Pastor Eric Chang | Bab 5 |
BERKAT KEDUA?
Sungguh memprihatinkan bahwa banyak orang Kristen lamban memahami hal-hal dasar dalam kehidupan Kristen. Banyak yang menjalani hidup kekristenannya tanpa mengalami kenyataan kelahiran kembali dan hidup yang baru di dalam Kristus. Akibatnya, beberapa orang Kristen berpikir bahwa yang mereka butuhkan adalah “berkat kedua”, sebagaimana disebut dalam beberapa gereja. Pemeriksaan terhadap berkat kedua ini dalam terang firman Allah menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya tidak lain adalah pengalaman kelahiran kembali, dan bukan sesuatu yang tambahan darinya. Tidak ada apa pun dalam berkat kedua yang tidak termasuk di dalam kelahiran kembali.
Akan tetapi, jika dengan “berkat kedua” seseorang mengacu secara eksklusif atau terutama pada pengalaman berbicara dalam bahasa roh, maka berkat kedua itu tidak selalu berasal dari kelahiran kembali. Artinya, seseorang yang berbicara dalam bahasa roh tidak selalu berarti telah dilahirkan kembali. Siapa pun yang belum lahir baru—lahir dari atas—tidak dapat dipenuhi dengan Roh. Mendorong seseorang yang belum dilahirkan kembali untuk berbicara dalam bahasa roh dapat membuatnya jatuh ke dalam penipuan diri atau penipuan Iblis. Mendorong orang “Kristen” yang belum bertobat dari dosanya atau belum menyerahkan hidupnya kepada Allah untuk berbicara dalam bahasa roh berarti menempatkan mereka dalam risiko dipenuhi oleh roh yang salah, yaitu roh jahat. Hal ini, sayangnya, telah sering terjadi.
Saya telah membaca banyak kisah orang yang mengalami apa yang disebut “berkat kedua”. Hal-hal baru yang mereka alami seharusnya merupakan bagian dari “berkat pertama”, yaitu kelahiran kembali, yang sebenarnya belum mereka alami sejak awal. Misalnya, mereka berbicara tentang kedekatan yang diperbarui dengan Allah, atau tentang kesadaran akan kehadiran Allah, atau sukacita batin yang mendalam. Semua hal ini sesungguhnya merupakan bagian dari kelahiran kembali yang seharusnya dialami pada awal kehidupan baru dalam Kristus.
Beberapa orang dalam “berkat kedua” menyadari perlunya berhenti hidup dengan kekuatan sendiri dan mulai hidup oleh kuasa Roh yang diam di dalam diri mereka, yang diberikan kepada mereka yang menjadi milik Kristus. Hal ini pun merupakan bagian dari pengalaman dasar kelahiran kembali. Satu-satunya berkat mendasar yang Allah berikan kepada kita adalah berkat kelahiran kembali.
Banyak orang Kristen menerima gagasan tentang berkat kedua karena mereka salah memahami kelahiran kembali, atau mereka belum pernah mengalaminya. Mereka mungkin telah bertahun-tahun menghadiri gereja tanpa mengalami kehidupan Kristen yang berkelimpahan. Gagasan tentang berkat kedua sangat menarik di dunia Barat di mana banyak orang telah dibaptis sebagai bayi, atau telah bertobat dalam pertemuan penginjilan, tetapi tanpa mengalami kelahiran dari atas dalam arti Alkitabiah. Mereka mengira bahwa keputusan awal mereka untuk menerima Kristus sama dengan kelahiran kembali. Namun tidak lama kemudian, mereka menghadapi masalah rohani dan menemukan bahwa kehidupan Kristen mereka tidak memuaskan. Mereka mencari sesuatu yang lebih baik, dan ketika mereka menemukannya, mereka menyebutnya “berkat kedua”.
Ajaran tentang berkat kedua yang dianut oleh saudara-saudara kita dari kalangan Pentakosta dan Karismatik telah menimbulkan banyak perdebatan di dalam gereja. Orang Kristen dari kalangan lain mungkin berkata kepada kaum karismatik, “Kalian salah. Kami menerima Roh Kudus ketika kami dilahirkan kembali.” Itu mungkin benar secara teori, tetapi kaum karismatik juga benar ketika menjawab, “Tetapi kalian belum mengalami kepenuhan Roh, bukan?”
Kebingungan ini muncul karena sebagian pengajar telah membagi kelahiran kembali menjadi dua berkat: yang pertama dan yang kedua. Untuk menghilangkan kesalahpahaman ini, marilah kita melihat tujuh tanda kelahiran kembali sebagaimana kita temukan dalam tulisan-tulisan Yohanes. Ketujuh tanda ini merupakan bagian dari kelahiran kembali, dengan atau tanpa “berkat kedua”.
TUJUH TANDA KELAHIRAN KEMBALI
Dalam bab sebelumnya kita hanya membahas satu tanda kelahiran kembali: kemenangan. Tanda ini pada akhirnya merupakan akibat dari tujuh tanda yang akan kita bahas.
Orang yang telah dilahirkan kembali selalu hidup dalam kemenangan. 1 Yohanes 5:4 mengatakan, “Sebab, apa pun yang lahir dari Allah mengalahkan dunia, dan inilah kemenangan yang telah mengalahkan dunia, yaitu iman kita.” Kita sudah membahas hal ini cukup rinci, jadi kita tidak akan mengulanginya. Namun, ada baiknya kita mengingat fakta penting bahwa setiap orang Kristen yang telah dilahirkan kembali hidup dalam kemenangan. Jika kehidupan Kristen Anda dipenuhi kekalahan, pasti ada sesuatu yang secara mendasar salah di dalamnya. Mungkin Anda memerlukan kelahiran kembali.
