Pastor Eric Chang | Bab 9 |
Kamu telah mengambil kunci pengetahuan
Di Lukas 11:52 kita melihat kecaman keras Yesus terhadap para ahli Taurat:
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat! Sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan, tetapi kamu sendiri tidak mau masuk dan menghalang-halangi orang lain untuk masuk.
Siapakah para ahli Taurat yang dikecam Yesus dengan kata-kata yang begitu keras? Mereka adalah para ahli dalam hukum Perjanjian Lama, hukum yang mengatur setiap aspek kehidupan orang Yahudi, termasuk apa yang boleh dimakan. Hukum itu berisi peraturan terperinci tentang pernikahan, transaksi bisnis, jual beli tanah, dan bahkan hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Para ahli Taurat ini mirip dengan para ahli hukum modern, kecuali bahwa mereka adalah ahli dalam Taurat Kitab Suci Ibrani, bukan hukum Inggris atau Amerika.
Mengapa Yesus mencela mereka dengan begitu keras? Karena mereka telah “mengambil kunci pengetahuan.” Mereka tidak menggunakan kunci itu untuk masuk, tetapi menghalangi mereka yang ingin masuk.
Pertanyaan tentang masuk atau tidak masuk sangat berkaitan dengan topik komitmen. Anda mungkin ahli dalam Alkitab (seperti halnya para ahli Taurat), tetapi itu tidak berarti Anda telah membuat komitmen kepada Allah. Banyak teolog menemukan diri mereka dalam situasi yang sama saat ini: Meskipun memiliki pengetahuan di kepala, mereka belum masuk ke dalam, atau membiarkan orang lain masuk ke dalam, pengetahuan tentang Allah.
Arti dari “pengetahuan”
Dalam Alkitab, kata “mengetahui” atau “pengetahuan” tidak berarti pengetahuan intelektual. Pengetahuan dalam Alkitab bukanlah pengetahuan mental, tetapi pengetahuan dari pengalaman. Mengenal Allah bukan hanya mengetahui tentang Allah, tetapi memiliki hubungan yang hidup dengan-Nya. Kita begitu terbiasa mengartikan “pengetahuan” menurut pengertian intelektual atau kognitif sehingga kita sering gagal melihat makna alkitabiahnya.
Anda mungkin mengenal Angela Merkel dari segi rincian biografinya—bahwa ia lahir di Jerman Barat, bahwa ia tumbuh di Jerman Timur, bahwa ia menjadi Kanselir Jerman—tetapi hal tersebut tidak berarti Anda mengenalnya secara langsung dan pribadi.
Yesus memberi tahu para ahli Taurat-teologi bahwa mereka memiliki kunci untuk mengenal Allah, tetapi tidak menggunakannya untuk menjalin hubungan dengan Allah. Lebih dari itu, mereka menghalangi orang lain untuk mengenal Allah. Mungkin mereka menghalangi orang lain dengan memberikan contoh moral yang buruk. Mungkin mereka tidak mengenal Allah secara pribadi dan tidak mampu memperkenalkan Allah kepada orang lain. Atau mungkin mereka tidak ingin orang lain mengenal Allah, karena akan memalukan bagi mereka jika orang biasa memiliki hubungan yang hidup dengan Allah, tetapi mereka tidak.
Apakah Anda memasuki atau tidak memasuki hubungan yang hidup dengan Allah pada akhirnya merupakan masalah komitmen. Komitmen bukan sekadar persetujuan intelektual yang dengannya Anda berkata, “Saya percaya ini dan menerima itu.” Kita biasanya tidak berbicara tentang pengetahuan intelektual dengan istilah “memasuki,” tetapi kita memandang komitmen sebagai “memasuki,” misalnya, memasuki komitmen pernikahan. Kata “memasuki” berkaitan dengan tindakan, gerakan, dan komitmen.
Apakah kunci pengetahuan itu?
Jika Anda memiliki kunci pengetahuan, tetapi tidak masuk, Anda berada dalam situasi yang sama dengan para ahli Taurat. Memiliki kunci pengetahuan menempatkan tanggung jawab yang berat kepada Anda di hadapan Allah.
Kunci sangat penting karena tanpa kunci, Anda tidak dapat membuka pintu kecuali pintu tersebut sudah terbuka atau ada orang yang membukanya untuk Anda. Jika Anda memasukkan kunci dan memutarnya, Anda akan masuk. Jika Anda tidak memasukkan kunci, atau jika Anda tidak memiliki kunci, Anda tidak akan bisa masuk.
