Pastor Eric Chang | Bab 6 |

Pembaruan adalah konsep penting dalam Perjanjian Baru. Dalam Kolose 3:9–10 kita membaca:

Jangan saling membohongi karena kamu telah menanggalkan manusia lamamu bersama dengan perbuatan-perbuatannya. Kenakanlah manusia baru, yang terus-menerus diperbarui dalam pengetahuan sesuai dengan gambar dari Penciptanya.

“Jangan saling membohongi.” Bagi orang dunia, kebiasaan berbohong sudah begitu melekat hingga menjadi kebiasaan dalam cara berpikir. Orang berbohong kapan pun hal itu membawa keuntungan bagi dirinya. Akan tetapi, ketika kita menjadi manusia baru di dalam Kristus, kebiasaan jahat ini harus dibuang dalam proses pembaruan hidup. Kadang-kadang orang Kristen juga tergoda untuk berbohong karena ingin orang lain berpikir lebih baik tentang dirinya daripada keadaan yang sebenarnya.

Di mata Allah, berbohong bukanlah pelanggaran kecil. Keseriusan­nya tampak dari kenyataan bahwa tidak ada pembohong yang akan masuk ke kota surgawi, Yerusalem Baru, sebab “tak sesuatu pun yang najis akan masuk ke dalam kota itu, juga orang yang melakukan hal-hal keji atau melakukan kebohongan” (Why 21:27). Perhatikan bahwa “kekejian” (kata yang biasanya dikaitkan dengan penyembahan berhala, yang sangat dibenci Allah) dan “kebohongan” disebut pada tingkat yang sama. Jauh dari sekadar dosa kecil, berbohong, yakni ketidakjujuran atau tipu daya, adalah dosa yang cukup berbahaya untuk membuat seseorang kehilangan tempat di Yerusalem Baru.


PANDANGAN YANG SALAH TENTANG DOSA

Ketika membahas persoalan serius mengenai dosa, sangat penting bagi kita untuk memiliki pengertian yang benar tentang hal itu. Karena itu, setiap pembahasan tentang dosa harus didasarkan pada definisi dosa menurut Kitab Suci, bukan menurut ajaran moral atau tradisi Kristen; jika tidak, orang akan terbebani oleh rasa bersalah atas hal-hal yang sebenarnya tidak didefinisikan sebagai dosa oleh Alkitab. Sering kali terdapat jurang yang lebar antara definisi dosa menurut Alkitab dan pemahaman dosa yang dipegang oleh banyak orang Kristen.

Dalam beberapa kalangan Kristen, minum segelas anggur dianggap sebagai dosa. Definisi seperti ini tidak alkitabiah. Sekalipun kita tidak mendorong orang untuk minum, kita tetap harus setia kepada firman Allah. Tidak ada satu pun bagian Kitab Suci yang menyatakan bahwa minum segelas anggur adalah dosa. Pernyataan Yohanes, “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa” (1Yoh 3:9), tidak boleh dipelintir menjadi, “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah minum anggur”. Keduanya sama sekali tidak setara, kecuali dalam pemikiran orang Kristen yang legalistis.

Sebagian orang Kristen mengatakan bahwa mengenakan rok pendek adalah dosa bagi perempuan, seolah-olah Yohanes berkata, “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah memakai rok pendek”. Walaupun kita tidak mendukung pemakaian rok pendek, kita tetap harus setia kepada firman Allah. Mungkin benar bahwa memakai rok pendek adalah tidak sopan, tetapi apakah sesuai dengan Kitab Suci jika atas dasar itu kita melarang semua pakaian renang?

Namun, orang-orang yang sama yang memandang negatif pakaian yang tidak sopan tampaknya tidak menganggap kekasaran, kesom­bongan, sikap tidak peduli, hilangnya kendali emosi, ataupun perkataan yang memfitnah sebagai dosa! Beberapa orang yang begitu teliti terhadap hal-hal lahiriah (dan tidak akan mau terlihat membeli surat kabar pada hari Minggu) ternyata tidak seberhati-hati terhadap kondisi rohani hati mereka sendiri. Kita diingatkan akan perkataan Yesus:

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! Kamu memberi persepuluhanmu dari selasih, adas manis, dan jintan, tetapi telah mengabaikan hal-hal yang lebih berat dari Hukum Taurat, yaitu keadilan, belas kasihan, dan iman. Hal-hal inilah yang seharusnya sudah kamu lakukan tanpa mengabaikan hal-hal yang lain. (Mat 23:23)

Namun, ada satu perbedaan penting: setidaknya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjalankan kewajiban mereka untuk membayar persepuluhan. Akan tetapi, beberapa orang Kristen yang begitu teliti terhadap hal-hal lahiriah, justru tidak menganggap diri mereka berkewajiban untuk memberikan persepuluhan atau persembahan apa pun kepada Allah. Maka ada orang Kristen yang bahkan belum sampai pada tingkat ketaatan ahli Taurat dan orang Farisi! Kita perlu memperhatikan peringatan Yesus: “Jika kebenaranmu tidak lebih baik daripada kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu sama sekali tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat 5:20)

Definisi dosa yang dibuat manusia menimbulkan rasa bersalah atas hal-hal yang sebenarnya tidak didefinisikan sebagai dosa oleh Kitab Suci. Saya bahkan mengenal orang-orang yang menganggap minum teh atau kopi sebagai dosa!


PANDANGAN YANG SALAH TENTANG SEKS

Sebagian orang Kristen merasa bersalah atas hasrat seksual mereka. Apakah hasrat tersebut benar atau salah bergantung pada bagaimana hasrat itu disikapi dan diungkapkan. Tidak ada satu pun dalam kajian saya terhadap Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hasrat seksual itu sendiri adalah dosa. Namun, Agustinus menganggap hasrat seksual sebagai sesuatu yang buruk bahkan jahat, dan menggunakan istilah concupiscence (nafsu berahi, dengan konotasi negatif yang kuat terhadap hawa nafsu) untuk menggambarkannya. Dengan cara berpikir seperti itu, seseorang yang muda dan sehat akan dianggap jahat karena hampir pasti memiliki hasrat seksual.

