Pastor Eric Chang | Bab 2 |

Dalam bab ini kita akan menunjukkan bahwa komitmen tersirat dalam seluruh Khotbah di Bukit. Mari kita mulai dengan pernyataan Yesus berikut ini:

Sudah dikatakan: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepada istrinya itu. Akan tetapi, Aku mengatakan kepada­mu bahwa siapa yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, ia membuat istrinya berzina. Dan, siapa yang menikah dengan perem­puan yang telah diceraikan itu, ia juga berzina. (Mat 5:31-32)

Apa hubungannya nas ini dengan komitmen? Dalam sebuah perni­kahan, dua orang berkomitmen satu sama lain. Ketika komitmen mulai runtuh di tingkat hati, perceraian sering kali menjadi langkah selan­jutnya. Jika tidak ada komitmen di hati, pernikahan kehilangan makna yang dimaksudkan Allah. Sebagian orang menikah karena uang atau kewarganegaraan, atau karena paksaan keadaan. Namun, apa pun alasannya, mungkinkah ada pernikahan yang bermakna tanpa komit­men?

Dosa pada dasarnya adalah tidak berkomitmen atau kontra-komit­men; yaitu penolakan untuk berkomitmen kepada seseorang atau kepada Allah. Itulah sebabnya perzinahan merusak komitmen perni­kahan, dan mengapa Allah berkata, “Aku membenci perceraian” (Mal 2:16). Allah membenci sikap tidak berkomitmen dalam pernikahan sebagaimana Ia membenci sikap tidak berkomitmen umat-Nya kepada-Nya.

Di Taman Eden, Allah memberi tahu Adam untuk tidak memakan buah dari pohon tertentu, tetapi seluruh kejadian tersebut diringkas dalam ketidaktaatan Adam. Mungkinkah ada ketaatan sejati tanpa komitmen? “Ketaatan” akan menjadi kata lain yang kehilangan makna­nya ketika komitmen disingkirkan darinya, karena yang tersisa bukan lagi ketaatan hati.


Komitmen dalam perkataan

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berbicara tentang perceraian pada satu saat, lalu tentang kredibilitas ucapan pada saat berikutnya. Pernyataan-pernyataannya dalam Khotbah itu mungkin tampak tidak saling berhu­bungan sampai kita melihat bahwa semuanya mengemukakan berbagai aspek dari komitmen.

Sekali lagi, kamu telah mendengar yang dikatakan kepada nenek moyang kita, ‘Jangan bersumpah palsu, tetapi penuhilah sumpahmu itu di hadapan Tuhan.’ Namun, Aku berkata kepadamu: jangan sekali-kali kamu bersumpah, baik demi surga karena surga adalah takhta Allah, ataupun demi bumi karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem karena itu adalah kota Sang Raja Besar. Jangan juga kamu bersumpah demi kepalamu karena kamu tidak dapat membuat sehelai rambut pun, putih atau hitam. Namun, hendaklah perkataanmu, ya jika ya, tidak jika tidak, karena yang sele­bihnya dari itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37)

Jika saya berkata ya, saya berkomitmen untuk melakukan apa yang saya katakan akan saya lakukan. Jika saya berkata tidak, saya menahan diri untuk tidak melakukan apa yang saya katakan tidak akan saya laku­kan. Apa pun itu, ada komitmen. Karakter Anda harus menunjuk­kan komitmen dalam ucapan Anda, baik itu “ya” atau “tidak,” tanpa menga­takan apa pun lagi. Tidak diperlukan sumpah. Membuat sumpah tidak menambah apa pun pada apa yang telah Anda katakan. Sumpah sering diucapkan dengan tujuan meyakinkan seseorang bahwa Anda bersung­guh-sungguh dengan apa yang telah Anda katakan. Namun pada dasar­nya, karakter Anda harus selalu bersungguh-sungguh mencerminkan apa yang Anda katakan, bersumpah atau tidak.

Saat kita membaca Khotbah di Bukit, kita akan melihat tema yang mendasarinya, yaitu komitmen. Mengenai sumpah, ada perubahan karakter sedemikian rupa sehingga perkataan kita menjadi ikatan dan komitmen kita. Anda tidak akan memercayai seseorang yang pada suatu saat dapat berkata “ya” dan pada saat berikutnya berkata “tidak.” Oleh karena karakter Allah sendiri mengungkapkan komitmen, Dia tidak dapat menoleransi ketidakkomitmenan yang merupakan ciri khas orang yang belum dilahirkan kembali.


