berarti “uang muka”. Uang muka adalah jaminan bahwa engkau akan membayar sisa uang yang belum dibayar. Jadi, uang muka berarti uang jaminan. Ia adalah suatu jaminan bahwa engkau akan membayar seluruhnya. Inilah intinya. Roh Kudus diberikan kepada kita sebagai karunia hidup, sebagai jaminan bahwa Allah akan memberikan kepenuhan hidup yang kekal pada Hari kita bertemu dengan-Nya muka dengan muka. Kita belum memiliki kepenuhan hidup yang kekal, tapi kita telah memiliki jaminan tersebut. Kita memiliki hidup sekarang, hidup yang memiliki janji kekekalan yang akan datang. Jika Anda diberikan sebuah benih, benih itu sendiri merupakan suatu jaminan, bahwa jika ia dipelihara ia akan bertumbuh dan berkembang sampai menjadi pohon. Inilah yang disebut sebagai jaminan.
PARA HAMBA ALLAH DIMETERAIKAN
Meterai Roh Kudus juga disebutkan di Efesus 1:13, 4:30 dan Wahyu 7:3 di mana tertulis bahwa “hamba Allah dimeterai oleh Allah”. Siapakah hamba itu? Seorang hamba adalah seseorang yang dibeli dengan sebuah harga. Bagaimana engkau dapat memiliki seorang hamba? Anda pergi ke pasar dan melihat seorang budak dan Anda membelinya. Orang ini menjadi hartamu, budakmu, dan milikmu. Pada waktu Anda membeli budak tersebut, apakah yang engkau harus lakukan? Pada zaman dahulu, mereka akan menorehkan tanda di badan budak tersebut. Mereka memberi tanda seperti mereka menorehkan tanda di badan sapi seperti yang kita lihat pada zaman ini. Meterai artinya Anda telah menjadi milik Allah. Anda telah dibeli dengan sebuah harga. Anda telah menjadi milik-Nya. Anda dikenal sebagai bagian dari milik-Nya. Seperti Paulus berkata kepada jemaat di Korintus,
Sebab, kamu telah ditebus dengan harga lunas. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1Kor 6:20)
Maka ini berarti jika Anda memiliki Roh Kudus, apakah yang akan terjadi? Ini berarti Anda telah menjadi milik Allah. Anda memiliki tanda meterai milik-Nya. Terlebih penting lagi, mengapa tanda diberikan pada seorang hamba? Tanda tersebut bukan sekedar sebagai tanda kepemilikan, tapi tanda yang berarti jika seseorang berupaya sesuatu terhadap budak tersebut berarti orang tersebut juga harus bertanggung jawab kepada tuan pemilik hamba tersebut. Apa saja yang Anda lakukan pada budak itu, Anda telah lakukan pada tuannya. Dengan kata lain, jika Anda menyakiti hamba tersebut, Anda akan bermasalah bukan dengan budak tersebut, tetapi dengan tuannya. Meterai sebenarnya di sini menjadi suatu perlindungan. Itulah intinya di Wahyu 7:3. Para hamba Allah memiliki meterai yang melindunginya dari kekuasaan si jahat. Kita akan membacanya lebih lanjut dalam kitab Wahyu bahwa penghakiman Allah tidak akan mempengaruhi mereka yang telah dimeteraikan. Barangsiapa yang membawa meterai Allah tidak akan celaka oleh Penghakiman Allah. Hal ini penting untuk kita ketahui.
Kesimpulannya, meterai secara sederhana adalah: tanda perlindungan Allah bagi mereka yang menjadi milik-Nya. Jika engkau tidak memiliki meterai tersebut berarti engkau belum menjadi milik Kristus. Engkau akan menjadi korban Penghakiman Allah atau engkau akan berada di bawah kekuasaan si Musuh. Engkau belum memiliki hubungan dengan Tuhan. Anda bukan milik-Nya. Jika Iblis hendak menguasai, memiliki, menjatuhkan engkau dengan cara apa pun, dia bebas melakukannya. Dengan kata lain, Iblis sanggup melakukan apa saja yang dikehendakinya karena engkau belum memiliki perlindungan dari Allah. Engkau belum menjadi kepunyaan-Nya.
