Pastor Eric Chang | Bab 4 |


Jaminan sejati dan palsu

Banyak orang Kristen memiliki keraguan yang mendalam tentang kondisi rohani mereka sendiri, sehingga mereka bertanya, “Apakah saya sudah dilahirkan kembali? Apakah saya sudah lahir baru? Apakah saya benar-benar seorang Kristen sejati?” Semua itu kembali pada pertanyaan dasar yang sama: Apa sebenarnya seorang Kristen itu? Atau, apa arti kelahiran kembali?

Dalam Kitab Suci, seorang Kristen adalah seseorang yang telah dilahirkan kembali sebagai “bayi yang baru lahir” (1Pet 2:2) di dalam Kristus. Ia memiliki hidup yang baru di dalam Kristus dan menjadi manusia baru di dalamnya. Jika demikian, bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah dilahirkan kembali atau bahwa saya seorang Kristen sejati?

Ada dua cara untuk menghadapi persoalan mengenai jaminan keselamatan. Cara pertama adalah dengan menyatakannya secara dogmatis bahwa semuanya baik-baik saja hanya karena pada suatu waktu pada masa lalu kita pernah percaya kepada Yesus. Dengan cara itu, kita menutup mata terhadap kondisi rohani kita yang sebenarnya.

Cara yang kedua adalah menjadi realis rohani yang dengan berani dan jujur menilai kondisi rohaninya sendiri, memeriksa bukti-bukti apakah kita sungguh-sungguh murid Yesus. Jika bukti itu tidak ada, atau tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa kita telah dilahirkan kembali, maka mengklaim kepastian keselamatan tanpa kualitas hidup yang sesuai berarti menjadikan diri kita sebagai orang yang paling patut dikasihani di antara semua manusia. Orang Kristen seperti ini pasti menjadi manusia yang paling celaka dan paling menipu diri sendiri yang pernah hidup di muka bumi. Mengira bahwa kita memiliki sesuatu padahal sebenarnya tidak memilikinya adalah bentuk penipuan diri yang paling parah.

Namun, jika kita melihat bukti kelahiran kembali dalam hidup kita sendiri, atau jika Roh Kudus jelas bekerja dalam hidup kita, maka kita memiliki dasar untuk yakin. Ini bukan sekadar dasar pengalaman, tetapi juga dasar alkitabiah untuk yakin.


Allah selalu memimpin kita dalam kemenangan

Alih-alih berfokus pada satu bagian Alkitab tertentu, mari kita bahas topik yang mencakup seluruh Perjanjian Baru ini dengan melihat lebih luas ke dalam Kitab Suci. Kita mulai dengan 2 Korintus 2:14:

Namun, syukur kepada Allah, yang selalu memimpin kami kepada kemenangan di dalam Kristus dan menyatakan keharuman pengetahuan akan Dia di setiap tempat, melalui kami.

Salah satu ciri khas kehidupan dalam Kristus tampak dalam kebenaran bahwa Allah “selalu memimpin kami kepada kemenangan”. Kata “selalu” menegaskan bahwa ini bukanlah pengalaman yang kebetulan atau sesekali terjadi dalam kehidupan Kristen, melainkan sesuatu yang menjadi cirinya. Hal ini berfungsi sebagai batu ujian, sebagai standar, sebagai tolok ukur untuk menguji apakah kita adalah orang Kristen dalam pengertian Perjanjian Baru. Apakah kata-kata ini bergaung di hati kita, atau justru terdengar asing, bahkan tampak mustahil?

Apakah hidup kita memancarkan “aroma harum” dari Kristus? Seorang Kristen yang kalah tidak memiliki keharuman untuk disebarkan. Yang mungkin ia sebarkan justru miasma—bau busuk dan beracun dari sifat lama yang berpusat pada diri sendiri. “Manusia lama” berusaha menutupi bau busuk rohaninya dengan taburan parfum buatan manusia berupa keramahan atau pesona pribadi.

Namun, keharuman yang dibicarakan Paulus adalah keharuman yang manis di dalam Kristus, yang lahir dari kehidupan yang berkorban dan menang dalam setiap keadaan. Kata Yunani yang digunakan di sini untuk “aroma” (osmē) juga sering digunakan dalam Perjanjian Lama versi Yunani (LXX atau Septuaginta) untuk menggambarkan aroma harum yang timbul dari korban persembahan yang dibakar di atas mezbah bagi Allah. Kata “aroma” ini muncul 19 kali dalam kitab Imamat (1:9, 13, 17, dan seterusnya) dan 20 kali dalam kitab Bilangan (15:3, 7, 10, dan seterusnya). Dalam Efesus 5:2, Paulus menggunakan kata tersebut untuk merujuk kepada Kristus:

Hiduplah dalam kasih, sama seperti Kristus mengasihi kita dan memberikan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.

Dalam Filipi 4:18, Paulus memakai istilah “keharuman” untuk menggambarkan persembahan kasih dari jemaat Filipi yang, meskipun sangat miskin, tetap bersikeras memberikan bantuan kepadanya.

Jika kemenangan di dalam Kristus merupakan ciri yang terus-menerus dari kehidupan Kristen, maka keharuman yang mengalir darinya juga merupakan ciri khas dari kehidupan baru. Keduanya menjadi tolok ukur untuk mengukur kehidupan kita. Kemenangan adalah tanda mendasar dari orang yang telah dilahirkan kembali, dan bersama dengan kemenangan itu muncul keharuman yang memuliakan Allah.


Paulus menegaskan melalui kehidupannya sendiri

Kita cenderung berpikir bahwa ada dua jenis orang Kristen: orang Kristen berkemenangan dan orang Kristen yang hidup dalam kekalahan. Orang Kristen yang kalah tetap dianggap orang Kristen, hanya saja dari “kelas yang lebih rendah” dibandingkan dengan orang Kristen yang menang. Karena kemenangan tampaknya sulit dicapai bagi banyak orang, kita akhirnya menerima gagasan tentang “orang Kristen yang kalah” padahal konsep seperti itu sama sekali asing bagi Kitab Suci.

Setiap kali gereja mempertanyakan apakah Paulus memberitakan ­Injil yang sejati, ia akan melakukan satu hal untuk meyakinkan mereka. Apa itu? Apakah ia memamerkan gelar seminarinya atau menyatakan posisi doktrinalnya? Tidak, ia hanya meminta mereka untuk melihat kehidupannya yang tak bercela dan penuh kemenangan ­di dalam Kristus:

“Kamu adalah saksi-saksi, dan juga Allah, betapa suci, benar, dan tanpa celanya kami hidup di antara kamu yang percaya.” (1Tes 2:10)

Setiap kali kerasulan atau pesannya dipertanyakan, Paulus berulang kali menunjuk hidupnya sendiri sebagai bukti keasliannya­. “Kamu tahu bagaimana kami hidup di antara kamu. Apakah kami pernah mengambil keuntungan dari seseorang atau menipu siapa pun? Lihatlah kehidupan kami yang tak bercela. Di situlah bukti keaslian kami.” Lihat Kisah Para Rasul 20:33 dan 2 Korintus 7:2.

