Pastor Jeremiah C | Yakobus 4:5-6 |

Dalam beberapa pembahasan kita yang lalu mengenai kitab Yakobus, kita telah membahas dua topik : “Menjadi Musuh Allah” dan “Menjadi Sahabat Allah”. Di Yakobus 4:4, kita melihat bahwa persahabatan dengan dunia menjadikan kita musuh Allah.

Hai, kamu para pezina, tidak tahukah kamu bahwa persahabatan dengan dunia berarti permusuhan dengan Allah? Karena itu, siapa pun yang ingin bersahabat dengan dunia, dia menjadikan dirinya musuh Allah.


ORANG KRISTEN DAPAT MENJADI MUSUH ALLAH

Saya ingin kita memusatkan perhatian kita pada kalimat “menjadi musuh Allah”. Itu berarti “oposisi” atau “perlawanan”. Kita semua harus mengerti bahwa seorang Kristen dapat menjadi musuh Allah. Saya harap poin ini mengagetkan Anda. Di ayat 6, Yakobus juga memberitahu kita bahwa Allah menentang orang congkak. Menentang berarti melawan atau menolak. Di sini kita dapat melihat gambaran peperangan. Pada permukaannya, hal itu muncul melalui pertengkaran dalam gereja. Pada kenyataannya, kita sedang melawan Allah. Oleh sebab itu, saya ingin Anda semua mencatat bahwa jika kita menolak Allah, Allah juga akan menolak kita.

Seorang yang tidak percaya adalah orang yang menentang Allah. Hal ini tidak sulit untuk dimengerti. Bagaimana seorang Kristen menjadi musuh Allah? Mari kita melihat Matius 16: 21-23.

21 Sejak saat itu, Yesus mulai menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan menderita banyak hal dari para tua-tua, imam-imam kepala, maupun ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22 Kemudian, Petrus menarik Yesus ke samping, menegur-Nya, dan berkata, “Tuan, kiranya Allah menjauhkan hal itu dari Engkau! Hal ini tidak akan pernah terjadi pada-Mu.”
23 Akan tetapi, Yesus berbalik dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai Setan! Kamu adalah batu sandungan bagi-Ku sebab engkau tidak menetapkan pikiranmu pada hal-hal dari Allah, melainkan hal-hal dari manusia.”

Di sini Yesus memarahi Petrus sebagai Setan. Mengapa? Karena Petrus memikirkan kepentingan manusia. Ia telah menjadi alat yang dipakai untuk menentang kehendak Allah. Bagaimana? Sewaktu Petrus mendengar bahwa Yesus akan menderita dan dibunuh, ia ingin menghentikan Yesus dari mengalami penderitaan semacam itu. Hal tersebut muncul dari kasihnya terhadap Yesus. Dari pandangan manusia, reaksi Petrus sangat masuk akal. Akan tetapi, mengapa Yesus memarahi Petrus? Karena ia tidak bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Petrus membujuk Yesus sesuai dengan kehendaknya sendiri (keinginan daging manusianya). Petrus sedang tidak menyenangkan Allah, atau tidak bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Apa yang sedang Yesus katakan adalah Petrus sebenarnya sedang  melawan kehendak Allah. Bukankah itu berarti menjadi musuh Allah?

Mari kita melihat contoh lain. Kita dapat membaca Filipi 3:17-19.

17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikan dengan saksama orang-orang yang juga hidup sesuai dengan teladan yang kamu lihat dari kami.
18 Sebab, ada banyak orang yang hidup sebagai musuh-musuh salib Kristus. Tentang hal ini, aku sudah sering menceritakannya kepadamu dan sekarang aku menceritakannya lagi dengan air mata.
19 Akhir hidup mereka adalah kebinasaan, karena allah mereka adalah perut mereka, dan pujian mereka adalah hal-hal yang memalukan. Pikiran mereka hanyalah pada hal-hal duniawi.