YESUS SENDIRI JUGA DIMETERAIKAN
Seketika kita mengerti arti meterai ini, kita akan menyadari betapa pentingnya untuk mengetahui apakah kita telah dimeteraikan atau tidak. Hal ini sangat penting sekali karena Yesus pun juga dimeteraikan oleh Allah. Luar biasa bukan? Anak Allah datang ke dunia ini bukan hanya sebagai seorang anak; dia datang untuk menjadi seorang hamba. Seperti yang dikatakan di surat Filipi 2: Kristus Yesus “membuat dirinya tidak memiliki apa-apa dan menghambakan diri sebagai budak untuk menjadi sama dengan rupa manusia.” Di Yohanes 6:27, Yesus berkata bahwa dirinya telah dimeteraikan oleh Allah. Mari kita kembali ke pertanyaan: Kapankah kita dimeteraikan? Kita akan kembali bertanya: Kapankah Yesus dimeteraikan? Pada titik apa ia memperoleh meterai tersebut? Apakah Yesus dimeteraikan pada waktu ia dilahirkan? Apakah ia dimeteraikan pada waktu permulaan pelayanannya? Kapan ia dimeteraikan?
Kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan beberapa cara. Pertama-tama, kita melihat bahwa kata “dimeteraikan” selalu berkaitan langsung dengan “diurapi”, dan berikutnya berkaitan pula dengan “jaminan”. Sebentar lagi kita akan memperoleh jawabannya di manakah ia memperoleh urapan tersebut. Namun, jelas sekali kata “meterai” selalu berkaitan dengan Roh Kudus. Kapankah Yesus menerima Roh Kudus? Mari kita lihat kembali pada waktu baptisannya. Apakah yang terjadi pada waktu ia dibaptis? Roh Kudus turun ke atas tubuh Yesus berupa seekor merpati. Lalu, kita membaca di pasal berikutnya di mana dikatakan bahwa Yesus dibawa pergi dengan dipenuhi oleh Roh Kudus (Luk 4:1).
METERAI PENYUNATAN: HATI KITA TELAH DISUNAT!
Roh Kudus adalah meterai Roh. Di manakah kita menerima meterai tersebut? Mari kita melihat cara lain untuk mengupas hal ini. Di Roma 4:11, kita membaca kata “meterai” dipakai dalam proses penyunatan. Dengan cara apakah Abraham dimeterai? Dia menerima meterai yang berbeda. Dia menerima meterai penyunatan. Roma 4:11 berkata, “Abraham menerima tanda sunat sebagai meterai kebenaran yang ia miliki oleh iman, ketika ia masih belum disunat…” Jadi, sunat adalah sebuah meterai.
Ini sangat menarik karena kita pun juga telah disunat. Kita juga memiliki meterai, tetapi kita tidak disunat di dalam daging. Kita disunat di dalam hati kita. Di Kolose 2:11 kita diberitahukan bahwa
“Dalam dia, kamu juga disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh tangan manusia, tetapi dengan sunat yang dilakukan oleh Kristus, yaitu dengan memotong tubuh kedagingan yang berdosa.”
Lalu kita bertanya: Dengan apakah Yesus disunat? Jawabannya terdapat di ayat ke 12:
“Dalam baptisan, kamu dikuburkan bersama dengan Kristus, dan juga dibangkitkan bersama-sama dengan dia melalui imanmu dalam kuasa Allah yang membangkitkan dia dari antara orang mati.”
Perhatikan bahwa Rasul Paulus menghubungkan penyunatan dengan pembaptisan. Kita tidak menerima sunat daging seperti Abraham, tetapi sunat hati. Bagaimanakah bukti sunat hati itu dapat terlihat? Pada waktu kita menerima baptisan! Bukankah ini hubungan antara ayat ke 11 dan ke 12? Oleh sebab itu, kapankah kita menerima meterai lewat penyunatan ini? Paulus mengatakannya di ayat ke 12, yaitu, melalui baptisan! Lalu apakah artinya sunat dalam hati? Bagaimana sunat hati itu datang kepada kita? Kita telah mengetahuinya bahwa meterai itu sendiri adalah Roh Kudus. Jadi kita lihat ada semacam persamaan: Roh adalah meterai, yang menyunat hati kita melalui baptisan.