Sekarang marilah kita mempertimbangkan tujuh tanda kelahiran kembali dalam tulisan-tulisan Yohanes: Injil Yohanes, surat-surat Yohanes, dan kitab Wahyu.
TANDA PERTAMA: KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH
Dalam Yohanes 1:12–13 kita membaca:
Namun, mereka yang menerima dia diberinya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada namanya. Mereka lahir bukan dari darah atau keinginan daging, atau dari keinginan laki-laki, melainkan dari Allah.
Dalam kelahiran kita secara alami atau jasmani, kita memang “lahir dari darah”, dan “dari keinginan daging”, serta “dari keinginan laki-laki”. Akan tetapi, dalam kelahiran rohani, kita “lahir dari Allah”.
Pernyataan “diberinya kuasa (atau otoritas) untuk menjadi anak-anak Allah” sangat dalam maknanya, dan membutuhkan satu khotbah penuh untuk menguraikannya. Untuk tujuan kita sekarang, kita akan berfokus pada kata “kuasa” yang digunakan oleh Yohanes. Tanpa kuasa Allah, kita tidak dapat menjadi anak-anak Allah karena kita tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan diri sendiri atau untuk membuat diri kita lahir baru. Kuasa Allah melalui Roh-Nya di dalam hidup kitalah yang membuat kita lahir dari atas. Kita tidak dapat menjadi orang Kristen sejati dalam arti Alkitab tanpa kuasa Allah. Inilah doktrin dasar tentang anugerah.
Kuasa untuk menjadi anak-anak Allah bukanlah pengalaman satu kali. Pada saat ini juga, jauh setelah kita dilahirkan kembali, kita terus hidup sebagai anak-anak Allah oleh kuasa yang sama.
Ada orang yang ingin hidup sebagai orang Kristen sejati, tetapi gagal total karena kekurangan kuasa. Kekristenan sejati bagi mereka menjadi cita-cita yang tak terjangkau. Kita mungkin menyanyikan himne “Oh, menjadi serupa Engkau” dengan sepenuh hati, tetapi dapatkah kita mencapainya dalam praktik? Sama sekali sia-sia mencoba menjalani kehidupan Kristen dengan kekuatan sendiri. Hal itu hanya akan membawa kita ke dalam lingkaran tak berujung dari permohonan ampun dari pagi hingga malam: “Tuhan, ampunilah saya, Tuhan, ampunilah saya.” Permohonan ampun yang menyedihkan ini adalah akibat dari ketidakberdayaan untuk hidup sebagai orang Kristen.
Ada pula yang berpikir bahwa menghabiskan sepanjang hari memohon ampun adalah tindakan saleh. Tentu ada tempat bagi pertobatan dan pengampunan, tetapi bukankah kehidupan Kristen lebih dari sekadar itu?
Buah Roh—kasih, sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya—memberikan gambaran tentang kekayaan rohani. Namun, jika kehidupan Kristen kita hanyalah siklus tanpa akhir dari pengakuan dan pengampunan, pada dasarnya kita menyalahkan Allah karena tidak memberi kita kekuatan untuk hidup dalam kelimpahan. Sudahkah kita mengalami kenyataan hidup yang diberdayakan oleh Allah? Bukankah seharusnya kita hidup dengan cara yang memuliakan nama-Nya?
Jika kita terus-menerus meminta pengampunan, kita sedang menyatakan salah satu dari dua hal. Hanya ada dua kemungkinan logis; saya tidak dapat memikirkan yang ketiga. Entah kita tidak mau hidup sebagai anak-anak Allah (yang berarti keselamatan kita diragukan), atau kita tidak mampu (yang berarti keselamatan kita juga diragukan).
Apakah Anda tidak mau atau tidak mampu? Jika Anda tidak mau, bagaimana Anda bisa menganggap diri Anda anak Allah? Jika Anda tidak mampu, Anda perlu menerima kuasa keselamatan Allah dalam hidup Anda.
Tentu saja tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna pada masa kini. Sesekali kita melakukan hal-hal yang tidak pantas bagi anak-anak Allah sehingga kita perlu memohon pengampunan Tuhan. Kita gagal karena kita ceroboh, bukan karena kuasa Allah kurang memadai. Kuasa Allah sudah tersedia, tetapi kita gagal untuk menggunakannya.
Pada zaman ini ada banyak orang Kristen yang lemah, yang tidak memberi kesan apa pun bagi dunia yang tidak percaya. Orang yang tidak percaya melihat orang Kristen sebagai sosok yang biasa-biasa saja: “Kalau orang Kristen seperti itu, mengapa saya harus menjadi Kristen?”
Apakah Anda manusia baru di dalam Kristus? Apakah Anda hidup sebagai anak Allah yang menikmati manisnya persekutuan dengan-Nya? Saya menyebut “sebuah tingkat kemanisan” karena kita masih bertumbuh di dalam Tuhan, dan kemanisan itu akan semakin manis. Kehidupan Kristen kita mungkin belum sempurna dalam setiap rinciannya, tetapi seharusnya memiliki kualitas yang pantas bagi seorang anak Allah.