Kita harus jujur dalam membahas seks, kalau tidak, persoalannya akan menjadi lebih rumit. Adalah hal yang alami bagi orang muda dan sehat untuk memikirkan soal seks dari waktu ke waktu, bahkan mungkin cukup sering. Menyangkal hal ini jelas tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya bila kita mengatakan bahwa Kitab Suci menganggap setiap pikiran tentang seks sebagai dosa. Hal seperti itu tidak ditemukan di mana pun dalam Kitab Suci.

Hasrat seksual yang tidak terkendali tentu saja berdosa. Akan tetapi, hasrat seksual itu sendiri bukan dosa. Sejak awal, di dalam Kejadian, Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, dan bermaksud agar mereka menikah dan menjadi satu daging. Bagaimana hal itu mungkin terjadi bila mereka tidak memiliki hasrat seksual atau bila hasrat itu dianggap berdosa? Tidak hanya hasrat seksual tidak jahat di dalam Kitab Suci, tetapi Paulus bahkan berkata bahwa suami dan istri tidak boleh saling menolak, kecuali untuk waktu yang singkat demi tujuan doa (1Kor 7:5).

Gagasan bahwa hasrat seksual tidak diinginkan—atau bahkan jahat—telah menimbulkan pandangan bahwa hidup tidak menikah lebih suci daripada hidup menikah. Cara berpikir seperti ini telah secara halus meresap ke dalam sebagian kalangan gereja. Namun, pandangan itu harus ditolak karena menciptakan rasa bersalah yang tidak perlu dan menghambat kehidupan rohani. Kita tidak boleh merasa bersalah karena memikirkan seks dengan cara yang benar, yang dikendalikan oleh Roh.

Mungkin terdengar mengejutkan bila berbicara tentang cara berpikir yang dikendalikan Roh mengenai seks, tetapi hal itu sepenuhnya mungkin. Renungkan kitab Kejadian dan tujuan Allah dalam hubungan seksual, maka bila Anda tahu bagaimana berpikir secara rohani, hal itu justru dapat membawa hati semakin dekat kepada Allah. Pertimbangkan betapa banyak buku rohani yang ditulis berdasarkan Kidung Agung. Merenungkan maksud Allah dalam menciptakan laki-laki dan perempuan sangatlah membangun secara rohani. Tidak ada satu pun yang Allah ciptakan bersifat memalukan. Jangan biarkan Iblis mengklaim seks sebagai wilayahnya, padahal Allah sendiri yang menciptakannya sejak semula.

Namun, perlu ditekankan bahwa setiap pikiran yang tidak kudus, tidak terkendali, cabul, pornografis, atau bejat tentang seks adalah dosa. Seks tidak boleh dipisahkan dari kasih. Ketika seks dipisahkan dari kasih sejati yang memberi diri, ia merosot menjadi hawa nafsu yang memuaskan diri sendiri.

Kita perlu menanggalkan cara berpikir keagamaan semu dan belajar menghargai hal-hal yang memang termasuk dalam ciptaan Allah. Pikirkan tentang seks dengan cara yang murni dan kudus. Seperti tertulis dalam Kitab Suci:

“Bagi yang murni, semua adalah murni. Namun, bagi mereka yang najis dan tidak percaya, tidak ada satu pun yang murni karena baik pikiran maupun hati nurani mereka adalah najis” (Tit 1:15).

Saya menyampaikan hal ini karena banyak anak muda datang kepada saya dengan perasaan bersalah karena memikirkan hubungan seksual. Mereka bertanya-tanya apakah mereka benar-benar sudah dilahirkan kembali, sebab 1 Yohanes 3:9 memang mengatakan, “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa … dia tidak dapat berbuat dosa karena dia telah dilahirkan dari Allah.”

Saudara-saudara, jika Anda memikirkan seks dengan cara yang dikendalikan oleh Roh, dan merenungkan maksud indah Allah bagi umat manusia, Anda tidak berdosa; pikiran Anda masih terkendali. Anda tidak perlu menolak semua pikiran atau hasrat seksual sebagai dosa. Tentu saja, bila yang Anda pikirkan adalah perzinahan, percabulan, atau hubungan seksual yang tidak sah, maka itu adalah dosa.

Karena banyak anak muda di gereja, kita harus berbicara secara jujur tentang hal ini, sebab hal itu berkaitan dengan kelahiran kembali dan pembaruan hidup. Tidak seorang pun harus merasa bahwa ia belum dilahirkan kembali hanya karena memikirkan soal seks, padahal ia sebenarnya telah dilahirkan kembali dan mengalami hal yang sepenuhnya normal bagi manusia yang sehat.

Pandangan tradisional tentang dosa sering kali berbeda dengan definisi dosa menurut Alkitab. Sejak abad kedua dan ketiga dalam sejarah gereja, sudah mulai berkembang kecenderungan kuat dalam pemikiran Kristen yang menganggap hubungan seksual sebagai sesuatu yang buruk atau bahkan jahat. Agustinus (354–430 M), yang pandangan negatifnya tentang seks sebagian timbul dari pergumul­annya sendiri dengan hasrat seksualnya, mendukung pandangan ini dan memberinya cap otoritatif. Sebagai guru yang berpengaruh dan pemimpin gereja di kota Hippo, Afrika Utara, pandangannya diterima oleh sebagian besar gereja di dunia Barat.

Banyak orang, seperti Agustinus, memandang hasrat seksual sebagai ancaman mematikan bagi kehidupan rohani mereka. Di sisi lain, banyak pula orang yang tidak menganggap hasrat seksual sebagai suatu bahaya. Pengalaman pribadi kita tentu memengaruhi cara kita berpikir tentang suatu hal, tetapi apa yang benar bagi kita tidak boleh digeneralisasi sebagai kebenaran universal. Kitab Suci, bukan pengalaman pribadi semata, yang harus menjadi tolok ukur dalam menilai segala sesuatu.

Kita menolak pandangan negatif tentang hubungan seksual karena pandangan itu bertentangan dengan firman Allah. Jangan terjebak dalam rasa bersalah yang tidak berdasar, yang memperbudak Anda dan membuat Anda ragu apakah Anda sudah dilahirkan kembali atau belum. Kembalilah selalu kepada firman Allah, dan periksalah melalui Kitab Suci apakah perkataan atau perbuatan Anda benar-benar berdosa atau tidak. Jangan dipengaruhi oleh pendapat dan tradisi manusia. Kita perlu mengingat hal ini saat mempertimbangkan topik pembaruan.


