Pastor Eric Chang | Matius 24:28

Kita akan melanjutkan eksposisi dalam pengajaran Yesus di Matius 24:28. Seluruh bagian dari Matius 24:15-28 berhubungan dengan satu pokok.

“Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel para pembaca hendaklah memperhatikannya maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.

 

Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya, dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.

Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat. Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.

Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.

Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya. Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.

Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.”


Janganlah mudah percaya

Perhatikan bahwa bagian ini berkenaan dengan Anti Kristus, pembinasa keji (ayat 15). Kemunculan mesias-mesias palsu dan guru-guru palsu disebutkan di ayat 24. Namun ayat berikutnya kembali membicarakan tentang satu orang. Di ayat 26, “Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun (perhatikan kata ‘ia’ yang menunjukkan tentang satu orang), janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik (di sini kembali digunakan kata ‘ia’, kata ganti berbentuk tunggal), janganlah kamu percaya.” Ayat ini berfokus pada satu hal, yakni ‘ia’: Ia ada di padang gurun, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya, karena ‘ia’ di sini bukanlah Kristus yang sejati melainkan Anti Kristus.

Jadi, perikop ini memusatkan perhatiannya kepada Anti Kristus. Oleh karenanya, seperti yang telah kita lihat di pesan yang lalu, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bahwa tujuan utama perikop ini adalah agar kita tidak disesatkan. Di dalam perikop ini, dua kali kalimat ‘jangan percaya’ diucapkan. Orang Kristen bukanlah orang yang boleh begitu saja percaya akan segala sesuatu. Orang Kristen harus melatih persepsi mereka. Anda tidak boleh begitu saja mempercayai apapun yang dikatakan oleh orang lain tanpa memilahnya secara rohani. Anda harus melatih pemahaman rohani Anda, dan hal ini tidak sekadar melibatkan kecerdasan; hal ini melibatkan pemahaman rohani dan pemeriksaan yang cermat apakah sesuatu hal yang disampaikan itu benar atau tidak. Orang Kristen tidak boleh mudah percaya. Mereka diharapkan untuk punya pemahaman, untuk memeriksa setiap ajaran, setiap pernyataan: apakah ini benar atau salah? Tujuannya adalah untuk menghindari penyesatan oleh para guru palsu dan oleh Anti Kristus itu sendiri, itulah pokok utama dari perikop ini.

Sekarang kita masuk ke ayat 28, ayat yang telah menyusahkan banyak penafsir. Sebagian dari sumber masalah itu adalah karena kita tidak paham dengan baik cara Yesus mengajar; kita juga tidak paham cara Yesus berkhotbah yang memakai perlambangan. Kita adalah orang-orang melewati pendidikan barat yang menekankan cara berpikir yang sangat harfiah. Kita kesulitan berurusan dengan lambang dan perumpamaan. Kita tahu bagaimana berurusan dengan pernyataan yang bersifat langsung. Kita tahu bagaimana menangani matematika, bidang ini cukup tegas dan harfiah bagi kita, akan tetapi bahasa sastra, puisi adalah hal yang tidak mudah bagi kita. Seringkali dasar pendidikan ilmiah Anda akan menimbulkan banyak persoalan karena Anda tidak bisa mengikuti cara berpikir seorang penyair. Cobalah baca karya Keats atau Lord Milton atau karya siapa saja dan Anda akan mendapati bukanlah hal yang mudah memahami puisi. Kita memang tidak terbiasa dengan bahasa puisi, tidak terbiasa dengan bahasa perumpamaan.

Saat saya memeriksa karya-karya para penafsir, mereka mengalami kesulitan memahami ayat-ayat ini. Namun, penafsirannya tidaklah sulit jika kita tahu cara berpikir Yesus dan juga caranya mengajar.


Matius 24:28 tidak persis sama dengan Lukas 17:37

Matius 24:28,

“Di mana ada bangkai (ptoma), di situ burung nazar berkerumun.”

(Jika Anda membaca versi RSV, Anda akan melihat kata ‘eagle (elang)’ sebagai terjemahan yang dipakai dan kata ‘vulture (burung nazar)’ pada bagian tepi halaman sebagai alternatif terjemahan. Ini karena bahasa sumbernya memang bisa bermakna elang atau burung nazar.) 

Mari kita baca ayat parallel di Lukas 17:37. Dalam mempelajari Kitab Suci, sangatlah penting bagi kita untuk mendalami ayat-ayat yang sejajar atau parallel.

“Kata mereka kepada Yesus: ‘Di mana, Tuan?’ Katanya kepada mereka: ‘Di mana ada tubuh (soma), di situ berkerumun burung elang.'” [berdasarkan terjemahan NKJV]

Bagi mereka yang benar-benar ingin belajar untuk melayani Tuhan, Anda harus belajar untuk meneliti sumber aslinya. Meneliti dari bahan terjemahan sangat tidak bermanfaat! Tak peduli seberapa baik penguasaan bahasa Inggris (atau bahasa Indonesia Anda), Anda tidak akan bisa mengetahui ujung pangkal ayat ini karena Anda tidak akan punya cara yang bisa dipakai untuk memahami ayat ini.

Jika Anda memakai terjemahan versi RSV, dan Anda membandingkan kedua ayat tersebut, Anda akan lihat bahwa tidak ada perbedaan yang menyolok dari kedua ayat tersebut.

Akan tetapi, jika Anda periksa dalam naskah Yunani, Anda akan menemukan bahwa 50% kata yang dipakai dalam bahasa Yunani di kedua ayat itu berbeda! Namun di dalam terjemahan Alkitab China [dan LAI] tidak terdapat perbedaan. Sungguh mengejutkan! Separuh atau 50% dari kata yang dipakai di dalam kedua ayat itu berbeda di dalam bahasa Yunani. Namun perbedaan itu sama sekali tidak tampak pada terjemahan Inggris.

Berdasarkan perbedaan ini Anda akan mendapati bahwa Matius dan Lukas menyampaikan hal yang sama sekali berbeda.


Kunci untuk memahami perbedaannya terletak pada kata ‘body (tubuh atau bangkai)’

Kunci untuk memahami perbedaan kedua ayat ini pada kata ‘body (tubuh atau bangkai)’. Kata ‘tubuh’ dalam bahasa Yunani yang dipakai di Matius berbeda dengan yang di Lukas. Maafkan saya kalau harus masuk ke dalam bahasa asli. Dalam bahasa Yunani, terdapat kata soma yang bermakna tubuh. [Kata soma ini juga dipakai dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh, ada istilah ‘psychosomatic’. ‘Psycho’ berasal dari kata Yunani psuchos, pikiran, dan selanjutnya kata soma yang berarti tubuh. Dan ‘psychosomatic’ adalah istilah yang menyatakan pengaruh dari pikiran terhadap tubuh. Jika ada orang yang mengaku merasa sakit di tubuhnya, lalu Anda berkata, “Itu hanya pikiranmu saja; itu psychosomatic; bukan hal yang nyata.”] Jadi, di Lukas, yang dipakai adalah kata soma, kata yang bermakna tubuh. Sedangkan kata yang dipakai di Matius, yang diterjemahkan dengan kata ‘bangkai’ adalah kata yang berbeda dalam bahasa Yunaninya. Kata yang dipakai adalah ptoma.

