new-header-renungan
new-header-renungan
previous arrow
next arrow

 

Philip Yancey |

Saya besar di dalam lingkungan gereja dengan ajaran fundamentalisme yang sangat keras. Pada waktu saya ke luar untuk merasakan luasnya dunia, saya menolak lingkungan legalistik dari masa kanak-kanak saya. Tiba-tiba kata-kata yang dipakai gereja terdengar seperti tipuan belaka. Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian. Sayangnya, ketika saya keluar dari fundamentalisme bagian Selatan Amerika Serikat tersebut, saya tidak hanya menyingkirkan kemunafikannya tetapi juga tubuh gereja (body of believers).

Pertanyaan yang muncul adalah apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen yang sudah percaya? Saya rasa saya tidak sendirian mempertanyakan hal ini. Jauh lebih sedikit orang yang pergi ke gereja di hari Minggu daripada orang yang mengklaim dirinya menjadi pengikut Kristus.

Beberapa orang mempunyai cerita yang sama dengan saya; mereka kecewa atau malah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan dari gereja mereka. Beberapa orang dengan sederhananya berkata bahwa mereka, “tidak mendapatkan apa-apa dari gereja.” Mengikut Yesus adalah satu hal; mengikut orang Kristen lainnya di dalam kebaktian di Minggu pagi adalah hal yang lain.

Setelah saya merenungkan perjalanan ziarah saya, saya bisa menemukan beberapa penghalang yang menjauhkan saya dari gereja. Pertama adalah kemunafikan. Seorang filsuf atheis, Friedrich Nietzche sekali waktu pernah ditanya, apakah yang membuat dirinya berpikiran sangat negatif terhadap orang Kristen. Dia menjawab, “Saya akan percaya pada jalan keselamatan mereka, apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan.”

Pada masa kanak-kanak saya, karena ditakuti dengan fundamentalisme yang kuat, saya mendekati gereja dengan sangat berhati-hati. Setiap Minggu pagi, orang-orang Kristen berpakaian rapi dan tersenyum satu sama lainnya, tetapi saya tahu dari pengalaman pribadi saya bahwa wajah-wajah itu menyelubungi hati yang licik. Saya memberikan reaksi yang sangat keras terhadap kemunafikan yang semacam itu sampai satu waktu, satu pertanyaan muncul, “Apakah yang akan terjadi dengan gereja jika setiap anggota jemaatnya seperti saya?”

Dengan rendah hati, saya mulai berkonsentrasi dengan spiritualitas saya sendiri, bukan dengan orang lain.

Pada akhirnya  saya berpikir bahwa Tuhan sendiri yang akan menghakimi kemunafikan yang ada di dalam gereja: saya tinggalkan penilaian tersebut di dalam tangan Tuhan yang cakap. Saya mulai merasa santai dan bertumbuh dengan mulus, lebih dapat mengampuni orang lain. Bagaimanapun juga, siapakah yang pernah mempunyai istri yang sempurna, atau orangtua yang sempurna, atau anak-anak yang sempurna? Kita tidak dapat memutuskan ikatan keluarga hanya karena ketidaksempurnaan. Lalu, mengapa harus berputus asa terhadap gereja?

Saya menikmati kelompok kecil di mana orang-orang berbicara mengenai kehidupannya, berdiskusi tentang iman, dan berdoa bersama-sama. Dalam kebaktian gereja formal, berbagai rutinitas, pengulangan-pengulangan, warta jemaat, pengumunan, dan acara duduk dan berdiri itu memang bisa sangat mengganggu. Saya tertolong ketika saya membaca tulisan yang ditulis oleh C. S Lewis dan orang Kristen lainnya yang berharap untuk memuji Tuhan tetapi merasakan gereja hanyalah sebagai penghambat daripada penolong. Contohnya Anne Dillard, pemenang Pulitzer Prize pernah menggambarkan gereja seperti ini,

Dari minggu ke minggu saya tergugah dengan perasaan sedih melihat karpet gersang dan juga oleh nyanyian kosong, pembacaan Alkitab yang tidak bersemangat, liturgi yang kosong dengan suara yang diseret-seret, khotbah yang menakutkan, dan juga oleh kabut kejenuhan yang mengiringi semuanya itu. Semuanya itu terus menerus ada dan mungkin hal itu yang justru menyebabkan kita datang, kita kembali lagi, kita muncul lagi, minggu demi minggu, kita terus melewatinya.

