Pastor Eric Chang | Bab 7 |
Apakah tujuan pembaruan?
Dalam proses pembaruan menuju keserupaan dengan Kristus, tujuan yang ditetapkan oleh Yesus dijelaskan secara singkat dalam perkataannya:
“Karena itu, kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat 5:48)
Di sini Yesus secara khusus berbicara tentang kesempurnaan, sebuah konsep yang membingungkan banyak orang Kristen. Apa yang harus kita lakukan terhadap ayat ini? Bagaimana kita menerapkannya? Apakah kita diam-diam menjauhi tuntutan kesempurnaan? Kita tidak dapat melakukan hal itu kecuali kita bersedia mengabaikan panggilan eksplisit Yesus untuk mencapai kesempurnaan.
Panggilan dalam Matius 5:48 mengajak kita untuk menjadi seperti Bapa kita. Sebutan “Bapa” antara lain menggambarkan sosok yang matang, yang disertai dengan kedalaman hikmat, wawasan, dan daya pembeda—hal-hal yang, bagi manusia, diperoleh melalui pengalaman sepanjang hayat. Sayangnya, dalam diri sosok ayah manusia, hikmat tidak selalu mewarnai peran kebapaan mereka, bahkan saat mereka telah lanjut usia.
Namun, Allah Bapa sungguh mewujudkan setiap sifat yang tersirat dalam sebutan “Bapa”. Tidak terkecuali di antaranya adalah kedalaman kebijaksanaan yang matang, kekuatan batin yang penuh keanggunan, kehangatan yang tulus, serta kasih murni yang mengalir dari kebijaksanaan tersebut. Dalam bab ini, kita akan meninjau kesempurnaan dari segi kedewasaan rohani dan kekuatan batin yang lahir darinya.
Bahaya masa bayi rohani
Pertumbuhan rohani sangat penting bagi kelangsungan hidup. Orang-orang yang tetap dalam masa bayi rohani berada dalam keadaan yang rawan dan berbahaya. Paulus berkata dalam Efesus 4:14:
“Dengan demikian, kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh ombak dan dibawa ke sana kemari oleh berbagai angin pengajaran, oleh tipu daya manusia, oleh kecerdikan dari penipuan yang licik.”
Kata Yunani untuk “diombang-ambingkan” memberi gambaran tentang sebuah kapal yang dilemparkan ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, oleh gelombang besar yang kuat. Angin dan ombak mendorong kapal itu semakin dekat ke jurang kehancuran. Paulus tahu benar apa artinya karam di laut. Dia menulis, “tiga kali aku berada di kapal karam, satu malam dan satu hari aku diseret ombak di laut” (2Kor 11:25). Pengalaman laut yang tak terlupakan itu tercermin dalam cara ia berbicara, ketika ia menulis tentang orang-orang yang “telah kandas imannya” (1Tim 1:19).
Tak seorang pun dengan sengaja menenggelamkan kapalnya. Nakhoda dan awak akan berjuang keras agar kapal tetap terapung, menghindari batu karang, bahkan membuang muatan jika perlu. Demikian pula, tak ada orang yang ingin karam dalam imannya. Akan tetapi, angin doktrin palsu dan gelombang ajaran yang menyesatkan sering kali cukup kuat untuk menenggelamkan iman mereka yang tidak memiliki kedewasaan dan ketajaman rohani.
Masa bayi memang langkah pertama yang diperlukan menuju kedewasaan, tetapi itu adalah masa yang penuh bahaya. Kita sering cemas terhadap anak-anak karena kita melihat bahaya di sekitar mereka yang tidak mereka sadari. Anak-anak belum dapat membedakan ancaman bahaya yang tersembunyi.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani. Ketika badai kehidupan datang, anak-anak rohani berjuang melawan gelombang, tetapi gagal melihat batu-batu karang yang bersembunyi di bawah permukaan. Karena kurang berpengalaman dalam kehidupan rohani, mereka gagal menyadari bahaya yang bagi orang dewasa rohani tampak jelas.
Meskipun Anda memperingatkan mereka, mereka mungkin tetap tidak dapat melihat bahaya di bawah sana dan bisa jadi tidak mengindahkan peringatan Anda. Pandangan mereka tertuju penuh kerinduan pada tempat aman di pesisir, tanpa menyadari bahwa batu-batu karang tersembunyi akan menghancurkan perahu mereka berkeping-keping sebelum mereka sempat mencapai tujuan.
Masa bayi dan kedagingan
Bahaya lain masa bayi tampak dalam 1 Korintus 3:1:
“Namun, Saudara-saudara, aku tidak dapat berbicara kepadamu seperti kepada manusia yang rohani, melainkan seperti kepada manusia duniawi, yaitu seperti kepada bayi-bayi dalam Kristus.”
Dalam ayat 3, Paulus dua kali menyebut orang-orang Korintus sebagai bersifat “kedagingan” (duniawi). Ketidakdewasaan rohani dan sifat kedagingan biasanya berjalan beriringan. Seorang Kristen muda tak terelakkan lagi akan bersikap kedagingan karena ia masih dalam proses belajar untuk melepaskan diri dari pengaruh kedagingan yang kuat namun halus.
Jika dalam pergumulan melawan kedagingan yang terjadi kemudian seorang Kristen tidak meraih kemenangan atau tidak beranjak dari sifat kedagingannya, ia akan mendapati dirinya berada dalam situasi yang genting. Ia mungkin tulus berkomitmen kepada Allah, tetapi belum benar-benar bebas dari cara berpikir dan gaya hidup lamanya. Selama ia masih berada di bawah pengaruh kedagingan, ia berada dalam bahaya karena diombang-ambingkan oleh emosi-emosinya yang saling bertentangan. Ia terus-menerus didorong oleh ambisi yang mementingkan diri sendiri, hasrat, keinginan kuat, suka dan tidak suka, ketakutan dan kecemasan, serta rasa percaya diri yang berlebihan ataupun rasa mengasihani diri sendiri. Sungguh terjadi badai batin yang mengancam orang Kristen yang hidup menurut daging itu dengan kehancuran rohani.
Bahaya masa bayi rohani sangat banyak. Ini adalah tahapan yang harus kita semua lalui, tetapi kita tidak boleh berlama-lama di sana. Beberapa orang dewasa masih kekanak-kanakan dalam cara berpikirnya. Dalam pelayanan konseling pernikahan, sering kali saya melihat ketidakdewasaan yang mencolok dalam cara pasangan berelasi satu sama lain. Mereka mungkin cerdas secara intelektual, tetapi tetap tidak matang secara rohani.
Saya pernah menasihati sepasang suami-istri yang pernikahannya hampir runtuh. Sang istri menangis terus selama dua jam penuh. Di hadapan saya ada dua orang dewasa, tetapi saya merasa sedang berhadapan dengan dua anak kecil. Secara fisik dan intelektual mereka dewasa, tetapi secara moral dan rohani mereka masih bayi.
