Slider

 

“Sundar, mari, sudah lebih dari jam 12 malam belas nih, tidurlah anak-ku. Kamu harus tidur, umur-mu hanya 8 tahun” Dengan taat, dan penuh hormat Sundar mengembalikan kitab-kitab suci di tempatnya.

‘Walaupun keluarga saya orang Sikh,  kami sangat menghormati kitab-kitab Hindu. Ibu saya sangat mengasihi Tuhan dan merupakan penganut setia ajaran-ajaran Hindu. Setiap hari ia bangun sebelum subuh dan menyiapkan dirinya dengan mandi adat dan membaca dari kitab Bhagavad Gita atau dari salah satu tulisan suci. Hidupnya yang suci dan ibadahnya yang total sangat mempengaruhi saya dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain. 

Sejak kecil, ibu menekankan kepada saya satu kebiasaan di atas semuanya, yaitu langsung setelah saya bangun pagi, tugas saya yang pertama adalah untuk berdoa kepada Tuhan untuk penyegaran spiritual dan berkat-berkat. Hanya setelah itu, saya boleh sarapan. Ada kalanya saya membantah dan bersikeras untuk sarapan dulu, tetapi ibu tidak pernah mengalah. Dengan pujukan dan bila butuh, kekerasan, ia menekankan kepada saya peraturan ini di dalam jiwa saya, “Carilah dulu Tuhan dan setelah itu baru hal-hal yang lain.”

Pada waktu itu saya terlalu muda untuk mengenal nilai penting pelajaran ini dan saya melawannya. Di kemudian hari, saya mulai menghargai teladan dia. Setiap kali saya mengenang kembali teladan hidupnya, saya menaikkan syukur kepada Tuhan. Sejak saya masih kecil ibu telah menanam dan memupuk di dalam diri saya kasih dan takut akan Tuhan.  Di dalam diri ibu terdapat terang yang besar dan hatinya merupakan pelatihan spiritual yang terbaik bagi siapa saja.

“Kamu tidak boleh ceroboh dan duniawi,” ia akan memberitahu saya. “Carilah kedamaian jiwa, dan kasihilah Tuhan senantiasa. Suatu hari nanti kau harus memberikan diri sepenuhnya untuk mencari, dan kamu harus mengikuti jalan seorang sadhu.”’ (Sadhu secara harfiah berarti “orang miskin” atau “pengemis”. Artinya dapat disamakan sebagai “bhiksu” dalam agama Budha atau “fakir” dalam Sufisme)

Sejak kecil Sundar berguru kepada imam-iman Sikh dan menjadi murid seorang Sadhu tua yang tinggal di hutan. Tetapi walaupun ia sudah menyerap semua yang diajarkan ia masih belum merasa puas. Ia dapat mengutip dari Upanishads, Darsanas, Bhagavad Gita dan Shastaras, kitab-kitab orang Hindu; kitab milik orang Islam, Al Quran dan Hadis, juga sudah dihafalnya.

Semuanya terlihat natural dan sederhana waktu ibunya masih hidup tetapi setelah kematian ibunya, pencarian spiritualya terasa sulit dan berat. Imannya diselubungi oleh keraguan. Kata-kata sadhu tua terdengar kosong dan tak berarti. Kata-kata Vedas dan kitab-kitab yang lain tidak lagi menjawab pencariannya. Semuanya membingungkan. Hidup orang-orang di sekitarnya penuh dengan kemunafikan. Di manakah api dan kejelasan yang dimiliki orang-orang Sikh mula-mula?

Dan sekarang misionaris Kristen membawa kebenaran lain yang semakin membingungkan Sundar. Kesetiaannya kepada ajaran leluhurnya membuat Sundar mulai memberontak.