Kasih pada dasarnya adalah sebuah komitmen

Melanjutkan Khotbah di Bukit, Yesus berkata:

“Kamu telah mendengar yang difirmankan, ‘Kasihilah sesamamu,’ dan ‘Bencilah musuhmu.’ Namun, Aku berkata kepadamu, kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi orang-orang yang menganiaya kamu, dengan demikian kamu dapat menjadi anak-anak Bapamu yang di surga karena Ia menerbitkan matahari-Nya bagi yang jahat dan yang baik, dan menurunkan hujan bagi yang benar dan yang tidak benar. Sebab, kalau kamu hanya mengasihi orang-orang yang mengasihimu, upah apa yang kamu dapatkan? Bukankah pengumpul pajak juga melakukan hal yang sama? Dan, jika kamu memberi salam hanya kepada saudara-saudaramu, apa lebihnya perbuatanmu? Bukankah orang-orang yang tidak mengenal Allah juga berbuat seperti itu? Karena itu, kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapa­mu yang di surga adalah sempurna.” (Mat 5:43-48)

Pernyataan pembukanya adalah, “Kasihilah sesamamu”. Renungkan sejenak tentang makna kasih. Pada dasarnya, apa itu kasih jika tidak ada komitmen? Dapatkah Anda memberi saya definisi kasih yang tidak menyertakan komitmen? Itu tidak mungkin karena komitmen adalah hakikat kasih. Banyak orang yang tidak memahami hal penting ini dan menganggap kasih sebagai perasaan. Namun, makna kasih dalam Alki­tab adalah kasih yang berakar pada komitmen dan bukan pada perasaan.

Selama bertahun-tahun saya telah bertanya kepada orang-orang yang berencana untuk menikah, “Apa yang Anda sukai darinya?” Yang mengejutkan saya, sering kali jawabannya adalah, “Saya suka penam­pilannya”. Apa artinya itu? Apakah Anda menyukai gaya rambutnya? Atau matanya? Saya akan menggaruk kepala dan berkata kepada diri sendiri, “Apakah mata yang indah akan menjadi fondasi pernikahan ini?” Kadang-kadang jawabannya lebih dalam: “Saya suka gayanya.” Apa artinya itu? Apakah Anda mengacu pada cara seseorang berbicara atau berpakaian? Jika Anda jatuh cinta karena alasan yang dangkal, apa yang akan terjadi ketika salah satu jatuh sakit, menjadi tua, atau memiliki rambut tipis? Apakah itu akhir dari hubungan?

Tentu saja kita harus membangun komitmen di atas fondasi yang lebih kokoh. Paling tidak saya tidak akan berkomitmen dalam perni­kahan kecuali kami berdua memiliki tujuan hidup yang sama. Kami akan menempuh jalan yang sama, berjuang dalam pertempuran yang sama, dan mengejar tujuan yang sama. Ini akan memberikan dasar yang lebih kuat untuk berkomitmen satu sama lain.

Pernikahan yang didasarkan pada perasaan atau daya tarik eksternal, tetapi tidak pada substansi yang mendalam tidak memiliki dasar untuk komitmen. Jika Anda memisahkan komitmen dari kasih, kata kasih tidak akan memiliki makna lagi sejauh menyangkut definisi alkitabiahnya.

Tiga poin tentang kasih dan komitmen

  1. Kasih didasarkan pada komitmen, bukan perasaan

Kita mengasihi sesama atau mengasihi satu sama lain, bukan karena kamu baik atau aku baik, tetapi karena Allah baik dan telah meme­rintahkan kita untuk mengasihi. Ini menghilangkan emosi sebagai dasar kasih. Komitmen adalah satu-satunya dasar yang pasti agar kasih di antara sesama dapat bertahan. Jika Anda mendasarkan komitmen pada perasaan “menyukai”, komitmen itu tidak akan bertahan, karena hanya dibutuhkan satu kata yang ceroboh untuk menghancurkan hubungan. Jika kita menghilangkan komitmen dari kasih, tidak akan ada lagi kasih yang perlu dibicarakan.

  1. Komitmen untuk mengasihi adalah masalah ketaatan

Motivasi untuk mengasihi seharusnya bukan sekadar rasa suka. Dalam ajaran Yesus, alasan kita mengasihi dan berkomitmen bukanlah karena orang lain itu menyenangkan, melainkan karena Allah telah memerin­tahkan kita untuk mengasihi. Oleh karena itu, komitmen untuk menga­sihi adalah tindakan ketaatan.

Kita mengasihi yang tidak menyenangkan karena Allah, yang penuh kasih, telah memerintahkan kita untuk mengasihi yang tidak menye­nangkan, bahkan musuh kita. Dari sudut pandang Anda, musuh Anda adalah yang paling tidak menyenangkan dari semuanya. Jika Anda hanya mengasihi yang menyenangkan, mustahil bagi Anda untuk mengasihi musuh. Sudah cukup sulit untuk mengasihi seorang teman ketika Anda mengetahui kekurangannya, apalagi mengasihi musuh.

