Pastor Eric Chang | Bab 6 |
Berapa banyak dari kita yang tahu apa itu kehidupan Kristen yang berkelimpahan? Jika Anda belum pernah mengalaminya, Anda tidak akan dapat membayangkan seperti apa kehidupan itu, sama seperti Anda tidak akan tahu seperti apa Kanada atau Eropa jika Anda belum pernah mengunjungi tempat-tempat itu. Bagaimana Anda akan menjelaskan apa itu kehidupan Kristen yang berkelimpahan kepada mereka yang belum pernah mengalaminya?
Jika Anda tidak melihat sesuatu yang menarik tentang kehidupan Kristen, apakah ada sesuatu yang akan memotivasi Anda untuk mencarinya? Mungkin yang mendorong Anda maju adalah kesadaran bahwa kehidupan yang Anda miliki saat ini hampa dan tidak memiliki sukacita dan makna. Mungkin Anda merasa bahwa kehidupan seperti ini tidak layak untuk dilanjutkan, jadi Anda ingin beralih ke sesuatu yang lebih baik.
Jika saya mempromosikan Kanada, saya mungkin akan menunjukkan poster-poster hutan, sungai, taman, dan Pegunungan Rocky di Kanada. Kemudian Anda dapat melihat poster-poster itu dan berkata, “Jadi, inilah Kanada!” Namun, saya tidak dapat menunjukkan foto-foto kehidupan Kristen yang berkelimpahan seperti saya tunjukkan pada Anda foto-foto Kanada atau Pegunungan Alpen Swiss yang indah. Jadi, bagaimana Anda dapat memvisualisasikan kehidupan rohani?
Salah satu caranya adalah dengan mengenal beberapa manusia Allah, untuk melihat kualitas hidup mereka. Sebagai seorang Kristen muda di Tiongkok, saya memiliki hak istimewa untuk mengenal satu atau dua manusia Allah. Saya tinggal bersama mereka, mengenal mereka, dan melihat mereka beraksi. Anda perlu melihat mereka beraksi di lapangan, bukan hanya di lingkungan pengajaran. Maka Anda akan melihat seperti apa seorang prajurit, bukan saat ia berbaris dalam parade, tetapi dalam pertempuran. Anda akan melihat pengalaman militer dan keterampilan tempurnya. Namun, Anda tidak akan melihat semua ini hanya dengan duduk di hadapannya dan mendengarkan ceramah tentang taktik militer.
Apakah ada sesuatu dalam kehidupan rohani yang menyentuh hati Anda? Ketika Anda mendengarkan kesaksian, Anda akan kagum dengan pengalaman rohani orang-orang yang berjalan bersama Allah. Oleh karena pengalaman-pengalaman ini bersifat tidak langsung bagi Anda, Anda mungkin berkata kepada diri sendiri, “Pengalaman-pengalaman ini nyata bagi dia, tetapi tidak bagi saya.” Namun, inti dari sebuah kesaksian adalah supaya kesaksian itu dapat menjadi nyata bagi Anda juga, bahkan dalam hal dipimpin oleh Roh. Pimpinan Roh akan menjadi sekadar teori bagi Anda sampai Anda mengalaminya dalam kehidupan nyata.
Dan di mana Anda melihat kehidupan yang dinamis seperti ini saat ini? Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa sangat sedikit orang di dunia ini yang menjalani kehidupan yang penuh kemenangan dan dinamis. Alkitab telah memperingatkan kita bahwa hanya ada sedikit orang:
“Masuklah melalui gerbang yang sempit karena lebarlah gerbang dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan ada banyak yang masuk melaluinya. Sebab, sempitlah gerbang dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit yang menemukannya.” (Mat 7:13-14)
Tantangan yang terus kita hadapi dalam kehidupan Kristen adalah bahwa selalu ada jalan yang mudah di depan kita untuk menggoda kita. Sebagian besar dari kita akan memilih jalan yang mudah, beberapa akan memilih jalan yang sempit. Mengapa hanya sedikit? Lagi pula, ada dua miliar orang Kristen di dunia saat ini: lebih dari satu miliar umat Katolik ditambah beberapa ratus juta umat Protestan ditambah beberapa ratus juta dari gereja Ortodoks. Statistiknya mengesankan, tetapi “sedikit” yang akan menemukan pintu gerbang sempit yang mengarah pada kehidupan.