“Ini bukan kebenaran leluhur dan budaya kita. Ini kebenaran asing yang dibawa orang pendatang yang tidak memahami cara-cara kita. Mengapa ayah menyekolahkan saya di sekolah Kristen? Saya lebih senang ke sekolah pemerintah walaupun saya harus berjalan 12 km melewati gurun. Saya seorang Sikh. Saya akan tunjukkan pada mereka semua…”

Lalu suatu hari Sundar mengambil kitab orang Kristen dan di perkarangan sekolahnya ia mencabik-cabik dan membakarnya bersama teman-temannya yang lain. Hal ini tidak penah terjadi di desa itu. Tidak ada orang yang berani membakar kitab-kitab suci milik agama lain. 

Bapanya Sardar Sheh Singh dipanggil dan ia menyaksikan sendiri tindakan berani anaknya. Sardar menyeret anaknya, “Apakah kamu gila? Mengapa kamu melakukan hal yang gila ini? Inikah yang diajarkan ibu-mu? Inikah caranya kamu membalas orang yang mengajar kamu? Aku memerintahkan kamu menghentikan tindakan yang gila ini!”

Setelah kejadian itu selama dua hari perasaan Sundar berkecamuk, ia bingung karena ibunya tempat ia bergantung sudah tidak ada lagi dan ayahnya merasa dipermalukan oleh dia. Ia merasa kosong dan tanpa pengharapan. Firman-firman dari kitab-kitab suci mengiang-ngiang dibenaknya. Dari Guru Nanak, “Aku tidak dapat hidup sesaat pun tanpa Engkau, ya Tuhan.” Dari Guru Arjim, “Kami merindukan Kau, ya Tuhan. Kami haus akan Engkau. Kami hanya menemukan damai dan istirahat di dalam Engkau.”

Itulah satu-satunya harapan. Jika ada Tuhan, maka biarlah Ia menyingkapkan jalan damai itu. Jika tidak ada Tuhan maka sia-sia meneruskan hidup ini. Setelah bergumul dengan kesia-siaan selama tiga hari, Sundar yang hanya berumur 15 tahun pada waktu itu memutuskan langkah yang seterusnya.

Ia bangun jauh sebelum fajar menyingsing dan melakukan mandi adat. Ia membaca mantra kuno sebagaimana yang diajarkan ibunya. Tetapi pagi ini, merupakan kali yang terakhir.

Sundar Singh menulis, Aku berdoa dalam keputus-asaan, “Tuhan, jika Engkau memang ada, nyatakanlah diri-Mu padaku. Jika aku tidak menerima jawabannya, aku akan membaringkan kepala aku di jalur trek keretapi api. Aku akan mencari jawaban kepada pertanyaan ini di luar hidup ini.”

Sambil bermeditasi saya menunggu keretapi yang setiap pagi melewati kampung. Selang beberapa menit saya melihat sesuatu yang aneh. Terdapat sinar terang di kamar saya. Awalnya saya pikir ada benda yang sedang terbakar, tetapi setelah melihat ke luar jendela dan pintu, saya tidak menemukan sumber terang itu.

Kemudian, suatu pikiran muncul di benak saya, mungkin ini suatu jawaban dari Tuhan.

Jadi dengan segera saya kembali ke tempat saya biasanya berdoa dan terus memandang pada terang yang aneh itu. Tiba-tiba saya melihat suatu figur di dalam terang itu, muncul suatu perasaan yang aneh seolah-olah saya telah mengenal figur itu. Tapi sosok itu bukan Siva atau Krishna atau penjelmaan dewa Hindu yang lain sebagaimana yang saya harapkan.

Lalu saya mendengar suatu suara berbicara dalam bahasa Urdu, “Sundar, berapa lama lagi engkau akan mencemooh aku? Aku telah datang untuk menyelamatkan engkau karena engkau telah berdoa untuk mencari jalan kebenaran. Mengapa engkau tidak menerimanya?”

Di saat itulah saya melihat bekas-bekas darah di tangan dan kakinya dan dari situ saya tahu bahwa yang berbicara dengan saya adalah Yesu, sosok yang diproklamir oleh orang-orang Kristen itu.  Dengan takjub saya tersungkur di kakinya. Hati saya dipenuhi kesedihan dan penyesalan yang mendalam atas penghinaan dan perbuatan saya yang kurang ajar itu, tetapi di waktu yang bersamaan hati saya juga dipenuhi oleh damai sejahtera.

Inilah sukacita yang saya cari selama ini. Inilah surga….dan tiba-tiba visi itu hilang, tetapi damai dan sukacita di hati saya tetap menyertai saya.

Saya langsung membangunkan ayah saya dan memberitahunya apa yang telah saya alami, dengan terus terang saya memberitahunya bahwa saya sekarang adalah pengikut Yesu. Ayah saya menyuruh saya kembali ke tempat tidur saya. “Ada apa dengan engkau. Baru kemarin engkau membakar kitab suci orang Kristen. Sekarang engkau berkata engkau orang sudah menjadi seperti mereka. Anak-ku, kembalilah ke kamar dan istirehatlah. Engkau sedang lelah dan bingung. Sebentar lagi engkau akan merasa lebih enak.”’

Ayahnya berusaha untuk sabar dan memahami anaknya karena ayahnya berpikir Sundar masih dalam keadaan sedih dan depresi karena kehilangan ibunya. Jadi ayahnya coba menghindar dari berdiskusi tentang pengalamannya yang aneh itu.

Sundar meluangkan banyak waktu berdiam diri dan bermeditasi. Ia mau menebus dosa yang telah dilakukan terhadap Yesu yang telah menyatakan diri kepadanya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasakan bahwa pelepasan hanya akan datang jika ia siap untuk melayani Yesus dan mengumumkan bahwa ia sekarang pengikut Yesu yang baru saja ia hina di tempat umum.

Tetapi tidak ada yang menyangka, pengakuan Sundar bahwa ia sekarang percaya pada Yesu menimbulkan dampak yang sebegitu besar. Teman-temannya mulai menuduh guru-guru Kristen di sekolah sebagai dalang yang telah memaksa Sundar untuk menjadi Kristen. Reaksi keras dari para siswa dan orang-orang kampung yang lain mengakibatkan sekolah di Rampur, Punjab itu harus ditutup dan para misionaris harus meninggalkan tempat itu ke kota lain.

Di rumah ayah Sundar berusaha keras membujuk anaknya untuk meninggalkan kepercayaan barunya. “Anakku yang tersayang, engkaulah segalanya bagiku. Sebagai ayahmu, aku memohon agar engkau mempertimbangkan keluargamu. Tentunya engkau tidak mau keluargamu dikucilkan. Tidaklah mungkin agama Kristen mengajarkan ketidak-taatan kepada orang tua. Penuhilah tanggungjawabmu dan menikahlah. Aku telah memilih calon istri bagimu, sesuai dengan budaya kita dan semuanya sudah diatur. Sebagai hadiah pertunangan aku akan memberikan warisan yang akan memenuhi segala kebutuhan engkau dan keluarga engkau seumur hidup. Anakku, aku bukan orang yang terlalu menuntut, tetapi jika engkau menolak, aku menganggap bahwa engkau nekat untuk memalukan nama baik keluarga dan aku tidak punya pilihan kecuali tidak lagi mengaku engkau sebagai anak.

Engkau dilahirkan seorang Sikh, engkau memakai gelang seorang Sikh, engkau tidak pernah menggunting rambutmu sebagai tanda engkau seorang Sikh, apakah engkau lupa apa artinya nama yang telah dipilih oleh leluhur kita, “Singh”? Sudah tiba waktunya engkau membuat pilihan.”

Sundar Singh kembali ke kamarnya dan berdoa. Apa yang harus dia lakukan?

…bersambung

(Artikel ini didasarkan pada buku Wisdom of the Sadhu, The Teachings of Sundar Singh, oleh Kim Comer)