Lalu, apakah ini berarti kita diselamatkan oleh baptisan? Sama sekali tidak! Kita telah melihat bahwa harus ada pertobatan dan baptisan. Bukan baptisan yang menyelamatkan, tetapi apa yang diungkapkan oleh baptisan itu, yaitu sunat di dalam hati, yang menyelamatkan. Ini penting sekali. Hanya mencelupkan diri dalam air itu sendiri tidak akan menyelamatkan siapa pun. Transformasi yang terungkap melalui baptisanlah yang berarti. Itulah sebabnya setiap orang yang hendak dibaptis pada hari ini secara berhati-hati diberikan pertanyaan tentang komitmen mereka terhadap Tuhan, pertobatan, perubahan secara total dari hidup yang lama ke hidup yang baru. Pertobatan bukan hanya sekedar penyesalan, tetapi perubahan yang sungguh secara total dari kehidupan yang lama. Menanggalkan segala hawa nafsu kedagingan, seperti yang Paulus katakan, agar mereka dapat mengenakan Kristus.
BAPTISAN DAN KELAHIRAN KEMBALI DAN PEMBARUAN ROH KUDUS
Mari kita sekarang melihat hubungan antara baptisan dengan Roh Kudus. Di 1 Korintus 6:11 kita membaca sbb:
“Namun, kamu sudah dibersihkan, sudah dikuduskan, dan sudah dibenarkan dalam nama Tuan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Dan di Titus 3:5 tertulis,
“Ia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan benar yang kita lakukan, melainkan karena belas kasih-Nya melalui pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus…”
Sekali lagi kita melihat hubungan antara pembasuhan dan kelahiran kembali, permandian dan Roh Kudus. Baptisan dan Roh selalu dikaitkan bersama-sama! Permandian ini bukan sembarang permandian. Permandian ini adalah baptisan yang berkenaan dengan penyunatan di dalam hati. Siapa pun yang tidak berubah dalam hatinya, yaitu belum sungguh-sungguh bertobat, seharusnya tidak boleh menerima baptisan. Namun, bagi seseorang yang telah meninggalkan kehidupannya yang lama dan dibaptis, dia akan menerima penyunatan hati. Ia akan menerima permandian kelahiran kembali (dalam bahasa Yunani berbentuk deskriptif genetif, yaitu permandian yang mengakibatkan kelahiran kembali). Ini adalah permandian yang memberikan hidup baru. Bagaimana kita menerima hidup baru itu? Hidup baru ini datang dari Roh Kudus: pembaruan oleh Roh Kudus.
Itulah sebabnya kita membaca di 1 Petrus 3:21 kata-kata berikut. Saya memberikan semua referensi ini sekalipun sedikit merepotkan supaya Anda tahu saya bukan memberitahu Anda apa pandangan saya. Yang penting Anda tahu apa yang dikatakan Alkitab. Apa yang saya katakan tidaklah penting. Mari kita kembali ke 1 Petrus 3:21 yang tertulis demikian,
“Air bah itu melambangkan baptisan yang sekarang menyelamatkanmu. Baptisan bukan untuk membersihkan kotoran dari tubuh, tetapi merupakan permohonan kepada Allah untuk sebuah hati nurani yang murni melalui kebangkitan Yesus Kristus…”
Apakah yang menyelamatkan kita? Baptisan menyelamatkan kita. “Wah!” Engkau berkata, “itu pernyataan yang luar biasa. Baptisan menyelamatkan?” Ya! “…bukan untuk membersihkan kotoran dari tubuh” — bukan dengan mencelupkan diri ke dalam air untuk membersihkan kotoran dari Anda — “tetapi merupakan permohonan kepada Allah untuk sebuah hati nurani yang murni…” Bagaimana caranya memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah? Melalui pertobatan tentunya! Melalui pertobatan yang sungguh-sungguh di dalam hatimu!