Di ayat 18, Paulus menyatakan bahwa cara hidup beberapa orang Kristen di gereja telah membuat mereka menjadi musuh Kristus. Mereka tidak melakukan yang jahat secara nyata, hanya saja mereka ialah orang Kristen yang berfungsi dengan kedagingan.  Mereka hanya memikirkan tentang bagaimana memuaskan keinginan daging mereka dan hanya berfokus pada hal-hal duniawi. Bukan saja mereka sendiri hidup dalam kedagingan, tetapi mereka juga menganjurkan cara hidup seperti itu kepada jemaat lain. Karena itu, Paulus mengingatkan jemaat untuk tidak meniru mereka, kalau tidak mereka juga akan menjadi musuh Allah. Paulus juga mengingatkan kita bahwa akhir dari menjadi musuh Allah adalah kebinasaan.


MENJADI SEKUTU IBLIS

Melalui contoh ini, saya mau agar kita semua melihat bahwa untuk disebut musuh Allah tidak harus berarti kita melakukan sesuatu yang jahat. Sewaktu kita mengikuti keinginan diri kita dalam cara kita bertindak dan berhubungan dengan sesama, kita akan hidup dalam keadaan menjadi musuh Allah. Kondisi seperti ini akan secara alamiah membuat kita menjadi sekutu Iblis dan menentang kehendak Allah bersama-sama dengan Iblis. Mengapa Rasul Yakobus tiba-tiba berbicara mengenai Iblis? Itu karena Yakobus melihat bahwa mereka yang menuruti keingninan daging sebenarnya sedang menaati Iblis dan menjadi senjata Iblis dalam menentang kehendak Allah.

Biarkan saya menyebutkan contoh: cara kita menangani sesama dalam hidup sehari-hari, kita menghadapi hal-hal yang kadang-kadang tidak menyenangkan. Saat ada yang menyakiti hati kita, apa yang menjadi respon kita? Keinginan daging kita akan dengan sendirinya memberi tahu kita bahwa kita harus membalas mata ganti mata. Sebagaimana orang memperlakukan saya, saya juga akan memperlakukannya dengan cara yang sama. Saya akan memperlakukan dengan adil, tetapi saya tidak akan baik dengan orang itu. Saya akan memperlakukan dia sesuai dengan apa yang ia pantas untuk dapatkan.

Anda lihat, keinginan daging kita akan secara alalmiah memerintah kita untuk membuat respon seperti itu. Anda tahu kenapa? Itu karena Iblis sering menggenapi apa yang ia mau lakukan melalui keinginan daging kita. Ketika kita merespon kepada sesama menurut keinginan egois kita, apakah Anda dapat membayangkan akibatnya? Akibatnya adalah ketidakharmonisan dalam hubungan yang akan membawa kita kepada pertengkaran dan itulah yang ingin dicapai oleh iblis. Allah ingin membangun kesatuan, sedangkan Iblis ingin memecah belahkan.

Oleh sebab itu, mari kita ingat poin ini. Ada dua pilihan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Pertama, menjalaninya seperti mereka yang dari dunia yang hidupnya menyenangkan keinginan daging. Mereka yang memilih untuk hidup seperti musuh Allah karena semua yang mereka lakukan menentang kehendak Allah. Yang kedua ialah memilih untuk hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Jika kita memilih untuk taat kepada kehendak Allah setiap hari, kita sedang melawan pekerjaan Iblis. Kita akan dikenal sebagai sahabat oleh Yesus, seperti yang ia katakan dalam Yohanes 15.


ALLAH YANG CEMBURU

Mari kita membaca Yakobus 4:5-6.

5 Apakah kamu pikir Kitab Suci tanpa alasan berkata, “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita diingini-Nya dengan cemburu”?
6 Namun, Allah memberi anugerah yang lebih lagi. Karena itu, Kitab Suci berkata, “Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati.”