Soma (di Lukas) selalu mengacu pada tubuh yang hidup. Ptoma di Matius selalu mengacu pada bangkai. Tanpa menangkap pokok ini, maka Anda tidak akan bisa memahami ayat ini. Jika Anda membuka konkordansi dan meneliti pemakaian kata ini dalam Alkitab berbahasa Yunani, Anda akan menemukan bahwa kata soma selalu mengacu pada tubuh yang hidup.


Yesus memberikan tubuhnya yang memberi hidup

Hal ini sangatlah penting untuk bisa dipahami, misalnya dalam mengartikan komuni. “Inilah tubuhku. Aku memberikannya kepadamu.” “Inilah soma-ku, yang kuberikan kepadamu.” Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah, “Yang kuberikan kepadamu adalah tubuh yang hidup, bukannya bangkai! Oleh karenanya, kalau kamu makan tubuh yang hidup ini, maka kamu akan hidup.” Itulah sebabnya mengapa di Yohanes 6, orang banyak saat itu sangat terkejut mendengar ucapannya: “Bagaimana mungkin kami harus memakan dagingmu, tubuhmu? Apa maksudmu? Engkau masih hidup dan berdiri di sini, tetapi engkau ingin agar kami menggigitmu? Apakah kami harus membunuh dan memanggangmu? Apa yang harus kami perbuat? Apa maksud ucapanmu – ‘makanlah dagingku’?” Yang sedang dia sampaikan adalah hal yang rohani. Oleh karenanya, di perjamuan kudus, misalnya yang disebutkan di 1 Korintus 11, “Inilah tubuhku,” yang disebutkan adalah soma bukan bangkai. “Inilah tubuhku yang membawa hidup. Inilah yang kuberikan kepadamu.” Kata yang dipakai di sana adalah soma, camkanlah hal ini baik-baik.

Kita adalah tubuh Kristus. Gereja adalah tubuh Kristus, bukan bangkai Kristus tetapi tubuh Kristus. Kerap kali, gereja justru menjadi bangkai, maafkan kalau saya berkata seperti ini. Kita tidak direncanakan untuk menjadi bangkai. Kita diharapkan untuk memanifestasikan hidup Kristus. Kita adalah tubuh Kristus, yang mempunyai hidup Kristus yang harus disalurkan pada dunia.

Namun berbeda dengan kata ptoma di Matius. Kata ptoma di Matius itu selalu bermakna bangkai.  Begitu kita memahami ini, maka kita akan tahu bahwa dalam hal ini memang terdapat suatu parallel, ada perbandingan yang menunjukkan perbedaan penting di antara Matius dan Lukas. Jangan mengira bahwa Matius dan Lukas sedang menyampaikan hal yang sama persis. Seringkali, keduanya memang terlihat mirip, akan tetapi isi yang disampaikan memiliki perbedaan yang mendasar, saling melengkapi namun menunjukkan hal yang berbeda. Jadi ketiga Injil yang ada pada kita ini tidak sekadar menyatakan hal yang sama berulang-ulang, melainkan saling melengkapi antara satu dengan yang lain, memberi kita pemahaman yang lebih mendalam akan makna rohani yang penting dari sesuatu hal. Jika kita mulai paham akan hal ini, maka kita sudah berada di jalur yang benar untuk memahami isi ayat ini.


Kata yang diterjemahkan dengan ‘elang’ itu memang bisa bermakna burung elang atau burung nazar

Apakah hal yang sedang disampaikan kepada kita? Pertama, kita harus mempelajari masalah tentang makna ‘elang’. Di bagian catatan pinggir versi RSV menyebutkan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan dengan kata elang juga bisa bermakna burung nazar. Mereka memang termasuk dalam jenis yang sama akan tetapi merupakan makhluk dengan ciri yang sangat berbeda, bukankah begitu? Anda bisa membedakan antara burung elang dengan burung nazar dalam berbagai hal, akan tetapi perbedaan yang paling pentingnya adalah: burung nazar selalu mencari ptoma, bangkai, sedangkan burung elang tidak berminat pada bangkai; burung elang hanya berminat pada tubuh yang hidup. Inilah kunci pemahaman utamanya. Begitu Anda mengerti bahwa ayat yang satu berbicara tentang bangkai sedangkan ayat yang lain berbicara tentang tubuh yang hidup, maka Anda juga akan paham bahwa ayat yang satu berbicara tentang elang sedangkan ayat yang lainnya berbicara tentang burung nazar. Di sanalah letak perbedaan yang sangat penting!

Baru-baru ini, saya menelusuri bacaan tentang burung elang. Menjadi seorang pengkhotbah berarti Anda harus mempelajari banyak hal. Di pesan yang lalu, saya mempelajari tentang kilat, dan kali ini saya mempelajari tentang burung elang. Sebagai pengkhotbah Anda mengumpulkan begitu banyak pengetahuan, hal-hal yang memang penting untuk bisa menguraikan isi Firman Allah dengan cermat tanpa mengumbar omong kosong.

Satu hal yang perlu Anda ketahui tentang burung elang adalah, pada umumnya mereka tidak mengincar bangkai, kecuali jika sudah sangat kelaparan; mereka selalu mengincar makhluk hidup. Saya membaca artikel tentang burung elang emas (golden eagle) di wilayah selatan Amerika Serikat. Dan kehidupan burung jenis ini sangat menarik. Sebagai contoh, Anda bisa menangkap burung golden eagle ini dengan mengumpankan merpati. Ketika umpan itu mengepakkan sayapnya, segera saja burung elang yang sedang terbang tinggi di atas itu melihat adanya makhluk hidup di bawah dan akan segera menukik turun. Si penulis artikel ini bersembunyi di dalam sebuah lubang yang dia tutupi dengan daun-daun, dan menempatkan umpan merpati di atasnya. Ketika elang itu mendarat untuk menerkam merpati yang hidup ini, si penulis artikel ini langsung menangkap kaki elang tersebut. Tentu saja, tangan si penulis itu telah dilindungi dengan sarung tangan yang sanggup untuk menahan patukan paruh elang yang sangat kuat ini. Elang selalu mengincar makhluk yang hidup seperti kelinci atau mahluk lain yang berkeliaran di bawah. Mereka memiliki penglihatan yang sangat tajam, dan juga kecepatan yang luar biasa. Mereka menukik dari ketinggian, meluncur turun dalam gaya yang tak akan bisa ditiru oleh pesawat tempur manapun untuk menyambar mangsanya. Akan tetapi mangsa itu harus hidup. Mereka tidak berminat pada bangkai. Kecuali, seperti yang telah saya sampaikan, hanya saat mereka berada di dalam kurungan dan sangat kelaparan.