Faktanya adalah kita tidak dapat mengasihi musuh kita kecuali dengan kuasa Allah. Kita sudah cukup kesulitan mengasihi teman-teman kita. Banyak istri yang kesulitan mengasihi suami mereka, dan banyak suami yang sulit mengasihi istri mereka. Namun, di mana ada komitmen di pihak kita, di situ ada anugerah dari Allah yang memberi kita kuasa untuk melakukan apa yang biasanya tidak dapat kita lakukan. Ketika Anda hidup dengan kuasa Allah, Anda akan tahu bahwa Dia nyata.

Saya tahu bahwa Allah itu nyata karena saya telah menerima tantang­an untuk berkomitmen kepada-Nya dan, bertentangan dengan sifat saya, untuk melakukan kehendak-Nya. Ketika saya melakukan apa yang biasa­nya tidak dapat saya lakukan, saya tahu bahwa anugerah-Nyalah yang memberi saya kekuatan. Banyak orang Kristen tidak menemukan suka­cita dalam kehidupan Kristen karena mereka belum menerima tantang­an untuk berkomitmen. Namun, jika Anda menerima tantangan ini, Anda akan mengalami kuasa Allah.

  1. Komitmen datang dari hati yang diubahkan oleh kuasa Allah

Komitmen sejati datang dari hati dan bukan sekadar penampilan luar untuk dilihat orang lain. Hal ini terungkap di Matius 6 dalam Khotbah di Bukit dengan ajaran Yesus tentang puasa, doa, dan sedekah. Komit­men datang dari sifat yang telah diubahkan, bukan dengan mengger­takkan gigi dan berkata, “Saya akan menyelesaikannya.” Apa yang kita sebut “komitmen heroik” sebenarnya tidak lebih dari sekadar upaya untuk melakukan kehendak Allah dengan kekuatan kita sendiri. Upaya itu pasti akan gagal karena cepat atau lambat kita akan kelelahan dan frustrasi. Anda mungkin tulus dalam komitmen Anda, tetapi Anda masih bergantung pada kekuatan Anda sendiri. Anda perlu berkomit­men kepada Allah dari hati Anda dan memperoleh kekuatan dari-Nya.

Komitmen yang Yesus ajukan dalam Khotbah di Bukit tidak mungkin dilakukan kecuali dengan kuasa Allah. Saya telah melihat banyak orang Kristen berusaha untuk berkomitmen dan kemudian menyerah karena mereka melakukannya dengan kekuatan mereka sendiri. Cobalah untuk mengasihi musuh Anda dengan kekuatan Anda sendiri, dan Anda tidak akan berhasil lebih dari satu atau dua menit.


Sisi lain dari gambar: komitmen Allah kepada kita

Mari kita menyelami lebih dalam tentang komitmen, langsung ke dalam sifat Allah sendiri. Di 1 Yohanes pasal 4, dua kali kita melihat pernyataan monumental bahwa Allah adalah kasih:

Orang yang tidak mengasihi tidak mengenal Allah karena Allah adalah kasih. (ay 8) … Allah adalah kasih, dan orang yang tinggal di dalam kasih, tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam dia. (ay 16)

Dua kali dikatakan bahwa Allah adalah kasih. Karena Allah adalah kasih, mereka yang mengikuti-Nya juga harus berjalan dalam kasih. Dan karena komitmen adalah dasar kasih, komitmen merupakan bagian hakiki dari sifat Allah yang adalah kasih.

Oleh karena itu, komitmen kita kepada Allah tidak akan lengkap sampai kita melihat sisi lain dari gambaran tersebut: komitmen Allah kepada kita. Hal ini sudah terlihat dalam pasal yang sama: “Kita menga­sihi karena Dia lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). Demikian pula, kita berkomitmen kepada Allah karena Dia lebih dahulu berkomit­men kepada kita.

Dalam sisa bab ini, kita akan melihat komitmen Allah kepada kita, bukan komitmen kita kepada Allah. Memang, menjelang akhir Matius 5, Khotbah di Bukit mengalihkan fokusnya dari komitmen kita kepada Allah ke komitmen Allah kepada kita. Yesus berkata:

… dengan demikian kamu dapat menjadi anak-anak Bapamu yang di surga karena Ia menerbitkan matahari-Nya bagi yang jahat dan yang baik, dan menurunkan hujan bagi yang benar dan yang tidak benar. (Mat 5:45)

Di sini kita melihat komitmen Allah kepada kita atas dasar kenyataan bahwa kita adalah ciptaan-Nya. Ketika Ia menurunkan hujan ke bumi, apakah Ia hanya memberkati orang benar, mengarahkan hujan ke ladang mereka sementara orang tidak benar tidak menerima hujan dan kelapar­an? Jawaban alkitabiah adalah bahwa Allah menunjukkan komitmen dasar-Nya kepada semua orang, baik mereka orang benar maupun orang tidak benar. Ia memberikan hujan dan sinar matahari kepada orang tidak benar, bahkan jika mereka tidak berterima kasih kepada-Nya atas panen yang berhasil, tetapi menganggapnya sebagai hasil dari ketekunan mereka sendiri. Namun, jika Allah menahan hujan selama setahun, mereka akan mulai melihat keterbatasan mereka. Jika hujan ditahan selama dua tahun, ketidakberdayaan mereka akan menjadi akut. Jika Allah menahan hujan selama tiga tahun seperti pada zaman Elia ketika Allah  menghukum orang Israel karena ketidaktaatan mereka, situasi mereka akan menjadi sangat buruk.