Dalam pasal ini kita mengetahui bahwa Petrus berbicara tentang nabi Nuh dengan kapalnya sebagai kiasan. Bagaimanakah mereka dapat selamat? Banjir besar yang diakibatkan oleh hujan yang besar selama empat puluh hari empat puluh malam sehingga air di bumi naik menutupi segalanya. Inilah gambaran begitu indah untuk menjelaskan baptisan. Bagaimanakah nabi Nuh beserta dengan ke-8 orang di dalam bahtera dapat diselamatkan? Mereka selamat karena berada di dalam bahtera pada waktu baptisan air yang luar biasa banyaknya datang dari atas dan bawah. Mereka diselamatkan melalui baptisan ini. Petrus berkata bahwa hari ini kita juga diselamatkan lewat baptisan, bukan karena sekedar tubuh kita dicuci. Nabi Nuh diselamatkan karena berada di dalam bahtera dan dia telah dibaptis — mengapa? Karena tidak seperti orang-orang lainnya, Nabi Nuh bertobat dari dosa-dosanya. Dia telah berpaling dari kehidupan dosa — perhatikan kata ini — dan menaati Allah! Ini penting sekali. Dia menaati Allah. Pada waktu Tuhan Allah berkata, “Nuh, buatlah sebuah bahtera”, dia membuatnya. Pada waktu Tuhan berkata, “Nuh, masuklah ke dalam bahtera”, diapun masuk ke dalam bahtera. Nabi Nuh menyatakan pertobatannya dengan ketaatannya kepada Allah. Dengan cara inilah dia menerima baptisan. Air datang turun. Seluruh keluarganya selamat dari banjir besar. Petrus berkata di ayat ke 21, “Dengan cara yang sama, kamu telah diselamatkan.” Bagaimana? Melalui pertobatan yang berarti pemutusan dengan hidup yang berdosa, seperti Nuh memutuskan hubungan dengan dunia dosa. Dia bertobat. Dia berpaling dari dosa dan menaati Allah. Dia masuk ke dalam bahtera. Dengan cara seperti inilah, baptisan akan dapat memberikan keselamatan.
Baptisan dan Roh Kudus saling berkaitan karena Roh Kudus seringkali disebutkan sebagai suatu pencurahan, hujan yang membawa berkat, dan air yang membasahi kita. Menarik sekali di dalam kitab Yoel 2, yang dikutip pula dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus menjelaskan kepada orang banyak tentang apakah yang telah terjadi kepada mereka, yaitu tepat seperti yang telah dinubuatkan oleh Yoel: bahwa Roh Kudus akan dicurahkan atas mereka. Baptisan Roh Kudus! Inilah yang terjadi. Baptisan dan Roh selalu dikaitkan bersama-sama di dalam Alkitab. Baik pada saat Yesus dibaptis maupun dalam pernyataan umum seperti 1 Korintus 12:13 dimana Paulus berkata, “Engkau dibaptis dalam satu Roh ke dalam tubuh Kristus.” Kita lihat di sini kata “baptis” dan “Roh” setiap kali muncul bersama-sama di dalam Kitab Suci. Juga kita melihat Yohanes Pembaptis berkata dengan kata-katanya sendiri, “Aku membaptis kamu dengan air. Dia akan membaptis kamu dengan Roh.” Sangat menarik! Sekali lagi, baptisan dan Roh — kedua kata ini dikaitkan bersama. Anda menemukan karakteristik ini di dalam Perjanjian Baru.
PERBANDINGAN ANTARA BAPTISAN YOHANES DAN BAPTISAN YESUS
Mari kita melihat hal yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes membandingkan baptisannya dengan baptisan yang akan dilakukan oleh Yesus. Dia berkata, “Baptisan aku adalah baptisan pertobatan.” Dengan kata lain, apabila engkau bertobat, engkau menunjukkan pertobatanmu di muka umum melalui baptisan. Akan tetapi, pada waktu Yesus datang, dia akan membaptiskanmu dengan Roh Kudus.
Ini tidak berarti baptisan air menjadi tidak penting. Sebaliknya, di Yohanes 4:1-2 contohnya, kita melihat Yesus dan murid-muridnya membaptis lebih banyak orang daripada Yohanes Pembaptis. Mereka menjalankan baptisan dengan air. Namun, Yohanes Pembaptis berkata, “Aku membaptis engkau hanya dengan air. Aku tidak dapat memberimu hidup baru. Hanya dia dapat memberi engkau hidup baru. Yang dapat kuberikan hanyalah sebuah upacara penyucian apabila kamu bertobat. Namun, pada waktu Yesus datang, dia akan memberikanmu pencucian di batin, pencucian kelahiran kembali!” Hal ini penting untuk diamati.