Saya perlu menegur pasangan ini karena sikap mereka yang keliru—sikap yang, jika dibiarkan terus berlanjut, akan menghancurkan pernikahan mereka. Namun di sisi lain, mereka juga membutuhkan dorongan yang lembut untuk memulai kembali. Setelah melalui dua setengah jam yang berat, pernikahan itu akhirnya terselamatkan. Sebelumnya, mereka sempat mempertimbangkan untuk berpisah atau bercerai. Banyak pernikahan mengalami guncangan atau bahkan hancur akibat ketidakdewasaan..
Secara lahiriah, sebagian orang Kristen tampak dewasa karena mereka sudah lama menjadi Kristen. Namun, saat Anda berbincang dengan mereka, Anda mungkin mendapati bahwa mereka sebenarnya adalah “bayi rohani” yang hampir tidak memiliki kepekaan, arah, ataupun hikmat rohani. Sungguh suatu keadaan yang memprihatinkan, dan hal itu membuat seseorang rentan mengalami kehancuran iman.
Pentingnya kedewasaan atau kesempurnaan
Pentingnya kesempurnaan, yang dipahami sebagai kedewasaan rohani, dapat dirangkum dalam tiga poin:
Pertama, seperti yang telah kita lihat, kesempurnaan sangat penting bagi kelangsungan hidup rohani. Untuk dapat bertahan, kita harus bertumbuh dan maju menuju kesempurnaan.
Kedua, kita harus terus maju menuju kesempurnaan sebagai bentuk ketaatan. Mereka yang tidak bertekun menuju kesempurnaan berarti tidak taat terhadap perintah Yesus. Ia tidak menawarkan kesempurnaan sebagai pilihan yang boleh kita terima atau tolak, seperti yang dikira sebagian orang Kristen. Kesempurnaan adalah tujuan utama kehidupan kita di dalam Kristus, yaitu supaya kita dijadikan serupa dengan gambar Yesus yang sempurna.
Tanpa tujuan itu, kehidupan Kristen kita akan kehilangan arah dan makna, seperti yang tampak pada kehidupan banyak orang Kristen. Banyak yang berpikir bahwa hidup Kristen adalah soal melakukan berbagai hal untuk Allah, tanpa menyadari bahwa hal yang terutama adalah menjadi apa yang Allah kehendaki kita menjadi.
Siapa pun yang berpikir bahwa keselamatan tidak melibatkan perjuangan menuju kesempurnaan, belum memahami ajaran Yesus. Itu berarti gagal melihat tujuan dan maksud Allah dalam keselamatan kita: yakni perubahan menjadi manusia baru di dalam Kristus. Ia adalah “sumber keselamatan kekal bagi semua orang yang taat kepadanya” (Ibr 5:9).
Ketiga, sementara orang yang dewasa secara rohani adalah mereka yang kuat secara rohani, bayi rohani lemah dan tidak memiliki hikmat. Ketidakberdayaan mereka membuat mereka rentan terhadap banyak bahaya rohani. Bertekun menuju kesempurnaan berarti berjalan di jalan menuju kekuatan rohani. Di jalan inilah kita menemukan “bapa-bapa” yang memiliki kekuatan kedewasaan, dan “anak-anak muda” yang kuat (1Yoh 2:14 dan konteksnya).
Dapat ditegaskan dengan pasti bahwa setiap orang Kristen yang memiliki kuasa rohani adalah orang yang sedang bergerak menuju kesempurnaan atau kedewasaan di dalam Kristus. Tidak ada seorang pun yang memiliki kuasa rohani tanpa bertekun sepenuh hati untuk mencapai kesempurnaan.
Jalan pintas menuju kuasa rohani
Banyak orang Kristen kekurangan kuasa rohani, sehingga mereka mencari cara cepat untuk memperolehnya. Namun, tidak ada cara yang cepat dan mudah. Anda tidak bisa mendapatkan kuasa rohani melalui gimik atau jalan pintas semata. Jika Anda mengira ada jalan pintas menuju kuasa tersebut melalui karunia berbahasa roh, Anda akan sangat kecewa, sebagaimana telah dibuktikan sendiri oleh banyak orang.
Yang lain pergi ke pertemuan untuk mencari seorang pengkhotbah yang akan menumpangkan tangan atas mereka dan memberikan kuasa kepada mereka. Ketika mereka mendapati bahwa mereka tidak menerima kuasa itu, mereka pergi ke pertemuan lain untuk menerima penumpangan tangan yang lain. Beberapa orang telah melakukan ini puluhan kali.
Pengalaman sesaat seperti ini tidak akan memberi Anda kuasa yang bertahan lama. Kuasa sejati datang dari karya Roh Allah yang dalam dan terus-menerus di dalam diri kita, bukan dari pengalaman “rohani” yang cepat dan mudah. Kita harus terus maju menuju kesempurnaan dengan tekad yang sungguh-sungguh. Maka kita tidak akan gagal untuk mengalami kuasa Allah yang dinamis dalam kehidupan Kristen.
Kuasa rohani juga tidak diperoleh dengan meraih satu gelar teologi demi gelar lainnya. Jika kuasa dapat diperoleh dengan cara itu, seharusnya kita semua segera berangkat dan menghabiskan sisa hidup kita untuk mengumpulkan gelar. Apakah orang yang memiliki gelar teologi memiliki kuasa rohani? Beberapa memiliki pengetahuan dan beberapa memiliki kefasihan berbicara, tetapi apakah mereka memiliki kuasa adalah hal lain.
Mengapa kita menekankan kuasa rohani? Apakah karena kita haus kuasa? Tidak, melainkan karena kita memerlukan kuasa rohani untuk bertahan hidup dan menang. Dalam kehidupan Kristen, Anda entah menang atau kalah, tidak ada posisi tengah di antara keduanya. Anda berpihak kepada Kristus atau melawan dia. Anda diselamatkan atau tidak diselamatkan. Anda hidup dalam kemenangan atau kekalahan. Anda harus memilih salah satu. Adakah kemungkinan ketiga selain kemenangan dan kekalahan?
“Aku telah mengalahkan dunia”
Mari kita memperluas pandangan kita tentang kekuatan dan kemenangan dalam gereja. Yesus berkata kepada kelompok kecil muridnya,
“Aku telah mengalahkan dunia!” (Yoh 16:33)
Itu adalah pernyataan yang berani karena hanya tiga pasal kemudian, ia mati di kayu salib. Sulit membayangkan keadaan yang lebih buruk. “Aku telah mengalahkan dunia”—kata-kata penuh keyakinan dari seseorang yang tahu bahwa ia akan mati dalam beberapa hari lagi.
Apakah Yesus terlalu optimistis? Apakah ia salah menilai situasinya? Nah, dua ribu tahun kemudian, ribuan bahkan beribu-ribu orang rela mati baginya jika dipaksa memilih antara kematian atau menyangkal Yesus. Pemerintah-pemerintah yang menindas selama dua milenium terakhir telah menemukan hal ini. Mereka meremehkan kekuatan gereja bahkan ketika tampaknya tidak berarti. Mereka pikir mereka bisa memadamkannya, tetapi mereka tidak bisa mengatasinya.