PAULUS BERBICARA TENTANG “PEMBARUAN” DENGAN CARA YANG MENGEJUTKAN

Berkenaan dengan kehidupan Kristen, Paulus berbicara tentang suatu permulaan yang baru sekaligus tentang pembaruan. Seperti telah kita lihat, ia menyebut dua hal: “pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus” (Tit 3:5). Kelahiran kembali adalah peristiwa awal dalam kehidupan Kristen, sedangkan pembaruan adalah proses yang mengikutinya. Dengan demikian, kelahiran kembali merupakan titik awal dari pembaruan.

Banyak orang Kristen agak akrab dengan konsep kelahiran kembali, walaupun sering dengan pemahaman yang keliru. Sebaliknya, konsep pembaruan hampir tidak dikenal di kalangan orang Kristen, padahal pembaruan merupakan konsep penting dalam ajaran Alkitab.

Kita ingat (dalam bab 3 buku ini) bahwa Paulus menggunakan dua kata Yunani yang berhubungan untuk “pembaruan”: kata kerja anakainoō (membarui) dan kata benda anakainōsis (pembaruan). Hal yang menarik adalah bahwa kedua kata ini tidak ditemukan dalam seluruh literatur Yunani yang ada sebelum Paulus! Padahal jumlah literatur Yunani yang tersisa itu sangat besar.

Sama mengejutkannya, dalam literatur Yunani sebelum Paulus sudah ada satu kata yang mapan untuk “memperbarui” (anakainizō, ἀνακαινίζω), tetapi Paulus sama sekali tidak menggunakan kata itu!

Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Mengapa Paulus tidak memakai kata yang sudah lazim untuk “memperbarui”? Dan mengapa ia memilih dua kata baru yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam literatur Yunani? Pilihan kata yang tidak biasa ini pasti disengaja karena Paulus sangat menguasai bahasa Yunani.

Beberapa ahli bahasa Yunani seperti Moulton dan Milligan percaya bahwa kedua kata ini, kata kerja anakainoō dan kata benda anakainōsis, diciptakan oleh Paulus sendiri. Hal ini sangat mungkin, dan menunjukkan bahwa konsep pembaruan memiliki arti yang sangat penting bagi Paulus.

Hal ini menarik perhatian saya, jadi saya meneliti kata Yunani yang sudah mapan yang tidak digunakan oleh Paulus (anakainizō), dan menemukan bahwa kata itu muncul tiga kali dalam Septuaginta. Ketika kita meneliti penggunaannya, kita melihat bahwa anakainizō pada dasarnya berarti kembali kepada keadaan semula dari mana seseorang telah jatuh. Itu menunjuk pada pemulihan kepada keadaan terdahulu yang lebih baik, yang sebelumnya telah berubah, hilang, rusak, atau hancur. Paulus tidak menggunakan kata ini.

Salah satu contoh penggunaan kata ini dalam LXX terdapat dalam Ratapan 5:21 di mana Yeremia berdoa, “Kembalikanlah kami kepada-Mu, ya TUHAN, supaya kami dapat dipulihkan. Perbaruilah (anakainizō) hari-hari kami seperti dahulu kala.” “Perbaruilah hari-hari kami seperti dahulu kala” adalah seruan untuk kembali ke keadaan sebelumnya yang lebih baik daripada keadaan sekarang. Dengan kata lain, Yeremia sedang berdoa, “Kembalikan kami ke keadaan seperti sebelum bangsa kami dihancurkan oleh musuh, dan sebelum umat kami dibuang oleh orang Asyur dan Babel. Perbaruilah kami, ya Tuhan, seperti pada masa ketika kami aman di tanah Israel sebelum Yerusalem dihancurkan. Pulihkanlah kami agar Bait Allah dapat dibangun kembali.”


(1) Pembaruan bukanlah kembali ke keadaan asli Adam

Paulus tidak menggunakan kata yang sudah lazim anakainizō, melainkan memilih dua kata baru. Pasti ada alasan yang kuat untuk pilihan katanya yang tidak biasa ini, dan hal itu akan menolong kita memahami apa yang dimaksud Paulus dengan pembaruan.

Dengan tidak menggunakan kata anakainizō, Paulus sedang mengatakan bahwa pembaruan bukanlah suatu kembalinya pada keadaan semula, bahkan bukan juga pada keadaan sebelum manusia jatuh dalam dosa ketika Adam berdosa. Pembaruan yang dimaksud Paulus adalah sesuatu yang sama sekali baru. Itu bukan pemulihan terhadap sesuatu yang lama, bahkan bukan pemulihan Taman Eden, melainkan suatu pembaruan total: kelahiran baru, manusia baru, ciptaan yang sepenuhnya baru, yang pasti mencakup langit dan bumi yang baru.

Dalam karya keselamatan, Allah tidak sedang memulihkan kita ke keadaan semula seperti Adam sebelum jatuh, melainkan membawa kita ke dalam keberadaan rohani yang baru, keadaan yang tidak pernah dikenal oleh Adam.

Cobalah tangkap visi yang Allah berikan kepada Paulus. Banyak teolog berbicara tentang kembalinya manusia kepada keadaan semula seperti Adam, seolah-olah itulah inti keselamatan. Namun, Paulus mengatakan kepada kita, “Sahabatku, visimu terlalu kecil. Allah melalui Kristus telah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pengampunan dosa dan pengembalian pada keadaan Adam sebelum kejatuhan. Ia menyediakan sesuatu yang lebih baik bagimu. Dahulu kamu berada di dalam Adam dan menjadi seperti dia, tetapi Kristus telah menebus kamu supaya kamu menjadi seperti Kristus, bukan seperti Adam.”

Sudahkah kita menangkap visi ini? Apakah kita memahami mengapa hati Paulus berkobar untuk memberitakan Injil di tempat-tempat yang belum pernah mendengarnya, baik di Spanyol maupun di tempat lain? Kita kehilangan api ketika kita kehilangan visi. Pandangan kita begitu terbatas hingga kita merasa cukup hanya dengan dipulihkan seperti Adam sebelum berdosa, padahal rencana Allah jauh lebih agung.


