Pastor Eric Chang | Matius 17:14-21 |

Kita kembali lagi mendalami Firman Allah. Di kesempatan yang lalu saya menguraikan pokok dari Matius 17:14-21. Hari ini, saya ingin membacakan buat Anda perikop yang parallel dengan ini karena kita masih belum selesai menelusuri kekayaan maknanya. Namun, pertama-tama, mari kita kembali dulu ke Matius 17:14-21 untuk menyegarkan ingatan kita akan perikop yang sedang kita renungkan hari ini.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu:  Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Yesus kemudian memberitahu kita tentang iman yang mampu mewujudkan kuasa Allah secara nyata sehingga tak ada gunung yang mampu menghalangi langkah Anda ini. Sekarang ini kita hidup di zaman di mana gereja benar-benar kekurangan kuasa. Di mana kita bisa temukan iman yang semacam ini sekarang? Gereja seharusnya malu. Kita seharusnya menghadap kepada Allah dan mengakui hal ini dan berdoa, supaya Allah berbelas kasihan kepada kita. Dia telah menyediakan kuasa yang sangat besar kepada kita, namun kita justru hidup di dalam kegagalan yang menyedihkan dan menyesakkan. Kita seharusnya malu dan berdoa kiranya di tengah angkatan ini Allah memulihkan lagi iman, komitmen dan kasih yang semacam ini, yang dapat memberikan kuasa yang besar itu. Dan inilah pokok yang secara khusus perlu kita pelajari sekarang ini.


Gunung macam apakah yang akan kita geser itu?

Mulai kapankah kuasa untuk memindahkan gunung ini datang? Gunung macam apakah yang akan kita geser itu? Karena kita tentunya tidak berminat pada urusan memindahkan gunung duniawi, karena tidak mungkin ada gunung duniawi yang akan menjadi hambatan rohani bagi kita. Apakah gunung-gunung yang dibicarakan oleh Yesus ini – gunung-gunung yang lebih perkasa, yang lebih berbahaya – jauh lebih menghambat ketimbang gunung-gunung duniawi yang ada?

Mari kita beralih ke perikop parallel di dalam Markus pasal 9. Kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih penuh dari situasi yang sedang diuraikan. Markus 9:14-29 memberi kita beberapa pengertian tentang persoalan iman:

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Kata seorang dari orang banyak itu: “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya.  Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri. Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” 


Manusia baru berpaling kepada Allah di dalam keputus-asaannya

Perikop ini memang sejajar dengan perikop yang ada di dalam Matius, hanya saja perikop di dalam Markus ini lebih terperinci dan memberitahu kita banyak hal tentang situasi itu.

Perhatikan, di dalam hasratnya untuk mendapatkan pertolongan dari Tuhan, orang bersedia datang kepada Tuhan sekalipun masih dalam keadaan tidak percaya. Saya sudah menyaksikan hal semacam ini berulang kali. Orang tersebut seperti sedang mengejar peluang 50-50. “Tak ada tempat lain untuk berpaling, para dokter tak dapat menolongku. Aku sudah nyaris tanpa harapan. Tak ada lagi tempat lain untuk didatangi, tak ada tempat lain untuk berpaling. Jadi, Tuhan-lah sandaran terakhirku.”

Bahkan di zaman sekarang ini penyakit ayan masih belum bisa disembuhkan oleh dunia kedoktoran. Di gereja kami di Inggris, Liverpool, ada seorang saudara seiman yang menderita ayan dan dia sering menggelepar jatuh dari kursi. Tubuhnya menjadi kaku dan mulutnya berbusa. Karena itu saya tidak setuju dengan penggunaan kata ‘ayan’ untuk terjemahan di dalam Matius, hal yang kurang tepat karena ayan tidak selalu berkaitan dengan kerasukan setan, sekalipun banyak kejadian kerasukan setan yang menunjukkan gejala seperti ayan, sangat mirip, yakni menggelepar, mulut berbusa dan sebagainya.

Namun poin yang perlu kita perhatikan adalah bahwa sering kali manusia, di dalam kepanikannya, di dalam keputus-asaannya, saat dia telah mengupayakan segalanya – misalnya, orang yang sekarat oleh penyakit kanker, ilmu kedokteran tidak mampu menyembuhkannya. Lalu orang ini, dalam keputus-asaannya, apa yang dia perbuat? Dia berpaling kepada Allah. Namun di saat berpaling kepada Allah itu dia tidak dengan kepercayaan yang sepenuhnya. Dia berpaling kepada Allah karena sudah tidak ada lagi tempat untuk berpaling.

Demikianlah, sama halnya dengan bapak ini. Dia datang kepada Yesus dan berkata kepada Yesus, “Jika Engkau bisa berbuat sesuatu.” Perhatikan kata ‘jika’ ini. Dia tidak yakin bahwa Yesus bisa berbuat sesuatu. Dia sama sekali tidak yakin, oleh karena itu muncullah kata ‘jika’ ini. Dia tidak datang dalam keyakinan, “Yesus, Engkau bisa melakukannya, oleh karena itu aku datang.” Jika dia berbicara seperti ini, kita tentu tahu bahwa dia datang dengan iman.

Perhatikan perkataan Yesus, “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat.” “Kamu tidak percaya bahwa Allah bisa melakukannya, bukankah begitu? Engkau datang kepada-ku karena engkau sudah tidak tahu mau ke mana lagi. Dan sekalipun kau datang kepada-ku, engkau datang tanpa keyakinan yang nyata.