Berapa banyak orang Kristen yang berani menjadikan hal ini sebagai ujian bagi keaslian imannya sendiri? Diri kamilah, bukan apa yang kami katakan, yang berbicara dengan penuh kuasa dan meyakinkan. Apakah orang-orang di sekitar kita—mereka yang tinggal atau bekerja bersama kita—mencium aroma harum Kristus pada diri kita, atau apakah mereka memohon kepada Tuhan agar kuat menghadapi kita?

Tentu saja, ada tahapan-tahapan pertumbuhan rohani. Orang Kristen muda mungkin melakukan kesalahan karena ketidaktahuan dan ketidakdewasaan mereka, dan bukan karena niat berdosa. Paulus sering berkata kepada mereka yang belum dewasa secara rohani, “Tidak tahukah kamu?” (14 kali dalam surat-suratnya; 10 kali dalam 1 Korintus, 6 kali dalam 1 Korintus pasal 6 saja). Orang Kristen muda tidak mengetahui hal-hal tertentu, jadi kita perlu bersabar terhadap mereka jika hati mereka benar, meskipun mereka mungkin sesekali tergelincir. Namun, orang Kristen yang telah lama hidup tidak dapat menggunakan masa kanak-kanak rohani sebagai alasan untuk berbuat salah atau untuk gagal menjalani kehidupan yang berkemenangan yang tahan uji.

Mungkin karena alasan inilah banyak orang takut hidup bersama. Lebih mudah menyembunyikan diri di sudut pribadi daripada berpartisipasi dalam hidup bersama, ketika orang-orang dapat mengamati kita dari pagi hingga malam. Itulah ujian utamanya. Di gereja, kita bisa berpura-pura selama beberapa jam, tetapi dalam hidup bersama, kita tidak bisa berjaga-jaga sepanjang hari. Jati diri kita yang sebenarnya akan muncul cepat atau lambat.


Bukan penghapusan dosa, tetapi kemenangan atas dosa

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, dan akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab berikut, kekudusan dalam diri seorang Kristen bukanlah penghapusan dosa. Sekalipun seseorang hidup kudus atau sempurna menurut standar Kitab Suci, hal itu tidak berarti bahwa dagingnya tidak lagi menggoda untuk berbuat dosa, atau bahwa dunia sama sekali tidak memiliki daya tarik baginya, atau bahwa Iblis berhenti berusaha mencobainya. Kekudusan bukanlah penghapusan kecenderungan dosa yang masih ada dalam diri kita. Yang dimaksud dengan kekudusan adalah bahwa kita menang hari demi hari, saat demi saat, oleh anugerah Allah. Anugerah-Nya cukup bagi kita untuk mengatasi kecenderungan berdosa itu. Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa atau tidak memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1Yoh 1:8). Setiap orang memiliki kecenderungan untuk berdosa. Namun, Allah “selalu”—bukan sesekali—memimpin kita dalam kemenangan oleh Roh Kudus.

Hidup dalam kekalahan yang terus-menerus, membuat banyak orang Kristen tidak melihat adanya perubahan rohani yang nyata atau perubahan kualitas hidup sejak mereka pertama kali mengaku percaya. Tidak ada sesuatu yang baru dalam hidup mereka, tidak ada yang dapat mereka atau orang lain lihat sebagai suatu transformasi sejati. Pembaptisan mereka sendiri tampak tidak lebih dari sekadar upacara lahiriah tanpa isi rohani yang sejati. Tidak puas hidup dalam kekalahan, mereka mencoba memperbaiki dasar rohani mereka. Mereka berusaha memulai kembali, dan oleh anugerah Allah, menata segala sesuatu dengan benar. Kini mereka teringat bahwa Kitab Suci berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mar 16:16).


Iman mendahului baptisan

Iman selalu mendahului baptisan sebab imanlah yang memberi makna pada baptisan. Tanpa iman, baptisan tidak lebih dari sekadar ritual kosong. Dalam Kitab Suci, kepercayaan selalu muncul sebelum baptisan, sebagaimana terlihat secara konsisten dalam kitab Kisah Para Rasul:

Namun, setelah orang-orang itu mempercayai Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan nama Kristus Yesus, mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, Simon sendiri percaya dan setelah ia dibaptis, ia terus berada di dekat Filipus, dan ketika melihat berbagai mukjizat dan tanda-tanda ajaib yang terjadi, ia menjadi takjub. (Kis 8:12-13)

Dan, saat mereka pergi menempuh perjalanan, mereka sampai di tempat yang berair, dan sida-sida itu berkata, “Lihatlah, ada air! Apa yang menghalangiku untuk dibaptis?” Lalu, Filipus berkata, “Jika tuan percaya dengan sepenuh hati tuan, tuan boleh.” Lalu, ia menjawab dan berkata, “Aku percaya bahwa Kristus Yesus adalah Anak Allah.” Kemudian, sida-sida itu memerintahkan kereta untuk berhenti. Dan, mereka berdua turun ke air, Filipus dan sida-sida itu, lalu Filipus membaptisnya. (Kis 8:36-38)

Seorang wanita bernama Lidia, dari kota Tiatira, seorang penjual kain ungu yang menyembah Allah. Tuhan membuka hatinya untuk memperhatikan apa yang Paulus katakan. Dan, setelah Lidia dan semua orang yang tinggal di rumahnya dibaptis, ia memohon kepada kami, katanya, “Jika engkau menganggap aku percaya dengan teguh kepada Tuhan, datanglah ke rumahku dan tinggallah di sana.” Dan, ia mendesak kami. (16:14-15) 

Krispus, kepala sinagoge, menjadi percaya di dalam Tuhan dengan semua orang yang tinggal di rumahnya, dan banyak orang Korintus yang setelah mendengarkan Paulus menjadi percaya dan dibaptis. (18:8)

Lalu ada juga catatan yang luar biasa dalam Kisah Para Rasul 10:47, 48 tentang orang-orang bukan Yahudi yang telah menerima Roh Kudus dibaptis:

“Bukankah tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi air untuk dibaptiskan kepada orang-orang yang sudah menerima Roh Kudus sama seperti kita ini?” Maka, Petrus memerintahkan mereka untuk dibaptis di dalam nama Kristus Yesus. Kemudian, orang-orang itu meminta supaya Petrus tinggal bersama mereka selama beberapa hari.

Orang Kristen yang hidup dalam kekalahan, tetapi merindukan hidup yang kemenangan akan bergumul dengan pertanyaan-perta­nyaan seperti ini: apakah saya memiliki iman? Apakah saya memiliki iman ketika saya dibaptis? Apakah iman saya seperti yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 8:37, “Jika tuan percaya dengan segenap hati tuan”, yaitu iman yang sepenuhnya berkomitmen kepada Yesus?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dengan pasti, seseorang akan terus hidup tanpa jaminan keselamatan dan dengan hati nurani yang gelisah: mengapa saya masih hidup dalam dosa? Bagaimana saya dapat dibebaskan dari dosa jika saya belum mati terhadap dosa? Bagaimana saya bisa mati terhadap dosa jika saya belum pernah dipersatukan dengan Kristus dalam kematiannya melalui baptisan? Paulus menyinggung semua pertanyaan ini dalam Roma 6:1–4:

Jadi apa yang harus kita katakan? Apakah kita akan terus dalam dosa supaya anugerah semakin berlimpah? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin kita yang telah mati bagi dosa masih hidup di dalamnya? Atau, tidakkah kamu tahu bahwa kita semua yang telah dibaptis ke dalam Yesus Kristus, dibaptiskan ke dalam kematiannya? Karena itu, kita dikubur bersama-sama dengan dia melalui baptisan dalam kematiannya; supaya sama seperti Yesus dibangkitkan dari antara orang mati melalui kemuliaan Bapa, kita juga boleh hidup dalam kehidupan yang baru.