Sebuah gereja yang hidup oleh kuasa Allah justru akan bertumbuh dari kekuatan kepada kekuatan di tengah penganiayaan. Waktu yang “baik” dengan sedikit atau tanpa penganiayaan atau kesulitan justru buruk bagi gereja karena ada lebih sedikit kesempatan untuk mengandalkan, dan dengan demikian mengalami, kuasa Allah. Namun, ketika orang Kristen dianiaya oleh para penguasa, bahkan dipenjarakan atau dijebloskan ke kamp kerja paksa, gereja menjadi semakin kuat.
Menjadi seorang “pemenang” berarti ada hal-hal yang harus diatasi. Semakin besar kesulitan yang harus diatasi, semakin kuat orang yang mengatasinya. Sebaliknya, gereja yang hidup dalam kenyamanan jarang menghasilkan para pemenang.
“Aku telah memberimu kuasa atas segala kekuatan musuh”
Mari kita tangkap kekuatan dari pernyataan Yesus dalam Lukas 10:19:
“Aku telah memberimu kuasa (exousia) atas segala kekuatan musuh.”
Kata “-mu” di sini tidak terbatas pada para rasul. Pernyataan ini ditujukan kepada tujuh puluh murid, tetapi juga kepada kita jika kita adalah murid sejati Yesus.
Kata “segala” mencakup setiap senjata yang dapat dikerahkan oleh musuh. Karena tidak ada kuasa musuh yang dapat mengalahkan kita, bukankah itu berarti bahwa kita tak terkalahkan selama kita hidup di bawah otoritas Allah?
Allah memberi kita kuasa dan wewenang untuk melaksanakan pekerjaan penyelamatan-Nya di dunia, bahkan menghadapi kekuatan-kekuatan musuh yang paling kejam sekalipun. Gambaran tentang ketidakterkalahkan (kedigdayaan)—yang terwujud melalui karya dan kehadiran Roh di dalam diri kita—adalah hal yang perlu kita biarkan Allah tanamkan dalam hati dan pikiran kita. Kita dapat menjadi tak terkalahkan “karena Dia yang ada di dalam dirimu lebih besar daripada dia yang ada di dunia” (1Yoh 4:4).
Yesus Kristus memulai dengan dua belas murid, yang pada saat itu masih dalam masa pelatihan ketika ia berkata kepada mereka, “Aku telah memberimu kuasa atas segala kekuatan musuh.” Ia juga memiliki tujuh puluh murid yang dapat kita sebut “murid awam”. Tidak banyak yang diketahui tentang tujuh puluh orang ini, tetapi kita dapat menganggap mereka sebagai “murid awam”, mengingat mereka tidak selalu menyertai Yesus ke mana pun ia pergi. Bagaimanapun juga, Yesus mengucapkan kata-kata yang penuh kuasa itu kepada kedua kelompok: dua belas murid penuh waktu dan tujuh puluh murid awam.
“Musuh” di sini merujuk kepada Iblis (ay 18), yaitu Setan dan si ular tua itu (Why 12:9). Iblis, bersama “ular dan kalajengking”, tak henti-hentinya merencanakan cara untuk mencelakai umat Allah. Namun, Yesus menegaskan kepada murid-muridnya bahwa ia tidak hanya akan melindungi mereka dari bahaya, lebih dari itu, ia akan memberi mereka kuasa untuk menginjak-injak kuasa musuh di bawah kaki mereka! Inilah yang dikatakan Yesus dalam Lukas 10:18–19:
“Aku melihat Iblis jatuh dari langit seperti kilat. Ketahuilah bahwa Aku telah memberimu kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, juga kuasa atas segala kekuatan musuh. Tidak akan ada yang menyakiti kamu.”
Kata “menginjak” menerjemahkan sebuah kata bahasa Yunani yang sering digunakan dalam konteks menghancurkan dan menginjak-injak buah anggur untuk pembuatan anggur. Hal ini kemudian menjadi kiasan untuk penghukuman atas orang-orang fasik: “Mari, iriklah, sebab tempat pemerasan anggur sudah penuh. Tempat-tempat pemerasan berkelimpahan karena berlimpah-limpah kejahatan mereka.” (Yl 3:13) Wahyu 14:19 berbicara tentang “batu kilangan besar murka Allah”, dan tentang “pemerasan buah anggur” (ay 20; juga Why 19:15).
Namun, dunia tidak pernah kekurangan orang-orang skeptis dan pencemooh: “Yesus akan mengguncang dunia dengan dua belas orang dan tujuh puluh orang tak dikenal? Dan melakukannya dengan membuat mereka tak terkalahkan?!”
Jika Anda mencermati perkataannya, Yesus sebenarnya mengatakan lebih dari itu! Dia tidak hanya akan membuat mereka tak terkalahkan oleh segala kekuatan musuh, tetapi lebih dari itu, dia akan menolong mereka menundukkan dan mengalahkan musuh dengan kemenangan yang begitu telak—seperti saat menginjak-injak buah anggur di tempat pemerasan anggur!
Dan karena di bawah kaki orang-orang yang “bukan siapa-siapa” itulah musuh akan diremukkan, maka kuasa dan kemuliaan adalah milik Allah semata. Biarlah setiap murid sejati bersukacita dalam kenyataan bahwa “Allah sumber damai sejahtera akan segera meremukkan Iblis di bawah kakimu” (Rm 16:20).
Kuasa bagi mereka yang maju menuju kesempurnaan
Untungnya bagi kita, kuasa rohani diberikan kepada seorang murid bahkan sebelum ia mencapai kedewasaan penuh atau kesempurnaan. Jika tidak demikian, kita akan putus asa untuk memperoleh kuasa yang dibutuhkan, dan akan menyerah pada kehidupan dalam kekalahan yang terus-menerus. Kuasa rohani akan mustahil dicapai jika yang dapat kita lakukan hanyalah memandang kesempurnaan dari jauh dengan teropong, sambil berkata kepada diri sendiri, “Ketika aku akhirnya sampai di sana, mungkin aku akan menjadi tak terkalahkan!” Akan tetapi, anggapan ini keliru. Para murid pada waktu itu belum sepenuhnya terlatih, dan persepsi rohani mereka pun belum terlalu tajam. Namun, justru kepada orang-orang seperti inilah Allah memberikan kuasa atas segala kekuatan musuh.
Selama kita terus melangkah maju mengikuti Yesus dan berjuang dengan tekad bulat menuju kesempurnaan, kita akan diperlengkapi dengan kuasa yang kita butuhkan untuk melanjutkan perjalanan kita. Kuasa itu akan bertumbuh seiring dengan kemajuan kita menuju kesempurnaan. Saat ini pun kita sudah memiliki kuasa. Mungkin kuasa itu masih terbatas pada tahap ini, tetapi itu adalah kuasa yang nyata yang akan terus bertumbuh seraya kita berjuang mencapai tujuan akhir.
Maka kita akan mendapati bahwa kesempurnaan tidaklah sejauh yang kita bayangkan setahun yang lalu. Saat kita memandang cakrawala yang jauh, jurang pemisah yang lebar antara kesempurnaan Kristus dan kemajuan kita yang tertatih-tatih mungkin membuat kita patah semangat. Namun kenyataannya, Tuhan melengkapi kita dengan kuasa yang diperlukan jauh sebelum kita mencapai kesempurnaan, asalkan kita terus melangkah maju dalam ketaatan. Terus melangkah maju adalah sikap yang perlu kita pertahankan secara konsisten. Seperti kata Paulus, “Aku terus maju kepada tujuan untuk mendapat hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Yesus Kristus. Marilah kita yang sempurna berpikir seperti demikian.” (Flp 3:14–15)
Apakah Anda terus melangkah maju? Jika ya, Anda akan takjub melihat kuasa yang Allah berikan untuk melanjutkan langkah Anda. Gunakanlah kuasa itu, maka musuh akan mundur. Tidak ada yang dapat menghalangi Anda untuk mencapai keunggulan rohani atau keserupaan dengan Kristus, yang menjadi panggilan Allah bagi Anda. Saat Anda melangkah maju, musuh akan mundur. Lawanlah Iblis, maka ia akan kabur dari Anda (Yak 4:7). Itulah kuasa yang dianugerahkan kepada setiap anak Allah yang sejati.
Apa tujuan Yesus mengutus murid-muridnya dalam sebuah misi? Saat mereka kembali, mereka belum mengguncang Israel, apalagi dunia. Tujuannya adalah memberikan pelajaran praktis yang pertama bagi mereka—sebuah gambaran awal tentang peperangan dan kuasa rohani. Dia seolah berkata kepada mereka, “Meskipun kalian merasa tidak cakap, saat kalian melangkah maju, kalian akan menyadari bahwa aku telah memberikan kuasa yang kalian butuhkan untuk menjadi wakil-wakilku dan menyelesaikan tugas yang menjadi alasan aku mengutus kalian ke dunia ini.” Benar saja, murid-murid itu kembali dengan penuh sukacita (Luk 10:17). Kita seolah dapat mendengar mereka berkata, “Tuan, firmanmu itu benar! Kami maju dan musuh pun mundur. Kami terus mendesak maju dan mereka melarikan diri.”
Mimpikan yang mustahil
Mari kita tangkap perkataan Yesus dan rangkul visinya: kita akan menjadi tak terkalahkan dan menang dalam peperangan rohani melalui kuasa atau otoritas yang ia berikan kepada kita untuk melaksanakan misi kita. Misi itu adalah memperkenalkan Yesus, menyatakan harapan keselamatan di dalam Kristus. Tidak ada musuh di bumi yang dapat menghentikan kemajuan Kerajaan Allah. Perhatikan dan lihatlah, dan biarlah itu menjadi impian kita. Ketika impian kita diilhami oleh Allah, impian itu akan menjadi kenyataan seraya kita terus maju menuju sasaran.
Bertahun-tahun yang lalu, ketika kami pertama kali memulai program pelatihan penuh waktu di gereja kami—yang bertujuan mempersiapkan orang untuk pergi ke dunia dan memberitakan Kristus—orang-orang bertanya, “Apakah kita punya cukup uang untuk pelatihan ini? Bagaimana kita bisa mendukung begitu banyak orang dalam pelatihan penuh waktu dan tetap menanggung biaya gereja?”
Semua itu kini tinggal sejarah. Sebagian orang mungkin bahkan bertanya-tanya, “Apa sebenarnya masalahnya saat itu?” Yah, masalahnya memang nyata pada masa itu. Namun, seiring rampungnya pelatihan dua tahun kemudian, kekhawatiran finansial sebelumnya pun sirna dari ingatan bersama kami. Kami terus melangkah maju, dan satu per satu masalah pun teratasi.
Suatu hari, para peserta pelatihan penuh waktu dan saya duduk mengelilingi sebuah meja. Kami berkata, “Mari kita bermimpi sedikit. Suatu hari nanti kita akan pergi ke Israel dan mengunjungi tempat-tempat geografis dan sejarah dari peristiwa-peristiwa yang kita baca dalam Alkitab, supaya kita memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang apa yang telah kita baca.” Namun, semua orang tahu betapa mahalnya perjalanan itu untuk satu tim penuh, dengan biaya tiket pesawat dan pengeluaran lainnya. Namun, kami berkata bahwa kami akan terus bermimpi. Dan apa yang terjadi tak lama kemudian? Kaki kami berdiri di tanah Israel! Betapa menakjubkannya berjalan bersama Tuhan. Ketika kita terus maju, hal-hal yang mustahil punya cara luar biasa untuk menjadi kenyataan.
Ketika pelatihan penuh waktu berikutnya diselenggarakan, tidak ada lagi yang menyatakan kekhawatiran tentang keuangan. Sebaliknya mereka berkata, “Ya, sekarang kita memiliki lebih banyak orang untuk didukung, tetapi kita akan mengatasinya.” Pelajaran sudah dipahami.
Sejak saat itu, banyak tim telah dilatih—dua di antaranya beranggotakan hingga 47 orang—tetapi kami belum pernah mendengar ada yang mengungkapkan kekhawatiran mengenai masalah keuangan. Kami sudah begitu terbiasa mengatasi masalah ini sehingga tidak ada lagi yang mencemaskannya. Mungkin kami menganggap hal ini terlalu lumrah dan seharusnya lebih sungguh-sungguh berdoa mengenainya.
Mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit
Tuhan memberi kita kuasa, dan kita akan menaklukkan kuasa kegelapan. Akan ada saat-saat ketika kita harus mengusir roh jahat, seperti yang terjadi dalam misi ketujuh puluh murid (Luk 10:17). “Roh jahat? Serius? Mengusir mereka? Aku takut!” Jika Anda berjalan bersama Allah, mengapa harus takut pada roh jahat? Bukankah kita telah membaca dalam Yakobus 4:7 bahwa jika kita melawan Iblis, ia akan lari dari kita? Jika Iblis sendiri lari, bukankah roh-rohnya juga akan lari?
Kita sering kali menganggap remeh fakta bahwa murid-murid Yesus mampu mengusir roh jahat. Namun, pada awalnya, hal itu tidaklah sesederhana itu bagi mereka. Pernahkah Anda menyaksikan peristiwa pengusiran roh jahat? Pernahkah Anda melihat seseorang yang kerasukan bertindak di bawah kendali roh jahat? Tunggulah sampai Anda menyaksikannya sendiri, dan Anda akan mengetahui seberapa besar keberanian Anda yang sesungguhnya. Anda mungkin akan mulai gemetar, dan kata-kata “Aku telah memberimu kuasa atas segala kekuatan musuh” akan terlupakan begitu saja.
Tuhan juga akan meminta kita melakukan hal-hal lain seperti berdoa bagi orang yang sakit. Hal ini pun merupakan bagian dari misi ketujuh puluh murid (Luk 10:9). Anda mungkin berkata, “Aku, Tuhan?” Namun, jika Allah menggerakkan Anda untuk berdoa bagi seseorang, jangan menolak. Apakah kita berpikir bahwa penyakit terlalu besar bagi kuasa Tuhan? Akankah kita berkata kepada-Nya, “Ya Tuhan, aku tahu penyembuhan orang sakit disebutkan dalam Alkitab, tetapi kita hidup pada abad ke-21!” Apakah abad ke-21 merupakan halangan yang tak dapat diatasi oleh kuasa Allah?
Saat pertama kali kita berdoa memohon mukjizat, kita mungkin merasa agak cemas. Jika kita berdoa bagi seseorang dan memintanya untuk bangkit, bagaimana jika tidak terjadi apa-apa? Hal itu akan menjadi sebuah kegagalan yang memalukan. Jadi, kita mulai mencari-cari alasan: “Tuhan, aku tidak ingin mencemarkan nama-Mu, jadi lebih baik aku membiarkannya saja seperti apa adanya.” Namun, ketika orang itu benar-benar sembuh, kita pun terkejut. Ternyata begitu lemah iman dan keyakinan kita akan kuasa Allah! Sungguh sabar Tuhan terhadap kita, orang-orang yang kurang percaya ini. Tentu saja, ketika orang kedua disembuhkan, lalu orang ketiga, kita tidak lagi merasa cemas.
Namun, sangat penting untuk menyadari bahwa kita harus menggunakan kuasa itu hanya sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, kita harus senantiasa hidup di bawah ketuanan-Nya. Dalam hal penyembuhan, misalnya, terserah kepada Allah untuk menuntun kita kepada orang yang hendak Ia sembuhkan sesuai maksud-Nya sendiri.
Yesus menyembuhkan banyak orang selama pelayanannya di dunia, tetapi jumlah yang disembuhkan hanyalah sebagian kecil dari semua orang sakit di tanah Israel. Maka penyembuhan bukanlah tujuan utama dari pelayanannya.
Tindakan penyembuhannya memiliki makna rohani. Kepedulian utamanya adalah keselamatan manusia, bukan kesembuhan jasmaninya. Tindakan penyembuhan itu menandakan bahwa Kristus yang berkuasa untuk menyembuhkan secara fisik adalah Kristus yang juga berkuasa untuk menyelamatkan secara rohani untuk selama-lamanya. Yesus menegaskan hal ini dengan bertanya, “Manakah yang lebih mudah, berkata, ‘Dosa-dosamu diampuni,’ atau berkata, ‘Bangunlah dan berjalanlah’?” (Mat 9:5; Mrk 2:9; Luk 5:23). Hanya kuasa Allah yang dapat melakukan salah satunya, atau keduanya. Tidaklah lebih sulit bagi Allah untuk menyembuhkan melalui Yesus Kristus daripada mengampuni. Salib Yesus menunjukkan bahwa jauh lebih mahal bagi Allah untuk mengampuni dosa kita daripada menyembuhkan penyakit jasmani kita.
Kita perlu memahami hal-hal ini ketika kita berdoa bagi orang sakit atau melakukan pekerjaan apa pun melalui kuasa Allah yang bekerja di dalam kita. Kita harus berhati-hati dalam segala sesuatu yang kita lakukan, memastikan bahwa kita melakukannya sesuai dengan kehendak-Nya, bukan menurut keinginan kita sendiri.
Setiap anak Allah yang sejati akan selalu berusaha menyenangkan-Nya, dan tidak akan pernah menyalahgunakan otoritas yang telah dipercayakan Allah kepadanya. Orang seperti itu akan berusaha sungguh-sungguh untuk terus maju menuju kedewasaan atau kesempurnaan, yaitu keserupaan dengan Kristus.
Pekerjaan Allah dan upaya manusia
Kita harus menghadapi sebuah hambatan di jalan menuju kesempurnaan. Saat kita berbicara tentang mengerahkan segala upaya, sebagian orang merasa keberatan dan berkata, “Tapi ini kan perbuatan dan usaha manusia!” seolah-olah perbuatan dan usaha itu adalah hal yang buruk. Saya sendiri dibesarkan dengan pola pikir seperti itu.
Banyak orang Kristen gagal membedakan dua jenis pekerjaan yang sama sekali berbeda sehingga mereka “membuang bayi bersama air mandinya”. Mereka berbicara seolah-olah satu-satunya pekerjaan yang disebut dalam Perjanjian Baru adalah “pekerjaan hukum Taurat”. Rasul Paulus menyinggung jenis pekerjaan ini dalam surat Roma (misalnya 3:20, 28) dan Galatia (2:16; 3:2, 5, 10) dalam konteks pembenaran manusia di hadapan Allah, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh “pekerjaan hukum Taurat”.
Namun, ada jenis pekerjaan lain yang seharusnya dilakukan oleh orang Kristen sebab Allah telah menetapkannya sebelumnya untuk kita lakukan. Dalam Efesus 2:8-9, setelah Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman dan bukan oleh perbuatan, ia melanjutkan dengan berkata,
“Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya supaya kita bisa hidup di dalamnya” (ay. 10).
Mengapa Allah menjadikan kita ciptaan baru dalam Kristus? Supaya kita “diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik”! Pekerjaan baik adalah tujuan Allah menciptakan kita. Ia telah menetapkan “supaya kita hidup di dalamnya” demi memuliakan Dia. Pekerjaan-pekerjaan ini dihasilkan oleh “kuasa yang bekerja di dalam kita” (Ef 3:20; Kol 1:29). Yesus “telah memberikan dirinya bagi kita untuk menebus kita dari semua perbuatan jahat dan untuk menyucikan bagi dirinya, suatu umat pilihannya yang giat melakukan perbuatan baik” (Tit 2:14). Perbuatan baik di antara umat-Nya juga disebutkan dalam 1 Timotius 2:10; 5:10; 6:18, dan di tempat lain.
Ada “pekerjaan hukum Taurat” yang berbeda dengan “pekerjaan baik” yang dihasilkan oleh kehidupan baru dalam Kristus, dan “yang dipersiapkan Allah sebelumnya supaya kita bisa hidup di dalamnya” (Ef 2:10). Kegagalan untuk membedakan dua jenis pekerjaan yang berbeda ini telah menyebabkan penolakan yang keliru terhadap semua bentuk pekerjaan, dan terhadap tujuan utama Allah menciptakan kita sebagai manusia baru di dalam Kristus. Penolakan tanpa pandang bulu terhadap semua pekerjaan ini telah mengakibatkan bencana rohani; hal ini merupakan penolakan terhadap apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka yang diciptakan kembali dalam Kristus.
Satu prinsip penting dalam Kitab Suci adalah keterkaitan antara kuasa Allah dan usaha manusia. Pertama, kita harus memahami urutannya dengan benar: Allah memimpin, lalu kita mengikuti.
Kedua, kita perlu menempatkan penekanan secara tepat: Ada bahaya jika kita menekankan anugerah Allah hingga mengabaikan sama sekali usaha manusia. Namun, hal sebaliknya pun sama berbahayanya: menekankan usaha manusia, tetapi melupakan bahwa usaha itu tidak ada artinya tanpa anugerah Allah. Baik anugerah maupun usaha sama-sama diperlukan, tetapi anugerah senantiasa memegang peranan utama, “Sebab, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik untuk mengingini maupun untuk mengerjakan apa yang menyenangkan-Nya” (Flp 2:13).
Kita berpikir bahwa menekankan peran Allah sambil meniadakan peran manusia adalah hal yang lebih rohani, tetapi dikotomi seperti itu keliru secara rohani. Jika kita menekankan yang satu sambil mengabaikan yang lain, kita tidak akan dapat memenuhi tujuan Allah yang telah ditetapkan bagi kita.
Perintah “kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48) mengandaikan adanya kemampuan kita untuk memenuhinya. Yesus tidak akan memberikan perintah ini jika dia tidak menghendaki kita untuk memenuhinya. Banyak orang Kristen beranggapan bahwa Allahlah yang harus membuat kita sempurna, sehingga kita hanya berpangku tangan dan menanti Allah menjadikan kita serupa dengan Kristus suatu hari nanti.
Upaya mengejar kesempurnaan menuntut tekad yang kuat, tetapi pada saat yang sama kita tidak boleh lupa bahwa, “terpisah dariku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Kita rentan terhadap kesombongan, sehingga Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa usaha manusia semata tidaklah cukup untuk mencapai kesempurnaan. Meskipun demikian, Ia memerintahkan kita untuk mengejarnya sembari senantiasa mengandalkan anugerah Allah. Inilah keseimbangan yang sempurna: Kesempurnaan itu diperintahkan, maka kita berjuang untuk mencapainya; namun karena kesempurnaan itu melampaui kemampuan manusia, kita pun mengandalkan anugerah Allah untuk meraihnya.
Kepasifan Rohani
Kita tidak boleh kehilangan keseimbangan itu. Beberapa orang Kristen, termasuk sebagian kaum Quietis, mempromosikan apa yang disebut “kepasifan rohani”, dengan keyakinan bahwa sikap yang rohani adalah berkata, “Allah melakukan segalanya, aku tidak melakukan apa-apa, sebab semuanya berasal dari kuasa dan kedaulatan Allah.” Kita bisa mengikuti cara berpikir ini untuk membebaskan diri dari setiap tanggung jawab: “Aku tidak akan mengatakan apa pun, kecuali yang Allah ingin aku katakan, dan tidak akan melakukan apa pun kecuali yang Allah ingin aku lakukan.” Hal ini bisa baik atau buruk tergantung pada apa yang dimaksud dengan itu.
Hal itu baik jika kita begitu dekat dengan Allah sehingga kita selalu mendengar petunjuk langsung-Nya tentang apa yang harus kita katakan atau lakukan setiap saat dalam sehari. Namun, bagaimana jika kita belum mencapai keintiman seperti itu dengan Allah, atau belum sampai pada tingkat kedewasaan seperti itu? Dalam hal ini, kita akan terpaksa hampir tidak berbicara apa pun—yang mungkin tidak sepenuhnya buruk! Namun, itu juga berarti kita akhirnya tidak akan melakukan apa pun, terjebak dalam kepasifan. Kita tidak akan melayani Allah atau mengasihi saudara-saudari kita kecuali kalau Tuhan “menginspirasi” kita—seolah-olah Allah belum memberi kita perintah yang jelas tentang hal itu, sehingga kita membutuhkan komunikasi langsung dari-Nya sebelum melakukan sesuatu.
“Kepasifan rohani” terdengar sangat rohani. Namun pada hari-hari terakhir, bahkan orang pilihan pun akan disesatkan, “jika mungkin” (Mat 24:24). Orang-orang pilihan tidak akan tersesat, kecuali ajaran itu dikemas dalam bahasa yang terdengar rohani. Hanya pernyataan-pernyataan yang terdengar rohani yang menarik bagi orang pilihan. Karena itu kita harus terus maju menuju kedewasaan rohani agar dapat bertahan sebab hanya orang yang dewasa secara rohani yang dapat membedakan yang baik dan yang jahat (Ibr 5:14). Mereka yang belum dewasa secara rohani akan menjadi korban mudah bagi ajaran-ajaran palsu yang terdengar rohani.
Melakukan perintah Allah yang jelas
Sebenarnya kita tidak memerlukan “inspirasi” khusus sebelum melakukan hal-hal yang sudah dengan jelas Allah panggil kita untuk lakukan, seperti mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Jika kita gagal melakukannya, apakah kita akan berdalih bahwa kita gagal karena tidak mendapat “inspirasi” dari Allah, lalu melemparkan tanggung jawab kegagalan itu kembali kepada-Nya? Segala anugerah yang kita perlukan sudah disediakan bagi kita melalui Roh Allah yang diam di dalam kita, untuk melaksanakan apa yang telah Ia panggil kita lakukan.
Orang yang terus maju menuju kesempurnaan akan menjadikan ketaatan pada perintah Allah sebagai tujuannya, dengan atau tanpa “inspirasi”, yang bagi orang yang belum dewasa secara rohani biasanya hanya berarti suatu perasaan. Dan apa yang Allah perintahkan kepada kita? Ia memerintahkan kita untuk mengasihi, entah kita merasa terinspirasi atau tidak. Sekalipun saya tidak merasa ingin mengasihi seseorang, saya tetap mengasihi karena saya diperintahkan untuk melakukannya. Mungkin kita tidak memiliki rasa suka secara alami terhadap seseorang, tetapi kita tetap menunjukkan kepedulian karena Tuhan memerintahkannya. Kita sering harus mengesampingkan perasaan karena perasaan dapat menguasai kita.
Ada yang berkata bahwa mereka tidak mengikuti Allah karena belum “merasakan dorongan” apa pun dari-Nya. Dorongan seperti apa yang sedang mereka tunggu? Sekalipun Anda merasakan dorongan batin, apakah Anda dapat memastikan bahwa dorongan itu sungguh berasal dari Roh Allah? Anda mungkin mengira memiliki kemampuan membedakan secara rohani yang sebenarnya tidak Anda miliki. Hanya mereka yang dengan setia terus maju di dalam Kristus yang akan diberi pengertian oleh Roh untuk membedakan antara satu perasaan dari yang lain. Namun demikian, kita selalu dapat berpegang pada sesuatu yang pasti: ketaatan pada perintah Allah yang jelas tertulis di dalam Alkitab.
Ini tidak berarti meniadakan pimpinan atau gerakan Roh Kudus, atau menyangkal kenyataan bahwa Tuhan memang memberi inspirasi. Hal-hal itu penting. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita berada dalam kondisi rohani yang benar untuk membedakan gerakan Allah dalam diri kita, atau untuk menerima inspirasi yang Ia ingin berikan? Jika kita tidak hidup dalam ketaatan, atau tidak siap melakukan apa yang telah Ia perintahkan, bagaimana mungkin kita bisa mengenal pimpinan-Nya?
Yesus berkata, “pergilah dan muridkanlah semua bangsa” (Mat 28:19). Apakah kita akan menunggu inspirasi atau perasaan tertentu sebelum menaati perintah itu? Perintah itu jelas dan tegas: pergilah dan muridkanlah! Di gereja kami, kami melatih orang-orang supaya mereka dapat pergi dan memuridkan. Apakah kita harus menunggu perasaan dulu? Namun, jika tanggapan kita adalah, “Ini aku, Tuhan, siap melakukan seperti yang Engkau perintahkan. Tuntunlah aku kepada orang-orang yang ingin Engkau jangkau melalui firman-Mu, agar mereka menjadi murid-Mu”, maka Anda dapat yakin bahwa Tuhan akan menuntun Anda dan memberikan kekuatan untuk melakukannya.
Ketika Paulus menjalani perjalanan misionernya, ia dengan setia melaksanakan perintah untuk menjadikan semua bangsa murid. Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bagaimana Roh Kudus menuntun dia dan melakukan hal-hal ajaib melalui dia ketika ia bergerak maju dalam ketaatan terhadap perintah Tuhan.
Terus maju dengan tekad menuju sasaran berarti melakukan apa yang telah Allah perintahkan kepada kita. Ia sudah memberitahu kita melalui firman-Nya, jadi kita tidak perlu menunggu “inspirasi” tambahan. Allah telah memerintahkan saya untuk mengasihi istri saya, jadi saya akan mengasihinya sekalipun ia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan saya. Saya akan tetap mengasihinya terlepas dari suasana hati saya. Saya tidak akan membiarkan diri saya dikendalikan oleh perasaan yang tidak dapat diandalkan. Saya akan melaksanakan tugas saya entah saya merasa baik pagi ini atau tidak karena saya tahu Allah akan memberikan anugerah untuk melakukannya.
Sesuatu yang tidak bergerak tidak dapat diarahkan. Anda tidak dapat mengemudikan mobil yang diam. Demikian pula, Roh Kudus tidak dapat menuntun kita jika kita tidak bergerak dalam ketaatan terhadap perintah-perintah Allah yang sudah jelas. Sebaliknya, ada orang Kristen yang memang bergerak, tetapi tidak dalam ketaatan kepada Tuhan. Mereka melakukan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri, tetapi tetap mengharapkan Allah memberkati apa yang mereka lakukan. Akibatnya, seperti dalam gambaran mengemudi, yang akan mereka alami hanyalah tabrakan.
Berjuang sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja di dalam aku
Hubungan antara pekerjaan Allah dan pekerjaan manusia terlihat dalam Kolose 1:28-29:
Kami memberitakan tentang dia (Kristus) dengan menegur dan mengajar setiap orang dengan segala hikmat sehingga kami dapat membawa setiap orang menjadi dewasa dalam Kristus. Untuk itulah, aku juga bersusah payah, berjuang sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku.
Ayat ini menunjukkan hubungan antara pekerjaan Allah dan pekerjaan manusia. Paulus berjuang dan Allah memberi kekuatan. Betapa menginspirasi gambaran ini! Paulus maju ke depan, dan kuasa Allah memperkuatnya ketika ia melangkah. Seraya kita taat kepada Allah, Ia memberikan kita kekuatan dan kuasa. Kita terus melangkah menuju tujuan dengan segala kekuatan yang dikerjakan Allah secara perkasa di dalam diri kita.
Kita maju dengan tekad dan ketaatan kepada Allah, mengetahui bahwa kuasa-Nya—baik yang bekerja di dalam maupun di luar—akan dianugerahkan kepada kita: bekerja di dalam untuk memberi semangat, bekerja di luar untuk menundukkan kuasa musuh, sehingga tidak ada yang mustahil untuk dicapai: “Tidak ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:20)
Tangkaplah visi ini. Kita akan menyelesaikan pekerjaan di generasi ini sekalipun kita seperti belalang di hadapan tantangan dan rintangan yang begitu besar. Orang Israel menggambarkan diri mereka sebagai belalang dibandingkan dengan raksasa-raksasa Nefilim (Bil 13:33). Mereka membuat perbandingan itu setelah meninjau tanah yang telah dijanjikan Allah kepada mereka.
Keadaan kita mirip dengan bangsa Israel ketika mereka memasuki Tanah Perjanjian dan melihat orang-orang yang tubuhnya jauh lebih besar daripada mereka. Dalam situasi seperti itu Allah berfirman kepada hamba-Nya Yosua, “Tidak seorang pun akan tahan berdiri di hadapanmu sepanjang hidupmu. Seperti Aku menyertai Musa, demikian juga Aku akan menyertaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu atau tidak akan mengabaikanmu. Jadilah kuat dan berani…” (Yosua 1:5-6) “Jadilah kuat dan berani” muncul tiga kali dalam bagian pendek ini (ay. 6, 7, 9), menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi bangsa Israel.
Kekudusan dan kesempurnaan
Alkitab memiliki beberapa sinonim untuk kesempurnaan, salah satunya adalah kekudusan. Kesempurnaan adalah kekudusan. “Kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat.5:48) sejajar dengan “Jadi, kamu harus kudus sebab Aku ini kudus” (Ima 11:44-45; 19:2; 20:7; 1Pet 1:16). Perintah untuk menjadi sempurna sebagaimana ditemukan dalam Khotbah di Bukit setara dengan perintah untuk menjadi kudus yang diberikan kepada bangsa Israel. Menjadi sempurna berarti menjadi kudus; sebaliknya, menjadi kudus berarti menjadi sempurna.
Beberapa konsep dalam Perjanjian Lama dan Baru membentuk rantai yang saling berkaitan: kesempurnaan, kekudusan, kuasa, kemenangan. Semuanya merupakan aspek dari satu kenyataan pusat. Menjadi sempurna seperti Allah berarti mengenakan karakter-Nya, yaitu karakter anak-Nya, Yesus Kristus. Jadilah seperti Kristus karena Kristus itu sempurna. Jadilah murni karena Kristus itu kudus. Jadilah rendah hati karena Kristus itu lemah lembut hati. Jadilah kuat karena Kristus itu perkasa.
Pandangan kita sering terlalu sempit. Yesus ingin para muridnya memperluas pandangan dan melihat melampaui keadaan, bahkan melampaui musuh yang ada di depan kita, dan dengan iman memegang anugerah serta kuasa Allah yang tidak terbatas. Dengan cara ini kita, sebagai tubuh Kristus, menyatakan hidupnya dan memberitakan keselamatannya sampai ke ujung bumi.
Suatu bangsa yang kudus untuk memberitakan kebaikan-kebaikan Allah
Alkitab menunjukkan kesejajaran antara Israel dan gereja. Allah berfirman,
“Oleh sebab itu, sekarang, jika kamu sungguh-sungguh menaati suara-Ku dan memelihara perjanjian-Ku, kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku di atas segala bangsa sebab seluruh bumi ini adalah milik-Ku. Kamu akan menjadi imamat rajani bagiku dan bangsa yang kudus.” (Kel 19:5-6)
Hal ini diterapkan pada gereja, tubuh Kristus, dalam 1 Petrus 2:9:
Namun, kamu adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri supaya kamu dapat memberitakan kebaikan-kebaikan-Nya, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib.
Allah memanggil Israel untuk menjadi harta kesayangan-Nya, suatu bangsa yang kudus. Bagaimana Israel akan menjadi bangsa yang kudus bagi Allah? Dengan menaati suara-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya.
Kekudusan memiliki dua aspek: panggilan Allah dan tanggapan kita. Kita dipanggil kepada kekudusan, tetapi kekudusan menjadi nyata hanya jika kita menanggapi panggilan itu, sebagaimana suatu bangsa yang kudus menaati suara Allah dan menanggapi panggilan-Nya.
Kekudusan dan ketaatan sangatlah penting bagi kemenangan bangsa kudus Allah, yang melaluinya Dia dinyatakan kepada segala bangsa. Beberapa pasal kemudian, dalam Keluaran 23:22, Yahweh berfirman, “Jika kamu benar-benar menaati suaranya dan melakukan semua yang Aku firmankan, Aku akan menjadi musuh bagi musuh-musuhmu dan lawan dari lawan-lawanmu.”
Contoh utama dari hal ini, yang menjadi dikenal luas oleh bangsa-bangsa di dunia, adalah bagaimana Allah Yahweh bertindak terhadap Firaun dan pasukannya, yaitu para penindas Israel.
Contoh luar biasa lainnya terlihat pada kisah Gideon (Hakim-hakim 7), saat Israel menghadapi musuh yang sangat tangguh berupa bangsa Midian, sekutu-sekutunya, serta pasukan mereka. Untuk menggambarkan besarnya jumlah musuh tersebut, sejarawan zaman dahulu menggunakan ungkapan hiperbolis yang lazim, yakni perumpamaan tentang pasir di tepi laut: “Unta-unta mereka tidak terhitung jumlahnya, seperti pasir di tepi laut banyaknya”.
Menghadapi pasukan musuh yang tak terbilang jumlahnya, Allah Yahweh memerintahkan Gideon untuk mengurangi pasukan Israel dari 32.000 orang menjadi 10.000, lalu menjadi 300! Hal ini dilakukan agar Israel tidak meninggikan diri dan berkata, “Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku” (ay. 2). Yahweh sedang mengajar Israel bahwa jika mereka taat kepada-Nya, mereka akan memperoleh kemenangan melawan segala kemungkinan yang mustahil. Gideon taat, maju bersama 300 orang melawan pasukan Midian, dan Allah memberikan kemenangan yang gemilang bagi mereka, kemenangan yang menyatakan Nama-Nya kepada bangsa-bangsa.
Semua yang kita bicarakan ini akan menjadi omong kosong jika Allah tidak nyata. Jika Ia tidak nyata, akan konyol berbicara tentang ketidak-terkalahkan karena itu hanyalah semu. Ketidakterkalahkan hanya mungkin dengan kuasa yang adikodrati. Jika Allah tidak nyata, kemenangan kita hanyalah hasil usaha manusia, dengan kemungkinan lima puluh-lima puluh untuk menang jika kekuatan kita seimbang dengan musuh.
Hanya jika Allah nyata, barulah masuk akal untuk berbicara tentang ketidakterkalahkan. Hanya ketika kuasa Allah dinyatakan secara konsisten melalui kita, baik secara pribadi maupun sebagai gereja, dunia akan terpaksa mengakui bahwa Allah itu nyata.
Kuasa Allah dalam orang-orang yang tidak dianggap
Pelajaran yang diajarkan Yahweh kepada Israel dalam Perjanjian Lama adalah pelajaran yang ingin Ia ajarkan kepada kita dalam Perjanjian Baru. Ada begitu banyak pengajaran relevan dalam Perjanjian Lama, tetapi kita akan melihat satu contoh lagi tentang hubungan antara kekudusan, kuasa, dan kemenangan. Dalam Ulangan 7:6-7 kita membaca:
Karena kamu adalah umat Yahweh sendiri. Dari semua bangsa di muka bumi, Yahweh, Allahmu telah memilihmu menjadi milik-Nya sendiri. Yahweh mengasihi dan memilihmu bukan karena kamu bangsa yang terbesar, malahan yang terkecil jumlahnya dari semua bangsa.
Allah secara khusus mengasihi Israel bukan karena bangsa Israel itu hebat, melainkan karena mereka adalah orang-orang yang tidak berarti. Orang-orang yang dianggap tidak berarti di dunia ini justru sangat tepat untuk memperlihatkan kuasa Allah. Seandainya Allah memperlihatkan kuasa-Nya melalui bangsa seperti Tiongkok—dengan populasi yang sangat besar dan kebudayaan yang maju—apa yang istimewa dari hal itu? Israel adalah—dan sampai sekarang pun tetap—salah satu bangsa terkecil di dunia.
Allah memilih bangsa kecil ini, bangsa yang tidak berarti di antara bangsa-bangsa besar dunia. Ketidakberartian orang Israel—mereka “yang terkecil jumlahnya dari semua bangsa”—justru menjadi alasan pemilihan mereka. Ia menyatakan kuasa-Nya melalui yang lemah, dan kemuliaan-Nya melalui yang hina. Jika kita mau menjadi orang-orang yang tidak dianggap, Allah akan dengan senang hati menyatakan kuasa-Nya melalui kita juga. Ketika kita mengatasi segala rintangan yang mustahil, semua orang akan tahu bahwa kuasa itu pasti berasal dari Allah. Itulah hikmat dan keindahannya.
Ketika Israel diserbu oleh pasukan perkasa Sanherib, raja Asyur—yang saat itu merupakan negara adidaya terkemuka di dunia—apa lagi yang dapat mereka lakukan selain berseru kepada Yahweh agar menyelamatkan mereka? Pasukan Asyur begitu kejam, penuh keyakinan diri, dan tak tertandingi kekuatannya; mereka hendak menginjak-injak Israel yang tak berdaya hingga hancur lebur. Namun, Yahweh menimpakan pukulan telak yang melumpuhkan Asyur, di mana 185.000 tentara Asyur tewas dalam satu malam (2Raj 19:16-36). Allah menyelamatkan mereka yang lemah dan tak berdaya, sehingga kemuliaan itu menjadi milik-Nya semata.
Dalam Ulangan 7:19, Yahweh berfirman,
“Kamu melihat Yahweh, Allahmu menggunakan tangan-Nya yang kuat dan kuasa-Nya yang besar untuk membawamu keluar. Hal itu dilakukan oleh Yahweh, Allahmu untuk melawan seluruh bangsa yang kamu takuti.”
Apa yang telah dilakukan Allah terhadap Mesir yang perkasa—mendatangkan tulah atas mereka dan memusnahkan tentaranya—akan Ia lakukan terhadap mereka yang menakut-nakuti umat-Nya. Orang Israel mungkin gentar terhadap musuh mereka yang dahsyat, tetapi mereka akan melihat kuasa Allah di tengah-tengah mereka jika mereka percaya kepada-Nya.
Jika Anda hidup dalam kuasa Allah, masalah hidup apa yang tidak dapat diselesaikan? Jika Anda adalah seorang pemenang di dalam Kristus, masalah hubungan apa yang tidak dapat diselesaikan? Tidak ada yang mustahil bagimu (Mat 17:20). Mereka yang terus maju menuju kesempurnaan akan menghadapi rintangan, perlawanan, kesulitan, dan bahkan penderitaan, tetapi oleh anugerah Allah, mereka tidak akan pernah menghadapi masalah yang tidak dapat diatasi.
Pada hari-hari terakhir ini, gereja sebagai tubuh Kristus harus menggenapi perannya yang diberikan Allah untuk menyatakan kemuliaan keselamatan Allah kepada bangsa-bangsa. Kita memerlukan transformasi yang mendalam di antara orang-orang Kristen sehingga orang-orang akan berkata, “Lihat, Allah yang hidup ada di tengah-tengah mereka!”