Pastor Eric Chang | BNP – Pendahuluan |
Kabar baik yang diberitakan dalam Injil (yang berarti “kabar baik”) adalah bahwa tidak seorang pun harus tetap terbelenggu dalam cara hidup lama yang sia-sia, melainkan setiap orang dapat ditebus dan dijadikan baru di dalam Yesus Kristus. Manusia tidak lagi harus menjalani kehidupan di dunia ini dalam kegelapan rohani yang terus-menerus, tanpa memahami makna hidup dan tanpa mampu melepaskan diri dari perasaan hampa. Pesan pengharapan yang luar biasa ini dinyatakan melalui pernyataan yang revolusioner:
“Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang!” (2Kor 5:17).
Kita perlu membiarkan kata-kata ini meresap ke dalam pemahaman kita agar kita dapat merasakan kekuatan dan maknanya. Kita perlu merenungkan dan menikmati setiap katanya, hingga maknanya benar-benar menyinari hati kita. Barulah kemudian kita dapat memegang kebenarannya dan mengalami kenyataannya dalam hidup kita.
Manusia sejak dahulu telah merindukan sesuatu yang lebih baik dan lebih kekal dalam hidup ini. Betapa banyak darah telah tertumpah melalui perang dan revolusi demi harapan akan terciptanya dunia yang lebih baik. Namun, bagaimana mungkin masyarakat dapat berubah menjadi lebih baik jika manusia itu sendiri tidak berubah?
Namun, manusia tidak dapat mengubah dirinya sendiri. Ia mungkin mampu melakukan berbagai perbaikan diri, tetapi semua itu tidak pernah menghasilkan perubahan yang mendasar. “Dapatkah macan tutul mengganti bintik-bintiknya?” (Yer 13:23). Kita sama sekali tidak dapat mengubah diri kita sendiri, sebagaimana kita tidak dapat mengganti kulit kita. Hanya Allah yang sanggup mengubahkan kita dari dalam ke luar, dan menjadikan kita “ciptaan yang baru”.
Pesan Perjanjian Baru adalah bahwa Allah telah membuat hal ini menjadi mungkin melalui Yesus Kristus, yang memanggil kita “keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib” (1Pet 2:9). “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita kepada Kerajaan Anak-Nya yang terkasih” (Kol 1:13). Ia membebaskan kita dari perbudakan dosa yang menguasai cara hidup kita yang lama, supaya kita dapat masuk ke dalam “kemerdekaan mulia dari anak-anak Allah” (Rm 8:21). Ia membebaskan kita dari kuasa-kuasa kejahatan yang menguasai kehidupan di dunia ini dan memampukan kita untuk hidup baru di dalam Kristus.
Dalam menjadi manusia baru, kita “mati” terhadap kehidupan dan gaya hidup kita yang lama. Ego lama kita—“manusia lama” (Rom 6:6)—dibinasakan melalui penyatuan kita dengan Kristus yang disalibkan. Kemudian, kita menerima identitas yang baru sebagai anak-anak Allah, melalui Kristus yang telah bangkit dan kini hidup di dalam kita.
“Ciptaan baru” dan “kelahiran baru”
Perjanjian Baru menggambarkan proses menjadi manusia baru yang luar biasa ini dengan dua cara. Pertama, digambarkan sebagai kelahiran baru, atau kelahiran dari atas, yaitu kelahiran rohani yang berbeda dengan kelahiran jasmani (Yoh 3:3–7). Inilah yang disebut sebagai “kelahiran kembali” (regeneration). Cara kedua, yang terutama digunakan dalam surat-surat Paulus, adalah dengan istilah “ciptaan baru” atau “makhluk baru” (2Kor 5:17; Gal 6:15), yakni manusia yang sepenuhnya baru, yang diciptakan menurut gambar Kristus.
Apa pun istilah yang digunakan, penekanannya tetap sama, yaitu kebaruan hidup seseorang di dalam Kristus. Dalam Perjanjian Baru, hanya manusia baru—yaitu orang yang telah dilahirkan kembali dan diciptakan ulang di dalam Kristus—yang sungguh-sungguh disebut “orang Kristen”. Menjadi seorang Kristen bukan sekadar pengakuan iman, atau keanggotaan gereja, atau pelaksanaan ritual keagamaan, atau bahkan warisan budaya, melainkan mengenai siapa seseorang itu di dalam dirinya. Dalam pengertian Perjanjian Baru, tidak ada seorang pun yang benar-benar Kristen jika ia tidak memiliki kehidupan Kristus di dalam dirinya, atau jika Roh Allah tidak diam di dalam dirinya.
Anugerah dan iman
Perubahan dari yang lama menjadi yang baru tidak lain adalah sebuah mukjizat kuasa Allah yang menyelamatkan. Yang lama berada di bawah kutuk maut; segala sesuatu yang hidup di dunia akan menua dan akhirnya mati. Namun, Allah membalikkan proses itu dengan mendatangkan kehidupan dari kematian melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Mereka yang hidup dalam perbudakan maut kini dapat menerima kehidupan Kristus, ketika Allah membentuk manusia yang sama sekali baru dari tanah liat kehidupan yang lama. Orang seperti itu telah “keluar dari kematian menuju kehidupan” (1Yoh 3:14). Karunia kehidupan dan perubahan yang menakjubkan ini disebut oleh Perjanjian Baru sebagai “anugerah”. Orang yang menyerahkan dirinya ke dalam tangan Allah, percaya bahwa Ia sanggup menjadikan kita manusia baru ketika kita menaati-Nya dengan sepenuh hati, adalah orang yang memiliki apa yang disebut Perjanjian Baru sebagai “iman”. Iman ini bukan sekadar keyakinan intelektual, melainkan hubungan yang hidup dengan Allah yang hidup, yang memberikan kepada kita kehidupan yang baru.
Iman menyadari bahwa untuk membangun hubungan yang baru dengan Allah, hubungan lama dengan diri kita yang lama, dengan ego kita harus diakhiri. “Aku” yang lama harus mati, supaya manusia baru di dalam Kristus dapat hidup. Yang lama dan yang baru tidak dapat dipersatukan; di antara keduanya tidak pernah ada kompromi yang mungkin terjadi. Fakta ini terbukti dalam pengalaman hidup nyata setiap orang percaya. Karena perkara tentang kematian terhadap manusia lama ini sangat penting, kita akan membahasnya dalam dua bab pertama.
Tidak seorang pun akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, kecuali ia telah dilahirkan kembali oleh kuasa Allah di dalam Kristus. Dengan kata lain, hanya mereka yang telah dijadikan baru yang akan diselamatkan dan menerima kepenuhan hidup yang kekal.
Allah sedang melaksanakan, dengan tenang namun penuh kuasa, rencana kekal-Nya untuk menciptakan manusia-manusia baru di tengah dunia yang tua dan sedang menuju kebinasaan. Mereka yang, oleh anugerah-Nya, telah mengalami kuasa transformasi dari Allah, akan mengetahui kebenaran ini secara nyata. Proses yang tersembunyi ini digambarkan oleh Yesus sebagai benih yang tumbuh di dalam tanah (Mat 13:3–9), dan dijelaskan oleh Paulus sebagai rahasia Allah yang kini dinyatakan pada zaman ini (1Kor 2:7; Ef 1:9; 3:3, 9; 6:19; Rm 16:25).
Kesempurnaan merupakan bagian utuh dari kelahiran kembali dan pembaruan
Jika kita melihat ketiga kata tersebut, yaitu kelahiran kembali, pembaharuan, dan kesempurnaan, orang mungkin mengira bahwa kata-kata ini merujuk pada masa lalu, masa kini, dan masa depan keselamatan yang dirangkum dengan rapi. Namun, dalam pembahasan ini kita akan menemukan bahwa hal itu tidak sepenuhnya demikian. Sesungguhnya, kesempurnaan terlibat dalam ketiga tahap keselamatan tersebut.
Surat kepada orang Ibrani menyatakan bahwa kehidupan baru di dalam Kristus dimulai ketika kita “disempurnakan”—yaitu, dibebaskan dari rasa bersalah dan kuasa dosa melalui korban pendamaian Kristus. Tanpa karya itu, tidak mungkin terjadi kelahiran kembali maupun pembaruan.
Kristus sendiri adalah standar kesempurnaan. Dalam rancangan kekal Allah, kita ditentukan untuk “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29). Proses penyerupaan dengan Kristus inilah yang menuntut adanya pembaruan terus-menerus, dengan kesempurnaan sebagai tujuan akhirnya.
Kita mencapai kesempurnaan akhir ketika kita mencapai “pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13). Karena itu, kesempurnaan bukanlah topik kecil yang bisa diletakkan sebagai catatan kaki dalam pembahasan tentang keselamatan, melainkan suatu tema yang menaungi dan menjiwai ketiga tahap keselamatan—kelahiran kembali, pembaruan, dan kesempurnaan itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa kesempurnaan mendapat porsi yang signifikan dalam buku ini.
Dari pemahaman ini jelaslah bahwa kesempurnaan tidak dapat dibatasi hanya pada ranah teologi moral atau etika, lalu dibiarkan layu dalam bayang-bayang pengabaian seperti yang sering terjadi dewasa ini. Karena kesempurnaan berkaitan erat dengan setiap aspek keselamatan dalam Perjanjian Baru, maka kegagalan memahami ajaran Alkitab tentang kesempurnaan akan berujung pada kegagalan memahami ajaran Alkitab tentang keselamatan secara keseluruhan.
Kesempurnaan menurut Alkitab berfungsi sebagai tolok ukur, arah, tujuan, dan visi dari kehidupan baru di dalam Kristus. Mengabaikannya akan mengakibatkan kemiskinan, bahkan kebangkrutan, dalam kehidupan rohani orang Kristen.
Kelahiran kembali dan pembaruan
Kata “kelahiran kembali” hanya muncul dua kali dalam Perjanjian Baru (Mat 19:28; Tit 3:5), tetapi istilah ini sangat tepat untuk menggambarkan titik awal dari kehidupan baru di dalam Kristus. Karena kehidupan dimulai dengan kelahiran, maka permulaannya dapat digambarkan dengan istilah seperti “dilahirkan dari atas,” “dilahirkan baru”, atau “dilahirkan kembali”, sebagaimana tertulis dalam Yohanes pasal 3. Permulaan baru ini juga dapat digambarkan sebagai ciptaan baru atau makhluk baru. Dengan demikian, istilah kelahiran kembali mencakup semua cara pandang tersebut tentang awal mula kehidupan yang baru.
Sementara kelahiran kembali menunjuk pada peristiwa satu kali ketika kehidupan baru di dalam Kristus dimulai, pembaruan mencakup pertumbuhan dan perkembangan yang terus-menerus dari kehidupan baru itu, sejak kelahirannya hingga mencapai kedewasaan yang penuh. Pembaruan berlangsung sepanjang perjalanan kita di dunia, dengan Kristus sebagai teladan dan pola dari proses pembaruan itu. Pembaruan adalah proses menuju kesempurnaan, yaitu proses menjadi serupa dengan gambar Kristus, sesuai dengan rencana kekal Bapa yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kesempurnaan sebagai keserupaan dengan Kristus
Karena Kristus dalam Perjanjian Baru adalah tolok ukur dan makna sejati dari kesempurnaan, saya sempat mempertimbangkan kemungkinan untuk mengganti kata “kesempurnaan” dengan “keserupaan dengan Kristus”. Namun, segera menjadi jelas bahwa hal itu tidak dapat dilakukan tanpa menimbulkan kebingungan. Sebagai contoh, dalam pernyataan Yesus, “Karena itu, kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48), kata “sempurna” tidak dapat begitu saja diganti menjadi “serupa dengan Kristus”, karena hasilnya, “sama seperti Bapamu yang di surga serupa dengan Kristus”, jelas bermasalah. Hal yang sama juga berlaku bagi penggunaan kata “disempurnakan” dalam surat Ibrani dan bagian-bagian lain dalam Alkitab. Oleh sebab itu, meskipun Kristus adalah esensi dari kesempurnaan itu sendiri, kata “sempurna” tidak berlebihan dan tetap berguna sebagai wadah yang menyampaikan harta rohani di dalamnya.
Penggunaan istilah “gereja” dan “gereja-gereja”
Istilah “gereja” digunakan untuk merujuk pada tubuh Kristus di bumi, tanpa menunjuk pada denominasi tertentu atau ekspresi lokal tubuh Kristus, sedangkan istilah “gereja-gereja” digunakan untuk menunjuk pada ekspresi lokal atau regional dari gereja di bumi. Ungkapan “tubuh Kristus di bumi” digunakan untuk menegaskan bahwa yang dimaksud bukanlah gereja Kristus yang rohani atau “mistik”.
Ketika buku ini menyampaikan kritik terhadap kondisi rohani gereja atau gereja-gereja, hal itu tidak dimaksudkan sebagai kecaman terhadap semua gereja selain gereja saya sendiri. Sama sekali tidak ada niat untuk menyerang denominasi tertentu atau kelompok gereja mana pun. Sebaliknya, tujuan kritik tersebut adalah introspeksi agar kita semua sadar akan kondisi rohani yang miskin dari gereja Allah di bumi pada masa kini. Harapannya, kesadaran ini akan mendorong dan mengarahkan kita kembali kepada panggilan surgawi yang telah Allah tetapkan bagi kita.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai skandal gereja telah mendapat sorotan luas di media massa. Yang paling menonjol di antaranya adalah skandal yang melibatkan televangelis (Protestan, Karismatik) maupun para imam (Katolik Roma). Namun, tidaklah benar jika kita menyimpulkan bahwa tindakan oknum-oknum yang rusak dalam suatu gereja (entah Protestan, Katolik, atau Ortodoks) menunjukkan seluruh gereja itu rusak. Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa peristiwa-peristiwa tersebut merupakan gejala adanya persoalan yang lebih mendalam di dalam gereja-gereja. Perhatian utama kita adalah kegagalan umum orang-orang Kristen untuk hidup sesuai dengan standar yang telah dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Suci, dan mencari akar penyebab kegagalan itu supaya dapat ditangani dengan benar. Kekristenan yang berada di bawah standar, sebagaimana umumnya mencirikan kehidupan gereja masa kini, merupakan hal yang memprihatinkan bagi semua orang yang mengasihi gereja dan mengasihi Yesus yang telah menebusnya dengan darahnya.
“Orang kafir yang telah dibaptis”
Beberapa waktu yang lalu, sebuah ungkapan mencolok dalam buku karya seorang sarjana Eropa ternama menarik perhatian saya dan terus terngiang di benak saya sejak saat itu. Dalam bukunya, ia menyesalkan bahwa gereja-gereja di dunia Barat dipenuhi oleh “orang kafir yang telah dibaptis.” Sayangnya, situasi seperti ini hampir bersifat universal. Namun, kenyataan bahwa orang-orang tersebut tetap hidup seperti “orang kafir” meskipun telah dibaptis tidak selalu, atau sepenuhnya, merupakan kesalahan mereka sendiri. Masalah utamanya adalah karena para pemimpin gereja sering kali gagal mengajarkan makna sejati dari menjadi seorang Kristen yang sesungguhnya. Hal ini juga tidak sepenuhnya kesalahan mereka sebab mereka sendiri pun mungkin tidak pernah diajarkan dengan benar. Istilah-istilah penting seperti kelahiran kembali, pembaruan, dan kesempurnaan jarang sekali diajarkan sebagai topik standar di sekolah-sekolah teologi.
Bagaimana gereja dapat menghindari keadaan di mana ia dipenuhi oleh “orang kafir yang telah dibaptis”? Buku ini berusaha menjawab masalah serius yang mematikan ini, yang mengancam kehidupan gereja pada intinya, bukan sebagai lembaga budaya atau agama, melainkan sebagai tubuh Kristus yang hidup dan berdaya guna.
Perguruan tinggi dan universitas ternama hanya menerima mahasiswa setelah mereka telah memenuhi standar tertentu, seperti lulus ujian tertentu; dan semakin baik lembaga akademisnya, semakin ketat persyaratannya. Gereja bukan lembaga akademis, melainkan bersifat rohani. Karena itu, persyaratannya bersifat rohani, bukan akademis. Akan tetapi, apakah ini berarti bahwa menjadi rohani tidak melibatkan persyaratan atau standar apa pun? Bukankah persyaratan rohani tidak kurang penting dibandingkan dengan yang akademis, bahkan justru lebih penting? Apakah pertobatan dari dosa kurang penting daripada lulus ujian? Apakah keunggulan moral kurang penting daripada keunggulan akademis? Apakah menjadi rohani kurang penting daripada menjadi berpengetahuan? Mengapa, kalau begitu, kita begitu longgar dalam standar rohani kita?
Jika lembaga-lembaga akademis yang baik memiliki persyaratan masuk yang ketat, mengapa banyak gereja hampir tidak memiliki persyaratan rohani sama sekali? Bukankah persyaratan itu telah dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Suci? Mengapa kita mengabaikannya sedemikian rupa, sehingga orang dapat diterima ke dalam gereja Allah dengan sangat mudah, bahkan hanya memenuhi persyaratan yang dangkal, jika ada sama sekali? Baptisan sering kali dijalankan tanpa persiapan yang sungguh-sungguh dari kandidat. Dalam keadaan seperti ini, kita harus bertanya lagi: Bagaimana gereja dapat menghindari dipenuhi oleh “orang kafir yang telah dibaptis”, dan dengan demikian menjadi kafir? Bagaimana gereja dapat menghindari tenggelam dalam keserupaan dengan dunia dan kehilangan identitas rohaninya? “Kamu adalah garam dunia, tetapi kalau garam itu menjadi hambar, dengan apa ia akan diasinkan? Dia tidak berguna sama sekali selain untuk dibuang dan diinjak-injak oleh manusia” (Mat 5:13).
Pandangan pasif tentang anugerah
Penyebab keprihatinan lainnya adalah bahwa pandangan dinamis tentang anugerah telah digantikan oleh pandangan pasif tentang anugerah di banyak bagian gereja, terutama di gereja-gereja Protestan. Akan tetapi, apakah pandangan yang pasif itu lebih berpusat pada Allah? Ataukah justru lebih berpusat pada diri sendiri? Kita akan melihat bahwa pandangan dinamis tentang anugerah justru adalah yang berpusat pada Allah.
Apakah pernyataan, “Lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis 20:35), terbatas hanya pada memberi kepada manusia dan bukan kepada Allah? Apakah kita dianggap tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada Allah? Bagaimana dengan pemberian diri kita sendiri kepada Allah, belum lagi harta milik, karunia, waktu, tenaga, kasih, ketaatan, penyembahan, dan pujian kita? Segala sesuatu yang kita miliki dan siapa kita adanya telah kita terima dari-Nya sebagai karunia anugerah-Nya. Namun, bukankah persembahan kita kepada Allah atas karunia anugerah-Nya itu merupakan hasil dari anugerah-Nya yang bekerja di dalam kita “baik untuk mengingini maupun untuk mengerjakan apa yang menyenangkan-Nya” (Flp 2:13)?
Apakah anugerah disebut anugerah hanya bila itu sesuatu yang kita terima secara pasif, dan bukan ketika anugerah itu menginspirasi dan memampukan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap diri kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri? Dengan kata lain, apakah mengasihi Allah dan sesama merupakan pencapaian kita sendiri, ataukah itu merupakan puncak karya anugerah Allah yang dinamis di dalam kita? Jika yang terakhir benar, maka perkataan Tuhan, “Lebih berbahagia memberi daripada menerima”, berlaku baik dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia maupun dalam hubungan vertikal dengan Allah. Inilah sifat anugerah yang berbentuk salib. Ini bukan berarti bahwa menerima itu tidak diberkati, sebab jika kita tidak menerima apa pun dari Allah, kita tidak akan memiliki apa pun untuk diberikan. Akan tetapi, setelah menerima, lebih berbahagia memberi daripada menyimpan bagi diri sendiri apa yang telah kita terima.
Sungai-sungai “air hidup” dari anugerah Allah
Memberi membawa kita pada prinsip ilahi yang lain: “Berilah dan akan diberikan kepadamu” (Luk 6:38). Jika kita menyimpan bagi diri sendiri anugerah yang telah kita terima, maka itulah satu-satunya anugerah yang akan kita miliki, dan bahkan itu pun mungkin tidak akan dapat kita pertahankan. Dalam memberi, kita justru menerima lebih banyak lagi. Hal ini menjadi suatu siklus menerima dan memberi, memberi dan menerima, aliran yang terus berkembang dari sungai-sungai anugerah. Aliran ini terus berkembang karena apa yang akan diberikan kepada kita setelah kita memberikan apa yang telah kita terima sebelumnya, tidak akan sama dengan apa yang telah kita berikan, melainkan jauh lebih banyak: “suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncangkan dan berlimpah, dan yang akan dituangkan ke pangkuanmu” (Luk 6:38). Apa yang dimulai sebagai aliran anugerah yang kecil akan bertumbuh menjadi sungai anugerah Allah yang besar, bahkan banyak sungai. Inilah gambaran dalam Yohanes 7:38, di mana “air hidup” dengan indah melukiskan anugerah Allah, sedangkan “sungai-sungai” menggambarkan kelimpahannya yang meluap-luap.
Di sini kita melihat tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia: “Aku datang supaya mereka memiliki hidup, dan memilikinya secara berlimpah” (Yoh 10:10). Seberapa limpahnya hal itu sebagian besar ditentukan oleh sikap kita; kita tidak dapat menyalahkan Allah jika kita tidak menikmati kelimpahan yang dijanjikan itu. Seberapa banyak kita menerima tergantung pada ukuran pemberian kita. Jika kita memberi dengan kikir, meskipun kita mungkin menerima lebih banyak daripada yang kita berikan, kita akan menerima lebih sedikit dibandingkan jika kita memberi dengan murah hati: “Karena dengan ukuran yang sama yang kamu gunakan untuk mengukur, hal itu akan diukurkan kembali kepadamu” (Luk 6:38). Sikap yang kikir terhadap Allah dan sesama akan mengurangi kelimpahan anugerah yang dapat kita alami. Karena itu, kita perlu segera dilepaskan dari sikap pasif yang hanya berkata “berilah aku”, menjadi sikap anugerah yang dinamis: “berilah aku supaya aku dapat memberi.”
Anugerah Allah di dalam diri kita bersifat aktif, mengubah hidup kita dan memberi kita kekuatan untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Ketika kita menerima karunia hidup di dalam Kristus, hal itu akan nyata dalam segala pikiran dan tindakan kita. Jika kita telah menerima karunia Roh Kudus, bagaimana mungkin kita tidak menghasilkan buah Roh? Apakah kasih, sukacita, damai sejahtera, kelemahlembutan, dan penguasaan diri merupakan sifat-sifat yang pasif?
Kelahiran kembali, pembaruan, dan kesempurnaan membentuk suatu perkembangan dari anugerah kepada anugerah, atau “anugerah demi anugerah” (Yoh 1:16). Inilah “bertumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Tuan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus” (2Pet 3:18).
Penggunaan kata “Kristen”
Kata “Kristen” muncul tiga kali dalam Perjanjian Baru (Kis 11:26; 26:28; 1Pet 4:16). Namun, bahkan pada masa Perjanjian Baru, sudah ada kemungkinan bahwa seorang percaya atau seorang Kristen dapat bertingkah laku dengan cara yang begitu rendah mutunya sehingga ia dapat digambarkan sebagai “lebih buruk daripada orang yang tidak percaya” (1Tim 5:8). Penggunaan istilah “Kristen” itu sendiri tidak menjamin bahwa orang yang disebut demikian benar-benar memenuhi standar Alkitab tentang menjadi manusia baru di dalam Kristus.
Pada masa kini, istilah “Kristen”, di satu sisi, mungkin tidak berarti lebih dari sekadar seseorang yang termasuk dalam masyarakat atau budaya Kristen, atau anggota dari agama Kristen, namun dalam kenyataannya mungkin sama sekali tidak memiliki keyakinan keagamaan. Di sisi lain, kata “Kristen” juga digunakan untuk seseorang yang memiliki iman yang mendalam kepada Kristus. Rentang makna yang begitu luas ini membuat kata tersebut menjadi kabur dan tidak tepat sehingga hampir kehilangan maknanya.
Namun demikian, kita tidak dapat sepenuhnya menghindari penggunaan istilah “Kristen” karena tidak ada kata lain yang secara umum dikenal yang dapat membedakan antara orang Kristen sejati dan orang Kristen nominal. Kita bisa saja menggunakan kata “orang kudus” dalam arti Alkitabiah, tetapi kebanyakan orang tidak akrab dengan makna yang sebenarnya. Kata “orang percaya” pun tidak jauh lebih tepat daripada “Kristen”. Tanpa penjelasan tambahan, bahkan kata “murid” tidak selalu menyiratkan bahwa orang yang dimaksud adalah seorang yang setia dan percaya. Kita ingat bahwa Yudas juga adalah seorang murid Yesus, bahkan seorang rasul. Karena itu, kita terpaksa menggunakan kata tambahan seperti “sejati”, “berkomitmen”, atau “benar” untuk menjelaskan kata “Kristen”. Kesulitan-kesulitan yang melekat pada istilah “Kristen” ini mencerminkan masalah-masalah yang juga melekat pada kehidupan orang-orang Kristen secara umum.
Memahami “kesempurnaan” dalam Alkitab
Sangat penting bagi kita untuk memahami kesempurnaan menurut Alkitab dengan jelas dan tepat karena ada kebingungan umum mengenai topik ini, yang merugikan kehidupan Kristen. Sebagai contoh, banyak orang tidak dapat membedakan antara kesempurnaan dan apa yang disebut “perfeksionisme”. Karena alasan ini, kita akan membahas perfeksionisme lebih lanjut di bagian lain buku ini. Kegagalan untuk memahami dan menerapkan ajaran Alkitab tentang topik penting ini akan membuat kehidupan Kristen berada dalam keadaan lumpuh secara rohani, ditandai oleh ketiadaan tujuan, arah, dan dorongan.
Namun, begitu kita mulai mencoba memahami kesempurnaan, kita segera berhadapan dengan hal-hal yang tampak seperti pertentangan. Akan tetapi, pernyataan-pernyataan yang tampak bertentangan itu sebenarnya menjadi penanda yang membantu kita memahami sifat kesempurnaan. Sebagai contoh, dalam Filipi pasal 3, Paulus berbicara tentang dirinya sebagai orang yang sempurna dan tidak sempurna hampir dalam satu napas yang sama! Ia menggunakan kata dasar yang sama untuk “sempurna” di dua tempat (dalam teks Yunani aslinya): ayat 12, “bukan berarti aku telah mendapatkannya atau telah sempurna”; tetapi juga ayat 15, “marilah kita yang sempurna berpikir seperti demikian”. Demikian pula, Yohanes mengatakan bahwa orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa (1Yoh 5:18), namun Yohanes juga berbicara tentang mengaku dosa dan menerima pengampunan (1:9).
Bahkan Oxford Dictionary of the Christian Church tampaknya tidak mampu memberikan solusi yang lebih baik, selain dengan menyarankan adanya tingkat-tingkat kesempurnaan yang berbeda, tanpa menjelaskan dengan jelas apa arti hal itu sebenarnya. Tanpa penjelasan yang memadai, saran tersebut justru memperumit masalah, sebab tingkat kesempurnaan yang rendah, menurut pengakuannya sendiri, kurang dari sempurna dan tidak dapat dengan tepat disebut “kesempurnaan.”
Sebaliknya, dibandingkan dengan upaya penjelasan yang membingungkan, jawaban Alkitab justru sangat jelas dan konsisten. Namun untuk memahami jawabannya, perlu diketahui bahwa Kitab Suci membedakan antara kehendak dan tindakan, bagian dalam dan bagian luar, hati dan tubuh, pikiran dan daging. Pembedaan ini tampak dengan tegas dalam Roma pasal tujuh: “Sebab, aku memiliki keinginan untuk melakukan apa yang baik, tetapi kemampuan untuk melakukan yang baik itu tidak ada” (Rm 7:18). Pasal itu diringkas dalam kata-kata penutupnya: “Jadi, dengan akal budiku, aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh jasmaniku aku melayani hukum dosa” (Rom 7:25).
Hal ini menyoroti perbedaan penting antara niat hati dan pelaksanaannya dalam tindakan. Seseorang dapat menjadi sempurna dalam hati, dalam niat, dan dalam kehendak, tanpa hal-hal itu terwujud dalam tindakan atau kehidupan yang sempurna. Hal ini disebabkan oleh keberadaan daging, tempat dosa berdiam. Namun, pasal berikutnya, Roma 8, menyatakan bahwa di dalam Kristus kuasa dosa telah dipatahkan dan kita tidak lagi berada di bawah perbudakannya. Namun, bahkan orang yang telah dibebaskan dari perbudakan dosa pun harus terus “mematikan perbuatan-perbuatan tubuh” (ay 13). Daging akan terus melawan roh, atau Roh yang ada di dalam kita, sebagaimana dinyatakan dalam Galatia 5:17 dan sebagaimana juga kita alami sendiri.
Karena itu, mungkin saja seseorang sempurna dalam hatinya, dalam komitmennya kepada Allah, mengasihi dan melayani Dia dengan segenap hati, namun menemukan bahwa dalam melaksanakan niat yang sempurna itu, hasilnya masih kurang sempurna. Namun, kita juga tahu bahwa pelaksanaannya akan semakin membaik seiring dengan kemenangan demi kemenangan yang dicapai atas daging dalam pergumulan seumur hidup melawannya. Orang percaya berada dalam keadaan yang paradoks: sempurna dan tidak sempurna pada saat yang sama, meskipun dalam aspek yang berbeda.
Sekarang menjadi jelas apa yang dimaksud Paulus ketika ia mengatakan bahwa ia sempurna—sempurna dalam komitmen dan pengabdiannya yang total serta tanpa syarat kepada Allah—sementara di sisi lain ia tidak sempurna. Ia harus berjuang melawan diri sendiri dalam bentuk kesombongan yang selalu mengintai, dan untuk itu Tuhan memberinya duri dalam daging untuk menundukkannya (2Kor 12:7).
Yohanes mengatakan bahwa mereka yang lahir dari Allah tidak ingin berbuat dosa karena hati mereka sempurna terhadap Allah, tetapi mereka tetap berbuat dosa karena “dia yang ada di dunia” (1Yoh 4:4), yaitu si jahat yang mencobai mereka melalui ketidakdewasaan rohani mereka, untuk menempatkan di hati mereka ruang bagi berhala, hal-hal (bahkan hal-hal yang baik) yang mengambil alih tempat Allah di pusat hati. Sesungguhnya surat Yohanes berakhir dengan peringatan terhadap berhala. Strategi si jahat adalah langsung menyerang hati dan memikatnya menjauh dari Allah, untuk menghancurkan kesempurnaan hati mereka. Bahwa musuh telah berhasil melakukan hal ini terhadap banyak orang terlihat dari kenyataan bahwa banyak antikristus telah datang dari antara kita (1Yoh 2:18, 19).
Sekali lagi, kesempurnaan dalam hati sering berarti—dan memang berarti—kurang dari sempurna dalam perbuatan. Inilah kebenaran yang ingin saya tekankan ketika saya berulang kali menyatakan, di berbagai bagian buku ini, bahwa kesempurnaan tidak berarti penghapusan total dosa dalam diri kita, melainkan kemenangan atas dosa. Meskipun memiliki hati yang sempurna, kita sering gagal karena kurangnya pengetahuan rohani. Karena itu sangat penting bagi kita untuk bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian, bahkan jika dalam proses pertumbuhan itu kita membuat kesalahan dan jatuh ke dalam dosa. Dalam keadaan seperti itu, kita mengaku dosa kita, dan bersyukur kepada Allah dari hati kita bahwa kita mempunyai seorang Pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Tuan kita (1Yoh 2:1).
Kesempurnaan menurut Alkitab: masa kini dan masa depan
Selain pembedaan penting antara niat dan perbuatan, yaitu kesempurnaan mungkin terjadi dalam hal yang pertama, tetapi tidak selalu dalam hal yang kedua, ada pembedaan lain yang menjelaskan paradoks yang terlihat dalam tulisan Paulus dan Yohanes.
Ketika berbicara tentang kesempurnaan dalam Kitab Suci, sangat penting untuk membedakan antara kesempurnaan kasih dan kesempurnaan karakter. Yang pertama dapat dicapai pada zaman sekarang, sedangkan yang kedua hanya akan terwujud pada zaman yang akan datang.
Kasih yang sempurna, sebagaimana disebutkan dalam 1Yoh 4:12 (“Allah tinggal di dalam kita dan kasih-Nya itu disempurnakan di dalam kita”), berhubungan dengan masa kini, bukan sesuatu yang baru akan menjadi kenyataan di surga.
Kesempurnaan kasih. Matius 5:48 (“kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna”) merupakan ayat kunci dalam ajaran Yesus tentang kasih, termasuk kasih kepada musuh, yang hanya mungkin terjadi ketika kasih itu “telah benar-benar sempurna” (1Yoh 2:5). Kesempurnaan yang disebutkan dalam Matius 5:48 berkaitan dengan kasih, dan dapat diwujudkan pada masa kini oleh kuasa Allah. Memang, Yesus menuntut hal itu dari para muridnya. Ini adalah ketaatan yang sepenuh hati terhadap perintah untuk mengasihi, oleh anugerah Allah (Mar 12:29-31). Hal ini dapat dan harus dilakukan pada masa sekarang. Karena Allah telah mencurahkan kasih itu kepada kita melalui karunia Roh Kudus (Rom 5:5), kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menaati panggilan-Nya kepada kasih yang sempurna.
Kesempurnaan karakter. Dalam Filipi pasal 3, Paulus merindukan keserupaan yang sempurna dengan Kristus, meskipun itu berarti ikut serta dalam penderitaan dan kematiannya (ay 10), yang diterimanya dengan sukacita. Menjadi serupa dengan Kristus berarti menjadi serupa dengan karakternya yang sempurna, suatu proses yang dalam Roma 8:29 digambarkan sebagai menjadi serupa dengan “gambarnya”. Akan tetapi, Paulus mengakui bahwa ia belum mencapainya (ay 12); memang hal itu tidak akan sepenuhnya tercapai sampai kebangkitan terakhir dan perubahan tubuh kita pada zaman yang akan datang (Flp 3:21).
Bahwa kita tidak dapat mencapai keserupaan yang sempurna dengan Kristus pada masa sekarang berkaitan dengan kenyataan bahwa kita juga tidak dapat mencapai keadaan tanpa dosa pada masa kini. Kristus “tidak berbuat dosa” (1Pet 2:22) di dalam tubuh dagingnya. Namun, selama kita masih berada dalam tubuh daging ini, pergumulan antara daging dan roh akan terus berlangsung sepanjang hidup kita di dunia. Akan tetapi, jika kita memperoleh kemenangan atas daging dari hari ke hari melalui Roh, kita akan bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus sampai kita dikaruniai keserupaan yang sempurna dengan dia pada zaman yang akan datang.
Pemahaman rohani seorang martir
Tak lama sebelum menyelesaikan naskah ini, saya secara tidak terduga menemukan beberapa wawasan berharga tentang kesempurnaan dalam sebuah khotbah yang disampaikan lebih dari 50 tahun lalu oleh Yu Chenghua, seorang dokter yang juga penatua dari sebuah jemaat besar di Shanghai. Dr. Yu mati syahid pada tahun 1956 karena menolak menyangkal Tuhan dan mengkhianati rekan-rekan pemimpin gerejanya. Kedalaman wawasan rohaninya dapat dilihat dalam kumpulan khotbahnya yang kini tersedia dengan judul Walking with God (Berjalan dengan Allah). Sejauh pengetahuan saya, belum ada terjemahan bahasa Inggris dari karya tersebut. Walking with God adalah terjemahan saya sendiri dari judul aslinya, Yu Shen Tong Xing. Saya juga telah menerjemahkan kutipan-kutipan berikut dari bukunya, yang merupakan komentarnya tentang ketaatan terhadap perintah untuk menjadi sempurna dan mencapai kesempurnaan, yaitu keserupaan dengan Kristus:
Seseorang mungkin akan bertanya, “Apakah mungkin hidup kita bertumbuh sampai pada kepenuhan tingkat pertumbuhan Kristus? Dapatkah menjadi sempurna seperti Kristus benar-benar menjadi kenyataan dalam hidup kita?” Jawaban saya adalah: Itu mungkin, benar-benar mungkin! Karena:
Pertama, ketika Allah melakukan sesuatu, Dia tidak bermain-main dengan mengucapkan sesuatu yang tidak sanggup Dia lakukan. Efesus 2:10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus”. Kita harus memahami kata “buatan” sebagai “karya agung”, yaitu “hasil karya terbaik Allah” atau “karya Allah yang paling mulia”. Betapa besar kemampuan Allah akan dinyatakan dalam karya ini, dan hal itu akan disebut sebagai “karya agung” Allah. Ini adalah suatu pekerjaan yang akan diperlihatkan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga untuk melihat: Betapa baik, betapa indah, betapa sempurna, betapa mulia, dan betapa serupa dengan Kristus karya Allah itu. Karya seperti itu benar-benar layak disebut sebagai karya agung Allah.
Jika demikian halnya, saudara-saudari, masihkah kalian berpikir bahwa Allah tidak sanggup melakukannya, bahwa Dia tidak dapat menjadikan kita serupa dengan Kristus? Pekerjaan itu sepenuhnya berada di tangan Allah. Jika kalian berpikir bahwa Allah tidak dapat mencapainya, betapa menyinggung dan tidak menghormati Allah pikiran semacam itu! Jika kalian memiliki rasa hormat kepada Allah, gagasan bahwa Allah tidak sanggup harus disingkirkan dari pikiran kalian, bahkan untuk sesaat pun. Mohon diingat, adakah sesuatu yang terlalu sukar bagi Tuhan untuk dilakukan? Rencana Allah adalah agar mereka “yang telah dikenal-Nya sebelumnya” harus “menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya”—menjadi seperti Sang Anak (Rm 8:29).
Kedua, perhatikan Matius 5:48, “Karena itu, kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Ini adalah sebuah perintah. Mereka yang mengenal Allah tahu bahwa semua perintah Allah adalah janji Allah. Jadi apa pun yang Dia perintahkan untuk kita lakukan, pasti kita dapat melakukannya. Allah tidak akan pernah memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Kita dapat mengatakan bahwa perintah-perintah Allah adalah janji-janji-Nya karena Allah pasti akan memampukan kita untuk melakukannya. Ini adalah perintah untuk menjadi sempurna dalam kasih seperti Bapa di surga. Hal ini mungkin dilakukan karena Tuhan tidak akan pernah memerintahkan seorang anak berusia dua tahun untuk memikul beban seberat seratus pon. Karena Allah telah memerintahkannya kepada kita, kita pasti mampu melakukannya. Ingatlah bahwa Allah Mahakuasa, dan segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya.
Ketiga, izinkan saya mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa kita, yaitu gereja, adalah Kristus. Kita adalah “banyak buah (banyak butir gandum)” yang dihasilkan oleh satu “butir gandum”—Kristus—yang jatuh ke tanah dan mati (Yoh 12:24). Setiap butir di antara banyak butir gandum ini serupa dengan butir gandum yang pertama itu. Jika engkau menanam kacang, engkau akan mendapat kacang; jika engkau menanam melon, engkau akan mendapat melon; jika engkau menanam Kristus, engkau akan mendapat Kristus. Kita bukan hanya serupa dengan dia, tetapi sesungguhnya kita adalah dia—gereja adalah perwujudan (atau manifestasi) dari Kristus; dan jika kita “adalah dia”, bagaimana mungkin kita tidak menjadi seperti Dia? [Yu Chenghua 俞成华, Walking With God 与神同行, 1999, hlm.176-177, Chinese Christian Testimony Ministry, Alhambra, CA, USA.]
“Kita adalah Kristus”
Poin terakhir Dr. Yu menarik karena keberaniannya. Ia tidak hanya menyatakan bahwa kita dapat menjadi seperti Kristus; ia ingin menegaskan bahwa kita “adalah” Kristus. Jika pernyataan yang terakhir itu benar, maka yang pertama menjadi jelas dengan sendirinya, sebagaimana Yu sendiri mengatakan, “Jika kita ‘adalah dia’, bagaimana mungkin kita tidak menjadi seperti dia?”
Namun, menyatakan bahwa kita “adalah” Kristus tanpa penjelasan lebih lanjut daripada yang diberikan dalam kutipan tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman. Dengan sendirinya, maksud yang disampaikan sebenarnya cukup jelas. Saudara Yu mendasarkan pendapatnya pada kebenaran umum bahwa apa yang ditabur, itu juga yang dituai. Ia mengutip pepatah Tionghoa tentang kacang dan melon, tetapi ia juga dapat dengan mudah mengutip rasul Paulus, “orang akan menuai apa yang ia tabur” (Gal 6:7). Maksudnya sederhana: dalam proses reproduksi, setiap butir gandum secara genetik direplikasi dalam butir-butir yang tumbuh darinya. Apa yang ada pada butir pertama, itulah juga yang ada pada butir-butir yang muncul darinya. Karena itu kita “adalah Kristus” dan replika dari Kristus, karena kita telah direplikasi darinya. Atau seperti yang Yu katakan, kita adalah “perwujudannya”.
Sebenarnya, untuk menegaskan keserupaan dengan Kristus sudah cukup dengan mengatakan bahwa setiap benih yang tumbuh dari benih yang asli sepenuhnya sama dengan benih asalnya secara genetik. Namun, juga harus dicatat bahwa banyak butir yang muncul dari butir yang pertama bukanlah butir yang asli itu sendiri. Meskipun demikian, mereka mengandung kehidupan dan kode genetik dari benih yang asli. Hal ini menjamin bahwa banyak benih yang tumbuh dari benih yang pertama akan sama persis dengannya.
Keserupaan inilah yang digambarkan oleh Saudara Yu sebagai “adalah Kristus”, mungkin seperti halnya pada kembar identik: yang satu dapat sepenuhnya mewakili yang lain dalam hal keserupaan, dan “kita adalah Kristus” dalam istilah perwakilan. Namun demikian, satu kembar identik bukanlah yang lainnya karena ia adalah individu yang berbeda. Bahwa yang satu dapat sepenuhnya mewakili yang lain tidak berarti bahwa keduanya adalah pribadi yang sama.
Dr. Yu mungkin telah mengungkapkan pandangannya secara berlebihan, namun saya menemukan pemikirannya menggugah dan mengandung sesuatu yang sangat berharga. Fakta yang tak dapat disangkal tetaplah bahwa kehidupan dari benih yang asli—Kristus, dalam hal ini—sekarang ada di dalam kita yang telah menerima hidup melalui dia. Atau, dengan cara lain, dapat dinyatakan secara tak terbantahkan bahwa “Kristus adalah hidup kita” (Kol 3:4). Hidupnya diwujudkan di dalam kita, dan dinyatakan melalui kita. Jika kita menyatakan hidupnya, apa lagi artinya selain bahwa kita terlihat serupa dengan dia? Keserupaan dengan Kristus pasti berasal dari kehidupan Kristus di dalam kita. Jika benar bahwa “Kristus hidup di dalam aku”, maka juga benar bahwa dia harus terlihat di dalam aku.
Tampaknya inilah sebenarnya yang ingin ditegaskan oleh Saudara Yu. Ia melangkah lebih jauh dari sekadar mengatakan bahwa menjadi seperti Kristus itu mungkin, dengan menyatakan bahwa hal itu tidak terelakkan. Ini adalah wawasan yang sangat penting, yang ditunjukkan dengan meyakinkan dalam penjelasannya tentang benih. Dengan keyakinan bahwa jika Kristus adalah hidup kita, kita pasti akan menjadi seperti dia, kita melanjutkan ke bagian utama dari buku ini.