Pastor Eric Chang | Bab 2 |
Apakah engkau hidup atau mati?
Apakah kita merasa bahwa ini pertanyaan yang aneh untuk ditanyakan? Marilah kita mempertimbangkan perkataan Tuhan kepada orang-orang Kristen di Sardis, “Orang mengatakan bahwa kamu hidup, tetapi sesungguhnya kamu mati” (Why 3:1). Orang-orang Kristen ini jelas menganggap diri mereka hidup, bahkan memiliki reputasi sebagai orang yang hidup, tetapi diberitahu bahwa mereka mati dan tidak berfungsi secara rohani.
Hidup bagi dunia dan mengejar hal-hal duniawi berarti mati secara rohani. Sebaliknya, hidup bagi Allah berarti mati terhadap hal-hal duniawi. Kita harus memilih: mati terhadap dunia atau mati terhadap Allah. Ini adalah keputusan paling penting yang pernah kita buat. Setiap upaya untuk berkompromi antara keduanya akan berakhir dengan bencana.
Banyak orang Kristen begitu lemah sehingga mereka tidak tahu apakah mereka mati atau hidup: “Apakah aku benar-benar telah mati terhadap dosa? Saat baptisan aku seharusnya telah mati bersama Kristus, tetapi perilakuku setelahnya menunjukkan bahwa aku belum mati. Mungkin itu kematian sebagian.” Namun, siapa pun yang belum mati sepenuhnya, masih belum mati. Jika Anda belum mati, bagaimana Anda dapat memiliki hidup yang baru di dalam Kristus?
Ada orang-orang Kristen yang mengaku telah sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah, tetapi tidak yakin akan komitmen mereka. Setiap kali mereka berbuat dosa, mereka kembali bertanya-tanya, “Apakah saya benar-benar diselamatkan?” Beberapa orang Kristen hidup seperti ini selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya bukan orang Kristen sejati. Manusia yang lama tidak pernah mati, dan tidak pernah ada penyerahan diri yang sungguh-sungguh kepada Allah. Maka mereka hidup dari hari ke hari tanpa jaminan yang hanya dapat diberikan oleh Roh Kudus, yaitu jaminan bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rm 8:16).
“Perpisahan” sebagian bahkan dalam pelayanan penuh waktu
Bagian dapat menjadi musuh bagi keseluruhan, artinya seseorang bisa berkomitmen dalam satu aspek dan menganggap bahwa komitmen di bidang itu mewakili keseluruhan. Anggapan seperti ini adalah kesalahan serius, terutama bagi mereka yang melayani Tuhan secara sepenuh waktu dalam pelayanan sepenuh waktu.
Seseorang mungkin meninggalkan pekerjaannya dan profesinya untuk melayani Tuhan. Dengan meninggalkan profesinya, ia mengira bahwa ia telah menyatakan komitmen totalnya secara konkret. Apa yang dilakukannya memang merupakan bentuk komitmen, tetapi apakah itu total? Meninggalkan pekerjaan atau karier memang merupakan langkah besar. Akan tetapi, bagaimana jika dalam meninggalkan karier kita, kita tidak meninggalkan kekerasan hati, temperamen buruk, atau keegoisan kita? Apa gunanya meninggalkan pekerjaan kalau kita tetap mempertahankan sifat egois dan tabiat buruk kita?
Ketika meninggalkan karier untuk melayani Allah, kita memang menyerahkan sesuatu yang sangat penting. Namun, sepenting apa pun, itu hanya mewakili satu bagian dari hidup kita. Apa hal terpenting bagi kita? Tak diragukan lagi, itu adalah diri kita sendiri, ego kita, “si aku” yang “nomor satu” itu. Namun, apakah kita telah mengorbankan apa yang benar-benar penting dalam hubungan kita dengan Allah? Itulah yang saya maksud dengan “bagian” sebagai musuh dari keseluruhan.
Meninggalkan karier tidak berarti kita telah benar-benar menyerahkan segalanya jika bagian yang paling penting—diri sendiri—belum diserahkan. Jika demikian halnya, kita masih belum mengucapkan selamat tinggal kepada sikap lama kita, atau meninggalkan keinginan-keinginan egois kita. Akibat tragis semua ini adalah bahwa kita masuk ke dalam pekerjaan Tuhan dengan sikap batin dan keakuan yang sama seperti sebelumnya. Konsekuensinya bagi gereja sangat menyedihkan.
Banyak orang menjadi Kristen atau masuk pelayanan penuh waktu karena mencari sesuatu. Banyak yang mencari kepuasan batin yang lebih dalam daripada yang bisa diberikan profesi sekuler mereka. Dan mereka tidak salah dalam pemahaman itu. Melayani Tuhan memang memberi kepuasan yang tidak dapat diberikan profesi duniawi mana pun. Ketika kita melayani Tuhan dengan sepenuh hati, ketika kita melihat orang datang kepada Allah, ketika kita melihat hidup yang diubahkan dan kuasa firman Tuhan bekerja di hati manusia, kita akan merasakan kepuasan batin yang sedalam-dalamnya, yang tidak dapat diberikan profesi sekuler mana pun sekalipun dengan imbalan keuangan yang besar.
Namun, di sanalah juga letak bahayanya. Kita mungkin masuk ke dalam pekerjaan Tuhan untuk mencari kepuasan batin. Ini sendiri tidak salah, karena kita memang tidak dipanggil untuk melayani Tuhan tanpa sukacita atau tanpa kepuasan. Akan tetapi, jika kita masuk ke dalam pelayanan Tuhan tanpa meninggalkan pola pikir lama yang berpusat pada kepuasan diri sebagai dorongan utama, hal itu menunjukkan bahwa diri sendiri masih menjadi pusat hidup kita. Kita masih digerakkan oleh keinginan untuk menyenangkan diri sendiri, bukan Tuhan, dalam segala hal yang kita lakukan.
Akibatnya, beberapa pengkhotbah dan pekerja Kristen menunjukkan perilaku yang jauh di bawah standar Alkitabiah. Ketika orang lain melihat perilaku mereka, mereka terkejut dengan rasa jijik. Anda sendiri mungkin pernah menyaksikan hal seperti ini.
Baru-baru ini saya berbicara dengan seorang pendeta gereja Tionghoa di New Jersey, Amerika Serikat. Pendeta ini dulunya seorang ahli biokimia riset dengan gelar doktor di bidang biokimia. Ia meninggalkan profesinya untuk melayani Tuhan. Ia bercerita kepada saya tentang sebuah pertemuan para pendeta yang pernah ia hadiri. Karena baru satu tahun melayani pada waktu itu, matanya harus dibuka dengan cara yang menyakitkan. Ia terkejut melihat cara banyak pendeta dan pekerja Kristen berperilaku dalam pertemuan yang tertutup bagi orang luar dan jemaat. Ia tercengang melihat betapa kasar dan tidak penuh kasih cara mereka berbicara satu sama lain, serta betapa keras mereka mempertahankan pendapat masing-masing. Ketika ia tidak tahan lagi, ia berdiri dan berkata, “Aku malu berada di tengah-tengah kalian hari ini. Perilaku kalian adalah aib bagi Injil.”
Membuat komitmen tanpa meninggalkan diri yang lama
Mengapa ada pekerja Kristen sepenuh waktu yang berperilaku seperti itu? Ya, mereka memang meninggalkan profesinya sebagai bentuk komitmen; tetapi tidak, mereka tidak mengucapkan selamat tinggal kepada pola pikir dan sikap lama mereka. Ego atau “diri” lama mereka adalah satu-satunya milik yang belum mereka lepaskan. Maka mereka membawa semua itu masuk ke dalam pelayanan, mendatangkan aib, bahkan mungkin bencana, bagi gereja.
Kita pun mungkin telah membuat komitmen kepada Allah pada waktu baptisan. Kita mungkin telah berkata, “Tuhan, aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu.” Akan tetapi, kita membawa kebiasaan-kebiasaan lama kita, perilaku lama kita, sikap suka mengkritik, ke dalam kehidupan Kristen dan ke dalam gereja. Kita membawa semua hal lama itu ke dalam kehidupan “baru” sehingga timbul kontradiksi dalam diri kita sendiri. Beberapa orang Kristen menjadi perwujudan hidup dari kontradiksi ini, dan tak lama kemudian mereka mulai bertanya-tanya apakah mereka mati atau hidup.
Apakah Anda tahu apakah Anda mati atau hidup? Dapatkah Anda berkata tanpa menipu diri sendiri, “Saya hidup sekarang ini. Saya yakin, oleh anugerah Allah, bahwa saya hidup dan tidak mati”?
Ataukah Anda akan mengakui bahwa Anda tidak tahu apakah Anda mati atau hidup? Mungkinkah seseorang membuat komitmen dan tidak mengetahuinya? Mungkinkah seseorang masuk ke dalam baptisan, dipersatukan dengan Kristus dalam kematian, lalu keluar dan berkata, “Saya tidak tahu apakah saya mati atau hidup”? Jika orang mati tidak tahu bahwa ia mati, itu tidak mengherankan, karena orang mati tidak tahu apa-apa. Namun, jika seseorang yang hidup tidak tahu apakah ia mati atau hidup, itu benar-benar masalah besar!
Apakah kematian terjadi seketika atau bertahap?
Pertanyaan ini menuntun kita pada pertanyaan-pertanyaan lain: Apakah pengudusan (menjadi kudus) itu berlangsung seketika atau secara bertahap? Apakah kehidupan Kristen merupakan proses perlahan-lahan untuk mati, ataukah proses bertumbuh dan hidup? Ataukah itu gabungan dari keduanya: setengah waktu kita sedang mati, setengah waktu kita sedang hidup? Ataukah secara paradoks, kita hidup ketika kita mati, dan mati ketika kita hidup? Semua ini menjadi membingungkan.
Apakah ini tentang membuat komitmen secara perlahan-lahan untuk…mati? Jika demikian, kehidupan Kristen akan menjadi kematian yang berlangsung bertahap. Karena kita tidak sepenuhnya bebas dari dosa, hal ini membuat kita berpikir bahwa kita mati terhadap dosa melalui proses yang lambat yang terus berlanjut sepanjang hidup Kristen. Namun, dalam pergumulan kita sehari-hari, sering muncul perasaan mengganggu bahwa mungkin kita salah, karena Yesus memang berkata, “Aku datang supaya mereka memiliki hidup, dan memilikinya secara berlimpah” (Yoh 10:10). Kenyataannya, kita sering lebih akrab dengan kelimpahan kematian daripada kelimpahan hidup!
Setiap orang yang tidak melepaskan segala miliknya tidak dapat menjadi muridku
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, marilah kita berpaling kepada otoritas tertinggi, yaitu Yesus sendiri, dan mendengarkan perkataannya. Namun, engkau mungkin bertanya, “Di mana Yesus mengajarkan hal-hal ini?” Nah, ada di beberapa tempat, tetapi mari kita terlebih dahulu memusatkan perhatian pada Lukas 14:33:
“Begitu juga dengan kamu masing-masing, tidak ada seorang pun di antaramu yang dapat menjadi muridku jika ia tidak menyerahkan seluruh kepunyaannya.”
Untuk memahami konteksnya, marilah kita membaca mulai dari ayat 25:
Banyak orang berjalan bersama-sama dengan Yesus. Kemudian, dia menoleh kepada mereka dan berkata, “Jika seseorang datang kepadaku, tetapi tidak membenci ayah dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara laki-laki dan saudara perempuannya, bahkan hidupnya sendiri, ia tidak bisa menjadi muridku. Siapa pun yang tidak memikul salibnya dan mengikuti aku, ia tidak bisa menjadi muridku. Siapakah di antara kamu yang ingin mendirikan sebuah menara, tetapi tidak duduk terlebih dahulu dan menghitung biaya untuk mengetahui apakah ia memiliki cukup uang untuk menyelesaikannya? Jika tidak demikian, ketika ia meletakkan fondasi dan tidak sanggup menyelesaikannya, semua orang yang melihatnya akan menertawakan dia. Orang-orang itu akan berkata, ‘Orang ini mulai membangun, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.’ Atau, raja manakah yang akan pergi berperang melawan raja lain, tetapi tidak duduk terlebih dahulu dan mempertimbangkan apakah ia bersama 10.000 tentaranya dapat melawan musuhnya yang memiliki 20.000 tentara? Jika ia tidak dapat mengalahkan raja lain itu, ia akan mengirim seorang utusan dan menanyakan syarat-syarat perdamaian ketika pasukan lawannya itu masih jauh. Begitu juga dengan kamu masing-masing, tidak ada seorang pun di antaramu yang dapat menjadi muridku jika ia tidak menyerahkan seluruh kepunyaannya.”
Anugerah yang mahal versus anugerah yang murah
Keabsolutan perkataan Yesus menggelisahkan kita. Tuntutannya bukan hanya tinggi, tetapi mutlak, total, tanpa batas. Ia menyuruh kita untuk mengucapkan selamat tinggal kepada segala sesuatu yang kita miliki. Kita tidak dapat menghindari kata “segala” ini karena di dalam Alkitab kita berulang kali menemukan kata “segala” yang membuat kita tidak nyaman ini. Keselamatan Allah memang merupakan anugerah, tetapi jika engkau menerima anugerah ini, itu akan menuntut seluruh hidupmu. Kita meninggalkan segala sesuatu untuk memperoleh mutiara yang sangat berharga (Mat 13:46). Anugerah yang mahal, itulah anugerah Alkitab.
Banyak gereja memberitakan anugerah yang murah: anugerah yang tidak menuntut apa pun, anugerah yang begitu murah hingga tak ada obral akhir tahun yang bisa menandinginya. Akan tetapi, anugerah yang murah sama sekali tidak menyerupai ajaran Yesus. Di sini Yesus menggunakan kata “setiap orang di antara kamu” untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang dikecualikan. Yesus tidak hanya berbicara kepada para rasul atau orang-orang Kristen “elit”, tetapi kepada semua orang dalam “orang banyak yang besar” (ay 25). Kepada merekalah Yesus berkata, “Begitu juga dengan kamu masing-masing, tidak ada seorang pun di antaramu yang dapat menjadi muridku jika ia tidak menyerahkan seluruh kepunyaannya.” (ay 33)
Kita harus memilih: mengambil perkataan Yesus dengan serius, atau melupakan seluruh perkara ini. Namun, jika engkau memilih jalan tengah, berkata, “Saya akan menjadi orang Kristen yang moderat, tidak fanatik, cukup setengah-setengah saja”, Anda tidak akan pernah tahu apa artinya menjadi orang Kristen sejati atau mengalami hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan Yesus.
Dalam jangka panjang, Anda justru akan membayar harga yang lebih mahal. Harga itu akan Anda temukan sendiri: alih-alih mengalami hidup berkelimpahan yang Yesus datang untuk berikan, Anda akan mendapati hidup Anda hanyalah kelanjutan dari kematian, kematian terus-menerus, kematian yang berlimpah.
Menolak perkataan Kristus berarti kematian. Itu akan menghasilkan kehidupan yang penuh kekalahan demi kekalahan, kegagalan demi kegagalan, dan akhirnya kematian. Namun, jika kita menaati dia, kita akan mengalami kenyataan dari apa yang ia katakan dalam Yohanes 10:10: “Aku datang supaya mereka memiliki hidup, dan memilikinya secara berlimpah.”
Jika Anda memilih jalan tengah, atau menolak perkataan Yesus karena menganggapnya terlalu ekstrem, atau berpikir bahwa terlalu fanatik untuk mengikuti panggilan Yesus yang menuntut harga tinggi dari keselamatan dan pemuridan (berlawanan dengan ajaran bahwa keselamatan itu tanpa syarat dan gratis), Anda akan berakhir dengan kehidupan Kristen yang tak berdaya, tanpa sukacita, dan tanpa makna—begitu tanpa makna sehingga lebih baik Anda kembali ke dunia. Nikmatilah dunia selama Anda masih punya kesempatan, karena alternatifnya lebih buruk: sengsara sekarang dan sengsara di penghakiman kelak. Setidaknya nikmatilah hidup Anda sekarang, meskipun itu berarti sengsara pada hari penghakiman. Namun, memilih untuk sengsara sekarang dan sengsara kelak adalah kebodohan yang paling besar.
Dalam hal ini, bukankah orang dunia lebih pintar ketika berkata, “Mari kita makan dan minum karena besok kita akan mati” (Yes 22:13; 1Kor 15:32)? Karena kematian dan penghakiman menantinya, setidaknya ia menikmati hidupnya sekarang, meski hanya untuk beberapa dekade sebelum kekekalan dalam hukuman. Itu masih lebih baik daripada mendapatkan yang terburuk dari dua dunia: sengsara sekarang, lalu sengsara selamanya.
Kita begitu mudah jatuh dalam kebodohan. Anak-anak zaman ini lebih bijak, dalam hal ini, daripada mereka yang mengaku sebagai anak-anak terang (Luk 16:8). Justru anak-anak Kerajaanlah yang dicampakkan karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan mereka (Mat 8:12). Dan orang masih bertanya, “Mengapa kita tidak mengalami hidup berkelimpahan yang Yesus bicarakan?”
“Menyerahkan seluruh kepunyaan” melampaui harta benda duniawi
Yesus berkata bahwa kita tidak dapat menjadi muridnya kecuali kita “menyerahkan seluruh kepunyaan” (Luk 14:33). Perlu ditekankan sejak awal bahwa ini tidak terbatas pada harta benda duniawi. Bahkan, konteksnya hampir tidak berbicara tentang hal-hal materi. Ketika kita membaca “menyerahkan seluruh kepunyaan”, kita sering langsung memikirkan properti, rekening bank, dan harta duniawi kita. Ungkapan “seluruh kepunyaan” tentu mencakup harta benda, tetapi tidak berhenti di situ. Seperti yang Paulus katakan, seseorang bisa saja menyerahkan semua yang dimilikinya, bahkan tubuhnya untuk dibakar, tetapi tetap tidak memiliki kasih (1Kor 13:3), karena dirinya berpusat pada diri sendiri, bukan pada Allah.
Sangat penting bagi kita untuk memahami kebenaran ini: melepaskan harta benda duniawi bisa menjadi pengganti palsu bagi penyerahan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu cara hidup lama kita yang berakar dalam, yang kita cintai, yang berpusat pada diri sendiri. Harta yang paling berharga bagi manusia bukanlah emas atau tanah, melainkan dirinya sendiri, si “aku”.
Jika kita memperhatikan ajaran Yesus dengan cermat, jelas bahwa ia tidak berbicara semata-mata, atau bahkan terutama, tentang harta benda duniawi. Dalam Lukas 14, Yesus mengatakan bahwa anggota keluarga terdekat kita, yang lebih kita kasihi daripada rumah atau tanah, harus “dibenci” jika mereka menghalangi kita dari mengikuti dia. Dan apa artinya memikul “salib sendiri” selain menyerahkan nyawa kita sendiri?
Perhatikan hal ini, terutama jika Anda tidak memiliki banyak harta. Mudah menyerahkan harta kalau memang tak banyak yang dimiliki. Jika Anda hanya memiliki seratus dolar, mudah bagi Anda menaati perintah, “Tinggalkan segala milikmu.” Demikian pula, berhenti dari pekerjaan itu mudah jika Anda merasa pekerjaan tersebut tidak memuaskan. Mungkin Anda sudah muak dengan atasan, atau dengan saingan yang selalu memberi tekanan. Menyerahkan pekerjaan? Haleluyah, ambillah! Ambil juga uang seratus dolarku! Tidak ada yang lebih mudah dari itu.
Namun, kemudian kita membawa egoisme kita ke dalam gereja, bersama dengan kesombongan dan sikap suka mengkritik. Kita tidak dapat menipu Allah, satu-satunya yang disebut dalam Kitab Suci sebagai “satu-satunya Allah yang penuh hikmat” (Rm 16:27). Ia melihat jauh lebih dalam daripada pekerjaan atau harta kita. Bahkan jika kita menganggap pekerjaan kita berharga, apakah Allah juga menganggapnya demikian? Mungkin pekerjaan itu berharga bagi kita, tetapi tidak bagi-Nya. Yang benar-benar berharga bagi-Nya adalah hati kita, “manusia batiniah” kita, seluruh pribadi kita.
Seseorang bisa saja meninggalkan pekerjaannya dan hartanya tanpa benar-benar menyerahkan hatinya, dirinya, atau seluruh keberadaannya kepada Allah. Hal itu sering terjadi. Dalam Filipi 2:19–21, Paulus mengungkapkan kesedihannya karena di antara rekan-rekannya, tidak ada seorang pun kecuali Timotius yang sungguh-sungguh peduli terhadap kepentingan saudara-saudara seiman. Jenis rekan seperti apakah yang lainnya itu? Beberapa di antaranya tentu telah meninggalkan harta benda mereka untuk mengikuti Tuhan, tetapi tidak meninggalkan keegoisan mereka. Mereka membawa kehidupan lama dan kepentingan diri ke dalam kehidupan yang baru. Segala yang “baru” pada mereka hanyalah penampilan luar; tidak ada yang sungguh-sungguh baru yang terjadi di dalam hati mereka.
Mari kita menyentuh akar persoalan ini. Apakah kita berpikir bahwa kita sudah sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah? Itulah pertanyaannya. Istri saya, Helen, pernah berkata bahwa meninggalkan profesinya sebagai perawat itu mudah. Menyerahkan harta bendanya juga mudah; toh ia tidak memiliki banyak. Namun, ketika harus melepaskan kehidupan lama yang berpusat pada diri sendiri—itulah masalah yang sebenarnya.
Perhatikan apa yang Yesus katakan: orang yang kehilangan nyawanya—bukan hanya hartanya—yang akan menemukannya (Mat 16:25). Barangsiapa mempertahankan hidupnya bagi dirinya sendiri, ia akan kehilangannya, bahkan jika ia telah meninggalkan semua miliknya. Kita tidak dapat menghindari kedalaman dan hikmat perkataan Yesus ini.
Jika Anda ingin mengalami hidup berkelimpahan di dalam Kristus, jangan berkata kepada diri sendiri bahwa Anda bersedia meninggalkan pekerjaan Anda. Bukan harta benda dan sejenisnya yang menjadi persoalan, melainkan dirimu sendiri. Mulai sekarang, kita harus hidup sepenuhnya bagi Allah dan bagi sesama. Jika tidak, kita tidak akan pernah mengalami kehidupan Kristen yang berkemenangan, melainkan hanya akan memiliki cita-cita yang hampa. Kita akan seperti seorang astronom yang menatap bintang-bintang dengan teleskop, mengagumi keindahannya, tetapi tak pernah bisa menyentuhnya. Bagi banyak orang, ajaran Kristus hanyalah sesuatu yang indah untuk dikagumi dari kejauhan, sesuatu untuk para pemimpi, bukan untuk orang praktis seperti kita. Kita membanggakan diri sebagai orang Kristen yang praktis, sementara kelimpahan hidup yang dipenuhi Roh hanya tinggal omong kosong belaka.
Kehilangan segalanya untuk memperoleh Kristus?
Paulus berkata, “aku telah kehilangan semuanya—karena semua itu sekarang kuanggap sampah!—supaya aku boleh mendapatkan Kristus” (Flp 3:8). Lalu ia melanjutkan, bahwa kita pun harus “berpikir seperti demikian” (ay 15), dan mengajak kita untuk meneladani dirinya (ay 17). Paulus digerakkan oleh satu tujuan: untuk “mendapatkan Kristus”. Apakah tujuan ini juga menggerakkan kita?
Mengapa mendapatkan Kristus? Paulus telah melihat bahwa segala sesuatu yang bernilai kekal terdapat di dalam Kristus; oleh karena itu, memiliki Kristus berarti memiliki segala sesuatu yang benar-benar berharga. Sebab “dalam dia berdiam seluruh kepenuhan keilahian yang hidup dalam bentuk jasmani” (Kol 2:9), dan “dalam dia, tersembunyi segala harta dari hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3). Lebih lagi, “Kristus adalah hidup kita” (Kol 3:4), dan itu mencakup segalanya, termasuk keselamatan, yang meliputi kelahiran baru, pengudusan, dan pemuliaan.
Mendapatkan Kristus juga berarti diselamatkan, sebagaimana dinyatakan dalam 2 Timotius 2:10: “supaya mereka juga mendapat keselamatan yang ada dalam Yesus Kristus”. Dan “Yesus Kristus, yang untuk kita dijadikan hikmat … penebusan” (1Kor 1:30). Keselamatan dan penebusan hanya ditemukan di dalam Kristus, dan hanya dapat diperoleh bila kita mendapatkan Kristus.
Jika Paulus bisa “mendapatkan Kristus” tanpa harus kehilangan segala sesuatu, atau jika ia dapat mengalami hidup berkelimpahan tanpa harus menyerahkan seluruh miliknya, mengapa ia rela kehilangan semuanya? Bukankah ia akan menjadi orang paling bodoh di bumi karena melakukan sesuatu yang sama sekali tidak perlu? Namun, pada akhirnya, siapakah yang akan terbukti bodoh, kita atau rasul Paulus?
Kehidupan dan ajaran Paulus menggenapi ajaran Yesus sendiri
Apa yang Paulus lakukan, termasuk ajarannya dalam Filipi 3, merupakan penggenapan dari ajaran Yesus dalam Lukas 14. Mengapa kita mengutip Paulus secara selektif, memilih bagian-bagian yang sesuai dengan selera kita sambil menolak bagian-bagian yang kita anggap tidak menyenangkan, dan masih membayangkan bahwa kita dapat diselamatkan? Tidak seperti Paulus, kita berpikir bahwa kita bisa memperoleh Kristus tanpa kehilangan segala sesuatu, atau mungkin hanya dengan kehilangan sedikit.
Fakta bahwa Paulus menyerahkan segala sesuatu sekaligus mengajarkan keselamatan oleh iman, dengan jelas menunjukkan bahwa ia tidak melihat kontradiksi antara keduanya. Setiap kesan adanya pertentangan hanya ada dalam pikiran orang-orang Kristen yang telah diajar tentang anugerah murah yang menuntut iman yang murah pula. “Iman” dalam kosa kata Paulus bukan sekadar persetujuan intelektual, melainkan komitmen total kepada Allah dengan implikasi yang paling nyata dan praktis.
Adakah seseorang yang mau menyerahkan segalanya, termasuk dirinya sendiri, demi memperoleh Kristus tanpa memiliki iman yang mutlak kepada Kristus? Tentu saja tidak. Tanpa iman semacam itu, tak seorang pun akan mengambil langkah tersebut. Hal itu hanya mungkin dilakukan oleh iman. Meninggalkan segalanya untuk memperoleh Kristus adalah bukti nyata iman yang sejati. Inilah jenis iman yang diberitakan Paulus—baik lewat ajarannya maupun teladannya. Inilah jenis iman yang dicari Yesus pada mereka yang ia panggil.
“Menyerahkan” berarti mengucapkan selamat tinggal
Mari kita perhatikan kata “menyerahkan” dalam ayat, “tidak ada seorang pun di antaramu yang dapat menjadi muridku jika ia tidak menyerahkan seluruh kepunyaannya” (Luk 14:33). Kata ini menerjemahkan kata Yunani umum apotassō (ἀποτάσσω) yang berarti “mengucapkan selamat tinggal, berpisah, meninggalkan”, dan juga “menolak, melepaskan, menyerahkan” (BDAG Greek-English Lexicon). Kata ini muncul, misalnya, dalam Kisah 18:21 ketika Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada jemaat di Efesus sebelum berlayar ke Kaisarea menuju Yerusalem. Dalam semua kemunculannya di Perjanjian Baru, kata ini secara konsisten berarti “mengucapkan selamat tinggal” atau “berpisah” (Mar 6:46; Luk 9:61; Kis 18:18; 2Kor 2:13). Karena itu, perkataan Yesus dalam Lukas 14:33 secara lebih harfiah dapat diterjemahkan:
“tidak ada seorang pun di antaramu yang dapat menjadi muridku jika ia tidak mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh kepunyaannya.”
Kata “selamat tinggal” menunjukkan kepergian. Anda mengucapkan selamat tinggal ketika hendak pergi. Ketika Anda mengenakan mantel dan membuka pintu, Anda berkata, “Selamat tinggal.” Lebih dari itu, konteks Lukas 14:33 menunjukkan bahwa tindakan ini bukan sesuatu yang dilakukan secara terburu-buru, melainkan setelah pertimbangan matang, seperti dalam menghitung biaya untuk membangun sebuah menara (ay 28–30), atau memutuskan apakah akan berperang melawan pasukan yang jauh lebih besar, karena sekali pertempuran dimulai, tidak ada jalan untuk mundur (ay 31–32). Ini adalah perpisahan yang final, keputusan yang tegas. Selamat tinggal untuk selama-lamanya.
Cara terbaik untuk memahami hal ini adalah dengan melihat keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Banyak orang tidak memahami mengapa kita memerlukan Perjanjian Lama. Paulus mengatakan bahwa itu ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita (1Kor 10:11), agar kita tahu apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak hidup menurut ajaran Kristus, atau yang berpikir bahwa ajaran itu dapat dilunakkan.
Kata Exodus berarti “keluar” atau “berangkat.” Hari itu tiba ketika Allah Yahweh berkata kepada Israel, “Kamu akan mengikut Aku keluar dari Mesir. Kamu akan mengucapkan selamat tinggal kepada Mesir untuk selama-lamanya dan meninggalkan semuanya di belakangmu.” Jelas, Anda tidak bisa membawa rumahmu dalam perjalanan keluar itu. Anda pun tidak bisa berjalan di padang gurun sambil memikul meja makan warisan nenek Anda. Ketika orang Israel keluar dari Mesir, mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada kebun kecil mereka, bahkan meninggalkan karung-karung berisi bawang dan bawang putih mereka. Di padang gurun, mereka masih sering merindukan rasa bawang putih yang dulu mereka nikmati (Bil 11:5). Namun, semua itu harus mereka tinggalkan, dan mereka harus mengucapkan selamat tinggal.
Yesus berbicara dengan cara yang sama: Ucapkan selamat tinggal kepada segala milik Anda, dan berangkatlah. Mengucapkan selamat tinggal adalah tindakan yang aktif. Jika Anda tidak bergerak, Anda tidak perlu mengucapkan selamat tinggal. Namun, ketika Anda bergerak maju, Anda akan melakukannya. Baru-baru ini seorang saudara mengucapkan selamat tinggal kepada rekan-rekannya di tempat kerja. Jika ia tetap bekerja di sana, ia tentu tidak perlu mengucapkan selamat tinggal. Sselamat tinggal menandakan pergerakan, sebuah langkah meninggalkan sesuatu.
Yesus berkata bahwa kecuali Anda mengucapkan selamat tinggal kepada segala milik Anda, seperti yang dilakukan bangsa Israel di Mesir, Anda tidak dapat menjadi muridnya. Tentu saja, bangsa Israel memang membawa beberapa hal bersama mereka. Mereka mengenakan pakaian ketika keluar dari Mesir dan membawa perlengkapan yang diperlukan, seperti tenda, wadah air, dan perkakas untuk digunakan di padang gurun. Ketika Yesus berkata agar kita meninggalkan harta benda kita, dia tidak bermaksud agar kita tidur di jalanan dan menjadi gangguan bagi orang lain. Kita terjerumus ke dalam kesalahan semacam ini ketika kita berpikir secara eksklusif dalam hal kepemilikan materi.
Bangsa Israel mengucapkan selamat tinggal kepada cara hidup lama mereka di Mesir. Hidup itu harus ditinggalkan. Mereka meninggalkan kehidupan perbudakan di bawah Firaun, yang melambangkan kehidupan lama yang diperhamba oleh dosa. Dan dengan meninggalkan semuanya di belakang, mereka pun berangkat.
Selamat tinggal sebagai lambang kematian
Perjanjian Baru menggunakan kata Yunani exodos (ἔξοδος) dalam dua pengertian: yang pertama menunjuk pada keluarnya bangsa Israel dari Mesir, dan yang kedua menunjuk pada kematian. Keterkaitan antara keduanya mudah dipahami karena kematian sering dipandang sebagai suatu kepergian.
Kata exodos digunakan dalam Ibrani 11:22 untuk menggambarkan keluarnya Israel dari Mesir, dan dalam Lukas 9:31 untuk menunjuk pada kematian Yesus. Dalam 2 Petrus 1:15, kata ini dipakai untuk menyebut kematian orang percaya pada umumnya, dan kematian Petrus secara khusus.
Makna rohaninya adalah ini: keluaran dari Mesir melambangkan kematian kita terhadap dunia. Paulus menghubungkan peristiwa keluaran itu dengan baptisan kita ke dalam Kristus ketika ia mengatakan bahwa bangsa Israel “dibaptis dalam Musa, di dalam awan dan di dalam laut” (1Kor 10:2). Hanya setelah mereka keluar dari Mesir, Allah mengikat perjanjian dengan mereka. Demikian pula, kita masuk ke dalam perjanjian baru hanya setelah kita keluar dari kehidupan lama.
Musa adalah wakil yang ditetapkan Allah untuk sistem hukum dalam perjanjian lama, sama seperti Yesus adalah wakil perjanjian yang baru. Meskipun Allah sendirilah yang memberikan Hukum Taurat di Gunung Sinai, hukum itu sering disebut “Hukum Musa”, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, karena Musa adalah perantara, pemberi, penegak, dan juru bicara utama hukum itu. Maka, ketika bangsa Israel dibaptis dalam Musa, mereka secara rohani dibaptis ke dalam perjanjian lama.
1 Korintus 10:2 (“Mereka semua dibaptis dalam Musa, di dalam awan dan di dalam laut”) menunjukkan hubungan langsung antara keluaran dan baptisan. Namun, karena keluaran juga melambangkan kematian, kini kita melihat hubungan antara kematian dan baptisan (seperti dalam Roma 6:3–4).
Dalam ayat 3 dan 4, Paulus memperluas paralelnya dengan mengatakan bahwa bangsa Israel makan makanan rohani yang sama (manna, bandingkan dengan Yoh 6:51) dan minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. Kiasan terhadap perjamuan kudus di sini sangat jelas.
Perhatikan urutannya: baptisan lebih dahulu, lalu perjamuan. Paulus kemudian menegaskan bahwa semua hal ini ditulis sebagai pelajaran bagi kita (ay 11).
Bangsa Israel masuk ke dalam perjanjian lama setelah mereka meninggalkan Mesir dan memulai hidup baru di bawah pemerintahan Allah. Demikian pula kita, ketika meninggalkan kehidupan lama, kita dibaptis ke dalam Kristus dan memulai kehidupan yang baru di dalam dia.
Sudahkah kita meninggalkan segalanya?
Sudahkah kita benar-benar mengucapkan selamat tinggal kepada dunia seperti yang dilakukan bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir? Pernahkah kita berkata selamat tinggal kepada kehidupan lama seperti mereka? Jika belum, kita bahkan belum sampai pada tingkat bangsa Israel. Lupakan dulu soal perjanjian baru, kebanyakan orang Kristen bahkan belum mencapai tingkat perjanjian lama. Bangsa Israel benar-benar meninggalkan kehidupan lama mereka di Mesir untuk selamanya dan menyeberangi Laut Teberau. Apakah kita melakukan hal yang sama ketika menjadi orang Kristen? Dan apa yang sebenarnya kita tinggalkan? Dalam kebanyakan kasus, tidak ada. Setidaknya, bangsa Israel benar-benar meninggalkan hampir semua yang mereka kasihi.
Tidak heran jika kebanyakan orang Kristen tidak dapat dibandingkan, dalam hal kuasa rohani dan kedewasaan iman, dengan tokoh-tokoh besar di Perjanjian Lama, apalagi hidup seturut standar Perjanjian Baru. Apa yang dikatakan Perjanjian Baru tentang setiap orang percaya sejati—bahwa ia lebih besar daripada hamba Allah terakhir dari zaman Perjanjian Lama, yaitu Yohanes Pembaptis (Mat 11:11)—bagi banyak orang Kristen hanyalah mimpi kosong. Mereka tidak pernah meninggalkan apa pun, apalagi meninggalkan ego lamanya.
Dan berkat para pemimpin gereja, pengkhotbah, dan pengajar yang terus-menerus menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah cuma-cuma yang tidak menuntut apa pun dari kita, maka ajaran Yesus dapat dengan mudah disingkirkan sebagai sesuatu yang tidak relevan. “Apa gunanya ajarannya bagi kita? Siapa yang membutuhkannya?” Namun, orang-orang yang tidak mendengarkan Yesus itu tetap berani memanggil dia “Tuan”. Kepada orang-orang seperti itu Yesus akan berkata, “Mengapa kamu memanggil Aku, ‘Tuan, Tuan,’ tetapi tidak melakukan apa yang aku ajarkan?” (Luk 6:46).
Banyak orang Kristen mendengarkan para pengkhotbah yang mengajarkan tentang anugerah yang murah dan tentang pemuridan sebagai tingkat yang lebih tinggi dalam kekristenan, suatu hal yang hanya cocok bagi “orang Kristen elit”, bukan bagi “orang Kristen biasa” seperti kita. Namun menurut Alkitab, pengajaran seperti itu adalah salah. Dalam Perjanjian Baru, setiap orang Kristen adalah murid. “Murid” hanyalah nama lain bagi seorang Kristen. Para murid itulah yang pertama kali disebut “orang Kristen” di Antiokhia (Kis 11:26).
Setiap orang Israel, bukan hanya Musa, hamba Allah yang “elit” itu, harus meninggalkan Mesir. Semua harus benar-benar bangkit dan pergi. Rumah-rumah lumpur mereka mungkin tidak berarti bagi kita, tetapi bagi mereka itu berharga, karena di sanalah mereka lahir dan dibesarkan. Mereka mencintai meja dan kursi mereka. Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada hal-hal yang tidak bisa mereka bawa. Banyak yang mungkin menangis ketika memandang rumah mereka untuk terakhir kalinya. “Kebun kecilku memang sederhana, tapi begitu berharga bagiku!” Lalu mereka pun pergi.
Bangsa Israel meninggalkan segala sesuatu, kecuali pakaian yang melekat di tubuh dan beberapa barang pribadi yang dibutuhkan untuk perjalanan mereka. Segala sesuatu yang lain ditinggalkan. Apakah kita meninggalkan sesuatu? Bagi kebanyakan orang Kristen, jawaban jujurnya adalah: tidak ada. Dan bagi sebagian lainnya, hanya sedikit. Namun, kita masih saja bertanya-tanya mengapa kita tidak mengalami kehidupan Kristen yang berkelimpahan.
Kehadiran Allah di padang gurun bersama umat-Nya
Namun, padang gurun adalah tempat yang indah jika Allah menyertai kita. Banyak orang menganggap bahwa perjalanan bangsa Israel di padang gurun merupakan pengalaman yang mengerikan, tetapi saya tidak berpikir demikian. Padang gurun memang tempat yang keras, tetapi jika Allah ada bersama denganmu, itu menjadi tempat yang indah.
Apakah peristiwa terbelahnya Laut Teberau merupakan pengalaman yang mengerikan bagi bangsa Israel? Tidak, itu adalah pengalaman yang menakjubkan tentang pembebasan dari Allah! Tidak ada air untuk diminum? Ia membuat air memancar keluar dari batu karang. Tidak ada makanan untuk dimakan? Datanglah burung puyuh dan manna! Di padang gurun ada tiang api pada malam hari dan tiang awan pada siang hari (Kel 13:21)—suatu jaminan nyata dan terus-menerus akan kehadiran Allah.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa tiang awan pada siang hari berubah menjadi tiang api pada malam hari? Mengapa tidak tiang api saja, baik siang maupun malam, karena api juga terlihat pada siang hari? Dan mengapa ada tiang api pada malam hari jika cahayanya tidak diperlukan ketika orang sedang tidur?
Namun, pertimbangkan hal ini: jika tiang awan itu tidak dibayangkan sebagai kolom vertikal yang tipis, melainkan berbentuk seperti jamur (seperti awan yang dihasilkan oleh ledakan nuklir), maka awan itu akan memberi naungan bagi umat Allah dari teriknya matahari gurun pada siang hari. Pada malam hari, tiang api itu akan memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam di padang gurun. Mazmur 121:5–6 berkata:
Yahwehlah penjagamu, Yahweh adalah naunganmu, di sebelah kananmu. Matahari takkan menyerangmu pada waktu siang, begitu juga bulan pada waktu malam.
Perhatikan juga janji yang luar biasa dalam Yesaya 4:5–6 yang mengacu pada peristiwa di padang gurun:
Yahweh akan menciptakan awan tebal pada siang hari dan tiang api pada malam hari di atas setiap bangunan di Bukit Sion dan di atas setiap pertemuan-pertemuannya. Sebab, di atas semuanya, kemuliaan itu akan menjadi penudung. Akan ada sebuah pondok sebagai tempat berteduh dari terik siang hari, sebagai tempat berlindung, dan sebagai tempat berteduh dari angin ribut dan hujan.
Gema dari pengalaman di padang gurun juga terdengar dalam nubuat Yesaya yang lain:
Mereka tidak akan lapar atau haus; ataupun angin panas dan terik matahari menyengat mereka. Sebab, Dia yang berbelas kasihan kepada mereka akan menuntun mereka, dan membimbing mereka ke mata air.” (49:10; melalui tiang awan dan tiang api, Ia menuntun dan membimbing orang Israel di padang gurun, Ul 1:33.)
Janji ini kemudian diangkat kembali dalam kitab Wahyu:
Mereka tidak akan lapar atau haus lagi; ataupun matahari tidak akan menyakiti mereka ataupun panas terik yang lainnya. Sebab, Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu akan menjadi Gembala mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan; dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka. (Why 7:16–17)
Alangkah indahnya berjalan bersama Allah di padang gurun. Tanpa Allah, padang gurun adalah tempat yang gersang dan penuh bahaya. Namun, jika Allah menyertai kita, padang gurun akan menjadi Taman Eden rohani, tempat di mana Ia berjalan dan berbicara dengan kita seperti Ia dahulu berjalan dan berbicara dengan Adam dan Hawa (Kej 3:8).
Apa yang salah di padang gurun?
Jadi, apa yang sebenarnya salah di padang gurun? Bangsa Israel memang telah meninggalkan rumah dan harta benda mereka, tetapi mereka membawa serta tabiat lama mereka, sifat egois, sikap suka mengeluh, dan hati yang memberontak. Mereka merusak perjalanan yang seharusnya menjadi pengalaman indah bersama Allah di padang gurun. Perjalanan itu seharusnya singkat. Bahkan dengan jumlah besar sekalipun, mereka bisa menempuhnya jauh kurang dari setahun, meskipun melalui jalur memutar di sekitar Semenanjung Sinai. Akan tetapi, karena mereka membawa sikap lama yang busuk itu ke dalam padang gurun, perjalanan mereka berubah menjadi neraka yang hidup.
Apakah kita juga membawa sifat lama kita ke dalam kehidupan Kristen? Jika kita mengaku telah meninggalkan Mesir, bagaimana keadaan hidup Kristen kita sekarang? Apakah itu seperti padang gurun, kering, berat, dan penuh keluhan, atau seperti hidup yang berkelimpahan? Dalam padang gurun dunia ini, apakah kita mengalami kehadiran Allah sedemikian rupa hingga kita merasa seperti berada di Taman Eden? Apakah kita merasakan kehadiran-Nya, tiang awan dan tiang api, menyertai kita?
Betapa luar biasanya Allah memelihara umat-Nya! Ketika musuh menyerang, Ia melindungi umat-Nya dan memberikan kemenangan. Ketika mereka haus, Ia memberi mereka air. Mereka hanya perlu menunggu sebentar karena Allah sedang menguji iman mereka untuk menguatkannya.
Apakah kita juga gagal dalam setiap ujian yang Allah berikan? Apakah kita tersandung oleh setiap batu di padang gurun, jatuh ke setiap lubang, lalu mengeluh seperti orang Israel: “Mengapa Allah membawa aku ke padang gurun ini?” Jawabannya sederhana: Allah sedang menuntun bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian. Namun, mereka telah lupa mengapa mereka melewati padang gurun itu sejak awal.
Banyak orang Kristen mengeluh ketika menghadapi kesulitan: “Mengapa Allah membawa saya ke sini?” Mereka telah lupa mengapa mereka ada di padang gurun, dan ke mana arah perjalanan mereka. Mereka telah kehilangan penglihatan tentang bagaimana Allah dapat membuat padang gurun berbunga seperti taman (Yes 35:1–2).
Apakah Anda benar-benar telah mati? Jika ya, Anda pasti mengetahuinya. Apakah Anda telah meninggalkan Mesir? Apakah Anda, oleh anugerah Allah, telah meninggalkan dunia yang dikuasai oleh dosa dan Iblis, Firaun dari dunia ini?
Jika Anda berkata bahwa Anda tidak tahu apakah Anda telah meninggalkan Mesir atau belum, kewarasan Anda secara rohani patut dipertanyakan. Jika seorang Israel berkata, “Saya tidak tahu apakah saya masih di Mesir atau tidak”, jelas ia kehilangan akal sehatnya. Tentu saja ia tahu apakah ia sudah menyeberangi Laut Teberau atau belum!
Kepada mereka yang hendak dibaptis, aku berkata: Jika Anda belum tahu apakah Anda sungguh-sungguh ingin meninggalkan Mesir di hati Anda, janganlah Anda menyeberangi Laut Teberau baptisan. Sebab jika Anda menyeberanginya tanpa sungguh-sungguh meninggalkan Mesir di hati Anda, Anda akan mendapati bahwa Mesir juga ada di sisi seberang, seolah-olah perbatasan Mesir telah meluas, karena Anda telah membawanya bersama Anda di dalam hati.
Itulah keadaan banyak orang Kristen saat ini. Ketika mereka menyeberangi Laut Teberau, Mesir ikut menyeberang bersama mereka. Mesir (yang melambangkan dunia) seolah-olah terus meluas, dan banyak orang Kristen tetap terjebak di dalamnya karena di hati mereka, mereka belum pernah sungguh-sungguh meninggalkannya.
Mengucapkan selamat tinggal kepada dunia
Paulus berbicara tentang kematian, keluaran, dan kepergian dalam pengertian rohani; maka ketika kita berbicara tentang kematian, yang kita maksud adalah kematian secara rohani. Kita tidak sedang berbicara tentang kematian fisik. Namun demikian, hal itu tidak membuat kematian tersebut menjadi kurang nyata.
Dalam pengertian apa kita telah mati? Kata “mati” menunjuk pada keluaran, saat kita mengucapkan selamat tinggal kepada Mesir (= dunia) dan kemudian menyeberangi Laut Teberau (= baptisan). Kehidupan lama telah ditinggalkan. Paulus berkata,
“Semoga aku tidak pernah memegahkan diri kecuali dalam salib Tuan kita, Yesus Kristus. Melalui salibnya, dunia sudah disalibkan untuk aku, dan aku untuk dunia” (Gal 6:14).
Mati berarti selesai dengan dunia.
Baik kita memakai gambaran “perpisahan” maupun “kematian”, keduanya bermakna sama. Pikirkan apa yang terjadi ketika seseorang mati. Apa yang akan terjadi dengan pekerjaan atau rekening bank kita? Apa yang akan terjadi dengan pernikahan dan hubungan keluarga kita? Kematian berarti mengucapkan selamat tinggal kepada semua itu. Pada saat kematian, kita mengucapkan selamat tinggal kepada segala sesuatu. Teman-teman kita mungkin akan menolak kita karena dibaptis, jadi itu bisa berarti mengucapkan selamat tinggal kepada mereka juga..
Sebelum dibaptis, renungkanlah dengan sungguh-sungguh: “Saya akan mati terhadap sistem dunia. Saya tidak akan lagi hidup sebagai anggota dari sistem dunia yang terpisah dari Allah dan tidak mengakui kedaulatan-Nya. Saya akan mengucapkan selamat tinggal kepada segalanya: pekerjaan saya, profesi saya, masa depan saya di dunia ini.” Dalam hidup yang baru di dalam Kristus, kita memang masih bisa memiliki pekerjaan atau memakai keterampilan profesional kita, tetapi sekarang semuanya tunduk di bawah pemerintahan Allah.
Cara hidup lama yang dikendalikan oleh daging telah berakhir. Akibatnya, kita tidak lagi memandang siapa pun atau apa pun dari perspektif kehidupan lama yang dikuasai oleh daging dan berpusat pada manusia. Hal ini merevolusi hubungan kita dengan setiap orang dan segala sesuatu. “Karena itu, sejak sekarang kami tidak mengenali seorang pun menurut keadaan lahiriahnya. Meskipun kami pernah mengenal Kristus secara lahiriah, tetapi sekarang kami tidak lagi menilainya seperti itu.” (2Kor 5:16)
Renungkan kembali Galatia 6:14: “Melalui salibnya, dunia sudah disalibkan untuk aku, dan aku untuk dunia.” Apakah kata-kata ini bergema di hati kita? Banyak orang Kristen di gereja berkompromi dengan dunia, mencoba melayani Allah dan Mamon sekaligus, tetapi akhirnya gagal melayani keduanya. Dapatkah kita melihat mengapa kita tidak bisa menjadi murid Yesus, kecuali kita melepaskan segala sesuatu yang kita miliki (Luk 14:33)?
Ada sebuah kisah tentang seorang jutawan, anggota keluarga Borden di Boston, yang telah menjadi orang Kristen. Suatu hari ketika ia melihat sebuah mobil mewah yang indah, ia terdengar berkata (dengan sedikit humor), “Andai saja aku mampu membelinya!” Padahal, sebagai multi-jutawan, ia bisa saja membeli puluhan mobil seperti itu. Namun, ia tahu bahwa ia tidak lagi memiliki apa pun. Ia memang punya banyak uang di bank, tetapi uang itu bukan lagi miliknya, melainkan milik Tuhan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa membeli mobil untuk dirinya sendiri tanpa persetujuan Tuhan, dan kecil kemungkinan Tuhan akan menyetujui pembelian mobil mewah. Jutawan ini kini memandang dirinya sebagai seorang penatalayan atas uang Tuhan, yang harus digunakan sesuai dengan pimpinan-Nya demi kemajuan Injil dan keselamatan manusia.
Mengucapkan selamat tinggal: sebuah proses
Kata “menyerahkan” atau “mengucapkan selamat tinggal” dalam teks Yunani Lukas 14:33 berada dalam bentuk waktu present tense (masa kini), yang menunjukkan suatu proses yang berkelanjutan. Yesus tidak bermaksud bahwa kita harus memberikan segala sesuatu sekaligus dalam satu waktu. Ini adalah proses yang terus-menerus, sebuah perjalanan pengelolaan dan penyerahan harta sebagai penatalayan yang baik. Kita mengucapkan selamat tinggal kepada segala sesuatu yang kita miliki, dan melepaskannya secara teratur, langkah demi langkah, sesuai dengan pimpinan Allah sebab segala sesuatu yang kita miliki dan bahkan diri kita sendiri adalah milik-Nya. Ketika bangsa Israel meninggalkan Mesir, mereka pun membuat persiapan yang matang.
Apakah ada makna yang lebih dalam dari penggunaan present tense di sini, yang mengekspresikan “tindakan yang berlangsung terus-menerus”? Ada kebijaksanaan Allah di dalamnya. Seandainya saya menyerahkan segala sesuatu hanya sebagai tindakan sekali jadi, lalu suatu hari saya tiba-tiba mewarisi satu juta dolar, saya mungkin berpikir bahwa saya sudah “memberikan semuanya” sehingga perkataan Yesus tidak berlaku bagi kekayaan baru itu, seolah-olah harta baru ini “bebas pajak surgawi”. Namun, Yesus memakai bentuk kata kerja present tense, yang berarti bahwa tindakan “mengucapkan selamat tinggal” itu berlaku terus-menerus dan permanen.
Dalam cara berpikir duniawi yang berpusat pada diri, kita sering menganggap Allah sebagai semacam pemungut pajak surgawi yang ingin merampas setiap dolar dari kita. Akan tetapi, perhatian Allah sangat sederhana: apa pun yang kita bawa keluar dari Mesir akan menjadi batu sandungan di padang gurun, dan akan menghalangi kita dari mencapai tanah perjanjian.
Ketika saya berusia dua belas tahun, saya dikirim bersekolah di Jenewa, Swiss, tempat ayah bekerja sekitar satu tahun di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sekali waktu, kelas kami pergi mendaki jarak jauh. Para murid biasanya ingin membawa macam-macam barang—kamera, senter, dan sebagainya—tetapi guru kami menasihati agar tidak melakukannya sebab apa yang terasa hanya satu pon di awal, akan terasa sepuluh pon setelah beberapa jam. Mereka yang tidak mendengarkan nasihat itu akhirnya menyesal. Pernahkah engkau mencoba membawa kamera besar (misalnya kamera SLR) selama perjalanan panjang? Pada awalnya terasa ringan, tetapi satu jam kemudian tali kameranya mulai terasa menyakitkan di bahu; dua jam kemudian terasa seperti lima pon; dan setelah beberapa jam, Anda berharap tak pernah memilikinya sama sekali.
Itulah sebabnya Yesus menyuruh tinggalkan semuanya. Setiap orang Israel yang membawa kursi kesayangannya ke padang gurun akan segera mendapati bahwa kursi itu menjadi beban. Pada hari pertama mungkin masih bisa ditoleransi; seminggu kemudian kursi itu akan berakhir sebagai kayu bakar. Ibrani 12:1 menasihati kita, “marilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang menjerat kita dan berlari dengan tekun pada perlombaan yang disediakan di hadapan kita.” Tinggalkan semuanya di belakang—terutama keserakahan dan ketamakan yang tak pernah puas dengan harta sebanyak apa pun—sebab hal-hal inilah yang akan menuntun kepada kehancuran.
Jadi, apakah kematian itu bersifat progresif atau seketika?
Mari kita kembali pada pertanyaan penting ini: Apakah mati itu suatu proses yang berlangsung terus-menerus, ataukah terjadi secara seketika? Apakah kita harus menghabiskan seluruh hidup Kristen kita dalam proses sekarat? Apakah kita mati terhadap satu dosa, lalu terhadap dosa lain, dan seterusnya sehingga hidup Kristen lebih tampak seperti kematian daripada kehidupan? Ataukah kematian ini bersifat seketika, sekali untuk selamanya?
Seperti yang telah kita lihat dalam bab sebelumnya, Alkitab menggambarkan manusia sebagai makhluk yang terdiri dari tubuh dan roh. Pembedaan ini sangat penting untuk memahami hakikat kematian. Ketika Paulus berkata, “Aku sudah disalibkan dengan Kristus … dunia sudah disalibkan untuk aku, dan aku untuk dunia” (Gal 2:20; 6:14), apa sebenarnya yang mati? Apakah tubuh jasmani Paulus benar-benar disalibkan di kayu salib? Tentu tidak. Jadi, apa yang mati bersama Kristus? Yang mati adalah rohnya. Paulus mati bersama Kristus pada tingkat rohani, meskipun tubuh fisiknya masih hidup.
Apakah jenis kematian ini bersifat seketika? Ya, jika memang kita sungguh-sungguh telah mengucapkan selamat tinggal kepada dunia sekali untuk selamanya pada saat baptisan. Penyaliban terhadap dunia (Gal 6:14) bukanlah suatu proses yang sedang berlangsung, melainkan suatu peristiwa yang sudah selesai dilakukan. Kata kerja “disalibkan” dalam teks Yunani Galatia 6:14 berada dalam bentuk perfect tense, yang menunjukkan tindakan yang telah selesai pada masa lalu, tetapi hasil dan pengaruhnya terus berlangsung hingga kini.
Namun, tubuh daging masih bersama kita, ia belum mati. Paulus berkata dalam Roma 7:25 bahwa hukum dosa masih berdiam dalam daging—yaitu dalam tubuh. Di situlah letak masalahnya: markas operasional dosa adalah daging, dan daging itu akan tetap ada bersama kita sampai tubuh jasmani ini mati. Secara rohani, saya telah mati sekali untuk selamanya, ketika saya dengan anugerah Allah, melalui iman, menyerahkan diri kepada-Nya. Itu adalah respons terhadap pekerjaan Roh Kudus di dalam diri saya. Namun, daging masih ada bersama saya, dan dosa masih ada di dalam daging.
Itulah sebabnya Paulus berkata dalam Roma 8:13: “Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Kata “mematikan” di sini berasal dari satu kata Yunani, thanatoō (θανατόω), yang berada dalam present tense, menunjukkan tindakan yang terus-menerus berlangsung. Artinya, jika saya, oleh kuasa Roh yang hidup di dalam saya, terus-menerus mematikan kegiatan daging yang bekerja di dalam diri saya, saya akan hidup. Namun, jika saya tidak mematikannya, saya akan mati. Karena itu Kolose 3:5 juga memerintahkan: “Karena itu, matikan (perintah dalam bahasa Yunani) sifat apa pun yang berasal dari sifat duniawimu, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, keinginan yang jahat, dan keserakahan, yang adalah penyembahan kepada berhala.”
Maka, pada tingkat rohani, kematian itu bersifat tegas dan seketika. Akan tetapi, pada tingkat jasmani, tubuh daging kita masih ada, masih peka terhadap dosa dan godaan, dan karena itu harus terus-menerus dimatikan, sebuah proses yang berkelanjutan.
Jadi, apakah kematian itu seketika atau progresif? Secara rohani: seketika. Secara jasmani (daging): progresif.
Kemenangan atas dosa
Jika kita belum mati secara rohani, kita tidak akan mampu memenangkan pertempuran melawan dosa karena dosa berdiam di dalam daging kita, membuat kita hidup dalam kekalahan. Namun, jika diri kita telah mati bersama Kristus, jika roh kita telah sepenuhnya berserah kepada Kristus, jika kita telah mengucapkan selamat tinggal kepada dunia, Roh Kudus dapat memperlengkapi kita dengan kuasa untuk hidup dalam kemenangan yang terus-menerus tanpa hambatan.
Meskipun dosa masih ada dalam daging, ia sedang dimatikan secara bertahap oleh kuasa Roh, dan kita mengalami kemenangan yang konsisten. Kita menikmati hidup yang berkelimpahan dari Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam 2 Korintus 2:14, “syukur kepada Allah, yang selalu memimpin kami kepada kemenangan di dalam Kristus.”
Ini menjelaskan makna sejati dari kekudusan. Hal ini sangat penting karena Allah memanggil kita untuk menjadi kudus (Ef 1:4; 1Ptr 1:15; 1Tes 4:3; dan lain-lain). Banyak orang masih memandang kekudusan sebagai semacam kesucian yang misterius, padahal dalam Perjanjian Baru, kekudusan berarti kemenangan atas dosa dalam hidup kita, bukan lenyapnya dosa.
“Seorang kudus” dalam arti Perjanjian Baru adalah orang yang, oleh kuasa penebusan Allah di dalam Kristus, telah dibebaskan dari rasa bersalah dan kuasa dosa.
Kegagalan memahami prinsip ini telah membuat beberapa pengkhotbah kekudusan mengajarkan secara keliru bahwa dosa telah dihapuskan dalam diri orang percaya. Saya ulangi fakta penting ini: dalam kehidupan Kristen, kekudusan bukan berarti lenyapnya dosa. Selama kita masih hidup dalam tubuh ini, dosa akan selalu ada di dalam kita, tetapi kita dapat menang atasnya oleh kuasa Allah yang memberikan kemenangan di dalam Kristus.
Allah berjanji kepada kita dalam Roma 8 dan di tempat-tempat lain dalam Kitab Suci bahwa kita tidak perlu dikuasai oleh dosa. Kita dapat selalu menang karena, setelah mati terhadap kehidupan lama, kita sekarang berjalan dalam hidup yang baru melalui Roh Allah yang diam di dalam kita.
Kemenangan melibatkan pertempuran. Tanpa pertempuran, di manakah kemenangan itu? Dalam pertempuran melawan dosa dan daging, kita merasakan kenyataan dari kemenangan itu. Dan kemenangan memerlukan kekuatan atau kuasa. Kuasa itu, saya tekankan sekali lagi, tidak akan menjadi milik kita sampai kita menaati ajaran Tuhan dan mengucapkan selamat tinggal kepada segala sesuatu yang kita miliki, bukan hanya harta benda tetapi terutama sifat dan sikap lama kita.
Sebagian dari ajaran ini mungkin sulit dipahami oleh orang yang belum percaya. Kepadanya saya katakan ini: harap pahami bahwa Yesus tidak pernah memberi janji palsu. Ketika Anda menjadi seorang Kristen, Anda akan mengalami sukacita dan kuasa kehidupan Kristen seperti yang telah dijanjikannya, tetapi hanya jika Anda melakukan apa yang ia katakan: tinggalkan cara hidup Anda yang lama dan ikutlah Yesus dengan segenap hati Anda. Maka Anda akan masuk ke dalam kepenuhan hidup yang baru bersama Kristus.
Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang.
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di
CPM Bookstore.