Pastor Eric Chang | Bab 5 |

Dalam Alkitab, komitmen berkaitan dengan kehidupan praktis, bukan teori. Kita melihat hal ini ketika kita membaca Injil Lukas untuk melihat apa yang Yesus katakan tentang keka­yaan. Sekarang kita akan melihat beberapa nas dalam ajaran Paulus, dimulai dengan 1 Timotius 6:9-10:

Orang yang ingin menjadi kaya jatuh ke dalam pencobaan dan jebakan, serta berbagai nafsu yang bodoh dan membahayakan yang akan menenggelamkan orang-orang ke dalam kehancuran dan kebinasaan.  Sebab, cinta akan uang adalah akar dari segala macam kejahatan. Orang-orang yang memburu uang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri sendiri dengan berbagai dukacita.

Mereka yang mencintai kekayaan akan jatuh ke dalam pencobaan dan jebakan, dan akan jatuh ke dalam kehancuran dan kebinasaan. Cinta akan uang adalah akar dari segala macam kejahatan. Uang mungkin tidak lebih dari sekadar kertas atau emas, tetapi keinginan akan uang telah menyebabkan banyak orang menyimpang dari iman, menyiksa diri mereka dengan banyak kesakitan. Tepat sebelum nas ini, Paulus berkata di 1 Timotius 6:6-8:

Akan tetapi, kesalehan yang disertai rasa cukup akan memberikan manfaat yang besar. Sebab, kita tidak membawa apa-apa ketika masuk ke dunia dan kita juga tidak bisa membawa apa-apa ketika keluar dari dunia ini. Jika sudah ada makanan dan pakaian, kita akan merasa cukup.

Jika kita memiliki makanan dan pakaian, kita seharusnya merasa cukup. Namun, masalah kita adalah kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki. Ada perbedaan besar antara kebutuhan dan keserakahan. Apa yang kita butuhkan jauh lebih sedikit daripada yang dituntut oleh keserakahan kita. Keserakahan tidak akan terpuaskan dengan uang berapa pun, tetapi apa yang sebenarnya kita butuhkan sangatlah sedikit. Berapa banyak makanan yang Anda makan setiap hari? Anda hanya membutuhkan sedikit makanan untuk mempertahankan hidup Anda; keserakahanlah yang membuat hidup menjadi mahal dan rumit.


Dunia ini hidup dari keserakahan

Suatu hari saya berjalan-jalan di distrik Tsimshatsui di Hong Kong dan melewati beberapa toko. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat ketika melihat harga pakaian yang dipajang. Satu jaket tampak terbuat dari katun biasa, mirip dengan yang bisa Anda dapatkan seharga HK$60 (US$8) di distrik lain di Hong Kong, tetapi di sini, di Tsimshatsui, harganya lebih dari $1.000. Saya berpikir, “Apakah jaket ini dijahit dengan benang emas?”

Pada lain waktu, istri saya sedang mencari tas kanvas kecil. Ia masuk ke sebuah toko, juga di Tsimshatsui, sambil berpikir bahwa tas yang dipajang itu mungkin murah. Ketika ia bertanya tentang harganya, pramuniaga itu berkata $1.200.

“Kamu pasti bercanda!”

“Tidak, ini tas desainer buatan Italia.”

Terbuat dari kanvas biasa, tetapi Anda harus membayar mahal untuk nama yang mewah itu. Keserakahan adalah sumber makanan bagi para pebisnis.

Lotre adalah bisnis menguntungkan yang mengandalkan kesera­kahan. Anda bertaruh beberapa dolar untuk memenangkan satu juta, lima juta, sepuluh juta. Namun, perusahaan lotrelah yang menghasilkan uang paling banyak, ratusan juta.

Hari pacuan kuda merupakan hari yang sibuk di Hong Kong dengan lalu lintas yang padat di jalan-jalan dan terowongan. Orang-orang berta­ruh beberapa dolar atas seekor kuda, berharap untuk memenangkan beberapa ribu atau puluhan ribu dolar.

