previous arrow
next arrow
Slider

 

Tetapi jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa – Yakobus 2.9

Kami merupakan satu-satunya keluarga dengan bayi di restoran itu. Saya menempatkan Erik di kursi anak-anak. Suasana rumah makan itu tenang dan nyaman. Tiba-tiba Erik ketawa dengan suara yang keras dan berkata, “Hi” sambil memukul-mukul tangan mungilnya di nampan tempat makan bayi. Matanya penuh dengan keceriaan dan mulutnya tertawa terkikih-kikih penuh sukacita.

Saya memandang ke belakang dan melihat apa yang membuat Erik begitu senang. Saya melihat seorang pria yang bercelana longgar, dengan ritsleting yang tidak dikancing dengan baik dan mengenakan sepatu yang sudah berlobang-lobang sedang melambai-lambai ke arahnya. Bajunya kotor dan rambutnya berminyak dan tidak tersisir. Wajahnya sudah lama tidak dicukur. Kami terlalu jauh untuk menciumnya tetapi saya yakin, baunya pasti tidak menyenangkan juga. Pria itu terus mengelepakkan tangannya dan melambai ke arah Eric seolah-olah berkata, “Hi yang di sana, bayi; hi anak kecil. Aku melihat-mu.”

Saya dan suami saling berpandangan, “Apa yang harus kita lakukan?”

Erik terus saja ketawa dan berinteraksi dengan pria itu.

Setiap orang di restoran itu memandang ke arah kami dan ke arah pria itu. Pria tua gelandangan itu dan bayi lucu kami sedang menganggu suasana nyaman tempat makan itu. Kami selesai makan dan pria tua itu terus saja bercakap-cakap dengan keras ke arah Erik.

Tidak ada yang menganggap hal itu lucu. Yang jelas pria tua itu sedang mabuk.

Saya dan suami merasa malu. Kami makan tanpa banyak berbicara, kecuali Erik yang terus saja dengan gembira menanggapi pria tua itu.
Selesai makan saya menuju pintu keluar sementara suami saya membayar di tempat kasir. Pria tua itu menempatkan dirinya di dekat pintu. “Ya Tuhan, biarlah aku keluar dari tempat ini sebelum dia berbicara kepada aku atau Erik,” doa saya. Saya coba menghindar darinya agar tidak mencium bau badannya yang kurang enak. Tetapi seraya saya menjauhinya, Erik membentangkan kedua tangannya dan mendorong tubuhnya ke arah pria tua dalam posisi yang mengundang pria tua itu merangkulnya. Sebelum sempat saya berbuat apa-apa Erik sudah berada di dalam gendongan pria kumuh itu.

Saya tertegun. Saya melihat seorang pria tua yang kotor dan berbau busuk menjalin suatu pertalian kasih dengan seorang bayi kecil yang manis dan polos. Kepala mungil bayi bersandar gembira di bahu pria tua yang kasar itu. Pria itu memejam matanya dan saya melihat beberapa tetes air mata terbentuk di bulu matanya. Tangannya mengelus-elus punggung Erik. Tidak ada dua insan yang begitu saling mencintai di dalam waktu yang begitu singkat.

Pria tua itu mengayun-ayun dan membuai-buai Erik di dalam pelukannya dan setelah ia membuka matanya, ia memandang ke saya dan berkata dengan suara yang tegas, “Engkau jaga bayi ini dengan baik.”

Entah bagaimana saya mampu bersuara, “Ya, ya, pasti akan aku lakukan.”
Dengan penuh kasih ia mendorong Erik yang masih memeluknya dengan erat dan mengembalikan Erik ke saya. Pria itu berkata, “Tuhan memberkati engkau nyonya, engkau telah memberikan aku kado yang sangat istimewa.”

Saya hanya dapat berbisik, “Terima kasih.” Dengan Erik di dalam gendongan saya, saya lari ke mobil sambil menangis. “Ya Tuhan, ampunilah aku.”

Aku baru saja menyaksikan kasih Kristus lewat kepolosan seorang anak kecil yang tidak melihat dosa, yang tidak menghakimi; seorang bayi yang melihat pada jiwa seseorang dan seorang ibu yang memandang pada pakaian dan tampilan luar. Aku seorang Kristen yang buta yang sedang menggendong seorang anak yang tidak buta.

Saya merasakan seolah-olah Tuhan sedang bertanya, “Apakah engkau rela membagikan anak engkau buat sesaat?” Padahal Ia telah membagikan Anak-Nya dengan kita buat kekekalan!

(Dirangkum dan diterjemahkan dari www.christianblessings.com, A baby’s hug)