Pastor Eric Chang | Bab 10 |

Komitmen Allah kepada kita adalah anugerah sedangkan komit­men kita kepada Allah adalah iman. Namun, saat ini kata “iman” telah diencerkan sedemikian rupa sehingga kurang lebih berarti pengakuan iman atau persetujuan intelektual. Kita perlu menemukan kata lain yang secara akurat menyampaikan makna iman dalam Alkitab. Memang, banyak otoritas Perjanjian Baru sekarang menjelaskan iman sebagai “komitmen”. 

Di gereja selama berabad-abad, iman berarti menerima pernyataan doktrinal tertentu sebagai kebenaran. Akibatnya, “Saya percaya kepada Yesus” berarti, “Saya percaya bahwa ada seseorang yang bernama Yesus, bahwa dia mati untuk saya, bahwa dia bangkit kembali.” Inilah iman di gereja saat ini. Meskipun pernyataan kredo ini penting, sekadar meneri­manya sebagai kebenaran bukanlah makna iman yang sesung­guhnya dalam Perjanjian Baru. Tentu saja penting untuk percaya bahwa Yesus mati untuk kita dan bangkit kembali, tetapi ini saja bukanlah iman yang menyelamatkan. Iblis juga mengetahui doktrin yang benar (Yak 2:19), tetapi itu tidak menyelamatkannya.

Kata komitmen menyampaikan fakta bahwa dalam Alkitab, iman yang menyelamatkan bukan hanya mempercayai sesuatu sebagai kebe­naran, melainkan merupakan tanggapan kepada Allah yang melibatkan selu­ruh pribadi, bukan hanya kecerdasan atau emosinya, tetapi segala sesuatu dalam dirinya. Itu adalah tanggapan yang tidak menahan apa pun dari Allah. Allah telah memberikan segalanya kepada kita, jadi kita memberi­kan segalanya kepada-Nya. Iman yang menyelamatkan adalah tanggap­an kepada Allah yang diungkapkan dalam komitmen total dan terlihat dalam perbuatan. Yakobus tidak takut berbicara tentang perbu­atan (istilah yang banyak disalahpahami) ketika dia berkata, “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:17, 20, 26). Iman yang mati tidak menye­la­matkan siapa pun.


Realitas Allah

Kita kembali ke pertanyaan penting tentang mengapa kita harus berko­mitmen kepada Allah. Bagaimana kita tahu bahwa Allah itu nyata sehingga kita memiliki keyakinan untuk berkomitmen kepada-Nya tanpa syarat? Apakah kita berkomitmen kepada Allah tergantung pada apakah kita yakin bahwa Dia layak untuk kita percayai. Itu pada giliran­nya tergantung pada apakah kita yakin bahwa Dia nyata. Kita tidak akan berkomitmen kepada pribadi atau ideologi yang fiktif meskipun bebe­rapa orang bersedia melakukan hal itu.

Pertanyaan tentang realitas Allah begitu luas sehingga akan terlalu ambisius bagi kita untuk membahasnya dalam satu bab. Namun, kita akan mencoba membahasnya secara singkat, dengan meli­hat bukti eksis­tensi Allah secara sekilas, tetapi saya harap tidak dengan terlalu dangkal. Saya akan memberikan beberapa bukti tentang realitas Allah untuk Anda pikirkan, tanpa membahas poin-poinnya satu per satu.

  1. Allah dinyatakan melalui ciptaan

Apa dasar keyakinan kita bahwa Allah itu nyata? Apa saja bukti yang dapat digunakan untuk mendukung argumen kita? Bukti yang ada di hadapan kita sangat banyak jika kita mau membuka pikiran dan meneliti fakta-faktanya. Alkitab, mulai dari Kejadian 1:1, dimulai dengan pencip­taan. Paulus berkata bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dalam ciptaan-Nya, dan kita hanya perlu melihatnya:

Sejak penciptaan dunia, sifat-sifat Allah yang tidak dapat dilihat, yaitu kuasa-Nya yang kekal dan sifat keilahian-Nya, telah terlihat jelas untuk dipahami melalui hal-hal yang Dia ciptakan sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Rm 1:20)

Ketika saya pertama kali tiba di Montreal, saya sangat terkesan dengan pendeta gereja Rusia di Montreal. Saya bertanya kepadanya apakah dia telah menjadi seorang Kristen di Barat, tetapi dia berkata tidak, dia mulai mengenal Allah di Rusia Soviet. Saya berkata, “Jadi Anda dibesarkan dengan ajaran bahwa Allah tidak ada?” Dia berkata, “Ya, tetapi apa pun yang mereka katakan kepada kita tentang keberadaan Allah, semakin saya mengamati ciptaan, semakin saya yakin bahwa pasti ada Allah.”

Saya bertanya kepadanya bagaimana hal itu terjadi dan dia berkata, “Saya sedang duduk di kelas astrofisika mendengarkan ceramah tentang alam semesta dan bintang-bintang. Saya merenungkan tentang luasnya dan keteraturan alam semesta, cara benda-benda bergerak dengan presisi dan waktu yang tepat, energi yang sangat besar dari benda-benda di alam semesta, dan jaraknya yang sangat jauh. Dalam astronomi, kita berbicara tentang ketidakterbatasan, yang merupakan keabadian, dan keabadian adalah tentang Allah.” Itu meninggalkan kesan yang menda­lam padanya.

Ketika Anda melihat ke angkasa, Anda sedang melihat ketidakter­batasan dan keabadian. Ketidakterbatasannya membuat pikiran terka­gum-kagum. Setiap kali orang Rusia ini merenungkannya, ia akan berkata pada dirinya sendiri, “Pasti ada Allah!” Ia juga tahu bahwa guru-gurunya mengatakan tidak ada Allah karena alasan politik. Itu politik, bukan sains.

Jadi saya bertanya kepadanya, “Bagaimana cerita selanjutnya? Anda tidak menjadi seorang Kristen hanya dengan duduk di kelas astronomi, bukan?” Dia berkata tidak. Meskipun dia tahu bahwa pasti ada Allah, dia tidak cukup tahu tentang agama Kristen.

Ia juga seorang yang patriotik. Ketika Jerman menginvasi Rusia dalam Perang Dunia II, ia adalah seorang pilot pesawat tempur muda di angkatan udara Soviet. Hal pertama yang dilakukan Jerman adalah mengirim gelombang demi gelombang pesawat pengebom untuk meng­hancurkan pesawat-pesawat di lapangan udara. Mereka benar-benar menghancurkan sebagian besar angkatan udara Soviet di darat. Hasil­nya, Jerman memiliki kendali udara pada fase pertama perang melawan Uni Soviet.