Sedangkan burung nazar, pada umumnya, mencari bangkai. Mereka tidak mengincar mahluk hidup. Sekalipun burung nazar memiliki ukuran yang sama besar dengan burung elang, dan paruh serta cakarnya juga sama kuatnya, namun mereka tidak akan mengejar kelinci. Mungkin membutuhkan terlalu banyak usaha untuk mengejar kelinci. Burung nazar tidak mau mengejar makhluk yang masih hidup. Yang mereka inginkan adalah bangkai, jadi ketika mereka melihat ada makhluk yang sedang sekarat, burung-burung nazar ini akan berkerumun mengelilingi dan menunggu. Mereka menunggu sampai makhluk itu mati. Jika mahluk itu masih bergerak, maka mereka tidak akan mendatangi. Jika makhluk itu sudah mati, barulah mereka datang. Pada umumnya, mereka mengincar bangkai. Sungguh sangat menarik. Dan memang inilah pokok yang ingin disampaikan di ayat ini.


Burung-burung nazar dipikat oleh bangkai sedangkan burung elang dipikat oleh tubuh yang hidup

Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan untuk bisa menguraikan isi ayat ini dengan cermat adalah kata ‘berkerumun’, yang di Matius – pada versi terjemahan RSV – diterjemahkan dengan benar: “be gathered (terjemahan versi LAI menggunakan kata berkerumun, suatu bentuk aktif yang berbeda dengan maksud dari kata aslinya yang memakai bentuk pasif).” Perhatikan bentuk pasif yang dipakai dalam kata ‘be gathered‘, di dalam bahasa Inggrisnya, kata tersebut diterjemahkan dalam bentuk yang benar, yakni bentuk pasif. Maknanya adalah bahwa burung-burung nazar itu bukan secara aktif berkumpul, mereka itu dikumpulkan.

Dan di Lukas juga demikian, bukannya burung-burung elang itu yang secara aktif berkumpul, mereka dikumpulkan. Yang satu [burung nazar] dikumpulkan karena dipikat oleh bangkai [di Matius] dan satu lagi [elang] dikumpulkan oleh tubuh yang hidup [di Lukas]. Mereka dikumpulkan dalam arti dipikat. Perhatikan bahwa baik kata burung nazar maupun burung elang, di dalam bahasa aslinya, memakai bentuk jamak. Bukannya burung nazar atau burung elang, melainkan burung-burung nazar dan yang satunya lagi adalah burung-burung elang.


Bangkai itu adalah Anti Kristus dan dia mengumpulkan burung-burung nazar

Apakah hal yang penting dari perlambangan ini? Pokok yang penting dari perlambangan ini adalah:  dalam konteks ayat [di Matius] ini, apakah yang dimaksudkan dengan bangkai?  Konteks ayat-ayat ini berkaitan dengan Anti Kristus. Anti Kristus adalah subyek dari ayat ini. Bangkai itu adalah si Anti Kristus. Dan Anti Kristus ini akan menarik burung-burung nazar datang kepadanya 


Waspadailah kemiripan yang luar biasa antara yang palsu dengan yang sejati


Burung elang dan burung nazar

Keindahan dari gambaran ini tidak akan pernah bisa diungkapkan melalui pernyataan ilmiah melainkan hanya melalui gambaran yang sangat indah dari bahasa perlambangan. Perhatikanlah: elang dan burung nazar memiliki kemiripan yang sangat dekat. Pokok yang penting mengenai keindahan dari gambaran ini adalah terdapat kemiripan di antara burung nazar dan elang. Sedemikian dekat kemiripan mereka sehingga dalam bahasa Yunani tampaknya tidak ada perbedaan di antara keduanya. Semuanya dipandang sebagai keluarga elang, sekalipun naluri dan karakter mereka berbeda. Mereka tetap disebut sebagai elang di dalam bahasa Yunani. Sungguh menarik, bukankah begitu?


Tubuh yang hidup dan yang mati

Perhatikan kemiripan lainnya lagi. Tubuh yang mati dan yang hidup juga memiliki kemiripan yang sangat dekat antara satu dengan yang lainnya. Dalam bahasa Inggris, kata ‘body (tubuh)’ tidak membedakan antara yang sudah mati atau yang masih hidup karena keduanya memiliki kemiripan yang sangat dekat. Dan malahan, dalam segala hal, tubuh yang sudah mati maupun yang masih hidup memang sangat serupa kecuali satu perbedaan saja, yaitu yang satu memiliki kehidupan dan yang satunya tidak. Di sinilah letaknya keindahan dari gambaran ini. Justru karena tubuh yang sudah mati dan yang masih hidup itu sangat serupa, dibutuhkan ketajaman persepsi untuk memastikan apakah tubuh itu hidup atau sudah mati.

Kadang-kadang, kita membutuhkan keberadaan seorang dokter untuk memastikan apakah seseorang sudah mati secara klinis atau masih hidup. Anda perlu memeriksa denyut nadi, dan jika denyutnya terlalu lemah, Anda perlu memakai cara lain – mungkin dengan meletakkan kaca atau sesuatu di bawah hidungnya untuk melihat apakah ada embun hasil hembusan nafas. Tidak selalunya mudah untuk memastikan apakah seseorang sudah mati atau masih hidup. Dibutuhkan persepsi yang tajam untuk memastikan apakah seseorang itu masih hidup atau telah mati


Kristus dan Anti Kristus akan terlihat sangat serupa

Ayat ini juga memberitahu kita sesuatu hal, melalui bahasa yang sangat indah: Waspadalah akan kemiripan dari hal-hal yang pada dasarnya sangat berbeda. Kristus dan anti Kristus mungkin akan tampak serupa pada pandangan pertama. Kita bisa saja memastikan seseorang sudah mati atau masih hidup secara jasmaniah melalui serangkaian pemeriksaan tertentu. Tetapi mampukah Anda memastikan apakah seseorang itu hidup atau mati secara rohani? Bisakah Anda memastikannya? Saya rasa keyakinan Anda akan jauh berkurang jika harus memastikan apakah seseorang itu hidup atau mati secara rohani. Kadang-kadang memang sangat sukar untuk dipastikan. Seringkali, jika Anda memikirkan tentang seseorang, Anda mengalami kesulitan untuk mengetahui apakah orang itu hidup atau mati secara rohani? Sungguh sukar untuk dipastikan. Dan tepat di titik itulah penyesatan akan masuk. Saat Anti Kristus tampil, seperti yang dikatakan oleh Yesus, dia mengadakan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat, melakukan hal-hal yang luar biasa, menunjukkan kuasa rohani, mampukah Anda memastikan bahwa kuasa itu berasal dari Allah atau bukan? Mampukah Anda memastikannya? Jika ada orang yang bisa membangkitkan orang mati, apakah Anda yakin bahwa dia sedang menjalankan kuasa Allah?


