SC CHUAH | PASKAH 2025 |

Dalam pesan Paskah tahun ini, kita akan merenungkan apa yang dikenal sebagai “Tujuh Perkataan Salib”. Kita akan merenungkannya dari sudut pandang tertentu, yaitu sebagai “Tujuh Prinsip Kehidupan” para pengikut Yesus. Jika mengikut Yesus berarti menjadi makin menyerupai dia, inilah tujuh prinsip kehidupan Kristus yang patut kita teladani.

Cara seseorang mati seringkali mencerminkan bagaimana dia telah hidup. Berdasarkan kenyataan ini, “Tujuh Perkataan Salib” mencerminkan kepada kita wujud dari kehidupan memikul salib dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan prinsip-prinsip kehidupan yang membawa pada kebangkitan.


Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. (Luk 23:34)

Di atas kayu salib, Yesus menjadi teladan bagi kita sebuah kehidupan yang bebas kepahitan. Yesus mengalami pelecehan verbal dan fisik. Yesus diperlakukan dengan sangat buruk, kejam dan tidak adil, tetapi tidak terdeteksi sedikit pun keinginan untuk membalas atau dendam di hatinya. Dia bahkan meminta pengampunan bagi mereka kepada Bapa. Salib, yang tidak mengenal ampun, dengan demikian berubah menjadi lambang pengampunan. Dari atas salib, mengalir darah yang membawa pengampunan bagi seluruh dunia.

Para pengikut Yesus yang setia akan mengikuti teladan Tuannya dengan setia. Kita harus dikenal sebagai umat yang bermurah hati dalam memberi pengampunan. Di tengah gerejalah, orang-orang berdosa seharusnya menemukan pengampunan. Kehidupan antar sesama anggota jemaat juga harus ditandai oleh hal ini, yaitu saling mengampuni. 

Yesus pernah mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan: 

14 Karena jika kamu mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain, Bapa surgawimu juga akan mengampunimu.
15 Akan tetapi, jika kamu tidak mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

Bapa yang Maha Pengampun tidak mengampuni? Ya, Bapa yang Maha Pengampun tidak akan mengampuni orang yang tidak mengampuni! Sayangnya, banyak orang Kristen yang mengaku dosa-dosanya telah diampuni, ironisnya menganggap enteng dosa tidak mengampuni. Dalam kenyataannya, itu merupakan satu-satunya dosa yang tidak dapat diampuni yang dinyatakan secara terang-terangan dalam Alkitab!

Banyak orang Kristen mengalami kesulitan memahami dosa yang tidak dapat diampuni yang disebut “menghujat Roh Kudus”. Tanpa bersikap dogmatis, kita harus bertanya, apakah sikap tidak mengampuni termasuk menghujat Roh Kudus? Keduanya memiliki ciri yang sama, yaitu mengeraskan hati terhadap Allah dan perintah-Nya. 

Pada hari Paskah ini, lepaskanlah segala kepahitan yang ada. Sadar atau tidak, kepahitan akan menjadikan saudara orang yang toxic


Hari ini juga, kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus. (Luk 23:43)

Seorang pengikut Yesus selalu mengarahkan orang pada pengharapan sekalipun dalam situasi  tanpa pengharapan. Para pembaca Alkitab yang jeli akan memperhatikan bahwa tokoh-tokoh iman dalam Alkitab memiliki sifat ini: penuh pengharapan di tengah kekacauan yang tak terkendali. Dari atas kayu salib yang nerakawi, Yesus mengucapkan kata-kata surgawi. Itulah “iman” dalam bentuk paling nyata. Hal ini terutama penting bagi kita yang melayani Allah dan menjadi pemimpin jemaat. 