Haruskah saya dibaptis ulang?

Banyak orang Kristen meragukan apakah mereka benar-benar telah dilahirkan kembali. Permintaan untuk dibaptis ulang biasanya muncul sebagai akibat dari ketidakpastian itu. Sering kali seseorang menilai keadaannya seperti ini: “Haruskah saya dibaptis ulang, mengingat bahwa saya sekarang siap untuk membuat komitmen yang tidak saya buat pada masa lalu, atau dulu hanya sebagian? Ketika saya dibaptis, pendeta tidak menjelaskan apa-apa tentang komitmen total, jadi pemahaman saya tentang iman masih kabur. Saya pikir percaya  Yesus hanya berarti menerima beberapa ajaran, yaitu bahwa dia disalibkan, mati untuk dosa saya, dan bangkit kembali. Semua itu saya terima, setidaknya secara intelektual. Namun, saya tidak mengerti bahwa iman berarti penyerahan hati secara total, jadi sekarang saya meragukan keabsahan baptisan saya. Sekarang saya siap untuk berkomitmen sepenuhnya. Haruskah saya dibaptis ulang?”

Sungguh menyedihkan bahwa pertanyaan seperti ini harus muncul karena sebenarnya merupakan tanggung jawab setiap gereja dan setiap pendeta untuk menjelaskan apa yang terkandung dalam baptisan. Tentu saja, sekalipun kita sudah menjelaskan semuanya dengan jelas, kita tidak mungkin dapat menutup semua celah. Akan ada orang yang menyatakan diri berkomitmen total dengan tidak tulus, dan dalam hal seperti itu, tidak banyak yang dapat kita lakukan.


(1) Analogi sebuah dokumen hukum

Haruskah Anda dibaptis ulang? Pertanyaan itu sama seperti bertanya: Haruskah Anda mengulangi suatu janji yang telah kau buat? Baptisan adalah sebuah janji, mirip dengan janji pernikahan, di mana kita berkata “ya” kepada Allah. Menurut 1 Petrus 3:21, baptisan adalah “janjimu [1] kepada Allah dari hati nurani yang baik” (BIS).

Karena itu, baptisan dapat dibandingkan dengan pemberian janji atau penandatanganan suatu dokumen hukum. Setelah menanda­tangani sebuah dokumen hukum, apakah perlu menandatanganinya lagi? Apakah dengan menandatanganinya dua kali dokumen itu menjadi lebih sah atau lebih mengikat? Tentu tidak. Sekali menanda­tanganinya, dokumen itu sudah sah dan mengikat secara hukum.

Pertanyaan yang terkait adalah: Apa sebenarnya yang Anda tandatangani? Misalkan isi dokumennya berbunyi seperti ini:
“Saya dengan ini, mulai hari ini, mengakhiri sepenuhnya cara hidup lama saya, dan sejak saat ini mengakui tanpa syarat Allah sebagai Tuhan dan Raja saya, serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Ditandatangani, __________.”

Ketika menandatangani pernyataan itu, mungkin Anda belum sepenuhnya memahami arti kata “komitmen”, atau “Tuhan”, atau “Raja”. Akan tetapi, Anda tetap menandatanganinya. Dalam pengadilan hukum, apakah dokumen itu sah atau tidak? Tentu saja sah. Begitu menandatanganinya, dokumen itu sah dan mengikat.

Jika kemudian Anda memahami dengan lebih mendalam apa arti ketuanan dan kedaulatan Allah, apakah pemahaman yang lebih lengkap itu berarti harus menandatangani dokumen itu lagi? Apakah hal itu akan menambah keabsahan dokumen tersebut? Jelas tidak. Dengan kata lain, jika pada waktu baptisan Anda telah membuat janji kepada Tuhan—seolah-olah menandatangani sebuah dokumen hukum—menyatakan bahwa Anda menerima ketuanan dan kedaulatan Allah serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, apakah keabsahan janji itu akan meningkat karena Anda sekarang lebih memahami maknanya? Apakah baptisan ulang akan membuat janji itu lebih lengkap? Tentu tidak. Baptisan ulang tidak akan mengubah apa pun, sama seperti menandatangani sebuah dokumen untuk kedua kalinya tidak menambah keabsahannya.


(2) Isi Dokumen

Namun, sebuah masalah bisa muncul berkaitan dengan isi dokumen itu. Misalnya, ketika “menandatangani” dokumen baptisan, Anda sama sekali tidak berjanji tentang hal-hal yang menyangkut ketuanan atau kedaulatan Allah, atau tentang mengakhiri cara hidup lama. Maka Anda sekarang menghadapi persoalan, karena sebenarnya Anda belum pernah benar-benar membuat komitmen. Masalahnya bukan terletak pada tindakan menandatangani dokumen itu, melainkan pada isinya. Jika baptisan Anda hanyalah semacam upacara penerimaan menjadi anggota gereja, maka yang sebenarnya Anda “tandatangani” hanyalah keanggotaan gereja. Kalau kemudian Anda mengerti apa arti komitmen total, yaitu bahwa Allah harus menjadi Tuhan atas seluruh hidup Anda, maka Anda jelas akan menghadapi pertanyaan serius: apakah baptisan Anda itu sah?

Jadi, pertanyaan yang paling penting adalah: Apa yang Anda “tandatangani” pada saat baptisan? Kepada hal apa Anda berkomitmen? Apa, jika ada, yang Anda janjikan kepada Tuhan? Banyak orang tidak membuat komitmen apa pun pada waktu baptisan, atau bahkan tidak pernah diminta untuk membuatnya.

Mungkin Anda bahkan tidak punya waktu untuk mempersiapkan diri. Jika pelayanan baptisan diadakan pada malam hari dan Anda baru diberi tahu pada sore harinya, maka “lari 100 meter” menuju kolam baptisan itu praktis membuat Anda tidak punya waktu sama sekali untuk bersiap.

Jadi, apa sebenarnya yang Anda tandatangani, janjikan, atau katakan “ya”? Jika Anda tidak pernah berjanji apa pun, atau bahkan tidak tahu apa yang Anda janjikan, Anda menghadapi masalah hati nurani. Pertanyaan tentang keabsahan baptisan akan muncul ke permukaan. Kiranya Allah memimpin para pendeta dan penginjil agar tidak ceroboh dan bertanggung jawab dalam menunaikan pelayanan baptisan.


(3) Menandatangani dokumen hukum dengan motif yang salah

Berikut adalah sebuah kasus nyata yang terjadi baru-baru ini: Seseorang dibaptis di gereja kami dengan mengetahui seluruh syarat baptisan, tetapi komitmennya tidak tulus. Ia dibaptis hanya karena teman-temannya juga akan dibaptis. Baru-baru ini Allah menegurnya tentang ketidaktulusannya itu, dan ia pun bertobat dari sikapnya.

