Pastor Eric Chang | Bab 3 |
Banyak orang Kristen tidak memiliki dasar rohani yang kokoh
Apa sebenarnya arti kelahiran kembali (regeneration) dan pembaruan (renewal) ? Dalam bab ini, kita membahas hal-hal penting ini karena keduanya memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan kita. Kita mulai dengan Titus 3:3-7, di mana kuasa transformasinya dijelaskan:
Sebab, kita dahulu juga bodoh, tidak taat, tersesat, diperbudak oleh berbagai nafsu dan kesenangan, hidup dalam kejahatan dan iri hati, dibenci dan saling membenci. Akan tetapi, ketika kemurahan dan kasih Allah, Juru Selamat kita, dinyatakan, Ia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan benar yang kita lakukan, melainkan karena belas kasih-Nya melalui pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus, yang Ia curahkan atas kita dengan melimpah melalui Kristus Yesus, Juru Selamat kita. Jadi, setelah dibenarkan oleh anugerah-Nya, kita menjadi ahli waris sesuai dengan pengharapan akan hidup yang kekal. (Tit 3:3-7)
Perhatikan kata-kata “kelahiran kembali dan pembaruan”. Kita perlu mempelajari kata-kata ini dengan saksama karena hal ini berkaitan dengan perkara mendasar. Sangat memprihatinkan bahwa dasar rohani banyak orang Kristen tidak pernah diletakkan dengan benar. Dan jika dasarnya lemah, apa yang akan terjadi pada sisa struktur bangunan yang didirikan di atasnya? Banyak orang Kristen bergumul dengan hal-hal dasar kehidupan Kristen, mereka tidak pernah bisa menyelesaikan perkara-perkara yang mendasar, apalagi masuk ke dalam hal-hal yang lebih dalam dari kehidupan rohani. Kita harus menangani masalah-masalah ini untuk memastikan bahwa fondasinya diletakkan dengan benar.
Ada kalanya saya membimbing orang-orang yang telah menjadi Kristen selama 20 atau 25 tahun, tetapi mereka masih tetap mandek secara rohani. Selama konseling, mereka kadang menyadari dengan kaget bahwa mereka ternyata belum benar-benar menjadi orang Kristen, dan bahwa apa yang mereka sebut iman, ternyata tidak dapat melewati ujian yang paling mendasar.
Ini menyedihkan. Kita turut prihatin terhadap mereka karena sebagian besar kesalahan itu bukan sepenuhnya tanggung jawab mereka. Ada orang-orang yang, meskipun dibesarkan dalam keluarga Kristen, tidak pernah memiliki dasar yang benar dalam hal-hal pokok kehidupan Kristen. Dengan tulus mereka mencoba membangun kehidupan rohani di atas dasar yang rapuh, seperti membangun tembok di atas tanah lunak atau berpasir—hanya untuk melihatnya roboh. Mereka membangun tembok lain, tetapi itu pun runtuh. Mungkin berdiri sebentar, tetapi ketika truk berat melintas dan tanah bergetar, seluruh bangunan itu ambruk. Hanya dibutuhkan sedikit krisis untuk memicu keruntuhan. Kehidupan Kristen tidak bisa terus dijalani seperti itu. Orang Kristen yang lemah, kalah, dan frustrasi tidak akan menganggap kehidupan seperti itu layak dijalani. Sungguh sia-sia terus-menerus membangun kembali tembok yang sama dan menambal lubang yang sama.
Kurangnya kepastian
Beberapa orang, ketika menjadi Kristen, membawa serta sifat pemarah dan mudah tersinggung mereka. Akibatnya, mereka kehilangan jaminan keselamatan dan mulai meragukan apakah mereka benar-benar telah dilahirkan kembali. Roh Kudus tampaknya tidak bersaksi bersama roh mereka bahwa mereka adalah anak-anak Allah. Roma 8:16 mengatakan bahwa kepastian sejati hanya datang ketika Roh Allah bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Sebaliknya, orang Kristen yang hidup dalam kekalahan justru menerima kesadaran akan dosa dari Roh Kudus (Yoh 16:8) sehingga mereka merasa kehilangan kepastian. Keadaan seperti ini sangat menyedihkan.
Masalah ini bisa menjadi begitu serius sampai-sampai beberapa orang merasa bahwa mereka bukan orang Kristen sama sekali, dan meminta untuk dibaptis ulang. Ketika ditanya mengapa mereka dulu dibaptis, berbagai jawaban pun muncul: “Pendeta menanyakan apakah saya ingin dibaptis karena saya sudah sering datang ke gereja, dan saya merasa tidak enak menolak karena bisa mempermalukannya”; atau, “Teman baik saya akan dibaptis dan mengajak saya ikut”; atau, “Pacar saya orang Kristen, jadi saya dibaptis supaya kami bisa menikah.” Itulah beberapa jawaban umum. Namun kemudian, ketika mereka mulai sungguh-sungguh mencari Allah, mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya belum pernah menjadi orang percaya yang sejati. Dalam banyak kasus seperti itu, mereka meminta untuk dibaptis kembali.
Dalam keadaan seperti apa seseorang seharusnya dibaptis ulang, jika memang perlu? Ini adalah langkah besar yang menempatkan kita pada posisi sulit karena kita harus menilai keadaan hati seseorang untuk menentukan apakah baptisan ulang benar-benar diperlukan. Jika baptisan ditolak, orang itu bisa mengalami penderitaan batin yang besar, bahkan sampai berdampak serius bagi kehidupan rohaninya. Karena alasan ini, kita tidak boleh menolak baptisan secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan dengan cermat. Namun, kita juga tidak boleh lengah atau ceroboh dalam mengizinkan baptisan dilakukan.
Beberapa gereja tidak mengizinkan baptisan ulang dalam keadaan apa pun, biasanya karena alasan tradisi. Akan tetapi, apa dasar Alkitab untuk tradisi itu? Bukankah keselamatan, kehidupan rohani, dan pertumbuhan seseorang jauh lebih penting daripada tradisi kita?
Saya berharap dua bab pertama telah menjelaskan apa artinya mati bersama Kristus satu kali untuk selamanya, mengakhiri hidup lama. Jika masalah ini tidak diselesaikan, kehidupan Kristen akan diliputi keraguan yang terus-menerus. Seseorang mungkin merasa baik-baik saja untuk sementara waktu, tetapi apa yang akan terjadi satu atau dua tahun kemudian ketika ia menghadapi masalah yang mengguncang dan melemahkannya, bahkan mungkin membuatnya mundur dari iman? Pertanyaan lama itu akan kembali menghantui: Apakah saya benar-benar diselamatkan?
Dasar itu harus diletakkan dengan benar, jika tidak, seluruh bangunan harus dirobohkan dan dibangun kembali. Melihat kembali kehidupan saya sendiri, jika dulu saya diajarkan tentang kebenaran dasar seperti pentingnya mati bersama Kristus dan terhadap kehidupan lama yang berpusat pada diri sendiri dalam baptisan oleh iman, saya pasti telah terhindar dari banyak jalan memutar yang berbahaya. Namun, Allah telah berbelas kasih dan menjaga saya agar tidak jatuh. Ia menuntun saya di jalan kebenaran (bdk. Yoh 16:13), meskipun saya sering tidak memiliki siapa pun yang mengajar saya.