Allah berkomitmen kepada makhluk ciptaan-Nya. Apakah Anda orang benar atau tidak benar, Allah memberi Anda hujan, sinar mata­hari, udara untuk bernapas, dan kesehatan. Di dunia ini, apakah kita melihat pola kesehatan yang baik di antara orang benar dan kesehatan yang buruk di antara orang tidak benar? Sebenarnya, jika ada pola sama sekali, mungkin sebaliknya, dalam hal ini Anda mungkin merasa bahwa Allah memihak kepada orang tidak benar. Mazmur 73 meratapi fakta bahwa orang fasik makmur sementara orang benar menderita.

Allah Pencipta kita berkomitmen kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya bahkan jika mereka tidak berterima kasih kepada-Nya. Apakah Anda berterima kasih kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepada Anda? Apakah Anda berkomitmen kepada Pencipta Anda? Banyak orang tidak berkomitmen, bahkan ketika mereka memiliki kese­hatan yang baik atau pekerjaan bergaji tinggi. Bukankah menak­jubkan bahwa Allah bermurah hati kepada dunia yang tidak mengakui-Nya? Namun, masih ada lagi:

Lihatlah burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan ke dalam lumbung, tetapi Bapa surgawimu memberi mereka makan. Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka? … Dan, tentang pakaian, mengapa kamu khawatir? Perhati­kan bunga bakung di padang, bagaimana mereka tumbuh, mereka tidak bekerja dan juga tidak memintal, (Mat 6:26, 28)

Lihatlah di sekeliling Anda. Apakah burung bergantung pada hal-hal seperti lumbung dan traktor? Mereka bahkan tidak menabur benih! Namun, mereka adalah makhluk yang bersemangat yang terbang, melompat, dan bernyanyi. Allah telah memastikan bahwa makhluk-makhluk-Nya memiliki makanan dan perbekalan lainnya.

Lihatlah bunga-bunga di sekitar Anda. Satu hal yang saya sukai dari Hong Kong adalah bunga-bunga tumbuh sepanjang tahun. Saya berta­nya-tanya apakah orang-orang Hong Kong menganggap remeh bunga. Di Kanada, bunga hanya mekar pada waktu tertentu dalam setahun, tetapi ketika bunga-bunga itu mekar, saya sering berhenti dan menga­gumi keindahannya. Bahkan Salomo dalam kemuliaannya sebagai raja tidak dapat menandingi keindahan bunga-bunga (ay 29).

Ketika Anda membawa pulang sekuntum mawar, Anda mengagumi keindahannya, tetapi bunga itu layu dalam beberapa hari. Namun, ketika masih hidup, bunga itu memiliki nilai dan makna dalam memper­lihatkan rancangan Allah yang indah dalam ciptaan-Nya dan kepedu­lian-Nya dalam memenuhi kebutuhan ciptaan-Nya. Jika Allah meng­hiasi rumput di padang dengan keindahan, yang hari ini masih hidup dan besok sudah layu, tidakkah Ia akan melakukan lebih banyak lagi bagi Anda, “Hai kamu yang kurang iman” (ay 30)?


Mempercayai Allah untuk kebutuhan kita

Yesus mengatakan semua ini bukan untuk meningkatkan pengetahuan teologis kita tentang sifat-sifat Allah, tetapi untuk mengajar kita agar percaya kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan fisik kita. Semasa di Tiongkok, saya hidup menurut firman ini setiap hari selama tiga tahun. Setiap pagi ketika saya bangun tanpa makanan untuk hari itu, saya akan berkata, “Bapa, Engkau memelihara burung-burung di udara. Aku tidak punya apa-apa untuk dimakan hari ini, jadi tolong jagalah aku, anak-Mu.” Setiap hari Bapa saya akan menyediakan kebutuhan saya tanpa gagal. Anda dapat membayangkan apa yang terjadi pada iman Anda saat iman Anda dibangun di atas pengalaman yang kokoh dalam memperca­yai-Nya, berkomitmen kepada-Nya, dan mengetahui bahwa firman-Nya tidak pernah gagal. Saya mengalami kebenaran dari firman ini, dan saya harap Anda juga tahu. Sangat disayangkan jika satu-satunya hal yang Anda ketahui di dunia ini adalah mengamankan hidup Anda dengan tangan Anda sendiri, dengan mengorbankan tidak mengalami realitas Allah.