Pilot Rusia ini tidak bisa terbang karena tidak punya pesawat untuk diterbangkan, tetapi hal itu juga berlaku bagi sebagian besar pilot Soviet lainnya. Dia akan duduk di samping lapangan terbang, membaca koran.

Jerman maju dalam blitzkrieg atau perang kilat, bergerak cepat melin­tasi Rusia. Tak lama kemudian mereka mengepung Leningrad di satu sisi dan maju ke Stalingrad di sisi lain.

Sambil membaca koran, pemuda Rusia ini menjadi semakin gelisah. Jadi dia berkata kepada komandannya, “Mengapa saya duduk di sini? Jerman sedang menyerang negara kita dan kita duduk di sini tanpa pesa­wat untuk terbang. Kita harus ikut berperang.”

Perwira itu menatap pemuda yang bersemangat dan siap bertempur itu, lalu berkata, “Apakah kamu bersedia bertempur di infanteri?” Dia menjawab “ya” dan segera dikirim ke garis depan.

Tak lama kemudian, ia benar-benar menemukan dirinya di garis depan, bola mata ke bola mata dengan tentara Jerman. Untuk pertama kalinya, ia tahu apa itu rasa takut. Keuntungan menerbangkan pesawat adalah Anda tidak melihat wajah musuh atau menatap matanya. Anda menembaki mereka dari kejauhan. Jadi, ia terkejut ketika berdiri di paritnya dan melihat seorang tentara Jerman di parit lainnya. Ia berpikir sendiri, “Saya tidak punya masalah dengan dia, tetapi ia harus menem­bak saya dan saya harus menembak dia! Apakah ini arti hidup?”

Suatu hari ketika ia berdiri di dalam parit, ia menarik topinya menu­tupi matanya dan mulai berdoa. Ini merupakan langkah pertama yang diambilnya untuk mengenal Allah. Ia perlahan-lahan mengangkat topi­nya, berharap tidak ada seorang pun yang melihatnya berdoa. Seorang prajurit lain menatapnya dan tersenyum, jadi ia merasa malu dan meli­hat ke arah lain. Namun, prajurit itu berkata kepadanya, “Kau sedang berdoa, bukan?”

“Aku berdoa?”

“Ya, kamu berdoa! Akui saja!”

“Ya, aku berdoa.”

“Aku juga! Itu membuat kita berdua!”

Menarik sekali! Sepanjang hidup mereka, mereka diajari bahwa Allah itu tidak ada. Namun, orang Rusia ini berkata kepada saya, “Anda akan terkejut mengetahui betapa banyak tentara di Angkatan Darat Soviet yang berdoa!”

Apa yang terjadi selanjutnya? Ia ditangkap ketika pasukan Jerman menerobos garis pertahanan Soviet. Seperti yang sering terjadi, tentara Soviet tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan diri. Mereka dikepung, diisolasi, dan ditawan. Ia sendiri dibawa ke kamp tawanan perang di Jerman. Menjelang akhir perang, ia dipindahkan ke kamp yang terletak di Austria yang diduduki Nazi. Bagian Austria ini kemudian direbut oleh pasukan Sekutu. Seluruh kelompok tawanan Soviet ini, yang jumlahnya ratusan ribu, kemudian dipindahkan dari tangan Jerman ke tahanan Sekutu Barat. Amerika membuka kamp-kamp tersebut untuk menyediakan pasokan bantuan dan bahkan menyeleng­garakan kegiatan penjangkauan Injil. Beberapa penginjil datang ke kamp untuk menjangkau para tawanan Soviet. Orang Rusia ini menerima beberapa risalah, dan menyerahkan hidupnya kepada Allah.

Ada tiga tahap dalam semua ini. Pertama, ia melihat kemuliaan Allah dalam ciptaan. Kedua, ia mulai berdoa. Ketiga, ia mendengar Injil yang belum pernah ia dengar sebelumnya, meskipun ia telah mengetahui sesuatu tentang Kristus.

Orang Rusia ini menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menjang­kau Sang Pencipta alam semesta adalah Dia yang menjangkau kita. Kita mungkin ingin mengenal Allah, tetapi Allah jauh lebih bertekad untuk mengenal kita! Begitu orang Rusia ini mendengar Injil, ia mengenali kebenaran. Ia tidak hanya percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Allah, ia juga menjadi pendeta di sebuah gereja Rusia.

Yesus Kristus dan ciptaan

Allah Yahweh adalah satu-satunya pencipta (Yes 44:24) sedangkan Yesus Kristus adalah “yang sulung atas semua ciptaan” (Kol 1:15). Segala sesuatu diciptakan oleh Allah “di dalam” Kristus dan “melalui Dia dan untuk Dia” (ay 16). Ketika kita merenungkan alam semesta dan rancang­annya yang kekal, kita tertarik kepada Penciptanya—satu-satunya Allah —melalui Anak-Nya Yesus Kristus, yang adalah satu-satunya jalan menuju Allah Bapa kita (Yoh 14:6).

Di Skotlandia, saya berdebat dengan seorang pemuda dari India yang percaya pada banyak dewa. Bahkan, saya diberi tahu bahwa di India, jumlah dewa lebih banyak daripada jumlah manusia. Dengan jumlah penduduk lebih dari satu miliar, pasti ada banyak dewa Hindu! Pemuda ini memberi tahu saya bahwa ada banyak jalan menuju Allah, sebuah gagasan yang tidak asing lagi dalam filsafat India. Saya berkata kepada­nya, “Tolong beri tahu saya jalan mana yang membawa Anda langsung kepada Allah. Apa gunanya mengatakan bahwa secara teoritis ada banyak jalan menuju Allah, kecuali Anda dapat menunjukkan satu jalan tertentu yang akan membawa saya langsung kepada Allah? Saya sudah tahu bahwa Yesus adalah jalan menuju Allah. Jika Anda tidak datang kepada Allah melalui Yesus, Anda tidak akan datang kepada-Nya sama sekali. Saya menantang Anda untuk menemukan jalan lain menuju Allah, dan ketika Anda telah menemukannya, datanglah dan beri tahu saya bahwa Anda telah bertemu dengan Allah.”

Dia menjawab, “Ada banyak orang suci di India.” Saya berkata, “Saya tidak akan membantahnya, tetapi apakah orang-orang suci ini telah datang kepada Allah atau tidak adalah masalah lain. Saya telah memberi tahu Anda bahwa saya telah datang kepada Allah melalui Yesus Kristus, dan saya jamin bahwa Anda juga akan mengenal Allah jika Anda menempuh jalan ini. Jika Anda percaya secara teoritis ada seratus jalan menuju Allah, pergilah dan temukan satu jalan yang spesifik.” Dia memikirkannya dan akhirnya menjadi seorang Kristen sendiri. Itu sebagian merupakan hasil dari kesaksian yang kuat dalam kehidupan orang-orang Kristen lainnya, sesuatu yang akan kita bahas nanti.

