previous arrow
next arrow
Slider

 

Keith Green | 21 Februari 2007

Kita akan melihat pada kehidupan dan kebodohan seorang yang bernama Bileam. Dia adalah seorang nabi Allah yang menyalahgunakan karunia dan hubungannya dengan Allah demi keuntungan pribadi. Kiranya kita dapat mempelajari pelajaran yang berharga yang dipelajari oleh Bileam lewat cara yang keras.

Semuanya bermula di Bilangan 22. Anak-anak Israel sedang bergelandangan melewati padang gurun, dan mereka baru saja menyerang, membunuh dan menjarah suku Amori. Balak, raja Moab, melihat semua itu, dan dia mulai memikirkan apa yang bakal terjadi kepada mereka! Balak khawatir, bangsanya akan menjadi korban selanjutnya dan mulai mencari ‘asuransi’ dengan berusaha mendekat dan memenangkan nabi Allah, Bileam ke pihaknya.

Raja ini mengirim utusan kepada Bileam dengan pesan: “Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; dan mereka sedang berkemah di depanku. Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.”’ (Bil. 22:5,6)

Rupanya, Bileam telah membangun reputasi yang hebat! Jika dia mengatakan seseorang itu diberkati, mereka benar-benar diberkati – dan jika dia mengatakan bahwa mereka dikutuk, maka tamatlah riwayat mereka! Lagi pula, siapa yang akan memperkerjakan seorang untuk datang dan mengutuk musuh mereka jika mereka pikir hal itu tidak akan berhasil? Kita tidak tahu sejarah Bileam, tetapi kita tahu bahwa Tuhan berbicara kepadanya, dan juga seolah-olah Allah sangat familiar dengan dia.  Bileam mengenal Tuhan, dan semua orang tahu bahwa dia mengenal Tuhan.

Jadi Balak mengutus pemimpinnya untuk bertemu Bileam, dan membawa ‘upah penenung’.

‘Setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak. Lalu berkatalah Bileam kepada mereka: “Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.” Kemudian datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: “Siapakah orang-orang yang bersama-sama dengan engkau itu?” Dan berkatalah Bileam kepada Allah: “Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka.” Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam: “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.”’ (Bil. 22:7-12)

Itu saja. Jangan pergi bersama mereka. Tidak ada pesan yang lebih jelas dari itu! Allah tidak selalu memberitahu Anda kenapa. Dia mungkin hanya berkata, ‘Tidak.’ Namun, rupanya Bileam punya hubungan yang begitu baik dengan Allah sehingga Allah memberitahunya kenapa dia tidak harusnya pergi, ‘Janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.’

Perak dan Emas

Apa yang Bileam katakan kepada para utusan itu? ‘Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu.’ (Bil. 22:13) Dan berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai kepada Balak, berkatalah mereka: ‘Bileam menolak datang bersama-sama dengan kami.’ Lalu, Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. Mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka kepadanya: “Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang kepadaku, sebab aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.”’ (Bil. 22:14-17)

Mari kita lihat lebih dekat lagi dengan jawaban Bileam di ayat 13. Sekelompok orang datang dan berkata kepadanya, ‘Kami ingin engkau datang dan mengutuk orang-orang ini.’ Namun, saat Bileam bertanya Allah, Dia menjawab, ‘Tidak. Orang-orang itu telah diberkati, dan Aku tidak mau engkau menyakiti mereka.’ Bileam harusnya dengan gamblang memberitahu mereka, ‘Aku tidak boleh mengutuk orang-orang ini karena Allah berkata mereka itu umat yang diberkati.’

balaam1Namun, apa yang Bileam katakan kepada para utusan itu? ‘Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu’. Apa artinya itu? Dia berharap bisa pergi, tetapi ‘Tuhan tidak akan membiarkan dia.’ Ingatkah dengan ‘biaya ramalan’ itu? Bileam mendapat bayaran atas ‘pekerjaannnya’. Tidak ada yang aneh tentang hal itu pada masa itu – adalah adat untuk membawa hadiah saat Anda mencari firman Allah dari seorang nabi. Bileam tahu ada banyak uang bisa diperolehnya, dan yang sebenarnya dia katakan adalah, ‘Saya ingin pergi, tapi saya tidak bisa.’