Tidak ada yang mengajarkan saya tentang komitmen total, tetapi hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Kristen saya sejak awal. Itu karena komitmen total adalah hal yang mutlak perlu bagi orang-orang Kristen di Tiongkok pada masa itu. Hampir semua orang yang datang kepada Tuhan di Tiongkok pada waktu itu menyadari betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk menjadi murid Yesus. Namun, hal itu pun tidak berarti bahwa setiap orang Kristen sungguh-sungguh berkomitmen. Ada orang Kristen yang merahasiakan imannya untuk menghindari masalah. Ada juga yang menjadi Kristen hanya untuk mencari pegangan pada masa sulit, tetapi begitu kesulitan berlalu, mereka tidak lagi melihat perlunya Allah dalam hidup mereka.
Keselamatan dan transformasi
Mari kita kembali kepada Titus 3:5:
Allah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan benar yang kita lakukan, melainkan karena belas kasih-Nya melalui pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus.
Pernyataan ini dimulai dengan, “Allah menyelamatkan kita”. Keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan karya Allah sendiri. Lebih dari itu, keselamatan bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan bagi kita, tetapi sesuatu yang Allah lakukan di dalam kita. Kita sering kali hanya menekankan apa yang Allah lakukan bagi kita di Kalvari. Pemahaman itu memang benar dan alkitabiah, tetapi belum lengkap.
Keselamatan bukan hanya tentang apa yang Allah lakukan bagi kita, dan juga bukan sekadar tentang mempercayai pernyataan kepercayaan tertentu. Doktrin yang benar memang penting, tetapi hanyalah salah satu unsur dari keselamatan. Keselamatan adalah perkara iman, dan dalam Alkitab, iman pada hakikatnya berarti komitmen. Iman yang tidak melibatkan suatu hubungan yang menyerahkan diri kita atau berkomitmen (seperti dalam pernikahan, misalnya 2 Korintus 11:2) kepada Allah sebagai respons atas kasih-Nya kepada kita, bukanlah iman yang alkitabiah.
Dalam Alkitab—tetapi bertentangan dengan apa yang sering kita dengar saat ini—keselamatan tidak hanya didasarkan pada penerimaan doktrin-doktrin tertentu, meskipun itu perlu, tetapi pada penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Sebagai analogi, hal itu seperti orang sakit yang menyerahkan dirinya kepada perawatan seorang dokter, dan tidak sekadar menerima atau percaya bahwa dokter tersebut dapat memberikan kesembuhan yang dibutuhkan. Dilahirkan kembali bukanlah hasil dari sekadar menerima seperangkat doktrin, meskipun itu mungkin baik, tetapi dihasilkan oleh kuasa Allah yang datang ke dalam hidup kita dan mengubah kita. Itulah sebabnya keselamatan adalah pencapaian Allah, bukan pencapaian kita.
Kelahiran kembali dan pembaruan bukan hal yang sama
Titus 3:5 berbicara tentang dua hal: “pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus”. Ada kelahiran kembali, dan ada pembaruan.
Kedua hal ini, kelahiran kembali dan pembaruan, bukan sinonim. Kita tidak boleh berpikir bahwa kedua istilah ini hanyalah pengulangan yang berarti sama. Keduanya tidak sama, tetapi sebenarnya merupakan dua tahap keselamatan yang berurutan. Dan urutannya tidak bisa dibalik, bahwa yang pertama adalah kelahiran kembali, yang kedua adalah pembaruan. Jika kita gagal membedakan keduanya, kita akan terjebak dalam pertanyaan seperti: Apakah keselamatan terjadi satu kali untuk selamanya, ataukah itu sebuah proses? Apakah saya mati sekali, ataukah saya terus-menerus mati?
Sebagian orang mengajarkan bahwa kematian terhadap dosa adalah proses bertahap, bahwa sepanjang hidup Kristen kita terus-menerus mati. Kehidupan Kristen dipandang sebagai proses kematian yang panjang dan suram, bukan kehidupan yang berkelimpahan seperti yang disebutkan dalam Yohanes 10:10. Jika kehidupan Kristen berjalan dari kematian ke kematian, bukan dari kehidupan ke kehidupan, pasti ada yang salah dalam pemahaman kita. Kegagalan membedakan antara kelahiran kembali dan pembaruan telah membuat banyak orang Kristen memiliki konsep yang keliru tentang kehidupan Kristen.
Ketika kita menjadi orang Kristen, pertama-tama kita mengalami kelahiran kembali, lalu kita mengalami pembaruan. Pembaruan adalah suatu proses, sebagaimana akan kita lihat nanti. Namun, kelahiran kembali bukanlah proses yang berkelanjutan, sama seperti kelahiran fisik bukanlah proses yang terus-menerus. Kita tidak terus-menerus “lahir” sepanjang hidup kita. Kita lahir satu kali, lalu hidup dan bertumbuh. Kelahiran yang satu kali itu tentu sangat penting, karena tanpa itu kita tidak bisa berbicara tentang pertumbuhan rohani.
Tahap pertama keselamatan—kelahiran kembali—adalah sekali untuk selamanya; tetapi tahap kedua—pembaruan—adalah proses berkelanjutan dalam pertumbuhan hidup baru. Karena itu, pertanyaan “Apakah keselamatan sekali untuk selamanya atau merupakan proses?” tidak bisa dijawab secara sederhana seperti yang sering dilakukan sebagian orang. Faktanya, keduanya benar—tergantung tahap keselamatan mana yang kita bicarakan. Sayangnya, banyak orang Kristen tidak tahu bahwa dalam pengajaran Alkitab, keselamatan memiliki tahapan, apalagi memahami tentang kelahiran kembali dan pembaruan.
Bagaimana eksodus (kepergian) atau kematian berhubungan dengan kelahiran kembali? Inilah hal yang tidak bisa dipahami oleh Nikodemus. Dalam Yohanes 3:3, Yesus berkata kepadanya, “Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali (atau dilahirkan dari atas), dia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”—apalagi masuk ke dalamnya. Nikodemus bingung: “Bagaimana mungkin seseorang dapat dilahirkan kembali kalau dia sudah tua? Dapatkah dia masuk lagi ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali?” (ay 4). “Bagaimana mungkin semua hal itu terjadi?” (ay 9). Nikodemus sama sekali tidak mengerti; baginya hal itu mustahil dipahami. Namun, jawaban Yesus tegas: “Bukankah kamu guru orang Israel, tetapi kamu tidak mengerti semua hal ini?” (ay 10).
Apa yang gagal dipahami Nikodemus adalah bahwa tidak ada kelahiran baru tanpa pengakhiran hidup lama; tidak ada kelahiran rohani dari atas (dari Allah) tanpa kematian dari kehidupan duniawi yang lama, yang berasal dari bawah (yaitu murni manusiawi). Ini bukan tentang kembali ke rahim ibu dan mengulangi siklus hidup lama. Ini bukan reinkarnasi dari kehidupan duniawi yang dikuasai dosa, melainkan kehidupan yang sama sekali baru, yang diberikan oleh Allah.
Nikodemus adalah seorang pengajar Israel, maka Yesus mengharapkan dia memiliki pemahaman rohani yang lebih dalam. Harapan Kristus terhadap para pemimpin gereja pun demikian. Karena kita sedang membahas hal yang sama, kelahiran kembali, kita juga harus memahami dengan benar apa yang Yesus sedang ajarkan kepada kita.
