Pastor Eric Chang | Bab 1 |

“Bagaimana mungkin kita yang telah mati bagi dosa masih hidup di dalamnya?” (Rm 6:2)

Mengapa memulai dengan berbicara tentang kematian?

Karena buku ini membahas hal yang sangat penting, yaitu kehidupan—kehidupan baru melalui menjadi manusia baru—mengapa kita justru berbicara tentang kematian? Alasannya adalah karena yang baru tidak dapat datang sebelum yang lama berlalu. Paulus berkata tentang manusia baru di dalam Kristus bahwa “hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang” (2Kor 5:17).

Bagaimana kita dapat menjelaskan topik yang mendalam ini tentang kehidupan dan kematian, tentang yang baru dan yang lama? Kita akan memulainya melalui sebuah perumpamaan, dengan menggunakan dua ilustrasi: yang pertama diambil dari sejarah Tiongkok, dan yang kedua, yang lebih panjang, mengenai pergumulan melawan insomnia, sebelum kita melanjutkan pada ajaran Alkitab secara langsung tentang mati bersama Kristus.


Menangis atau bersukacita?

Berikut ini adalah kisah singkat, tetapi menggugah pikiran tentang sebuah peristiwa dalam sejarah Tiongkok, yang melibatkan Adipati Qing yang memimpin negara Qi dari tahun 598 hingga 582 SM:

Ketika Bangsawan Qing dari Qi melihat pemandangan indah di bagian utara wilayah negerinya, air mata mengalir dari matanya. Sambil terisak, ia berkata, “Betapa indahnya dataran subur milik kita … Tetapi hidup kita sependek air sungai yang mengalir lewat.” Setelah berkata demikian, ia menangis keras. Ai Kong dan Liang Qiuzhu pun menangis bersamanya. Namun, Yan Zi berdiri di samping dan tertawa seorang diri. Ketika Bangsawan Qing menyeka air matanya, ia bertanya, “Kita semua di sini menangis, mengapa engkau justru tertawa?” Yan Zi menjawab, “Aku tertawa karena ratapanmu yang tak bermakna. Jika hidup manusia tidak sependek itu, bagaimana mungkin engkau bisa menjadi Pangeran Qi?”

Siapa yang benar, mereka yang menangis atau dia yang tertawa? Keduanya benar, tetapi dengan alasan yang berbeda. Pemerintahan maut yang menimpa seluruh umat manusia karena dosa manusia adalah alasan untuk kesedihan yang paling dalam. Namun, dalam rencana dan maksud Allah, kematian memiliki fungsi yang penting: untuk menyingkirkan yang lama dan memberi jalan bagi yang baru. Jika yang lama tidak berlalu, bagaimana yang baru dapat datang? Inilah kebenaran yang dilihat dengan begitu jelas oleh Yan Zi. Bukankah kedatangan yang baru itu alasan untuk bersukacita? Di tengah lautan kesedihan ada sebuah pulau kegembiraan.

Injil adalah sebuah pulau di tengah samudra kematian. Dalam hikmat Allah, bahkan kematian pun dibuat untuk melayani kemajuan hidup. Jika kita hanya memusatkan pandangan pada kenyataan tentang kematian, kita pasti akan menangis seperti mereka dalam kisah itu. Akan tetapi, ketika kita melihat kehidupan muncul dari kematian, kita memiliki alasan untuk bersukacita. Yan Zi, adalah luar biasa untuk seseorang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Injil, telah menangkap sekilas suatu kebenaran penting, yang kepenuhannya dinyatakan dalam Yesus Kristus.

Prinsip penting ini, bahwa kehidupan baru di dalam Kristus datang ke dalam hidup kita hanya ketika yang lama telah berlalu, adalah sesuatu yang harus kita pegang teguh jika kita ingin memahami dan menerapkan pesan Injil tentang kehidupan baru di dalam Kristus. Kita akan kembali pada kebenaran dasar ini di berbagai bagian buku ini agar kita dapat memperoleh pengertian yang semakin jelas tentangnya.

Dalam kaitan ini, kita melihat satu kebenaran penting lainnya: kehidupan jasmani dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian, tetapi kehidupan rohani dimulai dengan kematian, dan melalui kematian memasuki kehidupan. Kematian yang terjadi dalam persekutuan dengan Kristus adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang baru, yaitu kehidupan yang kekal.


Sederhana, tetapi sulit dijelaskan

Dengan berbagai cara, firman Allah berbicara tentang orang percaya sebagai seseorang yang telah mati terhadap dosa, terhadap “manusia lama” yang dulu kita jalani, dan terhadap cara hidup lama kita di bawah kuasa dosa. Apa arti kematian ini dalam Alkitab?

Kematian sulit dijelaskan secara tepat justru karena hal itu begitu sederhana. Ini seperti mencoba menjelaskan makna komitmen total kepada Allah. Banyak orang berjuang untuk memahami apa itu komitmen total, padahal sebenarnya cukup sederhana. Jika saya berkomitmen pada sesuatu, saya memberikan diri saya sepenuhnya kepadanya. Jika saya berkomitmen sepenuhnya dalam pernikahan, saya memberikan diri saya sepenuhnya kepada istri saya. Segala milik saya adalah miliknya; seluruh diri saya adalah miliknya; saya menjalani hidup dengan mempertimbangkan dirinya.

Jika saya berkomitmen sepenuhnya kepada Allah, segala sesuatu yang saya miliki adalah milik-Nya: jaket saya, jam tangan saya, hidup saya. Kemampuan saya, betapapun terbatasnya, juga adalah milik-Nya. Adakah sesuatu yang sulit dipahami tentang hal ini?

Demikian pula, ketika saya mencoba menjelaskan arti kematian, saya segera menghadapi kesulitan: saya tidak benar-benar melihat di mana letak kesulitannya. Apa yang begitu sulit untuk dipahami tentang hal itu?

Pertanyaan-pertanyaan sulit muncul ketika kematian dibahas sebagai kenyataan eksistensial yang dihadapi manusia, seperti: mengapa kematian merupakan kenyataan dalam pengalaman manusia? Mengapa manusia harus mati? Apa penyebab akhirnya (berbeda dari penyebab langsung seperti penyakit)? Apakah kematian disebabkan oleh dosa? Apakah kematian itu final? Apakah kematian seperti sebuah terowongan yang harus dilalui semua orang? Akan tetapi, ini bukan pertanyaan-pertanyaan yang sedang kita bahas di sini.

Yang menjadi perhatian kita secara khusus adalah kematian terhadap dosa sebagai jalan untuk masuk ke dalam kehidupan baru di dalam Kristus. Inilah yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang kematian yang disebutkan dalam paragraf sebelumnya. Namun, kita tidak akan membahasnya pada tingkat teori.

Lalu, apa itu kematian? Pada dasarnya, mati terhadap dosa berarti mengakhiri cara hidup yang lama. Dengan meninggalkannya sepenuhnya, kita menutup seluruh gaya hidup lama itu. Dalam Perjanjian Lama, ungkapan “dilenyapkan” adalah cara yang kuat untuk menggambarkan bagaimana kehidupan seseorang berakhir (misalnya, Kel 9:15). Mati bersama Kristus memutuskan keterikatan kita pada gaya hidup lama itu sekali untuk selamanya.


Kematian digambarkan sebagai “tidur”

Sebelum kita melanjutkan pada ajaran Alkitab, izinkan saya menggunakan satu analogi lagi untuk menjelaskan arti kematian. Alkitab sering membandingkan kematian dengan tidur, seperti dalam ungkapan “tidur kematian” (Maz 13:3; bdk. Yoh 11:11, 13; 1Kor 11:30; 15:6, 18, 51).

Saya menggunakan analogi ini karena kita lebih mudah memahami tidur daripada kematian. Jika seseorang meminta Anda menjelaskan apa itu tidur, Anda mungkin akan berkata, “Itu sederhana. Tidur adalah tidur. Apa lagi yang bisa saya katakan? Saya berbaring, menutup mata, menarik napas beberapa kali—dan tertidur.”

Ada orang-orang yang membuat kita iri. Mereka berbaring dan dalam beberapa menit langsung tertidur. Yang lain berguling-guling selama satu jam dan masih terjaga. Bahkan jika seseorang menjelaskan mekanisme tidur kepada mereka, mereka tetap tidak bisa tidur. Apa gunanya mendengarkan kuliah tentang tidur kalau pada akhirnya kita tetap tidak bisa tertidur? Kita mencoba berbagai teknik untuk bisa tidur, tetapi tidak ada yang berhasil.

Ketika Allah memanggil saya kepada-Nya, Dia berkata, “Pikul salibmu dan akhiri kehidupan lamamu.” Saya berkata, “Baik, hidup lamaku telah berakhir. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu.” Ketika Yesus berkata “Ikutlah aku” kepada Petrus dan Andreas, mereka segera meninggalkan jala mereka dan mengikut dia. Ketika Yesus melihat Yakobus dan Yohanes, “Ia memanggil mereka, dan mereka segera … mengikuti dia” (Mat 4:19-22).

Tanggapan mereka terhadap panggilan itu bersifat langsung, sebuah respons total dan spontan yang muncul dari ketaatan yang penuh sukacita. Mereka tidak dihalangi oleh kehendak yang terbagi, antara kehendak mereka sendiri dan kehendak Allah, melainkan meninggalkan cara hidup mereka, dan mengikuti Yesus.

Hal ini tidak meniadakan adanya masa persiapan sebelum mereka menanggapi panggilan itu. Mereka pasti sudah melihat atau mendengar tentang Yesus sebelum ia memanggil mereka, dan sudah mengenal pribadi serta pesannya, yang mereka pertimbangkan dengan saksama dan dalam doa. Respons yang langsung bukan berarti respons yang buta, tetapi respons yang muncul dari melihat “kemuliaan Allah yang ada pada wajah Yesus Kristus” (2Kor 4:6).

Adapun untuk pertanyaan: apa itu mati?, yang bisa saya katakan hanyalah: “Mati adalah mati. Apa lagi yang bisa saya katakan?” Jawaban yang tampak tautologis ini mirip dengan jawaban yang kita dapat jika bertanya kepada seseorang, “Apa itu tidur?” Ia mungkin akan berkata, “Tidur adalah tidur. Saya berbaring, dan dalam sepuluh detik saya sudah tertidur pulas.”

Pertanyaan sederhana kita ternyata sulit dijawab. Kita mungkin mencoba menjelaskan tidur secara ilmiah dalam kaitannya dengan arus listrik yang mengalir di otak. Lalu seseorang menyarankan, “Cobalah susu hangat karena susu kaya akan asam amino, terutama triptofan yang membantu tidur.” Kita pun meneguk banyak susu, tapi malah menderita gangguan pencernaan yang membuat kita semakin sulit tidur!

Apakah ada solusi lain? Ada banyak buku tentang tidur. Saya telah membaca tentang berbagai teknik untuk tidur, tetapi semuanya tidak berhasil bagi saya. Secara teori saya tahu banyak tentang tidur, tetapi dalam praktiknya tetap ada masalah, seperti halnya orang-orang yang berjuang untuk memahami apa arti mati terhadap dosa.


Tidur memberi kekuatan dan semangat

Mereka yang telah mati terhadap dosa memiliki semangat rohani dan kekuatan batin yang tidak dimiliki oleh orang lain. Menggunakan analogi tidur, sering kali terjadi bahwa mereka yang memiliki masalah tidur kekurangan tenaga fisik dibandingkan dengan mereka yang dapat tidur dengan baik.

Lebih dari itu, mereka yang telah mati bersama Kristus memiliki pengalaman rohani yang luar biasa dan dapat bersaksi tentang apa yang telah Allah lakukan bagi mereka. Hal ini membuat orang lain berkata, “Bagaimana dengan saya? Saya tidak pernah mengalami apa yang mereka bicarakan. Allah melakukan hal-hal yang menakjubkan bagi mereka, tetapi tidak bagi saya.”

Ada kesamaan antara tidur dan kematian. Dengan memahami yang satu, kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang yang lain. Jika Anda tidak memiliki masalah untuk tidur, Anda seharusnya juga tidak memiliki masalah untuk mati, jika Anda menerapkan analogi ini dalam hidup Anda.


Komitmen untuk mati

Sebuah komitmen untuk tidur sangat penting agar seseorang dapat benar-benar tertidur. Sebagian masalah saya adalah bahwa saya tidak berkomitmen untuk tidur. Ketika saya berbaring, pikiran saya memikirkan banyak hal. Saya akan menyalakan lampu dan menulis catatan. Saya sibuk dengan banyak urusan sehingga tidur menjadi hal yang tidak saya prioritaskan. Akan tetapi, saya memperhatikan sesuatu yang luar biasa: ketika saya harus bangun pagi untuk menghadiri sebuah pertemuan, saya berkomitmen untuk tidur, dan saya bisa tidur dengan nyenyak.

Demikian pula, ada orang yang mengalami kesulitan untuk mati terhadap kehidupan yang lama. Akar masalahnya adalah bahwa mereka tidak mau mati. Jika Anda memeriksa hati Anda dengan jujur, Anda akan melihat bahwa Anda sebenarnya tidak sungguh-sungguh berkomitmen untuk mati. Anda tahu pentingnya kematian ini karena hal itu berkaitan dengan keselamatan dan kehidupan baru di dalam Kristus; tetapi setelah menghitung biayanya, Anda tidak bersedia.

Hal ini membawa kita pada kesamaan lain antara kematian dan tidur: Apakah tidur bergantung pada sesuatu yang saya lakukan, ataukah itu sesuatu yang terjadi pada saya? Tidur adalah sesuatu yang misterius. Anda menyerahkan diri Anda untuk tidur, dan tiba-tiba tidur itu datang. Anda mengambil langkah pertama, lalu tidur menyelimuti Anda. Demikian pula, ketika Anda menyerahkan diri Anda untuk mati bersama Kristus, kematian itu akan datang atas Anda.


Tidur terhalang oleh lingkungan yang buruk

Ketika kita pergi berkemah, mungkin kita sudah berniat untuk tidur, tetapi udara malam yang dingin membuat kita tetap terjaga. Atau jika kita berkemah di daerah panas, hawa gerah membuat kita tidak bisa tidur. Kebisingan juga merupakan hal lain yang mengganggu tidur kita. Di seberang rumah saya tinggal seorang pemuda yang menyukai musik “Jreng! Jreng!” yang telah mengganggu tidur saya berkali-kali.

Di sini kita melihat kesamaannya. Banyak orang ingin mati terhadap kehidupan yang lama, tetapi terhalang oleh dinginnya penolakan, oleh pikiran bahwa orang-orang akan menolak Anda. Keluarga menolak Anda, teman-teman menolak Anda, rekan kerja menolak Anda. Siapa yang mau dibiarkan kedinginan dalam kesendirian seperti itu?

Atau masalah panas. Yesus membandingkan panas dengan penganiayaan (Mat 13:6, bdk. ay. 21). Teriknya matahari membakar Anda. Anda ingin menyerahkan hidup kepada Allah, tetapi takut menghadapi penderitaan dan penganiayaan. Anda tidak berani mengakhiri cara hidup lama dan memulai yang baru.

Lalu ada kebisingan dan gangguan dari dunia ini. Orang-orang di Hong Kong sangat akrab dengan kebisingan. Di Hong Kong, saya harus menyumbat telinga hanya untuk bisa tidur di tengah suara anjing menggonggong, pekerjaan konstruksi, dan teriakan di jalanan. Ada yang meneliti dengan alat pengukur kebisingan bahwa Hong Kong adalah salah satu kota paling bising di dunia.

Dunia terus menuntut perhatian kita bahkan melalui lampu-lampu neon. Di sebuah hotel tempat saya menginap, ada papan neon di luar jendela. Lampunya menyala dan mati, menyala dan mati, merah dan hijau, merah dan biru. Beberapa hotel memiliki tirai yang begitu tipis sehingga hampir tidak berguna. Dindingnya berkilau, langit-langit pun berkilau. Lebih dari itu, dunia material memaksa kita untuk terus membeli, menawarkan jam tangan yang indah, kamera, pemutar musik, makanan, dan perhiasan. Bagaimana mungkin Anda dapat mati terhadap cara hidup yang lama?

Setelah membahas lingkungan yang buruk, bagaimana dengan lingkungan yang baik? Di perkemahan (camp) gereja kami di Danau Magog yang indah di Kanada, beberapa orang tidur nyenyak karena udara segar. Namun, lingkungan yang nyaman menciptakan masalah sebaliknya: berjuang untuk tetap terjaga pada siang hari selama pertemuan! Demikian pula, kemakmuran materi dapat merugikan kesehatan rohani. Dalam lingkungan rohani yang mati atau puas diri—tetapi yang justru mendorong kehidupan yang dikuasai oleh daging—sulit untuk mati terhadap kehidupan yang lama. Jika orang Kristen, bahkan para pemimpin gereja di sekitar kita hidup secara duniawi, maka mati terhadap dunia akan menjadi semakin sulit bagi kita.


Kebebasan dari dosa

Paulus berkata:

“Kita tahu bahwa manusia lama kita disalibkan dengan [Kristus] dan tubuh dosa dilenyapkan bersamanya sehingga kita tidak akan menjadi hamba-hamba dosa. Karena siapa yang sudah mati, ia sudah dibebaskan dari dosa.” (Rm 6:6–7, AYT).

Dalam seluruh pasal Roma 6 itu, Paulus menjelaskan arti baptisan dan akibatnya: kebebasan dari pemerintahan dosa.

Perhatian Paulus bersifat praktis, jadi perhatian kita pun harus pada kehidupan Kristen yang praktis. Banyak buku akademis tentang Kitab Roma memberi kesan bahwa surat ini adalah suatu perjalanan megah ke puncak-puncak teologi yang terlepas dari kehidupan sehari-hari. Padahal sebenarnya, Roma sangat relevan bagi kehidupan sehari-hari.

Paulus mengatakan bahwa “manusia lama kita disalibkan dengan Kristus dan tubuh dosa dilenyapkan”. Di sini “manusia lama” adalah terjemahan literal dari bahasa Yunani palaios anthrōpos. Adapun istilah “tubuh dosa”, bentuk genitif di sini menggambarkan tubuh yang dikendalikan oleh dosa. Tubuh inilah yang “dilenyapkan” dalam baptisan. Ketika kita disatukan dengan Kristus dalam baptisan, tubuh dosa—tubuh yang dikendalikan oleh dosa—“dilenyapkan”.

Anda mungkin membantah, “Tapi tubuhku masih ada!” Bukan itu makna “dilenyapkan” di sini. Dalam mempelajari Alkitab, penting untuk bekerja dengan bahasa aslinya. Di sini kata Indonesia “dilenyapkan” menimbulkan salah pengertian, tetapi kita tidak bisa menyalahkan para penerjemah karena tidak ada padanan kata yang tepat untuk kata Yunani tersebut. Tubuh kita tidak lenyap saat baptisan. Lalu apa makna “dilenyapkan” itu?


“Dilenyapkan” berarti dineutralisir

Kata Yunani katargeō berasal dari dua kata, kata dan argos (“menganggur, tidak efektif, tidak berguna”). Kata argos sendiri berasal dari ergon (“pekerjaan, perbuatan, tindakan”) yang dikombinasikan dengan awalan negatif a-. Awalan negatif ini meniadakan atau membalikkan makna kata dasarnya sehingga argos berarti sesuatu yang tidak bekerja—menganggur, malas, atau tidak berfungsi. 

Ini mengingatkan kita pada benda-benda yang tampak mengesankan, tetapi mudah rusak. Ketika jam tangan kuarsa pertama kali dipasarkan, saya membeli satu yang harganya cukup murah. Jam-jam itu seharusnya sangat akurat, tetapi yang saya beli justru maju beberapa menit setiap hari dan berhenti berfungsi setelah dua minggu. Ini bisa digambarkan sebagai argos; jam itu berhenti bekerja—tidak berfungsi.

Demikian juga, katargeō berarti membuat sesuatu menjadi tidak aktif, tidak berguna, tidak berfungsi. Dalam istilah militer, kata ini berarti menetralkan atau melumpuhkan musuh. Musuh yang sudah dineutralisir mungkin masih ada, tetapi tidak lagi menjadi ancaman.

Dapat kita pahami betapa sulitnya menerjemahkan kata Yunani ini. Jika Anda mencarinya dalam konkordansi, Anda akan menemukan bahwa kata ini diterjemahkan dengan berbagai cara, tergantung pada konteksnya. Beberapa kata Yunani memang benar-benar sulit diterjemahkan secara tepat. Sayangnya, ketika sebuah terjemahan Alkitab mengatakan bahwa tubuh dosa “dilenyapkan”, terjemahan itu justru menimbulkan kebingungan lebih besar daripada penjelasan.

Apa yang dikatakan Paulus adalah bahwa tubuh dosa telah dinetralisir. Ia tidak lagi menjadi kekuatan yang berkuasa dalam kehidupan rohani kita. Ini adalah hasil dari pekerjaan Allah di dalam hidup kita, di mana manusia lama kita telah diserahkan kepada kematian. Manusia lama itu masih ada, demikian juga tubuh yang sebelumnya dikuasai oleh dosa, tetapi keduanya tidak lagi menjadi unsur yang mengendalikan kehidupan rohani kita. Itulah kabar baik dari Roma 6.

Kata Yunani yang sama juga digunakan dalam Ibrani 2:14 untuk menyatakan bahwa Yesus dinyatakan untuk “membinasakan” (AYT) Iblis atau, lebih tepatnya, untuk “membuat Iblis tak berdaya” (NASB). Dalam arti apa Iblis telah dibinasakan? Bukankah ia masih ada? Kita tahu dengan baik bahwa Iblis masih aktif dan belum lenyap dari keberadaan, tetapi kuasanya telah dibatasi. Dan suatu hari akan datang ketika ia akan sepenuhnya dinetralisir (Why 20:10).

Paulus menggunakan kata yang sama, katargeō, dalam 2 Timotius 1:10 untuk mengatakan bahwa Kristus telah “menghapus” kematian. Akan tetapi, kematian masih merupakan kenyataan. Salah satu teman saya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Paulus tidak bermaksud bahwa kematian telah dihapuskan dari keberadaan, tetapi bahwa kematian, bagi orang Kristen, telah dineutralisir. Ia tidak lagi berkuasa atas orang percaya, karena kematian bagi mereka bukanlah bab terakhir.

Demikian juga, Iblis telah dimusnahkan, bukan dalam arti telah dilenyapkan, melainkan bahwa ia tidak lagi dapat menguasai dan menghancurkan mereka yang tinggal di dalam Kristus. Begitu pula, kematian bukanlah ancaman bagi kita jika kita tinggal di dalam Kristus, meskipun kematian fisik masih merupakan kenyataan. Akan datang hari ketika kematian benar-benar dihapuskan (Why 20:14).

Untuk menggunakan sebuah analogi, pada masa lalu wabah kolera atau pes telah memusnahkan sebagian besar umat manusia. Ketika wabah menyerang, ribuan orang dapat mati dalam waktu singkat. Namun, melalui pengetahuan dan praktik medis yang berkembang, kolera dan pes kini telah dinetralisir (katargeō), sama seperti kematian telah dineutralisir bagi orang percaya yang hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Ini tidak berarti bahwa kuman atau virus tersebut telah lenyap, melainkan bahwa mereka telah dinetralisir, bahwa kemampuan mereka untuk membinasakan kita telah dibuat tidak efektif, dan tidak lagi menjadi ancaman bagi manusia selama kita mengambil langkah pencegahan yang tepat. Demikian pula, meskipun tubuh dosa masih ada, ia tidak lagi menjadi ancaman bagi saya selama saya mengambil langkah pencegahan yang benar, yakni tetap tinggal di dalam Kristus.

Kuman kolera dan pes masih dapat membunuh orang yang tidak terlindungi yang bersentuhan dengannya. Mereka yang menanganinya di laboratorium penelitian harus mengambil tindakan perlindungan karena agen biologis ini tetap aktif dan mematikan seperti sebelumnya.

Demikian juga, jika kita bermain-main dengan dosa, Iblis dapat menghancurkan kita sama efektifnya seperti dulu. Ya, tubuh dosa mungkin telah dinetralisir, kita bebas dari kendalinya. Akan tetapi, jika kita kembali kepada dosa, dosa itu akan membinasakan kita sama pastinya seperti sebelumnya. Dosa tidak akan lagi berkuasa atas kita hanya jika kita tetap tinggal di dalam Kristus.

Itulah kabar baik dari Roma 6:6. Kabar baik ini menjadi kenyataan dalam diri kita ketika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah melalui tindakan iman dalam baptisan. Komitmen total adalah tindakan dan ungkapan iman. Masuk ke dalam baptisan adalah langkah iman, jadi baptisan tanpa iman hanyalah ritual lahiriah tanpa makna rohani.

Ketika kita mengambil langkah iman dengan menyerahkan diri kita—menyerahkan sepenuhnya—untuk mati bersama Kristus dalam baptisan, tubuh dosa itu dinetralisir oleh kuasa Allah di dalam Kristus. Kita dapat mengalami kematian terhadap dosa dan kebebasan dari dosa ini sama nyatanya seperti ketika tidur yang menyegarkan datang menyelimuti kita.


Kebebasan dari dosa adalah realitas

Pasal berikutnya, Roma 7, berbicara tentang kuasa dosa. Dalam ayat 15–16, Paulus menggambarkan keadaan dirinya dahulu: kebaikan yang ingin ia lakukan tidak dapat ia lakukan, dan kejahatan yang tidak ingin ia lakukan, justru ia perbuat. Kita bisa berempati dengan pengalamannya. Dahulu, bahkan ketika kita tidak ingin menyerah pada pikiran yang penuh nafsu, kita tidak mampu melawan kuasanya. Kita tidak ingin membenci, namun tetap saja membenci seseorang.

Akan tetapi, Paulus berkata bahwa kita tidak lagi berada di bawah belas kasihan dosa. Yakobus 4:7 mengatakan bahwa kita memiliki kuasa untuk melawan Iblis, dan ia akan lari dari kita. Iblis mungkin jauh lebih kuat daripada kita, tetapi ia akan melarikan diri ketika kita melawannya. Kita memiliki kuasa untuk melawan Iblis dan menolak dosa, karena kita telah dibebaskan dari kendali mereka.

Apakah itu menjadi pengalamanmu saat ini? Saya katakan “saat ini” karena Roma 6 berbicara tentang pengalaman yang nyata di masa kini:

“Karena siapa yang sudah mati, ia sudah dibebaskan dari dosa” (ay 7).

Tubuh dosa telah dinetralisir sekarang, bukan nanti di masa depan. Dalam baptisan, kita menyerahkan diri kepada kematian—kematian terhadap diri yang lama—dan kita mengakhiri cara hidup lama di sini dan sekarang.

Dulu kita hidup sesuai dengan gambaran suram dalam Roma 7: kita tidak mampu melawan dosa. Namun, syukur kepada Allah, Roma 8:2 mengatakan, “Sebab, hukum Roh kehidupan dalam Yesus Kristus telah memerdekakan kamu dari hukum dosa dan maut.”

Prinsip kehidupan dalam Kristus Yesus telah mengalahkan prinsip dosa dan maut di dalam diri kita. Kita telah dibebaskan karena satu kuasa telah mengalahkan kuasa yang lain. Di dalam Kristus, kehidupan telah mengalahkan kematian. Kuasa dosa memang besar, tetapi kita telah dibebaskan oleh kuasa kehidupan yang lebih besar di dalam Kristus Yesus melalui Roh Kudus.

Sekarang saya dapat menolak dosa karena dosa bukan lagi tuan atas hidup saya. Roma 6:12 berkata, “Karena itu, jangan lagi membiarkan dosa menguasai tubuhmu yang fana, yang membuatmu mengikuti keinginannya.” Perhatikan kata yang penting di sini: “jangan.” Dahulu, kita tidak punya pilihan selain berdosa karena dosa menguasai kita. Kita berusaha menolaknya, tetapi usaha itu sia-sia karena dosa terlalu kuat. Namun sekarang, kita memiliki kuasa untuk memilih—kuasa untuk “tidak membiarkan.” Kita kini bebas untuk memilih untuk “tidak membiarkan dosa menguasai tubuh kita yang fana”.

Namun, jika kita terus membiarkan dosa berkuasa dalam hidup kita, maut pasti menanti. Seperti peringatan Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma: “Menaruh pikiran pada daging adalah maut.” Ia kemudian berkata, “tetapi menaruh pikiran pada Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Rm 8:6). Kita dapat memilih salah satunya: daging atau Roh, maut atau hidup. Dahulu kita tidak punya pilihan karena dosa menguasai kita, tetapi sekarang kita dapat memilih untuk tidak lagi menjadi budak dosa.

Roma 6:14 mengatakan, “Sebab, dosa tidak akan berkuasa atasmu karena kamu tidak lagi di bawah Hukum Taurat, melainkan di bawah anugerah.” Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus tidak diberikan kepada semua orang sebagai anugerah Allah. Roh Kudus adalah tanda dan meterai dari Perjanjian Baru, bukan Perjanjian Lama. Di bawah hukum Taurat, dosa berkuasa atas manusia. Walaupun kita tahu perintah-perintah Allah, kita tidak dapat mematuhinya karena dosa terlalu kuat. Hukum Taurat menjadikannya jelas bahwa semua manusia, bahkan yang paling religius sekalipun, berada di bawah kuasa dosa. Namun, kini dosa telah kehilangan kuasanya atas mereka yang ada di dalam Kristus.

Roma 6:18 berkata, “dan karena telah dibebaskan dari dosa, sekarang menjadi budak kebenaran.” Ayat 22 menjelaskan akibat dari kemerdekaan ini: “Namun sekarang, sesudah kamu dibebaskan dari dosa dan telah menjadi hamba Allah, buah yang kamu dapatkan membawa kepada pengudusan yang berakhir pada hidup yang kekal”. Apa hasil dari hidup yang telah dibebaskan dari dosa dan bertumbuh dalam kekudusan? Hidup yang kekal.

Sangatlah penting untuk dibebaskan dari kuasa dosa. Ini bukan perkara yang bisa dipilih sesuka hati karena hal ini berkaitan langsung dengan keselamatan kita. Kebebasan dari dosa sangatlah penting sebab ujung dari jalan yang sempit itu adalah hidup yang kekal. Mereka yang belum dibebaskan dari dosa akan berjalan di jalan yang lebar, yang menuju kepada kebinasaan.


Pada saat baptisan, kita berjalan menuju pemakaman kita sendiri

Sama seperti kita menyerahkan diri untuk tidur di tengah kebisingan dan gangguan, demikian pula kita menyerahkan dan mempercayakan diri untuk dipersatukan dengan Kristus, untuk “dibaptis dalam kematiannya” (Rm 6:3) dan “dikuburkan bersama dia dalam baptisan … supaya kita juga boleh hidup dalam kehidupan yang baru” (ay 4).

Keputusan itu ada di tangan kita. Orang yang akan dibaptis sedang berjalan menuju pemakamannya sendiri, sesuatu yang luar biasa karena biasanya orang dibawa ke pemakaman, bukan berjalan ke sana sendiri. Dan kita tidak menyeret orang yang sedang menendang dan berteriak ke baptisan, memaksa mereka dikuburkan melawan kehendaknya. Tidak, setiap orang harus membuat keputusan sendiri untuk berjalan masuk ke dalam air, untuk dikuburkan bersama Kristus.

Jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah tanpa syarat, bagian lainnya bersifat pasif: kematian datang atas kita seperti gelombang. Ombak menutupi kita, sebagaimana digambarkan dalam Perjanjian Lama (Yun 2:3). Air baptisan menyapu bersih cara hidup yang lama, sebagaimana air bah pada zaman Nuh (1Pet 3:20–21) sehingga di dalam Kristus (seperti bahtera itu), kita dibawa kepada kehidupan yang baru. Ini adalah sesuatu yang dikerjakan Allah di dalam diri kita, bukan sesuatu yang kita lakukan sendiri.


Manusia: tubuh dan roh

Roma 6:6 berbicara tentang “manusia lama”. Bagaimana kita memahami susunan keberadaan manusia? Alkitab berbicara tentang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari dua bagian: tubuh dan roh.

Kita tidak akan masuk ke dalam pembahasan teologis tentang susunan manusia, apakah bersifat dikotomis atau trikotomis (yakni, terdiri dari dua bagian atau tiga). .

Dalam Kitab Suci, manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian: yang rohani dan yang jasmani. Misalnya, Matius 26:41 berkata, “Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Di sini, roh yang lemah dikalahkan oleh daging. Jika roh ingin menang, daging harus dinetralisir atau dilepaskan dari kuasanya atas kita.

Roma 8:10 juga berbicara tentang tubuh dan roh: “Akan tetapi, jika Kristus ada dalam kamu, walaupun tubuhmu mati karena dosa, roh hidup oleh karena kebenaran.” Apakah tubuhmu benar-benar mati? Tidak, tubuhmu masih hidup dan mungkin masih sehat. Namun, maknanya jelas. Tubuh telah diserahkan kepada kematian untuk menghancurkan dosa yang ada di dalamnya sehingga kuasa dosa itu dihapuskan. Akibatnya, “roh hidup oleh karena kebenaran.” “Roh” dalam ayat ini adalah roh manusia. Jika roh kita benar-benar hidup, roh itu akan berfungsi dalam keselarasan yang erat dengan Roh Kudus Allah.

Perkataan Paulus dalam Roma 8:13 kini dapat diterapkan sepenuhnya: “…jika oleh Roh (Roh Kudus), kamu (roh kita) mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Akan tetapi, bagaimana mungkin perbuatan-perbuatan tubuh itu “dimatikan” sementara tubuh yang menghasilkan perbuatan itu masih berfungsi? Jelas bahwa “perbuatan-perbuatan tubuh” hanya dapat dinetralisir ketika “tubuh dosa” dijadikan tidak berfungsi melalui kuasa Roh yang diam di dalam kita.

Ketika kendali dosa atas tubuh dipatahkan dan kuasanya dinetralisir, tubuh yang telah dimerdekakan itu kini dapat berfungsi dengan efektif sebagai “bait Roh Kudus” atau “bait Allah” (1Kor 6:19; 3:16). Meskipun daging memiliki kecenderungan alami untuk melawan Roh, tubuh di mana perbuatan-perbuatan daging telah dinetralisir dapat menjadi alat kebenaran yang efektif.

Namun, kita tidak boleh mengabaikan bahwa kata-kata dalam Roma 8:13 itu ditujukan kepada “kamu”. Roh kita berperan penting dalam menyerahkan diri kepada pemerintahan Allah dan dalam menyalibkan perbuatan-perbuatan tubuh kepada kematian. Kita (roh kita) dipanggil untuk mengambil peran aktif dalam komitmen ini.


Mengosongkan diri—menjadi persembahan yang tercurah

Di sini kita dapat belajar dari Filipi 2. Penyerahan roh kita kepada Allah sejajar dengan penyerahan diri Yesus, yang “membuat dirinya tidak memiliki apa-apa” (Flp 2:7). Kristus mengosongkan dirinya. Ia mewujudkannya secara nyata dengan menjadi seorang hamba dan merendahkan dirinya, “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (ay 8). Pikiran Kristus ini memiliki padanannya dalam diri kita ketika kita juga menyerahkan tubuh kita kepada kematian dengan mencurahkan diri baginya.

Kita dibebaskan dari dosa ketika kita menyerahkan diri kita, baik tubuh maupun roh, dalam penyangkalan diri yang rela berkorban, dengan mengikuti Yesus Kristus (sebuah tema umum dalam Injil). Ketika Yesus mengosongkan dirinya, ia memberikan dirinya demi keselamatan kita. Demikian pula, ketika kita mengosongkan diri kita, kita memberikan diri kita demi keselamatan orang lain. Di sinilah kita melihat pemuridan dalam terang yang sejati.

Paulus pun mengosongkan dirinya. Dalam pasal yang sama ia berkata,

“Sekalipun aku harus dicurahkan seperti cawan persembahan di atas kurban dan pelayanan imanmu, aku bergembira dan bersukacita dengan kamu semua” (Flp 2:17).

Paulus adalah bejana yang darinya hidupnya dicurahkan. Bejana itu adalah tubuhnya, yang berisi hidupnya yang ia persembahkan sebagai persembahan, tercurah seperti persembahan minuman dalam Perjanjian Lama. Ia berkata, “Jika hidupku dan darahku tercurah bagi kalian, aku bersukacita.” Paulus mengosongkan dirinya untuk melayani umat Allah, meneladani Tuannya yang datang bukan untuk dilayani, tetapi “untuk melayani dan untuk memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28).

Jika kita menginginkan kebebasan dari dosa, bukankah kita juga menginginkan kebebasan dari kuasanya? Dahulu, sebagai hamba dosa, kita tidak punya pilihan selain berdosa. Namun, sekarang kita telah bebas dari kuasa dosa dan memiliki kebebasan untuk memilih.

Apakah kita menganggap harga untuk menjadi manusia baru di dalam Kristus terlalu mahal? Apakah kita berpikir bahwa tetap hidup di bawah perbudakan dosa akan menuntut harga yang lebih ringan? Apakah mencurahkan diri kita sebagai persembahan kepada Allah demi berkat bagi orang lain, dan sebagai persembahan syukur kepada Kristus “yang mengasihi aku dan telah memberikan dirinya untuk aku” (Gal 2:20), terasa lebih dari yang bersedia kita berikan?

Ketika kita berbicara tentang “iman”, apakah yang kita maksud sama seperti yang Paulus maksud dalam Filipi 2:17, di mana ia berbicara tentang “kurban dan pelayanan imanmu”? Kiranya Allah menganugerahkan kepada kita iman yang hidup, dinamis, dan berfungsi, yang mengungkapkan dirinya dalam “kurban dan pelayanan iman”.

Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