Dalam kasus ini, bukan saya yang melakukan wawancara dan pembaptisan, melainkan seorang pendeta lain. Dalam wawancara itu, orang tersebut memberikan jawaban-jawaban yang tidak tulus terhadap pertanyaan yang diajukan pendeta. Sekarang ia mengakui ketidaktulusannya. Apakah baptisannya sah?

Jika seseorang menandatangani dokumen hukum dengan motif yang salah, apakah itu mengurangi keabsahan dokumen tersebut? Misalnya seseorang menandatangani dokumen yang menyerahkan seluruh hartanya tanpa alasan yang benar, apakah hal itu membatalkan keabsahan dokumen di pengadilan? Dapatkah ia mengajukan permohonan kepada hakim, “Saya menandatanganinya dengan alasan yang salah, dengan bodohnya mengikuti nasihat teman saya. Bisakah saya dibebaskan dari kewajiban itu?” Anda tentu tahu bagaimana hakim akan menjawab: “Tidak, kamu tetap terikat pada isi perjanjian itu. Kamu telah menandatanganinya, dan dokumen itu tetap sah dan mengikat secara hukum. Motifmu tidak relevan. Fakta bahwa kamu telah menandatangani dokumen itulah satu-satunya hal yang memiliki arti hukum.”


(4) Janjimu kepada Tuhan tetap berlaku

Jika Anda telah berjanji untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, janji itu tetap mengikat, sekalipun Anda mengucapkannya tanpa ketulusan. Allah akan menuntut pertanggungjawaban Anda atas janji itu. Prinsip ini terlihat jelas dalam contoh yang mencolok dari Yefta, yang dengan gegabah bernazar kepada Allah untuk mempersembahkan sebagai korban bakaran siapa pun yang pertama kali keluar dari rumahnya menyambut dia setelah mengalahkan bani Amon. Ia sangat menyesali nazarnya itu karena ternyata yang keluar adalah anaknya yang tunggal (Hak 11:31–40). Sekalipun nazar itu bodoh dan ceroboh, ia tetap harus melaksanakannya terlepas dari motif dan maksudnya. Setiap janji yang dibuat kepada Allah adalah janji yang mengikat dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.

Orang Kristen terikat oleh janji baptisannya, sekalipun ia belum dilahirkan kembali. Apa pun motifnya, ia telah membuat janji dan dibaptis. Akan tetapi, karena belum dilahirkan kembali, ia tidak mampu memenuhi janji itu.

Jika itu keadaan Anda, pada hari penghakiman Allah akan menuntut pertanggungjawaban atas komitmen yang telah Anda buat. Ia akan menghakimi Anda karena gagal menepati janji itu. Lebih baik tidak mengambil langkah baptisan sama sekali daripada sudah dibaptis, tetapi tidak hidup sebagai orang percaya sejati sebab Allah akan menghakimi kita berdasarkan perbuatan dan perkataan kita (Mat 12:36–37).

Jika seseorang mengaku sebagai orang Kristen, Allah akan menghakiminya sebagai orang Kristen. Jangan mengaku Kristen, kecuali Anda bersedia menjadi orang Kristen sejati karena Allah akan menghakimi Anda sebagai orang Kristen, meskipun Anda tidak hidup seperti orang Kristen, yang artinya, Dia akan menghakimi Anda dengan standar yang lebih tinggi sebagai seorang Kristen.

Janganlah menerima baptisan sebelum Anda memahami hal ini karena jika Anda dibaptis tanpa kelahiran kembali, berarti Anda wajib hidup menurut tuntutan perjanjian baru, padahal Anda tidak punya kehidupan baru di dalam Kristus dan tanpa kuasa Roh Kudus. Kamu telah berkomitmen untuk hidup sesuai standar perjanjian baru, tetapi tanpa kemampuan untuk melakukannya. Akibatnya, kamu akan terus-menerus melanggar perjanjian itu dan hidup dalam keadaan bersalah yang tiada henti. Saya memohon kepada Anda, jangan main-main dengan Allah yang hidup, sebab “Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibr 12:29), kata-kata ini ditujukan kepada orang Kristen.

Jika Anda seorang Kristen yang belum dilahirkan kembali, dan Allah masih berbelas kasihan kepada Anda, Ia akan memperlakukan Anda dengan keras untuk membawa Anda kepada pertobatan. Jika tidak, apa yang akan Anda hadapi pada hari penghakiman akan melampaui segala imajinasi. Allah tidak memiliki kesabaran terhadap pendusta. Membuat janji, tetapi tidak menepatinya sama saja dengan berdusta kepada Allah. Kisah Para Rasul 5:1–11 mencatat apa yang terjadi pada Ananias dan Safira ketika mereka berdusta kepada Allah. Mereka berdusta kepada-Nya dalam hal yang tampaknya sepele—hasil penjualan tanah mereka—tetapi Allah menghukum mereka dengan tegas. Allah adalah Allah kekudusan dan kebenaran. Ia tidak sabar terhadap orang yang berdusta, meskipun Ia berbelas kasihan kepada mereka yang dengan tulus berusaha, tetapi gagal karena kelemahan.

Wahyu 21:8 mengatakan bahwa para pembunuh, tukang sihir, penyembah berhala, dan “semua pendusta” akan dilemparkan ke dalam “lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang, yaitu kematian kedua.” Tidak ada pendusta yang akan ditemukan di kota surgawi. Siapakah para pendusta itu, kalau bukan mereka yang, misalnya, mengaku menyerahkan diri kepada Allah saat baptisan, tetapi tidak menepati pengakuan itu? Allah yang saya kenal adalah Allah yang hidup, dan saya memohon dengan sepenuh hati agar kita berjalan dengan jujur di hadapan-Nya.

Adapun bagi mereka yang dengan sengaja tidak tulus pada saat baptisan: jika Anda telah diberi penjelasan bahwa baptisan berarti menerima ketuanan mutlak Allah, bahwa Ia akan datang menjadi Tuan dan Raja Anda, maka baptisan Anda sah, apa pun motif Anda.

Bagi mereka yang dibaptis sebagai bayi, masalah ini menjadi lebih rumit. Baptisan adalah janji kepada Allah dari hati nurani yang baik (1Pet 3:21), dan bayi jelas tidak dapat membuat janji apa pun, bahkan belum memiliki hati nurani yang dapat dinilai. Dalam Perjanjian Baru, pertobatan dan iman—dua hal yang tidak dimiliki bayi—selalu menda­hului baptisan. Jadi, bagaimana mungkin baptisan bayi dianggap sah?

Namun, sikap tidak toleran dan dogmatis tidak membantu apa pun dalam jemaat Allah. Jika seseorang yang dibaptis saat bayi menganggap baptisannya sah, hal itu adalah urusannya dengan Allah. Itu urusan hati nuraninya, dan ia sendiri harus mempertanggung­jawabkannya kepada Tuhan. Bukan tugas kita untuk memaksakan baptisan ulang. Namun, orang itu sebaiknya dengan hati-hati memeriksa apakah ada dasar Alkitabiah bagi baptisannya.

Jika Anda sedang mempertimbangkan baptisan ulang, ingatlah apa yang telah Anda janjikan, jika memang ada, pada saat baptisan Anda. Apa yang Anda ucapkan kepada Allah? Jika Anda telah berjanji untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, baptisan Anda tetap sah. Hal ini berlaku bahkan jika Anda tidak menggunakan istilah “komitmen total”, tetapi Anda memahami bahwa baptisan berarti kematian terhadap hidup lama dan masuk ke dalam hidup baru di mana Allah adalah Tuan. Baptisan Anda tetap sah, dan baptisan ulang tidak diperlukan.

Jika Anda secara de jure (secara publik, di hadapan saksi, secara formal, atau “secara hukum”) telah menyerahkan diri Anda kepada Allah, tetapi secara de facto (dalam kenyataan) belum hidup sebagai orang Kristen sejati, maka Anda perlu bertanya apakah Anda benar-benar telah dilahirkan kembali. Kami tidak mengajarkan baptismal regeneration (bahwa baptisan itu sendiri melahirbarukan seseorang), karena itu berarti memberi kekuatan magis pada baptisan. Saat Anda dibaptis, baptisan itu tidak secara otomatis melahirbarukan Anda. Kelahiran baru adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dalam hidup Anda ketika Anda membuka hati kepada Allah.

Karena itu, baptisan dan kelahiran kembali bisa merupakan dua peristiwa yang terpisah dan sering kali memang demikian. Anda mungkin sudah dibaptis (dan karena itu terikat oleh ketentuan-ketentuan perjanjian baru) serta ingin mengklaim hak-hak dari perjanjian itu yang dijanjikan bagi mereka yang hidup sesuai ketentuannya. Akan tetapi, jika Anda belum dilahirkan kembali, Anda tidak akan mampu hidup sesuai ketentuan perjanjian itu, tidak akan mampu hidup sebagai orang Kristen sejati. Anda akan dikalahkan oleh dosa, oleh daging, dan oleh kuasa kegelapan, hingga akhirnya Anda menyerah dalam frustrasi karena mencoba menjadi Kristen sejati tanpa kelahiran kembali. Jika kekalahan dan frustrasi rohani merupakan pengalaman hidup Anda yang terus berulang, Anda memiliki alasan kuat untuk bertanya apakah Anda benar-benar telah dilahirkan kembali.

Namun, jika kelahiran baru terjadi beberapa waktu setelah baptisan, baptisan itu mungkin sah. 


Bukti kelahiran kembali

Mari kita perhatikan tanda-tanda kelahiran kembali dan lihat apakah tanda-tanda itu nyata dalam kehidupan Kristen Anda. Jika tanda-tanda ini tidak tampak dalam hidup Anda, Anda memiliki alasan yang kuat untuk meragukan apakah Anda benar-benar telah dilahirkan kembali, dan apakah Anda seorang Kristen sejati menurut definisi Alkitab tentang “Kristen”.


Manusia yang belum dilahirkan kembali adalah budak dosa

Jika Anda seorang non-Kristen atau hanya Kristen KTP, bukan seorang Kristen sejati, bagaimana Anda akan menggambarkan keadaan rohani Anda? Dari pengalaman Anda sendiri, Anda pasti tahu bahwa Anda berada dalam perbudakan dosa, sebagaimana digambarkan dalam Roma 7. Pada ayat 14 Paulus berkata, “Kita tahu bahwa Hukum Taurat bersifat rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.”

Ungkapan “terjual di bawah kuasa dosa” berasal dari istilah perbudakan. Sama seperti seorang budak dijual untuk menjadi hamba, demikian juga manusia telah diperhamba oleh dosa. Dosa-dosa kita menempatkan kita di bawah kuasa dosa, dan kita menjadi budak dosa. Roma 7:15–19 menggambarkan keadaan ini:

“bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat… Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (TB)

Paulus berulang kali menegaskan bahwa kita masih memiliki “kehendak” untuk melakukan yang baik. Jika tidak demikian, Anda tentu tidak akan membaca buku tentang menjadi manusia baru di dalam Kristus ini. Anda tahu apa yang benar dan sungguh “hendak” melakukannya, tetapi Anda mendapati diri Anda tak berdaya untuk melaksanakannya.

Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dengan istilah “perbudakan kehendak”. Kehendak manusia tidak diperhamba dalam arti tidak mampu menghendaki hal yang baik. Ungkapan “perbudakan kehendak” merupakan istilah yang menyesatkan, karena menurut Paulus, kehendak itu tidak diperhamba dalam arti tidak dapat menginginkan kebaikan. Masalah yang sesungguhnya bukan terletak pada kemauan untuk melakukan yang baik, melainkan pada ketidakmampuan untuk melakukannya. Kehendak berada dalam perbudakan hanya dalam arti bahwa ia tidak mampu melakukan apa yang dikehendakinya. Ini berbeda dari perbudakan total yang mutlak. Kehendak masih bebas dalam arti penting: ia masih dapat menginginkan hal yang baik.

Ayat yang sama juga mengatakan bahwa kita melakukan kejahatan yang tidak kita kehendaki. Kejahatan yang kita perbuat bertentangan dengan kehendak kita. Jadi, bukan benar-benar kita yang melaku­kannya, melainkan dosa yang berdiam di dalam diri kita. Dosa yang berdiam itu memperbudak dan memaksa kita.

Tanda orang yang belum dilahirkan kembali adalah bahwa ia tidak dapat melakukan yang benar. Misalnya, Anda tahu bahwa kesabaran itu baik, tetapi apakah Anda mampu melakukannya? Seseorang berkata sesuatu yang menjengkelkan, Anda berusaha menahan amarah dan mencoba untuk mengasihi, tetapi Anda tidak dapat menahan diri untuk tidak marah. Apakah itu pengalaman Anda? Jika Anda tidak mampu menahan diri untuk tidak berbuat jahat, meskipun Anda ingin melakukan yang baik, itu adalah tanda pasti bahwa Anda masih berada di bawah kuasa dosa. Anda belum mengalami kelahiran kembali yang membebaskan, di mana kuasa Allah masuk dan melepaskan Anda dari perbudakan dosa.


Kelahiran kembali: empat aspek dari hidup yang menang

 

  1. Mengalahkan dosa

“Jadi, apabila Anak membebaskan kamu, kamu benar-benar bebas” (Yoh 8:36). Pernahkah Anda mengalami Tuhan yang membebaskan Anda? Jika belum, apa bedanya Anda dengan orang yang tidak percaya? Ia berada dalam perbudakan dosa, dan Anda pun demikian. Banyak orang Kristen berbeda dari orang yang tidak percaya hanya dalam nama saja.