Gereja seharusnya menjadi tempat orang-orang yang putus asa menemukan pengharapan. Orang-orang putus asa setelah mengalami kontak dengan kita seharusnya mengangkat kepala dan berkata, “Situasi saya tidak seburuk yang saya pikirkan! Masih banyak yang harus dijalani dalam hidup ini…”

Pengharapan yang kita miliki adalah “pengharapan yang hidup” (1Ptr 1:3), bukan pengharapan palsu yang ditawarkan dunia. “Pengharapan yang hidup” berarti setidaknya pengharapan yang tidak bakal mengecewakan.  

Paulus, seperti Tuannya, adalah seorang yang membawa pengharapan di tengah orang-orang yang putus asa. Di dalam kapal yang sedang tenggelam, Paulus berkata,

33 “Hari ini adalah hari keempat belas kamu terus-menerus berada di dalam ketegangan dan menahan lapar karena tidak makan apa pun.
34 Karena itu, aku memintamu untuk mengambil beberapa makanan demi keselamatanmu. Sebab, tidak ada sehelai rambut pun yang akan hilang dari antara kamu.” (Kisah 27)


“Perempuan, lihatlah, anakmu!” (Yoh 19:26-27)

Prinsip kehidupan yang ketiga adalah care to the end (peduli sampai akhir). Yesus peduli sampai kesudahan sekalipun dalam keadaan paling menyakitkan dan menyedihkan. Dia sedang memikul beban seluruh dunia di atas kayu salib, tetapi tidak lupa untuk mengurus hal-hal yang kecil di tingkat individu di bawah salib. Sampai sekarang pun, setelah diangkat ke tangan kanan Bapa, Yesus tetap care. Orang yang mengikut Yesus tidak pernah berhenti care. Karakternya konsisten dalam segala keadaan. 

Kita cenderung menjadi egois ketika menderita. Kita mengalami kesulitan mempedulikan orang lain. Akan tetapi, Yesus menunjukkan kepada kita artinya “setia sampai mati”. Sebagai pengikut Yesus, apakah saudara dikenal sebagai orang yang peduli? Atau, orang egois yang hanya memusingkan diri sendiri? 

“Allah tidak punya apa-apa untuk dikatakan kepada orang sembrono”, menurut A. W. Tozer. Sebaliknya, Dia punya banyak untuk dikatakan kepada yang peduli. Itulah salah satu judul bukunya yang terkenal, “God Tells the Man Who Cares” (Allah Memberitahu Orang Yang Peduli).


“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46)

Sebagai pengikut Yesus, satu-satunya hal yang perlu ditakuti dalam hidup ini adalah ditinggalkan Allah. Itulah satu-satunya komplain dan keluhan yang pantas diteriakkan dengan suara keras. Itulah satu-satunya hal yang menyiksa jiwa Yesus. Seperti Yesus, para pengikutnya tidak takut kemiskinan, sakit penyakit atau penderitaan. Penderitaan sudah menjadi bagian dari panggilan hidup. Mereka hanya takut dilupakan dan ditinggalkan Allah. Itulah keluhan utama yang mewarnai kitab Mazmur.

Sesuai dengan itu, satu-satunya hal yang perlu ditakuti adalah dosa. Kita harus belajar membenci dosa dengan kebencian Allah. Kita harus memahami kejelekan dan keburukan dosa dari sudut pandang Allah. Banyak orang Kristen belum mengalami pembaruan akal budi bahkan dalam hal semendasar seperti ini. Kebanyakan dari kita akan panik mendengar berita tentang kanker, tetapi tidak menghiraukan kepahitan dalam hati kita! Dalam kenyataannya, seburuk-buruknya kanker, jauh lebih buruk lagi kepahitan dalam hati. Kanker tidak dapat memisahkan kita dari Allah, tetapi kepahitan dapat!

Pada hari Paskah ini, mintalah kepada Allah untuk memperbarui pikiran kita agar kita akan panik dalam ketakutan karena telah meledak dalam amarah, dan (amit-amit) menerima berita tentang kanker dengan tenang.


