Pastor Eric Chang | Bab 7 |
Janganlah berpasangan dengan orang yang tidak percaya
Jalan menuju kehidupan adalah jalan yang keras dan pintu gerbangnya sempit. Itulah sebabnya beberapa orang Kristen melakukan hal-hal yang merupakan kompromi antara kehidupan Kristen dan kehidupan dunia. Namun, kompromi pada akhirnya adalah penipuan diri sendiri, dan sudah menjadi masalah di gereja-gereja yang dibangun Paulus. Oleh karena kompromi memiliki konsekuensi rohani yang serius, Paulus memberi kita nasihat tentang cara menghadapi orang-orang yang tidak percaya:
Jangan menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab, persamaan apakah yang ada antara kebenaran dan kejahatan? Atau, persamaan apakah yang terdapat antara terang dengan gelap? Kesepakatan apakah yang dimiliki Kristus dengan Belial? Atau, bagian apakah yang ada antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya? Dan, kesepakatan apakah yang ada antara Bait Allah dengan berhala-berhala? Sebab, kita adalah Bait Allah yang hidup, seperti firman Allah, “Aku akan tinggal di dalam mereka dan berjalan di antara mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Karena itu, keluarlah kamu dari tengah-tengah mereka, dan berpisahlah” kata Tuhan. “Dan, janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan, Aku akan menjadi Bapa bagimu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan,” demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa. (2Kor 6:14-18)
Istilah “menjadi pasangan yang tidak seimbang” dapat dipahami dalam berbagai cara. Nas ini sering dianggap sebagai rujukan pada pernikahan, dalam hal ini Paulus sedang memberi tahu orang Kristen untuk tidak menikahi orang non-Kristen. Namun secara umum, hal ini merujuk pada segala jenis hubungan yang mengikat antara orang percaya dan orang yang tidak percaya, baik itu kemitraan bisnis atau perjanjian hukum, yang salah satu contohnya adalah pernikahan. Paulus mengatakan bahwa tidak ada titik temu antara orang percaya dan orang yang tidak percaya, tetapi banyak orang Kristen melihat banyak titik temu.
Apa artinya “menjadi pasangan”? Apakah itu berarti menjalin kontrak hukum? Atau persahabatan? Dapatkah kita mengatakan bahwa pernikahan adalah hubungan yang mengikat, tetapi persahabatan tidak? Beberapa orang Kristen telah hancur karena persahabatan mereka dengan orang non-Kristen, jadi apakah itu berarti kita tidak boleh bersahabat dengan orang non-Kristen? Kita dapat mempersempit pertanyaan dan bertanya pada titik manakah persahabatan berhenti menjadi persahabatan biasa dan menjadi ikatan. Apakah kita menganggap rekan kerja kita sebagai rekan kerja belaka dan bukan sebagai sahabat? Sebenarnya Yakobus mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah ikatan perzinahan:
Hai, kamu para pezina, tidak tahukah kamu bahwa persahabatan dengan dunia berarti permusuhan dengan Allah? Karena itu, siapa pun yang ingin bersahabat dengan dunia, ia menjadikan dirinya musuh Allah. (Yak 4:4)
Jika kita bersahabat dengan dunia, kita menjadi musuh Allah menurut Yakobus yang tampaknya tidak menawarkan jalan tengah untuk bersahabat dengan keduanya. Apakah kita harus menjauhkan diri dari orang-orang non-Kristen? Hanya sedikit orang yang benar-benar berpikir demikian, tetapi bukankah itu akan menjadi masalah dengan Yakobus 4:4, yang mengatakan bahwa dengan demikian kita sekarang menjadi musuh Allah?
Yesus, sahabat orang berdosa
Namun, Yesus adalah sahabat para pemungut cukai dan “orang berdosa” (Mat 11:19; Luk 7:34). Kata “orang berdosa” sering kali merujuk kepada orang-orang seperti pelacur. Para pemungut cukai dan pelacur merupakan orang-orang buangan masyarakat Yahudi. Yesus dituduh sebagai sahabat orang-orang ini yang dipandang oleh masyarakat sebagai orang-orang yang tidak bermoral.
Hal itu menimbulkan dilema. Mengapa kita boleh bersahabat dengan orang berdosa, tetapi tidak dengan dunia? Yakobus 4:4 dengan jelas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan terhadap Allah, tetapi Yesus adalah sahabat orang berdosa. Apakah ada perbedaan antara persahabatan dengan orang berdosa dan persahabatan dengan dunia?