KITA DIURAPI ROH KUDUS PADA WAKTU PEMBAPTISAN
Sekarang kita beralih dengan cepat ke dalam penggunaan kata “urapan”. Banyak di antara kita telah mengetahui bahwa nama “Kristus” berarti “Yang Diurapi”. Nama “Kristus” berasal dari bahasa Yunani yang sama artinya dengan nama “Messiah” dalam bahasa Ibrani, yang keduanya berarti “Yang Diurapi”. Dalam Perjanjian Baru sering disebutkan bahwa Yesus adalah Yang Diurapi. Yesus diurapi oleh Roh Kudus. Di Kisah 10:38, kita membaca,
“…kamu tahu Yesus, Orang Nazaret, bagaimana Allah mengurapinya dengan Roh Kudus dan dengan kuasa…”
Dia juga telah dimeteraikan oleh Allah seperti tertulis di Yohanes 6:27. Sekarang pertanyaannya adalah kapankah Yesus diurapi dengan Roh Kudus? Sebelum menjawab pertanyaan ini, jangan lupa kita pun telah diurapi oleh Roh Kudus seperti yang kita bahas sebelumnya di 2 Korintus 1:21. Selain itu 1 Yohanes 2:20 juga menyebutkan, “kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus.” Rasul Yohanes berkata kepada orang-orang percaya bahwa mereka telah diurapi. Dia mengulanginya di 1 Yohanes 2:27, di mana kita menemukan bahwa urapan yang kita peroleh ini adalah Roh Kudus. Kita diurapi dengan Roh Kudus yang berasal dari Allah. Roh Kudus inilah yang mengajarkan kita, dan membimbing kita ke jalan kebenaran (Yoh 16:13).
Sekali lagi, kapan kita menerima pengurapan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang penting. Apakah engkau sudah diurapi dengan Roh Kudus sebelum menerima baptisan? Apakah Anda diurapi Roh Kudus pada suatu waktu yang tak ditentukan setelah baptisan? Jika demikian tentu saja Anda tidak tahu kapan Anda diurapi. Ataukah engkau diurapi pada waktu dibaptis? Sekali lagi, baptisan Yesus menjawab semua pertanyaan kita. Kapankah Roh Kudus datang ke atas diri Yesus? Kapan Roh Kudus secara kasat mata terlihat turun ke atas Yesus? Jawabannya sangat sederhana, yaitu pada saat ia menerima baptisan.
PEKERJAAN ROH KUDUS SEBELUM DAN SESUDAH BAPTISAN
Jika demikian apakah itu berarti Yesus tidak memiliki Roh Kudus sebelum ia dibaptis? Tentu saja tidak. Roh Kudus telah ada di dalam Yesus sebelum ia dibaptis. Apakah kita tidak memiliki Roh Kudus dalam pengertian apa pun sebelum dibaptis? Tidak, karena jika kita tidak memiliki Roh Kudus dalam pengertian tertentu sebelum dibaptis, bagaimana mungkin kita dapat bertobat? Tentu saja Roh Kudus telah bekerja di dalam hati dan hidup kita untuk membimbing kita menuju pertobatan. Kalau begitu, jika benar kita telah memiliki Roh Kudus sebelum dibaptis, maka apa yang kita bahaskan? Yang kita tekankan di sini adalah urapan-Nya, bukan tentang memiliki Roh Kudus dalam pengertian lain. Kita berbicara tentang Roh Kudus dalam pengertian yang spesifik. Kita harus membedakannya dengan jelas di sini. Kecuali Roh Kudus bekerja dalam kehidupan Anda sebelum Anda menjadi Kristen, bagaimana mungkin Anda dapat menjadi Kristen? Tentu saja Roh Kudus telah bekerja di dalam hidup Anda, barangkali sejak masa kanak-kanak Anda. Bahkan ia telah bekerja pada hari engkau dilahirkan. Roh Kudus terus menerus bekerja di dalam hidup kita pada waktu kita belum menjadi seorang Kristen, dan masih menjadi musuh Allah.
Jika saya melihat ke belakang, saya dapat melihat betapa Tuhan telah bekerja di dalam hidup saya jauh sebelum saya percaya. Pada kenyataannya jika Tuhan tidak bekerja di dalam hidup kita, tidak mungkin kita dapat percaya kepada-Nya. Kita bukan berbicara tentang kehadiran Roh Kudus dalam setiap hidup kita dalam satu cara atau yang lain. Penekanannya di sini adalah apakah engkau telah menerima Roh Kudus sebagai karunia, sebagai hak milik, sebagai tanda dan sebagai meterai, dan bukan arti umumnya. Dengan kata lain, kita dapat berkata bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan orang-orang yang tidak percaya. Jika ayah atau ibumu bukanlah seorang Kristen pada hari ini, doa semacam apakah yang akan engkau panjatkan? Engkau akan berdoa bahwa semoga Allah, dengan kuasa Roh Kudus-Nya akan bekerja di dalam hidup mereka. Bukankah itu yang Anda doakan? Dengan demikian engkau yakin bahwa Roh Kudus akan hadir di tengah-tengah hidup mereka meskipun mereka belum menjadi Kristen. Saat engkau mengakui Yesus, Roh Kuduslah bekerja di dalam hidupmu. Tanpa Roh Kudus, mustahil kita dapat datang kepada Kristus sama sekali.