Ayat 5 biasanya dianggap sebagai ayat yang paling susah untuk dimengerti dalam kitab Yakobus. Ayat 5 dan 4 berbagi jalan pikiran yang sama. Ayat 5 sebenarnya bermula dengan kata “mungkin”. Kata ini tidak muncul dalam Alkitab bahasa Indonesia. Kita dapat menerjemahkan frasa pertama dari ayat 5 seperti ini : “Mungkin Anda memiliki pemikiran bahwa apa yang dikatakan firman Allah itu sia-sia”. Poin lain yang dapat kita catat ialah ayat 6 menggunakan kata “Namun” sebagai permulaan.  Ini berarti ayat 5-6 sangat dekat hubungannya dengan ayat 1-4. Anda dapat katakan, ayat 5-6 dibicarakan untuk menangani masalah dari “menjadi sahabat dunia” dan “menjadi musuh Allah”.

Mari pertama-tama kita fokuskan perhatian kita pada ayat 5. Di ayat 5, Yakobus mengingatkan pendengarnya tentang beberapa kata di Alkitab. “Kitab Suci” di sini merujuk pada Perjanjian Lama karena Perjanjian Baru (PB) belum ada pada masa Yakobus. Surat dari Alkitab Perjanjian Baru disusun dan dihimpun oleh orang-orang percaya belakangan. Banyak hal yang menyangkut ajaran Yesus disampaikan melalui narasi verbal. Oleh karena itu, setiap kali penulis PB berkata: seperti yang dikatakan Kitab Suci…” ia sebenarnya mengutip kata dari PL. Kesulitan dari Yak 4:5 karena Yakobus tidak memberitahukan kita, ayat mana yang ia kutip dari Kitab Suci ketika ia berkata “seperti yang dikatakan Kitab Suci” dalam ayat 5. Hal ini sudah mempengaruhi pengertian kita dari ayat 5.

Bagian kedua dari ayat 5 dapat diartikan seperti berikut: apakah roh yang tinggal dalam kita dengan tekun “merindukan” kita dengan cemburu? Kata “merindukan”, sesuai dengan arti dari teks asli, dapat diartikan sebagai semacam pikiran dan kasih yang intens, yang jika digunakan dalam hubungan manusia, itu bermakna semacam keinginan yang mendalam dalam membangun hubungan yang sangat intim. Kita dapat mengambil referensi dari Roma 1:11 ; 2 Korintus 9:14; Filipi 1:8, 2:26; 1 Tesalonika 3:6 ; 2 Timotius 1:4.

Mari kita mengambil contoh dari Filipi 1:8-11.

8 Allah adalah saksiku, betapa aku merindukan kamu semua dalam kasih Yesus Kristus.
9 Inilah doaku: Kiranya kasihmu semakin bertambah-tambah, dengan pengetahuan dan segala hikmat;
10 sehingga kamu dapat memilih apa yang terbaik; supaya dirimu tulus dan tak bercacat pada hari Kristus;

Melalui ayat ini, kita dapat melihat kasih Paulus yang mendalam untuk orang-orang percaya. Bagaimana ia dengan sungguh-sungguh mengasihi dan secara konsisten memikirkan pertumbuhan rohani mereka. Paulus berdoa buat mereka, berharap agar mereka dapat memiliki kemajuan besar dalam kasih, pengetahuan, ketajaman dan menghasilkan buah. Oleh sebab itu, jenis semangat kasih ini sangat aktif dan positif.

Mengapa saya katakan bahwa “roh” yang dimaksudkan disini ialah Roh Allah, bukan roh kita? Kesimpulan ini diperoleh dari konteks sebelum ini. Yakobus 4:4 berkata, mereka yang bersahabat dengan dunia melakukan perzinaan. Mereka yang ingin menjadi sahabat dunia adalah musuh Allah. Bagaimana orang Kristen menjadi musuh Allah? Bagaimana kita menentang Allah? Kita melakukannya dengan menentang kehendak-Nya dan menolak pimpinan Roh Kudus. Jika kita menolak pimpinan Roh Kudus, kita menolak kasih Allah untuk kita. Yakobus memanggil orang-orang Kristen yang tidak setia di ayat 4 dengan sebutan “pezina”.  Paulus “marah” dengan jemaat (arti dari teks asli merujuk kepada cemburu, kecemburuan yang kuat), Paulus juga memberitahukan kita bahwa ia merasa marah karena Allah menjadi marah karena jemaat.