Keserakahan membuat kita rentan. Pada kenyataannya, kita hanya membutuhkan sedikit uang untuk bertahan hidup, tetapi tidak ada batasan berapa banyak yang kita inginkan. Kembali ke pertanyaan tentang menyimpan uang, berapa banyak yang cukup? Sang jutawan akan menjawab, “Sedikit lagi, hanya sedikit lagi.”


Berapa banyak yang cukup?

Wajar untuk bertanya siapa yang akan membayar tagihan medis saat kita sakit, atau membiayai pendidikan anak-anak kita atau bahkan pendi­dikan kita sendiri. Kita butuh uang untuk menghidupi keluarga. Kita ingin berkeliling dunia untuk memperluas wawasan dan memperluas pandangan dunia kita. Begitu seterusnya.

Di mana kita menarik garis batasnya? Berapa banyak yang harus kita tabung? Itu pertanyaan yang wajar. Apakah itu berarti orang Kristen tidak boleh menabung untuk masa pensiun mereka? Ketika mereka menjadi tua, siapa yang akan memberi mereka makan? Apakah mereka akan hidup dari amal? Beberapa negara menawarkan jaminan sosial, tetapi bagaimana jika Anda tinggal di negara yang tidak menyediakannya?

Katakanlah saya memiliki $100.000 dalam mata uang tertentu di rekening bank saya. Bagaimana saya menerapkan ajaran Paulus tentang merasa cukup dengan makanan dan pakaian? Apakah Kitab Suci memberikan petunjuk tentang $100.000 itu? Masalahnya bagi kita adalah bahwa Perjanjian Baru memandang uang dan harta benda secara negatif. Sejauh ini kita belum melihat apa pun dalam Perjanjian Baru yang berbicara positif tentang kekayaan dan uang.

Jadi, apa yang harus saya lakukan dengan $100.000 di rekening saya? Dengan jumlah itu, saya tergolong kaya, tetapi tidak terlalu kaya. Oleh karena sulit, bahkan mustahil, bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, apa yang harus saya lakukan dengan uang itu? Itu adalah pertanyaan yang sangat praktis. Dalam pasal yang sama dari 1 Timotius, Paulus melanjutkan dengan mengatakan:

Sementara itu, perintahkan orang-orang kaya di zaman ini agar tidak sombong atau menaruh harapan pada kekayaan yang tidak pasti, tetapi taruhlah harapan kepada Allah, yang dengan melimpah menyediakan segala sesuatu bagi kita untuk dinikmati.  Perintahkan mereka untuk berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan-perbuatan baik, menjadi orang yang murah hati, dan siap berbagi. Dengan demikian, mereka akan mengumpulkan harta bagi diri mereka sendiri sebagai dasar yang baik untuk masa yang akan datang sehingga mereka dapat berpegang pada hidup yang sesung­guhnya.

Bagaimana saya menerapkan firman ini pada uang saya yang berjumlah $100.000? Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadi “sombong” tentang kekayaan saya, seperti yang Paulus katakan. Saya akan rendah hati tentang uang. Saya akan menaruh harapan saya bukan pada uang, tetapi pada Allah yang dengan limpah menyediakan bagi kita segala sesuatu untuk dinikmati. Dialah yang pertama-tama memberi saya $100.000, dan untuk itu saya bersyukur. Saya bersedia melakukan beberapa pekerjaan baik dan memasukkan beberapa dolar lagi ke dalam kotak persembahan.

Apakah ini cara kita menerapkan ajaran Paulus? Semua pembicaraan tentang kemurahan hati dan perbuatan baik terdengar samar bagi kita karena kita tidak tahu seberapa murah hati kita harus bermurah hati. Jika biasanya kita memberi $20, apakah sekarang kita memberi $100? Peningkatan lima kali lipat kedengarannya cukup murah hati, tetapi apakah kita telah memenuhi Kitab Suci?