Kita tidak bicara mengenai hal ini, tetapi kita bicara mengenai meterai. Kapankah kita dimeteraikan oleh Roh Kudus? Maksud saya bukan kapan Roh Kudus menarik Anda. Bukan kapan Roh Kudus menginsafkan Anda akan dosa. Bukan kapan Roh Kudus bekerja dalam kehidupan Anda. Tapi kapankah kita menerima Roh Kudus sebagai hak milik dan karunia dari Allah? Kapankah kita dimeteraikan oleh Roh Kudus? Menurut Kisah 5:32, bagaimana kita menerima Roh Kudus? Kepada siapakah Allah memberikan kuasa Roh Kudus-Nya?
Dan, kami adalah saksi-saksi dari semua ini, dan demikian juga Roh Kudus, yang telah Allah berikan kepada orang-orang yang menaati-Nya.”
Di ayat ini tertulis bahwa Roh Kudus hanya diberikan kepada mereka yang taat kepada Dia. Lalu Anda akan bertanya, “Jika Roh Kudus diberikan hanya kepada orang yang taat kepada-Nya, lalu bagaimana mungkin seseorang dapat menjadi Kristen? Karena mereka yang tidak menaati Dia tidak memiliki Roh Kudus, mereka tidak dapat berubah kecuali mereka dapat menyelamatkan diri mereka tanpa kuasa Roh Kudus.” Janganlah kita membingungkan diri kita sendiri. Kita sudah katakan bahwa Roh Kudus bekerja di dalam diri orang-orang yang tidak percaya tanpa pengecualian, tetapi ia tidak diberikan kepada mereka. Roh Kudus diberikan kepada mereka yang menaati Dia sebagai karunia, sebagai jaminan, sebagai meterai atau sebagai suatu pengurapan dalam cara yang khusus.
Tidak ada seorang pun di sini yang akan dibaptis pada hari ini kecuali Roh Kudus bekerja sebelumnya di dalam hidup mereka, bukan? Kecuali kita ingin mengajarkan doktrin keselamatan berdasarkan perbuatan di mana mereka yang bekerja keras untuk mencapai posisi ini, dan sekarang mereka akan menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan sekarang, setelah mereka dibaptis, mereka akan menerima Roh Kudus. Sebelumnya, semuanya terserah mereka sendiri. Betulkah demikian? Tentu saja tidak. Sampai saat ini juga, Roh Kudus yang bekerja di dalam diri mereka. Jadi mereka mengalami Roh Kudus bekerja dalam kehidupan mereka, benar! Lalu apa gunanya mengatakan bahwa Allah memberikan Roh Kudus hanya kepada mereka yang taat kepada-Nya, karena mereka memiliki Roh Kudus bahkan sebelum mereka menaati Dia? Saya ulangi kembali pertanyaan ini untuk memperjelas pikiranmu sehingga engkau dapat mengerti. Ketika dikatakan bahwa, “Roh Kudus, dikaruniakan kepada semua orang yang menaati Dia”, itu berarti Ia memberikan Roh itu sebagai suatu karunia, sebagai kegenapan janji-Nya. Engkau tidak akan menerima janji Allah sampai engkau taat kepada-Nya. Inilah sesuatu hal yang penting yang perlu kita pahami.