Kuasa atau wewenang yang Allah berikan kepada kita adalah nyata dan dapat dialami. Isunya adalah: apakah Allah itu nyata atau tidak. Jika Dia tidak nyata, maka tidak ada kuasa rohani yang bisa dibicarakan. Kita mungkin mencoba membangkitkan perasaan psikologis atau berusaha dengan kekuatan sendiri, tetapi itu hanyalah reformasi moral melalui usaha manusia yang tidak ada hubungannya dengan keselamatan Alkitabiah.
Namun, jika Allah itu nyata, maka kuasa-Nya tersedia bagi kita. Orang yang telah dilahirkan kembali mengalami kuasa pemeliharaan Allah, dan menyadari kenyataan kehadiran-Nya. Mereka tahu bahwa kuasa itu tidak berasal dari diri mereka sendiri, melainkan dari Allah. Jika Allah hanya merupakan konsep teoretis atau abstraksi psikologis bagi kita, maka kita masih belum dilahirkan kembali.
Semua ini bersifat progresif. Allah akan menjadi semakin nyata bagi Anda seiring dengan pengalaman akan karya-Nya di dalam dan melalui diri Anda. Ketika mata kita semakin terbuka, suatu hari kita mungkin akan mendapat penglihatan seperti yang diberikan kepada Elisa dan hambanya (2Raj 6:17). Dikelilingi oleh musuh yang kuat dan berbahaya, mereka diberi penglihatan tentang tentara Yahweh dan kereta-kereta berapi. Meskipun Elisa hidup pada zaman Perjanjian Lama, ia melampaui kebanyakan orang Kristen dalam hal mengenal Allah yang hidup. Jika kita sungguh dilahirkan kembali, kita pun akan mengenal Allah secara nyata, sekalipun pengetahuan kita tentang Dia masih pada tahap awal.
TANDA KEDUA: MELIHAT KERAJAAN ALLAH
Yesus berkata kepada Nikodemus, seorang guru terkemuka bangsa Yahudi:
“Sesungguhnya, aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, dia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yoh 3:3)
Bentuk positif pernyataan penting ini adalah: Jika seseorang telah dilahirkan kembali, ia akan melihat Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah. Setiap orang yang telah dilahirkan kembali melihat pemerintahan Allah, bahkan di dunia yang gelap ini, di mana pemerintahan-Nya tersembunyi dari mata jasmani. Manusia jasmani melihat ke sana ke mari, tetapi tidak melihatnya. Namun manusia rohani, dengan mata iman, melihat melampaui keadaan yang tampak dan menangkap penglihatan akan pemerintahan Allah.
Orang Aram berusaha menangkap Elisa (2Raj 6:13) karena mereka merasa lebih terganggu olehnya daripada oleh seluruh tentara Israel. Bagaimana mungkin satu orang menimbulkan begitu banyak masalah bagi mereka? Itu karena Elisa, seorang nabi, mengetahui segala hal yang dibicarakan raja Aram dalam pertemuan rahasianya (ay. 8–9, 12). Itulah sebabnya sang raja heran, “Bagaimana orang Israel tahu rahasia kita?” Para penasihatnya menjawab bahwa Elisa mengetahui setiap kata yang diucapkan raja. Hal itu membuatnya lebih berbahaya daripada semua tentara dan kereta perang Israel.
Akhirnya tentara Aram menemukan tempat Elisa dan mengepungnya. Pagi-pagi, pelayan Elisa bangun dan melihat pasukan besar dengan kuda dan kereta perang. “Pelayan” yang panik itu berseru kepada Elisa, “Celaka Tuanku! Apa yang akan kita lakukan?” (ay. 15). Elisa menjawab, “Jangan takut, karena yang bersama dengan kita lebih banyak daripada yang bersama dengan mereka.” Elisa memiliki damai sejahtera yang sempurna karena ia mengenal Allah yang hidup. Damai seperti ini tidak dapat dipahami—bahkan tampak tidak masuk akal—bagi mereka yang tidak mengenal pemerintahan Allah yang hidup. Elisa berdoa, “Ya Yahweh, kiranya Engkau membuka matanya supaya dia dapat melihat.” Dan apa yang dilihat oleh pelayannya? “Ternyata, gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi yang mengelilingi Elisa.” (ay. 17) Tentara besar Allah Yahweh ada di sana untuk menjaga hamba-Nya.
Pontius Pilatus, yang memegang kuasa Romawi atas Yudea, berkata kepada Yesus, “Apakah engkau tidak tahu bahwa aku memiliki kuasa untuk membebaskanmu dan memiliki kuasa untuk menyalibkanmu?” Akan tetapi, Yesus menjawab, “Engkau tidak memiliki kuasa apa pun atas diriku, kecuali kuasa itu diberikan kepadamu dari atas.” (Yoh 19:10–11) Yesus tahu bahwa hidupnya ada di tangan Bapanya, bukan di tangan Pilatus. Pilatus tidak dapat melakukan apa pun terhadap Yesus, bahkan tidak dapat menyentuh sehelai rambutnya, kecuali jika diizinkan oleh Bapanya.
Jika kita mengaku telah dilahirkan kembali, apakah kita melihat pemerintahan Allah? Di dunia yang dipenuhi polusi, pertikaian, ketidakstabilan ekonomi, dan penyakit mematikan, di manakah pemerintahan Allah dapat dilihat? Namun, orang yang lahir dari Roh melihat pemerintahan Allah.