Jika engkau bisa berbuat sesuatu, maukah engkau berbelas-kasihan?” Demikian kata Yesus, dan ini membalikkan persoalan kepada si bapak itu lagi, “Masalahnya bukan apakah aku bisa berbuat sesuatu atau tidak. Persoalannya adalah apakah engkau bisa percaya atau tidak.” Di sanalah letak persoalannya. Dan hal ini terlihat di ayat 24, sebagaimana yang telah saya sampaikan, “Aku percaya. Tolonglah keyakinanku yang lemah ini.”

Bagaimana mungkin Anda bisa percaya dan tidak percaya dalam waktu yang bersamaan? Itulah sebabnya mengapa kalimat ini terlihat sangat aneh. “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Anda masih menyimpan ketidak-percayaan, namun Anda mengaku percaya. Percampuran yang tragis antara iman dan ketidak-percayaan ini begitu menyolok terdapat dalam diri manusia zaman sekarang. Dia tidak bisa berpihak sepenuhnya di sini, namun dia juga tidak bisa berpihak sepenuhnya di sana. Dia tidak mau berpihak sepenuhnya, baik di sini maupun di sana.


Kita mau mengambil semua dan tidak memberi apa-apa

Inilah karakteristik orang Kristen. Kita bisa dengan mudah melihat hal ini dalam diri para orang tua Kristen. Jika anak-anaknya pergi ke gereja, “Ayo, berangkatlah. Itu bagus. Orang-orang di gereja itu baik-baik. Pergilah ke gereja. Setidaknya, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang ramah. Memang ada beberapa yang tidak baik kelakuannya, namun rata-rata orang di sana bisa dibilang baik. Jadi kamu suka pergi ke gereja? Baguslah. Kamu suka mendengarkan khotbah? Bagus juga. Silakan kamu dengarkan khotbah di sana.”

Namun perhatikan reaksi para orang tua Kristen ini ketika anak mereka berkata, “Aku akan melayani Allah.” “Apa? Kamu mau jadi penginjil? Kamu mau menjadi pendeta? Apa kamu sudah gila? Kekristenan itu bagus hanya untuk acara hari Minggu saja. Dan masih cukup baik sekalipun kamu ingin pergi ke gereja dua kali seminggu, di hari Jumat dan Minggu. Maksudku, sekalipun kamu lebih suka meluangkan waktu untuk membaca Alkitab daripada menonton pertandingan baseball, itu urusanmu sendiri. Tapi kamu mau jadi penginjil? Kamu memang sudah gila!”

Dan reaksi semacam ini bukan ditunjukkan oleh orang tua yang tidak percaya, orang tua yang bukan Kristen, namun berkali-kali saya menyaksikan reaksi ini diperlihatkan oleh orang tua yang Kristen, dan hal itu mengungkapkan seperti apa kekristenan mereka. Kekristenan mereka itu merupakan campuran antara iman dan ketidak-percayaan.

Percaya dalam arti bahwa ada hal baik yang bisa diambil dari kekristenan, namun ketidak-percayaan muncul ketika kita dihadapkan pada berbagai tuntutan. Kita ingin ‘mengambil semuanya tetapi tidak mau memberikan apa-apa.” Kita ingin menguasai semuanya demi kepentingan kita sendiri.

Saya akan memeluk kekristenan kalau kekristenan itu memberi saya ketenangan pikiran, kalau saya bisa terbantu untuk bertemu dengan orang-orang yang baik. Atau, kalau Anda masih muda, mungkin Anda mendapati bahwa di dalam gereja ada banyak gadis baik-baik yang layak untuk dipertimbangkan untuk menjadi pasangan hidup. Atau mungkin kalau Anda seorang gadis, maka mungkin akan bertemu dengan beberapa pemuda baik-baik yang bisa dijadikan pasangan. Apakah motif dari tindakan tersebut yang dibungkus dalam istilah ‘kekristenan’? Apakah motivasinya?

Saya curiga kalau-kalau kekristenan zaman sekarang ini sudah murni merupakan keegoisan. Anda tentunya tahu akan hal itu. Itulah sebabnya mengapa orang non-Kristen di luar sana tidak mau pergi ke gereja, dan mereka memang benar. Karena seringkali sebagian besar dari orang yang pergi ke gereja bukannya menjadi berkurang keegoisannya dan menjadi lebih rendah hati ketimbang orang non-Kristen, tapi dalam kebanyakan kasus, mereka justru menjadi lebih egois ketimbang orang non-Kristen. Kekristenan yang begini benar-benar murni egois.

Jika Anda tanyakan kepadanya, “Apakah Anda percaya?” “O ya. Aku pergi ke gereja. Aku aktif dalam kegiatan ini dan itu.” Banyak orang muda yang aktif di berbagai kegiatan gereja hanya untuk mencari pengalaman saja, pengalaman berorganisasi, di bidang ini dan itu, yang mungkin akan berguna bagi masa depan mereka. Jadi, motivasi mereka mengerjakan itu semua bukan karena mereka mengasihi Allah. Mungkin memang ada setitik kasih bagi Allah yang terdapat di hatinya, namun apa motivasi sesungguhnya orang itu menjadi Kristen? Saya curiga kalau niat sesungguhnya – seperti yang sering saya tekankan – adalah murni keegoisan.

Pada mulanya mungkin kita datang dalam niat yang egois, lalu kemudian secara perlahan diubah menjadi sesuatu yang lebih mendalam, yang lebih indah, sesuatu yang lebih unggul sejalan dengan waktu. Dan seringkali hal ini memang terjadi. Seseorang bisa saja pergi ke gereja dengan niat awal yang sangat egois. Misalnya, saya kenal beberapa pemuda yang datang ke gereja benar-benar karena mereka ingin mencari gadis baik-baik. Namun seiring dengan kedatangan mereka yang teratur ke gereja, Firman Allah merangkul mereka dan niat awal mereka yang egois itu mulai berubah, dan secara perlahan mereka mulai benar-benar mengasihi Allah dan mereka diubahkan. Sikap hati mereka ditransformasi sepenuhnya. Mereka mulai menjadi orang Kristen yang sejati.

Namun sayangnya, selalu ada sebagian orang yang membawa niat egois dan merusak nama baik gereja. Yang saya khawatirkan adalah di dalam diri sebagian besar dari kita yang Kristen, masih tersisa unsur-unsur egois itu. Hal inilah yang menimbulkan adanya campuran antara kepercayaan dan ketidakpercayaan.

Mengapa para ayah dan ibu tidak mau melihat anak-anak mereka menjadi pendeta atau penginjil? Karena sudah lazim kalau para pendeta menerima pembayaran yang sangat kecil. Kalau Anda menjadi pendeta dan menerima gaji besar, saya tidak yakin jika orang tua Anda akan keberatan Anda menjadi pendeta. Oh, segeralah menjadi pendeta! Karena kalau kamu mengambil pekerjaan lain paling-paling gaji kamu tidak akan sebesar itu segeralah menjadi pendeta.

Namun saya rasa orang yang tidak percaya juga tahu bahwa penghasilan pendeta tidaklah besar, lalu di mana letak daya tarik menjadi seorang pendeta? “Coba lihat orang itu, dia adalah pendeta, dan dia harus menghidupi 7 orang anaknya. Dia harus bekerja keras, dan dia hanya punya mobil tua yang sudah sering rusak. Lalu kamu mau jadi pendeta?” Kalau nanti seorang pendeta bisa berpenghasilan cukup untuk memiliki mobil mewah, dengan kendaraan pengiring, ada orang yang membukakan pintu mobilnya, maka semua orang akan berlomba-lomba untuk menjadi pendeta. Mendadak saja, antrian pendaftaran di seminari menjadi begitu panjangnya. Keegoisan. Hal apakah yang memotivasi kita menjadi orang Kristen? Di sanalah letak persoalannya.

Jika anak Anda berpeluang untuk menjadi uskup agung di Canterbury, mungkin Anda akan mengizinkan dia menjadi pastor sekiranya dia nanti akan menjadi uskup agung. Namun karena peluangnya untuk bisa menjadi uskup agung sangat kecil, maka lupakan saja karena rata-rata pendeta muda atau pastor di Gereja Inggris menerima gaji yang sangat rendah, tidak layak untuk dipertimbangkan.


Keegoisan adalah akar dari tiadanya kuasa dalam gereja zaman sekarang

Saya ingin menekankan pokok ini karena saya ingin agar Anda memahami bahwa banyak hal yang disamarkan dengan kedok ‘kerohanian’ sebenarnya adalah keegoisan. Saya tidak mau membangun gereja yang semacam itu. Jika saya berkhotbah seperti ini, lalu hati Anda mulai merasa tidak enak, berarti ada sesuatu yang sedang disampaikan ke dalam hati Anda. Anda akan mulai mengerti mengapa Injil tidak bisa disamakan dengan candu yang hanya membius yang menyenangkan perasaan orang.

Injil akan membuat orang merasa tidak enak dengan mengungkapkan setiap kemunafikan dan kesesatan – hal yang merupakan tujuan dari pemberitaan Injil – entah yang terdapat di dalam gereja maupun yang ada di luar gereja.

Mengapa saya sangat menekankan hal ini? Karena di sanalah letak akar dari tiadanya kuasa di dalam gereja zaman sekarang ini. Mengapa gereja tidak punya kuasa? Karena kebanyakan gereja sekadar merupakan kumpulan orang non-Kristen yang menyebut diri sebagai ‘orang Kristen’. Yang banyak terjadi dalam gereja adalah mengalihkan keegoisan ke dalam bahasa yang religius. Orang Kristen tidak lebih baik daripada orang non-Kristen karena orang Kristen dan yang non-Kristen sama saja egoisnya. Hal ini menjelaskan mengapa gereja zaman sekarang ini tidak memiliki kuasa. Gereja tidak memiliki kuasa yang mampu memindahkan gunung ini. Ia tidak memiliki jenis kasih seharusnya mengalir di dalam gereja di jaman sekarang ini.

Jika gereja masih ingin melanjutkan dengan keadaan seperti ini, saya adalah salah satu orang yang segera keluar dari gereja. Saya rasa, saya bisa memanfaatkan waktu dan tenaga saya – dan mungkin juga karunia yang diberikan Allah – dengan lebih baik di bidang lain. Mungkin saya bisa memberi sumbangan yang lebih berarti dari bidang lain daripada menyia-nyiakan waktu saya dengan sebuah gereja yang sekedar merupakan perwujudan dari kemunafikan rohani akibat keegoisan yang diberi nama ‘kekristenan’.


Masih ada segelintir orang yang membawa harapan bagi gereja

Namun demikian, alasan mengapa saya masih menginjil adalah karena saya memiliki keyakinan di dalam Allah bahwa masih ada orang-orang yang murni, masih ada harapan bagi gereja di zaman ini. Masih ada orang-orang yang bersungguh-sungguh menjadi orang Kristen dan berniat untuk menjadi orang Kristen dengan segenap hati mereka karena mereka bersedia mengubah arah tujuan hidup mereka, dari yang egois menuju kasih yang memberi diri, yang siap bertahan dalam kebenaran sekalipun harus mengorbankan kesejahteraan, pekerjaan dan mungkin juga nyawa mereka.

Namun, saya juga bukan orang yang hidup di dalam mimpi. Setelah memberitakan Injil dan melayani Tuhan dalam waktu yang cukup lama, saya memahami watak manusia dengan cukup baik. Dan saya tahu bahwa segelintir orang itu pasti akan muncul. Yesus sendiri berkata bahwa jumlah mereka memang sedikit, sedikit saja yang masuk melalui gerbang yang sempit itu. Sedikitnya jumlah orang yang melangkah di jalur menuju hidup itu karena jalan itu memang sukar.

Dengan demikian, apa yang akan kita katakan? Karena jumlahnya hanya segelintir saja, lalu dipandang tidak ada gunanya? Rasanya tidak begitu. Jika saya perhatikan sejarah umat manusia, saya mendapati bahwa di dunia dan di dalam sejarahnya, yang sanggup mencapai hasil-hasil yang besar adalah mereka yang jumlahnya sedikit itu. Mereka yang masuk mayoritas itu hanya menyumbang sedikit atau malah tidak ada sama sekali. Selalu saja mereka yang berjumlah sedikit itu yang mengubah arah sejarah.

Yesus bersama kedua belas murid yang rendah hati dan juga berpendidikan rendah telah mengubah arah perkembangan dunia. Sejarah berubah total sejak kelahiran Yesus. Selalu saja mereka yang jumlahnya segelintir itu yang membawa perubahan, yang mengubah arah sejarah. Pengembangan penemuan yang hebat selalu saja dikembangkan oleh mereka yang jumlahnya sedikit itu. Penemuan-penemuan baru yang besar selalu dihasilkan oleh mereka yang jumlahnya segelintir itu, kadang kala malah hanya oleh satu orang.

Otak siapa yang sanggup mencapai pemahaman seperti Einstein – dengan ketekunannya yang tinggi – tentang alam semesta? Apakah menurut Anda itu semua hanya masalah kecerdasan? Ini buka sekadar masalah kecerdasan. Kecerdasan hanya sebagian saja dari prestasi ini, sedangkan porsi terbesarnya adalah pengabdian dan perhatian penuh dan kerja keras. Einstein bukanlah murid yang cerdas, dia adalah murid yang kurang berprestasi. Saya mendapat cukup banyak kesempatan untuk mencari tahu akan hal ini. Saya bahkan pernah berkhotbah di sekolah lanjutan tempat Einstein pernah bersekolah. Dan saya mendapat kesempatan untuk menanyai para pengajar di sana (para penerus dari guru-guru Einstein tentunya), murid seperti apakah Einstein itu dulunya? Mereka berkata, “Buruk sekali! Prestasinya buruk sekali sampai-sampai dia sulit diterima di universitas. Dia akhirnya bisa masuk ke University of Zurich. Dia murid yang buruk prestasinya.” Saya bertanya, “Pelajaran Ilmu Fisikanya tentunya bagus.” Namun mereka berkata, “Tidak, pelajaran Fisikanya juga buruk.” Prestasi belajarnya sangat buruk di sekolah.

Semua kehebatan itu muncul belakangan ketika dia akhirnya menemukan tujuan hidupnya, ketika dia mencurahkan hidupnya sepenuhnya. Jadi, jika Anda mengira bahwa Einstein menghasilkan semua penemuannya itu karena dia adalah seorang pelajar yang hebat dulunya dan karena dia sudah dari dulu memang luar biasa, maka Anda keliru. Memang tak diragukan lagi bahwa dia adalah orang yang sangat cerdas, namun itu bukanlah satu-satunya sumber keberhasilannya. Allah telah menggunakan orang-orang yang tidak punya kehebatan apa-apa untuk mencapai prestasi besar di zaman ini.

Sesederhana itulah persoalannya. Alur sejarah, entah di bidang ilmu pengetahuan atau militer, politik atau bisnis, berulang kali, merupakan prestasi dari segelintir orang yang mampu memberi arah dan tujuan, yang memiliki visi yang jelas tentang kemana mereka akan melangkah, dan yang mampu berkata, “Lewat sini,” kemudian menunjukkan arah yang baru bagi umat manusia, kadang kala menuju ke arah yang lebih buruk, kadang kala menuju ke arah yang lebih baik. Namun, para penentu itu selalu berjumlah sedikit. Oleh karena itu, saya tidak berputus asa akan masa depan gereja, walaupun saya juga tidak menutup mata terhadap persoalan yang ada di depan kita.

Ada banyak orang yang melayani sebagai pendeta di zaman sekarang ini, orang-orang yang motivasinya untuk menjadi pendeta itu tidak begitu jelas, yang alasan mereka untuk menjadi pendeta mungkin tidak lebih dari karena mereka tidak mendapat pekerjaan di bidang lain. Namun tetap ada orang-orang yang menjadi pendeta dengan kualitas dan pengabdian dan kesetiaan yang luar biasa. Jadi, kebenaran yang berlaku di tingkat pribadi juga berlaku di tingkat gereja.


Ketidak-percayaan sebenarnya bermakna, “Aku tidak mau percaya; ongkosnya terlalu tinggi”

Di dalam perikop ini terlihat percampuran antara iman dan ketidakpercayaan yang menyedihkan: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Apa artinya – tolonglah aku yang tidak percaya ini? Apa yang bisa dilakukan oleh Allah bagi ketidak-percayaan Anda? Andalah orang yang harus berbuat sesuatu bagi ketidak-percayaan Anda itu. Saya percaya tetapi sekaligus juga tidak percaya, tentunya akan lebih masuk akal jika Anda cukup berkata, “Tolonglah aku yang tidak percaya ini.”

Tentu saja, memang wajar jika Allah bisa menolong kita untuk percaya asalkan kita siap untuk menuruti jalan, langkah, tujuan yang diberikan itu – yang memang sangat sukar di dalam kehidupan Kristen. Seringkali, ketidak-percayaan itu bukan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk percaya melainkan ketidak-mauan untuk percaya. Saya mengalami hal tersebut pada masa awal kehidupan Kristen saya. Bukan karena saya tidak mampu untuk percaya, masalahnya adalah karena saya tidak mau percaya. Saya mendapati bahwa sekalipun sudah ada bukti yang sangat kuat dalam kehidupan saya, saya tetap saja tidak mau percaya karena ongkos untuk percaya itu [sangat tinggi].

Dan baru beberapa minggu yang lalu, kita telah membahas tentang harga untuk menjadi seorang Kristen itu. Memang sangatlah mahal bagi kita. Kita tidak sanggup menanggungnya. Saya saat itu beranggapan bahwa menjadi orang Kristen itu baik akan tetapi saya tidak sanggup menanggung pengorbanannya. Jadi, bukannya saya tidak sanggup untuk percaya tetapi karena saya tidak mau percaya. Jadi, apakah artinya pernyataan ‘tolonglah aku yang tidak percaya ini’?

Banyak orang muda yang telah mendengarkan panggilan Allah untuk melayani akan tetapi mereka berpaling. Mengapa? Jujur saja akan hal itu. Ongkosnya terlalu tinggi. Mereka tidak sanggup menanggung ongkosnya. Memang terlalu tinggi. Bukan karena mereka tidak tahu bahwa hal itu sangat baik. Bukan karena mereka tidak tahu bahwa hal itu sangat layak. Masalahnya, ketika mereka merenungkan ongkos untuk terlibat dalam urusan ini, hasil hitungannya memang terlalu tinggi sehingga mereka mundur. Jadi, ketidak-percayaan ini bukan diakibatkan oleh ketidakmampuan untuk percaya, tetapi oleh ketidak-mauan untuk percaya.


Kita tidak memiliki keberanian untuk percaya pada Allah

Allah akan menyediakan bukti bagi Anda bahwa Dia itu tulus. Saya sudah sering menguji [ketulusan] Allah. Dan Dia tak pernah gagal. Sayalah yang gagal, bukan Allah. Seringkali saya buktikan, bahwa Allah selalu tak dapat diragukan. “Dengarkanlah Aku dan Aku akan menunjukkan padamu bahwa Aku-lah Allah yang hidup. Kalau kamu penuhi persyaratannya maka Aku akan buktikan kepadamu bahwa Akulah Allah. Aku akan membuktikan bahkan sampai pada bayangan keraguanmu yang terjauh. Peganglah perkataan-Ku dan lihatlah buktinya.” Kita tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal ini. Kita tidak memiliki keberanian untuk itu.

Yesus pernah berkata kepada Petrus, “Petrus, apakah kau mendapat ikan?” Tak ada. Petrus adalah seorang nelayan. Dia telah menjala ikan semalaman di danau. Menebar jala sepanjang malam. Adakalanya Anda bekerja semalaman tanpa mendapatkan hasil apa-apa. Petrus pulang dalam keadaan kesal, tak mendapat hasil apa-apa. Tampaknya perahu Petrus ini memang dibuat tidak mendapatkan hasil karena akan dipakai oleh Yesus  sebagai mimbar untuk berkhotbah. Bayangkanlah bagaimana dia akan berdiri di sana jika perahu itu penuh dengan ikan? Allah memang punya rencana, karena besok paginya Yesus akan berkhotbah di atas sana, maka Petrus tidak mendapatkan ikan saat itu. Jadi, ketika Petrus pulang dari mencari ikan, dia sedang merasa kesal dan perahunya kosong.

Dan Anda ingat bahwa Yesus berkata, “Aku akan memakai perahumu sekarang. Dorong agak ke tengah perahu ini, aku akan berkhotbah.” Di hadapan sekitar ribuan orang yang berdiri di pinggir danau, Yesus memakai perahu kosong ini untuk berkhotbah. Dan Anda ingat bahwa setelah berkhotbah itu Yesus berkata kepada Petrus, “Berangkatlah ke tengah. Pergi dan tebarkan jalamu di sebelah kanan perahu.”

Dan Petrus berkata, “Apa? Tak ada nelayan waras yang mau berangkat mencari ikan di siang hari. Aku adalah seorang nelayan berpengalaman. Engkau tidak perlu mengajariku cara menjala ikan. Engkau boleh saja mengajariku hal-hal yang lain, tetapi menjala ikan adalah pekerjaanku.” Dan Yesus berkata, “Doronglah perahu ini. Berangkat dan tebarkan jalamu ke sebelah kanan perahu.” “Tapi Tuhan, kami sudah bekerja semalaman.” “Berangkat saja. Kamu mau pegang perkataan-ku atau tidak?” Petrus berkata, “Baiklah. Baiklah. Baru pertama kali dalam hidupku aku menuruti petunjuk orang yang bukan nelayan tentang cara mencari ikan. Namun sesuai dengan perintah-mu, aku akan pergi.”