Poin pertama adalah bahwa Allah terungkap dalam ciptaan-Nya. Lihatlah bunga dan desainnya yang indah. Jika seorang pengrajin membuat bunga buatan dari emas, mutiara, dan berlian, itu tidak akan sebanding dengan kemegahan bunga hidup. Ketika Anda meletakkan keduanya berdampingan, tidak ada persaingan dalam hal warna, bentuk, kecerahan, dan keharuman. Suatu hari saya memetik bunga di pulau Cheung Chau di Hong Kong, dan saya berdiri di sana sambil mengagum­inya. Bunga itu sangat indah dengan bentuk terompet putih, garis-garis emas, nuansa kuning halus, dan keharuman yang menakjubkan!

Ketika Anda melihat bunga buatan yang terbuat dari emas dan berlian, bukankah itu menunjukkan bakat, kecerdasan, dan kreativitas sang pengrajin? Sebagian orang mengagumi hasil karya kerajinan dan rela membayar ribuan dolar untuk satu bunga. Nilai komersial dari bagian-bagian penyusunnya dalam bentuk emas dan berlian mungkin tidak terlalu tinggi, jadi yang Anda bayar adalah keindahan artistiknya.

Apakah karena kita dapat memetik bunga secara gratis sehingga kita tidak meliriknya? Jika bunga tiruan bercerita tentang perancangnya, apalagi bunga hidup bercerita tentang Penciptanya?

Jika bunga saja begitu mengagumkan, bagaimana dengan burung atau ikan? Dulu saya tidak tahu banyak tentang kemegahan dunia bawah laut. Namun, saat saya menyelam, apa yang saya lihat di bawah permu­kaan benar-benar membuka mata saya. Saya mengenakan masker dan tabung oksigen, lalu menyelam hingga kedalaman 20 kaki, 30 kaki, mungkin 100 kaki. Saya pernah mengajak istri saya bersnorkel di Karibia, dan meskipun bersnorkel tidak memberikan pemandangan yang sama seperti menyelam, ia sangat terpesona dengan apa yang dili­hatnya di terumbu karang.

Saat Anda menyelam, Anda bisa mendekati karang dan melihat ikan-ikan berkerumun di sekitar Anda dan menatap ke dalam kacamata selam Anda. Mereka sama penasarannya dengan saya seperti saya terhadap mereka. Warna, bentuk, dan keanekaragaman ikan itu menakjubkan. Jika Anda mengambil selembar kertas dan menggambar makhluk laut di atasnya, menambahkan sedikit warna kuning di sana-sini, dengan sedikit warna biru, ada kemungkinan besar Anda akan menggambarkan sesuatu yang mirip dengan apa yang sudah ada di bawah air. Buka-buka buku tentang biologi laut dan Anda akan melihat berbagai macam makhluk menarik. Salah satunya mungkin adalah apa yang telah Anda gambar di selembar kertas itu.

Pada beberapa ikan, Anda tidak dapat dengan mudah membedakan ujung mana yang kepala dan mana yang ekor. Terkadang sulit untuk membedakan mata atau mengetahui berapa jumlah mata yang ada. Ada ikan yang menangkap ikan lain dengan sesuatu yang tampak seperti joran pancing yang menjulur dari kepalanya dengan sesuatu yang tampak seperti umpan yang menjuntai di ujungnya. Ikan yang meman­cing ikan?

Ada ikan yang menyemprotkan air dari bawah permukaan untuk menjatuhkan serangga yang terbang di atasnya. Siapa pun yang pernah mempelajari trigonometri, gerak proyektil, dan mekanika fluida pasti tahu betapa rumitnya hal itu. Siapa yang mengajarkan trigonometri kepada ikan dan bagaimana ia memperoleh keterampilannya? Menurut teori evolusi, spesies ikan berevolusi ke arah itu karena bertahan hidup dan seleksi. Namun, bukankah spesies itu akan mati kelaparan jauh sebelum berevolusi hingga mampu menembak jatuh serangga?

Jika seseorang dapat menjalani hidup dengan melihat ciptaan, tetapi tidak dapat melihat kemuliaan Sang Pencipta, ia pasti menderita penya­kit rohani. Bagaimana mungkin seseorang dapat melihat semua ini dan tidak melihat apa pun?

Banyak dari kita yang dibesarkan dengan teori evolusi. Di Tiongkok, saya mendapat keistimewaan untuk “dibebaskan” selama tujuh tahun. Bagian dari kehidupan yang terbebaskan itu adalah dicuci otak dengan teori evolusi dan materialisme dialektis. Di salah satu kelas saya, seorang siswa bertanya kepada guru tentang asal usul kehidupan: “Anda menga­jarkan kami evolusi, jadi saya ingin kembali ke masa sebelum evolusi dan bertanya dari mana kehidupan berasal?” Maksudnya adalah jika kehi­dupan berasal dari kehidupan menurut hukum alam seperti yang dike­mukakan Pascal, dari mana bentuk kehidupan pertama bera­sal? Perta­nyaan itu lebih dari yang dapat ditangani oleh guru, jadi dia berkata, “Itu mudah. ​​Kehidupan berasal dari non-kehidupan.”

Siswa itu menjawab, “Tapi kita belajar dari Pascal bahwa kehidupan berasal dari kehidupan, jadi bagaimana mungkin ia berasal dari benda tak hidup?”

Guru berkata, “Ada saat di mana berbagai gas berkumpul dalam formasi yang tepat, dalam kombinasi yang tepat, dan dalam waktu yang tepat. Kilatan petir menyambar, dan kehidupan pun muncul!”

“Ini luar biasa! Apakah Anda mengatakan ada situasi di mana semua elemen yang tepat berkumpul secara kebetulan, dan kemudian petir menyambar pada saat yang tepat? Apakah kita berbicara tentang bumi atau luar angkasa? Apakah ada petir di luar angkasa? Selain itu, petir biasanya membunuh kehidupan, bukannya menciptakan kehidupan!” Diskusi kelas menjadi semakin menggelikan.

Namun, evolusi telah memengaruhi kita sampai taraf tertentu, paling tidak dengan menanamkan tanda tanya dalam benak kita. Jadi, setiap kali kita berpikir tentang penciptaan, evolusi akan menanamkan tanda tanya dalam benak kita. Sekalipun kita tidak percaya pada evolusi, evolusi telah menciptakan kebutaan rohani tertentu yang menghalangi kita dari melihat kemuliaan Allah dalam ciptaan. Itulah sebabnya kita perlu memohon kepada Allah untuk membuka mata kita.

  1. Allah dinyatakan melalui kehidupan dan ajaran Kristus

Kita sampai pada bukti kedua tentang realitas Allah. Yesus Kristus adalah satu-satunya yang mengungkapkan kemuliaan dan sifat Allah. Anda mungkin berkata, “Itu bagus, tetapi saya tidak ada saat Yesus berja­lan di bumi. Saya tidak seberuntung para murid yang melihat Yesus.”

Allah datang ke dunia dengan tinggal di dalam manusia Yesus, tetapi pada saat yang sama Allah terselubung oleh daging karena tubuh Yesus menyingkapkan dan menyembunyikan Allah. Jika Allah menyatakan diri-Nya kepada kita secara langsung, kita akan langsung mati karena tidak seorang pun dapat melihat wajah-Nya dan tetap hidup (Kel 33:20). Ketika Allah menyatakan diri-Nya di Gunung Sinai, orang Israel begitu takut sehingga mereka memohon agar tidak ada lagi pernyataan Allah yang diberikan kepada mereka karena mereka tidak dapat menahan kehadiran-Nya yang dahsyat. Namun di Sinai, Allah bahkan belum menyatakan kemuliaan ilahi-Nya sepenuhnya.

Bukan hanya pribadi Yesus, tetapi ajarannya juga menyingkapkan dan menyembunyikan pada saat yang sama. Dalam Injil Markus kita menemukan apa yang disebut “rahasia Mesianis,” sebuah istilah yang digunakan oleh para sarjana Perjanjian Baru untuk merujuk pada fakta bahwa Yesus, dalam ajarannya di depan umum, tidak secara eksplisit menyingkapkan dirinya sebagai Mesias, Raja Juruselamat. Tidak ada ucapan dalam ajarannya di depan umum yang secara eksplisit mengata­kan, “Akulah Mesias”. Dalam Injil Markus, hanya sekali Yesus secara khusus mengatakan bahwa dia adalah Kristus, tetapi itu pun karena Imam Besar telah memerintahkannya untuk mengatakan di bawah sumpah, selama sidang pengadilan di Sanhedrin, apakah dia adalah Kristus, dia yang ditunjuk oleh Allah untuk menjadi Juruselamat dunia (inilah arti dari “Kristus”). Di Markus 14:61-62 dan paralelnya di Matius 26:63-64, hanya dalam situasi khusus ini, dan hanya di bawah sumpah, Yesus secara khusus mengatakan, “Akulah [Mesias].”

Kita harus berkomitmen kepada Yahweh, yang adalah Allah, dan kepada Yesus Kristus, Anak Allah. Namun dalam Injil, Yesus tidak secara eksplisit menyatakan siapa dia. Jika dia bahkan tidak memberi tahu murid-muridnya siapa dia, bagaimana dia bisa mengharapkan kita untuk mengetahui siapa dia? Yesus bertanya kepada murid-muridnya, “Menurut perkataan orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Murid-murid mengatakan kepadanya bahwa ada yang mengatakan dialah Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan Elia, ada yang menga­takan Yeremia atau nabi lainnya. Yesus tidak memberi tahu murid-muridnya siapa dia, tetapi dia mengharapkan mereka untuk menjawab pertanyaannya. Kemudian Petrus berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Yesus berkata kepadanya, “Diberkatilah kamu, Simon anak Yunus, sebab bukan daging dan darah yang menyatakan ini kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:17). Daging dan darah termasuk Yesus sendiri.

Hal ini membawa kita pada inti dari komitmen. Bahkan jika saya bisa, saya tidak akan membujuk Anda untuk berkomitmen, karena iman Anda akan didasarkan pada hikmat manusia dan kekuatan persuasi, dan bukan pada hikmat Allah. Yesus tidak pernah mencoba meyakinkan para pengikutnya bahwa dia adalah Kristus, tetapi menyerahkannya kepada Allah untuk membuka mata mereka. Komitmen tidak dapat didasarkan pada persuasi oleh “daging dan darah,” sebuah istilah yang dalam Kitab Suci merujuk pada manusia.

Setiap orang yang berkomitmen adalah mukjizat dari wahyu Allah. Saya kagum dengan pekerjaan Allah dalam diri setiap orang Kristen sejati. Anda menjadi orang Kristen hanya setelah Allah menyatakan diri-Nya kepada Anda, melalui Kristus, dengan cara yang tidak dapat dilaku­kan oleh orang lain. Apa yang saya lakukan dalam diskusi ini adalah untuk meletakkan dasar bagi Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada Anda. Pada akhirnya semua komitmen adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan manusia. Itu juga tergantung pada seberapa terbukanya Anda kepada-Nya.

  1. Allah dinyatakan melalui salib

Cara ketiga Allah dinyatakan kepada kita adalah melalui salib Anak-Nya, Yesus Kristus. Allah dinyatakan melalui Anak-Nya, tetapi tidak ada yang lebih berkuasa daripada di kayu salib. Siapa pun yang memandang salib Kristus dan tidak melihat kasih dan kuasa penyelamatan Allah tidak akan diyakinkan dengan banyaknya pembicaraan. Kebaikan mengalahkan kejahatan, dan tidak ada contoh yang lebih besar tentang hal ini selain di kayu salib Yesus Kristus.

Setiap orang Kristen yang berkomitmen kepada Allah adalah kesak­sian hidup tentang kebaikan Allah yang mengalahkan kejahatan. Seperti yang kita lihat dalam Kolose, semua ini dimungkinkan oleh salib. Kita perlu merenungkan salib dan meminta Allah untuk menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya terjadi di sana, karena tidak ada kefa­sihan manusia yang dapat menjelaskannya kepada kita.

Suatu hari nanti ketika kita melihat Yesus Kristus, Anak Allah, muka dengan muka, kita akan melihat dia bukan hanya sebagai seseorang yang memiliki mahkota yang memancarkan kemuliaan Bapa-Nya, tetapi seba­gai seseorang dengan bekas luka yang dalam di kepalanya yang terukir oleh mahkota duri. Ketika dia mengangkat tangannya atau ketika kita jatuh di kakinya, kita akan melihat luka-luka paku. Ketika dia memper­lihatkan hatinya, kita akan diingatkan bahwa seorang prajurit Romawi menggunakan tombak untuk menusuk sisinya dan ke dalam hatinya sehingga darah dan air keluar. Bekas luka-lukanya akan ada di sana untuk selamanya.

Kitab Wahyu berulang kali berbicara tentang Yesus sebagai Anak Domba yang disembelih. Anak Domba Allah ini akan selamanya menanggung bekas luka kematiannya yang kejam. Kemuliaan Allah akan selamanya dinyatakan dalam Yesus Kristus, bukan hanya sebagai orang yang melakukan mukjizat dan perbuatan mengagumkan lainnya di bumi dengan kuasa Allah (Kis 2:22), tetapi sebagai orang yang mati untuk kita.

Paulus berkata, “Sebab, aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa pun di antara kamu selain mengenai Kristus Yesus, yaitu Ia yang disalibkan” (1Kor 2:2). Ia juga berkata, “Semoga aku tidak pernah meme­gahkan diri kecuali dalam salib Tuan kita, Yesus Kristus. Melalui salib-Nya, dunia sudah disalibkan untuk aku, dan aku untuk dunia” (Gal 6:14). Paulus bisa saja bermegah dalam banyak hal seperti perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik atau banyaknya mukjizat yang telah dilakukannya dengan kuasa Allah, tetapi ia tidak mau membicara­kannya, karena ia hanya ingin berbicara tentang salib Yesus Kristus.

Apakah Anda melihat kemuliaan Allah di kayu salib Anak-Nya Yesus Kristus? Mungkin tidak, karena salib menyingkapkan dan menyem­bu­nyikan. Kemuliaan salib disembunyikan oleh penghinaan kayu salib, karena Yesus mati sebagai penjahat. Sampai kita bersedia melihat peng­hinaannya, kita tidak akan melihat kemuliaan dan kenyataan Allah di kayu salib Anak-Nya Yesus Kristus.

  1. Allah dinyatakan melalui kebangkitan Kristus

Cara keempat Allah menyatakan diri kepada kita adalah kebangkitan Anak-Nya. Renungkanlah tentang makam yang kosong dan apa yang terjadi pada tubuh Yesus. Tubuhnya yang telah meninggal berada di tangan para prajurit Romawi yang berada di bawah pengawasan seorang perwira Romawi dan di bawah wewenang Pilatus, gubernur Romawi. Jadi, ke mana tubuhnya pergi? Orang-orang Romawi hanya perlu menunjukkan tubuhnya untuk membantah klaim apa pun tentang kebangkitan Yesus. Orang-orang Romawi, bukan para murid, yang memiliki tubuh Yesus.

Musuh-musuh Yesus sepenuhnya menyadari bahwa ketika ia masih hidup, ia berbicara di depan umum berulang kali tentang kebangkitan­nya dari antara orang mati. Oleh karena itu, sungguh bodoh jika musuh-musuhnya membiarkan tubuhnya menghilang dari pandangan mereka bahkan untuk satu menit saja. Apakah mereka melakukan kesalahan mendasar itu? Tidak menurut catatan yang kita miliki. Para pemimpin Yahudi dan orang-orang Romawi memiliki kepentingan untuk meng­hindari kesalahan itu. Kita diberi tahu bahwa makam Yesus secara resmi disegel oleh pejabat-pejabat Romawi dan dijaga oleh tentara-tentara Romawi. Namun, mereka tidak dapat menunjukkan tubuhnya ketika para murid pergi memberitakan Kristus yang telah bangkit. Para penguasa hanya perlu memper­lihatkan tubuh Yesus di depan umum.

Yesus adalah tokoh masyarakat di Yerusalem, Yudea, Galilea, dan bahkan di Bait Allah. Ia berdiri di hadapan Pilatus, di hadapan Herodes, di hadapan imam besar, dan di hadapan orang banyak. Semua orang mengenali wajahnya, sehingga para penguasa hanya perlu menunjukkan mayatnya untuk membantah klaim kebangkitannya. Pada saat yang sama, karena Yesus dikenal luas, mustahil bagi musuh-musuhnya untuk menampilkan tubuh orang lain sebagai tubuhnya.

Selain itu, para murid tidak langsung lari ke kota-kota yang jauh untuk memberitakan kebangkitan Yesus kepada orang-orang yang tidak dapat membenarkan pernyataan tersebut. Sebaliknya, para murid tetap tinggal di Yerusalem. Pada hari Pentakosta, Petrus berbicara tentang “kebangkitan Kristus” kepada orang-orang yang sama yang telah menyalibkannya (Kis 2:24,31,36).

Singkatnya, ketika kita melihat fakta kebangkitan Yesus, kita melihat bukti nyata bahwa Allah itu nyata.

  1. Allah dinyatakan dalam kesaksian para rasul

Bukti kelima tentang realitas Allah adalah kesaksian para rasul yang telah melihat Yesus yang telah bangkit. Dalam Perjanjian Baru, kata “rasul” tidak terbatas pada Kedua Belas Rasul itu, tetapi merupakan istilah luas yang mencakup mereka yang telah menyaksikan kehidupan, pelayanan, dan kebangkitan Yesus. Kesaksian para rasul mencakup rasul Paulus sendiri:

Aku sudah menyampaikan kepadamu, pertama-tama yang terpen­ting, yang juga aku terima bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, Ia sudah dikuburkan, Ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai Kitab Suci, dan bahwa Ia telah menampak­kan diri-Nya kepada Kefas, kemudian kepada yang kedua belas itu. Sesudah itu, Ia menampakkan diri-Nya kepada lebih dari lima ratus saudara-saudara sekaligus. Sebagian besar dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa sudah mati. Lalu, Ia menampakkan diri-Nya kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Terakhir, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya, Ia juga menampakkan diri kepadaku. Sebab, akulah yang terkecil di antara rasul-rasul-Nya dan tidak layak disebut sebagai rasul karena aku menganiaya jemaat Allah. (1Kor 15:3-9)

Saksi sangat penting dalam proses hukum di pengadilan. Pertim­bang­kan berapa banyak saksi yang telah melihat Yesus setelah kebangkit­an­nya: bukan hanya ke-12 rasul, tetapi 500 orang sekaligus. Menurut hukum Yahudi, dua atau tiga saksi sudah cukup untuk membuktikan suatu kasus, tetapi Paulus berbicara tentang 500 saksi. Ia menulis surat­nya kepada jemaat di Korintus sekitar tiga puluh tahun setelah kebang­kitan Yesus. Sebagian besar dari 500 saksi tersebut masih hidup dan siap diperiksa silang, meskipun beberapa telah “tertidur” (meninggal).

Akhirnya Paulus berkata, “Terakhir, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya, Ia juga menampakkan diri kepadaku.” Kesak­siannya tentang Yesus meyakinkan karena penganiayaannya yang kejam terhadap gereja pada masa lalu (Gal 1:13, 23). Kesaksian Paulus adalah kesaksian dari seorang mantan musuh Yesus dan gereja. Kesaksian yang mendukung dari seorang mantan musuh lebih meyakinkan daripada kesaksian seorang teman lama. Ketika seorang musuh menyatakan di depan umum, “Dulu aku memenjarakan dan membunuh orang-orang Kristen, tetapi sekarang aku adalah pengikut Yesus Kristus yang telah menyatakan dirinya kepadaku,” kesaksian itu sangatlah kuat.

  1. Allah dinyatakan melalui saksi-saksi yang hidup saat ini

Bukti keenam tentang realitas Allah adalah para saksi hidup saat ini. Anda mungkin berkata, “Paulus mengetahui 500 saksi kebangkitan, banyak di antaranya dapat diperiksa silang, tetapi mereka sudah tidak ada lagi pada zaman kita.” Namun, pernahkah Anda mempertim­bangkan banyak saksi Allah yang hidup saat ini yang telah mengalami realitas Allah, dan yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada 500 saksi pada zaman Paulus? Ada banyak orang yang hidup saat ini yang dapat bersaksi tentang realitas Allah dalam hidup mereka. Setiap orang Kristen sejati adalah saksi bagi Allah, dan ada banyak orang seperti itu di generasi ini. Toko-toko buku penuh dengan otobiografi dan kesaksian orang-orang yang telah menulis tentang pengalaman mereka tentang Allah. Allah bekerja saat ini, bukan hanya 2.000 tahun yang lalu.

Saya menghitung diri saya sebagai seorang saksi. Kesaksian saya, yang diterbitkan sebagai Bagaimana Aku Mengenal Allah, merupakan saksi tentang realitas Allah, tetapi kesaksian itu hanya mencakup sebagian kecil dari apa yang telah saya alami. Apakah saya punya alasan untuk menceritakan kisah-kisah bohong kepada Anda? Apakah ada alasan untuk meragukan keakuratan kesaksian saya? Apakah seseorang membayar saya untuk mengarang kisah-kisah itu? Tidak, saya adalah saksi hidup tentang realitas Allah. Saya akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk membagikan apa yang telah Allah lakukan dalam hidup saya. Kesaksian setiap orang Kristen yang telah mengalami realitas Allah harus ditanggapi dengan serius.

  1. Allah dinyatakan dalam hidup Anda

Kesaksian ketujuh adalah Anda sendiri. Apakah Anda pernah mengala­mi Allah? Ketika Anda mengingat kembali beberapa kejadian dalam hidup Anda, bahkan kejadian yang Anda tidak yakin 100% melibatkan Allah, Anda mungkin dapat melihat bahwa Allahlah yang memainkan peran penting dalam pengalaman Anda.

H.D. Lewis, seorang filsuf terkemuka di Inggris merupakan salah satu profesor yang pernah mengajar saya di London, pernah menulis sebuah buku, Our Belief in God, yang dianggap serius karena ia adalah seorang filsuf yang disegani. Jika buku itu ditulis oleh orang lain, mungkin tidak akan ada yang menganggapnya serius. Namun, karena kedudukan Lewis sebagai seorang filsuf, orang-orang memperhatikannya dan harus mem­perhitungkannya.

Dalam bukunya, ia berpendapat bahwa setiap orang, pada suatu waktu atau waktu lainnya, pernah mengalami Allah, dan hal ini berlaku baik Anda seorang Kristen atau bukan. Ia memberikan contoh dari kehi­dupannya sendiri sebagai seorang non-Kristen ketika ia melihat kein­dahan matahari terbenam. Ia tidak dapat menjelaskan alasannya, tetapi ia yakin bahwa ia mengalami Allah saat itu.

Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa mereka selamat dari kecelakaan yang seharusnya menewaskan mereka. Mereka tidak dapat mengerti mengapa mereka masih hidup. Apakah mereka mengalami perlindungan yang tidak terlihat dalam insiden itu? Dan mengapa Anda membaca buku tentang komitmen kepada Allah ini? Apakah karena Allah telah membimbing Anda dengan cara yang tersembunyi dan terungkap pada saat yang bersamaan?

Bukti terakhir ini pada akhirnya adalah diri Anda sendiri. Bukti paling meyakinkan tentang realitas Allah pada akhirnya adalah apa yang telah Anda alami sendiri. Bukti ini dapat dibagi menjadi dua kategori: apa yang telah Anda alami pada masa lalu, dan apa yang dapat Anda alami pada masa mendatang.


Pengalaman masa lalu

Beberapa hal yang Anda alami pada masa lalu mungkin samar-samar dalam ingatan Anda, tetapi tetap saja nyata. Ibu saya bercerita kepada saya bahwa ketika saya masih bayi, suatu hari ia pulang ke rumah dan mendapati saya hampir meninggal di tempat tidur. Entah bagaimana, selimut melilit saya dengan erat, membuat saya sesak napas, dan saya membiru. Ibu tidak merawat saya selama beberapa waktu, dan jika ia menunda satu atau dua menit, saya pasti sudah meninggal. Apakah kebe­tulan ia pulang pada saat yang tepat? Ketika ia melihat saya, ia sangat ketakutan hingga hampir pingsan di tempat, yang akan menghabisi saya sebelum ia sempat sadar kembali. Pikirannya cukup jernih untuk membuka selimut, jadi saya masih hidup di sini hari ini.

Inilah jenis pengalaman yang dibicarakan oleh profesor saya. Dengan satu atau lain cara, setiap orang memiliki pengalaman pribadi dengan Allah. Mengenainya, kita dapat berkata, “Saya tidak dapat membukti­kannya, tetapi Allah terlibat.” Lihat kembali kehidupan Anda sendiri dan renungkan hal-hal yang mungkin merupakan pengalaman sejati dengan Allah, bahkan jika Anda tidak menyadarinya saat itu.

Yakub mengalami hal semacam ini ketika ia bergulat dengan sese­orang sepanjang malam tanpa mengetahui bahwa ia sedang bergulat dengan Allah (Kej 32:24-32). Dalam kejadian lain, dalam mimpi Yakub melihat sebuah tangga yang membentang dari bumi ke surga (Kej 28:11-22). Ia tidak tahu bahwa Allah hadir di tempat ia tidur. Ia baru menyadari hal ini setelah bangun, dan hal itu membuatnya takut. Ia telah mengala­mi Allah tanpa menyadarinya sampai kemudian.

Banyak dari kita telah mengalami kebaikan, belas kasihan, dan perlin­dungan Allah tanpa menyadarinya saat itu. Mungkin Anda mengira itu hanya keberuntungan atau kebetulan bahwa sebuah mobil menabrak orang yang berdiri di sebelah Anda dan bukan Anda. Mengapa hal itu terjadi seperti itu? Anda mungkin tidak punya jawaban, tetapi entah bagaimana Anda tahu bahwa Allah punya rencana kekal untuk Anda.


Pengalaman masa depan

Bagian kedua dari rangkaian bukti ini adalah apa yang dapat kita alami tentang Allah pada masa mendatang. Inti dari buku ini adalah untuk menginspirasi Anda dengan harapan untuk mengalami realitas Allah. Anda harus mengalami Allah sendiri, karena tidak ada cara bagi saya untuk membuktikan Allah kepada Anda.

Yesus berkata kepada Marta, “Bukankah Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa jika kamu percaya, kamu akan melihat kemuliaan Allah?” (Yoh 11:40) Hal ini dikatakannya kepada Marta setelah Lazarus, saudara Marta dan Maria, meninggal. Sebelum Lazarus meninggal, saudara-saudara perempuannya memohon kepada Yesus untuk datang menyelamatkannya, tetapi Yesus sengaja menunda kedatangannya sampai setelah Lazarus meninggal. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa Tuhan mungkin mengizinkan sesuatu terjadi yang mungkin tampak seperti bencana besar, tetapi dimaksudkan untuk mendatangkan sesuatu yang luar biasa dan mulia. Yesus menunggu sampai Lazarus meninggal selama empat hari. Para pelayat menangis sejadi-jadinya. Mereka, terutama Maria dan Marta, berduka karena Yesus tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkan Lazarus.

Yesus memerintahkan batu itu disingkirkan, tetapi Marta mengingat­kannya bahwa Lazarus telah meninggal selama empat hari. Mayatnya akan berbau busuk (ay 39). Namun, Yesus berkata kepada orang yang sudah meninggal itu, “Lazarus, keluarlah”. Ia tidak berkata, “Kalian semua masuklah dan bawa dia keluar.” Tidak seorang pun akan berani. Sebaliknya, ia memerintahkan Lazarus untuk keluar sendiri. Orang-orang mungkin saling memandang dan berpikir bahwa ini tidak masuk akal. Kemudian Lazarus, yang sudah diperban, berjalan keluar dari makam! Sungguh mengherankan.

Banyak orang ingin melihat kemuliaan Allah sebelum mereka percaya kepada-Nya, tetapi Alkitab membalikkan urutannya: Pertama-tama Anda percaya dan berkomitmen kepada Allah, barulah Anda akan meli­hat kemuliaan-Nya. Namun, kita suka membalik urutannya, dengan meminta Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya terlebih dahulu. Ini tidak akan berhasil karena jika Anda tidak mau bertindak berdasarkan bukti yang sudah ada di hadapan Anda, Anda tidak akan menerima bukti lagi.

Tujuh baris bukti

Berikut adalah tujuh bukti yang telah kita lihat:

  1. Ciptaan Allah
  2. Kehidupan dan ajaran Yesus Kristus
  3. Salib Kristus
  4. Kebangkitan Kristus
  5. Kesaksian para rasul
  6. Saksi-saksi yang hidup saat ini
  7. Pengalaman Anda sendiri tentang Allah

Jika Anda menolak ketujuh bukti ini, Anda tidak akan memperoleh bukti lagi, karena atas dasar inilah Anda membuat komitmen awal. Jika bukti-bukti ini tidak cukup baik bagi Anda, apa yang cukup? Allah telah memberi kita cukup bukti bagi kita untuk membuat komitmen. Dia tidak meminta kita untuk percaya secara membabi buta. Ketika Anda percaya atas dasar bukti-bukti yang ada di hadapan Anda, Anda akan melihat kemuliaan Allah. Jika bukti-bukti itu tidak cukup baik bagi Anda, tidak ada bukti yang akan cukup.

Di Montreal, saya pernah bertanya kepada beberapa orang apakah mereka akan percaya bahwa Allah itu nyata jika saya dengan kuasa Allah membangkitkan orang mati di depan mata mereka seperti Yesus mem­bangkitkan Lazarus. Mereka berkata ya, mereka akan percaya dan berkomitmen. Saya berkata, “Kalau begitu, Anda belum belajar dari sejarah. Tahukah Anda berapa banyak orang yang menyaksikan kebang­kitan Lazarus? Apakah menurut Anda mereka semua menyerahkan hidup mereka kepada Allah? Jika saya membangkitkan orang mati sekarang, saya jamin banyak dari Anda yang tidak akan percaya.”

Mereka bertanya mengapa dan saya berkata, “Karena pada dasarnya kita skeptis. Bahkan jika dua atau tiga dokter memeriksa denyut nadi seseorang dan menyatakan bahwa dia sudah meninggal, dan jika dia kemudian dibangkitkan dari kematian, apakah Anda akan percaya bahwa dia benar-benar sudah meninggal? Anda biasanya tidak meragu­kan surat kematian, tetapi jika seseorang membangkitkan orang yang telah dinyatakan meninggal, Anda akan meragukan kompetensi para dokter.”

Ada beberapa kasus orang yang dibangkitkan dari kematian pada zaman modern, tetapi apakah dunia percaya? Tidak. Bagaimana dengan para dokter yang mensertifikasi kematian mereka? Apakah mereka percaya? Jika ada yang percaya, pastilah para dokter itu. Namun, sudah menjadi sifat manusia untuk mencari argumen guna menyangkal realitas mukjizat, bahkan ketika hampir mustahil untuk mengabaikan bukti, baik karena orang tersebut telah meninggal beberapa lama atau karena tengkoraknya retak. Ada beberapa kasus seperti itu pada zaman seka­rang, tetapi apakah kita mempercayainya? Mungkin dengan tanda tanya.

Sudah menjadi sifat manusia untuk tetap tidak yakin dengan bukti apa pun jika tidak ingin percaya. Namun, ada juga bahaya sebaliknya, yaitu menerima bukti apa pun, bahkan bukti yang lemah, begitu saja hanya karena kita ingin mempercayainya. Masalah dengan sifat manusia adalah sebagian orang cukup mudah tertipu untuk mempercayai apa saja sedangkan yang lain tidak akan mempercayai bukti yang paling kuat sekalipun.

Saya harap Anda tidak akan percaya begitu saja pada semua yang Anda temui. Anda harus berhati-hati dengan mukjizat karena mukjizat bisa dipalsukan, jadi Anda benar untuk bersikap skeptis terhadap banyak mukjizat. Saya pernah ke Lourdes di Prancis, tempat banyak orang dilaporkan telah disembuhkan dari berbagai penyakit. Di Lourdes, ada tugu peringatan dan persembahan rasa syukur yang didirikan oleh mereka yang mengaku telah disembuhkan. Apakah Anda skeptis? Saya percaya bahwa beberapa penyembuhan itu asli dan beberapa tidak. Saya harus menyelidiki masing-masing kasus sebelum menentukan dengan memuaskan mana yang asli dan mana yang tidak. Kita harus berhati-hati di dunia ini. Namun, kita juga bisa beralih ke ekstrem lain dengan bersikap terlalu berhati-hati sehingga tidak ada bukti yang berbicara kepada kita sama sekali.

Bukti apa yang meyakinkan Anda? Allah tahu bahwa saya orang yang sulit diyakinkan. Saya akan memeriksa dan memeriksa ulang bukti-bukti sebelum saya merasa yakin bahwa saya tidak mengabaikan apa pun. Allah tahu bahwa saya orang seperti ini. Dan tahukah Anda? Allah menyambut baik hal itu, asalkan Anda bersedia melakukan apa saja untuk memeriksa bukti-bukti tersebut. Jika Anda berkata, “Saya ingin tahu kebenarannya,” Allah akan senang menerima tantangan Anda. Namun, jika Anda tidak ingin memeriksa bukti-bukti tersebut, Allah tidak akan memaksa Anda.

Bukti apa tentang realitas Allah yang akan meyakinkan saya? Saya menerima sebagai bukti fakta bahwa saya tidak mati lemas di tempat tidur. Namun, bukti itu tersembunyi dan terungkap. Itu berharga bagi saya hanya karena realitas Allah didukung oleh bukti lain. Dengan sendirinya, kejadian ini tidak akan meyakinkan saya. Saya melihat campur tangan Allah dalam kejadian itu hanya dalam retrospeksi, setelah mengalami Allah dengan banyak cara lain. Karena saya tahu bahwa Allah nyata karena alasan-alasan lain ini, saya dapat melihat bahwa Dia memang campur tangan untuk menyelamatkan nyawa saya. Namun, tanpa bukti pendukung tambahan, kejadian ini sendiri tidak akan meyakinkan saya. Saya akan menganggap fakta bahwa saya tidak mati sebagai kebetulan belaka. Namun, karena saya tahu bahwa Allah nyata karena alasan-alasan lain, saya tidak melihat kejadian itu sebagai kebetulan belaka.

Pengalaman masa lalu apa lagi yang meyakinkan saya? Salah satunya, transformasi saya sendiri. Apa yang dapat dilakukan Allah dengan orang seperti saya merupakan bukti yang meyakinkan bagi saya. Kuasa Allah yang datang ke dalam hidup saya dan menjadikan saya manusia baru adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun, bahkan saya sendiri. Kita dapat mengubah diri kita sendiri dalam hal reformasi moral, tetapi kita tidak dapat mengubah diri kita menjadi pribadi baru. Kita dapat berhenti merokok dengan kemauan keras, tetapi di luar kemam­puan manusia untuk mengubah seseorang menjadi pribadi seperti Kristus.

Saya dulunya memiliki sifat pemarah yang meledak-ledak, tetapi Allah telah mengangkatnya. Seperti yang saya katakan, ketika Anda mengalami kuasa Allah dalam hidup Anda, Anda akan tahu bahwa Dia nyata. Ketika saya masih sekolah, saya dikenal sebagai orang yang tidak bisa diajak main-main. Ketika sifat pemarah saya meledak, itu adalah bencana bagi orang-orang di sekitar saya. Saya adalah seorang olahraga­wan pada masa itu, kuat dan bugar, dan terlatih dalam seni bela diri, dan siapa pun yang berkelahi dengan saya melakukan kesalahan kelas satu. Sekarang saya lebih seperti orang yang mudah ditundukkan, tidak berdaya seperti domba. Perubahan ini bukanlah sesuatu yang dapat saya lakukan sendiri, karena saya bahkan tidak menginginkannya. Namun, Allah telah menangani saya dengan cara yang begitu dahsyat sehingga Dia mengangkat sifat pemarah saya. Pengalaman ini sangat meyakinkan bagi saya. Anda juga harus mengalami kuasa transformasi Allah untuk melihat betapa efektifnya itu. Kekuatan transformasi yang penuh keme­nangan ini adalah sesuatu yang telah saya alami pada masa lalu, tetapi juga terus saya alami pada masa sekarang. Anda harus mengalami sendiri kuasa Allah karena itu bukanlah sesuatu yang dapat saya yakinkan kepada Anda.

Jika kita membuka hati kita terhadap tujuh bukti tersebut, kita akan mulai mengalami kuasa Allah. Ketika kita percaya dan berkomitmen kepada Allah berdasarkan bukti di hadapan kita, kita akan diubahkan. Apakah ada risiko dalam mengizinkan Allah mengubah Anda? Menurut saya, risikonya nol. Dokter medis membuat kesalahan karena mereka hanya manusia, tetapi Allah tidak membuat kesalahan. Jika Anda pergi kepada-Nya sebagai pasien dengan masalah dan penyakit Anda, Dia akan menyembuhkan Anda. Bersama Allah tidak ada risiko bagi Anda, jadi apa alasan Anda untuk tidak pergi kepada-Nya? Saya khawatir mendapatkan perawatan di rumah sakit karena dokter medis hanyalah manusia. Mereka melakukan yang terbaik, tetapi jika mereka membuat kesalahan, saya mungkin tidak akan keluar hidup-hidup. Akan tetapi, tidak ada risiko seperti itu bersama Allah. Pertanyaan saya kepada semua yang sedang mempertimbangkan komitmen: Apakah Anda bersedia membiarkan Allah menjadikan Anda manusia baru dan baik?

Ketika orang Kristen tidak menjalani kehidupan yang berkomitmen, betapa besar kerugiannya! Mereka akan menghabiskan sisa hidup berta­nya-tanya apakah Allah itu nyata. Jika Anda tidak berkomitmen kepada Allah, Anda tidak akan pernah bisa yakin akan realitas-Nya, dan Allah akan menjaganya tetap seperti itu. Saya sendiri tidak perlu menebak apakah Allah itu nyata atau tidak, karena Dia memberikan tuntunan-Nya setiap hari kepada mereka yang berkomitmen kepada-Nya. Saya harap Anda akan mengalami sendiri bahwa Allah itu nyata.

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