Pada akhir pelatihan pemuridan penuh waktu pertama yang saya pimpin di Montreal, saya memberi tahu para peserta pelatihan bahwa mereka akan diutus ke Provinsi Ontario. Saya berkata kepada mereka, “Kalian akan belajar untuk percaya kepada Allah. Saya akan mengutus kalian ke Ontario dengan hanya beberapa dolar di saku kalian, dan untuk bulan berikutnya kalian akan mempercayai Allah untuk semua kebutuh­an kalian.” Mereka hanya memiliki cukup uang untuk bepergian ke Ontario, ditambah beberapa dolar untuk bulan berikutnya. Saya berkata, “Kita akan lihat apakah Allah memelihara hamba-hamba-Nya atau tidak, apakah Dia akan memenuhi kebutuhan kalian atau tidak. Jika Alkitab tidak benar atau Allah tidak nyata, lupakan saja tentang mengabdikan hidup kalian untuk melayani-Nya. Apa gunanya menye­rahkan karier kalian untuk melayani Allah yang tidak dapat kalian percayai? Jika kalian akhirnya kelaparan pada bulan mendatang, lupakan saja semua masalah itu, dan berkemaslah serta pulanglah.”

Ketika mereka kembali ke Montreal sebulan kemudian, mereka tidak lebih kurus daripada saat mereka memulai perjalanan. Mereka bersuka­cita dalam Allah dan berbagi tentang bagaimana Dia telah memenuhi kebutuhan mereka selama sebulan penuh. Satu bulan bukanlah waktu yang lama, tetapi bahkan dalam waktu yang singkat itu mereka telah belajar banyak tentang realitas Allah. Saya tahu bahwa Allah saya nyata!

Ini bukan mencobai Allah, tetapi menerapkan apa yang Yesus ajarkan kepada kita. Percayalah kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan Anda. Jangan khawatir tentang makanan dan pakaian. Jangan menyim­pan harta di bumi, tetapi berikan kekayaan Anda kepada orang miskin. Kemudian pergilah dengan ketergantungan penuh kepada Allah dan lihat apa yang akan Dia lakukan. Itulah komitmen! Apa gunanya berbi­cara tentang komitmen tanpa melaku­kannya secara nyata? Dan bagai­mana para murid mengikuti Yesus? Mereka hidup seperti dia hidup. Sama seperti Yesus tidak punya tempat untuk meletakkan kepalanya, demikian pula mereka tidak menerima dukungan keuangan yang mema­dai dari sumber duniawi mana pun. Setiap hari mereka akan melangkah maju, percaya kepada Bapa.

Beranikah Anda mempercayakan hidup Anda kepada Allah? Jika Anda tidak menganggap-Nya cukup layak dipercaya untuk memelihara Anda dalam hidup ini, apa dasar keyakinan Anda untuk memiliki hidup kekal pada zaman akan datang? Anda mungkin mengharapkan yang terbaik, tetapi Anda tidak benar-benar yakin bahwa setelah Anda meninggal, Allah akan membangkitkan Anda. Jika Anda tidak dapat percaya kepada-Nya sekarang, bagaimana Anda akan percaya kepada-Nya untuk masa depan Anda? Itulah sebabnya begitu banyak orang Kristen kurang memiliki keyakinan dalam pesan Kristen atau arah hidup mereka. Mereka belum memahami komitmen Allah kepada mereka. Sangat menyenangkan untuk hidup di dunia ini ketika Anda tahu bahwa Allah yang kekal berkomitmen kepada Anda! Ini akan membawa keda­maian dan kesukacitaan ke dalam hidup Anda dengan cara yang hanya dialami oleh sedikit orang.

Yesus memberi tahu kita untuk tidak khawatir akan hal-hal seperti pakaian (Mat 6:28). Kekhawatiran adalah penolakan, bahkan penyang­kalan, terhadap komitmen. Namun, ketika saya berkomitmen, saya merasa yakin. Saya tidak lagi khawatir, tetapi memiliki kedamaian di hati saya. Ketika saya tahu bahwa Allah berkomitmen kepada saya, saya tidak perlu khawatir tentang apa pun.