Perbedaan utamanya, tentu saja, terletak pada motif seseorang. Bersahabat dengan dunia dalam pengertian Yakobus 4:4 berarti mendapatkan dunia untuk keuntungan sendiri. Motifnya sepenuhnya egois karena mengejar kekayaan, kedudukan, dan kemuliaan di dunia bahkan dengan mengorbankan jiwa sendiri. Namun, ketika Yesus bersahabat dengan orang berdosa, motifnya adalah untuk membawa keselamatan bagi pemungut cukai dan orang berdosa—dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Itulah perbedaan utama antara kedua jenis persahabatan tersebut.
Kita harus bersahabat dengan orang-orang di dunia dengan tujuan menunjukkan kasih Allah kepada mereka sehingga mereka dapat diselamatkan. Kita menunjukkan kasih dan persahabatan kepada orang-orang non-Kristen meskipun mereka bukan anggota keluarga kita, sebagaimana kita mengasihi anggota keluarga kita meskipun mereka bukan orang Kristen. Kita memberikan diri kita dan hati kita kepada mereka untuk memenangkan mereka bagi Allah dan bukan bagi diri kita sendiri, sehingga mereka dapat terbebas dari dosa dan memperoleh hidup kekal. Di sekolah atau tempat kerja, persahabatan kita dengan teman sekelas dan rekan kerja kita seharusnya dimotivasi oleh kasih yang rela berkorban yang menyalurkan kasih keselamatan Allah kepada mereka.
Dalam semua ini, tidak boleh ada keegoisan yang tersembunyi. Hubungan antara laki-laki dan perempuan itu rumit karena sering kali melibatkan motif yang saling bertentangan. Anda ingin memenangkan seseorang bagi Allah, tetapi Anda juga ingin memenangkannya bagi diri Anda sendiri. Anda bahkan mungkin mencoba memenangkan orang itu bagi Allah agar Anda dapat memilikinya bagi diri Anda sendiri.
Bila ada motif yang saling bertentangan, biasanya motif yang akan mendominasi adalah motif yang egois. Sebaiknya carilah seseorang yang tidak punya motif tersembunyi untuk menolongnya, atau yang mungkin terjadi adalah orang yang Anda coba tolong itu mungkin menjadi orang Kristen hanya untuk menyenangkan Anda. Anda akan sangat merugikan orang itu jika Anda mendorongnya menjadi orang Kristen tanpa berkomitmen kepada Allah. Kita tidak akan menjadi orang Kristen sejati kecuali dengan berkomitmen kepada Allah sebagai tanggapan atas komitmen-Nya kepada kita. Kita mengasihi Allah karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita.
Kasih menuntut komitmen yang memberi diri tanpa motif egois. Namun, jika ada persahabatan duniawi dan rohani, keduanya akan saling meniadakan, atau akan saling bertentangan hingga salah satu dari keduanya—biasanya yang duniawi—mendominasi.
Mengapa kita berkomitmen kepada Allah?
Sejauh ini kita telah melihat komitmen Allah kepada kita. Namun dalam Khotbah di Bukit, kita juga melihat komitmen Yesus kepada kita. Itu adalah ungkapan kasih persaudaraannya kepada kita, karena Yesus adalah saudara kita (Mat 28:10; Rm 8:29; Ibr 2:11). Ia dilahirkan dari Allah sama seperti kita dilahirkan dari Allah (1Yoh 5:18), dan ia peduli bahkan kepada saudara-saudaranya yang paling hina (Mat 25:40). Sekarang mari kita pertimbangkan apa yang Yesus katakan di Matius 5:38-41:
Kamu telah mendengar apa yang telah dikatakan, ‘Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.’ Namun, aku mengatakan kepadamu jangan melawan yang jahat, melainkan siapa yang menamparmu pada pipi kanan, sodorkan kepadanya pipimu yang lain juga. Dan, jika seseorang hendak menuntutmu dan mengambil bajumu, berikan juga jubahmu kepadanya. Dan, siapa yang memaksamu berjalan 1 mil, berjalanlah bersamanya sejauh 2 mil. (Mat 5:38-41)
Banyak orang merasa pernyataan ini sulit. Untuk memahami apa artinya bagi kita, ada baiknya kita mengingat bahwa pernyataan ini digenapi dengan sempurna dalam kehidupan Yesus sendiri melalui komitmennya kepada kita. Apakah Yesus sendiri menggenapi kata-kata ini? Jika tidak, ia tidak mungkin mengharapkan kita untuk menggenapinya.