Jadi mengapa para ahli Taurat tidak menggunakan kunci itu mengingat mereka memilikinya? Karena harga yang perlu dibayar tinggi. Ketika Anda masuk ke dalamnya, ada hal-hal tertentu yang tidak dapat Anda bawa. Lebih sulit bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah daripada seekor unta yang harus melewati lubang jarum. Diperlukan transformasi total untuk masuk ke dalam Kerajaan itu karena kita biasanya tidak meninggalkan hal-hal yang kita sukai. Namun, ada hal-hal tertentu yang tidak ingin ditinggalkan oleh para ahli Taurat itu. Demikian pula, kebanyakan dari kita ingin membawa serta dosa-dosa dan kebiasaan lama kita ketika kita membuat komitmen. Jika kita diminta untuk meninggalkan hal-hal yang tidak ingin kita tinggalkan, kita tidak akan begitu bersemangat untuk masuk ke dalamnya. Anda mungkin memiliki kuncinya, tetapi Anda tidak ingin meninggalkan beberapa hal. Sungguh tragis ketika seseorang tahu bagaimana memasuki hubungan yang hidup dengan Allah, tetapi menolak untuk memanfaatkan pengetahuan itu.
Ketika Anda naik pesawat internasional dan melewati pemeriksaan bandara, terkadang Anda khawatir apakah Anda boleh membawa barang-barang tertentu yang telah Anda beli dengan harga mahal. Suatu kali saya kembali ke Kanada dengan beberapa hadiah. Saya membawa sebungkus daging kering kualitas terbaik yang saya beli saat melewati Taiwan. Saat itu, saya tidak begitu tahu tentang peraturan bea cukai; dan dalam perjalanan itu, saya harus melewati Hawaii dalam perjalanan ke Kanada. Tahukah Anda apa yang terjadi? Hati saya hancur ketika petugas bea cukai mengambil kantong daging kering saya yang cantik, hadiah indah yang akan saya berikan kepada seseorang, dan membuangnya ke tempat sampah tepat di depan saya! Saya berpikir, “Hei, saya tidak mengunjungi Amerika Serikat. Kembalikan saja kepada saya, dan saya akan pergi lewat jalan lain!” Tentu saja saya tidak dapat melakukan itu. Saya belajar dengan cara yang sulit bahwa Anda tidak dapat membawa makanan tertentu ke dalam atau melalui Amerika Serikat. Hal yang sama akan terjadi di Kanada, meskipun saya tidak mengetahuinya saat itu.
Demikian pula, ketika memasuki Kerajaan Allah, kita perlu memperhatikan hal-hal yang berharga bagi kita. Kita telah menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk memperolehnya, dan merasa bahwa hal-hal itu pada hakikatnya baik. Ada hal-hal lain yang tidak keberatan kita tinggalkan karena hal-hal itu jelas buruk dan tidak boleh dibawa masuk. Bagian itu tidak mengganggu kita, dan kita tidak mempermasalahkannya. Dalam memutuskan apakah akan mengambil langkah komitmen, hal-hal yang paling bermasalah bagi kita adalah hal-hal yang menurut kita pada hakikatnya tidak buruk, jadi kita tidak mengerti mengapa kita tidak diizinkan untuk membawanya.
Saya masih bertanya-tanya apa yang salah dengan daging lezat itu. Sebelum Anda membuangnya ke tempat sampah, setidaknya beri saya sebagiannya saat itu juga. Dalam hal komitmen, banyak orang yang seperti itu. “Sebelum saya membuat komitmen, saya akan menikmati dunia sedikit lagi sebelum terlambat.” Kita punya banyak alasan pribadi untuk tidak membuat komitmen.
Keegoisan versus mengasihi Allah
Lalu, apakah kunci pengetahuan itu? Petunjuknya ditemukan pada kata kunci dan pengetahuan. Yesus tidak secara eksplisit mengatakan apa kunci pengetahuan itu, tetapi dari kata pengetahuan, kunci itu terhubung dengan sesuatu yang sangat dipahami para ahli Taurat: ajaran Alkitab. Faktanya, para ahli Taurat ini memiliki pengetahuan khusus tentang Alkitab. Karena pengetahuan ini adalah kunci, dan karena Alkitab adalah firman Allah, kunci pengetahuan membuka pintu untuk memasuki hubungan dengan Allah.
Kunci pengetahuan adalah mengasihi Allah dengan seluruh keberadaan seseorang. Itulah inti dan hakikat dari seluruh Hukum Taurat, sebagaimana yang diceritakan dalam kitab Ulangan dan Injil. Para ahli Taurat mengetahui hal ini dengan baik. Mereka tahu bahwa hukum Taurat sebenarnya bukan tentang memenuhi peraturan ini atau itu, tetapi tentang mengasihi Allah dengan seluruh keberadaan seseorang. Namun, apakah mereka mengasihi Allah sepenuhnya? Seperti yang kita lihat dalam kecaman Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi dalam Matius 23, mereka adalah pencinta diri sendiri, bukan pencinta Allah.
Sangatlah penting bagi kita untuk meninggalkan cinta diri—faktor pengendali yang dominan dalam hidup kita sejak hari kita dilahirkan—dan memasuki kehidupan yang dicirikan oleh cinta kepada Allah. Bagaimana lagi kita dapat merasakan dan melihat bahwa Tuhan itu baik?
Kita harus beralih dari kejahatan ke kebaikan. Lalu, apa itu kejahatan dan apa itu kebaikan? Kita sekarang melihat bahwa kejahatan, dalam ajaran Alkitab, adalah keegoisan yang merupakan bagian dari sifat kita. Kita sering membenarkan keegoisan kita dengan mengatakan bahwa itu perlu dalam kehidupan dan bahwa kita perlu bersikap realistis, berpijak di bumi dan tidak berkhayal. Namun, tidak peduli bagaimana kita membenarkannya, keegoisan pada akhirnya hanya mementingkan satu hal: diri sendiri.
Cara berpikir seperti ini telah mengendalikan kita sepanjang hidup kita. Secara naluriah, kita menempatkan diri dan kepentingan kita di atas kepentingan orang lain. Pikiran kita telah dilatih untuk berpikir: “Kepentingan saya lebih penting daripada kepentingan Anda. Dalam memilih antara Anda dan saya, saya selalu memilih diri saya sendiri. Tidaklah wajar bagi saya untuk memberikan diri karena hal itu akan menempatkan kepentingan saya di bawah kepentingan Allah dan umat-Nya.”
Seperti yang saya katakan, kita tidak dapat berpindah dari kejahatan ke dalam kebaikan dengan kekuatan kita sendiri karena itu bukan sifat kita. Kekristenan bukanlah sebuah “agama” dalam pengertian yang biasa. Setiap agama menyuruh Anda untuk berbuat baik, tetapi masalahnya adalah kita sering tidak tahu apa yang baik. Jurang pemisah antara kebaikan dan kejahatan begitu lebar sehingga Anda tidak dapat berpindah dari kejahatan ke kebaikan kecuali melalui transformasi radikal. Seluruh hidup Anda harus berubah total dari yang mementingkan diri sendiri menjadi yang berpusat pada Allah.
Dalam Alkitab, kejahatan tidak selalu berupa tindakan pembunuhan atau perzinahan. Akar kejahatan adalah cinta diri sendiri. Cinta diri mengekspresikan dirinya, misalnya, dalam cinta uang. Jika Anda tidak mencintai diri sendiri, Anda tidak akan mencintai uang. Anda mencintai uang karena uang dapat melakukan banyak hal untuk diri sendiri. Cinta diri adalah akar dari semua kejahatan, karena cinta diri menimbulkan semua dosa lainnya. Mengapa seseorang merampok? Dia tidak peduli jika korban kehilangan tabungannya selama “aku” mendapatkan uangnya. Mengapa seseorang memfitnah? Apa yang dia dapatkan darinya? Tidak ada apa-apa, kecuali dengan menghancurkan reputasi seseorang, dia mendapatkan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Perbuatan baik belum tentu baik
Ketika Alkitab berbicara tentang kebaikan dan kejahatan, dan ketika orang Farisi berbicara tentang kebaikan dan kejahatan, dan ketika agama-agama dunia berbicara tentang kebaikan dan kejahatan, maknanya tidak sama. Kita tidak boleh tertipu oleh kesamaan kata-kata.
Jika saya memberi uang kepada orang miskin, apakah itu tindakan yang baik? Ya, menurut sebagian besar agama. Namun menurut Alkitab, belum tentu demikian. Akan tetapi, bukankah membantu orang miskin selalu baik? Itu belum tentu baik karena mungkin dimotivasi oleh kesombongan, keegoisan, atau motif tersembunyi. Tindakan itu mungkin tampak baik, tetapi tidak demikian di mata Allah jika dimotivasi oleh cinta diri. Memperoleh perasaan baik dari suatu perbuatan moral tidak menjadikannya perbuatan baik. Alkitab memiliki definisi yang lebih dalam tentang kebaikan daripada yang dapat kita temukan di tempat lain.
Para ahli Taurat dan orang Farisi mengetahui Hukum Taurat. Seperti yang kita lihat dalam Ulangan 30, Hukum Taurat memaksa kita untuk memilih antara yang baik dan yang jahat, hidup dan mati, berkat dan kutuk. Para ahli Taurat dan orang Farisi mengetahui bahwa kunci kehidupan adalah memilih yang baik dan mengasihi Allah dengan seluruh keberadaan kita. Namun, apa yang dilakukan para ahli Taurat-teolog ini? Mereka mengabaikan kebenaran penting ini dan mengambil kuncinya, dengan mendefinisikan ulang kebaikan dan kejahatan dalam istilah menaati atau tidak menaati Hukum Taurat! Menurut definisi baru ini, menaati Hukum Taurat adalah baik, tidak menaati Hukum Taurat adalah jahat. Inilah hal yang sangat dikutuk Yesus.
Dengan definisi ini, ketika seseorang melakukan perbuatan baik, ia menjadi baik, karena kebaikan telah didefinisikan sebagai perbuatan-perbuatan baik. Hal ini telah menyebabkan banyak orang percaya bahwa Anda hanya perlu menaati Hukum Taurat untuk diselamatkan. Jika Taurat memberi tahu Anda untuk tidak bekerja pada hari Sabat, Anda tidak bekerja pada hari Sabat. Jika Taurat memberi tahu Anda untuk tidak makan daging babi, Anda tidak makan daging babi. Jika Anda tidak makan daging babi atau bekerja pada hari Sabat, Anda orang baik. Namun, Anda tidak perlu menjadi pemikir yang mendalam untuk melihat bahwa menahan diri dari makan daging babi tidak membuktikan bahwa seseorang itu baik. Kebaikan bukanlah jumlah total dari perbuatan baik.
Dalam Alkitab, kebaikan tidak didefinisikan oleh apa yang Anda lakukan, tetapi oleh siapa Anda. Itulah hakikat dari kunci pengetahuan! Siapa Anda bergantung pada apakah Anda mengasihi Allah dengan segenap hati Anda dan apakah Dia adalah pusat kehidupan Anda. Jika Anda baik, semua yang Anda lakukan akan baik. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (Mat 7:17-18; Luk 6:43-44). Ketika Anda memetik buah yang tampaknya baik dari pohon yang tidak baik, Anda mungkin menemukan ulat di dalamnya. Melakukan perbuatan baik tidak membuktikan bahwa Anda baik. Di mata Allah, perbuatan baik kita tidak baik kecuali jika berasal dari sifat yang baik.
Di sini kita melihat definisi yang saling bertentangan tentang kebaikan. Para ahli Taurat dan orang Farisi menyamakan kebaikan dengan perbuatan baik, dan mendefinisikan perbuatan baik dalam konteks melakukan Hukum Taurat. Yesus menolak ajaran ini karena ini berarti bahwa seseorang dapat melakukan perbuatan baik tanpa harus berkomitmen pada kebaikan atau kepada Allah yang merupakan sumber dan hakikat kebaikan.
Ketika saya masih non-Kristen, saya melakukan banyak perbuatan baik dan semua orang mengira saya orang baik. Jika seorang miskin diganggu, saya akan memukul si pengganggu. Saya merasa senang menyelamatkan yang lemah dan tertindas, tetapi perbuatan baik saya hanya memuaskan kesombongan dan ego saya. Saat itu, saya tidak tahu bahwa kebaikan bukanlah jumlah total dari perbuatan baik.
Kata-katanya mungkin sama, tetapi isinya berbeda. Ketika Anda berbicara kepada orang tentang menjadi seorang Kristen, mereka sering berkata, “Setiap agama menyuruh Anda berbuat baik.” Bahkan Iblis akan menyuruh Anda berbuat baik karena ia menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:14). Apakah malaikat terang, bahkan jika ia seorang penipu, akan menyuruh Anda berbuat jahat? Iblis akan menyuruh Anda berbuat baik karena hal itu akan membuat Anda merasa baik, atau merasa bahwa Anda bermoral dengan kekuatan Anda sendiri, dan ini dapat menuntun Anda pada kehancuran.
Pahami perbedaan pentingnya: Kebaikan, jika diajarkan dengan cara yang salah, dapat menghancurkan Anda dengan memuaskan kesombongan Anda. Beberapa orang yang paling sulit dijangkau dengan Injil adalah orang-orang bermoral yang merasa bahwa mereka baik dan tidak membutuhkan Injil. Agama adalah musuh kerohanian yang terburuk.
Sedangkan agama hanyalah moralitas, kerohanian berkaitan dengan hubungan dengan Allah. Apa yang kita promosikan bukanlah moralitas semata, melainkan hubungan dengan Allah yang baik dan mengubah kita dari yang jahat menjadi baik. Semua ini dicapai melalui pekerjaan Allah, itulah sebabnya keselamatan adalah oleh anugerah. Baptisan bukanlah tentang bergabung dengan suatu agama atau bahkan agama Kristen, tetapi menyatakan bahwa kita telah mati terhadap kehidupan yang mementingkan diri sendiri sehingga hanya Allah yang sekarang menjadi pusat kehidupan kita.
Kekuatan untuk “mengalahkan” kejahatan
Kita telah melihat motivasi komitmen, dan ini membawa kita kembali ke Roma 12:21:
“Jangan kamu dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
Karena teologi bisa abstrak, saya menggunakan bahasa kebaikan dan kejahatan untuk membuatnya mudah dipahami. Jika Anda memahami makna alkitabiah tentang kebaikan dan kejahatan—tema yang mencakup Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu—Anda akan memahami hal-hal yang mendalam dari Alkitab. Di Roma 12:21 kita melihat keterampilan Paulus dalam menyajikan kebenaran yang mendalam dalam bahasa yang sederhana.
Mari kita lihat kata “mengalahkan” di Roma 12:21 (“kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”). Jika kita memahami kata ini, kita akan memahami hal-hal yang mendalam tentang teologi. Saya menyinggung topik ini ketika saya menunjukkan bahwa Alkitab berbicara tentang dualisme antara yang baik dan yang jahat—antara Allah dan Satan—tetapi itu bukanlah dualisme yang mutlak. Itu karena Allah selalu memegang kendali.
Dalam menjalani kehidupan Kristen, penting bagi kita untuk mengetahui bahwa Allah selalu memegang kendali. Karena kuasa-Nya jauh lebih unggul daripada kuasa Iblis, kebaikan akan selalu mampu mengalahkan kejahatan. Saya menekankan kata “mampu” karena kebaikan belum tentu mengalahkan kejahatan dalam kehidupan nyata meskipun ia mampu. Itu karena Anda dan saya mungkin tidak bekerja di pihak kebaikan. Jika Anda bekerja sama dengan kejahatan, kejahatan akan menang atas kebaikan dalam hidup Anda.
Namun, Iblis tidak akan pernah menang atas Allah karena rencana Allah tidak akan pernah bisa dikalahkan. Alkitab berbicara tentang rencana keselamatan yang telah ditentukan sebelumnya oleh Allah, yang merupakan hakikat dari predestinasi. Predestinasi Alkitab berbeda dari predestinasi Kalvinis, tetapi saya tidak akan membahasnya saat ini. Predestinasi Alkitab dimungkinkan karena kebaikan selalu lebih kuat daripada kejahatan, karena Allah lebih kuat daripada si jahat. Iblis tidak akan pernah bisa menggagalkan rencana predestinasi Allah. Predestinasi adalah rencana Allah bagi dunia, bagi umat manusia, bagi Anda dan saya, dan tidak ada kuasa jahat yang dapat mengalahkannya.
“Nike” dan kehidupan
Kuasa Allah yang luar biasa terlihat dalam kata kecil “kalahkanlah”. Kata ini bukan kata kecil dalam bahasa Inggris (overcome), tetapi dalam bahasa Yunani: nikē hanya memiliki empat huruf. Saya ingin Anda fokus pada nikē, bukan karena saya memiliki saham di perusahaan olahraga Nike (saya tidak memilikinya), tetapi karena kata Yunani ini berarti kemenangan, kejayaan, dan mengatasi.
Kita dapat memahami nikē dari dua sudut pandang: Allah mengalahkan si jahat dengan kebaikan-Nya, dan kita mengalahkan kejahatan dengan kebaikan melalui kuasa Allah. Ini adalah dua sisi mata uang meskipun yang terakhir melibatkan kerja sama kita dengan Allah.
Keselamatan tercapai ketika Allah mengalahkan kejahatan dengan kebaikan-Nya. Dahulu kita berada di bawah kuasa si jahat, tetapi Allah telah membebaskan kita melalui kuasa-Nya dan membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam kehidupan dan kebaikan-Nya. Singkatnya, inilah keselamatan. Perjanjian Baru berbicara tentang kebaikan Allah dalam beberapa tingkatan. Paulus berkata:
Karena sama seperti ketidaktaatan satu orang, banyak orang menjadi pendosa, demikian juga karena ketaatan satu Orang, banyak orang dibuat menjadi benar. (Rm 5:19)
Ayat ini mungkin tampak sulit dipahami, tetapi intinya adalah: kebaikan adalah ketaatan sedangkan kejahatan adalah ketidaktaatan. Kebaikan tidak berasal dari tindakan baik, tetapi dari orang baik. Pada akhirnya, perbedaannya bukanlah antara tindakan ketaatan dan tindakan ketidaktaatan, tetapi antara orang baik dan orang jahat. Yesus adalah orang baik yang tindakan ketaatannya mengatasi tindakan ketidaktaatan orang jahat, yaitu Adam yang mementingkan diri sendiri dan ingin menjadi setara dengan Allah. Adam tidak melakukan dosa seperti mencuri atau membunuh, tetapi ia berdosa karena tidak menaati Allah karena keegoisan dirinya.
Kebaikan dalam Kristus mengalahkan kejahatan dalam diri Adam. Kebaikan jauh lebih kuat daripada kejahatan sehingga tidak ada keseimbangan antara kedua kekuatan tersebut. Roma 5 mengatakan bahwa kebaikan Allah jauh lebih kuat daripada kejahatan. Di seluruh pasal tersebut, frasa yang kuat “terlebih lagi” muncul beberapa kali, misalnya: “Terlebih lagi, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan melalui Dia dari murka Allah!” (Rm 5:9, TB2)
Tiga metafora untuk kemenangan
Alkitab memiliki beberapa metafora untuk kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Kebaikan Allah mengalahkan kejahatan Iblis pada beberapa tingkatan. Dalam semua metafora ini, nikē memunculkan aspek mengalahkan. Jika Anda mengalahkan musuh Anda di pengadilan, atau dalam kompetisi atletik, atau dalam pertempuran militer, Alkitab akan menggambarkannya sebagai nikē (mengalahkan), yang merupakan kata yang digunakan di Roma 12:21.
Contoh paling kuat dari nikē adalah kebangkitan, yang dengannya kehidupan mengalahkan kematian. Kematian dan kejahatan adalah dua sisi mata uang, seperti halnya kehidupan dan kebaikan. Ketika kita mengatakan bahwa kebaikan mengalahkan kejahatan, kita mengatakan bahwa kehidupan mengalahkan kematian. Itulah kebangkitan! Baptisan menandakan kehidupan yang mengalahkan kematian, dan kehidupan baru di dalam Kristus mengalahkan manusia lama. Paulus menggabungkan metafora ini dalam suratnya kepada jemaat di Kolose:
Walaupun dahulu kamu mati dalam pelanggaran-pelanggaranmu dan dalam kedaginganmu yang tidak bersunat, Allah membuatmu hidup bersama-sama dengan Dia sesudah Ia mengampuni semua pelanggaran kita. (Kol 2:13)
Ini adalah metafora, tetapi lebih dari sekadar metafora, karena Paulus berbicara tentang kehidupan yang mengalahkan kematian. Anda telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran Anda ketika Anda dikendalikan oleh daging, yang pada dasarnya mementingkan diri sendiri. Namun, kematian ini telah dikalahkan dalam Kristus melalui kuasa kebangkitan pada saat pembaptisan.
Metafora pertama adalah tentang kehidupan yang mengalahkan kematian. Metafora kedua terlihat di ayat berikutnya:
“Ia telah membatalkan surat utang dan aturan-aturan tuntutannya yang menghalangi hubungan antara Allah dan kita. Ia telah mengambilnya dengan memakukannya di atas kayu salib” (Kol. 2:14).
Ini adalah metafora hukum. Ketika Anda hidup dalam dosa, ada tuntutan hukum atas Anda, sama seperti kreditor yang meminjamkan uang kepada Anda memiliki tuntutan hukum atas utang Anda. Alkitab menggambarkan dosa sebagai utang; bandingkan “ampunkanlah kepada kami utang-utang kami” (Mat 6:12, ILT) dan “ampunkanlah kepada kami dosa-dosa kami” (Luk 11:4, ILT).
Di kayu salib, Yesus mengalahkan kejahatan, memutuskan ikatan yang membuat kita terjerat utang, dan membebaskan para tawanan. Utang yang membuat Anda terjerat dalam cengkeraman dan kuasa si jahat, telah diatasi oleh salib Yesus Kristus, yang menghapus utang itu melalui kebaikan dan belas kasihannya.
Dalam Perjanjian Lama, “penebusan” berasal dari kata Ibrani yang berarti menutupi. Dosa ketidaktaatan ditutupi oleh tindakan kebenaran, bukan dalam arti disembunyikan, tetapi dalam arti dibatalkan. Ketika kita mengatakan bahwa utang ditutupi oleh pembayaran, yang kita maksudkan adalah persis seperti itu. Yang kita maksudkan bukan bahwa utang itu tersembunyi dari pandangan.
Metafora ketiga terlihat di ayat berikutnya, Kolose 2:15:
“Ia melucuti para pemerintah dan penguasa, lalu menjadikan mereka tontonan yang memalukan oleh karena kemenangan-Nya di atas kayu salib.”
Ini adalah metafora perang karena kata “melucuti” berkaitan dengan senjata. Ini adalah nikē dalam konteks perang. Sementara metafora sebelumnya berkaitan dengan mengalahkan musuh di pengadilan (salib Kristus membatalkan utang kita dan memberi kita kemenangan hukum), kini Allah telah memenangkan perang melawan kejahatan dengan mengalahkan kekuatan-kekuatan musuh yang telah memperbudak kita.
Matius 12, Markus 3, dan Lukas 11 semuanya memiliki kisah menarik tentang seorang pria kuat, Satan, yang dikalahkan oleh seseorang yang bahkan lebih kuat. Di Lukas 11:22, “mengalahkan” (nikaō) adalah bentuk kata kerja dari nikē. Pekerjaan Allah dalam Kristus mengalahkan musuh yang paling tangguh, Satan, dan memberi kita kemenangan atas kuasa kejahatan.
Kebaikan Allah yang tak terduga
Memahami hal-hal ini secara intelektual adalah satu hal, tetapi mengalaminya adalah hal lain. Sudahkah Anda mengalami transisi dari kematian menuju kehidupan? Sudahkah ikatan hukum Anda diputus oleh kuasa Allah? Sudahkah Anda dibebaskan dari Iblis dengan membuat komitmen yang menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan Anda? Dalam semua ini, kita melihat komitmen Allah kepada kita dalam pembebasan-Nya terhadap kita. Kebaikan-Nya yang luar biasa kepada kita tidak pernah gagal membuat saya takjub:
Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia, bersama-sama dengan Dia, tidak memberikan dengan murah hati segala sesuatu bagi kita? (Rm 8:32)
Mengapa begitu sulit bagi kita untuk berkomitmen kepada Allah ketika Dia begitu baik kepada kita? Jika Allah tidak menyayangkan Anak-Nya yang tunggal, tetapi menyerahkannya bagi Anda dan saya, tidakkah Dia bersama-sama dengan Kristus akan “dengan murah hati” memberikan kita segala sesuatu? Akankah Allah menahan apa pun yang baik bagi Anda?
Jadi, jika kamu yang jahat tahu bagaimana memberi anak-anakmu pemberian-pemberian yang baik, terlebih lagi Bapamu yang di surga yang memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Mat 7:11)
Orang tua mengira mereka memberikan hal-hal baik kepada anak-anak mereka, padahal sebenarnya hal-hal itu dapat merusak mereka. Namun, Allah tidak membuat kesalahan seperti itu karena Dia tahu apa yang baik bagi kita. Kita tidak selalu tahu apa yang baik bagi orang lain, dan terkadang kita mengacaukan kehidupan orang lain dengan niat baik kita. Namun, apakah Allah akan menahan sesuatu yang benar-benar baik bagi kita? Jika Anda mengalami kesulitan untuk berkomitmen kepada Allah yang bersedia memberikan Anak-Nya demi Anda, Anda akan mengalami kesulitan untuk berkomitmen kepada siapa pun di dunia ini.
Paulus berbicara dengan keyakinan penuh kemenangan akan kasih Allah di dalam Kristus: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rm 8:35) Tidak seorang pun dapat memisahkan kita dari kasih Kristus dan komitmennya kepada kita kecuali kita sendiri. Namun, begitu banyak orang Kristen yang hidup dalam kemiskinan rohani. Allah menahan kekayaan rohani dari mereka yang menolak untuk berkomitmen, kalau tidak mereka tidak akan pernah sampai pada komitmen. Itu akan menjadi bencana terbesar dari semuanya, karena itu berarti Allah meneguhkan mereka dalam kehancuran mereka.
Lebih daripada para pemenang
Allah telah mengalahkan kejahatan dan Dia memanggil kita untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan-Nya (Rm 12:21). Semua kebaikan berasal dari Allah. Oleh karena itu, hanya melalui kebaikan-Nya kita dapat mengalahkan kejahatan. Roma 12:21 merangkum esensi dari kehidupan Kristen. Paulus adalah guru yang hebat, tetapi sebagian besar pembacanya tidak mengerti apa yang diajarkannya. Kehidupan Kristen adalah tentang kemenangan. Itu adalah kehidupan yang luar biasa, tetapi Anda tidak akan menduganya jika melihat kebanyakan orang Kristen saat ini, yang merangkak dengan tangan dan lutut.
Saya pernah melihat di televisi seorang pelari yang mencoba menyelesaikan maraton Olimpiade. Saya tidak tahu apakah Anda pernah melihat kejadian yang menyedihkan itu. Ketika Anda bertanding dalam maraton, Anda harus mengatur kecepatan sesuai stamina agar dapat mencapai garis akhir. Namun, pelari ini memaksakan diri terlalu keras pada awal, sehingga ia terhuyung-huyung pada putaran terakhir dan jatuh kurang dari 100 meter dari garis akhir. Ia bangkit berdiri dan terhuyung-huyung sejauh 3 atau 5 meter lagi sebelum jatuh lagi. Para penonton berteriak, “Anda hampir sampai!” Ia bangkit berdiri dan terhuyung-huyung maju mundur seperti orang mabuk, jatuh berulang kali. Tidak seorang pun dapat membantunya karena itu akan membuatnya didiskualifikasi. Para penonton hanya dapat menyaksikan pria malang ini dari tempat duduk mereka. Jutaan orang lainnya di seluruh dunia menyaksikan perjuangan yang memilukan ini. Pada akhirnya, ia tidak berhasil, tertinggal beberapa meter dari garis akhir. Dia bangkit sekali lagi dan pingsan. Dia tidak sanggup menyelesaikannya.
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang Kristen yang berjuang seperti itu. Hati saya terenyuh karena ini bukanlah kehidupan Kristen. Roma 8:37 mengatakan bahwa “kita lebih daripada para pemenang” atau “kita menaklukkan dengan luar biasa”. Memang baik untuk menaklukkan, tetapi Paulus berkata bahwa kita harus menaklukkan dengan luar biasa.
Beberapa waktu lalu, sebuah gereja di Hong Kong menawarkan sesuatu yang disebut “S.T.” Saya bertanya apa kepanjangannya dan diberi tahu bahwa itu adalah kepanjangan dari Survival Training (Pelatihan Bertahan Hidup). Saya bertanya mengapa disebut Survival Training dan mereka berkata, “Karena penting untuk bertahan hidup secara rohani.” Saya setuju bahwa bertahan hidup secara rohani itu penting, tetapi jika saya membaca Alkitab dengan benar, kehidupan Kristen bukanlah tentang bertahan hidup, tetapi tentang kemenangan yang luar biasa! Apakah karena kita kurang percaya diri untuk menang sehingga kita berbicara tentang bertahan hidup?
Jika Anda ingin mendapat nilai C dalam ujian, Anda mungkin akan mendapat nilai D. Mungkin lebih baik jika Anda membidik nilai A dan mendapat nilai B. Maksud saya adalah jika Anda hanya ingin bertahan hidup, Anda mungkin tidak akan bertahan hidup. Saya tidak ingin mengkritik istilah Pelatihan Bertahan Hidup. Saya mengakui bahwa bertahan hidup itu penting, tetapi kita harus melampaui itu, karena ketika kita berkomitmen kepada Allah yang menaklukkan segalanya, kita ingin meraih kemenangan, bukan sekadar bertahan hidup.
Kata nikē (kemenangan, menaklukkan) sering muncul dalam kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, dengan cara yang sangat kontras dengan pelari yang memulai maraton dengan baik, tetapi jatuh pada putaran terakhir dan paling kritis. Pada putaran terakhir, kebanyakan pelari melaju dengan sekuat tenaga. Memakai bahasa mengemudi mobil balap, orang beriman di kitab Wahyu menginjak pedal gas sampai ke lantai mobil.
Bukankah kehidupan orang Kristen seharusnya seperti itu? Saya khawatir banyak orang Kristen akan gagal pada putaran terakhir. Namun, bagaimana Alkitab menyimpulkannya? Dengan berlari sekuat tenaga di putaran terakhir! Dalam Perjanjian Baru, kata nikē paling sering muncul dalam kitab Wahyu. Dalam kitab terakhir Alkitab ini, bentuk kata kerja nikē (nikaō, menang, Rm 12:21) muncul 16 kali dalam teks Yunani kitab Wahyu, yang lebih banyak daripada seluruh sisa Perjanjian Baru digabungkan. Begitulah seharusnya kehidupan orang Kristen dijalani, dari kekuatan ke kekuatan, dari kemenangan ke kemenangan!
Allah telah memberi kita kekuatan bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berlari di putaran terakhir. Jalani kehidupan Kristen sedemikian rupa sehingga meskipun Anda sekarang melaju dengan kecepatan penuh, saat Anda mencapai putaran terakhir, Anda menyisakan yang terbaik untuk terakhir! Kehidupan Paulus penuh kemenangan sepanjang jalan. Apakah ia pernah berkata, “Saya sudah dekat dengan garis finis, jadi tolong tarik saya melewati beberapa meter terakhir.”? Kata-kata terakhirnya dalam Alkitab adalah:
Aku telah bertarung dalam pertarungan yang baik; aku telah mengakhiri pertandingan; aku telah memelihara iman. Sekarang, mahkota kebenaran telah disediakan bagiku. (2Tim 4:7-8)
Anda dapat melihat kegembiraan terpancar di wajah Paulus. Bisakah Anda menyelesaikan pertandingan seperti itu? Hanya dengan iman dan komitmen total Anda dapat menjalani kehidupan yang penuh kemenangan dan dinamis yang mengalahkan segalanya.
Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang.
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di
CPM Bookstore.