Komitmen Allah yang lebih jauh kepada anak-anak-Nya

Matius 7 membawa kita ke inti Khotbah di Bukit, tepat ke komitmen Allah kepada kita. Kita telah melihat bahwa komitmen-Nya kepada kita didasarkan pada fakta penciptaan, karena kita adalah ciptaan-Nya. Namun di luar komitmen dasar itu, Ia berkomitmen kepada anak-anak-Nya pada tingkat yang lebih dalam:

“Mintalah, dan hal itu akan diberikan kepadamu. Carilah, dan kamu akan mendapat. Ketuklah, dan hal itu akan dibukakan bagimu. Sebab, setiap orang yang meminta, ia menerima, dan orang yang mencari akan mendapatkan, dan bagi ia yang mengetuk akan dibukakan. Atau, siapakah dari antara kamu, yang jika anaknya meminta roti akan memberi batu kepada anaknya itu? Atau, jika anaknya meminta ikan, ia tidak akan memberikan ular kepada anaknya itu, bukan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu bagaimana memberi anak-anakmu pembe­rian-pemberian yang baik, terlebih lagi Bapamu yang di surga, Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Mat 7:7-11)

Jika Allah adalah Bapa Anda, betapa lebih daripada ayah duniawi Anda, Dia akan memberikan pemberian yang baik kepada Anda! Dia akan memastikan bahwa kebutuhan Anda terpenuhi. Semasa di Tiongkok, ketika saya sendirian dan tidak punya uang, tanpa tempat untuk tidur, saya harus bergantung sepenuhnya kepada Allah. Setiap pagi saya akan berkata, “Tuhan, aku anak-Mu dan Engkau adalah Bapa-Ku,” dan Dia tidak pernah mengecewakan saya.

Allah Sang Pencipta berkomitmen kepada kita, ciptaan-Nya, itulah sebabnya bahkan orang yang tidak percaya akan terpenuhi kebutuhan­nya. Namun jika kita adalah anak-anak Allah, Dia akan berkomitmen kepada kita pada tingkat yang lebih dalam lagi, sebagai Bapa bagi putra atau putri-Nya. “Namun, mereka yang menerima Dia diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya.” (Yoh 1:12)

Singkatnya, komitmen Allah kepada kita diungkapkan pada dua ting­kat: tingkat penciptaan, yang diungkapkan kepada seluruh umat manu­sia; dan tingkat keputraan, yang diungkapkan kepada anak-anak-Nya. Jika kita adalah anak-anak Allah, kita akan mengalami komitmen-Nya pada dua tingkat ini. Tanamkan dalam hati Anda bahwa Allah berkomit­men kepada Anda!


Cara Allah mengungkapkan komitmen-Nya kepada kita tergantung pada bagaimana kita berkomitmen kepada-Nya

Sebuah prinsip penting muncul dari Khotbah di Bukit: Allah berkomit­men kepada kita, tetapi cara Dia menyatakan komitmen-Nya bergantung pada cara kita menyatakan komitmen kita kepada-Nya. Apakah Dia memberkati kita atau menghakimi kita, apakah Dia memperlakukan kita dengan lembut atau keras, bergantung pada cara kita menanggapi-Nya. Bahkan penghakiman Allah merupakan ungkapan komitmen-Nya kepada kita.

Setiap orang mengalami Allah dengan cara yang berbeda karena mereka berkomitmen kepada-Nya dengan cara yang berbeda. Anda akan mengalami Allah dengan satu cara atau cara lain, tergantung pada komitmen Anda kepada-Nya. Jika Anda berkomitmen kepada Allah, Dia akan menanggapi Anda dengan satu cara. Jika Anda tidak berkomitmen kepada Allah, Dia akan menanggapi Anda dengan cara yang berbeda. Matius 6:1 mengatakan:

Waspadalah dalam melakukan kewajiban agamamu di hadapan manusia, jangan dengan maksud untuk dilihat oleh mereka. Jika demikian, kamu tidak akan menerima upah dari Bapamu yang di surga.

Jika Anda melakukan kebenaran Anda agar orang lain melihatnya, Anda tidak akan mendapatkan upah dari Allah. Namun, jika Anda mela­kukan kebenaran Anda secara rahasia (misalnya, dengan memberi kepada orang miskin secara rahasia), “Bapamu yang melihat yang tersembunyi itu akan memberikan upah kepadamu.” (ay 4). Dalam satu kasus, Anda tidak mendapatkan upah dari Allah; dalam kasus lain, Anda mendapatkan upah. Bagaimana Anda menanggapi Allah dan firman-Nya akan menentukan apakah Anda mendapatkan upah atau tidak. Komitmen Allah kepada Anda selalu ada, tetapi bagaimana Anda mengalaminya bergantung pada bagaimana Anda menanggapi-Nya.

Prinsip yang sama diulangi di ayat 5 (tidak ada upah dari Allah) dan ayat 6 (upah dari Allah), dan sekali lagi di ayat 16 (tidak ada upah dari Allah) dan ayat 18 (upah dari Allah). Mereka yang menerima upah dari manusia dalam bentuk pujian tidak akan mendapatkan upah lebih lanjut dari Allah.

