new-header-renungan
new-header-renungan
previous arrow
next arrow

 

Fenelon |

Saya memohon kepada Anda untuk tidak mendengarkan diri Anda sendiri. Kasih pada diri berbisik di satu telinga dan kasih Tuhan di telinga yang lain. Kasih pada diri tidak ada nilainya. Kasih pada diri ini bersifat agresif, ingin memiliki dan selalu menurut kata hati. Tetapi kasih Allah begitu berbeda. Kasih Allah itu sederhana, tenang dan hanya berbicara beberapa patah kata saja dalam suara yang nyaman dan lemah lembut. Dan di saat kita memutuskan untuk mendengarkan suara nyaring diri kita yang berisi berbagai kecaman, kita tidak lagi mendengarkan bisikan-bisikan kasih ilahi.

Anda selalu akan tahu kapan si aku itu berbicara. Diri kita selalu mau menghibur dirinya sendiri dan selalu merasa terabaikan. Ia berbicara mengenai persahabatan, penghormatan, penghargaan dan tidak ingin mendengarkan hal-hal yang tidak bersifat memuji-muji.

Kasih Tuhan di sisi lain menginginkan agar diri kita dilupakan, agar diri kita diperhitungkan sebagai nol dan Tuhanlah yang merupakan segala-galanya. Tuhan tahu bahwa adalah demi kebaikan kita berhala si aku ini harus diinjak dan dihancurkan, agar Ia dapat hidup di dalam kita dan menjadikan kita kehendak-Nya.

Jadi, biarlah si aku yang suka mencari perhatian dan mengkritik ini didiamkan supaya di dalam ketenangan jiwa kita, kita dapat mendengarkan Tuhan.

(Fenelon, atau nama penuhnya Francois de Salignac de La Mothe Fenelon, adalah Uskup Agung Cambrai di Perancis pada abad ke-17. Renungan singkat di atas diambil dari koleksi surat-suratnya)