Akankah Anda menemukan pintu gerbang yang sempit? Akankah kata-kata Yesus di Yohanes 10:10 terpenuhi dalam diri Anda: “Aku datang supaya mereka memiliki hidup, dan memilikinya secara berlimpah”? Yesus berbicara tentang kehidupan saat ini, bukan masa depan. Dia ingin Anda menjalani kepenuhan dari hidup yang berkelimpahan saat ini juga.
Apakah yang dapat diberikan sebagai ganti jiwa?
Ketika kehidupan Kristen menjadi sulit, Anda mungkin bertanya-tanya apakah itu sepadan. Yesus mengemukakan masalah ini ketika ia berkata, “Apa yang bisa seseorang berikan sebagai ganti nyawanya?” (Mat 16:26). Apakah kekayaan finansial Anda terlalu berharga untuk ditukar dengan jiwa Anda? Apa yang akan Anda berikan sebagai ganti kehidupan kekal? Matius 10:39 langsung membahas masalah ini: “Siapa yang mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan siapa yang kehilangan nyawanya demi Aku akan mendapatkannya.” Jika Anda menemukan hidup Anda di dunia, Anda akan kehilangannya. Namun, jika Anda kehilangan hidup Anda demi Yesus, Anda akan memperolehnya. Hal ini juga dijelaskan di Matius 16:25-26:
Karena siapa yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya. Akan tetapi, siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya. Apa untungnya jika seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Atau, apa yang bisa seseorang berikan sebagai ganti nyawanya?
Kita pada dasarnya egois dan keegoisan kitalah yang membuat kita berdosa. Yesus berusaha mengubah arah hidup kita dari cara berpikir yang egois menjadi cara berpikir yang memberi diri. Untuk mewujudkan perubahan ini dalam hidup kita, ia memberikan syarat kepada kita untuk memperoleh hidup kekal.
Kata “mengasihi” dan “membenci” menyampaikan sikap yang kuat (seperti dalam mengasihi hidup versus membenci hidup, Yoh 12:25). Jika Anda mengasihi hidup Anda, Anda sedang berjalan di jalan yang lebar menuju kebinasaan. Jika Anda membenci hidup Anda, Anda akan menyelamatkannya untuk hidup kekal. Ketika Alkitab berkata untuk membenci hidup Anda, itu tidak berarti membenci hidup yang Anda miliki di dalam Kristus, tetapi hidup yang terikat oleh dosa. Untuk terbebas dari ikatan ini, yang harus Anda lakukan adalah berlutut di hadapan Allah dan berkata, “Ya Allah, saya membenci hidup yang selama ini saya jalani, mencari pujian manusia di antara hal-hal lainnya. Saya mohon kepada Engkau untuk mengubah hidup saya.” Kita melakukan bagian kita dan Allah mengerjakan sisanya. Roh Kudus masuk, dan Anda akan mengalami kuasa Allah.
Banyak orang Kristen hidup dalam keegoisan karena mereka telah diajarkan bahwa mereka hanya perlu “percaya” untuk memperoleh hidup kekal, bahkan jika tidak ada perubahan mendasar dalam hidup mereka. Namun, ini bukanlah ajaran Alkitab. Dalam bab sebelumnya kita melihat bahwa percaya dalam pengertian Alkitab berarti mengikuti, yang berarti melayani, yang berarti mati. Anda harus kehilangan hidup Anda demi Kristus sebelum Anda dapat menerima hidup kekal. Anda harus berubah dari cara hidup yang egois menjadi cara hidup yang memberi diri.