Di sini kita membahas pertanyaan yang ada dalam benak banyak orang Kristen: Mengapa kita harus berkomitmen kepada Allah? Apakah hanya untuk diselamatkan? Atau, adakah alasan yang lebih dalam untuk berkomitmen? Apakah kita berkomitmen kepada Allah dalam ketaatan buta, tanpa memahami alasan bagi komitmen kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini relevan dengan nas yang baru saja kita baca. Apakah saya menyodorkan pipi yang lain karena ketaatan buta terhadap perintah Yesus? Sebagian orang mungkin berkata seperti ini: “Menyodorkan pipi tidak masuk akal bagi saya, tetapi saya akan tetap melakukannya karena Yesus berkata demikian. Sekalipun saya tidak menyukainya, saya akan melakukannya agar diselamatkan. Yesus pernah berkata di Yohanes 15:14, ‘Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku jika kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu’. Karena ia memerintahkan saya untuk menyodorkan pipi yang lain, maka saya akan menyodorkan pipi yang lain agar diselamatkan.”
Jika Anda seorang Kristen, tahukah Anda mengapa Anda menjadi seorang Kristen? Atau mengapa Anda berjalan di jalan yang sempit? Jika jawaban terbaik yang dapat Anda berikan adalah diselamatkan, itu bukanlah jawaban yang baik. Itu bukan jawaban yang salah, tetapi pasti ada jawaban yang lebih baik. Tidak apa-apa untuk ingin diselamatkan, tetapi Anda perlu tahu mengapa Anda menjadi seorang Kristen selain keinginan untuk diselamatkan.
Mengapa saya harus menyodorkan pipi yang lain? Jika seseorang menginginkan kemeja saya, mengapa saya juga harus memberikan mantel saya kepadanya? Dan di mana kita melihat kekristenan semacam ini dipraktikkan di dunia saat ini? Jika “percaya” kepada Yesus sudah cukup baik bagi kehidupan Kristen, mengapa kita memerlukan Khotbah di Bukit atau bagian Alkitab lainnya? Jika komitmen tidak membuat perbedaan bagi keselamatan, mengapa kita tidak memilih beberapa ayat tentang percaya kepada Yesus dan melupakan bagian Alkitab lainnya?
Sekadar percaya bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa saya tidak memerlukan komitmen dari pihak saya, tetapi menyodorkan pipi yang lain memerlukan komitmen total. Komitmen harus total karena komitmen parsial adalah kompromi. Akan tetapi, apakah kompromi merupakan pilihan dalam kasus menyodorkan pipi? Anda menyodorkannya atau tidak. Anda berjalan mil yang kedua atau tidak.
Kita berhadapan dengan dua pertanyaan. Pertama, apakah kita perlu berkomitmen untuk diselamatkan? Kedua, mengapa Yesus menuntut komitmen dari kita? Ini adalah dua pertanyaan penting yang perlu kita jawab. Hal yang relevan dengan pertanyaan pertama adalah apa yang Yesus katakan di akhir Khotbah di Bukit:
Dan, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya akan menjadi seperti orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir. Lalu, turunlah hujan dan datanglah banjir, dan angin bertiup menerpa rumah itu, dan rumah itu roboh, dan sangat besar kerusakannya. (Mat 7:26-27)
Orang yang mendengar perkataan Yesus, tetapi tidak melakukannya bagaikan orang yang membangun rumah di atas pasir. Strukturnya tidak akan bertahan menghadapi banjir penghakiman. Namun, orang yang mendengar perkataan Yesus dan melakukannya bagaikan orang yang membangun rumah di atas batu karang yang kokoh. Ketika banjir dan badai penghakiman datang, rumah itu akan bertahan dengan penuh kemenangan. Akankah hidup kita bertahan menghadapi ujian penghakiman?
Belas kasihan: motivasi komitmen
Untuk melihat makna sebenarnya dari menyodorkan pipi yang lain, kita perlu memahami motivasi komitmen sebagaimana kita melihatnya dalam hati Yesus. Di seluruh Injil, semua yang Yesus lakukan merupakan penggenapan dari apa yang telah ia ajarkan kepada murid-muridnya. Seluruh hidupnya memperlihatkan komitmennya yang total kepada kita. Khotbah di Bukit berakhir di pasal 7, dan langsung di pasal 8, Yesus menyembuhkan seorang penderita kusta.
Ketika saya pertama kali tiba di Hong Kong, saya mengunjungi sebuah koloni penderita kusta di sana. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya melihat orang-orang yang cacat karena penyakit yang mengerikan itu, dengan anggota-anggota tubuh yang bengkok dan bagian-bagian tubuh yang terlepas.