Pemerintahan Allah Yahweh adalah unsur pertama dan paling mendasar dari penglihatan kenabian. Penglihatan pertama Yesaya adalah “Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang” (Yes 6:1). Itu adalah penglihatan tentang pemerintahan Allah. Pada ayat 5 Yesaya berseru, “Celakalah aku … mataku telah melihat Sang Raja, Yahweh semesta alam!” Penglihatan tentang Tuhan sebagai Raja itu mendominasi seluruh pelayanan dan pewartaan kenabian Yesaya. Ketika Israel yang kecil dikepung oleh kekuatan besar seperti Mesir, Asyur, dan Babel, Yesaya memandang situasi dunia dan menyatakan, “Mataku telah melihat Sang Raja, Yahweh semesta alam.” Di tempat lain Yesaya menyatakan, “Allahmu memerintah!” (Yes 52:7; bdk. 43:15, 44:6).
Penglihatan Yeremia tentang pemerintahan Allah tampak dalam kata-katanya, “Apakah Yahweh tidak ada di Sion? Apakah rajanya tidak ada di sana?” (Yer 8:19).
Nabi besar Daniel tidak menggunakan sebutan “Raja” bagi Allah Yahweh, karena gelar “raja segala raja” sudah dipakai oleh Nebukadnezar (Dan 2:37). Daniel merasa bahwa gelar “raja” telah kehilangan maknanya sehingga ia menyebut Allah Yahweh dengan gelar tertinggi: “Yang Mahatinggi” (enam kali dalam Daniel pasal 4). Dengan itu Daniel sebenarnya berkata kepada Nebukadnezar, “Engkau menyebut dirimu raja segala raja, tetapi ada satu gelar yang tertinggi secara hakikat: ‘Yang Mahatinggi’. Yang Mahatinggi lebih tinggi daripadamu, hai raja segala raja.” Dalam Daniel 5:18, Daniel menyebut Belsyazar “raja”, tetapi menyebut Allah sebagai “Allah Yang Mahatinggi.”
Nabi Zakharia senang menggunakan sebutan “Sang Raja, Yahweh semesta alam” (Zak 14:17). Zefanya berbicara tentang “Raja Israel, Yahweh” (Zef 3:15). Kita bisa menelusuri lebih jauh melalui para nabi lainnya (misalnya Mal 1:14). Setiap nabi, dari Elisa hingga Yesaya, dari Yeremia hingga Daniel, dari Zefanya hingga Zakharia, melihat Allah Yahweh sebagai Raja.
Penglihatan Elisa tentang pemerintahan Allah begitu kuat sehingga ia tidak terkesan dengan para raja dunia. Ia berkata kepada raja Israel, “Apa urusanku? … Demi Yahweh semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan. Jika bukan karena Yosafat, raja Yehuda (raja yang saleh), aku tidak akan mengangkat pandanganku untuk melihat sekali pun terhadapmu.” (2Raj 3:13–14) Penglihatan kenabian membuat seseorang melihat Allah sebagai Yang Mahatinggi, Raja segala raja sejati yang melaksanakan rencana-Nya di dunia. Demikian pula, mereka yang telah dilahirkan kembali akan “melihat” kerajaan atau pemerintahan Allah. “Allahmu memerintah!” (Yes 52:7).
Apakah kita memiliki penglihatan ini? Kita harus, seperti Paulus, memandang kepada hal-hal yang kekal, bukan kepada yang fana (2Kor 4:18). Jika kita melihat pemerintahan Allah, pandangan nilai kita akan diubah secara radikal. Dulu fokusnya pada hal-hal duniawi yang sementara, tetapi kini beralih pada hal-hal rohani yang kekal.
Apakah Anda telah dilahirkan dari Roh? Lihatlah sistem nilai yang Anda pegang. Mana yang lebih penting bagi Anda, yang sementara atau yang kekal? Bagaimana Anda memandang pekerjaan Anda, karier Anda, atau masa depan Anda di dunia? Nilai-nilai apa yang menentukan keputusanmu? Jika Anda telah dilahirkan kembali, Anda akan memiliki sistem nilai yang baru melalui pembaruan budi (misalnya Roma 12:2).
TANDA KETIGA: DIKENDALIKAN OLEH ROH
Angin bertiup ke mana pun ia mau, dan kamu mendengar bunyinya, tetapi kamu tidak tahu dari mana asalnya dan ke mana ia akan pergi. Begitu juga dengan setiap orang yang dilahirkan dari Roh. (Yoh 3:8)
Kita dapat memahami makna kata “angin” dalam ayat ini jika kita menyadari bahwa kata “angin” dan kata “Roh” adalah satu kata yang sama dalam bahasa Yunani asli Injil Yohanes.
Angin bertiup ke mana pun ia mau, dan kita tidak dapat menebak ke mana arah berikutnya. Setiap pelaut tahu bahwa angin itu tidak menentu. Ia harus selalu memperhatikan tiang layar, karena tiang itu dapat tiba-tiba berputar dan memukul kepalanya. Ada orang yang tenggelam setelah terpukul oleh tiang layar dan terjatuh ke laut.
Angin bertiup ke mana pun ia mau. Penunjuk arah angin berputar mengikuti tiupan angin.
Kemudian Yesus membuat pernyataan yang mengejutkan: “Begitu juga dengan setiap orang yang dilahirkan dari Roh.” Roh Kudus—“angin” Roh—berdaulat di dunia ini dan melaksanakan maksud Allah. Roh bertindak sesuai dengan hikmat dan kuasa Allah, dan tidak dikendalikan oleh manusia.
Pikiran Allah tidak dapat dipahami dengan ukuran manusia. Pikiran-Nya jauh lebih tinggi daripada pikiran kita. “Siapakah yang dapat mengatur Roh Yahweh atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” (Yes 40:13). “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau, siapakah yang dapat menjadi penasihat-Nya?” (Rom 11:34). Kita mungkin tidak dapat menyelami kedalaman pikiran Allah, tetapi ketika Allah bekerja dalam hidup kita, Ia melakukannya untuk kebaikan rohani kita.
“Begitu juga dengan setiap orang yang dilahirkan dari Roh”—setiap orang yang telah dilahirkan kembali hidup di bawah kendali Roh, dan bertindak sesuai dengan pimpinan ilahi. Jika kita mengaku telah dilahirkan dari Allah, apakah kita hidup di bawah kendali Roh? Jika Roh berkata kepada Anda untuk pergi ke arah ini, apakah Anda pergi ke arah ini; atau ke arah itu, dan Anda menuruti-Nya?
Jika ya, Anda pun akan menjadi tidak dapat diprediksi dan sulit dimengerti oleh manusia duniawi. Mereka tidak memahami kamu, karena manusia duniawi tidak mengerti atau menerima hal-hal dari Roh, sebab semuanya itu tampak sebagai kebodohan baginya (1Kor 2:14). Itulah sebabnya manusia duniawi tidak dapat memahami Anda jika hidup Anda dikendalikan oleh Roh Allah.
Anda mungkin sedang memiliki karier yang gemilang dan penghasilan yang baik, tetapi tiba-tiba Roh campur tangan, dan Anda berbalik arah sepenuhnya. Orang-orang pun bingung: “Apa yang terjadi padanya? Ia berhenti dari pekerjaannya dan ingin melayani Allah. Ia menghabiskan waktu membaca Alkitab, bukan lagi majalah kesukaannya.” Manusia duniawi tidak mengerti Anda karena hidup Anda diarahkan oleh Roh Allah.
Namun, manusia rohani mengerti hal-hal rohani. Jika Anda dikendalikan oleh Roh yang sama yang memimpin manusia rohani itu, ia akan sangat memahami Anda. Itulah sebabnya mereka yang hidup di bawah kendali Roh memiliki satu hati dan satu pikiran karena Roh yang sama bekerja di dalam semuanya. Akan tetapi, bila ada ketidakharmonisan, pasti ada seseorang yang tidak hidup di bawah pimpinan Roh Allah. Orang inilah yang akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam jemaat. Jika hal ini terjadi, mereka yang bertanggung jawab atas kesejahteraan jemaat harus waspada dan segera bertindak.
Apakah Anda memahami hal-hal dari Allah? Ataukah justru dunia yang lebih memahami Anda? Anda patut khawatir jika dunia memahami Anda dengan baik. Namun, jika dunia tidak memahami Anda, bersyukurlah, karena mungkin Anda sedang hidup di bawah kendali Roh.
Apakah dunia menganggap Anda mudah ditebak? Apakah Anda pergi ke mana uang atau reputasi berada? Apakah Anda tertarik pada uang seperti lebah pada madu, atau seperti kecoak pada sampah? Itulah sebabnya orang Kristen kehilangan kesaksian di dunia sekarang ini. Orang yang tidak percaya berkata kepada mereka, “Kalian, orang Kristen, sama saja seperti kami. Kalian mengejar hal-hal yang kami kejar: uang dan kedudukan.” Orang tidak percaya tidak akan tersentuh oleh apa pun yang mereka lihat pada orang Kristen semacam itu. Namun, jika orang-orang non-Kristen bereaksi terhadap Anda dengan rasa takjub, atau bahkan permusuhan maupun kebingungan, itu hal yang baik! Setidaknya, Anda memberikan dampak! Setidaknya manusia duniawi menganggap Anda tidak dapat diprediksi dan sulit dimengerti, seperti Roh Allah sendiri.
Kehidupan Kristen kita seharusnya membuat orang yang tidak percaya berkata, “Saya tidak mengerti dia. Mengapa dia bisa seperti itu?” Itu tanda yang baik! Ia sedang bertanya-tanya, dan mungkin menemukan jawaban yang menuntunnya ke dalam Kerajaan Allah. Banyak orang, termasuk rasul Paulus, memasuki kerajaan Allah setelah sebelumnya menentang Allah dengan keras.
Apakah hidup Anda dikendalikan oleh Roh Allah Yahweh? Jika tidak, tidak ada kelahiran kembali yang bisa dibicarakan. Hidup di bawah kendali Allah merupakan tanda setiap hamba Allah, setiap orang yang lahir dari Allah.
Ketika D.L. Moody, hamba Allah yang besar itu, menjalani jadwal pelayanan yang padat di Inggris, ia sudah penuh dengan undangan untuk pertemuan penginjilan. Suatu gereja besar mengundangnya untuk berbicara, tetapi ia menolak karena jadwalnya sudah terlalu penuh. Gereja itu merasa tersinggung. “Undangan gereja kami yang terkenal ini adalah suatu kehormatan besar. Kami mengundang Anda, tetapi Anda menolak.” Dalam rapat majelis, seseorang berdiri dan berkata, “Karena kita sudah mengundang Pak Moody dan dia tidak datang, saya usulkan bahwa dia tidak memiliki monopoli atas Roh Kudus. Kita bisa mengundang orang lain.” Seorang saudara lain berdiri dan berkata kepada ketua, “Bolehkah saya bicara?” Ketua menjawab, “Silakan.” Lalu ia berkata, “Saya kira alasan kita mengundang Pak Moody bukan karena dia memiliki monopoli atas Roh Kudus, tetapi karena Roh Kudus memiliki monopoli atas dirinya!”
Itulah inti dari Yohanes 3:8. Angin bertiup ke mana pun ia mau, begitu juga dengan setiap orang yang lahir dari Roh Allah. Roh Kudus memiliki kendali penuh atas orang yang melakukan apa pun yang Roh suruh untuk ia lakukan.
TANDA KEEMPAT: MELAKUKAN KEBENARAN
Kita sampai pada poin keempat. Saya mengikuti urutan di mana kelahiran kembali disebutkan dalam tulisan Yohanes. 1 Yohanes 2:29 mengatakan,
“Jika kamu tahu bahwa Dia adalah benar, kamu juga tahu bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran, lahir dari Dia.”
Sekali lagi, tidak sulit untuk melihat pesan dasarnya: Jika Allah adalah benar, dan jika kita lahir dari Allah, kita memiliki sifat-Nya. Karena kebenaran menjadi ciri dari perbuatan-perbuatan-Nya, kita pun “melakukan kebenaran.” Seperti kata pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Dalam bahasa Yunani, kata “mempraktekkan (atau melakukan) kebenaran” berada dalam bentuk waktu sekarang yang sedang berlangsung, yang menunjukkan kegiatan yang berkesinambungan.
Apa artinya “melakukan kebenaran”? Artinya adalah melakukan apa yang benar di mata Allah. Standar kebenaran Allah sering kali menyinggung pikiran manusia. Apakah itu menyinggung kita atau tidak, akan tergantung pada apakah kita sendiri sedang melakukan kebenaran atau tidak. Ketika Stefanus berdiri dan berbicara menyampaikan firman Allah dalam kebenaran, para pendengarnya menutup telinga mereka sambil berteriak (Kis 7:57), lalu mereka merajam dia sampai mati karena hidupnya benar, sementara hidup mereka tidak.
Untuk lebih memahami arti “melakukan kebenaran”, mari kita lihat Kisah 10:35 yang menggunakan bahasa serupa:
“Namun, di setiap bangsa, orang yang takut akan Dia dan melakukan apa yang benar, berkenan kepada-Nya.”
Seluruh kisah itu menceritakan bagaimana Allah mengatur pertemuan antara Petrus dan Kornelius, seorang perwira Romawi yang takut akan Allah, seorang perwira pasukan. Pertemuan itu akhirnya membawa kepada peristiwa penting: Kornelius dan seisi rumahnya menerima Roh Kudus. Kemudian Petrus harus menjelaskan kepada orang-orang Yahudi mengapa Roh Kudus juga diberikan kepada Kornelius, seorang bukan Yahudi. Dalam ayat 34 ia berkata, “Sekarang, aku benar-benar mengerti bahwa Allah tidak menunjukkan keberpihakan.” Itu benar sekali, sebab Allah memberikan Roh-Nya kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi tanpa membeda-bedakan. Dalam ayat 35, Petrus menjelaskan lebih lanjut mengapa Allah berkenan kepada Kornelius: “di setiap bangsa, orang yang takut akan Dia dan melakukan apa yang benar, berkenan kepada-Nya.”
Allah menerima Anda dan saya bukan karena kita pandai berbicara dengan bahasa rohani atau memiliki pengetahuan Alkitab, tetapi karena kita melakukan kebenaran, bukan dengan kekuatan kita sendiri, melainkan oleh kuasa Allah yang memampukan kita. Dengan kata lain, Allah menerima kita ketika kita hidup sesuai dengan kuasa yang telah Ia sediakan bagi kita. Jika kita terus-menerus berkata, “Ampuni saya, Tuhan”, berulang kali tanpa berubah, mungkin Ia akan berhenti mendengarkan kita karena kita tidak hidup sesuai dengan kuasa yang telah Ia berikan.
Allah menerima Kornelius karena ia takut akan Allah dan melakukan apa yang benar. Apa jenis kebenaran yang ia lakukan? Kisah 10:3–4 memberi jawabannya. Seorang malaikat Allah menampakkan diri kepada Kornelius dalam sebuah penglihatan dan memanggil, “Kornelius!” Dengan gemetar ketakutan, Kornelius menjawab, “Apa ini, Tuan?” Malaikat itu berkata, “Doa-doamu dan sedekah-sedekahmu telah naik sebagai suatu peringatan di hadapan Allah. Sekarang, suruhlah orang-orang ke Yope dan panggillah seseorang bernama Simon, yang juga disebut Petrus.”
Kita sering berpikir bahwa ketika Allah berbicara kepada kita, pasti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Mengapa kita memiliki konsep seperti itu tentang Allah? Ia mungkin ingin berbicara kepada Anda untuk membawa kabar baik, bahkan untuk memberitahu Anda bahwa doa-doa dan sedekah Anda telah naik sebagai peringatan di hadapan-Nya!
Apakah kita memiliki peringatan di hadapan Allah? Peringatan Kornelius adalah kebenaran yang ia lakukan. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa hal itu hanya berlaku bagi Kornelius. Kebenaran yang Anda lakukan juga akan menjadi peringatan di hadapan Allah, mengingatkan Allah akan diri Anda dan perbuatan Anda. Allah kita adalah Allah yang memperhatikan perbuatan manusia, baik yang baik maupun yang jahat (“Aku tahu perbuatan-perbuatanmu”, yang muncul tiga kali hanya dalam Wahyu pasal 3, ayat 1, 8, dan 15). Alangkah baiknya jika kita memiliki lebih banyak peringatan di sana, agar Ia mengingat perbuatan kita—dan kita!
Jika Anda ingin Allah mengingat Anda, mulailah membangun peringatan melalui doa dan pemberian. Kornelius, perwira pasukan Italia, adalah seorang yang saleh dan takut akan Allah bersama seluruh keluarganya. Ia banyak memberi sedekah kepada orang Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah (Kis 10:1–2). Ia memberi kepada orang miskin dengan murah hati, bukan sekadar menjatuhkan beberapa koin kecil ke dalam kotak amal.
Memberi kepada mereka yang membutuhkan adalah pelayanan penting umat Allah. Itu adalah wujud nyata dari kasih dan doa. Secara rohani maupun praktis, Kornelius terbukti tidak kekurangan apa pun. Sebuah peringatan tentang perbuatannya berdiri di hadapan Allah, dan Allah mengutus rasul Petrus kepadanya supaya ia dan seisi rumahnya menerima Roh Kudus.
Seperti Kornelius melakukan kebenaran, demikian juga setiap orang yang lahir dari Allah. Setiap orang yang dilahirkan kembali akan memberi dengan murah hati kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Saya bersyukur kepada Allah karena banyak orang yang telah menguatkan hati saya melalui kepedulian mereka yang nyata dan murah hati terhadap orang-orang yang membutuhkan serta dalam mendukung pekerjaan Tuhan. Saya tidak ragu bahwa mereka memiliki peringatan di hadapan Allah.
Namun, ada sisi lain: doa. Sebagai umat Allah kita saling mendoakan, menopang satu sama lain bukan hanya secara materi, tetapi juga secara rohani; dan bukan hanya secara rohani, tetapi juga secara materi. Kedua hal itu berjalan beriringan.
TANDA KELIMA: TIDAK BERBUAT DOSA
Untuk poin kelima, kita beralih ke 1 Yohanes 3:9, sebuah ayat yang sering menimbulkan kesulitan bagi sebagian orang: “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa karena benih Allah tinggal di dalam dirinya, dan dia tidak dapat berbuat dosa karena dia telah dilahirkan dari Allah.”
Dalam zaman ini, tidak ada ayat yang lebih penting untuk ditekankan selain ayat ini. Banyak gereja dewasa ini mengatakan bahwa kekudusan itu bersifat opsional, tidak penting, dan tidak relevan dengan keselamatan. Karena alasan inilah, kita harus memberitakan panggilan Alkitab untuk hidup kudus dengan kesungguhan yang lebih besar.
Kitab Suci dengan jelas menyatakan, “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa.” Ini adalah kata-kata yang mengejutkan. Sebagian orang Kristen melunakkan kata-kata ini, tetapi saya tidak memiliki “keberanian” semacam itu. Saya tidak berani mengurangi atau menyelewengkan firman Allah. Pernyataan tersebut disampaikan tanpa ambiguitas apa pun: “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa.” Bila kita lahir dari Allah, kita tidak akan berbuat dosa secara sengaja atau terus-menerus.
Paulus mengajarkan hal yang sama, sebagaimana telah kita lihat. Roma pasal 6 berulang kali menegaskan bahwa kita telah dibebaskan dari kuasa dosa: kita tidak lagi menjadi hamba dosa (ay. 6); siapa yang telah mati, telah bebas dari dosa (ay. 7).
Jika hidup kita tidak menunjukkan bukti kekudusan, itu berarti kita belum menjadi manusia baru, sekalipun kita mengaku sebagai orang Kristen. Namun, ketika kita dilahirkan kembali, kehidupan baru dalam diri kita membuat kita kehilangan keinginan untuk berbuat dosa, dan kita mendapati diri kita tidak lagi berada di bawah paksaan untuk berbuat dosa. Bila kedua hal ini hadir—tidak ada keinginan untuk berbuat dosa dan bebas dari paksaan untuk berbuat dosa—masih adakah alasan bagi kita untuk tidak hidup kudus?
Ini tidak berarti bahwa kita sama sekali tanpa dosa. Ada orang yang membaca pernyataan “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa” seolah-olah berarti “Orang yang lahir dari Allah sama sekali tidak dapat berbuat dosa.” Orang yang dilahirkan kembali tidaklah sempurna tanpa dosa dalam arti tidak mungkin berbuat dosa. Apakah Adam tanpa dosa? Ya, untuk sementara waktu, tetapi hanya dalam arti bahwa ia belum berbuat dosa. Namun, ia tidak mutlak tanpa dosa atau sempurna secara absolut. Fakta bahwa ia akhirnya jatuh ke dalam dosa membuktikannya.
Seorang bayi yang baru lahir di buaian belum pernah berbuat dosa, dan sama sucinya seperti Adam sebelum jatuh. Namun, bayi itu memiliki potensi untuk berdosa sejauh ia memiliki daging (seperti Adam). Ketika ia bertumbuh, cepat atau lambat ia akan melakukan dosa nyata. Bayi itu, seperti halnya Adam, memiliki tubuh daging yang cenderung kepada dosa. Selama kita masih di dalam tubuh daging ini, kita akan terus menghadapi godaan untuk berbuat dosa. Kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan mutlak atau tanpa dosa selama kita masih hidup dalam tubuh jasmani ini.
Orang yang lahir dari Allah masih bisa berbuat dosa jika ia memilih untuk melakukannya, tetapi ia tidak perlu melakukannya. Jika natur (sifat alamiah) barunya, yang diberdayakan dan dipimpin oleh Roh Kudus, menjadi faktor yang dominan dalam hidupnya, ia tidak dapat berbuat dosa, karena natur yang baru itu, berbeda dari natur lama, tidak memiliki keinginan untuk berbuat dosa; sebab natur itu adalah natur Allah sendiri (2Pet 1:4).
Yohanes berkata, “Tidak seorang pun yang lahir dari Allah berbuat dosa karena benih Allah tinggal di dalam dirinya, dan dia tidak dapat berbuat dosa karena dia telah dilahirkan dari Allah.” Benih Allah itu tinggal di dalam kita ketika kita menjadi manusia baru di dalam Kristus. Sebuah benih membawa kehidupan—dalam hal ini, kehidupan Allah sendiri—yakni sifat ilahi yang ditanamkan di dalam kita oleh Roh Kudus.
Benih akan bertumbuh bila kondisinya sesuai. Dalam 2 Petrus 1:4–8 kita melihat hal ini dalam kaitannya dengan natur ilahi di dalam diri kita. Petrus mengajar kita untuk mendorong pertumbuhan “benih” ini di dalam diri kita. Jika kita mengikuti prinsip yang dirangkum dalam ayat 8, kualitas-kualitas dari natur ilahi di dalam kita akan “bertambah-tambah” (kata Yunani pleonazō πλεονάζω juga berarti “bertumbuh” atau “berlipat ganda”), dan kita tidak akan menjadi “tidak berbuah.”
Pembenaran bukan hanya pernyataan bahwa kita dibenarkan, yaitu bahwa Allah mengampuni kita. Itu baru satu bagian dari pembenaran. Bagian lainnya adalah bahwa Allah menanamkan natur-Nya ke dalam diri kita, menjadikan kita benar. Seperti yang dikatakan dalam 1 Yohanes 3:9, “benih” Allah itu tinggal di dalam kita.
Jika kita menerima satu sisi dari doktrin pembenaran, tetapi mengabaikan sisi lainnya, kita akan terjebak dalam kesalahan serius. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Allah mengampuni dosa kita, tetapi Ia juga menjadikan kita benar. Ia melakukan hal ini dengan memberikan Roh Kudus-Nya dan menanamkan sifat-Nya sendiri ke dalam diri kita. Inilah sebabnya mengapa orang Kristen yang dilahirkan kembali menang atas dosa secara konsisten, dan menjalani kehidupan Kristen yang penuh sukacita dan makna.
TANDA KEENAM: SI JAHAT TIDAK DAPAT MENYENTUHNYA
Ada hal lain yang patut kita syukuri. Orang Kristen yang lahir baru menikmati perlindungan ganda terhadap dosa: perlindungan dari dalam dan dari luar. Di dalam, orang percaya sejati memiliki sifat dan Roh Allah. Di luar, ia dilindungi dari serangan si jahat:
Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa, tetapi dia yang lahir dari Allah melindunginya dan si jahat tidak menyentuhnya. (1Yoh 5:18)
Bagian pertama dari pernyataan ini mengingatkan kita bahwa manusia baru di dalam Kristus tidak berbuat dosa. Bagian kedua menegaskan bahwa Yesus sendiri (“yang lahir dari Allah”) melindunginya dari Iblis. Itu adalah jaminan ganda! Di dalam, kita memiliki natur Allah yang benar; di luar, kita dijaga oleh Yesus sendiri. Ini mengingatkan kita pada Zakharia 2:8: “Siapa yang menyentuh kalian, menyentuh biji mata-Nya.”
Mengapa Yesus disebut di sini sebagai “yang lahir dari Allah”? Karena manusia baru di dalam Kristus juga disebut “lahir dari Allah.” Yesus dan para muridnya sama-sama “lahir dari Allah”; mereka memiliki realitas hidup yang sama.
Menjadi lahir dari Allah berarti menjadi anak-Nya. Yesus disebut “Anak Allah”, dan orang percaya disebut “anak-anak Allah”. Murid berbagi natur yang sama dengan Tuannya, Yesus.
Allah melindungi kita siang dan malam, baik secara jasmani maupun rohani. Jika bukan karena perlindungan Allah, saya sendiri mungkin sudah mati setidaknya tiga kali dalam dua tahun terakhir. Namun setiap kali, Ia membawa saya keluar tanpa cedera, bahkan tanpa sehelai rambut yang hilang. Saya yakin banyak di antara kalian yang memiliki pengalaman serupa.
Kita memerlukan perlindungan Tuhan karena Iblis berusaha menghancurkan mereka yang lahir dari Allah, sama seperti ia berusaha membinasakan bayi Yesus. Namun rencananya gagal, sebab Allah menjaga umat-Nya, baik secara jasmani maupun rohani.
TANDA KETUJUH: KASIH
Akhirnya, 1 Yohanes 4:7 mengatakan,
“Saudara-saudaraku yang kukasihi, marilah kita saling mengasihi karena kasih berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah.”
Orang Kristen sejati mengalami kasih yang mengalir dari hatinya seperti sungai air hidup. Kami menyimpan topik penting ini untuk pembahasan yang lebih lengkap pada bab berikutnya (25).
Apakah kita lahir dari Allah? Apakah kita mengenal Allah yang hidup? Apakah ketujuh tanda kelahiran kembali ini nyata dalam hidup kita?