Saya tidak main-main dengan kata-kata. Pada hari penghakiman ketika Anda dan saya berdiri di hadapan Allah, jika Anda kehilangan hidup Anda dan dihukum dengan kebinasaan kekal, janganlah dikatakan bahwa saya tidak menjelaskan kebenaran ini kepada Anda. Paulus berkata kepada jemaat di Efesus, “Karena itu, aku bersaksi kepadamu hari ini bahwa aku tidak bersalah atas darahmu semua. Sebab, aku tidak menahan diri untuk memberitakan kepadamu semua rencana Allah” (Kis 20:26-27). Saya memberi tahu Anda dari firman Allah bahwa Anda harus berubah dari kehidupan yang mementingkan diri sendiri menjadi kehidupan yang memberi diri sendiri, dengan kuasa Roh Kudus.
Kita tidak memiliki kuasa untuk mengubah diri kita sendiri karena kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Keselamatan sepenuhnya adalah anugerah karena keselamatan hanya dapat dicapai melalui kuasa Allah. Kita tidak dapat mengubah diri kita sendiri sebagaimana macan tutul tidak dapat mengubah bintik-bintiknya (Yer 13:23).
Oleh karena hal ini dicapai melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, yang dapat kita lakukan hanyalah bersedia untuk diubah. Apakah kita bersedia membiarkan Roh Kudus mengubah kita? Jika orang sakit menolak perawatan medis, dokter tidak akan mendatangi rumahnya dan menyeretnya ke rumah sakit. Demikian pula Allah tidak akan menyeret Anda dengan susah payah ke dalam Kerajaan Allah. Anda harus memberi tahu Allah apakah Anda menginginkan hidup kekal atau tidak.
Apa yang harus aku lakukan agar diselamatkan?
Ajaran sesat sering kali disajikan sebagai kebenaran, dan banyak orang tidak dapat membedakannya. Cara kita mengencerkan pernyataan Paulus dapat dilihat dari sebuah contoh, “Percayalah dalam Tuan Yesus dan kamu akan diselamatkan” (Kis 16:31). Pernyataan ini berasal dari sebuah kejadian terkenal di Kisah Para Rasul 16.
Di kota Filipi, Paulus dan Silas dipukuli oleh penguasa setempat dan dijebloskan ke penjara atas tuduhan palsu. Di penjara, mereka mulai menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Allah. Itu membuat mereka agak aneh, bukan? Namun, hal yang aneh tentang orang-orang yang dipenuhi Roh adalah bahwa mereka menyanyikan pujian kepada Allah bahkan setelah mereka dipukuli sampai babak belur dan dijebloskan ke penjara. Paulus dan Silas terluka parah sehingga luka-luka mereka harus dirawat kemudian. Namun, mereka tidak berpikir untuk merawat luka-luka mereka atau meringankan rasa sakit, tetapi bersukacita dan menyanyikan pujian kepada Allah. Itulah kehidupan yang berkemenangan dan berkelimpahan.
Gempa bumi dahsyat mengguncang penjara itu. Dindingnya runtuh, pintu gerbangnya jatuh, dan semuanya hancur berkeping-keping. Kepala penjara mengira bahwa para tahanan telah melarikan diri, termasuk Paulus dan Silas.
Kota Filipi adalah koloni Romawi, jadi sipir penjara itu mungkin seorang prajurit Romawi, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Setelah mengira bahwa para tahanan telah melarikan diri, ia tahu hukuman apa yang menantinya: pemenggalan kepala. Hukum militer Romawi sangat keras dan tidak kenal ampun. Sipir penjara ingin menghindarkan dirinya dari aib pengadilan militer, jadi ia bersiap untuk bunuh diri: “Ketika kepala penjara bangun dan melihat pintu-pintu penjara telah terbuka, ia mencabut pedangnya dan hampir membunuh dirinya sendiri karena ia mengira para tahanan telah melarikan diri.” (Kis 16:27)
Jika sipir penjara itu bunuh diri, Anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada istri dan anak-anaknya. Dalam masyarakat Romawi, ketika seorang pria meninggal, istrinya tidak akan mampu menghidupi dirinya sendiri, apalagi keluarganya, tidak seperti wanita karier masa kini yang bergelar sarjana. Ketika seorang pria meninggal, istrinya akan berada dalam situasi yang menyedihkan, bahkan tragis. Ketergantungan keluarga pada kepala rumah tangga hampir total. Itulah sebabnya ketika kepala rumah tangga datang kepada Tuhan, seluruh keluarga biasanya akan mengikutinya.