Orang kusta melambangkan manusia dalam kondisi berdosa. Tidak ada yang sehat pada orang berdosa dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Seluruh pribadinya rusak karena dosa. Bukanlah suatu kebetulan bahwa setelah menyampaikan Khotbah di Bukit, hal pertama yang Yesus lakukan adalah membersihkan orang kusta. Kata membersihkan berarti menyembuhkan atau mengembalikan kondisinya menjadi baik. Setelah membersihkan orang kusta, hal berikutnya yang Yesus lakukan adalah menyembuhkan hamba seorang perwira.
Kita sering kali tidak menyadari inti dari mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan. Mukjizat-mukjizat itu tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kuasanya yang ajaib. Sebenarnya Yesus sering kali memberi tahu orang yang disembuhkan itu untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang penyembuhan itu (Mat 8:4; Mrk 7:36; 8:26; Luk 8:56). Ia tidak berusaha membuat siapa pun terkesan dengan kuasa penyembuhannya. Sebaliknya, setiap mukjizat merupakan tanda yang menunjukkan fakta bahwa Yesus, karena belas kasihnya yang dalam, telah datang untuk menyembuhkan dan menyelamatkan kita.
Belas kasih dalam Injil Matius
Oleh karena belas kasihanlah yang memotivasi komitmen Yesus kepada kita, mari kita tinjau kata “belas kasihan” sebagaimana yang muncul dalam Injil Matius. Yesus berkata di Matius 9:13:
Namun, pergilah dan pelajari apa artinya ini, ‘Aku menghendaki belas kasihan, bukannya persembahan,’ sebab Aku datang bukan untuk memanggil yang benar, melainkan orang-orang berdosa.
Yesus adalah sahabat orang berdosa dan ia memanggil mereka untuk bertobat. Apa yang ia minta dari kita adalah belas kasihan dari hati yang sama, bukan persembahan atau tindakan keagamaan yang tampak. Matius 9:36 berkata tentang Yesus:
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, Dia merasa kasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba-domba tanpa gembala.
Yesus memiliki belas kasihan kepada orang banyak karena ia melihat mereka seperti domba tanpa gembala. Pernahkah belas kasihan seperti ini muncul dalam diri Anda? Ketika Anda berada di tengah keramaian, apakah Anda merasa kasihan kepada orang-orang di sekitar Anda atau apakah Anda merasa kesal? Jika seorang pria yang berdiri di samping Anda di dalam kereta yang penuh sesak memiliki bau mulut, apakah Anda merasa ingin merekomendasikan obat kumur kepadanya? Pikiran kita berputar di sekitar diri kita sendiri sehingga kita tidak tahu bagaimana cara berbelas kasih. Belas kasih berarti melupakan diri kita sendiri dan memikirkan kebutuhan orang lain. Namun, kita merasa kesal ketika seseorang bersandar pada kita di dalam kereta atau berpegangan pada palang penyangga dan menghalangi pandangan kita.
Yesus tergerak oleh belas kasihan bagi orang banyak. Apakah kita merasakan belas kasihan sama sekali? Secara alamiah kita sangat mementingkan diri sendiri sehingga mustahil bagi kita untuk melupakan diri kita sendiri. Namun, “belas kasihan” dan “rahmat” muncul dalam Injil Matius berulang kali, misalnya 5:7, 12:7, 14:14, 15:32, 18:27, 18:33 (dua kali), 20:34, dan 23:23. Belas kasihan mengalir melalui Matius, memperlihatkan motivasi kuat yang bekerja dalam diri Yesus. Belas kasihanlah yang memotivasi komitmennya kepada Anda dan saya.
Kembali ke pertanyaan kita: Mengapa Yesus memberikan pipi yang satunya? Apakah karena Bapa telah memerintahkannya untuk melakukannya? Namun, ketaatan tanpa belas kasihan tidak akan ada artinya. Menyodorkan pipi yang satunya harus dimotivasi oleh belas kasihan. Jika seseorang menampar kita dan kita berteriak, “Ayo! Tampar aku lagi!” sikap kita akan salah. Tindakan menyodorkan pipi hanya akan berarti jika orang lain melihat belas kasihan di mata Anda.
Mengapa saya perlu menunjukkan belas kasihan jika Allah sudah penuh belas kasihan? Bukankah belas kasihan-Nya sudah cukup baik? Sekali lagi kita berurusan dengan motif. Apakah kita tahu mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan? Apa yang memotivasi kita untuk bertobat, meninggalkan kejahatan, dan memeluk kebaikan?
Pilihan dan aktivitas moral
Dalam semua ini kita dihadapkan pada pilihan antara yang baik dan yang jahat. Pilihan ini membawa kita kembali ke kitab Kejadian di Taman Eden, tempat Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Salah satu akibat penting dari ketidaktaatan mereka terlihat di Kejadian 3:22:
Setelah itu, Yahweh Allah berfirman, “Lihatlah, manusia itu menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Sekarang, jangan sampai dia mengulurkan tangannya dan mengambil juga dari pohon kehidupan, lalu memakannya dan hidup selama-lamanya.”
Keputusan Adam untuk memakan buah terlarang adalah konsekuensial karena dengan demikian ia memperoleh pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kata “pengetahuan” tidak berarti pengetahuan intelektual, tetapi pemahaman berdasarkan pengalaman. Sebelum tidak menaati Allah, Adam tidak mengetahui yang baik dan yang jahat secara pengalaman; tetapi dalam tindakan tidak menaati Allah, ia mengalami yang baik dan yang jahat. Anda hanya perlu mengetahui yang satu untuk mengetahui yang lain. Dalam melakukan apa yang jahat, Anda akan mengetahui apa yang baik sebagai kebalikannya. Dalam melakukan apa yang baik, Anda akan mengetahui apa yang jahat.
Allah tidak perlu melakukan kejahatan untuk mengetahui kejahatan. Dia mengetahui kejahatan bukan karena Dia telah melakukan kejahatan, tetapi karena kejahatan telah dilakukan kepada-Nya, karena semua dosa pada akhirnya dilakukan kepada Allah. Yesus juga mengetahui kejahatan, bukan karena dia telah melakukan kejahatan, tetapi karena kejahatan telah ditimpakan kepadanya dan dia dibunuh karena dosa-dosa kita. Tidak seorang pun mengetahui kejahatan seperti dia, karena tidak seorang pun telah menderita akibat kejahatan seperti dia.
Setiap hari kita melakukan tiga jenis aktivitas: fisik, mental (intelektual), dan spiritual. Jika suatu aktivitas murni bersifat fisik atau intelektual, aktivitas tersebut tidak memiliki makna moral. Sebaliknya, aktivitas spiritual memiliki makna moral karena melibatkan pilihan antara yang baik dan yang jahat.
Mari kita bayangkan Adam dan Hawa di taman. Mereka melihat pohon persik dan memakan buahnya. Tindakan ini tidak memiliki makna moral karena merupakan aktivitas fisik yang berbeda dengan aktivitas spiritual. Jika saya membeli minuman di toko, apakah ada makna moral jika saya memilih Coca-Cola, Pepsi, atau root beer? Keputusan yang murni material ini tidak memiliki makna moral karena tidak ada hubungannya dengan kebaikan dan kejahatan. Aktivitas fisik tidak memiliki makna moral kecuali jika dikaitkan dengan atau merupakan konsekuensi dari aktivitas spiritual.
Pilihan fisik—seperti membeli merek sampo atau memilih warna baju—tidak memiliki makna moral. Bahkan aktivitas intelektual seperti menebak cuaca atau melakukan perhitungan matematika tidak memiliki makna moral kecuali jika dikaitkan dengan aktivitas spiritual. Sama halnya dengan membeli buku untuk belajar bahasa Prancis atau Mandarin. Apakah saya percaya alam semesta berada dalam keadaan inflasi setelah Big Bang atau dalam keadaan deflasi, tidak memiliki makna moral.
Apakah saya percaya pada teori evolusi juga tidak memiliki signifikansi moral kecuali saya menggunakannya untuk membuktikan atau menyangkal penciptaan Allah. Bagaimanapun, teori ini tidak membuktikan atau menyangkal penciptaan karena evolusi adalah proses kehidupan. Secara logika tidak valid untuk membuktikan asal usul kehidupan dari teori tentang proses kehidupan. Proses evolusi tidak membuktikan apa pun yang mendukung atau menentang penciptaan karena asal usul kehidupan harus dibuktikan dari sesuatu yang lain. Namun, ketika dipelajari sebagai teori, evolusi tidak memiliki signifikansi moral intrinsik karena tidak ada hubungannya dengan kebaikan dan kejahatan.
Akhirnya, kepercayaan intelektual terhadap doktrin Kristen seperti bahwa Yesus mati untuk Anda tidak memiliki signifikansi moral kecuali Anda mengambil sesuatu yang bernilai spiritual darinya yang berkaitan dengan keselamatan Anda. Jika kita memberitakan Injil dengan memberi tahu orang-orang untuk percaya kepada Yesus, tetapi tanpa memberi tahu mereka untuk membuat komitmen moral, kita sama sekali tidak memberitakan Injil. Jika pengakuan Kristen Anda hanya bersifat intelektual, Anda bukanlah seorang Kristen. Jika iman Anda tidak membuat perbedaan yang baik atau yang buruk dalam hidup Anda, Anda berada dalam situasi yang sama dengan Iblis yang juga mempercayai apa yang Anda percayai dan lebih dari itu (Yak 2:19).
Cara Petrus memberitakan Injil tidak sama dengan cara yang dikhotbahkan saat ini. Pesannya dalam Kisah Para Rasul 3 diakhiri dengan kata-kata berikut: “Allah, setelah membangkitkan hamba-Nya, mengirimkan-Nya kepadamu lebih dahulu untuk memberkatimu dengan membuat setiap orang dari antaramu berbalik dari kejahatan” (ay 26). Berkat kehidupan kekal mengharuskan kita untuk membuat keputusan moral untuk “berbalik dari kejahatan”. Menjadi orang Kristen dalam pengertian Alkitab berarti meninggalkan jalan hidup kita yang jahat dan memilih apa yang baik. Dengan demikian, kita dapat melihat kebaikan dan kejahatan dalam istilah praktis: belas kasihan versus tidak ada belas kasihan; kasih versus kebencian; kehidupan yang berpusat pada Allah versus kehidupan yang berpusat pada diri sendiri; gaya hidup yang peduli terhadap orang lain versus gaya hidup yang merebut segalanya untuk diri sendiri.
Menyodorkan pipi: menggunakan opsi nuklir
Untuk berkomitmen kepada Allah, kita harus tahu mengapa kita berkomitmen dan kepada siapa kita berkomitmen. Mengapa saya harus memilih kebaikan daripada kejahatan, atau kasih daripada benci? Saya masih perlu memahami alasan di balik pilihan saya.
Jika seseorang menampar pipi saya, apa saja pilihan yang tersedia bagi saya? Salah satu pilihan adalah menamparnya balik, bahkan dua atau tiga kali. Kita mungkin berakhir dalam adu jotos di mana dia menampar saya, saya menamparnya, dia menampar saya, saya menamparnya, yang merupakan bentuk “mata ganti mata dan gigi ganti gigi” yang sesungguhnya. Saya baru-baru ini mendengar seseorang berkata bahwa jika setiap orang di masyarakat mempraktekkan mata ganti mata, dunia akan menjadi buta dan tanpa mata!
Pilihan kedua adalah tidak membalas: Saya menahan diri untuk tidak membalasnya. Dalam upaya mengendalikan diri, saraf saya gemetar, otot-otot saya tegang, tangan saya terkepal, dan saya mulai menghitung “satu, dua, tiga” hingga tekanan darah saya turun.
Dengan pilihan pertama, kita menyalahgunakan prinsip “mata ganti mata” untuk pembalasan pribadi, dengan membalas kejahatan dengan kejahatan. Seseorang berbuat jahat kepada saya, maka saya pun berbuat jahat kepadanya, bahkan membalasnya dengan bunga. Dengan menambahkan kejahatan saya kepada kejahatannya, saya telah melipatgandakan kejahatan. Dia mungkin memukul saya untuk kedua atau ketiga kalinya, sehingga kejahatan meningkat secara eksponensial.
Apakah ada cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah kejahatan? Jika saya membalasnya, saya telah melipatgandakan kejahatan. Jika saya tidak membalasnya, saya telah menjaga kejahatan pada tingkat yang konstan, tidak menambah atau menguranginya.
Namun, ada pilihan ketiga: Ketika seseorang menampar saya, saya menyodorkan pipi yang satunya dengan kasih dan belas kasihan dengan tujuan untuk mengatasi kejahatannya. Kemudian dia akan terkejut: “Mengapa dia tidak membalas saya? Mengapa dia menunjukkan kasih dan belas kasihan setelah apa yang telah saya lakukan kepadanya?” Itulah yang ingin kita capai. Dengan memberikan pipi yang satunya, kasih mulai menguasainya. Paulus memberi tahu kita bahwa kebaikan begitu kuat sehingga dapat mengalahkan kejahatan:
Janganlah membalas kepada siapa pun kejahatan dengan kejahatan. Pikirkanlah apa yang baik di mata semua orang. Jika mungkin, jika itu tergantung kepadamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri membalas dendam, tetapi berilah tempat kepada murka Allah. Sebab, ada tertulis, “Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan membalasnya,” firman Tuhan. “Sebaliknya, jika musuhmu lapar, berilah ia makan, dan jika musuhmu haus, berilah ia minum. Dengan melakukan ini, kamu akan menumpuk bara api di atas kepalanya.” Jangan kamu dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. (Rm 12:17-21)
Ungkapan “menumpuk bara api di atas kepalanya” telah menjadi subjek kajian ilmiah. Itu berarti menimbulkan api rasa malu, rasa bersalah, dan penyesalan yang membara. Oleh karena belas kasihan Anda, orang lain menjadi sangat menyadari kesalahan yang telah dilakukannya kepada Anda. Begitu kuatnya rasa malu dan penyesalannya karena telah menjadi musuh Anda sehingga ia merasakan bara api menyala di kepalanya. Ungkapan itu mungkin berasal dari pepatah Mesir kuno yang menggambarkan intensitas rasa malu karena telah berbuat salah kepada seseorang yang tidak membalas, tetapi menanggapi kejahatan dengan kasih dan kebaikan.
Orang yang mengasihi dengan kasih Kristus bukanlah orang yang lemah, melainkan orang yang kuat. Hal yang sama tidak dapat dikatakan tentang orang yang menjadi “karpet” bagi orang lain untuk diinjak-injak. Orang yang lemah dan pasif tidak memiliki kuasa untuk mengalahkan kejahatan. Kebaikan yang kita bicarakan adalah kebaikan yang aktif dan penuh kuasa. Kebaikan tidak hanya menanggung pelecehan dan hinaan, tetapi lebih dari itu: Jika seseorang melecehkan Anda, Anda akan semakin mengasihinya. Musuh Anda tidak akan melihat hal ini sebagai kelemahan, melainkan sebagai kuasa! Ia mungkin tidak langsung bereaksi terhadap Anda, tetapi ia akan menghargai kuasa yang bekerja dalam diri Anda. Anda bukanlah samsak tinju, melainkan kekuatan yang dahsyat yang mengalahkan kejahatan.
Apa yang Paulus perintahkan untuk kita lakukan—mengalahkan kejahatan dengan kebaikan—merupakan sesuatu yang aktif, bukan pasif. Jika Anda pasif, orang akan menganggap Anda lemah dan pengecut. Namun, jika Anda melawan balik dengan kasih, mereka tidak akan tahu bagaimana cara mengatasinya. Anda memiliki kekuatan nuklir yang mengalahkan kekuatan konvensional. Itu adalah kekuatan ilahi yang melawan mereka. Anda mendeklarasikan perang habis-habisan untuk mengalahkan kejahatan. Kasih ini agresif karena bertujuan untuk menaklukkan dan bukan menyerah.
Kita tidak dapat melakukan hal ini kecuali dengan kuasa Allah. Bila Anda membiarkan kuasa-Nya bekerja dalam diri Anda, Anda akan mulai mengalami hal-hal yang menakjubkan. Menerima tantangan ini membutuhkan komitmen total untuk memilih yang baik daripada yang jahat.
Catatan: Dalam menyodorkan pipi yang lain, kita juga perlu bersikap bijaksana dan menilai situasi berdasarkan kasus per kasus. Tidak ada gunanya bagi orang Kristen jika ia bertindak bodoh dan tanpa berpikir. Hikmat Allah berjalan seiring dengan kasih Allah sehingga kita menanggapi situasi dengan tepat dan bijaksana.
Kasih mengalahkan segalanya: kasus ibu saya
Kasih dan belas kasihan berasal dari Allah: “kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita melalui Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Kasih ini bersifat moral dan rohani. Kasih yang tidak memiliki unsur moral bukanlah kasih. Dalam Alkitab, kasih bukanlah perasaan sentimental, melainkan sesuatu yang melibatkan pilihan yang tegas antara kebaikan dan kejahatan. Kasih adalah komitmen untuk mengasihi yang tidak menyenangkan. Oleh karena kasih cukup kuat untuk mengalahkan kejahatan, saya tidak perlu membalas dendam, membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya mengalahkan kejahatan melalui kebaikan Allah yang telah dicurahkan ke dalam hidup saya.
Semakin sering Anda menerapkan ini, semakin Anda akan melihat bahwa kasih Allah mengalahkan kejahatan. Hasil yang menggembirakan adalah bahwa saya tahu mengapa saya berkomitmen dan mengapa saya menyodorkan pipi yang lain. Itu adalah tindakan yang diperhitungkan yang mengalahkan kejahatan dalam diri orang lain oleh kebaikan Allah.
Ketika musuh Anda melihat kebaikan Allah dalam diri Anda, ia akan diyakinkan atas kesalahannya. Jika ia menyerah pada kebaikan, kita akan memenangkan pertempuran melawan kejahatan. Jika ia menolak untuk bertobat, kita akan menyerahkannya kepada Allah untuk menghadapinya. Pembalasan adalah hak Allah Sang Hakim. Namun, terlepas dari apakah orang lain bertobat atau tidak, saya sendiri tidak akan dikalahkan oleh kejahatan, atau menyerah pada kejahatan dengan membalas. Kita adalah rekan kerja Allah dalam pertempuran melawan kejahatan, menaklukkan kejahatan dengan kasih-Nya. Itu dapat dicapai. Sampai hari penghakiman, kita akan mengasihi mereka yang membenci dan menganiaya kita. Entah mereka bertobat dari dosa-dosa mereka atau Allah akan menangani mereka pada hari itu.
Saya tahu dari pengalaman bahwa kasih itu menaklukkan. Tak lama setelah saya menjadi seorang Kristen, orang tua saya menolak saya. Ibu saya membuatnya jelas kepada saya bahwa saya tidak diterima di rumah. Ketika saya pulang ke rumah selama liburan sekolah, pertanyaan pertama yang diajukannya adalah, “Kapan kamu berangkat?” Bagaimana dengan sambutan seperti itu? Namun, saya bertekad untuk mengasihinya sampai akhir sampai kasih Allah menang di dalam hatinya. Setiap kali ibu saya bersikap tidak baik kepada saya, saya akan pergi ke dapur untuk mencuci piring. Ia merasa ini sangat aneh karena sebelumnya saya tidak pernah mencuci piring. Terlebih lagi, dalam tradisi keluarga kami, mencuci piring bukanlah tugas laki-laki. Jadi, hal ini semakin membuatnya bingung. Dan ketika ia bersikap tidak baik kepada saya lagi, saya akan menyapu lantai, berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan membawa pulang hadiah untuknya. Ketika ia terus bersikap tidak baik kepada saya, saya membelikannya bunga. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini. Tidak peduli seburuk apa pun dia memperlakukan saya, saya tetap mengasihinya.
Bertahun-tahun kemudian, suatu hari ia berlutut di samping saya. Dengan air mata mengalir di wajahnya, ia menyerahkan hidupnya kepada Allah. Kebaikan telah mengalahkan kejahatan. Saya tidak akan pernah melupakan apa yang ia katakan kepada saya: “Saya memberimu kehidupan jasmani, kamu memberi saya kehidupan rohani.” Ia menyalurkan kehidupan jasmani kepada saya, saya menyalurkan kehidupan Allah kepadanya melalui anugerah Allah. Kami menjadi sangat dekat setelah itu. Sebelum ia datang kepada Allah, saya tidak memiliki banyak kasih sayang padanya, secara manusiawi. Pada awalnya, dibutuhkan komitmen dari pihak saya untuk mengasihinya dengan kasih Allah, karena hati saya tidak memiliki kasih manusiawi atau keterikatan padanya. Namun kemudian, saya mengasihinya dengan kasih Allah dengan cara yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
Ketika dia meninggal beberapa tahun kemudian, butuh waktu lama bagi saya untuk pulih. Saya berlutut di hadapan Allah dan berkata, “Saya tidak mengerti. Mengapa Engkau membawanya pergi? Dia adalah seorang Kristen baru yang benar-benar mengasihi Engkau. Saya berharap dia dapat melakukan sesuatu bagi Engkau sebelum dia meninggal.” Sampai hari ini saya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan saya, tetapi saya tahu bahwa kasih Allah mampu mengalahkan dosa dan kejahatan di dalam hatinya. Dia mengakui bahwa dia adalah seorang wanita berdosa pada masa mudanya, tetapi dia menjadi orang kudus Allah. Seluruh hidupnya memancarkan keindahan Kristus, dan saya sangat mengasihinya.
Saya telah menyaksikan kuasa kasih yang mengalahkan kekerasan hati ibu saya. Hatinya keras bagaikan batu, tetapi Allah mampu mencairkannya. Jika kasih dapat memenangkan hati ibu saya, kasih juga dapat memenangkan hati siapa pun karena saya tahu betapa keras hatinya dia. Sekarang saya mengerti alasan saya berkomitmen dan saya menyodorkan pipi, karena saya telah mengalami kuasa kasih Allah. Saya tahu kasih itu nyata dan berbuah hasil. Saya dapat mengasihi orang lain karena saya tahu kasih Allah akan menang dalam situasi apa pun.
Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang.
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di
CPM Bookstore.