(2) “Diperbarui” dalam bentuk pasif

Kita mencatat beberapa hal tentang dua kata yang digunakan Paulus, anakainoō dan anakainōsis. Kita telah melihat bahwa mungkin keduanya diciptakan oleh Paulus sendiri, yang menunjukkan pentingnya konsep pembaruan dalam ajarannya.

Pengamatan kedua adalah bahwa Paulus menggunakan kata kerja anakainoō dalam bentuk pasif (2Kor 4:16; Kol 3:10), tidak pernah dalam bentuk aktif atau tengah. Fakta bahwa Paulus hanya menggunakan kata ini dalam bentuk pasif menunjukkan bahwa pembaruan adalah sesuatu yang Allah kerjakan di dalam kita. Kita tidak dapat memperbarui diri kita sendiri. Itulah sebabnya Paulus berbicara tentang diselamatkan “oleh anugerah”. Anugerah adalah kuasa pembaruan Allah yang masuk ke dalam hidup kita dan menjadikan kita manusia baru. Karena itu, ajaran tentang keselamatan oleh perbuatan harus ditolak. Kita mungkin dapat memperbaiki diri, tetapi kita tidak dapat memperbarui diri. Kita tidak boleh mencampur­adukkan reformasi dengan pembaruan. Reformasi diri hanyalah memperbaiki hal-hal di sana-sini, bahkan mungkin perbaikan moral, tetapi itu tidak lebih berarti daripada membuat resolusi Tahun Baru.

Alkitab berbicara tentang pembaruan, bukan reformasi. Ia berbicara tentang penciptaan kembali, di mana Allah menciptakan dan membentuk kita kembali. Hanya kuasa Allah, dalam hikmat, kemuliaan, dan kebesaran-Nya, yang sanggup melakukannya. Kuasa penciptaan Allah nyata dengan megah dalam alam semesta. Namun, Paulus akan berkata kepada kita, “Ya, kuasa itu luar biasa, tetapi ada kuasa yang jauh lebih mulia: kuasa Allah untuk mencipta ulang dan memperbaharui—untuk menjadikan manusia baru.”

Sekarang kita mengerti mengapa Paulus menggunakan anakainoō dalam bentuk pasif. Pembaruan dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya. Titus 3:5 berbicara tentang “pembaruan Roh Kudus”. Kita tidak dapat dilahirkan kembali atau diperbarui kecuali oleh Roh Allah.


(3) “Diperbaharui” dalam bentuk waktu sekarang

Pengamatan ketiga adalah bahwa Paulus menggunakan kata kerja anakainoō dalam bentuk waktu sekarang. Jika kita menggabungkannya dengan poin sebelumnya, kata ini selalu digunakan dalam bentuk present passive (pasif waktu sekarang).

Bentuk waktu sekarang menunjukkan bahwa pembaruan adalah peristiwa yang sedang berlangsung sekarang, bukan peristiwa masa lalu atau semata-mata masa depan. Saat ini, pada waktu sekarang juga, kita sedang diperbarui dan dalam proses diselamatkan. Dalam Alkitab, keselamatan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan suatu proses yang berkelanjutan. Itulah sebabnya Paulus berbicara tentang keselamatan dalam berbagai bentuk waktu: bentuk sempurna (kita telah diselamatkan), bentuk sekarang (kita sedang diselamatkan), dan bentuk masa depan (kita akan diselamatkan). Pada masa lalu kita diselamatkan pada saat kelahiran kembali, sekarang kita sedang diselamatkan melalui pembaruan, dan kita menuju pada penyelesaian keselamatan pada masa depan.

Paulus berbicara tentang keselamatan dalam ketiga bentuk waktu tersebut. Contoh bentuk sempurna adalah, “Sebab, oleh anugerah kamu [telah] diselamatkan melalui iman” (Ef 2:8). Contoh bentuk sekarang adalah, “bagi kita yang [sedang] diselamatkan, hal itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18), dan “kami adalah bau harum Kristus bagi Allah di antara mereka yang [sedang] diselamatkan” (2Kor 2:15). Contoh bentuk masa depan adalah, “lebih-lebih lagi setelah kita diperdamaikan kita akan diselamatkan melalui hidup-Nya” (Rm 5:10). Pernyataan, “sekarang keselamatan sudah lebih dekat daripada waktu pertama kita percaya” (Rm 13:11), menunjukkan bahwa keselamatan adalah proses yang menuju pada penyempurnaan pada masa depan.


KELAHIRAN KEMBALI, KEMUDIAN PEMBARUAN

Gereja masa kini cenderung menekankan kelahiran kembali sambil mengabaikan hal-hal yang melampauinya. Banyak orang Kristen berpikir bahwa keselamatan telah sepenuhnya tercapai pada saat kelahiran kembali. Namun, bagi Paulus, kelahiran kembali hanyalah titik awal keselamatan. Orang yang baru dilahirkan kembali hanyalah seorang bayi rohani yang harus melalui proses pertumbuhan yang disebut pembaruan. Keselamatan bukan hanya tentang kelahiran baru, tetapi juga tentang pembaruan—sebagaimana kehidupan manusia bukan hanya tentang kelahiran fisik, tetapi juga tentang bertumbuh menuju kedewasaan jasmani.

Jika Anda telah dilahirkan kembali, saat ini Anda seharusnya sedang berada dalam proses pembaruan. Bayangkan kehidupan Kristen seperti sebuah garis waktu yang titik awalnya adalah kelahiran kembali. Ketika Anda melewati titik itu, Anda menyeberang dari kematian menuju kehidupan, dan menjadi seorang Kristen. Namun, kelahiran kembali hanyalah titik awal, saat Anda masih seperti bayi yang baru lahir. Dalam proses pembaruan yang terus berlangsung, Anda bertumbuh dari masa bayi menuju kedewasaan:

… sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan akan Anak Allah, yaitu manusia dewasa, menurut ukuran tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Ef 4:13)

Gereja kami tidak membagikan sertifikat baptisan (kecuali jika diperlukan untuk keperluan resmi), karena kelahiran baru adalah titik awal, bukan penyelesaian dari kehidupan baru. Saya pernah berada di sebuah gereja di mana pendetanya membagikan sertifikat baptisan yang diikat dengan pita merah seperti ijazah wisuda. Ia memanggil nama satu per satu, dan orang-orang maju untuk menerima sertifikat disertai ucapan selamat. Saya sempat berpikir, “Apakah ini upacara wisuda?”