Selama bertahun-tahun, rutinitas gereja, rutinitas yang pernah menjengkelkan saya, terasa nyaman, senyaman memakai sepasang sepatu lama. Sekarang saya menyukai lagu-lagu himne, saya tahu kapan harus berdiri dan kapan harus duduk, saya mendengarkan pengumuman karena ini menyangkut aktivitas di mana saya terlibat.

Apa yang sudah mengubah pemikiran saya tentang gereja? Seorang yang skeptis mungkin berkata bahwa saya membuang pengharapan saya, atau mungkin saya ‘terbiasa’ dengan gereja dan kepalsuannya, saya terbiasa dengan opera ini. Tetapi saya merasakan sesuatu yang berbeda: gereja sudah mengisi hidup saya dengan cara yang tidak bisa saya jumpai di tempat lain. Saint John of the Cross menulis, “Jiwa yang saleh yang sendirian…itu seperti batubara yang sendirian. Batubara itu akan menjadi lebih dingin daripada menjadi lebih panas.” Saya percaya bahwa pernyataannya ini benar.

Kekristenan tidak hanya sekadar masalah intelektual dan iman pribadi. Kekristenan hanya dapat hidup di dalam suatu komunitas. Mungkin karena alasan ini, saya hampir tidak pernah menarik diri dari gereja. Jauh di dalam lubuk sanubari saya, saya merasa bahwa gereja memiliki sesuatu yang sangat saya butuhkan. Ketika saya meninggalkan gereja untuk suatu waktu, saya menemukan bahwa sebenarnya sayalah yang paling menderita. Iman saya memudar, dan perasaan kasih yang ada di dalam hidup saya juga turut ikut memudar. Saya menjadi semakin dingin.

Sekarang ini, walaupun kehidupan bergereja saya pasang surut, saya sukar membayangkan kehidupan tanpa gereja. Ketika istri saya dan saya pindah ke daerah lain, prioritas utama kami adalah mencari gereja. Kalau kami melewati satu hari Minggu tanpa gereja, maka kami akan merasakan kehampaan.

Bagaimana caranya saya berubah dari seorang yang skeptis terhadap gereja menjadi seorang yang menyokong gereja, dari seorang penonton menjadi seorang yang turut berpartisipasi? Dapatkah saya mengatakan apa yang sudah mengubah sikap saya terhadap gereja? Saya dapat menjawab dengan mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, saya sudah menemukan apa yang harus dicari dalam sebuah gereja.

Di masa kecil saya, saya tidak punya pilihan gereja selain gereja yang biasa saya datangi. Kemudian,  saya berpindah-pindah gereja, mencoba sana sini. Proses ini mengajarkan kepada saya bahwa kunci untuk mencari gereja yang tepat terletak pada diri kita sendiri. Ini melibatkan cara saya memandang dan menilai sesuatu. Sekali saya belajar bagaimana untuk melihat, masalah seperti denominasi, menjadi tidak begitu penting.

Yang saya maksudkan adalah, pada waktu saya ke gereja, saya belajar untuk memandang ke atas, ke sekeliling,  ke luar dan ke dalam. Cara pandang yang baru ini sudah menolong saya untuk berhenti mengkritik, tetapi sebaliknya saya belajar untuk memberi toleransi dan juga untuk mencintainya.

Saya yakin kalau kita memiliki cara pandang ini, kita dapat mengubah pemahaman kita tentang gereja yang seharusnya. Sewaktu kita mempunyai visi yang benar tentang gereja, sebagai seorang yang ikut terlibat di dalamnya, kita dapat menolong untuk mengubah gereja menjadi tempat yang seperti Allah maksudkan.

(Apa yang dimaksudkan dengan memandang ke atas, ke sekeliling, ke luar dan ke dalam akan dijabarkan di artikel yang selanjutnya)

Dikutip dan diedit dari buku “Mengapa Risau karena Gereja?” karangan Philip Yancey