Apa yang dilakukan jemaat Korintus yang menimbulkan kemarahan Allah? Ayat 3 beritahukan bahwa hati mereka telah kesasar kepada hal jahat (dimana berarti tercemar) dan telah ditipu oleh iblis. Hati mereka sudah mengikuti iblis. Mereka tidak lagi memiliki hati yang tunggal dan setia pada Allah. Secara sederhana: Jemaat Korintus sudah berjalan menuju arah tidak setia kepada Allah dan hati mereka telah melakukan perzinahan.

Baik Yakobus maupun Paulus, keduanya sudah dengan suara bulat memberitahukan kita bahwa Allah mengharuskan kita untuk setia kepada-Nya seperti Ia berhubungan dengan kita dalam kesetiaan. Hubungan kita dengan Allah adalah suatu hubungan yang timbal balik. Benar bahwa Allah telah mengambil inisiatif untuk menunjukkan kasih-Nya pada kita, tetapi kita harus menanggapi kasih-Nya. Tanggapan kita pada Allah harus secara terus menerus, hanya dengan demikian hubungan kita dengan Allah menjadi semakin mendalam. Oleh karena itu, Alkitab sering menggunakan hubungan suami istri untuk menggambarkan gereja dan Allah. Ajaran yang kita dengar hari ini, semuanya menekankan pada bagaimana Allah mengasihi kita, kita hanya perlu untuk menerima kasih-Nya dan kita akan diselamatkan. Tidak penting apakah kita meresponi Dia dengan hati yang tunggal atau setia dari hari ke hari. Penekanan seperti itu pasti bukan dari Alkitab. Allah mempunyai pengharapan atas kita dan persyaratan bagi kita.


DUA MACAM KECEMBURUAN

Mungkin Anda akan bertanya: bukankah kecemburuan itu buruk? Mengapa Allah cemburu? Kita harus mengetahui perbedaan antara 2 macam kecemburuan. Ketika Alkitab berbicara mengenai Allah cemburu kepada umat-Nya, kecemburuan itu bukan jenis yang buruk. (Contohnya cemburu karena orang lain lebih baik daripada kita). Jangan lupa bahwa hubungan Allah dengan jemaat dibandingkan dengan hubungan suami istri. Jika seorang suami benar-benar mencintai istrinya dengan segenap hati dan pikiran, apakah Anda berfikir bahwa ia akan sabar menghadapi istrinya yang tidak setia kepadanya? Suami menjadi cemburu oleh karena kasihnya untuk istrinya. Dengan cara yang sama, Allah menyelamatkan kita dari dosa karena kasihnya untuk kita, apakah Anda berpikir bahwa Allah akan menoleransi tindakan kita kembali kepada dosa? Jika kita meremehkan anugerah dan kasih-Nya, sudah pasti ia akan menunjukkan murkanya.

Mari kita membaca satu pasal di PL: Yesaya 63:8-10.

8 Dia berkata, “Sungguh, mereka adalah umat-Ku; anak-anak yang tidak akan berdusta.” Maka, Dia menjadi Juru Selamat mereka.
9 Dalam semua penderitaan mereka, Dia juga menderita, dan malaikat kehadiran-Nya menyelamatkan mereka. Dalam kasih dan belas kasihan-Nya, Dia menebus mereka. Dia mengangkat mereka dan membawa mereka selama zaman dahulu kala.
10 Akan tetapi, mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya. Karena itu, Dia berbalik menjadi musuh mereka dan Dia sendiri berperang melawan mereka.

Dalam pasal ini, dapatkah Anda melihat bagaimana Allah mengasihi umat-Nya dengan segenap hati dan pikiran? Kasih Allah untuk kita selamanya sempurna, tetapi tidak berarti kita dapat menganggap pasti kebaikannya dengan begitu saja. Ayat 10 memberitahukan kita bahwa ketika umat Allah berjalan dalam dosa, ketika mereka tidak setia kepada Allah, Allah sangat marah dan Ia menganggap mereka sebagai musuh-Nya.  Allah bahkan akan menghakimi mereka. Oleh karena itu, kitab PL selalu mengingatkan kita bahwa Allah kita itu adalah Allah yang cemburu, ia tidak menoleransi setiap dosa di tengah-tengah umat-Nya.

Saat kita dengan benar mengenal karakter Allah, kita juga dapat mengerti kasih Allah pada kita yang dapat digambarkan sebagai api yang menghanguskan. Kecemburuan Allah untuk gerejanya secara tepat mendemonstrasikan kasih-Nya pada kita. Kasih Allah untuk kita dibangun atas dasar kebenaran dan kekudusan, dan kita harus menanggapi kasih-Nya dengan sikap yang benar, hanya dengan cara demikian kita dapat tinggal dalam kasih-Nya. Ketika Anda dapat menangkap poin ini, Anda dapat mengerti perkataan di Yakobus 4:5. Yakobus memberi tahu kita untuk tidak menganggap persahabatan dengan dunia sebagai persoalan sepele. Kita akan menjadi musuh Allah. Allah akan cemburu karena ketidaksetiaan kita. Ia akan menentang kita sama seperti apa yang dilakukan di Perjanjian Lama.


ANUGERAH YANG LEBIH LAGI

Mari kita membaca Yakobus 4:6-10. 

6 Namun, Allah memberi anugerah yang lebih lagi. Karena itu, Kitab Suci berkata, “Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati.”
7 Karena itu, serahkanlah dirimu kepada Allah. Lawanlah setan, maka dia akan lari darimu.
8 Mendekatlah kepada Allah, dan Dia akan mendekat kepadamu. Bersihkanlah tanganmu, hai orang-orang berdosa, dan murnikanlah hatimu, hai orang-orang yang mendua hati.
9 Prihatin, berduka, dan merataplah; biarlah tawamu berubah menjadi ratapan dan sukacitamu menjadi dukacita.
10 Rendahkanlah hatimu di hadapan Tuhan, maka Dia akan meninggikanmu.

Hari ini saya hanya ingin untuk merenungkan sekilas bagian ini bersama-sama. Apakah kita sudah mengerti hubungan antara perikop ini dengan konteks sebelumnya? Yakobus melihat keseriusan dari masalah ini, sehingga ia mendorong jemaat untuk bertobat. Mengapa secara khusus Yakobus menyebutkan tentang “Allah memberi anugerah yang  lebih lagi” di ayat 6? Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa, “Adalah hal yang sepele untuk kita berdosa dan menjadi tidak setia kepada Allah. Anugerah Allah berkelimpahan. Ia tidak akan  meninggalkan kita karena ketidaksetiaan kita kepadanya.” Apakah ini yang dimaksudkan Yakobus? Jelas bukan itu! Yakobus sedang memberi tahu kita bahwa jika kita menjadi sahabat dunia, maka inilah waktu untuk kita bertobat di hadapan Allah. Meskipun kita telah melakukan perzinaan secara rohani, jika kita mau bertobat dengan murni ( NB: kerendahan hati yang dibicarakan Yakobus ialah pertobatan), Allah pasti akan memberikan anugerah-Nya yang berkelimpahan dan sudah pasti ia akan menerima kita. Namun, sebaliknya, jika kita tetap angkuh atau sombong dan menolak untuk bertobat, Allah pasti akan melawan kita. Ini berarti: Allah akan memandang kita sebagai musuh, seperti yang dikatakan Yesaya 63:10.

Setelah mengerti kata-kata Yakobus, mari kita menyimpan apa yang sudah kita dengar di dalam hati kita. Karena kita sudah mengalami anugerah Allah yang berkelimpahan, mari kita menanggapi Allah dengan segenap hati dan pikiran setiap hari dan biarkan Ia menjadi Tuan atas hidup kita. Kita tidak seharusnya mengikuti trend-trend  yang tidak baik dan percaya kepada jalan yang tidak lurus. Pada kesempatan yang akan datang, kita akan mempelajari Yakobus 4:6-10 dengan lebih jelas.

 

Berikan Komentar Anda:

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning

Warning.