PEMBARUAN SANGAT PENTING UNTUK BERTAHAN HIDUP

Kelahiran baru hanyalah titik awal, dan masih ada perjalanan panjang menuju kedewasaan rohani. Sepenting apa bertumbuh menuju kedewasaan penuh? Sama pentingnya seperti menanyakan, “Apakah penting bagi seorang bayi untuk tumbuh secara fisik?”

Ingatlah hal penting ini: jika Anda tidak bertumbuh, Anda mungkin tidak akan dapat bertahan hidup. Kitab Suci mengatakan bahwa kita perlu terus bertumbuh menuju kedewasaan; hal ini mutlak penting agar kita dapat bertahan secara rohani. Banyak orang telah mengaku menerima Yesus Kristus, ada yang mengangkat tangan, bahkan dibaptis, tetapi banyak yang tidak bertahan karena mereka tidak bertumbuh.

Dalam beberapa kasus, mereka sebenarnya tidak memiliki hidup sejak awal. Tanpa hidup, tidak ada pertumbuhan yang bisa dibicarakan. Benda mati seperti batu tidak dapat bertumbuh, tetapi benih dapat bertumbuh karena ia memiliki kehidupan. Jika Anda tidak bertumbuh, itu berarti salah satu dari dua hal: Anda belum memiliki kehidupan rohani, atau Anda tidak tahu bagaimana hidup sebagai orang Kristen.

Ayat yang sedang kita bahas, Efesus 4:13, berbicara tentang menjadi “manusia dewasa” dan tentang “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”. Namun, apa yang terjadi jika kita tidak melangkah menuju kedewasaan? Jawabannya ada pada ayat berikutnya:

Dengan demikian, kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh ombak dan dibawa ke sana kemari oleh berbagai angin pengajaran, oleh tipu daya manusia, oleh kecerdikan dari penipuan yang licik. (Ef 4:14)

Mereka yang tetap tinggal dalam masa kanak-kanak rohani akan sangat sulit bertahan. Paulus khawatir agar kita “bukan lagi anak-anak”, melainkan bertumbuh menuju kedewasaan. Anak-anak mudah diombang-ambingkan oleh setiap ajaran baru karena mereka tidak dapat membedakan siapa yang berbicara benar dan siapa yang tidak. Seseorang berkata sesuatu, mereka percaya. Lalu orang lain datang dengan ajaran berbeda, mereka bingung. Banyak orang Kristen berkata, “Kami bingung. Satu orang berkata begini, yang lain berkata begitu. Siapa yang benar?” Mereka diombang-ambingkan oleh setiap angin pengajaran.

Kata “diombang-ambingkan” berasal dari kata Yunani kludōnizomai (κλυδωνίζομαι), yang berarti terombang-ambing oleh gelombang laut. Gelombang membawa seseorang ke sana kemari, tanpa arah. Anda berada dalam keadaan genting, berpegang pada sesuatu demi menyelamatkan hidup.

Paulus memilih kata “diombang-ambingkan” dengan sangat tepat karena ia akrab dengan pengalaman karam kapal (2Kor 11:25). Ia tahu rasanya terombang-ambing oleh gelombang besar. Ia pernah melihat kapal dihancurkan ombak. Hampir pasti ia bisa berenang, karena ia tidak mungkin selamat dari begitu banyak kecelakaan kapal jika tidak bisa berenang. Pada zamannya tidak ada jaket pelampung, jadi mungkin ia harus berenang atau berpegangan pada sepotong kayu. Paulus tahu rasanya terapung-apung, naik turun, bergerak ke sana kemari di tengah laut yang bergelora. Ia selamat hanya karena kasih karunia Allah. Mungkin mereka yang ingin memberitakan Injil perlu belajar berenang!

Pengalaman-pengalaman karam kapal itu meninggalkan kesan mendalam pada Paulus hingga ia berbicara tentang mereka yang “kandas” imannya (1Tim 1:19). Ia khawatir agar bayi-bayi baru dalam Kristus dapat bertumbuh keluar dari masa kanak-kanak dan menghindari bencana rohani.


PERTUMBUHAN ROHANI

Dalam kelahiran baru—titik awal kehidupan Kristen—kita menjadi bayi di dalam Kristus. Namun, jika kita tetap berada dalam masa bayi rohani, kita akan berada dalam posisi yang berbahaya. Seorang bayi sepenuhnya bergantung pada orang-orang di sekitarnya: ibunya merawatnya, ayahnya melindunginya, saudara-saudaranya menolong­nya. Apa yang akan terjadi bila orang-orang di sekitarnya sendiri terombang-ambing oleh berbagai ajaran yang berbeda? Keadaan bayi itu akan menjadi sangat berbahaya.

Keprihatinan Paulus terhadap pertumbuhan rohani tampak jelas dalam surat-suratnya kepada jemaat. Misalnya, ia menulis dalam Kolose 1:28–29:

Kami memberitakan tentang Dia dengan menegur dan mengajar setiap orang dengan segala hikmat sehingga kami dapat membawa setiap orang menjadi dewasa dalam Kristus. Untuk itulah, aku juga bersusah payah, berjuang sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Mengapa Paulus bekerja sekeras itu untuk menghadirkan setiap orang menjadi sempurna atau dewasa di dalam Kristus? Hari ini, banyak gereja hanya berfokus pada membuat orang bertobat, lalu membiarkan mereka berjalan sendiri. Dalam banyak kasus, jika orang yang baru percaya mendapat satu sesi tindak lanjut saja, itu sudah dianggap baik. Namun, kebanyakan tidak pernah mendapat pengajaran yang kokoh untuk menolong mereka bertumbuh.

Hal ini sangat kontras dengan teladan Paulus yang berjuang dengan sekuat tenaga yang diilhami Allah dengan dahsyat di dalam dirinya, untuk menghadirkan setiap orang yang telah dewasa di dalam Kristus. Ia tahu bahwa pertumbuhan adalah kunci untuk bertahan hidup, dan bahwa tingkat kematian bayi dalam kehidupan rohani sangat tinggi bila pertumbuhannya sedikit, atau tidak ada sama sekali.

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kenyataan bahwa Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa kedewasaan rohani penting bagi keselamatan. Tidak ada jaminan keselamatan bagi mereka yang tidak memiliki keinginan untuk bertumbuh di dalam Kristus, yang puas untuk tetap dalam masa bayi rohani. 1 Petrus 2:2 mengatakan:

“Sama seperti bayi yang baru lahir, hendaklah kamu selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” (TB2)

Terjemahan ini cukup setia pada teks Yunani aslinya: “supaya kamu bertumbuh menuju keselamatan”.

Keselamatan adalah sesuatu yang kita “capai” seraya kita bertumbuh.. Dengan kata lain, kita harus bertumbuh secara rohani untuk mencapai keselamatan yang penuh dan sempurna. Hal ini digaungkan dalam Efesus 4:13, yang menyatakan bahwa kita harus terus bertumbuh dalam tubuh Kristus: “sampai kita semua mencapai … manusia dewasa (teleios: sempurna, lengkap), menurut ukuran tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Pernyataan 1 Petrus 2:2 ini begitu jelas dan menonjol sehingga beberapa penyalin naskah kuno, mungkin karena bias teologis, tampaknya merasa terganggu dan menghapus kata “menuju keselamatan”. Mungkin mereka tidak nyaman dengan pengajaran bahwa hanya mereka yang bertumbuh menuju kedewasaanlah yang akan diselamatkan. 

Kami berharap kelalaian tersebut disebabkan oleh kesalahan penyalinan dan bukan manipulasi yang disengaja terhadap teks Kitab Suci. Meskipun demikian, kesalahannya serius, sebagaimana terlihat dari fakta bahwa kata-kata “menuju keselamatan” dalam 1 Petrus 2:2 tidak muncul dalam King James Version (yang didasarkan pada Textus Receptus; lih. catatan kaki). Selama berabad-abad, orang Kristen yang hanya memiliki Alkitab King James tidak pernah mengetahui keberadaan kata-kata penting tersebut, atau memiliki kesempatan untuk memahami signifikansinya bagi keselamatan.

Ketika Paulus berkata, “sehingga kami dapat membawa setiap orang menjadi dewasa dalam Kristus” (Kol 1:28), kata Yunani yang diterjemahkan “dewasa” adalah kata Yunani yang sama untuk “sempurna”. Sebenarnya, kata tersebut diterjemahkan sebagai “sempurna” di sebagian besar versi utama. Dengan demikian, Paulus sekadar—tetapi dengan penuh semangat—menerapkan instruksi Yesus dalam Matius 5:48 di dalam jemaat: “kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

“Kamu harus menjadi sempurna” adalah sebuah perintah. Kesempurnaan atau kedewasaan bukanlah sesuatu yang bersifat opsional. Kita tidak dapat berkata, “Saya senang telah diselamatkan, tetapi saya tidak akan maju seperti orang-orang Kristen yang terlalu bersemangat atau para fanatik yang telah mengikuti pelatihan penuh waktu untuk melayani Allah, orang-orang yang mempelajari Alkitab dari pagi hingga malam. Lebih baik saya tetap menjadi orang Kristen biasa, karena jika saya terlalu banyak membaca Alkitab, nanti saya tidak bisa melihat dengan jelas!”


BAGAIMANA CARA BERTUMBUH

Untuk bertumbuh, kita harus “menginginkan susu rohani yang murni” (1Pet 2:2), yaitu firman Allah. Kita harus mempelajari Alkitab dengan tekun memakai hati kita, bukan hanya pikiran kita, agar dapat bertumbuh menuju kedewasaan.

Ada dua alasan untuk hal ini. Pertama, firman Allah mengajarkan kita bagaimana membedakan yang benar dan yang salah, kebenaran dan dosa. Kedua, firman Allah menunjukkan kepada kita seperti apa Kristus itu. Kita tidak dapat bertumbuh menuju “tingkat pertum­buhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13), kecuali kita tahu seperti apa Kristus itu.

Aspek lain pertumbuhan terlihat dalam Efesus 4:12–16: kita bertumbuh melalui gereja. Sesungguhnya seluruh bagian itu berbicara tentang pertumbuhan tubuh Kristus, yaitu gereja. Pernyataan-pernyataan yang relevan meliputi: “pembangunan tubuh Kristus” (ay 12); “kepenuhan Kristus” (ay 13); “kita bukan lagi anak-anak” (ay 14); “kita akan bertumbuh di dalam segala hal kepada dia” (ay 15); “tubuh akan bertumbuh sehingga membangun dirinya sendiri dalam kasih” (ay 16).

Dalam ajaran Paulus, gereja adalah sarana utama pertumbuhan. Siapa pun yang tidak tahu bagaimana bersekutu dengan saudara-saudari seiman, atau yang menjauh dari mereka, akan sangat sulit bertumbuh. Anggota-anggota yang bersama-sama membentuk gereja, seperti anggota tubuh manusia, bertumbuh bersama. Dalam proses itu kita saling membangun; saya membangun Anda, Anda membangun saya. Itulah sebabnya hidup dan bekerja sebagai satu tim sangat efektif bagi pertumbuhan. Jika kita tidak dapat berkomitmen satu sama lain di dalam gereja, atau di dalam suatu tim di dalam gereja, kita tidak akan pernah belajar untuk berkomitmen sama sekali. Tanpa komitmen timbal balik kita tidak akan bertumbuh dalam kehidupan Kristen, dan masa depan rohani kita akan suram.

Efesus 4:16: “Darinya seluruh tubuh tersusun dan diikat bersama-sama menjadi satu melalui topangan setiap sendi. Jika masing-masing melakukan bagiannya, tubuh akan bertumbuh sehingga membangun dirinya sendiri dalam kasih.” Tubuh ini adalah tubuh Kristus, yaitu gereja.


MENGAPA “KOMITMEN TOTAL”?

Allah memperbarui kita oleh anugerah-Nya, suatu anugerah yang menjadi efektif melalui iman (Ef 2:8). Karena itu, hal ini memerlukan iman di pihak kita. Kita tidak sekadar duduk pasif dan berkata, “Allah akan melakukan semuanya.” Allah memang menyelamatkan kita, tetapi bukan tanpa kerja sama kita. Kita adalah “rekan sekerja Allah” (1Kor 3:9; bdk. 1Tes 3:2). Kerja sama dengan Allah adalah suatu ungkapan iman.

Karena arti iman sering disalahpahami dewasa ini, mari kita pertimbangkan mengapa “komitmen total” berguna sebagai definisi iman. Tentu saja, kita tidak diwajibkan untuk hanya menggunakan dua kata ini untuk mendefinisikan iman. Kita dapat memakai istilah-istilah sinonim seperti “komitmen tanpa syarat” atau “komitmen tak terbatas” atau “komitmen tanpa reservasi” sebagai pengganti “komitmen total”. Kita juga tidak diwajibkan untuk memakai kata “komitmen”. Kita dapat memakai kata-kata yang lebih tradisional seperti “ketundukan” atau “ketaatan”. Ungkapan seperti “ketundukan tanpa batas” atau “ketaatan tanpa syarat” atau “tanggapan total” pada dasarnya mengandung makna yang sama. Kita menaruh perhatian pada substansi definisinya, bukan semata pada kata-kata itu sendiri.

Yang lebih penting lagi, kita dapat mendefinisikan iman Alkitabiah dalam istilah komitmen karena definisi itu benar secara leksikografis, yaitu benar menurut makna kamus. S.C. Woodhouse, dalam English-Greek Dictionary yang terkenal, mencantumkan pisteuein (πιστεύειν, bentuk infinitif dari πιστεύω pisteuō) sebagai definisi dari “komit”.

Pisteuō adalah kata Yunani umum untuk “percaya”, “memiliki iman”, “memiliki keyakinan” pada seseorang atau sesuatu, “mempercayai” atau “mempercayakan” (atau “menyerahkan”) sesuatu atau diri sendiri kepada orang lain. Definisi-definisi ini dapat ditemukan dalam kamus Yunani–Inggris standar mana pun. Seperti banyak kata umum lainnya, pisteuō memiliki rentang makna yang cukup luas dalam pemakaian umum. Selain makna-makna yang sudah disebutkan, kata ini juga dapat berarti “menaruh kepercayaan, bergantung pada” seseorang atau sesuatu; “mematuhi, menaati”; “merasa yakin atau percaya” akan sesuatu (Liddell–Scott’s Greek–English Lexicon, Abridged, Oxford, 1972).


DUA JENIS “PERCAYA” ATAU “IMAN” YANG SANGAT BERBEDA

Ada alasan lain untuk menggunakan kata “komitmen”. Kita perlu membedakan dua hal yang sangat berbeda yang kini sama-sama disebut “iman” atau “percaya”. Kegagalan untuk membedakan keduanya akan menimbulkan kebingungan besar. Berikut ini contohnya: Jika Anda berkata kepada saya bahwa di luar sedang turun salju, saya mungkin menjawab, “Benarkah? Saya percaya. Saya percaya sedang turun salju di luar.” Namun, salju itu sama sekali tidak berpengaruh bagi saya karena saya tidak akan keluar rumah. Saya percaya pada Anda, tetapi salju itu tidak berdampak apa pun pada hidup saya. Itu tidak penting bagi saya dan tidak menuntut respons praktis apa pun.

Jika seseorang berpikir bahwa jenis kepercayaan seperti ini dapat menyelamatkannya, ia tidak memahami ajaran Alkitab. Banyak orang Kristen berkata, “Ya, saya percaya bahwa Yesus mati untuk dosa saya dan bangkit kembali.” Anda percaya semua itu dan beranggapan memiliki iman. Ya, itu memang semacam iman, tetapi bukan iman yang menyelamatkan karena tidak menuntut respons apa pun dari pihak Anda. Itu seperti berkata, “Ya, saya percaya sedang turun salju di luar.” Anda menerima pernyataan itu dengan tulus, tetapi hal itu tidak berpengaruh nyata dalam hidup Anda. Jika orang itu benar tentang salju, baiklah. Jika salah, tidak masalah. Tidak ada biaya, risiko, atau bahaya apa pun untuk mempercayainya. Silakan saja percaya!

Jenis “iman” seperti ini bukan iman yang menyelamatkan, sebagaimana diketahui para ahli Perjanjian Baru, meskipun banyak orang Kristen tidak menyadarinya. Jenis iman seperti ini disebut “persetujuan intelektual”. Jika Anda berkata kepada saya bahwa di luar sedang turun salju, saya memberi persetujuan intelektual terhadap pernyataan Anda, tetapi itu bukan iman yang menyelamatkan (lihat catatan kaki 4 di Bab 1 buku ini tentang iman sebagai komitmen total dalam kajian Perjanjian Baru).


KOMITMEN ADALAH JENIS IMAN YANG DITUNTUT ALLAH

Iman yang menyelamatkan adalah iman yang mengekspresikan dirinya dalam komitmen. Bayangkan seseorang berlari masuk sambil berteriak, “Gedung gereja terbakar!” Anda melihat sekeliling dan berkata, “Saya tidak melihat api atau mencium asap.” Akan tetapi, orang itu terus berteriak, “Gereja terbakar!” Pernyataan itu menuntut respons. Akan konyol bila saya berkata, “Baiklah, gereja terbakar. Sekarang biarkan saya kembali menikmati tehnya.” Pernyataan “Gereja terbakar” berarti, “Jika Anda tidak keluar, Anda akan mati!” Itu menuntut tanggapan total. Ini soal hidup dan mati. Jika saya sungguh percaya pernyataan itu, saya akan lari menuju pintu keluar terdekat. Komitmen pada dasarnya adalah “iman yang bekerja” atau “iman yang mengekspresikan diri” melalui tindakan (Gal 5:6).

Respons aktif dan total itulah komitmen. Komitmen ini memengaruhi cara kita hidup, berpikir, dan bertindak. Iman yang menyelamatkan adalah respons komitmen terhadap apa yang dikatakan Allah. Kita tidak diselamatkan hanya dengan percaya secara intelektual bahwa Yesus datang ke dunia; Iblis pun percaya akan hal itu. Kita juga tidak diselamatkan hanya dengan percaya bahwa Yesus mati bagi dosa kita; Iblis pun percaya akan hal itu (lih. Yak 2:19). Iman intelektual tidak mengubah hidup Anda, sedangkan iman yang menyelamatkan adalah tanggapan sepenuh hati terhadap panggilan Allah yang mengubah hidup.

