new-header-renungan
new-header-renungan
previous arrow
next arrow

 

Pada tanggal 1 Nopember 2005, Jeffrey Shcrock membawa kelima anaknya untuk menjemput istrinya yang sedang berbelanja. Mengemudi bersama kelima anaknya yang semuanya berada di bawah usia 13 tahun, Jeffrey sangat berhati-hati tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa saat mobil yang dikemudi oleh Clifford Helm masuk ke jalurnya dan menabrak truknya. Kelima anak kesayangannya, Carmen, 12; Jana, 10; Carinna, 9; Jerryl, 5; dan Craig, 2 meninggal di dalam kecelakaan yang tragis itu. Jeffrey sendiri menderita luka parah.

Sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat melanjutkan kehidupan setelah mengalami tragedi yang demikian. Sekarang, lebih dari dua tahun setelah kecelakaan itu, Jeffrey menemukan bahwa ia mempunyai seorang sahabat yang tidak dimilikinya sebelum itu, yaitu Clifford, sang pengemudi yang menabrak mati anak-anaknya.

Saat diwawancara Jeffrey mengakui bahwa memang rumit menjalin persahabatan di bawah kondisi sedemikian. Tetapi bagi Jeffrey, tantangannya adalah untuk mengampuni Clifford tanpa mengharapkan apa-apa sebagai balasan dan membangun suatu persahabatan tanpa memperhitungkan semua unsur-unsur yang melawannya.

“Karena itulah yang diajarkan oleh Alkitab,” kata Jeffrey.

Jeffrey mengakui bahwa hal itu memang tidak mudah tetapi ia bertekad untuk berusaha ke arah itu. Setelah kecelakaan itu, Jeffrey mengambil inisiatif mengunjungi Clifford. Menurut Jeffrey justru karena ia mendekati ‘musuhnya’ hal itu menjadikan ia lebih mudah untuk mengampuni dan mencegahnya untuk mempunyai pikiran buruk tentang Clifford.

“Kami saling mengunjungi dan meluangkan waktu untuk makan bersama. Kami melakukan itu sebagai suatu usaha penyembuhan. Walaupun jika bukan karena kecelakaan ini kami tidak akan pernah bergaul karena later belakang kami sangat berbeda tetapi lewat pergaulan ini, saya mulai menyukainya dan keluarganya.”

“Kami berdua terluka secara mental dan fisik akibat kecelakaan ini, jadi terdapat semacam ikatan di antara kami.” Jeffrey tahu bahwa temannya juga harus banyak melewati pergumulan, “Kemarin ia memberitahu saya bahwa selama dua tahun ini ia tidak pernah tidur dengan baik, dan saya dapat memahami itu. Jika saya berada di posisinya, saya juga akan mengalami hal yang sama. Ia sangat tersiksa secara mental.”

Clifford menolak untuk diwawancara tetapi melalui pengacaranya ia berkata, “Saya sangat bersyukur untuk kehadiran Jeff and istrinya, Carolyn di dalam hidup saya. Mereka adalah orang-orang yang sangat hebat. Saya berharap untuk dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.”

Menurut Dan Hertzler, teman Jeffrey dan istrinya, “Dari awal mereka menekankan pentingnya pengampunan dan menunjukkan keprihatinan kepada orang yang telah menyebabkan mereka kehilangan anak-anak mereka. Itulah belas kasihan.”

Sikap Jeff and istrinya yang konsisten mau mengampuni memberi mereka kekuatan untuk melewati waktu-waktu sangat sulit itu. Di acara penguburan anak-anak mereka rata-rata orang sangat kesal dengan Clifford yang karena kecerobohannya telah menyebabkan lima anak kecil yang tidak berdosa kehilangan nyawa mereka. Tetapi Jeffrey dan Carolyn meminta pemimpin kebaktian untuk menekankan perlunya pengampunan diberikan karena bagi mereka pengampunan adalah dasar pengalaman orang percaya.

Sejak kehilangan anak-anaknya Jeffrey dan istrinya menghabiskan waktu mereka membantu pelayanan di sebuah tempat misi kelompok Mennonite. “Kami harus meneruskan hidup, ada hari-hari yang mudah dan ada hari-hari yang sulit. Saat Anda bangun, Anda tidak pernah tahu apakah hari itu akan menjadi mudah atau sulit.” Tetapi menurut Jeffrey, waktu-waktu yang dihabiskan di ladang misi telah membantu mereka untuk meneruskan hidup. Anak perempunnya, Jolynn, lahir enam minggu setelah kecelakaan itu dan anak lelakinya Carl, lahir di awal tahun 2008.

Akan sangat sulit untuk menemukan orang yang akan melakukan apa yang Jeff dan Carolyn lakukan dan tidak banyak orang yang seperti mereka yang akan dapat meneruskan kehidupan mereka tanpa memendam kepahitan atas tragedi yang menimpa mereka. Tetapi justru dengan mengampuni mereka telah melepaskan diri dari ikatan kepahitan dan dendam. Itulah kekuatan kuasa pengampunan.

(Originally written by Cahaya Pengharapan Ministries based on news reports from The New York Times and The Washington Post)