Kaitan antara komitmen Allah dan komitmen kita berlanjut dalam Khotbah di Bukit. Apakah kita diampuni tergantung pada apakah kita mengampuni orang lain. Allah menunjukkan komitmen-Nya kepada kita dengan mengampuni kita jika kita mengampuni, atau tidak meng­ampuni kita jika kita tidak mengampuni:

Karena jika kamu mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain, Bapa surgawimu juga akan mengampunimu. Akan tetapi, jika kamu tidak mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Mat 6:14-15)

Matius 7:1-2 mengemukakan prinsip serupa:

Jangan menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu gunakan untuk menghakimi, kamu akan dihakimi, dan dengan ukuran yang kamu gunakan untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.

Jika Anda berkomitmen kepada seseorang, Anda akan melakukan apa yang baik untuknya. Namun, menghakimi seseorang adalah tindakan yang mengangkat Anda di atas komitmen: Anda mengatakan bahwa Anda tidak berutang komitmen apa pun kepadanya, tetapi Anda berdiri di atasnya sebagai hakim. Anda telah mengambil tempat Allah sehu­bungan dengan orang itu, tetapi tanpa kasih dan komitmen Allah. Yesus berkata bahwa standar yang Anda ukur kepada orang lain akan diukur kepada Anda. Secara eksegetis ini adalah “pasif ilahi,” referensi tidak langsung kepada Allah: Allah tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi tersirat bahwa Dialah yang akan memperlakukan Anda sesuai dengan cara Anda memperlakukan orang lain. Ini juga mengungkapkan apakah Anda menaati Allah. Jika Anda menghakimi orang lain, Anda tidak menaati perintah Allah untuk tidak menghakimi. Jika Anda mengasihi orang lain, Anda menaati perintah-Nya untuk mengasihi. Jika Anda menghakimi orang lain, Allah akan menghakimi Anda. Jika Anda mengasihi orang lain, Allah akan mencurahkan kasih-Nya kepada Anda.

Untuk mengalami kasih Allah yang berlimpah, patuhi saja perintah untuk mengasihi. Untuk mengalami penghakiman Allah (yang juga merupakan ungkapan komitmen-Nya kepada kita), pergilah dan meng­hakimi orang lain; maka Anda akan melihat apa yang akan Allah lakukan kepada Anda meskipun Anda seorang Kristen.

Prinsip yang sama berlaku di Matius 7:7: “Mintalah, dan hal itu akan diberikan kepadamu. Carilah, dan kamu akan mendapat. Ketuklah, dan hal itu akan dibukakan bagimu.” Sekali lagi, tindakan Andalah yang mengundang respons dari Allah. Mintalah, maka akan diberikan kepa­damu. Jika Anda tidak meminta, Anda tidak akan mendapatkan apa pun. Jika Anda mencari Allah dengan segenap hati, Anda akan menemu­kan-Nya. Jika Anda tidak mencari Allah, Anda tidak akan menemukan-Nya. Jika Anda tidak mengetuk pintu Kerajaan, pintu itu tidak akan dibuka­kan bagi Anda.

Kehidupan Kristen bukanlah kehidupan di mana kita duduk diam dan menunggu sesuatu jatuh dari langit ke pangkuan kita. Kehidupan Kristen melibatkan dinamika meminta, mencari, dan mengetuk. Allah akan menanggapi tindakan kita karena Dia tidak ingin kita menjadi boneka, melainkan orang-orang yang berinisiatif untuk mencari apa yang baik di mata-Nya. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang meli­batkan interaksi terus-menerus antara Allah dan kita. Yesus melanjut­kan:

Demikian juga, setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Pohon yang baik tidak mungkin menghasilkan buah yang tidak baik, dan pohon yang tidak baik tidak mungkin menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api. (Mat 7:17-19)

Jika kita menghasilkan buah yang baik, kita akan menerima berkat dari Allah. Jika kita menghasilkan buah yang buruk, komitmen-Nya kepada kita akan dinyatakan dalam penghakiman, karena setiap pohon yang buruk akan ditebang dan dibuang ke dalam api penghakiman Allah. Jangan pernah menganggap penghakiman Allah sebagai ketidak­komit-menan dari pihak-Nya. Sebenarnya, penghakiman adalah tindakan komitmen mutlak dari Allah kepada makhluk-makhluk-Nya. Tanggung jawab untuk berkomitmen kepada Allah ada di tangan kita. Tanggung jawab ada di tangan kita, dan kita tidak dapat mengalihkannya kepada Allah.

Bukan hanya di Perjanjian Baru, tetapi juga di Perjanjian Lama kita melihat prinsip bahwa respon Allah didasarkan pada respon kita:

Karena itu, Yahweh membalasku menurut kebenaranku, menurut kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang murah hati, Engkau tunjukkan bahwa Engkau sendiri murah hati. Terhadap orang yang tidak bercela, Engkau tunjukkan bahwa Engkau sendiri tidak bercela. Terhadap orang yang suci, Engkau tunjukkan bahwa Engkau sendiri suci. Namun, kepada yang jahat, Engkau berbelit-belit. (Mzm 18:25-27)

Orang yang suci akan mendapati Allah itu suci, orang yang setia akan mendapati Allah itu setia, orang yang bengkok akan mendapati Allah itu sulit dihadapi. Allah bagi Anda adalah sebagaimana Anda bagi Dia. Jika Anda mulai bermain-main dengan Allah, Anda akan berakhir dalam kerugian. Jika Anda jujur ​​dengan Allah, Dia akan jujur ​​dengan Anda. Allah tidak pernah tidak jujur, tetapi jika Anda memiliki pikiran yang tidak jujur ​​atau bengkok, pandangan Anda tentang Allah sebagai Allah yang tidak jujur ​​akan dibentuk oleh pengalaman negatif Anda dengan-Nya. Setiap orang mengalami Allah dengan cara yang berbeda. Sebagian orang tidak mengalami-Nya sama sekali karena mereka tidak menang­gapi-Nya.

Seorang pemazmur menulis, “Engkau membalas manusia sesuai perbuatannya” (Mzm 62:12), karena Allah menanggapi kita menurut perbuatan kita. Prinsip yang sama berlaku bagi Israel: “Sesuai dengan jalan mereka, Aku akan memperlakukan mereka, dan sesuai dengan penghakiman mereka, Aku akan menghakimi mereka, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Yahweh” (Yeh 7:27).

Cara putri saya berhubungan dengan saya memengaruhi cara saya berhubungan dengannya. Jika dia tidak patuh, dia mungkin akan mene­mukan bahwa ayahnya bisa bersikap keras. Namun, jika dia patuh, dia akan menemukan bahwa ayahnya sangat baik. Saya heran mengapa dia terkadang memilih untuk memancing sikap keras dari saya sedangkan saya lebih dari senang untuk menunjukkan kebaikan kepadanya. Jika Anda adalah orang tua, Anda akan mengerti apa yang saya maksud. Allah juga ingin memberkati kita, bukannya bersikap keras kepada kita. Jadi, mengapa kita mau mencari masalah dengan-Nya? Seperti yang kita lihat di Matius 7:11, Allah bersedia mencurahkan berkat-Nya atas Anda, jadi mengapa tidak memberi-Nya kesempatan untuk melakukannya bagi Anda?


Pilihlah berkat Allah

Di Ulangan 27 dan 28, Allah memberikan pilihan kepada Israel antara kutuk (pasal 27) dan berkat (pasal 28). Dia tidak ingin mengutuk kita, tetapi jika kita hidup dalam dosa dan kejahatan, komitmen-Nya kepada kita akan dinyatakan dalam penghakiman.

Gunung Ebal dan Gerizim adalah dua gunung di Samaria tempat Ulangan 27 dan 28 terjadi. Kutuk diucapkan dari Ebal, berkat dari Gerizim. Itu adalah peristiwa yang mengesankan di mana seluruh Israel berkumpul di tempat terbuka, dan mereka mendengar kutuk dan berkat diserukan dari masing-masing gunung. Setiap kali saya bepergian ke Israel dan melewati antara dua gunung itu, saya akan mengingat peris­tiwa ini. Apakah kita menerima berkat atau kutuk adalah sesuatu dari pilihan kita sendiri, sebuah prinsip yang berlaku di seluruh Perjanjian Lama dan Baru. Allah berkata kepada Israel, “Hanya kamu yang Aku pilih dari seluruh kaum di muka bumi. Sebab itu, Aku akan menghukum kamu atas semua kesalahanmu.” (Am 3:2)

Pilihannya jelas. Komitmen kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari komitmen kepada kebenaran. Kita harus memilih satu sisi pagar atau sisi lainnya—panas atau dingin—tetapi suam-suam kuku tidak akan mem­bawa kita ke mana pun. Jika Anda mengalami masalah dalam kehidupan Kristen seperti kesulitan dalam berdoa atau dalam mengalami realitas Allah, periksalah hidup Anda untuk melihat apakah Anda memper­lakukan dosa sebagai sesuatu yang sepele. Untuk mengenal Allah, kita harus berkomitmen kepada apa yang baik, benar, kudus, dan adil. Jika Anda berpegang teguh pada dosa, bahkan apa yang Anda anggap sebagai dosa kecil, itu akan menghalangi persekutuan Anda dengan Allah. “Jika aku melihat kejahatan di dalam hatiku, Tuhan tidak mau mende­ngarkan.” (Mzm 66:18).

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

 

 

← Back

Thank you for your response. ✨