Ev. Xin Lan | Kejadian 6-9 | 

 

Siapakah Nuh?

Tokoh yang akan kita pelajari hari ini adalah Nuh. Di dalam Alkitab, dia adalah tokoh yang paling dikenal di generasinya. Dia melewati penghakiman dari Allah yang belum pernah terjadi lagi sejak itu sampai sekarang. Pada waktu itu, keadaan manusia sudah sangat rusak di hadapan Allah. Bumi penuh dengan kejahatan. Allah Yahweh menyesal karena telah menciptakan manusia. Karena itu Dia mencurahkan air bah ke atas bumi. Semua yang hidup di bumi tersapu habis. Hanya Nuh saja orang yang benar, manusia yang sempurna, maka Allah menyelamatkan dia dan keluarganya yang berjumlah delapan orang. Mereka diizinkan masuk ke dalam bahtera dan bertahan hidup.

Hingga hari ini, sesuai dengan beberapa penemuan penelitian, ada cerita sejarah atau cerita rakyat yang diturunkan dari zaman kuno pada banyak ras di dunia, yang secara kebetulan membicarakan tentang manusia yang mengalami bencana air bah. Hanya nenek moyang mereka yang naik sebuah perahu yang besar ataupun lewat cara ajaib lainnya, akhirnya selamat dari bencana. Sekarang ini kita semua adalah keturunannya Nuh. Selain Adam kita dapat berkata bahwa Nuh adalah nenek moyang kita. Jadi Nuh adalah seorang yang sangat istimewa.

Nuh adalah generasi ke sepuluh dari Adam. Dia adalah keturunan dari Set dan anak dari Lamekh. Dengan demikian, mulai dari Kejadian sampai Zaman Nuh, manusia telah memperanakkan 10 generasi. Jika kita menghitung sesuai dengan informasi yang ada dalam Kejadian pasal 5, hidup manusia sudah berlangsung selama 1056 tahun pada masa Lamekh memperanakkan Nuh. Itu jumlah penduduk yang banyak. Mari kita pikirkan tentang orang Israel yang berdiam di Mesir selama 430 tahun. Kemudian mereka dipaksa Firaun untuk melakukan kerja paksa dan menjadi budak, terlebih lagi bayi laki-laki mereka juga tidak diizinkan untuk hidup. Meskipun demikian, ketika waktunya tiba bagi mereka untuk meninggalkan Mesir, jumlah populasi Israel telah bertumbuh menjadi satu sampai dua juta. Semuanya itu bermula hanya dari 12 putra keturunan Yakub. Pada zaman Nuh rentang hidup manusia sangat panjang, mereka semua hidup sampai 800-900 tahun. Di masa hidup mereka, mereka dapat melahirkan banyak anak. Zaman dulu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Kita punya berbagai macam penyakit dan kecelakaan namun tidak demikian di waktu dulu. Jadi tingkat kelangsungan hidup manusia pada zaman itu sangat tinggi. Secara keseluruhan terdapat jumlah penduduk yang banyak pada masa itu.

Ayah dari Nuh adalah Lamekh, dia sangat jelas seorang yang takut Allah dan yang mencari Allah. Karena pada saat Nuh lahir, dia berkata, “Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN.” Jadi , nama “Nuh” itu berarti isitirehat dan penghiburan. Lamekh berharap mendapatkan penghiburan dari Allah melalui anak ini.

Pada masa kecil Nuh, dia belajar banyak dari ayahnya tentang Allah. Karena itu, dia dapat terus mencari Allah dan dan menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah. Alkitab berkata dia  berjalan bersama Allah dan dia adalah seorang yang benar. Dia tidak bercela di zamannya. Dan seperti apakah generasi yang ada di zamannya?

 

Nuh diberi Tugas oleh Yahweh

Alkitab berkata

“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. (Kejadian 6:5-8)

Tetapi hanya Nuh yang mendapat kasih karunia di Yahweh, Allah ingin menyelamatkan dia dan keluarganya. 

Setelah Nuh berumur 500 tahun, Allah berkata kepada Nuh :

“Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.” (Kejadian 6:13-21)

Jadi, Nuh mulai membangun bahtera sesuai dengan perintah dari Allah, 300 hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. “Hasta” setara dengan 0.5 meter, jadi bahtera ini panjangnya 150; lebarnya 25 meter; dan tingginya 15 meter. Itu setara dengan panjang bangunan tiga lantai sekarang ini. Untuk ukuran seorang manusia, ini adalah satu proyek yang sangat besar. Seluruh waktu dan tenaganya dia habiskan untuk membangun bahtera ini.

Kita tidak tahu berapa tahun yang dibutuhkan Nuh untuk membangun. Namun waktu seratus tahun berlalu sejak waktu dia mulai membangun sampai akhirnya dia masuk ke dalam bahtera itu. Alkitab berkata Nuh mempunyai tiga 3 orang anak laki-laki ketika dia berumur lima ratus tahun, kemudian hal pembangunan bahtera itu disebut. Pada saat banjir datang, Nuh tepatnya berumur enam ratus tahun. Jadi kita memperkirakan bahwa pembangunan itu membutuhkan seratus tahun. Itu sungguh suatu jangka waktu yang sangat panjang.

Akhirnya hari itu tiba, Allah berkata kepada Nuh,

“Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.” (Kejadian 7:1-4)

Nuh membawa istrinya, 3 orang anak-anak lelakinya dan istri-istri mereka, dan tentu saja, semua jenis hewan ke dalam bahtera sesuai dengan petunjuk dari Allah. Nuh harus mengatur mereka ke dalam ruangan yang berbeda. Setelah semua beres, Allah menutup mereka dalam bahtera dan banjir pun datang.

“Pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit” (Kejadian 7:12).

Arus air begitu deras dan besar, ketinggian air terus naik dan bahtera Nuh terapung-apung di atas air. Mungkin awalnya manusia dan hewan dapat berlari ke puncak gunung. Namun akhirnya seluruh gunung juga tertutup oleh banjir. Ketinggian air menjulang tinggi sampai 15 hasta atau 7.5 meters lebih tinggi dari gunung yang tertinggi. Maka, semua manusia dan mahluk hidup di bumi tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Banjir terus melanda selama 150 hari. Semua manusia, binatang buas, hewan, serangga di bumi dan burung di udara tersapu bersih. Hanya bahtera Nuh satu-satunya yang sendirian berkeliling di dunia yang sedang kebanjiran.

Penghakiman di zaman Nuh berlangsung selama satu tahun penuh. Ketika Nuh keluar dari bahtera, dia telah berusia 601 tahun. Allah memberitahu dia, “Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” Maka, Nuh dan seluruh keluarganya keluar dari bahtera itu. Seluruh binatang di dalam bahtera juga keluar. Bumi telah berubah menjadi baru. Orang-orang lama dan semua hal yang lama sudah berlalu, kini semua sudah seperti baru lahir. 

 

Karena Nuh, Allah berjanji untuk tidak memusnahkan Bumi

Hal yang pertama yang Nuh lakukan adalah datang di hadapan Allah, membangun sebuah mezbah untuk Yahweh, dia membawa segala jenis binatang yang tidak haram dan burung-burung, membawanya ke mezbah dan mempersembahkannya sebagai korban bakaran untuk memuji Allah dan mengucap syukur kepada-Nya. Ketika aroma korban persembahan itu naik ke surga, dan Yahweh mencium aroma yang harum, Dia berkata di dalam hatinya :

“Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:21-22)

Karena seorang manusia, Nuh, Allah telah memberkati seluruh manusia dan seluruh makhluk di muka bumi. Allah berkata,

“Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. (Kejadian 9:1-5)

Allah kemudian membuat perjanjian dengan Nuh dan dengan semua makhluk dibumi,

“bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.” (Kejadian 9:11-17)

Hingga saat ini, kita masih dapat melihat pelangi. Dan manusia sudah bertambah banyak selama beberapa ribu tahun dan belum ada banjir yang mendunia yang menghapus segala sesuatu. Karena Allah, Yahweh, telah membuat perjanjian dengan kita, Dia tidak akan menghapus kita dengan banjir, ini karena Allah berkenan kepada Nuh, karena Dia memberkati keturunan Nuh yaitu kita. Dalam kata lain, kita dapat bertahan sampai sekarang itu karena leluhur kita, Nuh. 

 

Dapatkah kita bertahan seperti Nuh di tengah Kejahatan & Kecaman Dunia?

Melihat cerita tentang Nuh, apa yang Anda rasakan? Apa yang dapat kita pelajari dari dia? Satu hal yang sangat khusus, yaitu di masa itu, kejahatan manusia di bumi begitu besar. Orang-orang di sekelilingnya semuanya jahat. Mereka semua melakukan kejahatan, semua berbuat dosa. Sebelumnya kita sudah sebutkan bahwa pada masa itu populasi dunia sudah sangat besar. Tetapi hanya Nuh yang dapat mempertahankan kebersihan tangannya dan kemurnian hatinya. Dia tidak terpengaruh oleh kejahatan apapun dan bersikeras untuk menjadi seorang yang benar, menjadi seorang yang sempurna serta menjalani hidup seperti yang dikehendaki Allah. Inilah hal yang istimewa dari hidup Nuh.

Ketika saya membagikan Injil kepada beberapa teman, banyak dari mereka mempunyai pandangan seperti ini: “Oh, Anda tidak tahu keadaan masyarakat sekarang, bagaimana Anda dapat bertahan di dunia jika kita harus hidup kudus dan tidak dapat melakukan ini dan itu setelah menjadi seorang Kristen. Kita harus sedikit berbohong sekalipun melawan hati nurani. Jika Anda ingin sesuatu beres, Anda tidak akan mendapatkannya jika melakukannya sesuai yang dengan aturan. Perkara Anda akan dibuang ke selokan. Jadi kita harus memberikan sedikit imbalan, maka semuanya akan segera selesai. Tetapi jika saya memohon bantuan pada orang lain, orang lain juga akhirnya harus memohon bantuan dari saya agar masalah mereka rampung. Jadi itu keadaan yang saling menguntungkan. Jika Anda tidak menggunakan wewenang Anda, maka Anda akan kehilangannya. Kita ini berteman, kita harus saling membantu. Jadi, jika saya adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) saya punya tanggung jawab untuk menyetujui beberapa dokumen. Maka saya hanya akan menolong teman dan kerabat saya. Sementara yang lain harus menunggu sampai entah kapan. Jika saya seorang dokter, tentu saja teman baik dan kerabat saya yang berkonsultasi dengan saya akan membayar lebih sedikit biaya pengobatan atau malah gratis. Jika saya menjadi guru, maka saya akan membiarkan anak yang orang tuanya banyak memberi saya hadiah untuk anak-anak mereka menjadi ketua kelas. Masih ada lagi, jika bos saya secara langsung meminta saya untuk melakukan sesuatu yang bersifat pribadi, apakah saya berani untuk menolak? Jika saya tidak melakukannya maka saya hanya tinggal menunggu untuk mendapat akibatnya. Secara umum, semua orang melakukan dengan cara yang demikian. Masyarakat memang seperti itu, kalau tidak, bagaimana kita dapat bertahan? Kecuali Anda tidak perlu makan? Maaf, apa yang dikatakan Alkitab itu tidak berlaku dan tidak praktis. Atau tunggu saya pensiun dulu barulah saya dapat mencari Tuhan.”

Dapat kita bayangkan, betapa banyak kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi oleh Nuh! Betapa banyak komentar sinis dan ejekan yang harus ditanggungnya. Secara tepatnya karena kita mencari Allah, kita hidup sesuai dengan kehendak Allah, orang lain akan mengejek kita. Dari mulut beberapa orang Kristen, saya mendengar cerita mereka: Seorang saudara , ketika dia berdiam dan mengucap syukur kepada Allah untuk makanan di hadapannya, keluarganya mengejek dia. “Saya yang membeli beras, saya yang memasak, mengapa Anda berterima kasih kepada Allah?”

Seorang saudari, setiap hari Senin ketika dia masuk kerja, rekan-rekannya akan bertanya, bagaimana Anda menghabiskan hari Minggu Anda? Anda pergi ke mana untuk bersenang-senang? Saudari ini akan selalu menjawab: Saya pergi ke gereja. Seiring waktu, mereka tidak lagi bersusah-susah menanyainya. Dan dari waktu ke waktu mereka akan membuat pernyataan-pernyataan sinis kepadanya dengan memanggilnya orang orang kudus yang ke gereja setiap hari minggu dan tidak ke mana-mana.

Ada lagi seorang saudari, pekerjaannya berhubungan dengan ramalan cuaca, pernah sekali ada kesalahan dalam laporannya tentang cuaca. Sebenarnya hal ini adalah hal yang umum terjadi,  karena ada banyak faktor yang mempengaruhi laporan. Entah peralatan tersebut cukup akurat atau tidak, apakah data yang diberikan pengamat dapat diandalkan atau tidak, apakah perubahan arus udara besar atau tidak, dll. Orang-orang hanya dapat memberikan perkiraan berdasarkan data-data yang ada, jadi kesalahan ramalan bisa saja sering terjadi. Tetapi karena dia seorang Kristen, beberapa rekan akan memberikan komentar yang sinis padanya: Bukankah Anda orang yang percaya kepada Tuhan? Kenapa Allah Anda tidak menolong Anda untuk mengubah sedikit cuacanya? Apapun yang Anda laporkan, Allah bisa mengubah cuaca sesuai laporan Anda, maka semuanya akan baik-baik saja, bukan?

 

Tekanan untuk Berkompromi sangatlah Besar

Justru karena kita mencari Allah dan hidup kudus sesuai dengan kehendak Allah, maka orang-orang di sekeliling kita akan mengata-ngatai kita dengan sinis. Sama seperti ketika orang berkata-kata sinis kepada Yesus ketika dia berada di atas kayu salib, semua orang yang lewat menghujat dia, “Hai engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-mu jikalau engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan dia dan mereka berkata: “Orang lain ia selamatkan, tetapi dirinya sendiri tidak dapat ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadanya. Ia menaruh harapannya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan dia, jikalau Allah berkenan kepadanya! Karena ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama juga turut mencelanya.                 

Jadi, dapat kita bayangkan betapa banyak serangan dan kata-kata tajam yang harus dihadapi Nuh sebagai seorang yang benar dan sempurna. Semua orang di sekelilingnya telah rusak, hanya dia yang tidak mengikuti gaya hidup di zaman itu. Semua orang akan mengolok dia sebagai seorang yang aneh yang mengabaikan pendapat orang lain dan hanya melakukan apa yang sesuai dengan kemauannya sendiri. Ketika Anda berbeda dari orang lain dan khususnya berbeda dari semua orang, maka Anda akan dianggap sebagai makhluk asing. Orang lain akan mendapati Anda itu adalah orang yang tidak dapat dimengerti dan dipahami.

Tidak ada orang yang mau menjadi makhluk asing atau alien. Kita semua berharap agar dapat dimengerti, diterima dan menjadi sama seperti orang lain. Ini adalah hal yang alamiah. Tetapi yang ada di depan kita adalah dua jalan yang berbeda dan dua tujuan hidup yang berbeda, bagaimana keduanya dapat bekerja sama dan saling menerima? Satu-satunya cara adalah dengan berkompromi, Anda menyembah Allah saya, saya juga akan menyembah Allah Anda, ini merupakan jalan keluar terbaik. Inilah dosa orang Israel yang sering mereka lakukan di sepanjang zaman Perjanjian Lama. Mereka menyembah Yahweh dan di waktu yang bersamaan juga menyembah dewa-dewa dari masyarakat setempat. Sepertinya mereka tidak kehilangan apapun dan keduanya seolah-olah saling memberi dan menerima. Tetapi di mata Yahweh, kita sudah jatuh ke dalam dosa karena kita tidak hanya menyembah hanya kepada satu Allah. Seringkali kita tidak dapat mengerti kenapa Israel sering melakukan dosa penyembahan berhala? Bukankah mereka mengenal Yahweh? Tidakkah mereka sudah mengalami kebesaran Yahweh? Mengapa mereka masih menyembah berhala? Sebenarnya mereka ingin berkompromi dengan orang-orang setempat. Mereka ingin bekerjasama, agar dapat di terima. Kedua pihak saling mengambil langkah mundur, kedua belah pihak akan menjadi senang, kenapa tidak?

 

Sudahkah kita Berkompromi?

Di Perjanjian Baru, Yesus memberi kita peringatan, jangan menyembah Allah dan juga menyembah mamon yang adalah uang. Tetapi sekarang ini, apakah kita sudah memilih untuk berkompromi? Kita saling mengambil langkah mundur supaya kita tidak akan begitu berbeda dengan yang lain dan tidak akan disalah-pahami oleh orang lain. Semuanya senang, bukankah ini lebih baik? Kita datang berkumpul bersama untuk mendengarkan kotbah di hari Minggu; serta datang ke Pendalaman Alkitab. Saya masih memberikan persepuluhan dari penghasilan saya bahkan terkadang lebih dari sepuluh persen. Tetapi di hari-hari biasa ketika saya fokus pekerjaan saya, saya tidak mau memikirkan yang lain. Saya tidak ingin ada banyak hal yang mengatur dan menghalangi saya. Pekerjaan adalah pekerjaan. Tuhan dan pekerjaan adalah dua dunia yang berbeda. Itulah alasan mengapa kita tidak bercahaya untuk Allah di dalam dunia ini. Bahkan orang-orang di sekitar kita benar-benar tidak tahu kalau kita adalah orang Kristen.

Saya ingat saya pernah mendengar cerita seorang Kristen. Dia berkata, “Dalam satu kesempatan, saya mengetahui bahwa salah satu teman bisnis saya juga adalah orang Kristen, lalu saya berkata, ‘Oh! Anda adalah orang Kristen, saya juga!’ Dan orang itu berkata, ‘Apa? Kamu juga? Bagaimana saya bisa tidak mengetahuinya?'”  Kalimat ini sangat mengejutkannya, dan dia merasa sangat terganggu.

Jadi, kita adalah orang Kristen yang bagaimana? Apakah kita orang yang berkompromi? Kita tidak dapat melihatnya di permukaan. Kemungkinan kita masih sangat aktif di gereja tetapi kita tidak berbeda dengan orang-orang duniawi. Orang-orang sungguh tidak melihat kehidupan kita sebagai seorang Kristen. Kita tidak menonjol dan menjadi terang, karena itu, tentu saja kita tidak akan menderita, kita juga tidak akan diolok dan dihujat. Pada umumnya kita telah menjadi seperti yang lain, tidak ada bedanya kita dengan masyarakat di sekitar kita.

Dua tahun yang lalu, China menangani kasus penyelundupan yang serius. Saya melihat satu laporan berita yang mengutip perkataan salah satu anggota, orang ini adalah seorang petugas bea cukai. Dia berkata, “Saya menemukan penyelundupan barang, tetapi saya tidak ada jalan lain, saya harus membiarkannya lolos. Karena Kepala bea cukai memerintahkan untuk meloloskannya, lalu apa yang harus saya lakukan? Jika saya katakan tidak, Kepala bea cukai akan memberi saya banyak masalah, saya sangat takut kehilangan pekerjaan baik saya.” Pada waktu itu hampir semua pegawai bea cukai terlibat dalam kasus penyelundupan ini. Jika dia memilih untuk tidak berdosa, maka harganya adalah dia harus berhadapan dengan Kepala bea cukai dan para koleganya. Bahkan dia akan kehilangan pekerjaannya yang baik ini. Dia tidak rela, dia tidak rela untuk dianiaya oleh dunia bea cukai yang kecil ini. Dia juga tidak rela kehilangan seluruh keuntungan yang ditawarkan. Jadi dia bersekongkol dengan mereka. Tetapi hasil akhirnya adalah datangnya penghakiman. Seluruh petugas bea cukai dari tingkat atas sampai ke bawah, dipecat dan diadili. Bahkan beberapa dari mereka harus menghadapi hukuman mati.

Menikmati damai dan sukacita yang sementara tetapi harus menghadapi pengadilan pada akhirnya; atau menderita buat waktu yang singkat tetapi memperoleh berkat yang abadi di masa depan. Dari dua pilihan ini, yang manakah yang akan kita pilih?

 

Kesimpulan

Di dalam Alkitab, Nuh adalah seorang yang menonjol di zamannya. Nuh mengalami dan melihat penghakiman Allah ke atas dunia yang tidak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya. Allah mencurahkan air bah ke bumi untuk menghapus semua makhluk hidup yang ada di dunia. Hanya Nuh saja seorang yang benar, seorang yang sempurna, karena itu Allah menyelamatkan dia dan seluruh keluarganya.

Dari Nuh ini kita dapat melihat, ketika dia ditempatkan di tengah masyarakat yang jahat dan berbuat berdosa, dia tetap bertahan untuk menjaga hati dan tangannya tetap bersih. Dia keluar dengan bersih dari tengah angkatan yang kotor dan bertekad untuk menjadi orang benar, orang yang sempurna. Dia hidup sesuai dengan apa yang di kehendaki Allah. Atas hal itu dia harus menanggung perkataan-perkataan keras, serta ejekan dari orang lain. Dan dia harus siap untuk kehilangan beberapa keuntungan. Namun justru karena hal itu, Allah berkenan kepadanya dan hanya menyelamatkan dia dan keluarganya. Apakah kita rela menanggung rasa sakit yang sementara dan akhirnya menerima hidup kekal dari Allah?

 

Berikan Komentar Anda: