Pastor Eric Chang | Bab 11 |
Apa yang kita maksud dengan “kasih lateral”? Kata “lateral” bisa berupa kata benda atau kata sifat. Sebagai kata sifat, kata ini berkaitan dengan arah ke samping. Dalam ilmu kedokteran, penyakit lateral adalah penyakit yang menyerang satu sisi atau kedua sisi tubuh. Dalam ilmu mekanika, gaya lateral adalah gaya yang bekerja tegak lurus dengan arah gerak.
Demikian pula, kasih lateral adalah kasih yang diungkapkan dalam arah horizontal, yaitu, di antara sesama manusia. Untuk tujuan buku ini, kasih lateral secara khusus adalah kasih persaudaraan di antara umat Allah. Kasih lateral berbeda dari, tetapi berkaitan dengan, kasih vertikal antara Allah dan umat-Nya.
Dalam Alkitab, kasih lateral bukanlah topik yang remeh, tetapi merupakan titik puncak dari komitmen total kepada Allah. Kasih lateral juga merupakan aspek komitmen yang menghadirkan kesulitan praktis terbesar bagi kebanyakan orang Kristen. Dalam Bagian Kedua dari buku ini, kita sekarang menguraikan kasih lateral dalam lima bab sederhana.
Kerajaan Allah
Dalam membahas kasih lateral, pertama-tama kita perlu menyadari bahwa Kerajaan Allah merupakan unsur utama dalam ajaran Yesus. Hal ini dapat dipastikan dengan konkordansi Alkitab atau melakukan pencarian komputer dalam program Alkitab.
Dalam Injil Matius, Kerajaan itu biasanya disebut “Kerajaan Surga”; dalam Injil-injil lainnya, Kerajaan itu disebut “Kerajaan Allah” dan tidak pernah disebut “Kerajaan Surga”. Tidak ada perbedaan makna antara Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga (sebenarnya keduanya merujuk pada hal yang sama di Matius 19:23-24).
Kerajaan Allah tidak berarti entitas politik atau teopolitik, tetapi lebih mengacu pada pemerintahan dan kekuasaan Allah. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah, yaitu pemerintahan Allah dalam kehidupan umat-Nya.
Kerajaan, pemerintahan—kata-kata ini mengandung makna hukum dan perintah. Dalam sebuah kerajaan atau pemerintahan, ada hukum, dan hukum dinyatakan dalam perintah ( “aturan hukum”). Bertentangan dengan apa yang dipikirkan banyak orang Kristen, Perjanjian Baru tidak menghapuskan hukum dan perintah. Meskipun kita telah selesai dengan hukum Perjanjian Lama, itu tidak berarti bahwa tidak ada lagi hukum. Itu karena kita sekarang berada di bawah hukum baru: hukum rohani.
Hanya satu perintah
Sebenarnya hukum rohani itu sudah ada dalam Perjanjian Lama, tetapi sekarang diberikan sebagai perintah baru (1 Yoh 2:7-8):
Saudara-saudara yang kukasihi, aku tidak menuliskan perintah baru kepadamu, melainkan perintah lama yang sudah kamu miliki sejak semula. Perintah lama itu adalah Firman yang sudah kamu dengar sejak semula. Namun, aku juga sedang menuliskan perintah baru bagimu, yang adalah benar di dalam Dia dan di dalam kamu karena kegelapan sedang berlalu dan terang yang benar sekarang bersinar.
Yohanes berulang kali menyebut tentang sebuah perintah baru, dan perintah baru itu mengacu pada sebuah perintah khusus, yaitu perintah untuk saling mengasihi. Jika Anda mencari di konkordansi, Anda akan melihat bahwa ketika Yesus berbicara tentang “perintah” dalam konteks hukum rohani, perintah itu merujuk pada perintah untuk mengasihi.[3] Dalam tulisan-tulisan Yohanes, perintah untuk mengasihi merupakan elemen utama dari perjanjian baru.
Sesuatu yang penting dan menakjubkan muncul dari fakta bahwa dalam perjanjian baru, satu perintah merangkum Kerajaan Allah. Jika kita hidup di bawah pemerintahan Allah, hanya ada satu persyaratan mendasar yang harus kita taati: saling mengasihi. Seperti yang akan kita lihat, perintah ini mencakup aspek-aspek lain dari kehidupan rohani seperti penyangkalan diri, atau mengatasi keinginan daging. Perbuatan daging yang utama termasuk penolakannya terhadap perintah untuk saling mengasihi.
Kerajaan Allah, saya ulangi, hanya memiliki satu perintah dasar: saling mengasihi. Orang-orang Yahudi telah menghitung dan menemukan 613 perintah dalam Alkitab Ibrani, dengan Sepuluh Perintah yang diuraikan menjadi banyak perintah tersendiri. Namun dalam Perjanjian Baru, hukum tersebut diringkas dalam satu perintah. Perintah ini begitu mendasar sehingga siapa pun yang gagal menjalankannya dengan demikian menyatakan bahwa ia tidak hidup di bawah kekuasaan Allah dan tidak berada dalam Kerajaan Allah. Untuk mengakui Allah sebagai Raja atas hidup Anda dan karena itu memiliki tempat di dalam Kerajaan-Nya di bumi (yang pada zaman sekarang hadir sebagai gereja), Anda harus menjalankan perintah ini. Ini bukanlah sesuatu yang opsional.
Kita tidak boleh membiarkan kata-kata yang dikenal akrab seperti “saling mengasihi” membutakan kita terhadap pentingnya kata-kata tersebut. Taktik Iblis adalah membuat kita bosan mendengar kata-kata yang sudah dikenal akrab seperti “saling mengasihi” atau “berkomitmen kepada Allah”. Seseorang pernah berkata kepada saya, “Gereja selalu berbicara tentang komitmen dan komitmen, dan saya muak dengan kata itu.” Jika Anda bosan dengan kata komitmen, Anda telah jatuh ke dalam perangkap Iblis.
Tiga elemen yang saling berhubungan: Kerajaan, Roh, kasih
Alkitab menyediakan kaitan yang tidak terputus antara Kerajaan Allah dan Roh Kudus (Roh Allah). Di mana ada Roh, di situ ada Kerajaan. Di mana tidak ada Roh, di situ tidak ada Kerajaan. Yesus mengemukakan hal ini ketika ia berkata, “Akan tetapi, jika dengan Roh Allah, Aku mengusir roh-roh jahat, Kerajaan Allah sudah datang atas kamu.” (Mat 12:28) Paulus mengungkapkan hal ini dari sudut pandang yang berbeda: “Kerajaan Allah bukanlah tentang makanan dan minuman, melainkan tentang kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus.” (Rm 14:17)
Kaitannya meluas ke unsur ketiga: Di mana ada Roh, di situ ada kasih. Oleh karena itu, ada hubungan alkitabiah antara tiga hal: Kerajaan Allah, Roh Allah, dan kasih Allah di dalam kita. Hubungan antara dua hal terakhir terlihat di Roma 5:5 (kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita melalui Roh Kudus) dan Galatia 5:22 (buah Roh adalah kasih).
Kaitan antara kasih dan Roh Kudus ini menunjukkan bahwa mengasihi sesama tidak dicapai melalui usaha manusia, tetapi melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam hati kita yang memberi kita kuasa untuk mengasihi sebagaimana Allah mengasihi. Kita tahu dari pengalaman bahwa kita tidak dapat mengasihi sesama dengan kekuatan kita sendiri, tetapi hal itu mungkin dilakukan melalui pekerjaan Allah yang transformatif. Proyek Allah pada zaman sekarang—yaitu menegakkan Kerajaan-Nya di bumi—diwujudkan melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, yang menciptakan komunitas baru umat Allah yang saling mengasihi.
Hubungan antara ketiga hal ini—Kerajaan Allah, Roh Allah, kasih Allah—memberikan kita visi agung tentang gereja. Ketika kita memenuhi kasih lateral, akan terwujud komunitas yang begitu indah sehingga dunia akan kagum melihat umat Allah yang saling mengasihi dengan kasih Kristus.
Di dalam gereja—yang pada zaman sekarang ini merupakan manifestasi duniawi dari Kerajaan Allah—kerohanian diukur dengan satu kriteria: kasih yang bersifat lateral. Menurut Kitab Suci, kerohanian diukur dengan apakah seseorang memiliki kasih yang memberi diri dan bukan dengan hal-hal seperti kuasa untuk melakukan mukjizat, karena mukjizat tidak selalu membuktikan ketundukan kepada Allah. Banyak orang akan berseru, “Tuan, Tuan, bukankah kami bernubuat dalam nama-Mu, dan mengusir roh-roh jahat dalam nama-Mu, dan melakukan banyak mukjizat dalam nama-Mu?” tetapi Yesus akan berkata kepada mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari-Ku, kamu yang berbuat pelanggaran!” (Mat 7:22-23) Mereka ditolak sebagai pelaku pelanggaran karena gagal melakukan kehendak Allah (ay 21), termasuk perintah untuk mengasihi secara lateral.
Tidak ada jalan pintas menuju kerohanian
Untuk mengulang: Dalam Perjanjian Baru, kerohanian hanya diukur dengan satu hal: kasih yang bersifat lateral. Yesus berbicara tentang kasih lateral ketika ia berkata, “Inilah perintah-Ku: Kamu harus saling mengasihi!” (Yoh 15:17) Kasih yang bersifat lateral bahkan dijadikan dasar bagi persahabatan kita dengan Yesus: “Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku jika kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ay 14)
Banyak orang Kristen menggunakan kriteria lain seperti berbicara dalam bahasa roh untuk mengukur kerohanian. Mereka menyamakan berbicara dalam bahasa roh dengan kerohanian, tetapi kita tidak boleh tertipu oleh omong kosong ini. Dalam kasus-kasus tertentu, saya harus memberi tahu orang-orang yang berbicara dalam bahasa roh bahwa mereka belum dilahirkan kembali. Awalnya mereka terkejut, tetapi kemudian menyadari bahwa saya benar.
Saya pernah menonton laporan televisi tentang beberapa gereja di Amerika Serikat bagian selatan yang mengukur spiritualitas dengan kemampuan menangani ular berbisa. Mereka mendasarkannya pada Markus 16:18, “mereka akan memegang ular berbisa dengan tangan mereka; dan jika mereka minum racun yang mematikan, hal itu tidak akan mencelakakan mereka”. Dokumenter tersebut memperlihatkan orang-orang memegang ular berbisa, bahkan dua atau tiga ular sekaligus. Dalam sepuluh tahun terakhir, dua orang di antara mereka meninggal karena gigitan ular. Salah satu dari mereka, seorang kerabat dari seseorang yang masih menghadiri gereja tersebut, digigit ular copperhead; ia meninggal dengan perlahan dan menyakitkan selama 11 jam karena ia tidak mengizinkan dokter memberinya antiserum. Ia mengatakan bahwa digigit adalah kehendak Allah dan karena itu merupakan kehendak Allah baginya untuk mati.
Dokumenter tersebut memperlihatkan seorang pria mengonsumsi strychnine, alkaloid berbahaya yang digunakan dalam racun tikus. Ia minum secangkir air yang dicampur dengan strychnine dalam jumlah yang, menurut dokumenter tersebut, cukup untuk membunuh beberapa orang dewasa. Seorang ilmuwan membawa sebagian bubuk itu ke laboratorium untuk dianalisis dan memastikan bahwa itu adalah strychnine. Namun, orang yang minum air itu tidak terluka. Jadi, ia pasti rohani, bukan? Itu tidak membuktikan hal semacam itu.
Saya tegaskan lagi bahwa dalam Kitab Suci, kerohanian tidak diukur dengan hal-hal seperti memegang ular berbisa. Bahkan, hal ini bertentangan dengan praktik Alkitab. Ketika Paulus sedang mengumpulkan kayu bakar, seekor ular keluar dan menggigit tangannya (Kis 28:3-6). Para penonton mengira dia akan mati, tetapi dia menepis ular itu dan tidak terluka. Perbedaan utamanya adalah bahwa Paulus tidak mencari ular untuk dipegang. Demikian pula, Markus 16:18 tidak memberi tahu kita untuk mencari racun untuk diminum, tetapi jika Anda entah bagaimana meminum racun, Allah dapat melindungi Anda dari efeknya yang berbahaya.
Kasih lateral: Yonatan dan Daud
Kasih yang memberi diri antara Yonatan dan Daud merupakan sesuatu yang dikagumi oleh gereja sepanjang masa. Hubungan yang murni dan indah di antara mereka tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang langka, tetapi menjadi model bagi gereja Perjanjian Baru:
Setelah selesai berbicara dengan Saul, jiwa Yonatan terikat dengan jiwa Daud. Yonatan mengasihinya seperti jiwanya sendiri. (1Sam 18:1)
Bagaimana Yonatan mengasihi Daud? Seperti dirinya sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada perintah Yesus untuk “saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12) dan “Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:39) Kata-kata “seperti dirimu sendiri” dalam ayat terakhir dijelaskan oleh “sama seperti Aku telah mengasihi kamu” dalam ayat sebelumnya.
Perintahnya bukan hanya untuk mengasihi sesama manusia, tetapi mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Perintahnya adalah mengasihi sesama manusia seperti mengasihi jiwa sendiri, sebagaimana Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Kita melihat hal ini lagi di 1 Samuel 18:3: “Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, sebab dia mengasihinya seperti dirinya sendiri”. Ia memenuhi perintah kasih yang agung itu.
Kita akan membahas seperti diri sendiri di bab berikutnya, tetapi sudah jelas bahwa seperti diri sendiri dicontohkan dalam kasih antara Yonatan dan Daud. Pentingnya hal ini terlihat dari fakta bahwa kisah ini menempati empat bab (18, 19, 20, 23) dalam kitab Samuel yang pertama.
Hubungan tingkat pertama, bukan tingkat kedua
Perjanjian Baru berbicara tentang kasih di dalam gereja yang dicirikan oleh hubungan tingkat pertama, bukan hubungan tingkat kedua. Apa yang saya maksud dengan ini? Hubungan tingkat pertama adalah hubungan keluarga yang paling dekat seperti hubungan orang tua-anak atau hubungan saudara kandung. Di sisi lain, hubungan antara sepupu adalah hubungan tingkat kedua atau ketiga, tergantung pada jarak hubungan. Dalam Perjanjian Baru, tidak ada bibi, paman, sepupu, tetapi ada saudara laki-laki, saudara perempuan, ayah, ibu:
Jangan menegur laki-laki yang lebih tua dengan keras, tetapi perlakukan dia sebagai bapa, dan perlakukan laki-laki yang lebih muda sebagai saudara. Perlakukan perempuan yang lebih tua sebagai ibu, dan perempuan yang lebih muda sebagai saudara perempuan dengan penuh kesucian. (1Tim 5:1-2)
Paulus berbicara tentang hubungan tingkat pertama di gereja, bukan tingkat kedua. Apakah itu berarti kita mulai memanggil semua orang dengan sebutan Ibu atau Ayah dan seterusnya? Sekalipun kita belum siap untuk itu, di dalam hati kita, kita masih dapat menganggap orang yang lebih tua sebagai ibu atau ayah kita, menjembatani jarak apa pun yang mungkin ada di antara kita.
Saya tergelitik ketika seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa dia punya masalah dengan seorang wanita tua yang ingin dia memanggilnya “ibu”. Alasannya adalah karena wanita itu seperti ibu bagi istrinya. Bukan ibu kandung, tetapi lebih seperti ibu baptis, bahkan lebih dekat daripada ibu baptis. Setelah pasangan itu menikah, wanita tua itu ingin suaminya memanggilnya sebagai ibu. Sang suami menolak dan wanita itu marah.
Ketika dia membicarakan hal itu kepada saya, saya berkata, “Mengapa tidak memanggilnya ibu?” Dia berkata, “Apa!?” Saya berkata, “Apa masalahnya? Panggil saja dia ibu. Bukankah lebih baik punya lebih dari satu ibu?” Dia tertegun, tetapi berkata, “Baiklah.”
Di Matius 19:27, Petrus bertanya kepada Yesus, “Lihat, kami sudah meninggalkan semuanya dan mengikuti Engkau. Jadi, apa yang akan kami terima?” Yesus berkata bahwa mereka yang telah meninggalkan rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ayah, ibu, anak-anak, dan tanah, akan “menerima seratus kali lipat dan akan mewarisi hidup yang kekal” (ay 29). Dalam menerapkan pertambahan seratus kali lipat kepada saudara laki-laki, saudara perempuan, ayah, ibu, anak-anak, Yesus berbicara tentang keluarga gereja dan bukan keluarga biologis seseorang. Di Matius 12:48 Yesus bertanya, “Siapakah ibu-Ku dan siapakah saudara-saudara-Ku?” Ia tidak merujuk secara khusus kepada ibunya Maria, karena ia melanjutkan dengan berkata, “siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang ada di surga, dialah saudara laki-laki-Ku, saudara perempuan-Ku, dan ibu-Ku.”.
Hambatan terhadap kasih lateral
Dalam perintah kasih lateral kita melihat gambaran indah tentang gereja yang di dalamnya terdapat hubungan-hubungan yang sedekat mungkin. Semua ini dicapai melalui kuasa Roh dan kemurnian hidup yang kudus.
Namun, kita menciptakan rintangan bagi kasih yang bersifat lateral. Kita bahkan menggunakan kewajiban agama sebagai alasan, mirip dengan apa yang kita lihat dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai jawaban atas pertanyaan seorang ahli Taurat, “Dan, siapakah sesamaku manusia?”
Dalam perumpamaan itu, seorang pria diserang oleh perampok dan ditinggalkan dalam keadaan hampir mati di jalan menuju Yerikho. Datanglah seorang imam, kemudian seorang Lewi, keduanya berjalan melewati pria yang terluka itu tanpa menolongnya. Mereka bahkan berjalan di sisi jalan yang lain untuk menjaga jarak darinya. Para pemimpin agama ini memiliki tugas keagamaan yang harus dilakukan bagi Allah, dan ini menghalangi mereka dari mengasihi sesama. Sebab jika mereka berhenti untuk menolong orang yang sekarat itu, dan jika ternyata dia sudah mati, mereka akan menjadi najis dan karena itu tidak dapat melaksanakan tugas keagamaan mereka kepada Allah.
Mereka dicegah dari menolong orang itu karena cara mereka menerapkan hukum tentang menyentuh mayat (Im 21:1, 11; Bil 19:11-13). Ketakutan mereka adalah jika orang itu sudah mati, dengan menyentuhnya mereka akan menjadi najis secara seremonial. Seorang imam yang najis tidak dapat melayani di bait suci, dan hal yang sama berlaku bagi orang Lewi, jadi mereka tidak mau mengambil risiko untuk memeriksa apakah orang itu masih hidup. Ketakutan akan najisnya mayat menghalangi mereka dari mengasihi sesama.
Namun, mengasihi Allah dan mengasihi sesama tidak dapat dipisahkan. Imam dan orang Lewi itu tidak melihat kesatuan dari kedua perintah tersebut, sehingga mereka mengabaikan perintah kedua demi memenuhi perintah pertama dalam hal kewajiban agama.
Umat Kristen juga menggunakan alasan-alasan Kristiani untuk tidak mengasihi sesama. Misalnya, kesetiaan pada doktrin tertentu, sebagaimana mereka pahami, menghalangi mereka dari bersekutu dengan umat Kristen lainnya. Kita mengatakan bahwa orang itu adalah seorang Katolik atau menganut doktrin yang tidak kita setujui, jadi kita membangun penghalang.
Kata “sesat” digunakan secara bebas di gereja dewasa ini. Ada sebuah buku dengan judul yang menarik, Will the Real Heretics Please Stand Up? A New Look at Today’s Evangelical Church in the Light of Early Christianity, oleh David W. Bercot. Buku ini mengatakan bahwa biasanya mereka yang memegang doktrin yang benar disebut sesat sedangkan mereka yang memegang doktrin yang salah adalah mereka yang, terkadang karena rasa tidak aman, melabeli orang lain sebagai sesat.
Prinsip yang menjadi panduan kita seharusnya adalah kebenaran Alkitab dan bukan pembelaan terhadap doktrin atau teologi tertentu. Jika Anda memiliki kebenaran, saya akan tunduk padanya. Namun, Anda harus membuktikan posisi Anda dari Kitab Suci dan bersedia untuk mengujinya demi mencapai kebenaran.
Kasih membuktikan bahwa kita adalah murid-muridnya
Hanya ada satu cara bagi orang untuk mengetahui bahwa kita adalah murid-murid Yesus. Caranya bukan melalui khotbah, pengetahuan Alkitab, atau perbuatan baik yang kita lakukan dengan motif yang tidak pasti, melainkan melalui kasih kita terhadap satu sama lain.
Satu perintah baru Aku berikan kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kalian, demikianlah kamu juga saling mengasihi. Dengan begitu, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi. (Yoh 13:34-35)
Dalam kalimat yang dicetak miring, standar mutlak yang ditetapkan di bagian pertama (“sama seperti Aku telah mengasihi kalian”) menetapkan standar mutlak untuk bagian kedua (“kamu juga saling mengasihi”). 1 Yohanes 3:16 menjelaskannya secara konkret: “Beginilah kita mengenal kasih, yaitu bahwa Yesus Kristus telah menyerahkan hidup-Nya untuk kita. Jadi, kita juga harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita.”
Contoh terbaik dari hal ini terlihat dalam diri Yesus Kristus, gembala yang baik yang menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11). Namun, pekerja upahan meninggalkan domba-dombanya ketika ia melihat serigala datang karena ia khawatir akan keselamatannya sendiri. Ia tidak akan pernah mempertaruhkan nyawanya, sedangkan gembala yang baik yang mati bagi domba-dombanya tidak akan menganggap apa pun terlalu berharga untuk diserahkan demi keselamatan mereka. Para pemimpin gereja juga harus siap untuk menyerahkan nyawa mereka bagi saudara-saudari seiman.
Hubungan guru-murid dicirikan oleh komitmen mutlak seperti yang terlihat dalam kepedulian Paulus terhadap gereja: “aku bertahan dalam segala sesuatu demi orang-orang pilihan Allah supaya mereka juga mendapat keselamatan yang ada dalam Yesus Kristus” (2Tim 2:10). Paulus juga berkata, “kematian bekerja di dalam kami, tetapi kehidupan bekerja di dalammu” (2Kor 4:12). Kasih yang memberi diri ini juga dimaksudkan untuk komitmen pernikahan, karena suami harus mengasihi istri mereka sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan dirinya untuk jemaat (Ef 5:25).
Mengasihi Allah berarti mengasihi sesama seperti diri sendiri
Jika ada orang yang berkata, “Aku mengasihi Allah,” tetapi membenci saudaranya, orang itu adalah penipu. Sebab, orang yang tidak dapat mengasihi saudaranya yang kelihatan, tidak dapat mengasihi Allah yang tidak kelihatan. (1Yoh 4:20)
Dulu saya pernah berkata dengan nada bercanda—namun juga serius—bahwa mudah untuk mengasihi Allah karena kita tidak melihat-Nya, tetapi sulit untuk mengasihi saudara-saudari seiman justru karena kita melihat kesalahan mereka. Lebih mudah mengasihi seseorang yang tidak Anda lihat karena Anda dapat mengidealkannya. Itu seperti mendengar suara yang hangat dan lembut di program radio yang membuat Anda membayangkan orang yang baik dan cantik. Namun, saat Anda melihatnya secara langsung, Anda mungkin akan terkejut. Anda mengidealkan mereka yang tidak Anda lihat, tetapi sulit untuk mengasihi teman sekamar Anda yang kesalahannya terlihat di depan mata Anda.
Dalam ayat yang baru saja dikutip, Yohanes tidak sedang bermain-main dengan kata-kata atau berbasa-basi. Jika Anda tidak mengasihi saudara Anda, faktanya Anda tidak mengasihi Allah. Kasih apa pun kepada Allah tanpa kasih yang sepadan bagi umat-Nya adalah kasih yang dibuat-buat dan diidealkan yang tidak dapat diterima oleh Allah. Untuk membuktikan kasih kita kepada-Nya, Allah mengharuskan kita untuk mengasihi saudara-saudari kita.
Ada dua alasan mendasar untuk ini. Yang pertama didasarkan pada fakta penciptaan Allah, karena saudara laki-laki atau perempuan itu diciptakan menurut gambar Allah. Namun, saat ini banyak orang Kristen percaya bahwa gambar Allah dalam diri manusia telah hancur. Jika demikian, kita akan kehilangan alasan utama untuk mempraktikkan kasih lateral. Namun, dalam Alkitab, gambar Allah dalam diri manusia belum hancur. Perhatikan bentuk present tense (waktu ini) dalam “ia adalah gambaran dan kemuliaan Allah” (1Kor 11:7; juga Kej 9:6). Karena seorang saudara diciptakan menurut gambar Allah, Anda harus mengasihinya meskipun ia memiliki kesalahan. Anda melakukan ini demi Allah karena saudara ini memiliki gambar Allah meskipun gambar itu mungkin tampak rusak atau tidak sempurna bagi Anda. Anda melihat melampaui ketidaksempurnaan dan melihat keindahan tertentu dalam diri orang tersebut.
Alasan lain untuk kasih lateral adalah penebusan yang dengannya kita telah dimasukkan ke dalam tubuh Kristus. Saudara laki-laki atau perempuan kita, terlepas dari kesalahannya, merupakan anggota tubuh Kristus. Anda tidak dapat mengasihi Kristus tanpa mengasihi anggota-anggota tubuhnya. Kasih apa pun kepada Kristus yang tidak disertai kasih kepada tubuhnya adalah kasih khayalan.
Setiap metafora untuk gereja dalam Perjanjian Baru merupakan gambaran komitmen bersama. Dalam metafora gereja sebagai tubuh, tidak ada hubungan tingkat kedua, hanya hubungan tingkat pertama. Satu-satunya cara untuk memiliki hubungan tingkat kedua adalah memiliki tubuh yang berbeda dari tubuh Kristus. Gambaran lain tentang gereja adalah pasukan yang setiap prajuritnya berkomitmen kepada sesama prajurit, karena mereka saling membutuhkan untuk bertahan hidup. Seorang prajurit yang pergi sendiri akan menjadi sasaran empuk tembakan penembak jitu. Kelangsungan hidupnya bergantung pada keanggotaannya dalam pasukan yang anggotanya berkomitmen satu sama lain.
Dosa menghancurkan komitmen lateral
Akhirnya, dosa pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap hubungan Anda dengan sesama, baik itu dosa seksual maupun dosa materi seperti mencuri. Dosa selalu menyebabkan luka rohani pada sesama kita. Bahkan dosa penyembahan berhala—yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang dilakukan kepada Allah dan bukan kepada sesama—menyebabkan luka rohani pada sesama karena penyembahan berhala dapat membuat orang tersandung.
Akan tetapi, orang yang mengasihi sesamanya telah memenuhi hukum Taurat (Rm 13:8). Paulus tidak menyebutkan perintah pertama, tetapi hanya perintah kedua yang cukup untuk memenuhi hukum Taurat. Perintah pertama dan kedua tidak dapat dipisahkan; dengan memenuhi perintah kedua, Anda telah memenuhi perintah pertama.
Apa yang akan terjadi jika tidak ada lagi kasih yang bersifat lateral di gereja? Tidak akan ada yang tersisa kecuali organisasi dengan seperangkat doktrin. Tidak akan ada hal yang bernilai yang tersisa di gereja jika tidak ada kasih seperti Yonatan-Daud.