new-header-kesaksian

 

Grace Chan |

Tenggorokan saya terkena masalah cukup lama sejak saya terkena demam sekitar sebulan sebelum Paskah. Walau hanya terkena sedikit gangguan, misalnya debu, saya sudah terbatuk-batuk tanpa henti. Sebagai seorang hamba Tuhan yang harus berkhotbah, dan sebagai orang yang gemar menyanyi, masalah ini benar-benar merupakan suatu tantangan bagi saya.

Selama hari Paskah, gereja mengadakan konser musik yang melibatkan sekitar 600 orang dan saya diharapkan ikut tampil di sana. Dua minggu sebelum konser, sebelum saya tampil menyanyi, saya masih terkena batuk dan benar-benar kehilangan suara saya. Saya bahkan tidak bisa berlatih karena tidak bisa mengeluarkan suara. Semua orang bertanya-tanya apakah saya bisa tampil di hari Paskah nanti.

Dalam keadaan ini, saya tetap bisa tenang dan sabar, karena saya telah belajar untuk sepenuhnya mempercayai Allah beserta kuasa-Nya. Sekitar dua tahun yang lalu, hal yang sama pernah terjadi. Saya kehilangan suara saya sebelum hari  konser, namun saya sudah pulih sekitar dua minggu sebelum hari konser. Demikianlah, di dalam hati, saya tahu bahwa Allah akan mengerjakan suatu mukjizat lagi dan akan memulihkan suara saya tepat sebelum saya harus menyanyi di atas panggung. Namun, jika Dia tidak merencanakan bahwa saya akan pulih dan bisa menyanyi di acara konser tersebut, maka saya dengan penuh sukacita akan tunduk karena Dia mungkin punya rencana lain yang lebih besar lagi.

Pada malam sebelum konser, batuk saya masih sangat parah dan tenggorokan saya terasa sangat gatal. Saya terbatuk-batuk sampai dada saya terasa sesak dan sakit. Namun Allah menganugerahkan damai sejahtera yang luar biasa kepada saya. Keadaan saya tidak menjadi lebih baik disaat saya akhirnya naik ke panggung untuk menyanyi. Tepat sebelum saya mulai menyanyikan lagu berjudul ‘Thank You Lord (Terima Kasih Tuhan)’, saya memberitahu para hadirin bahwa jika saya nantinya mampu menyanyikan lagu itu sampai selesai, maka semua itu adalah berkat anugerah Allah. Segala kemuliaan adalah bagi Dia saja, karena – mengingat kondisi saya saat itu – saya tidak akan mampu menyanyikan lagu itu sampai selesai.

Dan ajaibnya, saya mampu menyanyikan lagu itu serta tidak terbatuk di sepanjang konser itu. Sekalipun tenggorokan saya masih terasa agak gatal saat itu, namun tidak ada hambatan yang berarti yang saya temui malam itu.

Saya tahu bahwa hal yang saya alami ini adalah suatu mujizat karena banyak orang yang mendoakan saya, dan saya memiliki keyakinan bahwa Allah akan melakukan sesuatu, karena tidak ada hal yang mustahil bagi Dia (Lukas 1:37).

Baru-baru ini, ketika saya akan naik ke mimbar untuk berkhotbah di hari Minggu – karena saya bangun terlalu awal dan sarapan terlalu pagi – akibatnya, ketika tiba saatnya bagi saya untuk naik ke atas mimbar – yakni pukul 10 pagi – perut saya terasa agak perih. Ketika saya sedang memberitahukan tentang keadaan saya ini kepada salah satu rekan hamba Tuhan, pas pada saat yang sama, pemimpin pujian membacakan sebuah ayat, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9). Saya tidak sedang mengarang dongeng. Ayat itu disampaikan tepat ketika saya merasa sangt lemah. Jaminan bahwa Tuhan peduli kepada saya, memberi saya damai sejahtera dan dorongan semangat untuk naik ke atas mimbar.

Bagian ulangan dari lagu tersebut berbunyi, “Let the world see Your lovingkindness dan power made manifest TODAY in and through a weak person like me. O Lord, may Your Name be glorified (Biarlah dunia melihat kasih kebaikan dan kuasaMu diwujudkan HARI INI di dalam dan melalui orang yang lemah sepertiku. Oh Tuhan, dimuliakanlah namaMu).”

Saya sangat tersentuh, dan saya ikut menyanyi sekalipun saya merasa sangat tidak berarti. Dan sekalipun saya sangat tidak berarti, Allah Yang Maha Kuasa menguatkan saya, tidak sekedar melalui ayat, melainkan juga melalui lagu. Penentuan waktu semua kejadian itu begitu sempurna.

Ketika saya maju untuk menguraikan Firman di atas mimbar, saya merasa bahwa Tuhan hadir bersama saya dan sungguh merupakan suatu kesempatan yang sangat istimewa untuk bisa melayani Dia.

Sekalipun pengalaman saya ini mungkin tidak cukup spektakuler, namun semua contoh nyata akan kebaikan dan pertolongan-Nya yang tepat pada waktunya itu – terutama disaat-saat saya harus melayani Dia – adalah hal-hal yang sangat indah bagi saya secara pribadi dan membangkitkan semangat dan selalu menguatkan saya untuk terus melangkah bersama Dia.

Semoga kesaksian saya ini bisa mendorong semangat anda untuk belajar mencari Dia dan untuk bisa mengalami kuasa-Nya setiap hari.