Jumlah $100.000 mungkin tampak besar, tetapi di beberapa negara jumlah itu dapat hilang karena operasi besar. Jika saya memberikan uang saya kepada orang lain, siapa yang akan membayar tagihan medis saya? Kedermawanan saya mungkin telah membantu orang lain, tetapi siapa yang akan mengurus kebutuhan medis saya? Kalau begitu saya akan mendapat masalah. Ketika saya menjadi tua dan sakit, atau harus membayar pendidikan anak-anak saya, apakah saya harus percaya kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan saya? Itu membutuhkan komitmen yang besar!

Mengapa saya tidak bisa menerima begitu saja $100.000 sebagai pemberian dari Allah? Lagipula, Paulus pernah mengatakan bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu bagi kita untuk dinikmati (1Tim 6:17), jadi mengapa kita tidak bisa menyimpannya untuk masa sulit? Jika Allah yang memberi saya $100.000 itu, mengapa saya harus memberi­kannya hanya untuk mencari pertolongan-Nya lagi?


Bagaimana dengan gereja yang kaya?

Jemaat di Yerusalem berbagi semua harta benda secara bersama-sama (Kis 2:44-45; 4:32). Apa artinya itu bagi saya? Jika saya bergabung dengan sebuah gereja dengan dana bersama yang membiayai kebutuhan semua orang, mungkin saya tidak perlu menyimpan $100.000 itu. Gereja akan memenuhi kebutuhan saya. Itu tampaknya ideal. Dengan memberikan semua uang saya kepada gereja, uang itu tidak akan tertahan di rekening bank, tetapi akan beredar untuk memenuhi kebutuhan jemaat gereja.

Namun, masalahnya adalah gereja itu sendiri yang akan menjadi kaya! Bukan individu yang menimbun kekayaan, tetapi gereja yang menimbun kekayaan. Apakah kita memecahkan masalah kita dengan membuat gereja menjadi kaya? Sebenarnya gereja yang kaya akan menemukan dirinya dalam situasi rohani yang berbahaya. Yesus berkata kepada gereja di Laodikia: “Karena kamu berkata, ‘Aku kaya, berkelim­pahan, dan tidak kekurangan apa-apa,’ dan tidak tahu bahwa sesung­guhnya kamu sengsara, malang, miskin, buta, dan telanjang” (Why 3:17).

Bahaya kekayaan sama nyatanya bagi gereja maupun bagi individu. Hal ini tidak mengherankan mengingat gereja terdiri dari para individu. Gejala-gejala yang dijelaskan dalam ayat ini berlaku bagi gereja dan individu. Pada tingkat individu, orang Kristen yang kaya itu malang, sengsara, miskin, buta, dan telanjang. Uang tidak dapat membeli kebaha­giaan atau kedamaian batin yang berasal dari buah Roh. Penyakit-penyakit yang sama ini ditemukan di gereja di Laodikia. Menjadikan gereja kaya bukanlah jawaban atas masalah tentang apa yang harus dilakukan dengan uang kita. 

Bahaya lain dari dana bersama adalah kita tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi akan bergantung pada dana tersebut. Saya mendengar bahwa beberapa orang menjadi biarawan Katolik karena alasan ini. Setelah mereka bergabung dengan biara, gereja akan mengurus kebutuhan materi mereka selama sisa hidup mereka. Ketika mereka meninggal, gereja bahkan akan mengurus pemakaman mereka. Dengan demikian, iman kita menjadi horizontal, bukan vertikal.


Dipimpin oleh Roh Allah

Lalu bagaimana kita menangani masalah uang bagi individu dan gereja? Jawabannya kembali ke Roma 8:14:

“Sebab, semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah.”

Jawabannya ditemukan dalam pimpinan Roh. Jika kita bersedia dipimpin oleh Roh sebagai gereja atau sebagai individu, Allah akan menunjukkan kepada kita apa yang harus kita lakukan dengan uang kita. Tidak seorang pun dapat memberikan jawaban yang spesifik atas pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dengan uang $100.000 milik Anda itu. Paling-paling kita dapat mengatakan bahwa jika Anda adalah anak Allah, atau ingin menjadi anak Allah, Anda harus dipimpin oleh Roh. Anda harus bertanya kepada Allah apa yang harus dilakukan dengan uang $100.000 tersebut. Tidak seorang pun dapat menjawab pertanyaan tersebut untuk Anda. Siapa pun yang memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan dengan uang tersebut, berarti ia mengasumsi­kan wewenang yang tidak berhak ia miliki.