DIURAPI BERARTI DIBERIKAN OTORITAS OLEH ALLAH
Kita akhirnya sampai pada pertanyaan terakhir. Kita tahu apa artinya meterai itu; yaitu engkau dinyatakan sebagai milik Allah. Kapankah kita menjadi milik Allah? Pada waktu kita menerima Roh Kudus! Apakah itu berarti karena Anda telah memiliki Roh Kudus sebelum engkau percaya engkau telah menjadi bagian dari milik Allah? Tidak! Karena Roh Kudus hanya bekerja di dalam dirimu, tetapi engkau belum dimeteraikan oleh Roh Kudus. Lalu apakah yang dimaksud dengan pengurapan? Apa artinya pengurapan itu? Nah, ini maknanya: di Israel hanya raja-raja dan para imam yang diurapi. Mengapa? Apakah itu hanya sekedar upacara keagamaan saja? Tidak sama sekali. Pengurapan mewakili pemberian otoritas dari Allah kepada orang-orang tersebut. Seorang Raja tidak akan memiliki kekuasaan kalau belum diberikan oleh Allah sendiri. Ingatkah apakah yang pernah disampaikan Yesus kepada Pilatus? “Engkau tidak akan memiliki kuasa jika tidak datang dari atas.” Raja-raja Israel bukan seperti raja-raja dunia lainnya; mereka adalah wakil dari Allah di Israel. Itulah sebabnya mereka harus diurapi langsung oleh Allah, yang berarti diberikan mandat. Mereka tidak berhak mengurapi dirinya sendiri. Melalui pengurapan tersebut mereka diberitahu bahwa mandat ini diberikan sendiri oleh Allah. Sama halnya dengan para imam, terlebih lagi imam besar. Dia diurapi untuk menyatakan bahwa dirinya adalah imam besar, bukan karena dia adalah orang yang hebat, atau memenangkan pilihan suara terbanyak; barangkali tidak ada yang memilih dia; itu tidak menjadi persoalan. Dia ditunjuk sebagai imam besar karena Allah telah mengangkat dia. Pengurapan ini menunjukkan bahwa dia telah menerima panggilan ini, mandat dari Allah ini. Ingat bahwa panggilan itu juga disebut di Kisah Para Rasul 2:38.
Para nabi juga menerima Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena tanpa kuasa Roh Kudus mereka tidak akan mempunyai mandat untuk bernubuat. Engkau tidak dapat bernubuat tanpa Roh Allah. Roh Allahlah, seperti yang tertulis di dalam Alkitab, yang membuat para nabi mampu bernubuat, menyatakan kehendak Allah, atau memberitahukan hal yang akan terjadi, jika Allah mengizinkan mereka untuk berbicara. Itulah sebabnya di Yesaya 61:1-2, terutama ayat 1, nabi ini berkata, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara.” Lalu apakah pengurapan itu? Roh Kudus adalah pengurapannya, pengurapan nabi itu yang membuat dia dapat menyampaikan Injil tersebut. Yesus mengutip kata-kata ini di Lukas 4:18 dari Yesaya ini di mana ia berkata, “Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus aku.”
Lalu kapankah Yesus mengutip kata-kata ini seperti yang tertulis di Injil Lukas? Pada waktu ia berada di Bait Allahkah pada waktu berumur 12 tahun? Tidak. Ia mengutip kata-kata tersebut sesaat setelah ia selesai dibaptiskan. Kapan Yesus diurapi? Pada baptisannya! Di saat itulah ia diurapi – pada waktu Roh Kudus turun ke atasnya. Itulah sebabnya segera sesudah baptisannya, Yesus mengucapkan kata-kata tersebut. Atau lebih tepat, segera sesudah baptisan dan pencobaan – baptisan dulu dan kemudian pencobaan. Tetapi hal pertama yang ia lakukan, setelah dibaptis dan kembali dari pencobaan adalah mengumumkan bahwa: “Aku telah diurapi untuk menyampaikan Kabar Baik.” Lalu ia segera memulai pelayanannya karena ia telah memperoleh pengurapan tersebut.
Sekarang kita melihat gambaran ini semakin jelas. Kapan kita menerima urapan Roh Kudus? Pada baptisan – sama seperti Yesus. Sebelumnya ia telah memiliki Roh Kudus, namun sekarang ia telah diurapi untuk menyampaikan Injil. Dari situlah ia memulai pelayanannya. Dia tidak menyampaikan Kabar Baik sebelum diurapi. Dia tidak menyampaikan Kabar Baik sebelum dibaptis. Akan tetapi setelah itu dia diurapi untuk menerima tugasnya, disitulah pelayanannya dimulai.
Hal-hal ini amat menakjubkan. Saya harap Anda dapat melihat hubungan antara perkataan “baptisan” dan “Roh.” Karena hubungan inilah, kita lalu melihat hubungan antara pemeteraian, Roh dan baptisan. Demikian pula antara pengurapan dengan Roh dan baptisan; dan antara jaminan dengan Roh dan baptisan. Saya harap Anda sudah dapat mengerti betapa pentingnya baptisan itu. Seperti Rasul Petrus katakan, bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, tetapi sebagai ungkapan pertobatan dari batin untuk memohon hati nurani yang bersih di hadapan Allah melalui kebangkitan Yesus Kristus, yang menjadikan pertobatan berarti. Jika Yesus tidak pernah bangkit dari kematiannya, maka tidak ada gunanya bertobat. Kita bisa bertobat, tapi dari manakah pengampunan dosa itu? Dimanakah kita dapat menemukan kekuatan untuk hidup baru? Melalui kebangkitannya kita diberikan kuasa untuk menjalani hidup baru itu.