Iblis juga memiliki kuasa untuk mengerjakan hal-hal yang luar biasa

Saya pernah membaca tentang seorang penyihir. Dalam keadaan tertentu, dia mampu untuk membangkitkan orang mati. Belakangan, ketika dia menjadi Kristen, dia ditanyai bagaimana dia bisa melakukan hal tersebut? Bagaimana dia bisa mengadakan mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati? Karena pada masa sebelumnya dia bukanlah orang Kristen, tentunya dia tidak bisa memakai kuasa Allah. Lalu bagaimana dia bisa mengadakan berbagai mukjizat? Dengan terus terang dia menjawab, “Dengan memakai kuasa Iblis tentunya.”

Iblis juga memiliki kuasa. Dan ini tampaknya merupakan hal yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang Kristen zaman sekarang. Jika Iblis bisa melakukan mukjizat yang sama hebatnya dengan mukjizat yang dilakukan oleh beberapa orang Kristen, lalu bagaimana Anda akan memastikan bahwa yang satu asli dan yang satunya palsu? Bagaimana Anda akan memastikan bahwa tubuh yang ini hidup sedangkan tubuh yang lainnya mati secara rohani? Mana yang hidup dan mana yang mati? Perhatikan firman yang telah kita pelajari di pesan yang lalu: “sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” Bahkan orang-orang pilihan akan mengalami saat-saat yang sukar untuk membedakan, “Ini asli ataukah palsu? Apakah ini berasal dari Allah atau bukan?” Sangat sukar untuk dipastikan. Ada kemiripan yang luar biasa.

Saya telah menyaksikan Allah mengadakan mukjizat-mukjizat. Saya telah melihat orang sakit disembuhkan. Saya telah menyaksikan Allah melakukan hal-hal yang ajaib, namun akan selalu muncul pertanyaan di dalam benak Anda, apakah ini berasal dari Allah? Apakah ini hasil perbuatan kuasa roh yang lainnya? Anda harus selalu membedakannya. Dan Anda yang berasal dari Asia tentunya tahu bahwa bukan hanya orang Kristen saja yang bisa berbahasa roh, para dukun juga bisa berbahasa roh sefasih orang Kristen. Anda akan menggaruk-garuk kepala dan berkata, “Hei! Orang Kristen ini berbahasa roh tetapi dukun itu juga berbahasa roh, mana yang asli? Mana yang sejati? Mana yang palsu?” Kalau dia tidak memberitahu Anda bahwa dia adalah dukun, anggaplah dia datang dan berkata, “Aku juga orang Kristen.” Bagaimana Anda bisa tahu bahwa dia adalah orang Kristen sejati atau bukan? Anggaplah dia bukan sekadar tidak memberitahu Anda bahwa dia adalah seorang dukun. Anggaplah bahwa dia ingin masuk ke gereja dan akan berbahasa roh. Dia berkata, “Kamu bisa berbahasa roh? Aku bisa melakukannya lebih dari kamu.” Lalu dia mulai berbahasa roh. Dan Anda akan terpesona!


Orang bisa berbicara dengan memakai nama Tuhan padahal apa yang disampaikan itu berasal dari Iblis

Sebagaimana yang pernah saya sampaikan kepada sebagian dari Anda, hal semacam ini juga pernah terjadi di Liverpool. Seorang wanita bernubuat dalam keadaan kesurupan. Pernahkah Anda melihat orang bernubuat selagi kesurupan? Hal ini akan membuat bulu kuduk Anda berdiri jika Anda belum pernah melihat hal semacam ini sebelumnya. Sungguh pengalaman yang mengerikan! Saat orang-orang memanggil saya untuk menemui wanita yang sedang bernubuat ini, keadaannya sungguh luar biasa sehingga banyak anak muda di gereja kami yang bersembunyi di ruang dalam karena ketakutan. Mereka sangat ketakutan mengalami hal ini. Wanita ini berkata, “Demikianlah firman Tuhan!” Dan dia dalam keadaan tidak sadar, saat suaminya, yang saat itu masih belum Kristen, menampar pipinya, dia sama sekali tidak menyadari ada orang yang sedang menamparinya. Dia sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Hal ini saya sampaikan karena memang sangat sukar untuk membedakan apakah sebuah tubuh itu sudah mati atau masih hidup secara rohani.


Bukan semua yang bisa membangkitkan orang mati memakai kuasa dari Allah

Di sini Anda bisa memahami maksud perkataan saya bahwa Anda tidak boleh asal percaya akan semua hal yang dikatakan oleh orang lain. Anda harus melatih kemampuan Anda untuk membedakan (discern). Saya yakin jika ada orang di sini yang secara klinis dinyatakan sudah mati, lalu ada orang yang datang dan membangkitkan orang tersebut dari kematian, hal yang sudah seringkali terjadi, Anda pasti akan sangat kagum sehingga Anda akan mengira bahwa orang ini berasal dari Allah. Dia pasti berasal dari Allah karena hanya Allah yang bisa membangkitkan orang mati. Tidak, jangan tergesa-gesa. Bahkan para dokter di zaman sekarang ini bisa membangkitkan orang mati, walaupun mereka masih belum menjadi Allah. Saat jantung berhenti berdetak, para dokter dengan keahlian mereka yagn tinggi, bisa melakukan berbagai hal yang luar biasa. Mereka menaruh alat kejut listrik di dada Anda dan dalam satu sentakan, jantung Anda akan berdetak kembali! Fantastis! Sunguh fantastis! Mereka bahkan bisa membangkitkan kembali orang mati dengan kejutan listrik. Jadi, jangan terlalu yakin bahwa orang yang bisa membangkitkan orang mati itu kuasanya berasal dari Allah. Tidak selalu demikian.


Sangatlah penting untuk memiliki kemampuan untuk memilah!

Saya sangat ingin menekankan poin ini untuk menunjukkan kepada Anda, mengapa di akhir zaman ini akan semakin sukar untuk membedakan apakah seorang pengajar itu palsu atau asli; apakah seorang nabi itu berasal dari Allah atau bukan; apakah orang yang mengaku sebagai mesias itu memang Kristus atau bukan. Membutuhkan kemampuan untuk memilah dengan tajam. Bagaimana cara kita untuk membedakan yang asli dengan yang palsu di tengah angkatan ini? Inilah pokok yang terkandung di dalam Firman ini. Sangatlah penting untuk bisa memilah.


Apakah kita tertipu atau tidak tergantung pada natur kita

Begitu kita paham bahwa ayat yang satu berbicara tentang tubuh sedangkan ayat yang lainnya berbicara tentang bangkai dan ayat yang satu berbicara tentang elang sedangkan ayat  yang lainnya berbicara tentang burung nazar, maka kita tahu bahwa untuk bisa memilahnya, yang dibutuhkan bukan suatu teknik. Ini bukanlah persoalan teknik. Yesus sedang memberitahu kita bahwa untuk bisa memilahnya kita harus menjadi orang dengan ciri tertentu.

Burung nazar memiliki natur yang tertentu, dan ciri itu adalah bahwa ia selalu mencari bangkai. Ini bukan merupakan suatu hasil dari pelatihan, natur alamiahnya adalah bahwa dia tertarik pada bangkai. Persoalan apakah Anda akan tertipu oleh Anti Kristus atau tidak bukan terletak pada apakah Anda sudah membangun suatu teknik pembedaan yang canggih atau tidak. Apakah kita dapat memilah dengan baik atau tidak, berkaitan erat dengan watak kita.

Burung elang, berdasarkan watak alaminya, sangat berbeda dengan burung nazar. Watak alaminya akan mengejar makhluk yang hidup, makhluk yang masih menunjukkan kehidupan. Burung elang tidak tertarik pada bangkai; ia tertarik pada makhluk hidup! Ia mungkin saja akan melihat ada satu benda tergeletak di tanah, lalu ia akan terbang mengitarinya, dan ketika ia sudah memastikan bahwa benda itu mati, ia tidak akan berminat dan terbang pergi. Burung nazar, saat melihat mayat seseorang, ia akan sangat terpikat. Ia akan terbang mengitarinya. Berbeda dengan burung nazar, burung elang hanya terpikat pada makhluk hidup.


Apakah yang menjadi natur Anda?

Lalu, kebenaran penting apa yang bisa kita pelajari dari sini? Agar secara rohani tidak tertipu, maka Anda harus memiliki natur yang baru, natur yang terpikat pada yang hidup, yang mengejar kehidupan dan hal-hal yang hidup. Jika Anda adalah pribadi yang memiliki natur burung elang, natur yang mengejar hal yang hidup, maka Anti Kristus akan sangat kesulitan untuk menipu Anda.

Namun jika Anda adalah orang yang memiliki natur burung nazar, yang mengejar hal-hal yang mati, maka Anti Kristus tidak akan mengalami kesukaran dalam menyesatkan Anda. Anda akan mendapati bahwa Anti Kristus ini sangat memikat bagi Anda; natur Anda begitu tertarik dengan dia karena natur Anda memang condong pada hal-hal yang mati. Inilah pelajaran rohani yang sangat penting dari ayat ini dan Anda harus tanyakan diri Anda apa yang menjadi natur Anda? Seluruh umat manusia terbagi ke dalam kedua kelompok ini. Tidak ada keompok yang ketiga. Anda hanya akan mengejar yang hidup atau yang mati.

Ajaran yang sama dapat ditemukan, misalnya, di Lukas pasal 13 tentang dua jalan. Di Lukas 13:24, Yesus sudah menyatakan bahwa ada dua jalan: yang satu adalah jalan lebar menuju kebinasaan, yang satunya lagi adalah jalan sempit yang menuju hidup kekal. Mengapa mayoritas orang masuk ke jalan besar yang menuju kebinasaan? Mengapa mereka memiliki natur burung nazar; mengapa mereka mengejar bangkai? Bukan karena mereka secara sengaja untuk memilih yang jahat, akan tetapi natur mereka yang akan mendorong mereka menuju ke arah jalan besar yang ujungnya adalah kebinasaan. Natur Anda akan menjadi faktor penentu tentang hal-hal yang akan terjadi nanti.

Akan tetapi burung elang memilih jalan menuju hidup; berminat pada jalan sempit menuju hidup yang kekal. Jauh lebih mudah untuk memakan bangkai. Anda tidak perlu berusaha, tidak perlu berjuang, tidak perlu menukik, tidak perlu bergerak. Makhluk yang diincar sudah mati. Bangkai itu tergeletak di sana dan Anda hanya perlu mendekati, seperti yang dilakukan oleh burung nazar, lalu memakan bangkai itu. Cukup itu saja. Kelihatannya ini merupakan jalan hidup yang jauh lebih mudah. Burung elang harus memiliki penglihatan yang tajam, kemampuan untuk mengkordinasikan gerakan serta penentuan waktu yang tepat bagi tindakannya.

Artikel mengenai burung golden eagle itu berkata bahwa dibutuhkan kecerdikan dan keterampilan untuk bisa menangkap hewan yang hidup dan mampu bergerak cepat. Si penulis menceritakan bagaimana dia terpesona menyaksikan saat seekor golden eagle menukik turun untuk menyambar seekor kelinci. Anda tahu bahwa kelinci berlari sangat cepat dan juga melakukan zig zag (berlari berbelok-belok ke kiri dan ke kanan) jika sedang diburu. Sama seperti jika sebuah pesawat tempur menukik dan mengarahkan senapan mesinnya ke arah Anda, Anda tentu tidak berlari lurus, Anda akan berlari zig zag, dengan harapan supaya peluru pesawat tersebut meleset. Atau jika ada orang yang ingin menembak Anda, Anda tentunya tidak akan lari dalam jalur lurus. Anda akan berlari zig zag untuk mempersulit dia membidik Anda. Siapa yang mengajari kelinci akan keterampilan ini? Kelinci itu berlari zig zag dan sangat cepat. Si penulis menyaksikan keterampilan golden eagle itu [dalam mengatasi gerak lari kelinci buruannya]. Elang itu menukik di belakang si kelinci dan membuat sebuah gerakan seolah-olah ia akan berbelok ke satu arah. Si kelinci yang melihat gerakan itu lalu berlari ke arah yang lainnya, hal yang justru diharapkan oleh burung elang tersebut. Dan elang itu lalu berbalik memotong jalur lari si kelinci. Keahlian yang hebat! Mungkin bisa dikatakan bahwa elang ini telah melatih suatu kecerdasan yang luar biasa! Ia membuat gerakan seolah-olah akan bergerak ke satu arah, dengan memperkirakan bahwa si kelinci akan berbelok ke arah yang lainnya, lalu ia berbalik langsung ke arah yang dituju kelinci itu, membuat gerakan zig zag dari si kelinci menjadi sia-sia. Wah! Anda tentunya tidak mau bermain catur melawan elang, ia sudah membuat perkiraan tentang gerakan Anda sebelumnya! Namun, bukan hanya itu hal yang luar biasa, pertimbangkanlah bagaimana cara dia harus mengatur waktu bertindak, mengukur kecepatannya dan juga kecepatan si kelinci. Sungguh hebat! Ini sangat memerlukan keahlian; menghabiskan banyak tenaga; memerlukan pengaturan waktu yang sempurna, semua hal dilibatkan di sini.

Akan tetapi burung nazar tidak perlu melakukan itu semua. Yang perlu dia lakukan hanyalah mencari bangkai dan memakannya. Hal ini jauh lebih mudah. Lagi pula, keduanya sama-sama mengandung protein, jadi buat apa susah-susah? Anda lihat, di sini terdapat perbedaan kodrat. Ada perbedaan mendasar dalam hal natur dan mentalitas dari kedua hewan ini.


Pilihlah Hidup

Oleh karenanya, Paulus menyampaikan di Roma 12:12 – berubahlah oleh pembaruan akal budimu. Segenap pemikiran Anda harus berubah! Di masa yang lalu, Anda mengejar bangkai, namun sebagai orang-orang Kristen, akal budi kita harus diubah. Sekarang kamu harus mengejar apa yang hidup!

Apa arti semua ini? Kita ambil contoh di Kolose 3:2. Inilah hal yang diucapkan oleh Paulus, kita baca dari ayat 1:

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Di sini, pikiran kita berbuah. Dia berkata, “Kiranya pikiranmu diperbarui.” Diperbarui dari apa menjadi apa? Paulus tidak secara langsung memberitahukannya di surat Roma, akan tetapi dia menyampaikannya di Kolose ini. Sebelumnya, pikiran Anda berpusat pada hal-hal yang di bumi, akan tetapi sekarang Anda telah dibangkitkan bersama Kristus menuju kehidupan yang baru, maka pikiran Anda seharusnya juga berubah. Mencari hal-hal yang berada di atas.

Anda mungkin berkata, “Apa itu hal-hal yang di atas? Aku hanya melihat langit biru di atas. Di bawah sini, aku melihat hal-hal yang nyata. Di atas sana, hanya ada langit biru saja. Hal apa yang harus kucari di atas sana?” Itu dia. Di sinilah letak perbedaan cara berpikirnya. Kita merasa diri kita sangat normal karena kita demikian membumi. Lalu Palus memberitahu kita bahwa kita seharusnya ‘naik ke atas’ bukannya membumi. Orang Kristen tidak boleh membumi dalam arti pikirannya terikat pada hal-hal yang ada di bumi.

Dan Paulus mejelaskan lebih lanjut pokok ini di 2 Korintus 4:18. Dia berkata,

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”

Mengapa kita melakukan hal tersebut? Karena “yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Kita mencari hal yang tidak kelihatan karena hal-hal yang kelihatan itu fana. Perhatikanlah segala hal yang bisa Anda lihat. Segala sesuatu yang bisa Anda lihat itu bersifat fana. Lihatlah sekeliling Anda, apakah Anda bisa melihat benda yang kekal? Mimbar ini akan musnah dalam hitungan tahun. Pilar-pilar itu juga nantinya tidak akan berdiri lagi. Gedung ini nantinya akan musnah. Sama seperti hal-hal yang ada di dalam sejarah, semua itu sudah berlalu. Kemuliaan kerajaan Yunani kuno sudah tidak ada lagi. Kejayaan kerajaan Tiongkok kuno sudah tidak ada lagi. Malahan, secara jasmani, Anda dan saya akan musnah dalam waktu yang tidak lama. Hal-hal yang bisa kita lihat itu sifatnya fana. Ini adalah pernyataan kebenaran yang tidak terbantahkan. Ini adalah pernyataan yang faktual.

Hal yang tidak kelihatan itu adalah hal yang kekal. Apakah hal-hal yang tidak kelihatan itu? Ada banyak, misalnya, kasih, kebajikan, kebenaran, kebaikan, kemurahan dan sebagainya. Perkara-perkara yang rohani. Sebagai contoh adalah pikiran, roh, jiwa dan hal-hal lain yang masih tinggal setelah yang lainnya musnah. Itu semua adalah hal-hal yang tidak kelihatan. Arahkanlah pikiran Anda kepada hal-hal tersebut yang dari atas.


Ubahlah cara berpikir yang materialistik agar tidak tertipu Anti Kristus

Sangat sukar untuk dilakukan, bukankah begitu? Sejujurnya, memang sangat sukar, karena secara kodrat kita ini adalah burung-burung nazar. Kita mengejar hal-hal materi. Kita mengejar hal-hal yang duniawi. Hal-hal semacam itulah yang kita kejar. Uang di bank. Hal itu terasa masuk akal bagi kita. Sebuah rumah. Ah! Ini masuk akal. Kita bisa membandingkannya: seperti bagaimana rumahmu kalau dibandingkan dengan rumahku? Rumahku lebih besar daripada rumahmu. Aku punya garasi. Kamu tidak punya garasi. Hal-hal ini sangat nyata, bukankah begitu? Maksud saya, apa yang bisa Anda bahas dari kebaikan? Saya punya kebaikan dan Anda juga punya kebaikan. Ini adalah bahan omongan yang terlalu membingungkan. Kita lebih memilih untuk membicarakan hal yang nyata, hal yang membumi, bukankah begitu? Jika Anda memberi saya uang, maka saya bisa tahu apa itu kebaikan. Jika Anda memberi saya kebaikan, apa yang bisa saya perbuat dengan itu? Saya tidak bisa makan kebaikan. Akan tetapi jika Anda memberi saya uang, saya bisa memakannya, setidaknya saya bisa membeli sesuatu dengannya. Apa yang bisa saya perbuat dengan kebaikan?

Kita terpaku pada hal-hal yang nyata, hal-hal yang bersifat sementara. Pikiran kita begitu mirip dengan natur burung nazar. Kita menjalani kehidupan berdasarkan hal-hal yang fana ini. Sekalipun Paulus berkata bahwa semua itu akan berlalu, Anda berkata, “Tidak masalah jika mereka akan berlalu. Sementara ini, aku bisa makan. Bangkai memang sudah mati, akan tetapi aku bisa makan. Tidak masalah, ia tetap protein. Aku tetap bisa memanfaatkannya.” Seperti itulah mentalitas kita.

Dan Yesus berkata di sini, “Kalau seperti itu mentalitasmu, akan kuberitahukan apa yang terjadi nanti padamu. Saat Anti Kristus tampil nanti, dia akan sangat memikat mentalitas Anda. Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.”

Di mana ada tubuh, di situ burung elang berkerumun. Di mana Anda akan berkerumun ditentukan siapa Anda sekarang. Ini adalah pokok yang sangat penting. Di manakah Anda akan berkerumun? Apakah Anda akan mengejar tubuh yang hidup? Apakah Anda akan mengejar bangkai? Hal ini bergantung pada siapa diri Anda.


Apa natur burung elang?

Mari kita bahas sedikit lagi tentang natur dari burung elang.


(1) Bersarang di tempat yang tinggi

Burung elang berdiam di tempat-tempat yang tinggi; ia bersarang di ketinggian. Kita bisa tahu hal ini, misalnya, dari Yeremia 49:16. Burung elang tinggal di tempat-tempat yang tinggi. Dan mereka yang berpura-pura hidup seperti burung elang, yang sebenarnya bukan burung elang, akan menghadapi masalah dengan Allah. Itulah hal yang disampaikan oleh Yeremia 48:16 kepada kita: “Sekalipun engkau mencoba untuk mengamankan dirimu ke tempat bruung elang bersarang, Aku akan menurunkanmu dari sana. Kamu bukanlah elang; Jangan berpura-pura menjadi burung elang.”


(2) Memiliki ketajaman penglihatan yang luar biasa

Selanjutnya adalah ketajaman penglihatan yang luar biasa dari burung elang. Elang memiliki ketajaman penglihatan yang tidak bisa disaingi oleh manusia. Saya membaca dari sebuah artikel bahwa salah satu jenis elang yang kecil, mereka mampu melihat sesuatu yang bisa dibandingkan dengan melihat sebatang jarum dari jarak 3 mil (hampir 5 km). Saya sendiri sudah sangat kesulitan untuk melihatnya dari jarak sekitar 300 meter, apalagi dari jarak hampir 5 km. Namun seperti itulah ketajaman penglihatan burung-burung elang ini, mereka bisa melihat dengan kejelasan yang luar biasa.


Apakah Anda bisa melihat hal-hal yang rohani secara jelas?

Bagaimana cara Anda melihat? Seperti apa visi rohani Anda? Saya sangat senang melihat orang yang menunjukkan ketajaman dalam melihat hal-hal rohani. Itu berarti bahwa Allah telah mengubah cara pikirnya. Atau, apakah Anda termasuk orang yang tidak dapat berpikiran jernih dalam memilah hal-hal rohani? Hal ini menunjukkan bahwa mentalitas Anda masih mentalitas burung nazar.

Menyangkut pemahaman rohani, hal ini bukanlah urusan kecerdasan; ini adalah masalah ketajaman persepsi rohani. Anda bisa saja merupakan orang yang sangat cerdas, namun ketika masuk ke persoalan rohani, mungkin Anda tidak lebih baik daripada orang yang bodoh. Saya telah bertemu dengan ilmuwan-ilmuwan yang sangat hebat, yang ketika berbicara tentang perkara rohani, mereka tidak lebih baik daripada anak seusia 10 tahun. Mereka tidak bisa memahami hal-hal tersebut. Namun kadang kala, Anda bertemu dengan seseorang yang tampak sederhana, tidak begitu cerdas, namun pemahaman rohaninya luar biasa! Sungguh mengagumkan kejernihan persepsinya! Mereka bisa melihat hal-hal rohani dengan sangat jelas. Hal ini menunjukkan bahwa perkara rohani tidak berkenaan dengan kecerdasan. Tentu saja, pemahaman rohani dan kecerdasan adalah kombinasi yang sangat hebat, seperti rasul Paulus. Paulus secara intelektual luar biasa tajam dan cerdas, namun di sisi lain, ia juga memiliki pemahaman rohani yang luar biasa. Ini adalah kombinasi yang sangat jarang ditemui, sangat langka. Akan tetapi hal itu bisa saja terjadi.

Jadi, tanyakanlah diri Anda sendiri, dan saya menyajikan pokok ini sebagai  bahan pengujian: apakah Anda secara rohani berdiam di tempat yang tinggi? Apakah Anda, misalnya, gemar berdoa? Apakah berdoa itu kegiatan yang membosankan bagi Anda? Semacam latihan yang membosankan? Atau merupakan hal yang manis bagi Anda?

Lalu bagaimana dengan persepsi rohani Anda? Saat Anda mempelajari hal-hal yang dari Allah, apakah Anda langsung memahaminya dengan jelas? Atau apakah Anda seperti yang dikatakan oleh Yesus, “Mereka memang mendengar, akan tetapi tidak mengerti. Mereka memang melihat, tetapi tidak memahami.” Mereka mengamati tetapi tidak melihat; menyimak tetapi tidak mendengar. Mereka itulah para ‘burung nazar’ rohani. Mereka tidak bisa membedakan hal-hal yang berhubungan dengan hidup.


(3) Sangat sabar dan baik terhadap anak-anaknya

Ada lagi ciri lain dari elang yang bisa Anda lihat. Seekor elang sangat terkenal akan kebaikannya terhadap anak-anaknya. Mereka makhluk yang sangat baik dan sabar. Sungguh aneh. Anda bisa menemukan hal ini, misalnya, di Ulangan 2:11, di mana Allah membandingkan diriNya dengan seekor elang, yang merawat anak-anaknya. Hal yang sama dapat ditemukan pada orang-orang yang memiliki pemahaman rohani yang sejati, kebaikan merupakan salah satu ciri khas di dalam kehidupan mereka. Kadang kala, mereka memang terlihat keras, akan tetapi dilandasi oleh kebaikan. Mereka bisa terlihat sangat tegas, namun dasarnya selalu kasih.


(4) Melambangkan kebijaksanaan

Hal lain yang berkenaan dengan elang, makhluk yang juga sering dibicarakan dalam Perjanjian Lama ini, adalah mengenai hikmatnya yang luar biasa. Hikmat seekor elang terlihat dalam caranya menangani anak-anaknya. Dan bukan sekadar baik. Kita seringkali bersikap baik terhadap anak-anak akan tetapi tidak bijak. Burung elang juga adalah gambaran untuk kebijaksanaan, contohnya di Keluaran 19:4, dikatakan,

“Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali (eagle) dan membawa kamu kepada-Ku.”

“Ketika kamu masih tidak mampu terbang, ketika – sebagai elang muda – sayapmu terasa lelah, maka Aku akan meluncur ke bawahmu dan mengangkatmu ke atas sebelum kamu jatuh ke tanah. Aku mengangkatmu ke tampat yang aman.”


(5) Sigap dalam menuntaskan hal-hal yang perlu dijalankan

Hal lain yang berkenaan dengan elang adalah kecepatannya dalam menyelesaikan segala sesuatu hal yang perlu dikerjakan. Ulangan 28:49 berbicara tentang kecepatan burung elang di dalam menuntaskan pekerjaannya.

Secara rohani, seperti apakah cara Anda saat mengerjakan kehendak Allah? Saya melihat banyak orang, ketika mengerjakan kehendak Allah, tak ada hal yang bisa disebut sebagai ‘kecepatan’ di dalam tindakan mereka. Yang muncul adalah ‘langkah yang terseret’, penolakan, “Mengapa harus melakukan ini? Apakah ini memang benar-benar perlu? Haruskah aku mengerjakan hal ini? Mengapa orang Krsiten harus melakukan hal ini?” Demikianlah seterusnya. Tidak ada kecepatan, kesigapan dengan berkata, “Aku bersukacita mengerjakan kehendakMu, ya Allah! Aku gemar mengerjakan kehendakMu! Bertindak cepat – melaju ke garis akhir untuk menggenapi rencana Allah.” Bagaimana mentalitas Anda dibandingkan dengan yang ini? Termasuk apakah kita ini? Apakah kita ini elang atau burung nazar?