Lalu dia berangkatkan perahunya, dan banyak dari antara Anda yang sudah tahu akhir dari peristiwa ini. Dia menebarkan jalanya, dan dia sampai tidak sanggup lagi menarik jala itu. Jala itu penuh dengan ikan sehingga dia tidak mampu menariknya. Dia sampai harus berseru ke pantai, “Yohanes! Andrea! Kemarilah! Bawalah perahu tambahan!” Demikianlah, dengan dua perahu, mereka berhasil menarik jala yang berisi tangkapan begitu banyak. Alkitab menceritakan bahwa kedua perahu itu nyaris tenggelam karena banyaknya ikan yang ada di jala tersebut.

Hal yang bisa kita lihat dari sini adalah bahwa Tuhan memberitahu kita, “Peganglah perkataan-ku. Kalau ku-suruh melakukan sesuatu, kamu kerjakan. Dan kamu bisa buktikan apakah perkataan-ku itu benar atau tidak.” Inilah jalan untuk mengenal Tuhan. Apakah ini sekadar masalah psikologi? Apakah ini hanya masalah filsafat? Silakan Anda buktikan sendiri. Jika saya katakan benar kepada Anda, maka Anda hanya mendapatkan jaminan dari saya. Anda tidak tahu apakah saya ini menyampaikan kebenaran kepada Anda atau tidak, bukankah begitu? Silakan Anda coba buktikan sendiri dan lihat bagaimana hasilnya. Saya memperoleh berbagai kesempatan, sebagaimana yang telah saya sampaikan berulangkali, untuk menguji Firman Tuhan dan memang terbukti benar. Ia tidak gagal. Namun seringkali, kita masih saja tidak mau menurut, tidak mau melangkah.

Betapa jauh lebih sukar lagi keadaannya ketika Yesus berkata kepada Petrus, Yakobus, Yohanes dan yang lain-lainnya, “Ikutlah aku.” “Apa? Kita tidak akan pernah mencari ikan lagi? Mengorbankan keahlian menjala ikan? Semua sertifikat keahlian memancingku harus dilupakan? Kehilangan semua keahlianku?” “Ya, memang begitu jalannya. Ikutlah aku.” “Oh, aku tidak terampil dalam urusan menjala manusia. Aku bisa menangani ikan, tetapi manusia tidak.”

Yesus berkata, “Aku akan menjadikan-mu penjala manusia.” Itu adalah langkah iman yang besar. Menakutkan! Masuk ke tempat yang tak dikenal! Mereka mengenal danau Galilea. Akan tetapi mereka tidak kenal dunia. Wilayah pegunungan di sekitar Galilea mereka tahu sampai ke tempat-tempat yang terpencilnya, namun di luar itu mereka tidak tahu apa-apa. Dibutuhkan iman, keberanian dan kesediaan untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan ini. Di sanalah letak iman. Ketidak-pastian selalu saja menarik kita untuk mundur. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Akan tetapi, dengan cara apa lagi kita mau memindahkan gunung?


Tanyakanlah diri Anda: “Seberapa besar ketidak-percayaan masih bercampur dengan iman saya?”

Jadi, di sini kita dapati bahwa kita harus singkirkan campuran yang berlawanan antara iman dengan ketidakpercayaan – dan yang Yesus kehendaki berdasarkan perikop ini adalah menyingkirkannya untuk selamanya. Para murid bertanya kepada Yesus, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu? Kami sudah meninggalkan segala-galanya buatmu, akan tetapi kami masih tidak bisa mengusir setan itu.” Jawaban dari Yesus sangat tegas. “Karena kamu kurang percaya. Kalian masih menyimpan ketidak-percayaan di dalam hati kalian. Masih terdapat campuran antara ketidak-percayaan dengan iman di sana. Bagaimana mungkin kamu bisa memindahkan gunung? Mengusir setan saja kalian tidak mampu.”

Di sanalah poinnya. Inilah pokok yang harus kita pelajari hari ini. Anda harus tanyakan diri Anda ada berapa banyak ketidak-percayaan yang masih bercampur dengan iman Anda? Ada berapa banyak ketidak-percayaan yang masih terdapat di sana? Anda tentunya tahu ada berapa banyak ketidak-percayaan yang terdapat di dalam hati Anda. Karena di dalam diri setiap orang Kristen, sama seperti para murid itu, masih terdapat campuran – noda – tersebut, atau visi yang kurang menyatu itu.

Oleh karena itu, mereka masih tidak bisa melihat [memahami kekristenan] dengan jelas. Ingatkah Anda betapa Yesus telah berulangkali memberitahu mereka tentang hal-hal yang akan dia kerjakan di kemudian hari? Dia memberitahukan mereka tentang hal-hal yang akan terjadi di masa depan namun mereka tidak bisa memahaminya. Mereka tidak memiliki pengertian untuk bisa menangkap itu semua. Pengertian dan kuasa rohani saling berkaitan antara satu dengan lainnya.


“Bagaimana saya bisa memindahkan gunung?” – sucikan iman Anda dari keegoisan

Anda lalu bertanya-tanya, “bagaimana saya bisa memindahkan gunung?” Yesus memberi kita jawabnya. Jika iman Anda sudah tidak bercampur lagi dengan ketidak-percayaan, saat iman Anda sudah murni, terpisah dari keegoisan yang sekarang ini masih mencengkeramnya maka Anda akan punya kuasa untuk memindahkan gunung. Karena ketidak-percayaan itu selalu muncul dalam wujud keegoisan. Jangan melindungi ego, dan jangan bergantung pada hal yang sedang andalkan sekarang, lepaskan semua jaminan kesejahteraan kita dan bersedialah untuk sepenuhnya masuk dalam komitmen total mengikut Yesus. Seiring dengan langkah kita memurnikan iman kita dari ketidakpercayaan, maka akan terjadi pula peningkatan kuasa, peningkatan pemahaman kerohanian. Demikianlah, jawabannya sangat sederhana.

Bagaimana Anda bisa memindahkan gunung? Sangat sederhana. Milikilah iman. Para murid itu memiliki iman, bukankah begitu? Tentu saja. Akan tetapi bukan iman yang murni. “Mengapa kami tidak bisa mengusir setan itu?” Karena ketidak-percayaanmu. Kamu masih kurang percaya. Kesatuan hati masih belum muncul di sana. Fokus Anda Anda masih tidak tunggal, Anda tidak terfokus hanya pada Tuhan. Dengan demikian, ketika kamu mencoba untuk menghadapi Musuh, kamu dapati bahwa dirimu tidak memiliki kuasa. Kamu tidak bisa melakukannya.

Kita sudah melihat bahwa Yesus mengharapkan agar para murid-nya mampu untuk melakukan hal itu. Oleh karena itu dia berkata, “Berapa lama lagi aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi aku harus sabar terhadap kamu? (Yakni bersabar terhadap ketidak-percayaan mereka.) Kamu memiliki iman, memang benar, Aku tahu itu. Akan tetapi kamu masih memiliki campuran ketidakpercayaan yang begitu besar. Dan akibatnya kamu menjadi tidak berkuasa. Kamu tidak bisa melangkah maju sebagai seorang Kristen untuk mencapai pembebasan umat manusia.”

Kiranya Allah memampukan gereja kita ini memiliki iman yang murni. Iman murni yang tidak bercampur dengan ketidak-percayaan, tidak bercampur dengan keegoisan, keserakahan, dan niat-niat yang tidak murni lainnya. Karena motivasi kita yang sangat campur-aduk itulah akibatnya kita kekurangan kuasa. Bukan berarti bahwa Anda tidak memiliki kuasa sama sekali, hanya saja Anda tidak memiliki kuasa itu dalam kepenuhannya.


Berlatihlah menuju kemurnian iman:

Anda tentu ingat bahwa para murid itu mampu mengusir setan-setan. Mereka memang mampu mengusir beberapa jenis setan, akan tetapi bukan jenis yang satu ini. Dengan kata lain, mereka telah mencapai batas kekuatan kuasa dalam diri mereka. Jenis yang satu ini hanya bisa diusir dengan doa dan puasa.

Yesus tentu saja tidak sedang berbicara tentang ritual doa dan puasa. Apakah menurut Anda mereka itu tidak berdoa? Tentu saja mereka berdoa. Mereka tidak akan menjadi murid jika tidak berdoa sama sekali. Tentu saja mereka berdoa. Setiap orang Yahudi baik-baik pastilah berdoa. Lalu apa yang dimaksudkan oleh Yesus dengan kata ‘berdoa'” Yesus sedang berbicara tentang jenis iman yang khusus, Dia sedang berbicara tentang jenis doa yang khusus, doa dalam pengertian memberi diri dengan pengabdian dan konsentrasi yang tak terbagi kepada Allah.

Pernahkah Anda coba berdoa seperti itu? Atau, saat Anda berdoa, Anda mendapati bahwa pikiran Anda terpecah ke sana kemari. Ketika Anda mulai berdoa, tiba-tiba terpikir oleh Anda tentang betapa nyamannya jika Anda bisa berenang pada saat itu dan bukannya berdoa di tengah cuaca panas. Atau, ketika Anda berdoa, tiba-tiba Anda teringat bahwa Anda masih harus mengerjakan tugasan yang lain. Atau mendadak saja, Anda harus menelepon. Atau, Anda harus membuat catatan.

Apakah Anda ingin melihat seberapa murni iman Anda? Lihat saja seberapa murni doa Anda. Sangatlah mudah untuk dilihat. Doa kita itu ibarat usaha seorang anak kecil membidikkan katapel, dia letakkan batunya, lalu dia menembak, dan batu itu mulai melayang dan jatuh lagi. Begitulah berulangkali, meluncur lalu jatuh lagi, hal yang melelahkan ini terus saja terulang. Hal ini mencerminkan kehidupan sebagian besar orang Kristen. Naik dan turun. Hari ini mereka tersenyum, besoknya mereka cemberut, lalu esok lusanya mereka tersenyum lagi, dan kemudian cemberut lagi. Demikianlah mereka naik dan turun, sama seperti doa mereka, yang juga naik dan turun. Sanggupkah kita berdoa untuk lima menit saja?

Kesempurnaan sebuah doa tidak ditentukan oleh seberapa lama Anda bisa berdoa. Banyak orang yang berkata, “Anda tahu, orang itu adalah seorang raksasa rohani. Dia berdoa 2 jam sehari.” Saya tidak berminat dengan berapa jam dia bisa berdoa. Yang saya persoalkan bukanlah lama waktu berdoa. Jika Anda berdoa selama 2 jam namun jika doa Anda tidak terfokus apa gunanya Anda berdoa sampai 50 jam? Atau sekalipun Anda berdoa sampai 500 jam. Apa gunanya? Seolah-olah jumlah jam doa Anda akan membuktikan sesuatu. Malahan, lebih baik jika Anda bisa berdoa selama 2 menit tapi Anda fokus total pada Tuhan, di mana komitmen Anda tak terbagi. Hanya 2 menit saja. Yang 2 menit itu jauh lebih berharga daripada 20 jam mengoceh tak keruan. Apa gunanya berdoa secara tak keruan.

Demikianlah, Yesus berkata, “Jadi kalau kamu berdoa, janganlah berdoa dengan bertele-tele.” Yak, yak, lalu Allah harus mendengarkan hal semacam ini. Seolah-olah doa itu adalah sebuah pidato dan Allah harus mendengarkan omongan yang tak keruan tanpa akhir ini. Bukan begitu. Doa kadang malah berupa keheningan tanpa suara sama sekali, keheningan total dan hanya merupakan pemusatan konsentrasi kepada Allah, pemberian diri tanpa terbagi-bagi kepada Allah.

Anda tahu, memberi perhatian berarti memberi diri Anda kepada seseorang. Sangatlah melelahkan jika berbicara dengan orang yang tidak mau mendengarkan, bukankah begitu? Anda sudah berbicara panjang lebar, lalu akhirnya orang itu berkata, “Tadi Anda bicara apa?” Wah! Sepertinya sedang berbicara dengan tembok. Namun coba lihat jika Anda memusatkan perhatian pada seseorang, Anda satukan perhatian Anda kepada orang itu, perhatian Anda kepada orang itu tidak terbagi, maka komunikasi selama dua menit itu akan jauh lebih berarti ketimbang 2 orang yang berbicara tanpa saling memperhatikan selama 2 jam dan akhirnya membuat keduanya lelah sendiri.

Hal yang sama berlaku dengan Allah. Di dalam hubungan kita dengan Allah, datanglah dan berikanlah perhatian yang total kepada Dia, walaupun hanya untuk 2 menit saja. Cobalah hal ini suatu saat. Di sana ada bahan latihan menuju kemurnian iman.


Mulailah dengan satu menit penyerahan diri total, perhatian yang tak terbagi kepada Allah

Saya sering berdoa dalam keadaan berlutut. Dan saya membatin, “Tuhan, aku tak bisa mempertahankan posisi ini lebih lama lagi.” Lalu saya coba posisi duduk tertentu, namun rasanya juga tidak begitu nyaman. Saya coba posisi lainnya, sama saja. Akhirnya, saya berkata, “Tuhan, maafkan saya, lutut ini terlalu lelah. Aku mau berdiri sekarang.” Lalu pikiran saya mulai berkeliaran ke sana kemari. Sebagai seorang Kristen, Anda tahu persis apa yang sedang saya bicarakan tadi. Dan akhirnya, Anda berkata, “Oh! Aku menyerah! Percuma saja.”

Saya sudah belajar dan semakin mendapat kemajuan untuk tidak peduli lagi pada lamanya waktu, dan berkonsentrasi sepenuhnya pada kualitas. Sekiranya saja bisa didapatkan yang satu menit itu, dan itu akan menjadi satu menit dalam konsentrasi dan penyerahan diri sepenuhnya, suatu perhatian yang tak terbagi kepada Allah. Satu menit saja. Mungkin secara perlahan kita bisa meningkatkannya menjadi 2 menit. Konsentrasi kita sangat payah, sama seperti anak sekolah minggu. Jika Anda pernah mengajar di sekolah minggu, Anda akan tahu apa yang saya maksudkan. Tak ada konsentrasi sama sekali. Mereka memang tak bisa berkonsentrasi. Namun jika Anda bisa memulai dari yang satu menit ini, Anda akan dapati pada mulanya konsentrasi Anda sangat buruk, namun akan semakin membaik.


Jadikanlah pokok ini sebagai doa Anda: “Tuhan, murnikanlah imanku.”

Dan secara berangsur-angsur, jadikanlah kalimat ini – Tuhan murnikanlah imanku – sebagai pokok doa Anda. Tak ada gunanya mendoakan hal yang lainnya jika iman kita masih berupa ketidak-percayaan yang terselubung. Tak ada gunanya berdoa. Apa gunanya datang kepada Allah dalam keadaan seperti ini? Doakan saja, “Tuhan, murnikanlah imanku.” Jika dari pokok ini Anda bisa menambahkan dengan pokok yang lainnya, teruskan saja namun jangan lakukan latihan atau ritual yang tak ada manfaatnya. Hasilnya tak lebih dari sekadar membangun kemunafikan kita saja.

Mari kita masuk ke bagian akhir dari pembahasan ini serta mencari tahu apa arti gunung-gunung tersebut. Apakah gunung-gunung yang harus digeser itu? Saya sudah sampaikan pada bagian awal tadi bahwa gunung-gunung duniawi bukanlah hambatan bagi kerohanian kita. Saat Yesus berbicara tentang hal memindahkan gunung, dia tidak bermaksud untuk menyuruh kita mempraktekkannya terhadap gunung duniawi. Namun memang ada gunung-gunung yang menghalangi langkah kita. Namun mula-mula, mari kita renungkan dulu apa arti dari memindahkan gunung itu.

 

Berikan Komentar Anda: