Pastor Eric Chang | Bab 8 |
Di pihak Allah atau melawan Allah?
Bila Anda dihadapkan dengan sebuah pilihan, tetapi tidak memilihnya, berarti Anda telah memilih. Jika pilihannya adalah antara yang baik dan yang jahat, dan Anda tidak memilih yang baik, berarti Anda telah memilih yang jahat. Tidak ada jalan tengah di antara keduanya, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam Alkitab. Yesus berkata, “Siapa pun yang tidak berada di pihak-Ku, ia melawan Aku” (Luk 11:23).
Di mana-mana dalam Perjanjian Lama dan Baru, pilihan selalu menghadang kita. Sejak awal, di Taman Eden, Adam dan Hawa harus memilih antara ketaatan dan ketidaktaatan. Israel juga terus-menerus dihadapkan dengan pilihan, bahkan antara kehidupan dan kematian:
Pada hari ini, aku membuat langit dan bumi menjadi saksi bahwa di hadapanmu, kuberikan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Jadi, pilihlah kehidupan supaya kamu hidup, baik kamu dan keturunanmu. (Ul 30:19)
Musa, sebagai juru bicara Allah, memberikan pilihan kepada Israel antara kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Kita biasanya tidak memilih kematian, tetapi jika kita tidak memilih kehidupan, kita telah memilih kematian. Tidak lama kemudian, Israel dipanggil lagi untuk membuat pilihan, kali ini antara Yahweh dan dewa-dewa palsu bangsa-bangsa, ketika Yosua berkata:
Akan tetapi, jika kamu menganggap bahwa tidak baik melayani Yahweh, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan melayani: ilah yang disembah nenek moyangmu di seberang Sungai Efrat, atau ilah orang Amori yang kamu diami negerinya. Akan tetapi, aku dan seisi rumahku akan melayani Yahweh. (Yos 24:15)
Kemudian seluruh Israel menyatakan keputusan mereka untuk melayani Yahweh, Allah mereka:
Pantang bagi kami untuk meninggalkan Yahweh, untuk melayani kepada ilah-ilah lain. Sebab, Yahweh, Allah kita, Dialah yang menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir … Yahwehlah yang mencerai-beraikan seluruh bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari hadapan kita. Kami pun akan melayani Yahweh karena Dialah Allah kita. (Yos 24:16-18)
Akan tetapi, Yosua tidak mempercayai mereka:
Kamu tidak sanggup melayani Yahweh, sebab Allah itu kudus. Ia Allah yang cemburu, yang tidak akan mengampuni pelanggaran dan dosamu. Jika kamu meninggalkan Yahweh dan melayani ilah-ilah lain, Ia akan berbalik dan mendatangkan malapetaka yang membinasakanmu sesudah melakukan yang baik kepadamu.” (Yos 24:19-20)
Bangsa itu berjanji untuk melayani Yahweh dan bukan kepada dewa-dewa asing, tetapi Yosua tahu bahwa mereka masih terikat pada dunia, dunia yang ditandai oleh dewa-dewa palsu di wilayah itu: dewa kesuburan, panen, dan kemakmuran.
Kita tidak perlu membaca Alkitab terlalu jauh untuk melihat bahwa komitmen mereka lemah. Pada masa 1 Raja-raja, Israel telah lama berpaling dari Allah Yahweh. Pasal 18 mencatat konfrontasi di Gunung Karmel antara nabi Elia dan 450 nabi Baal. Elia memberi tahu orang-orang Israel untuk memilih antara Yahweh atau Baal:
Elia mendekati seluruh rakyat itu, katanya, “Berapa lama lagi kalian berjalan pincang dengan dua pendapat? Jika Yahweh adalah Allah, pergilah, ikuti Dia, tetapi jika Baal, pergilah, ikuti dia.” Namun, rakyat tidak menjawabnya sepatah kata pun. (1Raj 18:21)
Dengan berdiam diri, orang-orang itu telah menolak Allah. Pengakuan mereka sebelumnya tentang komitmen kepada Allah ternyata tidak menjadi komitmen, jadi Elia berkata bahwa mereka mendua hati, bimbang di antara dua pendapat. Sisa ceritanya sudah diketahui, dengan Elia memanggil api dari surga untuk membakar korban di Gunung Karmel.
Berabad-abad sebelumnya, pada zaman Ulangan, orang Israel diperintahkan untuk memilih kehidupan, tetapi mereka akhirnya bimbang antara dua pendapat dan berakhir dengan kematian, bahkan kematian bangsa itu sendiri. Berabad-abad kemudian, kerajaan utara dihancurkan pada tahun 721 SM, dan kerajaan selatan pada tahun 587 SM. Firman Allah bukanlah ucapan kosong. Ketika Dia menyuruh kita untuk memilih kehidupan atau kematian, kebaikan atau kejahatan, kita harus menerima firman-Nya dengan serius.
Kebaikan membutuhkan lebih dari sekedar niat yang benar
Seseorang dapat menjadi bermoral tanpa menjadi rohani, tetapi seseorang tidak dapat menjadi rohani tanpa menjadi bermoral. Artinya, seseorang dapat menjadi apa yang disebut orang “baik” di masyarakat tanpa menjadi rohani, tetapi seseorang tidak dapat menjadi rohani dalam pengertian Alkitab yang sebenarnya tanpa menjadi orang baik. Hal ini sejajar dengan apa yang telah kita katakan sebelumnya, bahwa Anda dapat menjadi miskin tanpa menjadi rohani, tetapi Anda tidak dapat menjadi rohani tanpa menjadi miskin. Yang kami maksud dengan “miskin” adalah sikap yang tidak menganggap harta milik kita sebagai milik kita sendiri, tetapi sebagai milik Allah.
Meskipun Anda tidak berkomitmen pada kebaikan, Anda masih dapat memilih kebaikan secara mental dengan pikiran Anda dan menyatakannya secara lisan dengan mulut Anda, seperti halnya orang Israel ketika mereka berdiri di hadapan Yosua. Mereka secara terbuka menyatakan keputusan mereka untuk Allah, tetapi Yosua tahu itu hanya pilihan mental, karena dalam semua hal yang telah mereka lakukan, mereka menunjukkan keterikatan yang kuat kepada Mesir, yang merupakan simbol dunia. Di padang gurun, mereka selalu mendambakan hal-hal yang telah mereka tinggalkan di Mesir. Mereka memang telah meninggalkan hal-hal ini secara harfiah dan fisik, tetapi hati mereka tidak meninggalkannya. Yosua tahu bahwa mereka belum terbebas dari cengkeraman dunia, atau beralih dari kejahatan kepada kebaikan, meskipun mereka secara terbuka menyatakan pilihan mereka kepada kebaikan.
Komitmen membutuhkan lebih dari sekadar niat yang benar. Niat saja tidak akan membawa Anda dari kejahatan menuju kebaikan. Jika Anda dapat melakukannya dengan kekuatan Anda sendiri, itu berarti Anda dapat menyelamatkan diri sendiri dengan tekad yang kuat. Dengan tekad yang cukup, Anda dapat berhenti melakukan sesuatu seperti merokok, tetapi tidak ada usaha manusia yang dapat membebaskan Anda dari kuasa kejahatan. Dengan kekuatan Anda sendiri, mustahil bagi Anda untuk menjadi seorang Kristen dalam pengertian Alkitabiah, karena itu adalah pekerjaan yang dilakukan Allah di dalam diri Anda. Banyak orang menyadari bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan mereka dari kejahatan, tetapi mereka tidak menyerahkan hidup mereka kepada-Nya. Jika kita memang mampu membebaskan diri dari kejahatan dengan kekuatan kita sendiri, kita akan mampu menyelamatkan diri kita sendiri dan menjadi tuan atas hidup kita sendiri. Namun, karena kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, kita bukanlah tuan atas diri kita sendiri.
Konsep yang salah tentang Allah sebagai pembunuh kesenangan
Kita takut jika Allah menjadi Tuan dalam hidup kita, Dia akan menyuruh kita melakukan apa yang tidak kita inginkan. Kita merasa bahwa harga untuk berpindah dari kematian menuju kehidupan, dari kejahatan menuju kebaikan, terlalu tinggi karena hal itu melibatkan penyerahan kendali atas hidup kita sendiri.
Saya pernah berbicara dengan seorang wanita yang patah hati setelah pacarnya mengakhiri hubungan mereka. Dia merasa masih bisa melakukan sesuatu untuk memenangkannya kembali, tetapi sebenarnya dia menipu dirinya sendiri. Hidup dalam delusi memang menyedihkan, tetapi setidaknya itu membuat Anda merasa masih memiliki kendali atas situasi tersebut.
Dia tidak mau percaya kepada Allah untuk masa depan dalam hal ini. Ketika saya bertanya mengapa, dia berkata, “Bagaimana jika Allah ingin saya melajang?” Pikiran untuk tetap melajang cukup membuatnya takut. Saya tidak mengerti mengapa dia berpikir bahwa Allah menghendaki dia tetap melajang. Kita sering berpikir bahwa Allah menginginkan yang terburuk bagi kita, dan bahwa jika kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya, Dia akan mengirim kita ke Alaska atau Sahara.
Kita memiliki konsep yang aneh tentang Allah, berpikir bahwa Dia senang memberi kita yang terburuk. Mengapa kita berpikir tentang Allah seperti ini? Saya telah berbicara dengan banyak orang yang takut menyerahkan hidup mereka kepada Allah karena takut Dia akan berkata, “Gadis yang sangat kamu sukai itu? Maaf, dia bukan untukmu.”
Bagi banyak orang Kristen, Allah adalah pribadi yang suka merusak kesenangan orang lain, yang mengambil semua yang Anda sukai dan memberikan apa yang tidak Anda inginkan. Dia mengambil semua uang kita dan menjadikan kita pengemis (karena orang miskin diberkati). Berkomitmen kepada Allah itu berisiko, karena Anda akan kehilangan pacar, uang, dan semua yang Anda miliki, lalu mendapatkan sesuatu yang disebut kehidupan kekal yang tidak dapat Anda lihat atau sentuh. Allah memaksa Anda untuk menyerahkan semua yang Anda pegang di tangan Anda demi sesuatu yang tidak Anda lihat. Namun, apakah Allah benar-benar seperti itu?
Saya telah menasihati banyak orang yang takut akan apa yang mungkin Allah lakukan jika mereka berkomitmen kepada-Nya. Menurut pandangan mereka, ketika Anda berdoa kepada Allah, Dia mungkin menyuruh Anda bangun dan pergi ke Sahara. Ada konsep umum tentang Allah sebagai Allah yang tidak ada pekerjaan di surga kecuali membuat hidup Anda sulit di bumi, merampas hal-hal baik dari Anda. Jika Anda berpikir bahwa Allah senang merampas istri atau suami Anda, atau bahwa Dia ingin Anda berpakaian compang-camping, apakah Anda benar-benar mengenal Allah?
Perwujudan kebaikan dan kejahatan
Seperti orang Israel, Anda mungkin telah membuat komitmen hanya dengan pikiran Anda, tetapi Anda tidak dapat melayani Allah karena nilai-nilai (sense of values) Anda telah terdistorsi. Jika Allah membawa Anda keluar dari Mesir, Anda akan mengeluh di padang gurun, “Mengapa Allah membawa kita keluar dari Mesir, dan apa yang kita lakukan di padang gurun? Di Mesir kita memiliki bawang putih, bawang merah dan daun bawang, tetapi sekarang kita memiliki makanan yang disebut manna. Allah berjanji untuk memberi kita tanah air, tetapi menyerahkannya kepada kita untuk menaklukkannya dengan darah, keringat, dan air mata kita. Bagaimana ini bisa menjadi hadiah cuma-cuma? Kita tidak datang ke sini untuk mati.” Kemudian persepsi rohani Anda menjadi terdistorsi, menyebut kejahatan sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kejahatan (Yes 5:20).
Kebaikan dan kejahatan tidak eksis sebagai entitas yang terisolasi, tetapi merupakan kualitas yang ada dalam diri manusia. Yang ada ialah orang yang baik dan orang yang jahat, bukan entitas terisolasi yang disebut baik atau jahat. Tidak ada tempat yang disebut tempat yang baik atau tempat yang buruk dalam pengertian moral. Ketika kita mengatakan bahwa suatu tempat itu baik, yang kita maksud adalah tempat itu bagus dan nyaman. Suatu tempat disebut baik atau buruk secara moral hanya jika orang baik atau jahat menggunakan pengaruhnya terhadap tempat itu.
Kebaikan dan kejahatan eksis dalam diri manusia, tetapi kita bukanlah perwujudan tertinggi dari kebaikan dan kejahatan karena kita bukan makhluk rohani tingkat tertinggi. Dalam penciptaan, kita adalah makhluk fisik tertinggi, tetapi bukan makhluk rohani tertinggi. Ibrani 2:7, mengutip Mazmur 8:6, mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia sedikit lebih rendah daripada para malaikat. Pada zaman sekarang, para malaikat merupakan makhluk rohani yang lebih tinggi daripada kita manusia. Bahkan di antara para malaikat, ada tingkatan yang berbeda.
Namun, kita tidak akan selamanya lebih rendah daripada malaikat, karena rencana Allah adalah mengangkat mereka yang telah memilih yang baik untuk menjadi lebih tinggi daripada para malaikat, bahkan sampai menghakimi mereka (1Kor 6:3). Itu karena pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah akan lengkap pada saat itu (Rm 8:23).
Allah, perwujudan kebaikan yang tertinggi
Perwujudan tertinggi dari kebaikan atau kejahatan ditemukan dalam makhluk rohani yang lebih tinggi daripada malaikat. Perwujudan tertinggi dari kebaikan tentu saja adalah Allah sendiri. Yesus berkata kepada penguasa muda yang kaya itu, “Mengapa kamu bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya ada Satu yang baik.” (Mat 19:17) Di sini Yesus menyiratkan bahwa hanya Allah yang baik, tetapi artinya dijelaskan secara eksplisit di ayat paralel, Lukas 18:19: “Mengapa kamu menyebut Aku baik? Tidak ada seorang pun yang baik kecuali Allah sendiri.” Yesus mengatakan bahwa hanya satu pribadi di alam semesta, Allah sendiri, yang dapat disebut baik dengan tepat. Sesungguhnya, Allah Bapa kita adalah sumber dari semua hal yang baik:
Setiap pemberian yang baik dan setiap pemberian yang sempurna datang dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang, pada-Nya tidak ada perubahan atau pertukaran bayangan. (Yak 1:17)
Allah adalah Bapa segala terang. Kitab Kejadian dan kitab Mazmur berbicara tentang terang yang lebih besar dan terang yang lebih kecil, yaitu benda-benda langit: matahari, bulan, bintang-bintang. Allah adalah Bapa segala terang karena Dia adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk bumi, yang merupakan satu di antara banyak planet. Dari planet lain, bumi tampak seperti bintang di langit, terang yang lebih kecil tetapi tetap terang.
Sebagaimana Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan sumber kehidupan fisik dan berkat, demikian pula Dia adalah sumber segala hal baik di alam rohani. Dia adalah Pencipta kehidupan fisik dan Pemberi kehidupan rohani, dengan alam materi merupakan paralel dari alam rohani. Tidak ada berkat fisik yang tidak datang dari Allah: bunga-bunga yang indah, sinar matahari yang memberi kehidupan, dan makanan yang kita nikmati setiap hari. Sebagaimana Allah memberi kita berkat fisik, Dia memberi kita berkat rohani.
Tidak ada “perubahan atau pertukaran bayangan” dalam Allah yang merupakan sumber segala kebaikan. Allah tidak pernah berubah. Cahaya surgawi seperti matahari dan bulan pada akhirnya akan memudar, tetapi kebaikan, kemurahan, dan kesetiaan Allah tetap ada selamanya. Manusia berubah, tetapi Allah tidak pernah berubah. Orang lain mungkin bersikap baik kepada Anda hari ini dan membenci Anda besok.
Dalam berkomitmen kepada Allah Bapa kita, kita perlu melihat kebaikan-Nya dan karakter-Nya yang tidak berubah sebelum kita dapat menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya. Aneh bahwa umat manusia, yang tidak konsisten dan berubah-ubah, tidak percaya kepada Allah yang konsisten dan tidak goyah. Orang jahat menafsirkan karakternya sendiri ke dalam pemahamannya tentang sifat Allah. Sama seperti seorang penjahat yang curiga kepada semua orang, demikian pula orang berdosa menafsirkan karakternya sendiri ke dalam Allah.
Kebaikan dan kejahatan, kehidupan dan kematian
Dalam Kitab Suci, kebaikan dan kehidupan merupakan dua sisi dari sebuah koin, dan hal yang sama dapat dikatakan tentang kejahatan dan kematian. Di mana ada kebaikan, di situ ada kehidupan. Di mana ada kejahatan, di situ ada kematian. Dalam berbicara tentang kebaikan dan kejahatan, kita berbicara tentang kehidupan dan kematian. Kita tidak membahas kebaikan dan kejahatan hanya dalam konteks moral, tetapi dalam konteks kehidupan dan kematian. Sama seperti Allah adalah perwujudan tertinggi dari semua kebaikan dan karenanya dari semua kehidupan, Satan adalah perwujudan tertinggi dari semua kejahatan, sedemikian rupa sehingga Alkitab hanya menyebutnya sebagai “si jahat” (1Yoh 5:19).
Oleh karena Allah adalah sumber segala kebaikan dan pada saat yang sama adalah makhluk rohani, kebaikan dan kerohanian tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, karena kejahatan diwujudkan dalam Satan si jahat, kita sekarang melihat dimensi rohani dari kejahatan. Kejahatan bukan hanya masalah moralitas, tetapi juga kerohanian. Itulah sebabnya Doa Bapa Kami mengatakan “lepaskanlah kami dari yang jahat” (Mat 6:13) atau “lepaskanlah kami dari kuasa si Jahat” (BIS).
Setiap keputusan untuk berbuat jahat dan setiap dosa yang dilakukan, disadari atau tidak, merupakan keputusan untuk si jahat dan kemajuan kepentingannya. Setiap dosa yang kita lakukan memajukan kerajaan si jahat.
Namun, tidak semua tindakan baik memajukan Kerajaan Allah. Persamaannya tidak seimbang. Anda bisa menjadi bermoral tanpa menjadi rohani, tetapi Anda tidak bisa menjadi rohani tanpa menjadi bermoral. Tindakan moral belum tentu merupakan tindakan rohani, tetapi tindakan rohani selalu merupakan tindakan moral. Contohnya dapat dilihat dari 1 Korintus 13:3: “Jika aku memberikan semua hartaku untuk memberi makan kepada orang miskin, dan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada gunanya bagiku.”
Akan tetapi, jika saya menunjukkan kasih yang tulus kepada seseorang, kasih itu akan dinyatakan dalam bentuk nyata yang disebut “kebaikan”. Jika saya memberi kepada orang miskin karena kasih yang tulus, itu karena saya telah menjadi rohani melalui anugerah Allah. Namun, jika saya memberi kepada orang miskin karena alasan lain, bahkan untuk memperoleh kepuasan moral, itu tidak akan memajukan kerajaan Allah.
Kehidupan dan kematian sebagai kekuatan
Sedangkan kebaikan berasal dari Allah, kejahatan berwujud dalam Satan, si jahat. Sesuai dengan itu, kehidupan berasal dari Allah karena kehidupan tidak dapat dipisahkan dari kebaikan. Namun, kematian berasal dari Satan—meskipun tidak hanya dari dia—karena ia memiliki “kuasa atas kematian” (Ibr 2:14). Jika Anda memilih Allah, Anda telah memilih kehidupan. Namun, jika Anda tidak memilih Allah, Anda telah memilih kematian.
Diselamatkan berarti berpindah dari kematian menuju kehidupan. Ini membutuhkan kuasa penciptaan dan kuasa kebangkitan yang dengannya Allah menciptakan kehidupan dari kematian. Menjadi seorang Kristen dalam pengertian Alkitabiah bukan hanya soal dibaptis atau pergi ke gereja, tetapi berpindah dari kematian menuju kehidupan melalui kuasa Allah yang memberi hidup, kuasa kebangkitan.
Kita cenderung menganggap kehidupan dan kematian sebagai keadaan pasif, tetapi sebenarnya keduanya sebaiknya dipahami sebagai kekuatan. Lebih mudah bagi kita untuk melihat kehidupan sebagai kekuatan karena makhluk hidup bersifat dinamis dan mampu berpikir serta berkomunikasi—saya mengatakan sesuatu kepada Anda, Anda mengatakan sesuatu kembali.
Namun, kematian juga merupakan kekuatan sejauh Anda dapat menjatuhkan kematian pada seseorang. Apa pun yang menghancurkan kehidupan adalah kekuatan. Jika Anda menembakkan senjata, peluru akan keluar dengan kekuatan yang mematikan. Dalam suntikan mematikan, racun yang disuntikkan ke dalam diri Anda melambangkan kekuatan kematian yang bekerja di dalam diri Anda.
Kehidupan dan kematian adalah kekuatan yang aktif, bukan keadaan pasif. Ketika kita mengatakan bahwa Allah adalah sumber kehidupan, kita tidak bermaksud bahwa Ia adalah wadah yang menampung kehidupan, tetapi bahwa Ia memiliki kekuatan untuk membuat kita hidup. Ketika kita mengatakan bahwa Satan memegang kuasa atas kematian, kita tidak bermaksud bahwa ia adalah wadah yang menampung kematian, tetapi bahwa ia dapat mendatangkan kematian kepada orang lain: “supaya melalui kematian-Nya, Ia dapat membinasakan dia yang memiliki kuasa atas kematian, yaitu Iblis” (Ibr 2:14). Iblis memegang kuasa atas kematian sejauh ia dapat mendatangkan kematian kepada mereka yang berada di bawah kuasanya. Kita tidak dapat beralih dari kejahatan kepada kebaikan dengan kekuatan kita sendiri karena kita tidak berhadapan dengan sebuah keadaan keberadaan, tetapi dengan kekuatan yang terlalu kuat bagi kita. Dibutuhkan kekuatan untuk menghadapi kekuatan.
Alkitab tidak mengajarkan dualisme absolut. Yang kami maksud dengan dualisme adalah keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan di dunia. Beberapa agama percaya bahwa dua kekuatan itu, kebaikan dan kejahatan, sedang berperang secara epik, tetapi dalam keadaan seimbang. Dualisme absolut menempatkan kebaikan dan kejahatan dalam keseimbangan yang sama, sedangkan dualisme relatif memberikan lebih banyak kekuatan kepada kebaikan.
Namun, tidak demikian halnya dalam Alkitab. Roma 12:21 memberi tahu kita untuk “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan,” karena kebaikan jauh lebih kuat daripada kejahatan. Fakta penting ini dapat dibuktikan tidak hanya dari Alkitab, tetapi juga dari pengalaman orang Kristen. Namun, dalam pengalaman banyak orang, kejahatan lebih kuat daripada kebaikan. Paulus menggambarkan suatu masa dalam hidupnya ketika ia tidak dapat melakukan kebaikan yang diinginkannya, tetapi melakukan kejahatan yang dibencinya (Rm 7:15). Dalam keadaannya sebelumnya, kejahatan lebih kuat daripada kebaikan, dan ia kalah dalam pertempuran melawan kejahatan. Dalam pengalaman Anda sendiri, apakah kebaikan lebih kuat daripada kejahatan, atau apakah Anda kalah dalam pertempuran melawan kejahatan? Melalui komitmen kepada Allah, yang merupakan sumber segala kebaikan, kebaikan akan selalu menang dalam hidup Anda.
Konsep yang benar tentang kebaikan dan kejahatan sangat penting untuk memahami Perjanjian Baru. Itulah yang menjadi perhatian utama kitab Roma. Jika Anda mencari konkordansi di bawah kata baik dan jahat, Anda akan melihat pentingnya kedua kata ini dalam Alkitab, khususnya kitab Roma, sebuah kitab yang membahas tentang iman, keselamatan, dan komitmen.
Mempercayai Allah
Apakah Anda ingin dibebaskan dari kuasa kejahatan dan hidup di bawah kuasa kebaikan? Atau apakah Anda takut hidup di bawah kuasa Allah? Apakah Anda telah jatuh pada kebohongan Iblis bahwa Allah itu tidak baik, tetapi keras? Itu adalah kebohongan yang aneh untuk dipercayai ketika Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Allah. Jika Anda percaya bahwa Allah itu baik, mengapa Anda ragu untuk berkomitmen sepenuhnya kepada-Nya? Mungkin Anda tidak benar-benar percaya bahwa Allah itu baik. Cara terbaik bagi Anda untuk mengetahui bahwa setiap hal yang baik berasal dari Allah adalah dengan mengalami kebenaran ini. Pemazmur berkata, “Rasakanlah dan lihatlah bahwa Yahweh itu baik!” (Mzm 34:9).
Saya tidak mengerti mengapa orang ragu untuk berkomitmen kepada Allah, tetapi bersedia berkomitmen kepada seseorang dalam pernikahan. Dalam pernikahan, Anda mungkin memberikan kepada pasangan Anda semua yang Anda miliki dan seluruh hidup Anda. Jika Anda cukup berani untuk mempercayakan hidup Anda kepada manusia, di manakah keberanian Anda untuk percaya kepada Allah yang tidak pernah berubah dan merupakan sumber segala kebaikan? Pernahkah seseorang memberikan anak tunggalnya demi Anda? Pernahkah pasangan Anda melakukan sesuatu untuk Anda pada tingkat itu? Dia mungkin mengatakan “Aku mencintaimu” dan kata-kata penuh kasih lainnya, tetapi manusia dapat berubah. Kebohongan Satan sepertinya cukup berhasil karena Anda tidak benar-benar percaya bahwa Allah itu baik—setidaknya tidak sebaik pasangan atau teman Anda.
Anda cukup percaya kepada dokter untuk membayarnya sejumlah besar uang untuk menusukkan pisau bedah ke dalam tubuh Anda. Mungkin satu-satunya kesalahan Allah adalah tidak mengirimkan tagihan yang besar kepada kita! Paulus memberi tahu jemaat Korintus bahwa ia tidak menjalankan haknya untuk menerima uang dari mereka, tetapi sebaliknya memberikan dirinya kepada mereka tanpa bayaran. Apakah karena kebaikan Allah begitu murah hati sehingga kita menganggapnya biasa saja? Apakah Allah perlu mengirimkan tagihan yang besar kepada kita sebelum kita melihat bahwa Dia baik? Manusia cenderung berpikir bahwa sesuatu itu baik hanya jika kita harus membayar mahal untuk itu. Mengapa kita merasa sulit untuk berkomitmen kepada Allah ketika Dia telah begitu murah hati kepada kita? Apakah kita menganggap remeh Dia dan karunia-Nya? Kita mempercayakan hidup kita kepada dokter manusia meskipun mereka membuat kesalahan, terkadang kesalahan fatal. Allah tidak pernah membuat kesalahan, jadi mengapa kita tidak percaya kepada-Nya sepenuhnya?
Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang.
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di
CPM Bookstore.