Kemenangan atas dosa adalah tanda orang yang telah lahir baru, sedangkan perbudakan dosa adalah tanda orang yang belum dilahirkan kembali. Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma pasal 8. Namun bahkan sebelumnya, dalam Roma pasal 6, ia berulang kali menegaskan bahwa kita tidak lagi berada di bawah kuasa dosa, seperti dalam pernyataan-pernyataan berikut:

  • Kita tidak akan menjadi hamba-hamba dosa. Karena siapa yang sudah mati, ia sudah dibebaskan dari dosa (ay. 6–7).
  • Kamu juga harus memandang bahwa dirimu sudah mati bagi dosa, dan hidup bagi Allah (ay. 11).
  • Jangan lagi membiarkan dosa menguasai tubuhmu yang fana, yang membuatmu mengikuti keinginannya (ay. 12).
  • Dosa tidak akan berkuasa atasmu (ay. 14).
  • Kamu adalah budak bagi orang yang kamu taati itu; baik kepada dosa yang memimpinmu kepada maut, atau kepada ketaatan yang memimpinmu kepada kebenaran (ay. 16).
  • Kamu yang dahulu adalah budak dosa (ay. 17).
  • Karena telah dibebaskan dari dosa, sekarang menjadi budak kebenaran (ay. 18).
  • Sesudah kamu dibebaskan dari dosa dan telah menjadi hamba Allah, buah yang kamu dapatkan membawa kepada pengudusan yang berakhir pada hidup yang kekal (ay. 22).

Jika dosa tidak lagi menguasai kita, dosa tidak dapat memaksa kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak kita. Karena Kristus telah membebaskan kita, kehendak kita kini bebas untuk melakukan apa yang benar di mata Allah. Sesederhana dan seindah itu. Kita tidak perlu menjadi teolog untuk melihat perbedaan antara kemenangan dan kekalahan, atau antara kebebasan dari dosa dan perbudakan kepada dosa.

Apakah kita hidup menang atas dosa? Apakah kita memiliki kuasa untuk melakukan kebaikan yang kita kehendaki? Kuasa itu tidak berasal dari kekuatan manusia, melainkan dari Roh Allah yang tinggal di dalam kita. Itulah artinya diselamatkan oleh anugerah. Anugerah Allah kepada kita adalah berkat kehidupan baru di dalam Kristus. Kehidupan baru ini membawa kuasa yang mentransformasi dan memampukan kita, yang menyelamatkan kita dari kuasa dosa hari demi hari. Hidup yang menang inilah kehidupan Kristen yang Allah panggil untuk kita jalani.

 

  1. Kuasa: tidak ada yang mustahil bagimu

Matius 17:14–20 memuat kisah yang mencolok tentang seorang laki-laki yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan karena para murid tidak mampu mengusirnya. Yesus menjawab, “Hai, kamu generasi yang tidak percaya dan sesat! Berapa lama lagi aku akan tinggal bersamamu? Berapa lama lagi aku harus bersabar terhadap kamu? Bawalah anak itu kepadaku.” Yesus segera mengusir setan itu, dan anak itu pun dibebaskan. Para murid kemudian bertanya kepadanya secara pribadi, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh jahat itu?” Yesus menjawab,

“Karena imanmu yang kecil. Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, kalau kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, maka kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari tempat ini ke sana!’ dan gunung ini akan pindah. Tidak ada yang mustahil bagimu.”

Tidak ada yang mustahil bagimu. Kita akan memiliki kuasa atas roh-roh jahat. Lebih dari itu, kita akan menang dalam setiap situasi. Tidak ada musuh di dunia ini yang tidak dapat kita kalahkan melalui kuasa Allah, baik daging, diri sendiri, maupun Iblis. Seperti yang dikatakan rasul Paulus, “Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13).

Kita sering berasumsi bahwa ketika Yesus berkata, “Tidak ada yang mustahil bagimu”, ia sedang berbicara tentang mukjizat. Itu keliru sebab perkataan ini sama relevannya dengan kehidupan Kristen sehari-hari seperti halnya dengan mukjizat. Karena kita membatasi maknanya hanya pada perbuatan ajaib, kita gagal melihat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Perkataan itu sebenarnya berkaitan langsung dengan kehidupan kita setiap hari. Tidak ada yang mustahil bagi kita setiap hari. Jika Allah memerintahkan kita melakukan sesuatu, kita akan mampu melakukannya. Jika Ia memberi kita perintah, Ia juga akan memberi kuasa untuk menaatinya. Jika Ia memerintahkan kita untuk mengasihi, Ia akan memberi kuasa untuk mengasihi orang yang sukar dikasihi. Jika Ia memerintahkan kita untuk kudus, Ia akan memberi kuasa untuk hidup kudus. Jika Allah memiliki kuasa dan kita memiliki komitmen, adakah alasan bagi kegagalan dan kekalahan?

Banyak orang Kristen hidup tanpa kuasa karena mereka tidak menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar perkataan Yesus, “Tidak ada yang mustahil bagimu”, maka kita akan mampu melaksanakan setiap misi yang Allah percayakan kepada umat-Nya pada akhir zaman ini. Ini termasuk memberitakan Injil “ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, dan sesudah itu barulah tiba kesudahannya” (Mat 24:14). Kita akan mendapati bahwa setiap rintangan dapat diatasi. Mengusir setan atau menyembuhkan orang sakit akan terjadi oleh kuasa Allah yang sama.

Namun, jika perkataan itu tidak nyata dalam hidup kita, atau jika kita tidak hidup dalam kekudusan praktis, maka mustahil bagi kita untuk menang dalam bidang apa pun. Perkataan ini harus terlebih dahulu diterapkan secara internal di dalam hati kita; barulah kita akan mendapati bahwa tidak ada yang mustahil dalam kehidupan rohani. Hanya setelah itu, kita dapat menerapkannya secara eksternal dalam hal penyembuhan atau pengusiran roh jahat.

Manakah yang lebih sulit: mengusir setan atau hidup dalam kekudusan? Manakah yang menuntut kuasa yang lebih besar? Siapa pun yang dengan tulus berusaha hidup kudus tahu bahwa keduanya sama-sama sulit, bahkan mustahil. Dibutuhkan kuasa Allah yang sama besarnya untuk mengasihi orang yang sukar dikasihi seperti halnya untuk menyembuhkan orang lumpuh.. Jika kita belum mengalami kuasa itu di dalam diri kita, jelas kita tidak akan mampu menerap­kannya ke luar.

Meskipun kuasa Allah bekerja dalam kedua aspek ini, lahiriah dan batiniah, apakah keduanya merupakan manifestasi kuasa Allah yang sama besarnya? Apakah seseorang yang menyembuhkan orang sakit dengan kuasa Allah otomatis adalah orang kudus? Yesus memperingatkan kita bahwa belum tentu demikian. Seseorang bisa melakukan karya besar bagi Allah secara lahiriah, tetapi tidak memiliki kekudusan batiniah. Hal ini penting agar kita tidak tertipu pada zaman kegelapan rohani ini. Yesus berkata,

Tidak semua orang yang berkata kepadaku, ‘Tuan, Tuan,’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan ia yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga. Pada hari itu, banyak orang akan berkata kepadaku, ‘Tuan, Tuan, bukankah kami bernubuat dalam namamu, dan mengusir roh-roh jahat dalam namamu, dan melakukan banyak mukjizat dalam namamu?’ Lalu, aku akan menyatakan kepada mereka, ‘Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dariku, kamu yang berbuat pelanggaran!’” (Mat 7:21–23)

Orang-orang ini telah belajar melakukan mukjizat dalam nama Yesus, tetapi hidup mereka tidak tunduk pada kehendak Allah. Karena itu mereka tidak akan mendapat tempat dalam kerajaan Allah. Paulus juga mengatakan hal yang sama:

Jika aku dapat berbicara dalam bahasa-bahasa manusia dan para malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berbunyi dan canang yang gemerencing. Jika aku mempunyai karunia bernubuat dan mengetahui semua rahasia dan semua pengetahuan, dan jika aku memiliki semua iman untuk memindahkan gunung-gunung, tetapi tidak mempunyai kasih, aku bukanlah apa-apa. (1Kor 13:1–2)

Jangan kita bayangkan bahwa jika kita berbicara dalam bahasa roh atau melakukan mukjizat, kita berada dalam posisi istimewa di hadapan Allah, atau bahwa hal itu membuktikan kita telah dilahirkan kembali. Jika kita tidak memiliki kasih-Nya, kekudusan-Nya, atau hidup-Nya di dalam diri kita, di hadapan Allah kita “tidak ada apa-apa” (1Kor 13:2), meskipun kita memiliki iman untuk memindahkan gunung (dan tentu saja, tidak ada anak Allah yang dilahirkan baru yang dianggap “tidak berarti” oleh-Nya). Maka ternyata, kemenangan batin atas dosa dan diri sendiri jauh lebih penting daripada manifestasi lahiriah dari mukjizat.

Mengapa Yesus berbicara tentang melakukan hal yang mustahil? Karena memang mustahil bagi kita untuk hidup baru di dunia yang dikuasai dosa. Keakuan lama kita, ditambah dosa yang tinggal dalam daging dan kuasa kegelapan di dunia, membentuk kekuatan besar yang menentang kehidupan baru di dalam Kristus. Tidak ada jalan untuk menang kecuali oleh kuasa Allah. Jika kehidupan Kristen bisa dijalani dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak memerlukan Allah sama sekali. Namun kenyataannya, kehidupan Kristen menuntut penerapan kuasa Allah setiap hari melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Itulah sebabnya kita bermegah dalam Injil Allah yang hidup. Melalui iman kepada-Nya, kita melakukan hal-hal yang mustahil.

Orang Kristen yang berjalan bersama Allah tidak akan hidup dalam bayang-bayang kekalahan karena segala sesuatu mungkin baginya melalui kuasa Allah. Itu pernyataan besar, tetapi tidak lebih besar daripada ini: “syukur kepada Allah, yang selalu memimpin kami kepada kemenangan di dalam Kristus” (2Kor 2:14). Kemenangan ini menjangkau setiap aspek kehidupan Kristen, termasuk doa.

Kita memusatkan pandangan kita pada kabar baik bahwa keselamatan adalah karena anugerah, bukan hanya dalam hal pengampunan dosa sekali saja, tetapi dalam hal hidup dengan kuasa Allah dari hari ke hari.

 

  1. Anda akan menerima apa yang Anda minta: Berbuah

Yesus berkata, “Akulah yang telah memilih dan telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu tetap” (Yoh 15:16).

Jika kita mengaku sebagai orang Kristen yang telah dilahirkan kembali, apakah kita menghasilkan buah, dan apakah buah itu tetap? Berbuah adalah bukti lain dari kelahiran kembali.

Yesus melanjutkan, “sehingga apa pun yang kamu minta kepada Bapa dalam namaku, Dia akan memberikannya kepadamu.” Inilah pernyataan yang tanpa batas. Jika Anda berbuah, Bapa akan memberikan apa pun yang Anda minta dalam nama Yesus. Menakjubkan! Tidak ada yang mustahil karena Anda akan menerima apa yang Anda minta. Itulah jenis kuasa yang kita butuhkan untuk menghadapi situasi kehidupan nyata. Kata “apa pun” mencakup setiap keadaan. Setiap hari membawa situasi dan tantangan yang baru. Kita memerlukan jaminan menyeluruh, untuk menghadapi setiap situasi baru, setiap konflik baru, setiap tekanan baru, dan setiap ujian baru. Dalam setiap keadaan, kita memiliki jaminan bahwa apa pun yang kita minta, kita akan menerimanya, supaya kita menang atas dosa dan berbuah bagi Allah.

Namun, ini tidak berarti bahwa kita bisa meminta Cadillac atau BMW. Jika kita berpikir bahwa Allah akan memberikan apa pun yang kita inginkan untuk memuaskan hawa nafsu dan keserakahan kita, berarti kita sama sekali belum memahami Kitab Suci. Kita harus belajar menganggap semua hal duniawi dan sementara—uang, rumah, mobil, prestise—tidak lebih dari sampah bila dibandingkan dengan hal-hal yang kekal. Kita harus memiliki sikap seperti Paulus yang berkata, “aku telah kehilangan semuanya—karena semua itu sekarang kuanggap sampah!—supaya aku boleh mendapatkan Kristus” (Flp 3:8). Apa yang dicari oleh manusia rohani bukanlah berkat-berkat materi, melainkan kemenangan dan keyakinan bahwa doa-doanya dijawab.

 

  1. Sukacita

Yesus berkata, “Dengan sesungguhnya, aku mengatakan kepadamu, apa pun yang kamu minta kepada Bapaku dalam namaku, Ia akan memberikannya kepadamu.” (Yoh 16:23) Perhatikan kembali jaminan menyeluruh dalam kata “apa pun”. Ayat berikutnya berkata,

“Sampai sekarang, kamu belum pernah meminta apa pun dalam namaku. Mintalah, dan kamu akan menerimanya supaya sukacitamu menjadi penuh.”

Orang yang kalah tidak memiliki sukacita. Wajahnya berat, muram, tanpa senyum cerah. Sukacita tidak muncul secara alami pada seseorang yang baru saja gagal dalam ujian atau kalah dalam pertandingan. Kekalahan membawa kesedihan, tetapi Tuhan menghendaki agar kita memiliki sukacita.

“Namun, syukur kepada Allah, yang selalu memimpin kami kepada kemenangan di dalam Kristus dan menyatakan keharuman pengetahuan akan Dia di setiap tempat, melalui kami.” (2Kor 2:14) Apakah Allah memimpin kita dalam kemenangan supaya kita dapat menyombongkan diri? Tidak. Tujuannya adalah agar keindahan dan keharuman hidup Kristus menyebar melalui kita sehingga orang lain tertarik kepadanya. Sukacita yang Allah berikan kepada kita kemudian melimpah kepada orang lain, menguatkan mereka pada saat lemah, dan menghibur mereka pada saat berduka.

Sukacita seperti ini jarang ditemui hari ini sehingga kadang tanpa sengaja menimbulkan rasa iri bagi mereka yang tidak memilikinya. Baru-baru ini saya mendengar seseorang dengan jujur berbagi bahwa pada suatu masa ia merasa sulit untuk hidup dalam kemenangan. Ketika ia melihat orang lain sedikit lebih baik darinya, ia merasa gelisah dan tidak bahagia. Mereka yang hidup dalam kekalahan terus-menerus akan merasa tidak nyaman bergaul dengan orang-orang yang hidup dalam kemenangan.

Namun, Yesus menghendaki agar kita hidup berkemenangan. Kita tidak dapat melakukannya dengan kekuatan kita sendiri, sebab itu Yesus berkata, “Mintalah apa pun yang kamu perlukan untuk memperoleh kemenangan, maka itu akan diberikan kepadamu.”

Orang Kristen yang menerapkan perkataan Yesus tidak akan mengenal kekalahan. Ini tidak berarti bahwa ia kebal terhadap rasa sakit, penderitaan, kesesakan, atau penganiayaan. Kadang-kadang ia bisa dijatuhkan, tetapi tidak akan terpuruk selamanya. Paulus menggambarkannya dari pengalamannya sendiri:

“Namun, harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat supaya kelimpahan kuasa itu berasal dari Allah dan bukan dari diri kami sendiri. Kami ditindas dari segala sisi, tetapi tidak terjepit. Kami bingung, tetapi tidak putus asa. Kami dianiaya, tetapi tidak ditinggalkan. Kami dicampakkan, tetapi tidak dibinasakan. Kami selalu membawa kematian Yesus dalam tubuh kami supaya kehidupan Yesus juga dinyatakan dalam tubuh kami.” (2Kor 4:7–10).

Hal yang luar biasa dari bagian ini bukan hanya bahwa Paulus mampu bertahan teguh dalam keadaan paling berat berkat “kelimpahan kuasa yang berasal dari Allah” di dalam dirinya (ay 7), tetapi juga bahwa dalam keadaan itu, ia dengan sukacita dan kemenangan melaksanakan misi yang dipercayakan kepadanya, yaitu menyingkapkan kehidupan Yesus dalam tubuhnya. Dan apa yang terjadi ketika kehidupan Yesus dinyatakan? Itu membawa terang keselamatan bagi semua orang yang melihatnya (ay 6). Bagian sebelumnya menjelaskan bahwa semua ini terjadi dalam konteks pemberitaan Injil.

Kehidupan yang menang bukanlah kehidupan yang mudah. Kemenangan selalu berhubungan dengan pertempuran. Bagaimana mungkin ada kemenangan tanpa peperangan? Semakin besar pertempuran, semakin besar pula kemenangan dan kekuatan yang dibutuhkan. Semakin besar tantangan, semakin besar pula anugerah yang Allah sediakan. Kita berjalan dari kekuatan kepada kekuatan, dari satu tahap perjuangan dan kemenangan menuju tahap berikutnya.


Mengalahkan dalam Wahyu pasal 2 dan 3

Dalam surat-surat kepada tujuh jemaat yang tercatat dalam Wahyu pasal 2 dan 3, kata “mengalahkan” muncul tujuh kali dalam rentang dua pasal (Why 2:7, 11, 17, 26; 3:5, 12, 21). Ini menunjukkan bahwa ­kemenangan mutlak diperlukan untuk keselamatan, karena barang­siapa menang akan memakan buah pohon kehidupan (2:7), tidak akan disakiti oleh kematian kedua (2:11), dan namanya akan tercatat dalam kitab kehidupan (3:5).

Mereka yang gagal menang akan berakhir tragis, seperti mereka yang telah memasuki hubungan dengan Allah melalui baptisan, tetapi hidup dalam ketidaktaatan dan kekalahan. Inilah yang dikatakan Tuhan tentang “mengalahkan”:

(1) “Kepada dia yang menang, aku akan memberikan makan dari Pohon Kehidupan yang ada di Taman Allah.” (Why 2:7) Hak istimewa untuk makan dari pohon kehidupan telah diambil dari Adam dan Hawa, tetapi diberikan kepada mereka yang telah dilahirkan kembali dan hidup dalam kemenangan. Orang Kristen yang kalah tidak akan memiliki akses kepada pohon kehidupan karena, seperti Adam, mereka telah gagal. Siapa yang tidak mengalahkan dosa dengan anugerah dan kuasa yang disediakan Allah, tidak akan masuk ke taman Allah atau makan dari pohon kehidupan.

(2) “Orang yang menang tidak akan menderita oleh kematian yang kedua.” (Why 2:11) Orang Kristen yang kalah akan menghadapi hukuman kematian yang kedua. Kematian yang pertama adalah kematian jasmani, sedangkan yang kedua adalah kematian rohani. Mati secara jasmani bukanlah hal yang besar, tetapi mati secara rohani berarti berakhir untuk selama-lamanya. Inilah yang dimaksud dengan neraka.

(3) “Kepada dia yang menang, Aku akan memberikan manna yang tersembunyi.” (Why 2:17) Manna melambangkan roti hidup yang diberikan kepada mereka yang menang. Mereka yang tidak memiliki roti hidup akan binasa.

(4) “Dan, kepada orang yang menang dan melakukan pekerjaan-pekerjaanku sampai akhir, aku akan memberikan kuasa atas bangsa-bangsa… dan, aku akan memberikan kepadanya bintang timur.” (Why 2:26, 28). Mereka yang menang akan memerintah bersama Kristus. Apa itu bintang timur? Di akhir kitab Wahyu, diungkapkan bahwa bintang timur itu tidak lain adalah Yesus sendiri (Why 22:16)! Di salib, ia telah memberikan dirinya bagi kita; dan jika oleh anugerah kita menjadi pemenang, Yesus akan memberikan dirinya kepada kita! Memiliki dia berarti memiliki segala sesuatu yang benar-benar berharga.

(5) Orang yang menang akan dipakaikan pakaian putih dan Aku tidak akan menghapus namanya dari Kitab Kehidupan. (Why 3:5). Mereka yang menang akan berpakaian putih. Di surga, setiap orang akan mengenakan pakaian putih (melambangkan kemurnian dan kebenaran, lihat Wahyu 3:4, 18; 19:8). Siapa pun yang tidak berpakaian putih akan berakhir seperti orang yang tidak mengenakan pakaian pesta dan dibuang ke dalam kegelapan yang paling luar (Mat 22:11–13). Hanya mereka yang menang yang akan berpakaian putih dan siap masuk ke dalam kerajaan surga. Siapa yang tidak menang akan dihapus namanya dari kitab kehidupan dan mengalami kematian yang kedua.

(6) “Ia yang menang, aku akan menjadikannya tiang penyangga Bait Suci Allahku, dan ia tidak akan pergi lagi dari situ; dan aku akan menuliskan padanya nama Allahku dan nama kota Allahku, yaitu Yerusalem baru, yang itu turun dari surga, dari Allahku, dan namaku yang baru.” (Why 3:12). Hanya mereka yang menang yang akan tinggal di Bait Suci surgawi Allah dan berdiam dalam hadirat-Nya untuk selama-lamanya. Mereka akan memiliki nama baru Yesus tertulis pada diri mereka, tanda bahwa mereka adalah miliknya secara khusus.

(7) “Ia yang menang, aku akan mengizinkannya duduk bersamaku di takhtaku, sama seperti aku telah menang dan duduk bersama Bapaku di takhta-Nya.” (Why 3:21) Duduk bersama Kristus di atas takhtanya! Itu berarti banyak hal: ikut berjuang bersamanya dalam kemenangan terakhir yang menentukan, menerima kuasa darinya, dimuliakan bersamanya, dan yang terutama, menikmati persekutuan yang intim dan abadi dengannya.

Kiranya oleh anugerah-Nya, kita didapati termasuk di antara mereka yang menang.

← Back

Thank you for your response. ✨