Kelahiran kembali dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani
“Pembasuhan kelahiran kembali” mengacu pada baptisan atau penyucian yang terjadi melalui baptisan. Dalam teks Yunani, kata untuk “kelahiran kembali” adalah palingenesia (παλιγγενεσία), yang tersusun dari palin (lagi) dan genesis (kelahiran). Gabungan kedua kata ini pada dasarnya berarti “kelahiran baru” atau “permulaan baru”. Kata ini digunakan dua kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Titus 3:5 dan Matius 19:28, di mana Yesus berkata kepada murid-muridnya:
Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu bahwa kamu, yang mengikuti Aku dalam dunia yang baru, ketika Anak Manusia duduk di takhta kebesaran-Nya, kamu juga akan duduk di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.
Mungkin Anda bertanya-tanya di mana kata “kelahiran kembali” muncul dalam pernyataan ini. Anda tidak akan menemukannya kecuali jika melihat teks Yunani atau terjemahan yang lebih harfiah. Dalam AYT, kata “kelahiran kembali” diterjemahkan sebagai “dunia yang baru”. Sesungguhnya pernyataan itu dapat diterjemahkan sebagai, “kamu, yang mengikuti Aku dalam kelahiran kembali (permulaan baru, ciptaan baru), ketika Anak Manusia duduk di takhta kebesaran-Nya…”.
Dalam surat-suratnya, Paulus menggambarkan orang yang telah dilahirkan kembali sebagai ciptaan baru, sedangkan dalam tulisan Yohanes, baik dalam Injil maupun surat-suratnya, orang yang telah dilahirkan kembali sering digambarkan sebagai orang yang lahir dari Allah. Titus 3:5 adalah satu-satunya tempat di mana Paulus menggunakan kata palingenesia untuk merujuk pada suatu permulaan baru, baik dalam arti kelahiran maupun penciptaan. Namun bahkan di sini, Paulus mungkin tetap memikirkan konsep ciptaan baru karena gagasan itulah yang sering ia tekankan. Dengan demikian, Perjanjian Baru menunjukkan kepada kita dua cara penting dan saling melengkapi dalam memahami makna kelahiran kembali.
Kelahiran kembali: sebuah pemutusan dengan yang lama
Dunia baru, ciptaan baru, permulaan baru, umat baru secara kolektif, dan manusia baru secara pribadi—itulah makna kelahiran kembali dan pembaruan. Namun, kita harus memutuskan hubungan dengan yang lama sebelum yang baru dapat datang. Jika kita tetap berpegang pada yang lama, bagaimana kita dapat menjadi manusia baru? Kedua hal ini tidak sesuai dan bertentangan, serta tidak dapat disatukan secara harmonis.
Dalam membedakan antara yang lama dan yang baru, Alkitab tidak menekankan perbedaan usia, seolah-olah yang dimaksud hanyalah perbedaan usia tua dan muda, atau, seperti kasus mobil, model lama dan model baru, yang tidak memiliki pertentangan hakikat. Tidak ada pertentangan antara buku lama dan buku baru jika yang dibicarakan hanyalah waktu, karena keduanya sama-sama berguna untuk dibaca. Tidak ada pula ketidaksesuaian antara seorang kakek dan cucunya meskipun berbeda usia; bahkan sering kali mereka memiliki hubungan yang hangat. Karena itu, jika kita memahami kata “lama” dan “baru” hanya secara kronologis, kita kehilangan maknanya.
Ini bukan berarti bahwa perbedaan waktu sama sekali tidak ada. Kata “lama” dan “baru” memang dapat digunakan dalam pengertian itu, sebagaimana akan kita lihat. Namun, hal yang perlu ditekankan adalah bahwa perbedaan antara yang lama dan yang baru dalam konteks ini jauh melampaui perbedaan usia. Jika hanya berbicara tentang waktu, tidak ada alasan mengapa yang lama dan yang baru tidak dapat hidup berdampingan. Namun di sini, perbedaannya bukan hanya soal waktu, melainkan soal hakikat. Keduanya berbeda secara kualitatif. Rasul Paulus menggambarkannya demikian:
Manusia pertama berasal dari bumi, yaitu dari debu tanah. Manusia kedua berasal dari surga. Sama seperti yang berasal debu tanah, demikian pula mereka yang berasal dari debu tanah. Dan, sama seperti yang surgawi, demikian pula mereka yang surgawi. Sebagaimana kita diciptakan dalam rupa manusia berasal dari debu tanah, kita juga akan memakai rupa manusia yang surgawi. Aku mengatakan ini kepadamu, Saudara-saudara, bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah. Demikian juga yang dapat binasa, tidak dapat mewarisi yang tidak dapat binasa. (1Kor 15:47-50)
Seberapa besar perbedaan antara yang lama dan yang baru? Perbedaannya seperti antara surga dan bumi! Mengapa Paulus juga berbicara tentang perbedaan “lama” dan “baru” dalam arti kronologis? Karena, “yang rohani bukanlah yang pertama. Yang pertama adalah yang jasmani, setelah itu barulah yang rohani” (1Kor 15:46). Yang jasmani datang lebih dulu dalam waktu; yang rohani datang kemudian. Dalam sejarah manusia, “manusia pertama, Adam” datang jauh sebelum “manusia terakhir”, yaitu Kristus (1Kor 15:45). Perbedaan kualitatif ini sejalan dengan kata-kata Kristus sendiri,
Kamu berasal dari bawah, tetapi Aku berasal dari atas. Kamu berasal dari dunia ini, tetapi Aku bukan dari dunia ini. (Yoh 8:23)
Dia yang datang dari atas adalah di atas semuanya, dia yang berasal dari bumi adalah dari bumi dan berbicara tentang hal-hal yang ada di bumi. Dia yang datang dari surga adalah di atas segala sesuatu. (Yoh 3:31)
Ketidaksesuaian hakikat antara yang lama dan yang baru inilah yang membuat Paulus berkata, “daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah” (1Kor 15:50). Sekarang kita mengerti mengapa kelahiran kembali—menjadi manusia baru—mutlak diperlukan jika kita ingin diselamatkan dan mewarisi Kerajaan Allah. Kita pun sekarang memahami pernyataan serius dari Yesus Kristus,
Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, dia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Janganlah heran karena Aku berkata kepadamu, “Kamu harus dilahirkan kembali.” (Yoh 3:5-7)
Banyak orang Kristen bingung dalam memahami hal-hal penting ini sehingga mereka membayangkan bahwa mereka dapat memegang yang lama dan yang baru sekaligus. Akan tetapi, mereka segera akan merasakan seolah-olah diri mereka tercabik oleh dua kekuatan yang berlawanan, seperti dua kuda yang menarik ke arah berlawanan. Mereka terus-menerus ditarik ke dua arah. Atau, dengan kiasan lain, mereka seperti dihimpit di antara dua kekuatan yang bertolak belakang.
Karena itulah, banyak orang Kristen hidup dalam keadaan sengsara. Ini adalah situasi yang mereka ciptakan sendiri. Masalahnya adalah bahwa mereka menginginkan yang baru tanpa melepaskan yang lama, dan akhirnya mereka terjerumus ke dalam kesulitan rohani yang serius. Mereka mengabaikan ajaran Alkitab bahwa yang lama harus berlalu sebelum yang baru dapat datang (2Kor 5:17). Apa yang mereka miliki bukanlah kelahiran kembali, melainkan hanya pakaian lama yang ditambal dengan kain baru (Luk 5:36-39). Pakaian itu pasti akan robek.
Itu seperti menuangkan anggur baru yang masih berfermentasi ke dalam kantong kulit yang lama dan kaku. Campuran antara yang lama dan yang baru hanya akan berakhir dengan bencana: kantong kulit itu akan pecah. Mengabaikan peringatan Yesus tentang mencampur yang lama dan yang baru dapat menyebabkan kehancuran batin, bahkan gangguan mental dalam beberapa kasus nyata. Ini terjadi karena ketegangan batin yang ditimbulkan oleh pertentangan antara yang lama dan yang baru menjadi terlalu berat untuk ditanggung dengan akibat yang serius baik secara fisik maupun mental.
Ada orang Kristen yang mengalami kehancuran mental karena tercabik oleh pergumulan batin antara dua kesetiaan yang bertentangan. Mengapa mengambil risiko seperti itu? Jika Anda tidak sungguh-sungguh ingin menjadi manusia baru di dalam Kristus, lebih baik Anda tidak menjadi orang Kristen. Pergilah dan nikmatilah dunia ini. Setidaknya itu akan mengurangi tekanan dalam pikiran Anda. Hindarilah kehancuran rohani dan mental. Apa yang akan dipikirkan keluarga dan teman-teman tentang orang Kristen, dan tentang kekristenan sendiri, jika Anda jatuh dan hancur secara rohani? Siapa yang masih ingin menjadi orang Kristen setelah melihat hal itu?
Kita harus menentukan dengan tegas kepada siapa kita akan mengabdi: Allah atau mamon, Allah atau diri kita sendiri. Yesus berkata, “Kamu tidak dapat melayani Allah dan mamon” (Mat 6:24). Kita tidak dapat berpegang teguh pada yang surgawi sekaligus pada yang duniawi; yang baru dan yang lama.
Tanpa meninggalkan yang lama, kita akan hidup dalam kemunafikan
Lebih buruk lagi, kita menjadi munafik ketika berkompromi dan mencoba mempertahankan yang lama sekaligus yang baru. Kita memelihara yang lama di dalam diri kita, sementara yang baru hanya membungkus bagian luar seperti hiasan jendela. Serigala di dalam diri diselimuti kulit domba. Orang seperti ini adalah kontradiksi yang hidup karena apa yang dikenakan di luar menutupi apa yang sebenarnya ada di dalam.
Secara lahiriah, orang seperti ini mungkin tampak sebagai orang Kristen yang baik dan terhormat, seperti halnya orang Farisi yang tampak benar (Mat 23:25, 27). Orang ini tampak saleh dan membawa Alkitab yang sudah lusuh, tetapi hidupnya tidak diatur oleh Firman Allah. Ucapannya terdengar sangat Kristen, tetapi sebenarnya hanyalah gong yang berdentang dan canang yang gemerincing (1Kor 13:1). Gereja terlalu banyak dipenuhi oleh orang Kristen yang munafik. Karena orang-orang seperti ini, kekristenan kehilangan kredibilitasnya; dunia tidak lagi percaya pada perkataan orang Kristen.
Namun, hanya sedikit orang yang sengaja menjadi munafik. Tidak adil menuduh semua orang Farisi sebagai munafik yang disengaja, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ahli Yudaisme. Hal yang menakutkan tentang kemunafikan adalah bahwa kebanyakan orang munafik tidak bermaksud menjadi demikian. Hal ini sendiri merupakan alasan yang baik untuk memperhatikan dengan saksama perintah untuk “kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Flp 2:12).
Dalam banyak kasus, mungkin bahkan sebagian besar, orang Kristen gagal hidup sebagai orang Kristen karena pengajaran yang mereka terima tidak memadai atau bahkan keliru. Mereka dengan tulus berusaha hidup sebagai orang percaya, tetapi karena kekurangan kuasa rohani, mereka hidup dalam ikatan kemunafikan.
Diri lama mereka belum mati karena mereka belum pernah diajar tentang mati bersama Kristus dan bangkit ke dalam hidup yang baru bersamanya. Akibatnya, mereka mengalami keadaan seperti yang dijelaskan Paulus dalam Roma 7:19: “aku tidak melakukan hal baik yang aku inginkan, melainkan hal jahat yang tak kuinginkan yang justru selalu kulakukan!” Pada masa-masa awalnya di bawah Hukum Taurat, apakah Paulus tidak tulus? Tentu tidak. Ia senang akan Hukum Taurat dalam pikirannya (Rm 7:22, 25), tetapi ketika harus melakukannya, ia tidak sanggup.
Ini mengingatkan kita pada orang-orang Kristen yang mengagumi kedalaman Khotbah di Bukit, tetapi tidak memiliki kuasa untuk melaksanakannya. Banyak yang berkata kepada saya bahwa mereka tidak memahami Khotbah di Bukit. “Saya sudah mendengarnya diajarkan, tetapi tetap tidak mengerti. Itu tidak masuk akal bagi saya. Bagaimana itu bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari?” Kita tidak akan memahaminya selama diri lama masih berkuasa dalam hidup kita.
Khotbah di Bukit berbicara tentang ditampar pada pipi kanan dan memberikan pipi kiri (Mat 5:39). Diri lama tidak akan tahan terhadap penghinaan seperti itu. “Manusia lama” tidak akan memalingkan pipi yang lain, tetapi akan membalas. Memberikan pipi kiri hanya mungkin ketika terjadi perubahan yang berasal dari kelahiran baru. Apakah kita benar-benar telah lahir baru akan diuji dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Palingenesia dalam bahasa Yunani di luar Alkitab
Sekarang mari kita lihat bagaimana kata palingenesia (kelahiran kembali) digunakan dalam bahasa Yunani di luar Alkitab untuk memahami maknanya. Kita tidak boleh memaksakan makna pemahaman kita sendiri pada kata-kata. Sering kali kita perlu mengetahui bagaimana suatu kata digunakan di luar Alkitab, karena meskipun maknanya bisa diperdalam dalam Perjanjian Baru, kita tidak boleh membuatnya berarti sembarangan. Misalnya, meskipun Perjanjian Baru memperkaya makna kata “kasih”, kita tidak dapat memaksakannya untuk berarti “benci”. Sekalipun maknanya diperluas, kata itu harus tetap membawa arti dasarnya sebagaimana dipahami secara umum.
Dalam bahasa Yunani di luar Alkitab, palingenesia digunakan, misalnya, untuk menggambarkan pembaruan atau pemulihan dunia setelah air bah. Air bah menghancurkan dunia yang lama, dan kemudian dunia “lahir kembali”. Inilah cara Philo, seorang sarjana Yahudi pada abad pertama, menggunakan kata palingenesia untuk menggambarkan kelahiran kembali dunia—penciptaan kembali atau pembaruan dunia—setelah air bah memusnahkan umat manusia kecuali Nuh dan keluarganya. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa yang baru muncul setelah yang lama disingkirkan.
Kata palingenesia juga digunakan oleh kaum Stoa (Stoics), pengikut filsafat Yunani Stoisisme, yang mengajarkan tentang kebangkitan dunia material dari api. Mereka percaya bahwa suatu hari nanti api akan menghancurkan dunia material ini, sebuah kepercayaan yang sejalan dengan Kitab Suci (2Pet 3:7, 10, 12). Allah akan memunculkan dunia yang diperbarui dan disucikan dari nyala api penghakiman ini (Why 21:1; Yes 65:17; 66:22). Penghancuran total diikuti oleh palingenesia, kelahiran kembali. Sesuatu yang baru muncul dari yang lama yang telah dihancurkan.
Kata palingenesia juga digunakan untuk menggambarkan kebangkitan, yang pada hakikatnya adalah penciptaan kembali atau permulaan baru bagi tubuh setelah kematian. Beberapa bapa gereja awal memahami palingenesia (kelahiran kembali) sebagai setara dengan anastasis (kebangkitan). Beberapa menafsirkan Matius 19:28 sebagai rujukan pada kebangkitan, seolah-olah Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu kebangkitan, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya…” Tafsiran ini mungkin tidak memadai, tetapi juga tidak salah, karena dunia yang baru memang akan datang bersamaan dengan kebangkitan.
Dunia yang baru ini merangkum pemulihan dan pembaruan segala sesuatu. Kisah Rasul 3:21 berbicara tentang “pemulihan segala sesuatu” pada masa depan, ketika maut, musuh terakhir, akan dimusnahkan. 2 Petrus 3:10-13 mengatakan bahwa langit dan bumi yang baru akan muncul setelah api penghakiman Allah menghancurkan tatanan dunia yang sekarang. Ayat 10 berkata:
Hari kedatangan Tuhan akan tiba seperti seorang pencuri, dan langit akan lenyap dengan suara yang dahsyat. Benda-benda langit akan terbakar habis dan meleleh oleh api yang sangat panas, dan dunia beserta segala isinya juga akan terbakar habis.
Dunia lama yang telah rusak, ketika dosa pernah berkuasa dengan segala kebusukannya, akan dimusnahkan sepenuhnya untuk memberi jalan bagi yang baru. Yang lama harus disingkirkan agar yang baru dapat datang menggantikannya. Karena itu ayat 13 berkata, “sesuai dengan janji-Nya, kita menanti-nantikan langit dan bumi yang baru, tempat orang-orang benar akan tinggal.”
Inilah kelahiran kembali dalam skala kosmik (Mat 19:28), berbeda dengan kelahiran kembali dalam skala pribadi (Tit 3:5). Seluruh dunia—bahkan segala sesuatu—akan diperbarui di dalam Kristus. Pandangan Allah jauh melampaui batas pandangan manusia yang sempit. Kita cenderung membatasi kelahiran kembali hanya pada individu, sedangkan Alkitab berbicara tentang kelahiran kembali, penebusan, dan keselamatan yang mencakup seluruh alam semesta. Kita perlu membiarkan Allah memperluas visi kita agar kita dapat melihat sebagaimana Ia melihat.
Kelahiran kembali: berakhirnya yang lama dan datangnya yang baru
Pada tingkat pribadi, 2 Korintus 5:17 mengatakan, “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang.” Perhatikan kalimat “yang lama sudah berlalu”. Kita tidak dapat memiliki yang baru tanpa melepaskan yang lama. Kita tidak dapat menjadi ciptaan baru, kecuali yang lama kehilangan cengkeramannya atas hidup kita.
Jika kita tidak memahami kebenaran ini, kita akan berakhir dalam keadaan sengsara seperti yang telah dibahas sebelumnya: terjepit antara yang lama dan yang baru, atau hancur di tengah ketegangan di antara keduanya. Keduanya terlibat dalam pertentangan yang tidak dapat didamaikan. Siapa pun yang mencoba memegang keduanya akan menjadikan dirinya medan pertempuran bagi keduanya.
Itu bukanlah kehidupan Kristen yang sejati. Yang lama harus lenyap untuk selamanya, dan yang baru harus ditegakkan di dalam diri kita. Hanya ketika Allah bersemayam di takhta-Nya dalam ciptaan baru yang ditegakkan di dalam hidup kita, barulah kita akan mengenal pemerintahan-Nya yang benar. Hanya dengan demikian kita akan dapat mencicipi surga baru dan bumi baru dalam kehidupan kita sekarang, dan kemudian dalam skala universal pada zaman yang akan datang.
Mengapa kita puas dengan kehidupan Kristen yang menyedihkan, padahal Allah ingin memberikan yang terbaik? Ini terjadi karena kita tidak mau melepaskan yang lama. “Tidak seorang pun yang setelah minum anggur lama, mau meminum anggur baru sebab mereka berkata, ‘Anggur yang lama itu lebih enak.’” (Luk 5:39) Anggur lama terasa “enak” karena kita merasa nyaman dengan kehidupan lama dan kebiasaan lama. Sulit untuk meninggalkan sesuatu yang sudah akrab. Tidak sampai hidup menjadi benar-benar menyiksa dan hampir hancur total, barulah sebagian orang mau melepaskannya. Namun, ada juga yang tetap tidak mau melepaskannya, meski kehancuran sudah di ambang pintu.
Marilah kita memikirkan reputasi Gereja dan nama Allah yang kita akui kita kasihi. Kesaksian seperti apa yang kita berikan kepada dunia jika mereka tidak melihat sesuatu yang rohani dan berharga dalam hidup kita? Jika yang mereka lihat hanyalah orang lama yang sama seperti sebelumnya?
Kita baru akan mengalami pembasuhan kelahiran kembali ketika kita bersedia, sekali untuk selamanya, mengakhiri diri lama kita, manusia lama kita, hidup lama kita, dan cara berpikir lama kita. Baptisan baru relevan pada titik ini, bukan sebelumnya. Tidak seorang pun boleh mempertimbangkan baptisan jika masih ingin berpegang pada dunia, pada uang, pada diri lama. Demi kebaikan Anda sendiri dan demi kesaksian gereja, janganlah memikirkan baptisan sebelum Anda siap melepaskan segalanya. Itulah arti kematian.
Ketika saya menjadi orang Kristen, saya tahu bahwa segala sesuatu yang saya miliki harus berada di bawah pemerintahan Allah. Apa pun yang dikatakan Allah harus dilakukan. Ambisi pribadi yang paling saya sayangi harus diserahkan. Saya bergumul selama enam bulan untuk melepaskan impian dan ambisi, meninggalkan pola pikir yang telah saya bangun selama bertahun-tahun.
Suatu hari saya berlutut di hadapan Allah dan berkata, “Tuhan, saya menyerahkan semuanya kepada-Mu.” Kemudian saya bangkit sebagai seorang yang tidak memiliki apa pun, bahkan tidak tahu apa yang akan saya lakukan setelah itu. Arah hidup yang dulu saya kejar telah lenyap selamanya. Saya berdiri sebagai seorang yang baru lahir, tidak memiliki apa pun dan tidak tahu ke mana harus melangkah. Telanjang saya datang ke dunia, telanjang pula saya akan meninggalkannya (bdk. Ayub 1:21).
Ketika Anda dilahirkan kembali, seperti bayi yang baru lahir, Anda tidak memiliki apa-apa. Rekening bank Anda, besar atau kecil, bukan milikmu lagi. Segalanya, termasuk dirimu sendiri, kini milik Allah. “Dirimu bukanlah milikmu sendiri” (1Kor 6:19) melainkan milik Allah. Namun, bagi orang yang rohani, inilah keindahan sejati dari hidup yang baru: kita sekarang menjadi milik Allah dan Yesus Kristus, Anak Allah! Yesus yang mengasihi kita dan menyerahkan dirinya bagi kita! Dia yang adalah Tuan atas segala sesuatu! Akan tetapi, orang yang duniawi tidak mau menjadi milik siapa pun selain dirinya sendiri, dan ingin hidup dengan cara yang berpusat pada diri sendiri.
Jika ada orang yang merasa bahwa ajaran Alkitab terlalu sulit diterima, itu dapat dimengerti. Namun dalam hal ini, ia harus jujur mengakui, “Saya tidak bisa menjadi orang Kristen.” Setidaknya kita berbicara dengan jujur, tanpa berputar-putar, tanpa menghindari persoalan yang sebenarnya. Semuanya atau tidak sama sekali. Entah Anda dilahirkan kembali, atau Anda menenggelamkan dirimu sepenuhnya dalam dunia ini. “Makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah.” Anda akan menanggung akibatnya kelak, tetapi setidaknya sekarang Anda melakukan sesuatu yang Anda nikmati. Saya sudah mengulangi hal ini berkali-kali, hingga terasa membosankan (ad nauseam). Namun, seberapa sering pun saya mengatakannya, pesan itu tampaknya tidak tersampaikan..
Pembaruan: sebuah proses yang berkelanjutan
Hal kedua yang dibicarakan Paulus adalah “pembaruan”, yang dalam pengajaran Alkitab, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak boleh disamakan dengan “kelahiran kembali”. Kata Yunani untuk “pembaruan” adalah anakainōsis (ἀνακαίνωσις). Kata ana berarti “lagi”, dan kainōsis berarti “pembaruan”. Gabungannya memberi arti “memperbarui kembali”, dan kata ini muncul dua kali dalam Perjanjian Baru, di Titus 3:5 dan Roma 12:2 (“berubahlah oleh pembaruan akal budimu”).
Dalam ayat yang terakhir ini, kata “berubahlah” berada dalam bentuk waktu kini (present tense), menunjukkan bahwa pembaruan adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Proses ini baru dimulai setelah terjadi “pembasuhan kelahiran kembali”. Kelahiran kembali adalah sesuatu yang terjadi satu kali untuk selamanya—kita dilahirkan—dan setelah itu dimulailah proses pembaruan di mana kita bertumbuh menuju kepenuhan kedewasaan Kristus (Ef 4:13-15).
Kita tidak dapat mengalami pembaruan tanpa kelahiran kembali, tetapi kita juga tidak dapat mengalami kelahiran kembali tanpa mengakhiri hidup yang lama. Ketika kita lahir kembali, kita datang telanjang ke dalam dunia rohani dan hidup semata-mata oleh anugerah dan belas kasihan Allah. Saat demi saat kita hidup oleh anugerah dan belas kasihan-Nya, bertentangan dengan ajaran yang mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh satu tindakan anugerah sekali untuk selamanya, yang jika benar, berarti kita tidak lagi membutuhkan anugerah Allah setelah dilahirkan kembali.
Apakah kita benar-benar berpikir bahwa meskipun kelahiran kembali adalah oleh anugerah, kita tidak lagi membutuhkan anugerah Allah dalam proses pembaruan yang berkelanjutan? Pandangan seperti itu jelas salah. Paulus menegur dengan tajam, “Begitu bodohnyakah kamu? Kamu telah memulai dengan Roh, apakah kamu sekarang ingin mengakhirinya dengan daging?” (Gal 3:3) Keselamatan dalam seluruh tahapnya (kelahiran kembali, pembaruan, dan akhirnya mencapai kepenuhan kedewasaan Kristus), semuanya adalah oleh anugerah melalui Roh Kudus.
Sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa
Mari kita lihat penerapannya secara praktis. Jika saya seorang mahasiswa, seluruh pandangan hidup saya berubah ketika saya menjadi seorang Kristen. Studi dan pendidikan saya kini sepenuhnya berada di bawah kendali Allah. Saya tidak memiliki ijazah, gelar, atau sertifikat apa pun yang dapat saya sebut milik saya; semuanya milik Allah karena saya sekarang milik-Nya. Seperti kata Paulus, “dirimu bukanlah milikmu sendiri. Sebab, kamu telah ditebus dengan harga lunas. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor 6:19–20). Sejak saat itu, saya tidak dapat lagi mengatakan ada sesuatu yang “milik saya”. Segala yang saya miliki adalah milik Allah karena saya adalah milik-Nya.
Namun, kita harus memahami hal ini dengan benar: Allah menghendaki perubahan batin, bukan sekadar tindakan lahiriah berupa menyerahkan sesuatu. Komitmen total bukan sekadar meninggalkan pekerjaan atau jabatan, tetapi melibatkan cara berpikir yang sepenuhnya baru. Seperti yang ditunjukkan Paulus, “Jika aku memberikan semua hartaku untuk memberi makan kepada orang miskin, dan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada gunanya bagiku” (1Kor 13:3). Tanpa kasih—tanpa perubahan batin yang sejati—semua itu hanyalah tindakan luar yang kosong dan tidak berarti. Lebih dari itu, hal ini dapat menjerumuskan pada kesalahpahaman berbahaya bahwa kita bisa membeli keselamatan dengan mengorbankan pekerjaan atau harta kita. Ini mendekati konsep keselamatan karena perbuatan, seolah-olah kita menebus diri sendiri dengan pengorbanan kita.
Allah tidak menginginkan pekerjaan kita atau uang kita. Dia menginginkan hati kita. Banyak orang mungkin tertarik pada uang kita, tetapi Allah hanya tertarik pada hati kita. Jika kita belum menyerahkan hati kita sepenuhnya kepada-Nya, Dia tidak akan menginginkan satu sen pun dari kita, apalagi mobil atau rumah kita. Urutannya jelas: pertama hati, baru hal-hal lainnya. Hanya jika hati kita benar di hadapan Allah, barulah kita dapat berbicara tentang hal-hal sekunder seperti pekerjaan dan harta.
Jika kita sungguh-sungguh telah dilahirkan kembali, kita tidak akan menganggap apa pun sebagai milik sendiri, seperti para orang percaya mula-mula, yang dikatakan tentang mereka: “Tidak ada seorang pun yang berkata bahwa barang kepunyaannya adalah miliknya sendiri” (Kis 4:32). Kita pun tidak lagi meninggalkan Allah di luar rencana kita, dan berkata, “Saya akan melakukan ini dan itu. Saya akan melanjutkan studi, lalu bekerja.” Kini kita hidup di bawah pemerintahan Kristus, dalam ketaatan penuh kepada Allah, Bapa kita.
Sekarang kita mengerti apa yang dimaksud Paulus ketika ia berkata, “tidak punya apa-apa, tetapi memiliki segala sesuatu” (2Kor 6:10). Memiliki segala sesuatu?! Meskipun kita tidak mengklaim kepemilikan apa pun, di dalam Kristus kita mendapati bahwa semua hal yang kita butuhkan, baik rohani maupun jasmani, disediakan oleh Bapa kita. Apakah kita berpikir bahwa kita telah melakukan jasa besar kepada Allah dengan menyerahkan sedikit yang kita miliki? Maka renungkanlah pernyataan menakjubkan ini: “Sebab, segala sesuatu adalah milikmu, baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, baik hidup maupun kematian, baik hal-hal yang sekarang maupun hal-hal yang akan datang; semuanya adalah milikmu. Dan, kamu adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah.” (1Kor 3:21–23)!
Kata kerja anakainizō dan anakainoō
Hanya ketika kita benar-benar telah dilahirkan kembali, barulah kita dapat berbicara tentang tahap berikutnya: pembaruan. Pembaruan ini pun harus bersifat batiniah, bukan hanya lahiriah. Ketika Alkitab berbicara tentang pembaruan akal budi, maksudnya adalah seluruh cara berpikir kita, bukan sekadar menggunakan pikiran untuk aktivitas keagamaan.
Terkait dengan “pembaruan” (misalnya Roma 12:2, “pembaruan akal budi”), terdapat dua kata kerja Yunani lain yang bersama-sama muncul tiga kali dalam Perjanjian Baru. Tiga kemunculan ini memberi kita gambaran yang jelas tentang apa yang dimaksud Kitab Suci dengan “pembaruan” sehingga kita tidak perlu menebak-nebak.
Kata kerja anakainizō (ἀνακαινίζω), yang berarti “memperbarui”, muncul di Ibrani 6:6. Mari kita baca ayat yang terkenal sekaligus menakutkan ini, mulai dari ayat 4:
Sebab, tidak mungkin mempertobatkan kembali orang-orang yang sebelumnya telah mendapatkan pencerahan, telah merasakan karunia surgawi, telah mengambil bagian bersama Roh Kudus, mencicipi kebaikan firman Allah, dan merasakan kuasa dari dunia yang akan datang. Jika mereka meninggalkan jalan Kristus, maka mustahil untuk memperbarui kembali pertobatan mereka karena mereka sedang menyalibkan Anak Allah untuk yang kedua kalinya dan mempermalukan-Nya secara terbuka. (Ibrani 6:4–6)
Bagian ini berbicara tentang kemurtadan. Kata parapiptō, yang diterjemahkan di sini sebagai “meninggalkan jalan”, didefinisikan dalam kamus Yunani-Inggris standar BDAG sebagai “gagal menepati komitmen, jatuh, murtad”. Kemurtadan bukan sekadar melakukan dosa besar, tetapi penolakan yang disengaja terhadap Allah setelah sebelumnya berkomitmen kepada-Nya. Jika seseorang murtad, mustahil untuk memperbaruinya kembali. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan baginya.
Jika Anda mengaku berkomitmen kepada Allah, ingatlah bahwa berbahaya untuk menyatakan komitmen total saat baptisan jika pada kenyataannya Anda tidak benar-benar berkomitmen. Sebab Allah yang hidup akan menuntut komitmen total itu karena “oleh perkataanmu, kamu akan dibenarkan, dan oleh perkataanmu, kamu akan dihukum” (Mat 12:37; Luk 19:22). Jika seseorang mengaku berkomitmen sepenuhnya kepada Allah, Allah akan berkata, “Aku menerima perkataanmu, dan Aku akan menuntutnya darimu.”
Kata kerja yang berhubungan dengan itu, anakainoō (ἀνακαινόω), digunakan dua kali dalam Perjanjian Baru. Salah satunya muncul di 2 Korintus 4:16 dalam konteks penderitaan: “Walaupun tubuh lahiriah kami makin merosot keadaannya, tetapi manusia batiniah kami selalu diperbarui hari demi hari.”
Di sini Paulus berbicara tentang pembaruan yang terjadi setiap hari. Ini menunjukkan bahwa pembaruan adalah proses yang berkelanjutan, sedangkan kelahiran kembali adalah sesuatu yang terjadi satu kali untuk selamanya. Setelah kelahiran baru, barulah dimulai proses pembaruan yang terus berlangsung. Jika kita mencoba melewati kelahiran kembali dan langsung menuju pembaruan, kita akan terjebak dalam pertentangan antara yang lama dan yang baru. Beberapa orang melewati tahap kelahiran kembali dan mengira bahwa usaha mereka memperbarui diri sendiri adalah bukti bahwa mereka telah dilahirkan kembali.
Jika kita mencoba memperbarui diri dengan kekuatan sendiri bahkan melalui doa yang tulus, kita sedang berusaha mengubah diri dan cara berpikir kita tanpa dilahirkan kembali. Ini akan menimbulkan banyak masalah. Banyak pengajar dan pemberita Injil sendiri belum pernah diajarkan dengan benar tentang kelahiran kembali dan pembaruan dalam firman Allah. Beberapa bahkan menjadi Kristen tanpa sungguh-sungguh dilahirkan kembali sehingga mereka tidak dapat bertumbuh dalam kehidupan Kristen. Menjadi manusia baru di dalam Kristus bukanlah soal mempercayai ajaran agama atau memperbaiki moralitas, melainkan soal perubahan batiniah yang dikerjakan oleh kuasa Roh Allah.
Kita mungkin berusaha bersikap baik, membaca Alkitab, memberi persembahan, berbuat baik, dan bahkan mencari kehendak Allah bagi masa depan kita—tetapi semua ini dapat dilakukan tanpa mengalami kelahiran kembali. Banyak orang Kristen salah mengartikan aktivitas-aktivitas Kristen ini dengan kehidupan baru di dalam Kristus, dan mengira bahwa mereka telah dilahirkan kembali. Ini adalah jebakan yang tanpa disengaja telah menjerumuskan banyak orang Kristen.
Tanpa kelahiran kembali kita tidak dapat membedakan kehendak Allah
Seseorang mungkin berkata, “Saya sedang mencari kehendak Allah untuk hidup saya. Haruskah saya menikah dengan pria yang baik dan tampan ini atau tidak? Anda lihat, saya sudah bertanya kepada Tuhan. Keputusan saya memang cenderung untuk menikah (dia begitu menawan), tetapi setidaknya saya sudah bertanya kepada Tuhan.”
Namun, apakah Anda benar-benar mendapat jawaban dari Tuhan? Anda tidak mendengar Tuhan berkata tidak, maka Anda berasumsi bahwa Tuhan menyetujuinya. Masalahnya adalah: tanpa kelahiran kembali, Anda tidak dapat memahami pikiran Allah. Semua hanyalah tebakan belaka. Akhirnya, dalam keputusasaan mencari petunjuk rohani, Anda membuka Alkitab secara acak dan menunjuk ke satu ayat, berharap itu adalah jawaban dari Tuhan.
Firman Allah memang sangat penting untuk mendapatkan tuntunan ilahi, tetapi kita tidak akan menemukan pimpinan-Nya di dalam Alkitab jika kita melewati langkah pertama, yaitu kelahiran kembali. Dapatkah Allah berbicara kepada kita jika telinga kita tersumbat oleh dosa dan keegoisan? Atau jika kita sedang mencoba menambal pakaian lama (cara hidup lama kita) dengan kain baru? Atau mencoba menuangkan anggur baru (kehidupan baru dalam Kristus) ke dalam kantong kulit yang lama dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri? Kantong kulit itu akan robek ketika anggur itu mengembang. Dalam keputusasaan dan kecerdikan manusia, ia mencoba menemukan solusi: isi kantong kulit itu hanya setengah penuh supaya ada ruang bagi anggur untuk mengembang! Terjepit dalam ketegangan antara yang lama dan yang baru, manusia tetap berusaha menghindari komitmen total kepada Allah dengan jalan kompromi.
Ada banyak cara untuk menipu diri sendiri, tetapi kita tidak dapat menipu Allah, karena Allah tidak dapat dipermainkan (Gal 6:7). Kita akan menuai apa yang kita tabur. Jika kita menabur dalam daging, kita akan menuai kebinasaan dari daging. Ini adalah hukum hidup yang tidak dapat dihindari, baik dalam ranah jasmani maupun rohani.
Jangan sampai kita berpikir bahwa karena tahap kedua—pembaruan—adalah suatu proses, maka tahap pertama sudah termasuk di dalamnya. Keduanya adalah hal yang berbeda. Jangan melewatkan langkah pertama—kelahiran kembali—dan berpikir bahwa usaha kita untuk memperbarui diri berarti kita telah dilahirkan kembali. Jika kita membuat kesalahan mendasar ini, kita akan menanggung akibatnya: hidup dalam ketidakbahagiaan, kemunafikan, dan akhirnya penghakiman.
Ada orang yang memiliki pengalaman berbicara dalam bahasa roh, lalu mereka mengira bahwa hal itu membuktikan bahwa mereka telah dilahirkan kembali. Seseorang yang telah dilahirkan kembali memang bisa diberi karunia atau pengalaman berbicara dalam bahasa roh, tetapi sebaliknya tidak selalu benar, tidak semua orang yang berbicara dalam bahasa roh telah dilahirkan kembali. Sangat penting, terutama pada masa akhir zaman ini, untuk menyadari bahwa tidak semua bahasa roh berasal dari Allah.
Sudahkah Anda benar-benar dilahirkan kembali? Sudahkah kuasa Allah yang mengubahkan masuk ke dalam hidup Anda? Kecuali seseorang mengucapkan selamat tinggal kepada semua yang dimilikinya, ia tidak dapat menjadi murid Yesus (Luk 14:33). Ini tidak berarti bahwa Yesus tidak ingin kita menjadi muridnya, tetapi bahwa kita tidak mampu (“dapat”) menjadi muridnya jika kita menolak untuk melepaskan hidup lama kita, cara berpikir lama kita, dan diri kita yang lama.
Pembaruan dalam surat Kolose dan Efesus
Tempat lain di mana anakainoō (memperbarui) muncul adalah Kolose 3:10. Di sini kita kembali melihat berlalunya yang lama dan datangnya yang baru. Baca mulai ayat 9:
Kamu telah menanggalkan manusia lamamu bersama dengan perbuatan-perbuatannya. Kenakanlah manusia baru, yang terus-menerus diperbarui dalam pengetahuan sesuai dengan gambar dari Penciptanya.
Perhatikan bahwa yang diperbarui adalah “manusia baru (di dalam Kristus)”. Bukan manusia lama, melainkan manusia baru yang terus-menerus diperbarui. Manusia lama telah “ditanggalkan”. Dalam bahasa Yunani, “diperbarui” adalah bentuk present participle, yang menunjukkan suatu proses yang terus berlangsung dan dimulai dari kelahiran kembali.
Kata lain yang berhubungan, ananeoō, hanya muncul satu kali dalam Perjanjian Baru: “Buanglah manusia lamamu yang kamu dapat dari cara hidupmu yang lama, yang sedang dirusak oleh hawa nafsu yang menipu. Perbaruilah roh pikiranmu.” (Ef 4:22-23) Sekali lagi, kata “diperbarui” di sini memakai bentuk waktu sekarang (proses yang terus berlangsung), sedangkan kata “buanglah” memakai bentuk aorist (tindakan sekali untuk selamanya). Dalam proses pembaruan ini, Allah membuat kita bertumbuh dalam keserupaan dengan gambar-Nya.
Apakah Anda benar-benar telah dilahirkan kembali?
Sebagai rangkuman, demi keselamatan kekal Anda di dalam Kristus, penting bagi Anda untuk mengetahui apakah Anda telah dilahirkan kembali atau belum. Jika kehidupan Kristen Anda ditandai oleh konflik batin, kekalahan rohani yang terus berulang, dan penyerahan diri yang berulang-ulang kepada daging, bukannya berjalan dari kemenangan kepada kemenangan (“Syukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Yesus Kristus”, 1Kor 15:57), maka kemungkinan besar Anda belum mengalami kelahiran kembali atau menjadi manusia baru di dalam Kristus.
Anda telah melewati kelahiran kembali dan langsung melompat ke pembaruan. Anda menambal pakaian lama dengan secarik kain baru, hanya untuk melihatnya robek ketika kain baru itu menyusut. Kita perlu mengevaluasi keadaan rohani kita sendiri jika kita ingin mengalami kehidupan Kristen yang semakin kuat dari waktu ke waktu. Pembaruan bukanlah pengalaman muram, melainkan proses penuh sukacita dalam bertumbuh di dalam kekuatan Tuhan.
Saat masih muda, saya bermegah dalam kekuatan fisik saya. Tumbuh dewasa memang memiliki tantangan, tetapi saya merasa luar biasa. Ketika kemampuan fisik meningkat dan kekuatan bertambah, kita akan mendapati diri terlibat dalam berbagai kegiatan yang memberi kepuasan besar. Seperti itulah seharusnya kehidupan Kristen. Tidakkah kita ingin melihat gereja yang penuh dengan orang-orang yang menemukan kehidupan Kristen itu menyenangkan? Sudahkah kita mengalami apa yang disebut Yesus sebagai “hidup yang berkelimpahan”?
Jika kehidupan yang berkelimpahan itu tidak nyata bagi kita, kita akan membuat diri sendiri dan orang lain menderita. Apakah kita menjadi beban bagi orang lain, atau menjadi inspirasi? Beberapa orang Kristen adalah beban, sementara yang lain memberi inspirasi. Ada orang Kristen yang hanya dengan memikirkan mereka saja sudah membuat hati kita terangkat. Ada pula yang menyegarkan kita hanya dengan kehadiran mereka, tetapi ada juga yang justru menjadi beban.
Sekarang seharusnya sudah jelas bahwa orang yang belum dilahirkan kembali memiliki diri sendiri sebagai pusat hidupnya, sedangkan orang yang benar-benar dilahirkan kembali berpusat pada Allah. Ini berarti bahwa kita dapat mengetahui apakah kita telah dilahirkan kembali atau belum dengan mengamati apa, atau siapa, yang menjadi pusat dari pikiran dan tindakan kita. Jika hati dan pikiran kita tertuju kepada Allah dan Kristus, bukan kepada diri sendiri, kita akan tahu bahwa kita telah menerima hidup yang baru di dalam Kristus dan telah menjadi manusia baru di dalamnya.
Kiranya Allah, melalui anugerah-Nya yang berlimpah, mengaruniakan kepada kita untuk mengalami kenyataan dan kuasa-Nya dalam hidup kita, di dalam pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus.
Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang.
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di
CPM Bookstore.