Aku haus (Yoh 19:28)

Kita perlu menyadari dan mengakui kebutuhan kita sendiri, terutama kebutuhan rohani kita. Sebagian besar dari ajaran Yesus menuntut kita untuk berbuat demikian secara terus menerus. “Aku haus… Aku lapar… Kami kehabisan anggur…”. Masalahnya kita lebih suka berpura-pura  dan memberi kesan bahwa kita tidak ada kebutuhan apa pun, bahwa kita baik-baik saja, bahwa we have it all together. Itulah yang membuat kehidupan gerejawi menjadi penuh kepalsuan dan kemunafikan. Allah berkata kepada Israel:

Bukalah mulutmu lebar-lebar, dan Aku akan mengisinya. Namun, umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, Israel tidak menginginkan-Ku.

Itulah rahasia kepuasan rohani. Lebih dari itu, ketika kita datang kepada Tuhan dalam kebutuhan kita, Dia akan mengubah kita menjadi orang yang dibutuhkan sehubungan dengan sesama kita. Kita diubahkan dari orang yang needy (membutuhkan) menjadi needed (dibutuhkan). Itulah maksud Yesus ketika ia berkata, 

37 “Jika ada yang haus, baiklah dia datang kepada-Ku dan minum.
38 Orang yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci, dari dalam dirinya akan mengalir aliran air hidup.”

Jika kita merendahkan diri kita dan datang kepadanya dalam keadaan tidak berdaya, Dia akan mengisi kita dengan segala kebaikan-Nya sehingga meluap kepada orang-orang sekitar kita. Saudara akan mengalami kesulitan untuk membendungnya. 


Sudah Selesai! (Yoh 19:30)

Seorang pengikut Yesus menjalani hidupnya dengan penuh tujuan, yaitu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Allah kepadanya. Ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri akan berkata, “I am finished!” Hanya orang yang hidup untuk sesuatu yang lebih luhur daripada dirinya yang dapat berkata, “It is finished!” Yesus memuliakan Bapa dengan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepadanya untuk dikerjakan (Yoh 17:4).

Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk dikerjakan.

Kita tidak memuliakan Bapa hanya dengan kata-kata religius seperti “Haleluyah, Puji Tuhan!”, melainkan dengan setia melakukan pekerjaan Allah sepanjang hidup kita. Itulah satu-satunya tujuan hidup seorang murid Yesus.   

Paulus berkata di Kisah 20:24,

Namun, aku tidak menganggap hidupku berharga bagi diriku sendiri sehingga aku dapat menyelesaikan tugasku dan pelayanan yang aku terima dari Tuan Yesus.

Berikut beberapa terjemahan lain:

  • Tetapi saya tidak peduli dengan hidup saya ini, asal saya dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan
  • Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan


Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku. (Luk 23:46)

Dalam menjalankan kehidupan Kristen dalam hidup ini, kita sering perlu berdoa, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan diriku.” Orang Kristen yang setia akan selalu membisikkan pernyataan ini pada saat-saat genting dalam kehidupannya, seperti saat menderita, saat darurat, saat mengambil keputusan penting dll. Para hamba Allah juga mengucapkannya saat-saat pelayanan. Pernyataan ini mengungkapkan sikap letting go, surrender, yaitu mempercayakan hasil pekerjaan kita dan masa depan kita ke dalam tangan Bapa. Banyak hal dalam hidup ini berada di luar kendali kita dan kita tidak berusaha mengendalikannya. Kita hanya dapat menyerahkannya ke dalam tangan Bapa.


Kesimpulan

Rasul Yohanes berkata di 1 Yohanes 2:7, 

Orang yang mengatakan bahwa dia tinggal di dalam Allah, dia harus hidup sama seperti Yesus hidup.

Kiranya pada Paskah tahun ini, 7 prinsip kehidupan ini memungkinkan kita “hidup sama seperti Yesus hidup”.

Selamat Paskah!

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning
Warning.