Mari kita menempatkan ini dalam suasana modern. Seseorang meminta Suzy berkencan, tapi ibunya berkata, ‘Tidak, kurasa dia tidak cukup dewasa untukmu,’ atau semacamnya. Kini ada dua cara Suzy bisa merespon ajakan itu. ‘Baiklah, saya sudah bertanya kepada ibu saya, dan dia menunjukkan beberapa alasan bagus mengapa saya tidak boleh pergi. Dia tidak merasa bahwa ini adalah hubungan yang benar, dan saya percaya padanya, dan saya benar-benar percaya bahwa saya seharusnya mematuhinya.’ Atau, ‘Oh, saya benar-benar ingin pergi, tapi ibu saya tidak izinkan saya!’ Jika dia menggunakan metode nomor dua, yang dia lakukan hanyalah mendorong orang ini untuk menemukan cara agar Suzy tidak mematuhi ibunya. Jika seseorang tahu bahwa Anda benar-benar ingin melakukan sesuatu, bahkan jika Anda tidak seharusnya melakukannya, itu akan mendorong mereka untuk terus berusaha membuat Anda berubah pikiran. Namun jika mereka tahu bahwa Anda yakin karena keyakinan kuat di dalam hati Anda sendiri, mereka lebih cenderung menyerah.

Banyak dari Anda pergi kepada Tuhan dan berkata, ‘Tuhan, saya sangat menginginkan seorang suami’, atau ‘Saya sangat menginginkan seorang istri.’ ‘Saya sangat menginginkan pekerjaan ini. Saya sangat menginginkan pelayanan ini. Saya sangat menginginkan ini’. Dan mungkin Tuhan berkata. ‘Tidak’. Sekarang jika Anda tidak dapat mematuhi dengan sukacita di dalam hati Anda, maka Anda sedang mencari masalah. Jika tanggapan Anda adalah, ‘Wah, saya benar-benar ingin pergi, tapi Tuhan tidak mengizinkan saya,’ Anda perlu melihat betapa jahatnya hal itu, dan menyadari bahwa Anda membuka diri untuk segala macam serangan. Jika iblis tahu Anda yakin bahwa Tuhan adalah yang paling bijaksana, dan bahwa Anda tahu yang terbaik adalah untuk mengikuti nasihat-Nya, maka dia tidak memiliki titik serangan. Namun jika dia tahu Anda kurang yakin, maka yang akan dia lakukan hanyalah membuat Anda percaya bahwa pendapat Anda lebih baik, lebih cerdas, atau lebih menyenangkan daripada asas-asas Tuhan. Ada perbedaan besar antara hanya menaati Tuhan di luar, dan menaati dari hati yang bersyukur, bersuka dan berserah.

Apakah Harga Anda?

Sekarang, kembali ke Bileam. Sangat jelas Bileam berharap untuk pergi. ‘Dan berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai kepada Balak, berkatalah mereka: “Bileam menolak datang bersama-sama dengan kami”. Lalu, Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama.

Pikir Balak, ‘Baiklah, saya harus membuat Bileam terkesan.’ Maka dia mengirim sekelompok pemimpin yang lebih terkemuka. Dan ketika Bileam melihat mereka datang, Anda bisa menebak apa yang dia pikirkan – ‘Baiklah, baiklah, sekarang mereka mengirim orang-orang penting. Terakhir kali itu hanya para utusan. Kali ini orang-orang penting semua. Saya harusnya orang yang lumayan penting …’. Bileam jelas tergoda, jadi Balak mengirim godaan yang lebih  ‘menggoda’, yang lebih berkualitas dan lebih berkuantitas.

Sebuah jajak pendapat diambil di Amrik dan para pria dan wanita ditanya, berapa banyak uang yang dibutuhkan agar mereka setuju untuk tidur dengan orang asing. Jumlah rata-rata untuk pria adalah USD 10. Rata-rata untuk wanita adalah USD 10.000. Namun hampir semua orang berkata, ‘Ya, saya akan tidur dengan orang asing untuk uang USD 1 juta.’ Ini berarti – Anda bersedia menjadi pelacur asal bayarannya setimpal. Anda bersedia menyisihkan keyakinan Anda demi uang. Anda bisa dibeli. Tuhan tidak peduli dengan semahal apa harga Anda. Dia hanya peduli bahwa Anda bisa dibeli.

Akankah Anda meninggalkan kehendak Tuhan untuk Pangeran Tampan yang tinggi, gagah, dan tampan? Dia adalah seorang pendeta dan dia pernah ke sekolah Alkitab, dan semua orang mencintainya. Dia bisa bernyanyi dengan indah, dan dia bisa menuntun berbondong-bondong orang kepada Tuhan. Dia lembut dan penuh kasih, dan dia adalah segalanya yang Anda inginkan. Menurut dia Tuhan ingin kalian berdua menikah. Dia menyukai Anda dan Anda menyukainya. Hanya ada satu halangan – Tuhan telah memberi tahu Anda, ‘Tidak’. Apakah Anda masih akan menikahi dia? Apakah Anda mendapat gambarannya? Apa harga Anda? Pada titik manakah Anda bersedia untuk mengingkari Tuhan? Hal apa yang bisa membeli Anda? Apakah Anda bisa dibeli? Apakah Tuhan bisa dijual dalam hidupmu? Apakah ketaatan juga bisa dijual?

‘Biarlah saya mendoakan dulu…’

prophet for hireJadi ‘teman-teman terhormat’ ini membawa sebuah pesan kepada Bileam. ‘Begitulah kata Balak, Jangan biarkan apapun, saya mohon, menghalangi Anda untuk datang kepada saya; karena aku akan sangat memperkayakan engkau. Datanglah, kutuk orang-orang ini untukku.’ Jadi, apa yang akan Bileam katakan? Ingat, dia adalah seorang nabi Allah. Dia benar-benar Nabi Allah! Dia bukan pemuja setan. ‘Bileam menjawab dan berkata, “Meskipun Balak memberi aku rumah penuh dengan perak dan emas, aku tidak dapat melakukan apapun, baik kecil maupun besar, yang bertentangan dengan perintah Allah, Tuanku.”’ Baiklah, itu pernyataan sangat bersemangat, tetapi baris berikutnya yang membuatnya mendapat masalah. ‘Dan sekarang, tolong, kamu juga tinggal di sini malam ini, dan aku akan mencari tahu apa lagi yang akan Tuhan katakan kepadaku.’

Bileam seharusnya berkata, ‘Enyahlah. Engkau sungguh suatu batu sandungan bagiku. Enyahlah dari sini! Aku tidak akan melakukan ini, dan aku bahkan tidak mau digoda.’ Alkitab memberitahu tahu kita untuk melarikan diri dari godaan; untuk melawan iblis, dan dia akan lari darimu. Namun Bileam pada dasarnya sedang berkata kepada orang-orang ini, ‘Nongkrong di sini dulu dan biar aku pergi berbicara dengan Tuhan. Biarkan aku berdoa tentang hal itu. Mungkin Allah akan mengubah pikiran-Nya pada pagi hari.’ Kesalahan Bileam adalah – ketaatan kepada Tuhan, plus… Atau taat kepada Tuhan, tetapi…. Atau taat kepada Tuhan, dan … sesuatu yang lain. Ia mengatakan, ‘Ya Tuhan, aku akan mematuhi Engkau, tetapi …’

Berapa banyak orang yang telah ke neraka sambil ‘berdoa tentang hal itu’? Berapa banyak orang yang tidak taat kepada Tuhan yang mengatakan, ‘Saya benar-benar memiliki beban untuk hal ini,’ atau ‘Saya benar-benar merasa dipimpin untuk melakukan itu.’ Sulit untuk mempercayai begitu banyak orang yang mengatakan, ‘Baiklah, aku benar-benar sudah berdoa tentang hal itu…’ Apa yang ingin saya ketahui adalah apa yang Allah katakan kepada Anda? Berdoa tentang sesuatu tidaklah rohani. Orang Mormon berdoa. Pengikut Krishna berdoa. Banyak orang religius yang berdoa… Mendengar dari Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan katakan itulah yang rohani. Jangan pernah berkata, ‘Baiklah, aku akan melakukan ini, karena aku telah benar-benar mendoakannya,’ kecuali jika Anda dapat menyelesaikan pernyataannya: ‘Aku berdoa tentang hal itu, dan Tuhan telah menjawab saya. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku harus melakukan ini.’ Saya tidak terkesan bahwa Anda telah mendoakannya. Dan Allah juga tidak terkesan bahwa Anda telah berdoa tentang hal itu, karena doa yang paling egois adalah doa satu arah. Ini seperti mengangkat telepon, memutar nomor, dan Anda yang melakukan semua pembicaraan – lalu menutup telepon sebelum orang yang mendengarkan dapat berbicara kembali!

Bileam berpikir, ‘mungkin aku bisa mendapatkan hadiah penghiburan itu.  Mungkin aku tidak akan mendapatkan kekayaan dan kehormatan dan rumah yang penuh dengan perak dan emas, tetapi mungkin aku bisa memberi tahu mereka sedikit tentang sesuatu dan mendapatkan seekor babi. Mungkin bukan 1 juta dolar, tetapi mungkin mereka akan memberi aku 1,000 dollar?’

Anda memintanya – Anda Mendapatkannya!

Allah datang ke Bileam di malam hari dan berkata kepadanya, ‘Jika orang-orang datang untuk memanggil kamu, bangkit dan pergi bersama mereka, tetapi hanya lakukan apa yang Ku-firmankan kepada kamu.’ Sepertinya tidak ada sesuatu yang berbahaya atau adanya amarah dalam jawaban Allah kepada Bileam. Namun Bileam pernah sekali bertanya kepada Tuhan dan jawaban dari Tuhan adalah, ‘Tidak,’ dan kemudian Bileam masih bertanya untuk kedua kalinya. ‘Mari mencari tahu apa lagi yang Tuhan akan katakan kepadaku. Tuhan, aku tahu Engkau sudah berkata kepadaku, ‘Tidak’, lalu apa lagi yang akan Engkau katakan?’ Jangan pernah bertanya kepada Tuhan lagi. Dia memberi Anda kata-Nya yang terakhir tentang sesuatu. Dia memberi Bileam ‘TIDAK’ yang pasti! Dan Allah juga sudah memberitahunya kenapa. Namun Bileam berkata,  ‘Aku ingin mencari tahu lagi.’ Nah, Allah memberi padanya apa yang dia mau. Ketika Bileam kembali pada Tuhan untuk kedua kalinya, Bileam yang saya anggap sebagai orang yang tidak taat dan serakah, Allah memberikan dan mengatakan apa yang ingin didengarnya. ‘Tentu saja, silakan.’  Kenapa? Anda akan lihat nanti.

Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi’. Biarlah ini menjadi suatu peringatan. Allah tidak pernah memberitahu Anda untuk melakukan sesuatu yang sudah Dia katakan tidak, melainkan Dia memberitahu Anda, kenapa dia mengubah arah-Nya. Allah memberitahu Abraham, ‘Pergi persembahkan Anak engkau sebagai korban bakar,’ tetapi kemudian dia berkata, ‘Jangan menyakiti anak itu, sekarang Aku tahu engkau takut pada Aku. Sekarang Aku tahu, engkau mengasihi aku lebih dari semuanya.’ (Kejadian 22:2-12). Allah berkata, ‘Aku mengubah arah-Ku, dan inilah alasannya.’ Namun di sini, Allah berkata, ‘Tidak’ kepada Bileam di satu kesempatan, dan selanjutnya Dia hanya berkata kepadanya, ‘Baiklah, pergilah,’ tanpa memberi alasan apa pun. Berhati-hatilah. Jika Allah berkata, ‘Tidak,’ dan kamu terus meminta, Dia mungkin saja berkata, ‘Baiklah, jika kamu tidak mau taat, silakan. Lakukan apa yang kamu mau.’

Berhati-hatilah – jika kamu terus merengek kepada Tuhan tentang pria tampan itu, setelah Dia sudah memberi tahu Anda ‘Tidak,’ sebaiknya Anda sangat berhati-hati … Anda mungkin akan mendapatkan apa yang Anda cari. Dia mungkin sering mengatakan ‘Ya,’ dan Anda harus menanggung akibatnya.

Seorang Bodoh dan Keledainya

balaam donkeyJadi Bileam menunggangi keledainya dengan para pemimpin Moab, ‘Berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya. Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan. Hal ini terjadi sampai tiga kali – keledai melihat malaikat dan dengan cepat dia menyingkir! Akhirnya keledai itu berbaring di tengah jalan. “Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali? Dan Bileam sangat terkejut sampai dia menjawab, “Karena engkau mempermain-mainkan aku”’

Gambarkan ini – Bileam berkuda dengan para pejabat, pangeran, presiden dari perusahaan kereta kuda Moab, dan mereka terjebak macet karena keledai Bileam telah berhenti di jalan. Dan orang ini adalah seorang nabi? Dia bahkan tidak tahu bagaimana menangani keledainya! ‘Karena kamu telah mencemooh saya! Jika ada pedang di tanganku, aku pasti sudah membunuhmu sekarang. Betapa marahnya dia. Dia begitu marah. Dia tidak pernah merasa malu seumur hidupnya! Dan keledai itu berkata, “Bukankah aku keledai yang kau tunggangi sepanjang hidupmu? Pernahkah aku berbuat demikian padamu?” Dan Bileam menjawab, ‘Tidak’. Lihatlah, dia bercakap-cakap dengan keledainya lagi!

Kemudian Tuhan membuka mata Bileam, dan dia melihat malaikat Tuhan berdiri di sana dengan pedang ditariknya. ‘Dan malaikat itu berkata kepadanya, “Mengapa kamu memukul keledai anda? Lihatlah, aku keluar sebagai musuh, karena jalanmu bertentangan denganku. Tapi keledai itu melihatku dan membelok ke samping. Jika dia tidak melakukannya, aku pasti akan membunuh engkau sekarang juga, dan membiarkan dia hidup.”’ Tuhan berbicara kepadanya dan berkata, ‘Keledai kamu baru saja menyelamatkan hidup kamu. Dia berusaha mencegah kamu dari kena masalah.

Dan Bileam berkata kepada malaikat itu, ‘Aku telah berdosa, karena aku tidak tahu, bahwa Engkau menghalangi aku. Kalau begitu, jika hal itu tidak menyenangkan-Mu, aku akan kembali.’ Nah, saat pertama kali membaca pernyataan Bileam di sini, kesan saya adalah bahwa dia memiliki sikap yang cukup baik. Hal itu menunjukkan bahwa ia rela kembali. Tapi sekarang saya melihat bahwa itu sebenarnya adalah jawaban yang jahat. Sama sekali jahat! Apa yang dia maksud dengan, ‘jika hal itu tidak menyenangkan-Mu”?! Apa lagi yang kamu butuhkan? Keledai Anda sedang berbicara dengan Anda, dan Anda memiliki malaikat Tuhan sendiri yang berdiri di hadapan Anda dengan pedang terhunus yang mengatakan bahwa jalan Anda bertentangan, dan Anda berkata, Jika hal itu jahat di mata Engkau, aku akan kembali!’

Tuhan sudah selesai dengan Bileam. Itu sudah titik akhirnya. Seharusnya dia berkata, Tuhan, aku telah berdosa, aku tidak tahu Engkau berdiri di jalan menentang aku. Engkau menyuruh aku untuk tidak pergi, dan aku akan kembali sekarang juga.Namun Bileam tidak bertobat, dan Tuhan tidak lagi bisa pakai dia. Dia tidak lagi menjadi orang pilihan Tuhan.

Hanya di Bibir

Tetapi Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.’ Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu. Ketika Balak mendengar, bahwa Bileam datang, keluarlah ia menyongsong dia sampai ke Kota Moab di perbatasan sungai Arnon, pada ujung perbatasan itu.

Dan berkatalah Balak kepada Bileam: “Bukankah aku sudah mengutus orang memanggil engkau? Mengapakah engkau tidak hendak datang kepadaku? Sungguhkah tidak sanggup aku memberi upahmu?’ Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Ini aku sudah datang kepadamu sekarang; tetapi akan mungkinkah aku dapat mengatakan apa-apa? Perkataan yang akan ditaruh Allah ke dalam mulutku, itulah yang akan kukatakan.’ (Bil. 22:34-38) Dari kata-kata di sini, tersingkap sikap Bileam. Mari saya terjemahkan bagi Anda – “Jangan omeli aku, aku sudah datang nih, tetapi aku tidak diizinkan untuk mengatakan apa yang aku ingin katakan. Aku bahkan tidak lagi punya kehendak diri. Allah sudah mengikat aku. Apa yang Dia mau kukatakan, akan kukatakan.’ Bileam tidak senang menjadi juru bicara Allah.

Saya sudah pernah bertemu dengan orang yang selalu meggerutu, “Harusnya aku bisa melakukan ini, dan melakukan itu.” Dengarkanlah, tidak ada orang yang “mengorbankan” apa pun untuk Allah. Tidak ada satu apa pun! Segala sesuatu yang telah Anda “korbankan” itu adalah sampah dibandingkan dengan apa yang sudah Allah berikan kepada Anda. Anda tidak sedang mengorbankan suatu apa pun! Tidak ada penghargaan yang lebih besar dari melayani Sang Pencipta Alam Semesta.

Bileam benar-benar gila. Pada pagi hari, Balak dan Bileam menuju ke gunung yang terdekat, supaya mereka bisa melihat ke luar dan melihat bangsa Israel. Bileam membangun beberapa altar dan mempersembahkan korban, lalu dia pergi ‘mencari Tuhan’. Kemudian TUHAN menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam dan berfirman: ‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’ Ketika ia kembali, maka Balak masih berdiri di situ di samping korban bakarannya, bersama dengan semua pemuka Moab. Lalu Bileam mengucapkan sajaknya, katanya: “Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN?” Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: “Bukankah aku harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?” (Bil 23:5-12)

Lalu, Balak mengira akan ada hal yang berbeda kalau mereka pergi ke gunung yang lain. Jadi dia mengajak Bilem ke tempat lain dan hal yang sama berulang. Bileam pulang membawa pesan dari Allah, “Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian. ‘Bangunlah, hai Balak, dan dengarlah; pasanglah telingamu mendengarkan aku, Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya. Lalu, Balak berkata kepada Bileam, “Jika sekali-kali tidak mau engkau menyerapah mereka, janganlah sekali-kali memberkati mereka.” Tetapi Bileam menjawab Balak: “Bukankah telah kukatakan kepadamu: Segala yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kulakukan.” Itu adalah omong kosong religius dari Bileam. Memang dia sedang mengatakan apa yang Allah katakan dia harus katakan, tetapi dia tidak melakukan apa yang Allah katakan dia harus lakukan.

Balak mencoba sekali lagi. “Marilah aku akan membawa engkau ke tempat lain; mungkin benar di mata Allah bahwa engkau menyerapah mereka bagiku dari tempat itu.” Bileam ini benar-benar bertingkah seperti orang bodoh. Allah tidak menyuruhnya untuk terus mengikuti Balak. Namun Bileam terus saja mengikuti Balak, dari satu gunung ke gunung yang lain. Kenapa? Kerana dia sedang mencari upah. Dia benar-benar mau menerima upah! Dia tahu dia harus mengatakan apa yang Allah mau dia katakan, tetapi dia juga sudah diupah oleh Balak untuk menyerapah, jadi dia sedang berusaha untuk mencari jalan untuk menyenangkan Allah dan menyenangkan manusia. Lalu, pergilah mereka ke gunung yang satu lagi.

Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia. ‘Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel! Sebagai lembah yang membentang semuanya; sebagai taman di tepi sungai; sebagai pohon gaharu yang ditanam TUHAN; sebagai pohon aras di tepi air.Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan. Bangsa-bangsa yang menjadi lawannya akan ditelannya habis, dan tulang-tulang mereka akan dihancurkannya. Diberkatilah orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!’

Tingkat kesabaran Balak sudah dilampaui, dia tidak tahan lagi dan dia memberitahu Bileam, sebaiknya Bileam pergi sebelum kepalanya dipancung! ‘Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: “Bukankah telah kukatakan juga kepada utusan-utusan yang kaukirim kepadaku: Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup melanggar titah TUHAN dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri; apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan.” Lalu Bileam bangkit dan kembali ke tempatnya dan Balak juga berangkat’. (Bil. 24)

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan

Saat kita melihat sekilas, sepertinya Bileam sudah sadar, dia pulang dan semuanya baik-baik saja. Namun perhatikan ‘nasihat’ yang diberikan Bileam kepada Balak. Kita tidak diberitahu langsung di sini apa nasihat itu, tetapi jika kita meneruskan pembacaan, kita akan mendapatkan gambarannya. Di ayat yang selanjutnya, kita melihat Israel telah melacurkan diri dengan anak-anak Moab. Dan benar saja, bangsa Isreal turut mengambil bagian di dalam penyembahan berhala, dan tunduk menyembah ilah-ilah mereka. Jadi, Tuhan memerintahkan Musa dan para hakim untuk membunuh semua pria yang telah mengikat diri kepada Baal. Allah telah mengirim tulah karena dosa ini, yang telah membunuh 24,000 orang.

Mari kita melihat Bilangan 31:9-16. Ini bertahun-tahun kemudian, pas sebelum Israel melawan orang Midian. (Di pertempuran ini, Bileam terbunuh. Dia mati di tangan orang Midian – umat Allah!)

Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak-anak mereka.  Gusarlah Musa kepada para pemimpin tentara itu. Musa berkata kepada mereka: “Kamu biarkankah semua perempuan hidup?”’ Perhatikan baik-baik bagian selanjutnya. “Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN.”

Jika masih ada keraguan, baca juga Wahyu 2:14.

Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.”

Itu dia. Bileam tidak dapat mengutuk Israel, tetapi dia memberikan sedikit nasihat kepada Balak: “Jika kamu mau menjerat mereka, utuslah pelacur, anak-anak perempuan, perempuan-perempuan sundal untuk menggoda mereka dan bernikah dengan mereka. Lalu undanglah mereka ke ibadah-ibadah, untuk menyembah ilah-ilah kamu, dan kamu akan mencuri hati mereka dari Tuhan mereka.” Anda tahu, Bileam lumayan pintar. Dia berkata, “Saya tidak dapat mengutuk mereka karena Tuhan tidak mengizinkan saya. Namun, dosa akan mengutuk mereka. Jika kamu bisa membuat mereka jatuh dalam dosa, kamu tidak perlu mengutuk mereka. Dosa akan melakukannya untuk engkau.”

Bileam benar-benar bodoh. Tentu saja, dia hanya mengatakan apa yang Tuhan mau dia katakan… tetapi alih-alih berbagi perasaan Allah tentang Israel, dia hanya menaati secara lahiriah. Dia tidak membagi hati Allah untuk Israel. Dia hanya ingin mencari uang. Saya berani bertaruh, saat dia memberikan nasihat kecil itu, Balak besar kemungkinan membayarnya dan Bileam pulang ke tempat kediamannya sebagai orang kaya.

Kesimpulan

1000037559Ada dua kesalahan Bileam: Dia menggunakan karunia dan panggilan Tuhan untuk keuntungan dirinya sendiri, dan dia bertanya kepada Tuhan untuk kedua kalinya setelah Tuhan telah mengatakan “Tidak” untuk pertama kalinya. Bileam melakukan yang terbaik untuk berusaha menemukan jalan agar tidak taat kepada Tuhan. Dia mengucapkan kata-kata Tuhan, tapi dia tidak memiliki hati Tuhan. Dan jika Anda tidak berbagi hati Tuhan, Anda mungkin berpikir bahwa Anda melakukan apa yang Dia inginkan agar Anda lakukan, tapi Anda hanya kelihatan taat dari luar. Anda mungkin membaca Alkitab Anda dan mengucapkan doa dan mematuhi peraturan, tetapi di dalam hati, Anda bisa saja seorang pelayan yang sangat jahat. Pelayan yang baik adalah yang sepenuhnya tahu tentang hati dan sikap Tuhan; berbagi kebencian-Nya terhadap dosa, dan kasih-Nya bagi jiwa-jiwa … Kasih-Nya bagi orang lain dan kasih-Nya bagi Anda.

Doa

Tuhan, lewat Firman-Mu, kami memintanya agar Engkau mengajar kami ketaatan yang instan, dan takut datang kepada Anda untuk kedua kalinya setelah Engkau membuat kehendak-Mu jelas bagi kami. Bantu kami untuk selalu membiarkan hati kami sesuai dengan posisi Engkau, daripada mencoba menemukan jalan lain untuk tidak taat dan hanya mematuhi secara lahiriah. Tuhan, aku meminta agar Engkau mengoreskan pelajaran tentang Bileam di dalam hati kami dan agar kami senantiasa hidup demi kemuliaan-