DUA PENGECUALIAN DARI PRINSIP UMUM
Saya ingin menunjukkan kepada Anda bahwa Kisah Para Rasul 2:38, adalah suatu prinsip umum. Perhatikan bahwa ini adalah prinsip umum, karena Allah dapat memberikan Roh Kudus sebelum baptisan jika Ia berkehendak, ataupun sebaliknya, Ia dapat memilih untuk memberikan Roh Kudus setelah baptisan. Namun sebagai suatu peraturan umum, Dia memberikan Roh Kudus pada waktu baptisan. Saya ingin menyinggung butir terakhir ini karena ini hal yang penting. Allah sepenuhnya berdaulat dan bebas. Dia bisa memberikan Roh Kudus kapan saja. Namun sebagai suatu peraturan umum, Ia memberikan Roh Kudus pada baptisan.
Sebagai contoh, ada satu peristiwa di dalam Kitab Suci, di dalam keadaan yang sangat khusus, di mana Ia memberikan Roh Kudus sebelum baptisan di Kisah Para Rasul 10:47. Dan ada satu peristiwa lain di mana Ia memberikan Roh Kudus setelah baptisan di Kisah Para Rasul 8:12-17. Untuk menyempurnakan pembahasan kita, maka saya menyinggung dua perikop ini. Dua kejadian ini merupakan dua peristiwa yang khusus dalam sejarah gereja. Namun jangan menggunakan dua pengecualian ini untuk menyatakan bahwa pengecualian tersebut membuktikan bahwa peraturan itu tidak ada. Sebagaimana kita tahu, kedua pengecualian tersebut, pada kenyataannya, membuktikan peraturan itu.
Pertama, Roh Kudus diberikan sebelum baptisan. Mengapa? Karena Kornelius bukan orang Yahudi dan orang-orang Yahudi enggan menerima orang bukan Yahudi untuk masuk ke dalam gereja. Begitu beratnya sampai Petrus harus memberikan penjelasan yang panjang kepada jemaat di Yerusalem mengapa ia membaptiskan orang-orang tersebut. Dan dia berkata, “Seperti engkau tahu, ketika aku masih berkhotbah, Allah mencurahkan Roh Kudus kepada mereka. Oleh sebab itu, aku tidak mempunyai pilihan lain selain dari membaptis mereka.” Seolah-olah dia ingin berkata, “Aku sesungguhnya tidak mau membaptiskan mereka, sungguh, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain.” Inilah situasi yang terjadi pada Gereja Awal di mana terdapat penolakan untuk menerima orang-orang bukan Yahudi untuk masuk ke dalam gereja.
Dalam kasus yang lain, justru terjadi hal yang sebaliknya. Pada waktu orang Kristen Samaria dibaptis terlebih dahulu, tetapi mereka tidak menerima Roh Kudus. Mengapa demikian? Sekali lagi, hal ini bersangkutan dengan situasi yang terjadi antara orang Samaria dengan orang Yahudi. Dan Allah, dalam hal ini, memaksa gereja di Yerusalem untuk pergi dan menerima kaum Samaria yang mereka benci sekali. Mereka sendiri menerima orang-orang Samaria tersebut ke dalam persekutuan. Oleh sebab itu, walaupun mereka telah bertobat dan dibaptis, gereja di Yerusalem diperintahkan untuk pergi dan memastikan bahwa mereka menerima kaum Samaria ke dalam persekutuan melalui karunia Roh.
Jadi kedua pengecualian ini menjelaskan 1) bahwa Allah memiliki kebebasan untuk memberikan Roh sebelum atau setelah baptisan. Dan 2), untuk menunjukkan bahwa sebagai prinsip dasar, Roh diberikan pada waktu baptisan seperti yang kita telah lihat dari ayat-ayat lain. Sekali lagi saya ulangi, bukan karena air atau baptisan itu sendiri yang memiliki kekuatan untuk membersihkan dosa, tetapi karena ketaatan yang diungkapkan oleh baptisan, baik pertobatan di dalam maupun ketaatan di luar terhadap perintah Yesus. Dia memerintahkan kita untuk dibaptis: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Yesus memerintahkan baptisan. Apabila Anda melakukannya, Anda menaati dia.