Berkomitmen kepada Allah berarti bersedia dipimpin oleh Roh dalam segala situasi. Namun, ada peringatan: Jika Anda dipimpin oleh Roh, Anda akan mengalami pertentangan batin terhadap pimpinan itu. Galatia 5:22 berbicara tentang buah Roh, tetapi konteksnya juga menga­takan bahwa daging dan roh saling bertentangan. Orang yang tidak percaya biasanya tidak menyadari pertentangan ini karena ia hidup sesuka hatinya. Namun, ketika Anda menjadi orang Kristen, hidup tiba-tiba menjadi rumit karena setiap kali Anda ingin berbuat dosa, sesuatu datang dan melawan dorongan hati Anda. Setiap kali Anda memiliki pikiran yang berdosa, pikiran lain datang dan mulai melawannya. Anda merasa bahwa Anda ditarik terpisah.

Kehidupan Kristen akan sangat sulit jika Anda membiarkan daging—yaitu, cara berpikir lama Anda, kebiasaan lama Anda, sifat lama Anda—untuk menjalankan kendalinya dalam hidup Anda, karena Roh Kudus tidak akan menoleransi hal itu. Ini akan mengarah pada konflik batin di mana daging menarik Anda ke satu arah dan Roh ke arah yang lain. Agar dipimpin oleh Roh tanpa konflik, Anda harus menanggalkan sifat lama.

Namun, ketika Anda dipimpin oleh Roh, setiap pengalaman dari Allah akan memiliki tanda-Nya sehingga Anda akan tahu bahwa itu berasal dari Allah. Pengalaman Anda tentang Allah akan sama nyatanya dengan pengalaman Anda tentang dosa. Setelah Anda berdosa, Anda segera menyadari bahwa Anda telah berdosa. Demikian pula, ketika Anda dipimpin oleh Roh, Anda menyadari adanya tuntunan, karena ada aspek yang meneguhkan diri di dalamnya.


Hati yang baru, roh yang baru

Allah Yahweh berfirman di Yehezkiel 36:26-27:

Aku akan memberimu sebuah hati yang baru, dan roh yang baru akan Aku taruh di dalammu; dan Aku akan membuang hati batu dari tubuhmu dan memberimu hati daging. Aku akan menaruh Roh-Ku ke dalammu, dan membuatmu berjalan dalam ketetapan-ketetapan-Ku, dan kamu akan berhati-hati untuk mematuhi peraturan-peraturan-Ku.

Dalam Kitab Suci, kata “daging” biasanya memiliki makna negatif, tetapi di sini kata tersebut diberi makna positif sebagai kontras terhadap dinginnya batu. Akan tetapi, penting untuk diingat bahwa kata “daging” di luar nas ini biasanya memiliki makna negatif.

Apa perbedaan antara hati batu dan hati daging? Kita tidak berbicara tentang hati yang fisik, tetapi tentang kepekaan terhadap Allah. Semen­tara batu itu dingin dan tidak peka, daging peka terhadap sentuhan, rasa sakit, dan suhu. Dipimpin oleh Roh berarti peka terhadap Allah.

Banyak orang Kristen tidak dipimpin karena mereka tidak peka secara rohani, memiliki hati batu dan bukan hati daging. Allah tidak dapat berbicara kepada mereka karena hati mereka tidak menanggapi-Nya. Namun, ketika kita menerima Roh-Nya, Dia akan memberi kita hati yang baru dan hidup yang baru. Ketika Anda peka terhadap pimpinan Roh, Anda akan terkejut melihat betapa besar kerelaan Allah untuk memimpin Anda.

Bagaimana saya akan dipimpin oleh Roh? Apa yang harus saya laku­kan? Paling tidak, saya harus bersedia dipimpin. Namun, apakah kesediaan saja cukup? Kesediaan Anda akan diuji saat Roh membawa perubahan dalam hidup Anda, dan Anda berjuang untuk menentukan apakah akan mengikuti pimpinan tersebut. Anda mungkin dapat berta­han dalam pergumulan semacam ini untuk waktu yang singkat, tetapi dapatkah Anda terus seperti ini dalam jangka panjang? Saat kesulitan atau tekanan muncul, apakah kesediaan Anda akan bangkit menghadapi tantangan tersebut? Apa yang akan Anda lakukan saat Anda menghadapi ujian terakhir dan nyawa Anda dipertaruhkan? Kemartiran kedengaran­nya hebat, dan beberapa orang berharap untuk mengalami­nya suatu hari nanti, tetapi kebanyakan orang Kristen tidak menyambut kemartiran.

Dalam kehidupan nyata, hal-hal yang menghalangi orang Kristen untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus biasanya adalah masalah-masa­lah kecil yang menggerogoti kemauan mereka. Tembakan penembak jitu, bukan tembakan artileri, yang melemahkan banyak prajurit dan membuatnya menjadi sangat gugup. Pemahatan yang lambat secara perlahan-lahan yang menyebabkan seluruh struktur bangunan runtuh. Ketika orang Kristen runtuh, dalam banyak kasus itu bukan karena malapetaka besar, tetapi karena komitmen mereka yang terkikis secara perlahan-lahan.


Anak dan hamba

Orang yang bersedia dipimpin oleh Roh Kudus tanpa syarat adalah orang yang berkomitmen kepada Allah. Kata “tanpa syarat” penting karena hamba tidak menetapkan syarat apa pun. Namun, Anda mungkin bertanya: Bukankah semua ajaran tentang perhambaan ini dinegasikan oleh fakta bahwa kita adalah anak-anak Allah?

Saya akan mengawali jawaban saya untuk pertanyaan ini dengan sebuah pernyataan yang akan saya buktikan segera dari Kitab Suci: Dalam ajaran Kitab Suci, pertanyaannya bukanlah apakah Anda memilih untuk menjadi hamba atau anak. Faktanya adalah bahwa Anda adalah anak hanya jika Anda adalah hamba. Jika Anda bukan hamba, Anda bukanlah anak. Dengan kata lain, menjadi anak dan menjadi hamba bukanlah dua hal yang terpisah dalam Kitab Suci, tetapi dua gambaran dari hal yang sama. Jika Anda seorang hamba, Anda adalah seorang anak, dan sebaliknya.

Bukti pertama untuk hal ini datang dari Roma 6 yang mengatakan bahwa kita telah dibebaskan dari perhambaan dosa dan telah menjadi hamba-hamba Allah. Anda adalah salah satunya, baik hamba dosa atau hamba Allah, tanpa jalan tengah di antara keduanya. Tidak seorang pun di dunia ini yang benar-benar bebas dalam arti absolut karena Anda adalah hamba sesuatu, baik hamba dosa atau hamba Allah. Namun di sisi lain, kita dapat mengatakan bahwa hamba-hamba Allahlah yang bebas dalam arti yang nyata dan berdasarkan pengalaman karena mereka juga adalah anak-anak Allah. Sementara Roma 6 berbicara tentang kita seba­gai hamba-hamba Allah, Roma 8 berbicara tentang kita sebagai anak-anak Allah (terutama 8:14 tentang pimpinan Roh). Para hamba Allah di Roma 6 adalah anak-anak Allah di Roma 8.

Kedua, dalam Alkitab, anak dan hamba adalah dua aspek dari hal yang sama. Anda tidak dapat menjadi salah satunya tanpa menjadi yang lain. Definisi Perjanjian Baru tentang anak berbeda dari konsep manusia tentangnya. Alkitab mendefinisikan anak sebagai orang yang taat kepada Allah dan kehendak-Nya. Kita melihat hal ini di Matius 12:50 (dan paralelnya di Markus 3:35 dan Lukas 8:21): “Karena siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang ada di surga, dialah saudara laki-laki-Ku, saudara perempuan-Ku, dan ibu-Ku.”

Yesus adalah Anak Allah, jadi siapa pun yang menjadi saudara Yesus juga adalah anak Allah (sebutan umum orang Kristen, Mat 5:9; Rm 8:14; Gal 3:26). Dan siapakah saudara Yesus dan dengan demikian anak Allah? Orang yang melakukan kehendak Bapa di surga. Dalam sebuah paralel, Lukas 8:21, Yesus berkata, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku adalah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”. Oleh karena itu, seorang anak Allah adalah orang yang menaati kehendak Allah dan firman Allah tanpa syarat. Definisi unik tentang anak Allah ini juga berlaku bagi seorang hamba Allah, karena seorang hamba juga menaati kehendak tuannya tanpa syarat. Dari semua ini, kita melihat bahwa menjadi anak dan menjadi hamba berarti hal yang sama bagi orang Kristen. Yesus berkata kepada murid-muridnya:

15 “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti semua perintah-Ku. 16 Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong yang lain, supaya Ia bersamamu selamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran, yang tidak dapat diterima dunia, karena dunia tidak melihat Dia atau mengenal Dia; tetapi kamu mengenal Dia karena Ia tinggal bersamamu dan akan ada di dalammu.” (Yoh 14:15-17)

Apakah Anda menyebut diri Anda sebagai anak atau hamba bukanlah masalahnya; pada akhirnya masalahnya adalah apakah Anda menaati perintah-perintah Allah (ay 15). Hal ini berlaku untuk anak dan hamba dengan cara yang sama. Perbedaan antara anak dan hamba adalah masalah terminologi. Dalam praktiknya keduanya sama karena kedua­nya berkomitmen untuk menaati perintah-perintah Allah dan melaku­kan kehendak-Nya.

Bukti ketiga untuk kesetaraan fungsional antara anak dan hamba adalah pekerjaan Roh. Orang yang menaati perintah-perintah Allah diberikan Roh Kudus (Kis 5:32) yang adalah Penolong dan Roh kebe­naran (Yoh 14:16-17, yang baru saja dikutip). Di sisi lain, Yohanes 1:12 mengatakan, “Namun, mereka yang menerima Dia diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya.” Apakah kuasa ini? Mengapa Yohanes memasukkan gagasan tentang kuasa? Itu merujuk kepada Roh Kudus. Menerima kuasa ini berarti menerima Roh. Itu juga merupakan hak untuk menjadi anak-anak Allah, karena anak-anak Allah adalah mereka yang dipimpin oleh Roh (Rm 8:14), setelah “menerima Roh yang telah mengangkat kamu menjadi anak-anak Allah” (ay 15).

Jika Anda belum menerima Roh Kudus atau tidak dipimpin oleh Roh Kudus, Anda bukanlah anak Allah, meskipun Anda telah dibaptis. Roh Kudus adalah kunci kehidupan Kristen. Tidak ada kehidupan Kristen tanpa Roh Kudus. Dengan menerima Roh Kudus, Anda diberi hak untuk menjadi anak Allah. Dengan hak itu datanglah tanggung jawab untuk dipimpin oleh Roh Kudus setiap saat. Jika Anda seorang Kristen, apakah Anda bersedia membiarkan Roh Kudus memimpin Anda dalam cara-cara praktis seperti: Apa yang harus saya lakukan dengan uang di reke­ning bank saya? Apa yang harus saya lakukan terhadap dosa-dosa masa lalu saya? Bagaimana saya menyelesaikan masalah hubungan saya dengan saudara-saudari seiman? Pimpinan Roh Kudus berkaitan dengan kehidupan praktis sehari-hari.


Tautan pertama: Percaya berarti mengikuti

Kita telah melihat dari Yohanes 1:12 bahwa menerima Allah berarti percaya kepada-Nya, dan hal yang sama dapat dikatakan tentang Anak-Nya Yesus Kristus, yang diutus oleh Bapa (Yoh 6:38, 39, 44; 7:16, 28, 33). Jika menerima berarti percaya, percaya berarti mengikuti, sebagaimana terlihat dengan membandingkan dua pernyataan berikut:

Aku telah datang sebagai Terang ke dunia ini, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku tidak tinggal dalam kegelapan. (Yoh 12:46)

Akulah terang dunia. Setiap orang yang mengikut Aku tidak akan berjalan dalam kegelapan, tetapi akan mempunyai terang hidup. (Yoh 8:12)

Kedua ayat tersebut berbicara tentang berpaling dari kegelapan. Ayat pertama menghubungkan hal ini dengan percaya kepada Yesus, sedang­kan ayat kedua dengan mengikuti Yesus. Bersama-sama, keduanya menunjukkan padanan fungsional antara “percaya” dan “mengikuti”. Hubungan yang sama juga terlihat di Yohanes 10:26-27: “Akan tetapi, kamu tidak percaya karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.”


Tautan kedua: Mengikuti berarti melayani

Kita sampai pada tautan fungsional berikutnya: Mengikuti Yesus berarti melayani dia. “Jika seseorang melayani Aku, ia harus mengikuti Aku; di mana Aku berada, di situ pula pelayan-Ku berada; jika seseorang melayani Aku, Bapa akan menghormati dia” (Yoh 12:26).

Di sini kata Yunani untuk “melayani” (diakoneō) terkait dengan kata yang menjadi asal kata bahasa Indonesia “diaken”. Kata ini berbeda dengan kata untuk melayani sebagai hamba. Akan tetapi, dalam Perjan­jian Baru, hanya ada sedikit perbedaan praktis antara keduanya. Di satu sisi, Yesus berkata, “Aku ada di tengah-tengahmu sebagai orang yang melayani” (Luk 22:27), menggunakan kata yang menjadi asal kata diaken. Di sisi lain, Yesus mengambil “rupa seorang hamba” (Flp 2:7). Oleh karena itu, kata melayani dan hamba diterapkan kepadanya tanpa perbedaan makna yang berarti.


Tautan ketiga: Melayani berarti mati

Sekarang tibalah bagian yang sulit tentang komitmen: melayani berarti mati. Jika Anda sungguh-sungguh ingin berkomitmen kepada Allah dan mengikuti pimpinan Roh, Anda harus tahu ke mana Tuan akan menun­tun Anda: ke salib. “Jika ada yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya sendiri, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24).

Kita telah melihat bahwa Roh Kudus adalah kunci kehidupan Kristen; tanpa Roh Kudus tidak ada kehidupan Kristen. Prinsip terkait adalah bahwa kehidupan rohani datang melalui kematian. Prinsip ini, bahwa tidak ada kehidupan tanpa kematian, terlihat dalam beberapa nas Perjanjian Baru, misalnya:

23 Kata Yesus kepada mereka, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Namun, jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 25 Siapa yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeli­haranya untuk hidup yang kekal. (Yoh 12:23-35 TB2)

Membenci nyawa di dunia mungkin tampak radikal, tetapi itulah jalan menuju buah rohani (ay 24). Sebutir gandum tetaplah sebutir yang tidak menghasilkan apa pun sampai jatuh ke tanah dan mati. Bagaimana satu butir gandum menjadi banyak? Bagaimana ia mewariskan kehidupan? Dengan cara dikubur di dalam tanah. Kemudian muncullah tangkai yang nantinya akan memiliki banyak bulir. Sebutir gandum menjadi banyak bulir, karena kehidupan dan buah berasal dari kematian.

Dan siapakah yang memperoleh hidup kekal? Bacalah ayat ini dengan saksama dan jangan biarkan guru palsu mana pun mengalihkan Anda dengan ajaran anugerah yang murahan. Yesus berkata, “siapa yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”. Untuk memelihara hidup Anda untuk selamanya, Anda harus membenci nyawa Anda di dunia ini.

Apa artinya membenci nyawa Anda? Ada orang yang rela mati demi negaranya; mereka menganggap negaranya lebih penting daripada nyawa mereka sendiri. Mereka “membenci” nyawa mereka dalam artian mereka menghargai sesuatu yang lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri.

Sebaliknya, Anda tidak akan menyerahkan hidup fisik Anda kecuali Anda melihat hidup kekal sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada hidup fisik Anda. Dibutuhkan komitmen total untuk membenci hidup Anda, untuk menyangkal hidup Anda. Tidak ada komitmen yang lebih tinggi daripada itu.

Kata “benci” menyampaikan intensitas. Membenci nyawa tidak sama dengan menyerah secara pasif terhadap kematian. Jika Anda sekarat karena penyakit terminal, tidak akan ada bedanya apakah Anda membenci nyawa Anda atau tidak. Tidak ada artinya membicarakan tentang membenci nyawa Anda saat nyawa itu akan segera berakhir. Namun, selagi Anda masih dalam kondisi kesehatan yang cukup baik, Anda memiliki kesempatan untuk membuat keputusan yang berarti untuk membenci nyawa Anda sendiri.

Dalam hal alur konseptual, penting bahwa ayat 24 merupakan jembatan antara ayat 23 dan ayat 25. Ayat 23 mengatakan bahwa Anak Manusia akan “dimuliakan,” yang dalam Injil Yohanes berarti bahwa Yesus akan disalibkan. Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang dirinya sendiri sebagai orang yang “ditinggikan” (ay 32), permainan kata yang memiliki makna ganda: pemuliaan dan penyaliban. Tindakan mengarah ke atas dalam “ditinggikan” mengungkapkan pemuliaan, tetapi juga penyaliban, karena salib secara harfiah ditinggikan pada saat penyaliban. Kematian Yesus adalah pemuliaannya sedangkan dunia melihat penya­liban sebagai penghinaan tertinggi; pada kenyataannya, dia disalibkan di antara dua perampok. Namun dalam pemikiran rohani, apa yang merupakan penghinaan di mata dunia adalah pemuliaan di dalam Kristus.

Sementara ayat 23 merujuk kepada Yesus, ayat 25 merujuk kepada kita. Gambaran tentang sebutir gandum (ay 24) terjepit di antara kedua ayat tersebut. Oleh karena itu, gambaran ini berlaku bagi Yesus dan bagi kita, yang menghasilkan gambaran yang indah tentang kehidupan rohani. Di sini kita melihat komitmen Kristus yang mutlak kepada kita. Melalui kematiannya sebagai sebutir gandum, ia mewariskan hidupnya kepada Anda dan saya. Kematiannya memberi kita hidup. Satu kehi­dupan telah berlipat ganda menjadi banyak kehidupan. Namun, Yesus tidak membiarkan proses itu berhenti di situ. Petani menyimpan seba­gian kecil dari panen untuk penaburan berikutnya, untuk memperoleh panen berikutnya. Tahun demi tahun akan ada panen baru. Cara untuk memperoleh manfaat dari kehidupan yang Yesus wariskan kepada kita bukanlah dengan menyimpannya untuk diri kita sendiri, tetapi membi­arkannya jatuh ke tanah dan mati, untuk mewariskan kehidupan kepada orang lain.

Satu atribut penting dari kehidupan adalah kemampuan untuk mewariskan kehidupan. Roma 4:19 mencatat tentang “kematian” rahim Sarah sementara tubuh Abraham “sama seperti mati” dalam kemam­puan mereka untuk memiliki anak. Mati berarti tidak mampu meng­hasilkan kehidupan. Namun, mereka yang memiliki kehidupan dapat mewariskan kehidupan. Komitmen berarti menjalani kehidupan seperti yang Yesus jalani. Sebagaimana ia mewariskan kehidupannya kepada kita, demikian pula kita mewariskan kehidupan kepada orang lain. Orang seperti inilah yang akan memiliki kehidupan kekal.

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

 

← Back

Thank you for your response. ✨