(6) Permusuhan yang mendalam dengan ular

Permusuhan antara elang dan ular juga merupakan hal yang menarik, bukankah demikian? Ular di Alkitab telah sejak dahulu menjadi lambang iblis. Burung nazar tidak mengutak-atik ular karena ular termasuk benda yang bergerak dan mereka tidak suka benda yang bergerak. Mereka menggemari benda yang tidak bergerak. Elang menyergap segala sesuatu yang bergerak, termasuk ular. Seringkali, Anda bisa melihat gambar ular yang berada dalam cengkeraman elang, hal ini melambangkan permusuhan yang mendalam antara elang dengan ular.

Bagaimana sikap Anda terhadap kejahatan? Hal itu akan menunjukkan kepada Anda tentang kehidupan Kristen Anda, entah Anda ini termasuk burung nazar atau elang. Banyak orang Kristen yang bersikap santai terhadap kejahatan. “Kejahatan. Boleh-boleh saja. Di zaman sekarang ini, hal tersebut sudah sangat dibiarkan.” Kebebasan berhubungan seks juga diizinkan. Kecerobohan dalam pengelolaan uang termasuk penggelapan, bukan dalam jumlah yang besar tentunya, masih dibolehkan. Kita begitu ceroboh di dalam komitmen rohani kita terhadap kebenaran. Inilah hal-hal yang perlu kita cermati.


(7) Memiliki vitalitas rohani, terus bertambah kuat seiring dengan waktu

Elang adalah lambang vitalitas rohani. Kemudaan Anda akan diperbaharui layaknya seekor elang, demikian kata Mazmur 103:5. Demikianlah, lambang vitalitas rohani diwakili oleh burung elang. Kemudaannya, demikian dikatakan, selalu diperbaharui. Di Yesaya 40:31 disebutkan,

tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali (eagle) yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Kemudaan mereka diperbaharui, kekuatan rohani adalah pendorong, sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus, manusia jasmaniku mungkin semakin lemah, akan tetapi manusia batinku selalu diperbaharui setip hari.

Perhatikanlah kebanyakan orang Kristen. Saat pertama kali mereka menjadi Kristen, mereka memiliki semangat dan berkobar-kobar! Kami akan menaklukkan dunia bagi Kristus!” Dan setahun kemudian, suhunya anjlok. Lalu, di tahun berikutnya, temperaturnya terus saja menurun. Tahun berikutnya, semakin turun lagi. Dan setelah beberapa tahun, mungkin hanya berada sedikit di atas titik beku. Dan pada titik tertentu, temperatur itu akan berada di bawah titik beku dan mereka berhenti menunjukkan semangat. Anda tidak melihat mereka di gereja lagi.

Mereka bukanlah burung elang. Burung elang memperbaharui kemudaannya. Elang bertumbuh semakin kuat seiring dengan jalannya waktu. Mereka tampak selalu muda secara rohani. Mereka tidak pernah kehilangan vitalitasnya. Yang mereka lalui hanyalah beralih dari satu tingkat kekuatan menuju tingkat kekuatan yang lebih tinggi. Itu adalah salah satu tanda yang bisa Anda lihat dalam diri orang Kristen, yakni tentang apa yang terjadi padanya. Seorang Kristen yang bertumbuh dari kekuatan menuju kekuatan, bergerak maju dengan tenang, maka Anda tahu bahwa dia adalah elang. Kemudaannya selalu diperbaharui.

Akan tetapi jenis yang lainnya, yakni burung nazar rohani, justru menjadi semakin lemah. Mereka selalu saja mengalami penurunan.

Namun yang terpenting, Anda bisa melihat perbedaan di dalam pemahaman mereka tentang nilai-nilai; tentang apa yang penting dan apa yang tidak bagi mereka. Ini hal yang penting untuk diamati. Hal-hal apakah yang membuat Anda tertarik? Apa yang menawan pikiran Anda? Percakapan Anda selalunya tentang hal apa saja? Semuanya ini akan memberitahu kita, siapa kita. Hal apakah yang akan membuat Anda bersemangat? Hal itu akan memberitahu Anda termasuk ke dalam kelompok apakah Anda ini. Orang Kristen yang lebih bergairah memikirkan pekerjaan, uang, rumah, mobil, masa depan pekerjaannya, dan hal-hal yang semacam itu, berarti pikirannya terpusat pada hal-hal yang duniawi.

Apakah Anda orang yang semangatnya bangkit ketika berbicara tentang perkara-perkara rohani? Kebanyakan orang Kristen memiliki pikiran sebagai berikut, “Nah, tidak perlu terlalu semangat membicarakan hal-hal yang rohani. Jangan terlalu bersemangat berbicara tentang hal-hal yang duniawi.” Demikianlah, mereka ini tidak berda di pihak sini maupun di pihak sana. Biar Allah saja yang menentukan nantinya apakah mereka itu termasuk elang atau burung nazar. Mungkin mereka sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Mungkin mereka adalah sejenis persilangan antara elang dan burung nazar. Mereka tidak termasuk golongan ini maupun itu. Mereka tidak keberatan untuk makan dari tubuh yang hidup dan juga dari bangkai. Selera mereka sangat luas, dan semuanya bisa mereka makan. Yang ini enak, yang itu juga nikmat. Orang Kristen macam apa ini? Jenis apakah mereka itu? Sejenis persilangan, campuran yang belum pernah saya temui di dalam Kitab Suci. Namun di dalam Firman Allah, Anda tidak akan bisa meluputkan diri dengan berlaku seperti itu, karena cepat atau lambat, salah satu kecenderungan itu akan mendominasi Anda.


Kita harus menjadi elang jika kita ingin bertahan di masa kekuasaan Anti Kristus

Kiranya Allah menjadikan kita sebagi elang jika kita ingin bertahan! Inilah pokok dari pengajaran dalam ayat-ayat ini. Jika Anda ingin bertahan di akhir zaman ini, dan terutama di masa kekuasaan Anti Kristus, maka Anda harus menjadi elang. Segenap arah tujuan hidup Anda harus berubah. Segenap pegangan Anda tentang nilai-nilai harus berubah. Jangan bergairah terhadap hal-hal yang fana. Mobil ini terlihat indah! Oh sangat menyenangkan! Mobil yang cantik! Dalam waktu dua tahun, kecantikannya sudah berkurang. Dalam waktu tiga tahun, sudah semakin tidak cantik. Dan di dalam lima tahun, ia sudah menyerupai rongsokan. Hal-hal yang terlihat oleh mata adalah hal yang fana. Untuk apa Anda bergairah memikirkannya? Lalu Anda menggantikannya dengan bangkai yang lain, yang juga akan segera berlalu? Carilah hal-hal yang kekal, yang tetap tinggal. Apa gunanya menjalani hidup mengandalkan bangkai? Hiduplah dengan mengandalkan hal-hal yang kekal

 

Berikan Komentar Anda: