Pastor Eric Chang | Bab 15 |

Aturan Emas

Kita memulai bab terakhir ini dengan apa yang dikenal sebagai Aturan Emas, yang ditemukan di Matius 7:12 (dan Lukas 6:31):

Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan kepada mereka karena inilah isi Hukum Taurat dan kitab para nabi.

Aturan Emas juga ditemukan dalam filsafat etika Tiongkok dan Barat, tetapi dalam bentuk negatif: “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain lakukan kepada Anda.” Hillel sang rabi agung menjadi terkenal karena versinya tentang Aturan Emas: “Apa yang Anda benci, jangan lakukan kepada sesama manusia” (Shabbat, 31a).

Namun, Yesus memberikan aturan itu dalam bentuk positif: Lakukan kepada orang lain apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda. Ini mengubah karakter dasar aturan tersebut. Bentuk positif mencakup bentuk negatif sebagai kasus khusus, tetapi melampaui bentuk negatif.

Yang negatif mudah terpenuhi. Jika Anda tidak ingin orang lain meng­kritik Anda, jangan mengkritik orang lain. Jika Anda tidak ingin orang lain bersikap kasar kepada Anda, jangan bersikap kasar. Jangan melakukan apa yang Anda tidak ingin orang lain lakukan kepada Anda. Anda akan menuai apa yang Anda tabur, jadi jangan menabur apa yang tidak ingin Anda tuai.

Saya memeriksa tulisan-tulisan para Bapa Gereja Ante-Nicene yang terdiri dari beberapa jilid untuk melihat apa yang mungkin mereka kata­kan tentang Aturan Emas, tetapi saya kecewa karena ketika mereka merujuk pada aturan tersebut, aturan itu muncul dalam bentuk negatif berulang kali. Saya kesulitan menemukan referensi pada bentuk positif seperti yang diajarkan oleh Yesus. Mengenai para Bapa Gereja Nicea dan Pasca-Nicea: Dalam Ancient Christian Commentary on Scripture yang terdiri dari 29 jilid, hanya ada dua Bapa Gereja yang merujuk pada Aturan Emas dalam bentuk positifnya, tetapi mereka hanya mengutip kata-kata Yesus tanpa menjelaskan arti aturan tersebut dalam praktik.


Memperbarui pikiran dengan mempraktikkan Aturan Emas

Untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, kita perlu mengubah cara berpikir kita. Paulus berbicara tentang hal ini sebagai pembaruan pikiran (Rm 12:2). Hal itu bukanlah sesuatu yang terjadi dalam sekejap melalui sebuah perintah, tetapi dicapai melalui metode atau proses rohani, yaitu penerapan Aturan Emas dengan bantuan Roh.

Dengan cara bagaimana penerapan Aturan Emas mengubah cara berpikir kita? Ketika Anda putus asa, apa yang Anda ingin orang lain lakukan untuk Anda? Mendorong Anda! Kemudian Anda mulai berpikir untuk melakukan bagi orang lain apa yang Anda ingin orang lain laku­kan bagi Anda. Jika Anda ingin seseorang menyemangati Anda, pergilah dan doronglah seseorang. Maka Anda akan menerima apa yang Anda berikan.

Beberapa orang mengalami kemerosotan rohani karena mereka berfokus pada diri mereka sendiri dan depresi mereka. Ketika Anda berada dalam situasi seperti itu, apa yang Anda ingin orang lain lakukan untuk Anda? “Saya ingin seseorang menghibur saya dan memberi saya bahu untuk menangis.” Dalam kasus itu, hiburkanlah seseorang yang sedang patah semangat. Ketika pikiran Anda berubah, Anda akan mela­kukan untuk orang lain apa yang Anda ingin orang lain lakukan untuk Anda. Bahkan jika mereka tidak melakukan apa pun untuk Anda, Anda mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu untuk mereka. Anda menabur benih buah yang akan Anda tuai.

Keindahannya adalah ia menjauhkan Anda dari mencintai diri sendiri dan mengajarkan Anda untuk mengasihi orang lain. Jika Anda berkata kepada diri sendiri, “Saya merasa kesepian; andai saja seseorang bisa datang dan mengunjungi saya,” dan Anda tetap duduk di sana sambil berharap dan berharap, Anda hanya akan menjadi semakin terte­kan karena Anda disibukkan dengan kesepian Anda sendiri. Jika Anda ingin seseorang mengunjungi Anda, pergilah dan kunjungi seseorang. Anda memecahkan masalah kesepian bukan dengan memenuhinya, tetapi dengan mengunjungi seseorang yang kesepian. Ketika dua orang yang kesepian berkumpul, tidak satu pun dari mereka akan merasa kesepian.


Aturan Emas membentuk kepribadian supel

Mengapa Yesus tidak memberikan Aturan Emas sebagai, “Lakukan kepada orang lain apa yang akan kamu lakukan kepada dirimu sendiri,” karena pada dasarnya inilah inti dari aturan tersebut? Masalahnya adalah ada banyak hal yang tidak dapat Anda lakukan sendiri. Jika Anda kela­paran, versi Aturan Emas ini tidak akan berhasil karena Anda tidak punya makanan untuk dirimu sendiri. Anda tidak punya sarana untuk membantu dirimu sendiri, jadi Anda butuh seseorang untuk membantu Anda.

Untuk memahami Aturan Emas dalam bentuk positifnya sebagai­mana diajarkan oleh Yesus, kita harus menyadari bahwa aturan tersebut difokuskan pada “orang lain” dengan pandangan yang melupakan diri sendiri. Pikiran yang telah diubahkan dapat melupakan diri sendiri karena yakin bahwa Allah tidak akan pernah melupakan umat-Nya (Yes 49:15-16). Bukankah Yesus meyakinkan kita bahwa Allah akan meme­nuhi kebutuhan kita (Mat 6:25-34)? Aturan Emas membantu kita untuk berfokus pada orang lain tanpa sedikit pun kepentingan pribadi.

Kita melakukan sesuatu untuk orang lain yang tidak dapat mereka lakukan sendiri. Dalam beberapa situasi, seseorang tidak berdaya untuk menolong dirinya sendiri. Jika ia berada di penjara, ia tidak dapat mengunjungi dirinya sendiri, tetapi membutuhkan seseorang untuk mengunjunginya. Jika ia kelaparan, ia membutuhkan seseorang untuk memberinya makan. Keindahan dari Aturan Emas adalah bahwa ia menjauhkan kita dari sikap mementingkan diri sendiri dan membim­bing kita menjadi peduli terhadap orang lain. Oleh karena kita tidak lagi menjadi pusat pemikiran kita sendiri, kita dapat meniru belas kasih yang terlihat dalam perumpamaan tentang domba dan kambing:

Karena ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan. Aku haus dan kamu memberi Aku minum. Aku orang asing, dan kamu mengun­dang Aku masuk. Aku telanjang dan kamu memakaikan Aku pakaian. Aku sakit dan kamu menengok Aku. Aku di penjara dan kamu datang kepada-Ku. (Mat 25:35-36)


Dua tahap dari Aturan Emas

Tahap pertama dari Aturan Emas berjalan seperti ini: Anda merasa kesepian dan putus asa, jadi Anda mengatasinya dengan mengunjungi mereka yang kesepian dan menyemangati mereka yang putus asa. Pada tahap kedua, fokus tidak lagi pada diri Anda sendiri karena Anda bukanlah orang yang lapar atau haus atau membutuhkan. Jadi, Anda membayangkan diri Anda berada di posisi seseorang yang lapar dan haus, dan bertanya, “Jika saya berada dalam situasinya, apa yang saya ingin seseorang lakukan untuk saya?”

Pada tahap pertama, Anda berada dalam posisi membutuhkan, jadi Anda melakukan sesuatu untuk seseorang apa yang Anda ingin orang lain lakukan untuk Anda. Pada tahap kedua, Anda tidak berada dalam posisi membutuhkan, tetapi pindah ke situasi orang lain, dan melakukan sesuatu untuknya apa yang tidak dapat ia lakukan sendiri.

Charles Colson, yang merupakan Penasihat Khusus Presiden Richard Nixon, dijebloskan ke dalam penjara karena perannya dalam skandal Watergate. Di penjara, ia mulai memahami kebutuhan sesama nara­pidana, dan betapa mereka mendambakan seseorang untuk peduli pada mereka. Ditolak oleh masyarakat, mereka berharap seseorang akan menunjukkan perhatian kepada mereka. Ketika Colson dibebaskan dari penjara, ia mengingat rasa sakit yang dialaminya sebagai narapidana, dan memulai pelayanan penjara yang telah meluas ke banyak bagian dunia.

Kita dapat memulai dengan sesuatu yang tidak begitu ambisius seperti pelayanan penjara, mungkin dengan mengidentifikasi diri dengan seseorang di rumah kita. Jika saya haus dan berharap seseorang akan membuatkan saya minuman, saya dapat berkata kepada diri saya sendiri, “Saya akan membuatkan semua orang minuman!” Alih-alih merasa tidak senang karena tidak ada yang melayani saya, saya akan membuatkan semua orang minuman. Jika semua orang berpikir seperti ini, lain kali seseorang mungkin akan membuatkan saya minuman meskipun itu bukan motif saya. Kita memiliki kesempatan untuk mem­pelajari kasih yang rela berkorban dalam kehidupan tubuh Kristus.


Beralih dari tahap pertama ke tahap kedua

Dalam belajar untuk peduli terhadap orang lain, awalnya kita mungkin termotivasi oleh kepentingan diri sendiri. Saya menonton berita tentang kebakaran hutan di California. Ada wawancara dengan seorang pria yang telah membantu menyelamatkan rumah orang lain dari kebakaran. Ketika ditanya mengapa ia menyelamatkan rumah itu, ia berkata jika kebakaran lain mengancam rumahnya sendiri pada masa mendatang, tetangganya akan datang menyelamatkannya. Menurut laporan itu, rumah yang terbakar itu diselamatkan karena upaya kolektif untuk memadamkan api. Bahkan sebagian besar rumah di garis depan berhasil diselamatkan. Pria yang diwawancarai itu termotivasi oleh, “Jika saya melakukan ini untuk Anda, Anda akan melakukan hal yang sama untuk saya.”

Awalnya, menolong sesama mungkin dimotivasi oleh kepentingan pribadi. Namun, kepentingan pribadi itu dapat diubah menjadi cinta kasih kepada sesama, yang kemudian menjadi “orang lain” yang membu­tuhkan, tetapi tidak dalam posisi untuk menolong dirinya sendiri. Motif mementingkan diri sendiri dapat diubah menjadi cinta kasih yang rela berkorban, sehingga suatu hari Anda akan berbuat lebih banyak bagi orang lain daripada yang pernah dilakukan orang lain bagi Anda. Kita teringat pada situasi di mana seseorang melompat ke sungai untuk menyelamatkan orang yang hampir tenggelam tanpa memikirkan kese­lamatannya sendiri. Ia mempertaruhkan nyawanya sendiri karena kese­lamatannya tidak terjamin. Jika ia tenggelam, ia akan lebih menga­sihi orang lain daripada dirinya sendiri.


Penyalahgunaan Aturan Emas

Apakah Aturan Emas berlaku dalam setiap situasi? Bagaimana dengan situasi yang penuh dengan kesalahan? Jika seseorang melihat Anda mencuri, Anda mungkin tidak ingin dia melaporkan Anda ke polisi. Apakah kita kemudian menerapkan Aturan Emas agar saya tidak mela­porkan Anda dan Anda tidak melaporkan saya? Hanya dengan cara yang menyimpang yang menjadikan kita sebagai sekelompok pencuri. Aturan tersebut hanya berlaku untuk tipe orang tertentu, karena didasarkan pada Khotbah di Bukit yang ditujukan kepada mereka yang berhati suci dan haus akan kebenaran.

Jika Anda melakukan dosa, apa yang Anda ingin orang lain lakukan untuk Anda? Tetap diam tentang hal itu atau tunjukkan? Inilah ujung tombak dari Aturan Emas. Tidak semuanya baik-baik saja. Jika Anda menyimpang dari Tuhan dan melakukan semakin banyak dosa, apa yang Anda ingin orang lain lakukan untuk Anda? Berbicara kepada Anda karena kasih? Memberi Anda peringatan? Atau mengabaikan dosa-dosa Anda? Cara kita menerapkan Aturan Emas mengungkapkan banyak hal tentang diri kita sendiri.

Situasi lain: Bagaimana jika seseorang lebih mencintai Anda daripada Allah? Apakah Anda akan bahagia jika istri Anda lebih mencintai Anda daripada dia mencintai Allah? Atau suami Anda lebih mencintai Anda daripada dia mencintai Allah? Atau dia mencintai Anda dan Allah secara setara? Pada pernikahan Anda, apa yang Anda ingin tunangan Anda janjikan pada Anda? Mencintai Anda lebih daripada siapa pun? Bahkan lebih daripada Allah? Atau apakah Anda berkata, “Saya ingin dia mencintai Tuhan lebih daripada saya.” Anda merasa senang karena mengatakan hal yang benar, tetapi apa yang akan terjadi ketika Anda diuji? Jika tunangan Anda, atau suami atau istri Anda, pergi menjalan­kan tugas misi selama enam bulan ke depan, bagaimana Anda akan menanggapinya?


Kisah Xushu

Saya bertanya-tanya apakah ada orang di dunia sekuler yang ingin orang lain lebih mencintai negaranya daripada mencintainya. Lalu, kisah Xushu dari Zaman Tiga Negara dalam sejarah Tiongkok muncul di benak saya.

Xushu adalah salah satu dari beberapa penasihat Liubei. Liubei, seo­rang panglima perang dan pendiri negeri Shuhan, tidak menonjol dalam banyak hal, tetapi ia memiliki satu kualitas yang sangat baik. Beberapa orang menonjol dalam banyak hal, tetapi hancur karena satu kelemahan, sedangkan yang lain tidak bagus dalam banyak hal, tetapi memiliki satu kualitas yang menebus. Yang terakhir berlaku untuk Liubei. Kualitasnya adalah kemampuan dan kemauannya untuk merekrut orang-orang berbakat untuk menasihatinya, dan ia berutang banyak keberhasilannya kepada mereka. Salah satu dari mereka yang direkrutnya adalah Xushu ini, seorang ahli strategi yang berbakat. Liubei sudah memiliki orang-orang seperti Guanggong dan Zhangfei yang lebih banyak ototnya dari­pada otaknya, jadi ia senang menemukan orang yang tepat di Xushu.

Namun musuh bebuyutan Liubei, Caocao, juga mengincar Xushu. Caocao juga tengah mencari orang-orang berbakat, tetapi karakternya yang menjijikkan telah menyebabkan banyak orang memihak Liubei yang merupakan pria terhormat. Jadi Caocao menyusun rencana untuk menarik orang-orang berbakat dari Liubei. Ia mengetahui bahwa ibu Xushu tinggal di wilayahnya, jadi ia memalsukan surat untuk Xushu yang diduga ditulis oleh ibunya, yang menyuruhnya untuk mengun­junginya. Xushu menerima surat ini, dan karena ia setia kepada ibunya, ia bergegas mengunjunginya sebagai bentuk baktinya kepada ibunya.

Dalam salah satu kejadian mengharukan di kisah Zaman Tiga Negara, Liubei memohon kepada Xushu agar tidak pergi, bahkan sambil berpe­gangan pada kudanya. Namun, Xushu bertekad untuk pergi karena ia merasa bahwa tugas pertamanya adalah kepada ibunya. Namun, melihat kesedihan Liubei, Xushu memberitahunya tentang seorang pria bernama Zhuge Liang yang dapat membantunya membangun kerajaan­nya. Kemudian Xushu pergi.

Ia memasuki wilayah Caocao, menemui ibunya, dan berkata kepada­nya, “Ibu memanggilku, jadi aku bergegas kembali kepadamu.” Ibunya berkata, “Aku tidak pernah memanggilmu.” Xushu menjawab, “Tapi ini surat yang kau tulis untukku.”

Ibunya mengatakan bahwa itu adalah pemalsuan. Jauh dari merasa senang melihat putranya, ia malah memarahinya: “Kamu seharusnya tidak meninggalkan Liubei karena ia adalah orang baik yang dibutuhkan Tiongkok. Kamu seharusnya tetap bersamanya untuk membantunya membangun kerajaan yang adil dan benar. Prioritasmu salah.” Kemu­dian ia bunuh diri! Xushu hancur, tetapi ia tidak dapat kembali ke Liubei karena ia terjebak di wilayah Caocao.