Pernyataan Paulus, “percayalah dalam Tuan Yesus Kristus dan kamu akan diselamatkan,” diucapkan kepada seseorang yang siap untuk mati. Ketika Anda mengutipnya kepada seseorang, apakah orang itu siap untuk mati seperti sipir penjara di Filipi? Jika demikian, Anda dapat mengatakan kepadanya, “Percayalah dalam Tuan Yesus Kristus dan kamu akan diselamatkan,” karena bagian tentang kematian telah ditangani. Namun, jika Anda menghilangkan unsur kematian, pernyataan Paulus akan dipahami dengan cara yang salah.
Ajaran Paulus tentang baptisan
Paulus berseru kepada sipir penjara, memohon kepadanya agar tidak bunuh diri. Sipir penjara itu pun memohon, “Apa yang harus aku lakukan agar diselamatkan?” Paulus menjawab, “Percayalah dalam Tuan Yesus Kristus dan kamu akan diselamatkan”: (Kis 16:30-31). Namun, itu bukanlah akhir dari ceritanya. Paulus tidak berkata, “Percayalah, maka engkau akan selamat. Sekarang tulislah namamu pada formulir baptisan.” Ayat 32 memberi tahu kita apa yang terjadi selanjutnya: “Kemudian, Paulus dan Silas memberitakan firman Tuhan kepada kepala penjara itu dan kepada semua orang yang ada di dalam rumahnya.” Ini adalah persiapan untuk pembaptisan mereka.
Paulus dan Silas memberikan mereka pengajaran yang kuat dari “firman Tuhan” tentang apa artinya percaya kepada Yesus. Paulus teliti dalam segala hal yang dilakukannya, dan ia tidak langsung membaptis. Baptisan akan diberikan hanya setelah ia memberikan mereka petunjuk dari firman Allah. Oleh karena ketelitian Paulus dalam firman Allah, sipir penjara dan keluarganya dapat dengan mudah menerima beberapa jam pengajaran yang kuat. Baru setelah itu mereka dibaptis.
Selama ini, luka-luka Paulus masih belum diobati, mungkin masih berdarah. Baru setelah pengajaran selesai, Paulus dan Silas mengizinkan sipir penjara mengobati luka-luka mereka. Paulus memiliki prioritasnya sendiri: pertama pengajaran tentang keselamatan, kemudian mengobati luka-lukanya. Menyelamatkan orang lain lebih penting daripada kesejahteraannya sendiri. Ketika kita membaca Alkitab dengan saksama, kita menangkap detail-detail kecil yang menyingkapkan hal-hal penting, dalam hal ini kualitas hidup Paulus dan Silas. Kita kehilangan detail-detail penting ini ketika kita membaca Alkitab dengan tergesa-gesa atau secara dangkal.
Baptisan dan kematian terhadap dosa
Jadi, apa yang Paulus ajarkan kepada sipir penjara dan keluarganya? Kita dapat yakin bahwa ia tidak akan mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah ia tulis dalam surat-suratnya. Kita memiliki cukup banyak surat Paulus untuk memperoleh gambaran yang baik tentang apa yang ia ajarkan kepada mereka: Sebelum membaptis mereka, Paulus hanya mengajarkan apa yang ia sendiri ajarkan tentang baptisan dalam surat-suratnya, dan apa yang Yesus sendiri ajarkan. Banyak orang Kristen berpikir bahwa Paulus mengajarkan hal yang berbeda dari Yesus, misalnya, bahwa sementara Yesus menyuruh kita untuk membenci hidup kita untuk memperoleh hidup kekal, Paulus mempermudah segalanya bagi kita dengan mengatakan bahwa kita hanya perlu percaya kepada Yesus. Namun, Kisah 16:31 (“percayalah dalam Tuan Yesus Kristus dan kamu akan diselamatkan”) harus dipahami dalam terang seluruh ajaran Paulus.
Paulus, seperti Yesus, mengajarkan dengan tegas bahwa tidak ada kehidupan tanpa kematian. Roma 6, yang membahas tentang baptisan, memberi kita gambaran yang baik tentang apa yang mungkin dikatakan Paulus kepada sipir penjara di Filipi sebelum membaptisnya. Di Roma 6, Paulus secara eksplisit menghubungkan baptisan dan kematian:
Jadi apakah yang harus kita katakan? Apakah kita akan terus berbuat dosa supaya anugerah semakin berlimpah? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin kita yang telah mati bagi dosa masih hidup di dalamnya? Atau, tidakkah kamu tahu bahwa kita semua yang telah dibaptis ke dalam Yesus Kristus, telah dibaptiskan ke dalam kematian-Nya? (Rm 6:1-3)
Kita dapat yakin bahwa ketika Paulus hendak membaptis sipir penjara, ia telah menjelaskan kepadanya arti baptisan. Di Roma 6 ia mengatakan bahwa baptisan melibatkan kematian. Apakah ia memaksudkan hal ini dalam arti metaforis? Apakah baptisan adalah kematian pura-pura? Atau apakah kita mati terhadap dosa dalam arti yang sebenarnya?
Paulus tidak begitu dangkal untuk bermain-main dengan kata-kata yang berbobot dan kemudian sampai pada makna yang dangkal. “Mati” bukanlah kata yang bisa dipermainkan. Jika “mati bagi dosa” tidak berarti apa-apa selain “melupakan dosa,” kita tidak boleh menggunakan kata “mati”. Namun, Paulus memang menggunakan kata “mati,” jadi itu pasti berarti sesuatu yang berbobot.
Apa artinya mati bagi dosa? Apakah itu perubahan sikap? Dan apakah sekadar perubahan sikap layak dijelaskan dengan kata yang berat seperti “mati”? Jika orang jahat ingin melakukan perubahan dalam gaya hidupnya, dapatkah perubahan itu dijelaskan dengan tepat sebagai kematian?
Tentu saja, perubahan sikap merupakan langkah awal yang penting menuju kematian yang dibicarakan Paulus. Namun, apakah itu sama dengan kematian? Apakah “mati bagi dosa” hanya sekadar perubahan sikap, atau sesuatu yang lebih dalam?
Kata “dosa” dalam bentuk tunggal tidak merujuk pada perbuatan dosa tertentu, tetapi pada seluruh cara hidup yang dikuasai oleh dosa. Oleh karena itu, “mati terhadap dosa” berarti pemutusan total dari cara hidup lama. Jika saya selesai dengan cara hidup lama saya, saya telah mati terhadapnya.
Kematian lebih dari sekadar reformasi; kematian adalah sesuatu yang mendalam yang dilakukan Roh Kudus di dalam diri kita. Saya dapat mencapai reformasi moral tanpa pertolongan Allah, tetapi ketika Paulus berbicara tentang kematian, yang ia maksud bukanlah reformasi moral. Ia berbicara tentang sesuatu yang dilakukan Roh Kudus di dalam diri kita begitu dalam dan menentukan sehingga ada sesuatu di dalam diri kita yang telah mati. Bagian diri kita yang dikendalikan oleh daging dan responsif terhadap daging—yang di tempat lain disebut Paulus sebagai “manusia lama”—telah dimatikan oleh pekerjaan Roh.
Reformasi moral memerlukan sejumlah komitmen, tetapi bukan komitmen seperti yang dibicarakan dalam Alkitab. Menjadi seorang Kristen bukanlah masalah reformasi moral, tetapi komitmen untuk membiarkan Roh Kudus mematikan “manusia lama” dalam diri kita. Setiap orang menerima reformasi dalam satu derajat atau lainnya, terutama setelah melihat keburukan dari yang jahat dan keindahan dari yang baik. Namun, bukan itu yang dimaksud dengan menjadi seorang Kristen. Reformasi belaka seperti menambal pakaian yang lama dengan kain yang baru, atau menuangkan anggur baru ke dalam kantong kulit yang lama, suatu tindakan yang akan merusak anggur dan kantong kulitnya (Mat 9:16-17).
Namun, Roh Kudus bekerja secara mendalam untuk menghancurkan kanker dosa dalam diri kita. Hal ini dilakukan oleh Allah, bukan oleh reformasi moral. Keselamatan sepenuhnya adalah anugerah karena hal itu dicapai semata-mata oleh kuasa Allah.
Dalam Perjanjian Baru, komitmen kita kepada Allah adalah iman, komitmen Allah kepada kita adalah anugerah. Kita diselamatkan oleh anugerah melalui iman, yaitu oleh komitmen Allah kepada kita yang bekerja melalui komitmen kita kepada Allah. Keselamatan pada akhirnya adalah oleh anugerah Allah, tanpanya kita hanya akan memiliki reformasi moral.
Kita sekarang dapat mendengar apa yang Paulus katakan kepada sipir penjara di Filipi: “Membunuh diri tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebab itu biarlah Roh Allah menghancurkan penyakit dosa yang ada dalam dirimu dan membawa kehidupan Allah ke dalam hidupmu melalui kematianmu terhadap dosa.”
Terbebas dari perbudakan
Kitab Roma pasal 6 berbicara tentang kematian, tetapi bagian kedua dari pasal ini menggambarkan kontras antara perbudakan dosa dan perbudakan kebenaran:
Akan tetapi, syukur kepada Allah bahwa kamu yang dulu adalah budak dosa, sekarang telah menjadi taat sepenuh hati kepada pokok-pokok pengajaran yang telah diajarkan kepadamu, dan karena kamu telah dibebaskan dari dosa, kamu menjadi budak kebenaran. (Rm 6:17-18)
Sebelumnya kami telah menyebutkan tiga cara seseorang dapat menjadi budak. Demikian pula, ada tiga cara seseorang dapat terbebas dari perbudakan.
Cara pertama untuk terbebas dari perbudakan adalah melalui kematian budak itu.
Cara kedua adalah agar tuan kita melepaskan kita dengan sukarela. Namun, jika tuan kita adalah dosa yang telah memperbudak kita sejak awal, kita dapat mengesampingkan penyerahan budak itu secara sukarela ke tangan Kristus. Oleh karena itu, kematian tetap menjadi jalan satu-satunya bagi kita untuk terbebas dari perbudakan dosa. Jika kematian kita tidak nyata, kebebasan yang kita sebut-sebut juga tidak nyata. Seorang budak tidak berhenti menjadi budak hanya dengan berpura-pura mati. Pura-pura menjadi mayat tidak akan membodohi siapa pun. Kecuali ada kematian sejati, tidak ada pembebasan sejati dari perbudakan. Melalui kematian, kita terbebas dari perbudakan dosa, “Karena siapa yang sudah mati, ia sudah dibebaskan dari dosa” (Rm 6:7).
Cara ketiga untuk terbebas dari perbudakan adalah melalui penebusan: membayar tebusan untuk membebaskan seorang budak dari perbudakan. Penting untuk diketahui bahwa kematian Kristus yang menebus kita terkait dengan kematian kita bersamanya.
Kristus mati untuk kita, dan kita mati bersamanya dalam baptisan. Roma 6 memiliki banyak rujukan tentang kematian kita dalam baptisan (lihat yang digarisbawahi dalam kutipan berikut), yang menunjukkan tanpa keraguan sedikit pun bahwa baptisan melibatkan kematian:
3 Atau tidakkah kamu tahu bahwa kita semua yang telah dibaptis ke dalam Yesus Kristus telah dibaptiskan ke dalam kematian-Nya? 4 Karena itu, kita telah dikuburkan bersama-sama Dia pada waktu kita dibaptis ke dalam kematian-Nya; supaya sama seperti Yesus yang dibangkitkan dari antara orang mati melalui kemuliaan Bapa, kita juga boleh berjalan dalam pembaruan hidup. 5 Sebab, jika kita telah dipersatukan bersama-Nya di dalam keserupaan kematian-Nya, kita pasti juga akan dipersatukan dalam keserupaan kebangkitan-Nya. 6 Kita tahu bahwa manusia lama kita sudah disalibkan bersama Kristus dan tubuh dosa kita tidak dilenyapkan sehingga kita tidak akan menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab, setiap orang yang sudah mati, ia sudah dibebaskan dari dosa. 8 Sekarang, jika kita telah mati bersama Kristus, kita percaya bahwa kita juga akan hidup bersama dengan-Nya. (Roma 6:3-8)
Tema pasal berikutnya, Roma 7, adalah Hukum Taurat. Perbudakan kita terhadap dosa diperparah oleh perbudakan kita terhadap Hukum Taurat, dan pertanyaan yang sama muncul: Bagaimana saya dapat dibebaskan dari Hukum Taurat? Atau dari kuasa dosa? Atau dari kesalahan dosa, karena Hukum Taurat menghukum saya? Jawaban dari Roma 7 sama: kematian. Melalui kematian kita dibebaskan dari Hukum Taurat dan dari kesalahan, seperti yang terlihat khususnya dari ayat 1 sampai 4.
Dalam pasal berikutnya, Roma 8, Paulus melanjutkan topik kematian, tetapi ia juga berbicara tentang kemenangan dalam Roh: “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm 8:13). Ini mengingatkan kita pada Yohanes 12:24 dan Matius 10 dan 16, yang menunjukkan bahwa ajaran Paulus didukung oleh ajaran Yesus. Paulus tidak mengubah atau menyimpang dari ajaran Yesus, tetapi mengajarkan hal yang sama.
Ayat berikutnya, Roma 8:14, mengenai pimpinan Roh, telah dibahas sebelumnya. Ayat ini dimulai dengan kata “sebab”, yang menunjukkan hubungan logis antara ayat 13 dan 14:
13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. 14 Sebab, semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah. (Rm 8:13-14)
Kita tidak akan dipimpin oleh Roh kecuali kita mengizinkan Roh untuk “mematikan” perbuatan-perbuatan daging. Jika kita melewatkan bagian tentang mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan mencoba untuk langsung menuju kehidupan indah yang dipimpin oleh Roh—bahkan mengalami gempa bumi dari Allah—kita akan kecewa. Kehidupan yang indah dalam Roh datang hanya setelah Roh telah mematikan daging dalam diri kita. Pertama kematian, kemudian kehidupan, dalam urutan itu.
Perbuatan daging
Lalu, apa saja perbuatan daging? Paulus memberi tahu kita:
Pekerjaan dari nafsu kedagingan sudah jelas, yaitu dosa seksual, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, kuasa gelap, kebencian, perbantahan, iri hati, kemarahan yang tak terkendali, kepentingan diri sendiri, perselisihan, perpecahan, kecemburuan, mabuk-mabukan, pesta pora, dan sejenisnya. Aku peringatkan kamu sekarang, seperti yang sudah aku peringatkan sebelumnya, siapa yang melakukan hal-hal itu tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. (Gal 5:19-21)
Mereka yang melakukan perbuatan daging tidak akan mewarisi Kerajaan Allah. Anda mungkin berkata bahwa Anda tidak melakukan sebagian besar dari hal-hal ini. Namun, hanya diperlukan satu perbuatan untuk menjadi bersalah atas semuanya, sama seperti Anda hanya perlu melanggar satu perintah untuk menjadi bersalah karena melanggar seluruh hukum (Yak 2:10; Gal 5:3). Penyembahan berhala atau kemabukan mungkin tidak berlaku bagi Anda, tetapi bagaimana dengan kecemburuan atau kemarahan? Berapa banyak dari kita yang dapat menyelesaikan daftar ini dan tidak bersalah?
Paulus tidak berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya, melainkan orang-orang percaya di Galatia. Ia memberi tahu mereka bahwa jika mereka melakukan perbuatan-perbuatan daging, mereka tidak akan mewarisi Kerajaan Allah, bahkan jika mereka mengaku percaya kepada Yesus. Namun, berbeda dengan perbuatan-perbuatan daging, kehidupan yang berkelimpahan dicirikan oleh buah Roh: “Akan tetapi, buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, keramahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Tidak ada hukum yang melawan hal-hal ini.” (Gal 5:22-23)
Mati terhadap dunia
Akhirnya, kita mati bukan hanya terhadap dosa, tetapi juga terhadap dunia: “Semoga aku tidak pernah memegahkan diri kecuali dalam salib Tuan kita, Yesus Kristus. Melalui salib-Nya, dunia sudah disalibkan untuk aku, dan aku untuk dunia.” (Gal 6:14)
Jika kita bersatu dengan Kristus, kita juga disalibkan bagi dunia. Kita mati bagi dunia dan dunia mati bagi kita. Jika Anda telah mati bersama Kristus, melalui salib itu Anda mati bagi dunia, dan dunia bagi Anda.
Di sini “dunia” tidak merujuk kepada danau, pohon, gunung, burung. Kita tidak mati terhadap hal-hal ini. Sebenarnya hal-hal ini menjadi lebih berarti bagi kita daripada sebelumnya, karena sekarang kita melihat kemuliaan Allah di dalamnya. Dalam Alkitab, “dunia” merujuk kepada sistem dunia yang diperbudak oleh dosa. Seluruh dunia berada di bawah kuasa Iblis, si jahat (1Yoh 5:19). Jika kita telah mati terhadap dosa, kita juga akan mati terhadap dunia. Kita telah dibebaskan dari nilai-nilai dunia dan cara berpikir yang didominasi oleh dosa.
Kita hidup di dunia yang kotor. Semakin tinggi kedudukan Anda di dunia, semakin sengit pertempurannya dan semakin jahat taktik lawan Anda. Namun, saat Anda berada di peringkat bawah, tidak ada yang tertarik pada Anda, Anda bukan siapa-siapa.
Seorang teman baik saya di Kementerian Luar Negeri Jepang telah dua kali menulis surat kepada saya untuk memohon dukungan doa. Ia akan dipindahkan ke Afrika sebagai hukuman atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Ia menjadi korban konspirasi di kantor luar negeri tempat ia bekerja. Ia akan menjadi duta besar suatu negara pada jabatan berikutnya, tetapi seseorang menginginkan posisi itu.
Setiap negara memiliki jumlah duta besar yang terbatas, mungkin 100 hingga 150. Jabatan duta besar tidak memiliki pangkat atau prestise yang sama. Duta besar untuk negara seperti Amerika Serikat memiliki prestise yang lebih tinggi. Di peringkat paling bawah terdapat duta besar untuk negara-negara yang sulit Anda temukan di peta. Seorang duta besar tetaplah seorang duta besar, tetapi beberapa orang “lebih setara” daripada yang lain di dunia nyata.
Terjadi pertikaian internal untuk posisi duta besar yang seharusnya menjadi milik teman saya. Taktiknya sederhana: cabut jabatannya dengan memfitnahnya. Katakan kepada bos bahwa dia telah melakukan ini dan itu, dan jika bos mempercayai Anda, target Anda akan diturunkan jabatannya atau dipindahkan. Itulah yang terjadi pada teman saya, jadi dia dipindahkan ke Tanzania. Dia bisa saja menjadi duta besar untuk Prancis, yang dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi daripada duta besar untuk Tanzania. Teman saya tidak peduli dengan prestise karena dia tidak memandang rendah negara mana pun, termasuk Tanzania. Masalahnya adalah istrinya, yang kesehatannya buruk, tidak akan dapat pergi bersamanya ke Tanzania karena iklim di sana tidak cocok untuk kesehatannya. Oleh karena itu, selama penugasannya di Tanzania, dia terpisah dari keluarganya. Oleh karena istrinya yang sakit sedang mengalami kesulitan, seluruh kejadian itu membuatnya sangat sedih.
Begitulah keadaan di dunia ini. Ketika Alkitab berkata kita harus mati bagi dunia, itu berarti mati terhadap cara-cara dunia seperti itu, yang menginjak-injak orang lain. Tanpa kematian, tidak ada jalan masuk ke dalam kehidupan. Kematian ini adalah kematian sejati yang dilakukan di dalam diri kita oleh Roh Kudus, yang kemudian menuntun kita ke dalam kepenuhan hidup.
Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang.
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di
CPM Bookstore.