Jika kita memahami pernyataan “Dia mati untuk dosa saya” sebagai berarti “Saya tidak boleh berbuat dosa lagi”, maka kita sedang menanggapi dengan komitmen. Kita memberikan respons yang berkomitmen ketika berkata, “Yesus mati untuk dosa saya; karena itu saya bertobat dari dosa saya.” Anda mendengar suatu pernyataan, lalu Anda menanggapinya dengan komitmen.

Mengapa kita menggunakan kata “total” dalam “komitmen total”? Karena Kitab Suci berulang kali mengajarkan respons yang menyeluruh: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Mar 12:30,33; Mat 22:37; Luk 10:27; Ula 6:5; 10:12; 11:13; 13:3; 30:6; Yos 22:5). Jika Anda lebih suka kata “segenap” daripada “total”, Anda boleh saja menyebutnya “komitmen segenap”. Mungkin terdengar tidak alami, tetapi maknanya sesuai dengan Kitab Suci. Bagaimana mungkin kita menanggapi dengan sesuatu yang kurang dari komitmen total kepada Allah “yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkannya bagi kita semua” (Rm 8:32)?

Sebenarnya, kata “komitmen” itu sendiri sudah mencakup makna “total”. Kata “total” hanya menegaskan hal yang sudah terkandung di dalam “komitmen”. Jika saya berkomitmen melakukan sesuatu, saya melakukannya—atau gagal melakukannya. Tidak ada setengah-setengah. Jika saya tidak melakukannya, saya gagal dalam komitmen saya. Jika saya melakukannya, saya melakukannya sepenuhnya. Jika saya berjanji memasang empat roda di mobil Anda, tetapi hanya memasang tiga, saya belum memenuhi komitmen saya. Komitmen berarti menepati janji secara utuh. “Total” ditambahkan agar watak esensial komitmen ini tidak diabaikan karena orang sering memakai kata-kata dengan makna yang merosot.

Mari kita simpulkan: yang menjadi sumber kebingungan bagi banyak orang Kristen adalah fakta bahwa kata “percaya” (dan “iman”) dapat memiliki dua makna yang sangat berbeda. Dalam kedua kasus, kata “percaya” digunakan secara benar menurut arti kamus, tetapi yang satu berkaitan dengan iman yang menyelamatkan, dan yang lain tidak. Untuk membedakan keduanya, kita menyebut iman yang menyelamatkan sebagai “komitmen total”.


MAKNA KATA-KATA ALKITAB BERASAL DARI PENGGUNAANNYA DALAM KAITANNYA DENGAN ALLAH

Ada hal penting lain dalam memahami kata-kata kunci Kitab Suci: maknanya tidak dapat sepenuhnya ditentukan hanya dari definisi kamus. Misalnya kata Yunani agapē (ἀγάπη), “kasih”. Ada beberapa kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “kasih”, masing-masing dengan nuansa berbeda. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa agapē, setelah diadopsi ke dalam Perjanjian Baru, memperoleh makna baru yang tidak dimilikinya dalam bahasa Yunani sekuler. Makna baru itu berasal dari pesan Perjanjian Baru sendiri.

Menentukan makna agapē hanya dari definisi kamus tanpa memperhatikan makna yang diberikan Perjanjian Baru berarti salah memahami maknanya. Sebab kasih Allah jauh melampaui kasih manusia sehingga tidak dapat dipahami sepenuhnya dalam istilah manusia.

Kita tidak punya pilihan selain memakai kosakata manusia tentang kasih ketika berbicara tentang kasih Allah. Akan tetapi, ketika melakukannya, kita harus senantiasa ingat bahwa yang dimaksud adalah kasih Allah, ungkapan unik dari sifat Allah yang memberi diri.

Demikian pula, saat berbicara mengenai iman atau kepercayaan, kita memberikan pengertian yang keliru terhadap istilah-istilah tersebut jika kita menggunakannya dalam arti leksikal yang murni sekuler saat secara khusus merujuk kepada Allah. Rujukan kepada Allah sebagai objek dari kata itulah yang membedakan makna Alkitabiah dari makna sekuler. Saya dapat percaya kepada manusia yang dapat dipercaya; tetapi saya tidak dapat mempercayainya dengan cara dan kadar yang sama seperti saya percaya kepada Allah. Manusia, sebaik apa pun, dapat gagal. Namun, Allah tidak pernah gagal. Bagaimana mungkin seseorang memiliki iman kepada manusia dan kepada Allah dengan cara yang sama? Itulah sebabnya objek iman juga menentukan isi iman.

Hal yang sama berlaku untuk kasih. Kita harus mengasihi Allah dan sesama manusia. Namun, kita tidak mengasihi mereka dengan cara atau pada tingkat yang sama. Bahkan manusia yang paling kita kasihi dan hormati pun tidak boleh kita kasihi setara dengan Allah. Hal yang sama berlaku bagi Yesus Kristus, sebagaimana ia nyatakan, “Siapa yang lebih mengasihi ayah atau ibunya daripada aku, tidak layak bagiku. Dan, siapa yang lebih mengasihi anak laki-laki atau anaknya perempuan daripada aku, tidak layak bagiku.” (Mat 10:37) Jika kita mengasihi siapa pun lebih daripada Yesus, kita menunjukkan bahwa kita belum mengenal siapa Yesus sebenarnya dan tidak layak baginya.

Hal yang sama juga berlaku bagi ketaatan. Kita harus taat kepada penguasa (Rm 13:1). Akan tetapi, jika para penguasa itu memaksa kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka kita “harus lebih menaati Allah daripada manusia” (Kis 5:29).

Prinsip ini berlaku dalam segala hal, baik dalam iman, kepercayaan, kasih, ketaatan, maupun komitmen. Kita berkomitmen kepada Allah dan juga kepada sesama manusia, tetapi komitmen kepada Allah selalu yang utama.

Mengenai iman keselamatan, kita harus selalu ingat bahwa Allah yang kekal sendiri, bukan sekadar manusia, yang dalam Kristus menjadi Objek iman kita. Dapatkah ada tanggapan terhadap Allah yang kekal, Sang Pencipta dan Penebus kita, yang kurang dari total? Dapatkah iman kepada Anak Allah, Yesus Kristus, berupa sesuatu yang kurang dari kepercayaan, ketaatan, dan komitmen yang sepenuhnya?

Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