Betapa besar komitmennya! Ibunya tidak ingin putranya mencin­tainya lebih daripada negara, lebih daripada kerajaan, lebih daripada kesejahteraan rakyat. Untuk menunjukkan komitmennya, ia bunuh diri. Berapa banyak orang Kristen yang memiliki intensitas komitmen yang sama? Sebelumnya kita bertanya, apa yang Anda ingin orang lain laku­kan untuk Anda? Jika Anda seorang ibu, apakah Anda ingin anak Anda mencintai Anda lebih daripada Allah? Atau sama dengan Allah? Atau kurang daripada Allah?


Menempatkan Allah di tempat pertama—secara nominal

Saya pernah mewawancarai sepasang suami istri yang melamar untuk masuk pelatihan pelayanan penuh waktu. Sang suami benar-benar ingin mengabdi pada Allah. Saya kemudian bertanya kepada sang istri, “Tolong beri tahu saya urutan prioritas Anda.” Yang mengejutkan saya, anak-anaknya terlebih dahulu, suaminya kedua, gereja ketiga—dan tentu saja Tuhan di atas segalanya, setidaknya secara nominal. Mudah untuk mengatakan bahwa Allah adalah yang utama, tetapi ketika ujian datang, apa yang akan Anda lakukan? Sang istri tidak dapat diterima untuk pela­tihan pelayanan (yang sangat mengecewakan suaminya) karena kita tidak dapat membiarkan siapa pun melayani Allah dengan prioritas yang salah. Sekali lagi kita melihat ujung tombak dari Aturan Emas.

Kata “orang” dalam Aturan Emas pertama-tama dan terutama mencakup orang-orang terdekat kita. Apakah saya ingin mereka lebih mengasihi saya daripada Allah? Jika seorang pemimpin gereja berpikir seperti ini, prioritasnya terbalik. Saya tidak ingin siapa pun mengasihi saya lebih daripada Allah. Ketika orang-orang menjadi terlalu berbakti kepada saya, saya menjauhkan mereka. Saya tidak ingin istri saya menga­sihi saya lebih daripada Tuhan. Saya akan menyarankan kepadanya agar ia pergi keluar dan melayani Allah dengan cara tertentu. Saya dapat memasak dan mencuci piring sendiri dari waktu ke waktu. Akan sia-sia jika seseorang yang terlatih untuk melayani Allah memasak atau mencu­ci pakaian untuk saya ketika ia dapat memenuhi kebutuhan rohani orang lain. Saya egois jika saya meminta ia mengurus saya sementara orang lain tidak diberi dorongan dan pengajaran yang dapat ia berikan kepada mereka.

Kita ingin orang lain mencintai kita karena kita ingin memiliki mereka. Orang tua sering melakukan hal ini kepada anak-anak mereka. Tuntutan dari orang-orang terdekat kita—ayah atau ibu, putra atau putri, saudara laki-laki atau saudara perempuan, suami atau istri—sering kali membuat kita sulit menaati perintah untuk mengasihi sesama yang membutuhkan. Namun, jika kita mengajarkan anak-anak kita untuk mengasihi Allah terlebih dahulu, hal ini tidak akan melemahkan kasih kita kepada satu sama lain, tetapi justru akan memperkuatnya.


Membenci keluarga kita?

Yesus berkata di Lukas 14:26:

Jika seseorang datang kepada-Ku, tetapi tidak membenci ayah dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara laki-laki dan saudara perem­puannya, bahkan hidupnya sendiri, ia tidak bisa menjadi murid-Ku.

Ayat ini terasa seperti tulang ikan yang menusuk tenggorokan kita karena kata benci. Namun, kita tidak boleh menghindarinya, karena ketika Yesus menggunakan kata yang keras seperti benci, pasti ada alasan yang tepat untuk itu. Kita merasa kata itu tidak pantas dan bertanya-tanya mengapa mengasihi sesama harus mengecualikan mengasihi orang-orang terdekat kita seperti suami, istri, ayah, ibu, anak-anak. Faktanya, kita perlu menangani kata benci. Apa yang harus kita lakukan dengan kata ini? Melemahkannya? Banyak penafsir memahami “benci” sebagai “kurang mengasihi” dan mereka mengutip Matius 10:37 untuk mendukungnya: “Siapa yang lebih mengasihi ayah atau ibunya daripada Aku, tidak layak bagi-Ku.”

Namun, tidak adanya kata benci di Matius 10:37 tidak menghilangkan kata benci dari Lukas 14:26. ​​Jika Anda mencari kata Yunani untuk benci atau padanannya dalam bahasa Ibrani, Anda tidak dapat menghindari fakta bahwa benci sebenarnya berarti benci dan bukan “kurang menga­sihi.” Saya telah memastikan hal ini dengan memeriksa beberapa kamus, termasuk BDAG untuk bahasa Yunani dan BDB untuk bahasa Ibrani.

Prinsip eksegesis adalah melihat bagaimana seorang penulis menggu­nakan kata yang sama di tempat lain dalam tulisannya sendiri. Lukas menggunakan kata “benci” beberapa kali dan tidak ada satu pun contoh yang berarti kurang dari benci. Contohnya termasuk Lukas 1:71 (kita diselamatkan dari musuh-musuh kita dan semua orang yang membenci kita); 6:22 (diberkatilah kamu saat orang membencimu); 6:27 (berbuat baiklah kepada orang yang membencimu); 19:14 (rakyat raja memben­cinya). Leksikon BDAG mendefinisikan kata Yunani untuk “benci” dalam ayat-ayat ini sebagai benci, muak, jijik.

Di Lukas 14:26, kata “benci” menggunakan bentuk present continuous tense (bentuk waktu sekarang yang terus menerus); oleh karena itu, itu adalah kebencian yang berkelanjutan dan bukan kebencian sesaat. Ayat tersebut mengatakan bahwa seorang murid harus membenci nyawanya sendiri, yang sesuai dengan Yohanes 12:25 (orang yang membenci nyawanya akan memeliharanya untuk hidup kekal) di mana kata yang sama “benci” digunakan.

Fakta bahwa Matius 10:37 disampaikan dalam bentuk yang lebih lemah daripada Lukas 14:26 tidak meniadakan atau membatalkan Lukas 14:26. ​​Matius 10:37 tidak dapat diartikan bahwa kita boleh mengasihi ayah atau ibu pada tingkat yang sama dengan Allah. Penafsiran itu mungkin jika yang kita miliki hanyalah Matius 10:37, tetapi Lukas 14:26 mengesam­ping­kannya.

Kata “kurang” memiliki makna relatif atau komparatif daripada makna absolut. Jika kita mengasihi seseorang kurang daripada Tuhan, seberapa kurang? Sedikit kurang, agak kurang, atau jauh kurang? Semua ini termasuk dalam jangkauan makna “kurang”. Di sisi lain, “benci” bukanlah istilah relatif, tetapi kebalikan diametris dari kasih. “Kurang mengasihi” yang komparatif mungkin berlaku dalam beberapa situasi, tetapi ada situasi lain yang memaksa kita untuk memilih salah satu atau yang lain, seperti dalam kasus seorang guru yang saya kenal secara pribadi di Tiongkok. Suatu malam setelah bekerja, Allah mengatakan kepadanya dalam sebuah penglihatan untuk pergi dan memberitakan Injil. Ketika dia memberi tahu istrinya tentang hal itu, istrinya menga­takan kepadanya untuk memilih antara dia dan Allah, karena dia tidak dapat memiliki keduanya. Ketika dia menyatakan pilihannya untuk Allah, istrinya menyuruhnya meninggalkan rumah, karena dia meng­anggap bahwa dia membencinya.


Orang Lewi membunuh saudara-saudara mereka

Dalam mempelajari suatu bagian Perjanjian Baru, kita sering kali perlu mempertimbangkan hubungannya dengan Perjanjian Lama. Latar bela­kang pembahasan kita tentang “benci” adalah kisah tentang anak lembu emas di Keluaran 32:6 dst., khususnya apa yang dilakukan orang Lewi dalam kejadian itu. Musa baru saja turun dari gunung ketika ia melihat situasi yang kacau di mana seluruh bangsa Israel menyembah anak lembu emas. Maka berkatalah Musa kepada bangsa itu, “Siapa yang berada di sisi TUHAN? Datanglah kepadaku!” (ay 26) Semua anak Lewi menanggapi panggilan itu dan berbondong-bondong mendatangi Musa. Kemudian Musa memberi tahu mereka bahwa atas perintah Yahweh, setiap orang harus “sandanglah pedang di pinggangnya dan pergilah dari gerbang ke gerbang di seluruh perkemahan, lalu bunuhlah saudaramu masing-masing, temanmu masing-masing, dan tetanggamu masing-masing” (ay 27). Kasih terhadap sesama kini diungkapkan dengan cara yang radikal. Tidak ada orang bersalah yang akan dibiarkan hidup. Benar saja, pada hari itu sekitar 3.000 orang tewas karena pedang (ay 28). Pedang orang Lewi berlumuran darah kerabat terdekat mereka.

Pada zaman Perjanjian Baru, membunuh sesama dengan pedang bukanlah sesuatu yang kita lakukan secara harfiah. Namun, muncul pertanyaan serupa: Jika Anda menyimpang dari Allah, meninggalkan komitmen Anda, murtad, dan menyesatkan orang lain, apa yang Anda ingin sesama Anda lakukan kepada Anda?

Dalam kisah anak lembu emas, kita melihat komitmen yang radikal di antara orang Lewi. Ada kesamaan awal dengan peristiwa ini ketika Abraham hendak membunuh anaknya Ishak sebagai korban bagi Allah (Kej 22). Seberapa besar Abraham mengasihi anaknya? Dengan segenap hati dan segenap jiwanya. Dia akan dengan senang hati mati menggan­tikan Ishak jika Allah mengizinkannya. Dia akan mengor­bankan dirinya di altar jika itu berarti anaknya bisa hidup. Ishak masih muda dan memiliki masa depan di depannya, tetapi Abraham berusia lebih dari 100 tahun. Namun, karena Abraham dan bukan Ishak yang diuji Allah, maka Ishaklah yang harus dikorbankan. Abraham mengasihi Ishak dengan seluruh keberadaannya, tetapi dia lebih mengasihi Allah.

Sekarang kita melihat apa arti sebenarnya dari “benci”. Paling tidak, itu termasuk mengasihi Allah lebih daripada siapa pun. Seberapa lebih? Sampai-sampai seorang pengamat akan menganggap tindakan Anda untuk Allah sebagai bentuk membenci orang lain. Ketika orang Lewi membunuh orang yang mereka cintai karena menaati perintah Yahweh, dalam arti sebenarnya mereka membenci orang-orang tersebut. Orang Lewi tidak hanya berkata kepada mereka, “Kali ini aku akan membiarkan kamu pergi, jadi jangan lakukan itu lagi”. Ulangan 33:9 mengatakan bahwa setiap orang Lewi “tidak mengakui saudara-saudaranya, ia juga tidak menganggap anak-anaknya”.

Karena 3.000 penyembah berhala terbunuh, seluruh bangsa terhindar dari bencana lebih lanjut. Beberapa komentator telah mencatat bahwa 3.000 dari dua juta orang bukanlah persentase yang tinggi.

Melalui apa yang telah mereka lakukan, orang Lewi menahbiskan diri mereka ke dalam pelayanan Allah dan menjadi suku imam. Karena komitmen mereka, mereka dikuduskan: “Pada hari ini, kamu telah menahbiskan diri bagi TUHAN” (Kel 32:29). Tuhan menganugerahkan kepada mereka berkat pelayanan. Orang Lewi menjadi hamba khusus Allah Yahweh, karena mereka telah membuktikan komitmen dan kese­tiaan mereka.

Demikian pula di Lukas 14:26, komitmen Anda kepada Allah mene­tapkan Anda sebagai seorang murid dan Anda ditahbiskan ke dalam pelayanan Kerajaan Allah. Beberapa orang telah mencatat bahwa 3.000 orang yang dibunuh oleh orang Lewi jumlahnya sama dengan 3.000 orang yang ditambahkan ke dalam Kerajaan pada hari Pentakosta (Kis 2:41). Yang pertama dibunuh oleh orang Lewi; yang terakhir hidup kembali melalui orang Lewi yang baru, murid-murid Yesus, karena orang Kristen adalah orang Lewi yang baru: ia “telah menjadikan kita menjadi satu kerajaan, imam-imam bagi Allah dan Bapa-Nya” (Why 1:6).

Akankah kita menanggapi panggilan, “Siapa yang berada di sisi TUHAN?” Kita takut menjadi ekstrem atau radikal. Namun, jika Anda mengikuti orang banyak, Anda tidak akan berbeda daripada yang lain. Sebaliknya, orang yang radikal akan menonjol dari orang banyak dan menarik perhatian mereka.

Yesus berkata bahwa dunia membenci kita, dan ini terjadi meskipun kita mengasihi orang-orang di dunia. Namun, apakah dunia benar-benar membenci seorang dermawan yang peduli terhadap orang lain? Dunia tidak membenci orang-orang yang memberi sedekah, tetapi membenci mereka yang mengasihi Allah dan manusia secara radikal tanpa kompromi. Dunia menoleransi agama ketika agama itu sesuai dengan tujuannya, tetapi menentang mereka yang mengutamakan Allah dan Kristus di atas semua orang. Yesus berkata, “Kamu akan dibenci oleh semua orang karena nama-Ku” (Mrk 13:13; juga Mat 10:22; Yoh 15:18; 17:14). Kita ingin disukai, bukan dibenci, tetapi Yesus berkata bahwa jika kita benar-benar muridnya, kita akan dibenci.

Ada sebuah kejadian luar biasa dari periode Musim Semi dan Musim Gugur dalam sejarah Tiongkok (abad ke-8 hingga ke-5 SM). Ada seorang pejabat bernama Shi Que yang tinggal di negeri bagian Wei. Ia adalah seorang daifu, pejabat tinggi. Ia memiliki seorang putra bernama Hou yang bersekongkol dengan Zhou Xu untuk membunuh seorang adipati. Ketika Shi Que mengetahui rencana itu, ia memerintahkan agar putra­nya dieksekusi! Dari kejadian ini muncul pepatah Tionghua, da yi mie qin (mengorbankan ikatan pribadi atau keluarga untuk menegakkan kebenaran dan keadilan). Mengeksekusi seorang putra atas kejahatannya jarang terjadi dalam praktik, tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga dalam sejarah dunia. Hal ini membuat tindakan orang Lewi di Keluaran 32 menjadi lebih luar biasa ketika kita memperhitungkan skala pembunuh­annya yang sangat besar.


Sebuah paradoks yang luar biasa

Akan tetapi, jika kita hidup di bawah ketuanan Yesus dan menaati ajarannya dengan komitmen total, kita akan mengalami paradoks yang luar biasa: Dalam membenci orang-orang yang kita kasihi dan dalam mengasihi Allah di atas segalanya, kasih Allah akan memberdayakan kita untuk mengasihi mereka pada tingkat yang sama sekali baru: tingkat rohani. Dia akan mencurahkan ke dalam hati kita kasih ilahi (Rm 5:5) yang membawa kualitas dan intensitas yang baru. Jauh dari mengasihi mereka dengan kasih yang semakin berkurang, kita akan mengasihi mereka semakin banyak, dengan kasih Allah sendiri. Banyak orang Kristen telah mengalami paradoks ini dan tahu bahwa itu nyata. Itu terkait dengan prinsip bahwa kita akan kehilangan apa yang kita pegang teguh dalam kasih duniawi. Akan tetapi, jika seseorang membenci nyawanya sendiri—dan orang-orang yang dikasihinya—ia akan memeli­haranya untuk selamanya (Yoh 12:25; Mat 10:39; 16:25).


Allah, inti dari semua kasih dan komitmen

Kita dipanggil untuk mengasihi Allah dengan seluruh keberadaan kita dan sesama seperti diri kita sendiri, yang dalam praktiknya berarti mengasihi sesama lebih daripada diri kita sendiri. Pemikiran kita harus berpusat pada orang lain, memiliki pikiran Kristus melalui peker­jaan Roh. Namun kasih kita kepada sesama, bahkan orang-orang yang kita kasihi, tidak boleh melebihi—atau bahkan menyamai—kasih kita kepada Allah, Bapa Yesus Kristus. Allah adalah sumber dan tujuan utama dari semua kasih sejati. Dia adalah sumber kasih yang darinya komitmen muncul.

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