Pastor Eric Chang | Bab 1 |

Kehidupan Kristen bukanlah untuk orang yang lemah hati karena kehidupan Kristen melibatkan pertanyaan-per­tanyaan sulit yang menuntut jawaban konkret dan bukan jawaban-jawaban yang dangkal. Bagaimana kita mempe­roleh hidup kekal? Atau menge­tahui bahwa Allah itu nyata? Atau hidup sebagai orang Kristen sejati? Atau mati terhadap dosa?

Dalam Alkitab, sebagaimana akan kita lihat, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan komitmen kita kepada Allah.

Seperti yang saya katakan dalam Kata Pengantar, seorang Kris­ten yang tidak berkomitmen kepada Allah bagaikan seorang prajurit yang tidak setia kepada negaranya sendiri atau seorang anggota keluarga yang tidak peduli dengan keluarganya sendiri. Kehidupan Kristen yang tidak berkomitmen tidak akan berhasil.

Komitmen bukanlah sesuatu yang setengah hati, tetapi meru­pakan tanggapan total kepada Allah. Tidak ada gunanya memba­has komitmen kecuali kita memiliki, paling tidak, keinginan untuk berkomitmen kepada Allah. Tujuan kami dalam buku ini adalah untuk menghasilkan tanggapan aktif kepada Allah daripada menambah pengetahuan kita tentang Dia. Kita membi­dik terobosan yang mengubah hidup dalam hubungan kita dengan Allah. Bagi Anda yang telah membuat semacam komit­men, harapan saya adalah bahwa setiap penghalang yang tersisa di antara Anda dan Allah akan terangkat. Saya akan mendasarkan buku ini sepenuhnya pada Alkitab, yaitu firman dari Allah, dan bukan pada pendapat manusia.


Komitmen parsial lebih buruk daripada tidak ada komitmen sama sekali

Banyak orang Kristen bergumul dalam kehidupan Kristen tahun demi tahun, terhalang oleh komitmen parsial kepada Allah. Dalam keba­nyakan kasus, masalahnya bukanlah komitmen nol, tetapi komitmen parsial. Namun dalam Alkitab, komitmen parsial lebih buruk daripada tidak ada komitmen sama sekali. Yesus berkata:

Aku tahu perbuatan-perbuatanmu, bahwa kamu tidak dingin atau­pun panas. Alangkah baiknya jika kamu dingin atau panas. Jadi, karena kamu hangat, tidak panas ataupun dingin, Aku akan memun­tahkanmu dari mulut-Ku. (Why 3:15-16)

“Dingin” berarti berpaling dari Allah sama sekali. Namun, dalam pikiran Yesus, itu tidak seburuk “suam-suam kuku,” yang tidak di sini atau di sana. Anda mungkin 80 persen untuk Allah dan 20 persen untuk dunia, tetapi faktanya adalah bahwa bahkan 95 persen pun tidak cukup baik untuk Allah. Dia tidak menuntut apa pun dari Anda selain komitmen total.

Banyak orang Kristen tidak mengalami kemajuan dalam kehi­dupan Kristen karena komitmen yang setengah hati. Mereka tidak mengalami sukacita dan kedamaian dalam kehidupan Kristen dan tidak dapat berkomunikasi dengan Allah karena Dia tidak mendengarkan doa-doa mereka. Masalahnya adalah komit­men mereka belum mantap: mereka tidak sepenuhnya berkomit­men kepada Allah.

Kita dapat mengatakan dengan keyakinan mutlak, berdasar­kan firman Allah, bahwa tanpa komitmen total, mustahil bagi Anda untuk menjalani kehidupan Kristen. Ini bukan masalah teori, tetapi kenyataan. Jika Anda tidak berkomitmen kepada Allah, Anda akan menemukan bahwa kehidupan Kristen Anda tidak akan berhasil. Jika Allah tidak menjawab doa Anda, ada sesuatu yang perlu diselesaikan dalam komit­men Anda. Bahkan di antara mereka yang melayani dalam pela­yanan penuh waktu, ada beberapa yang memiliki masalah komitmen, dan ini biasanya sesuatu yang mereka temukan hanya setelah memasuki pelayan­an. Ini adalah situasi yang menyedihkan, karena Anda mungkin telah menyerahkan segalanya di dunia ini untuk melayani Allah, hanya untuk menemukan diri Anda kekurangan sukacita, keku­atan rohani, dan perse­kutuan dengan Allah.


Di mana kita menemukan komitmen saat ini?

Komitmen diajarkan di mana-mana dalam Alkitab, secara impli­sit maupun eksplisit. Jika kita menghilangkan komitmen dari Alkitab, tidak akan ada lagi Alkitab yang bisa dibaca, karena komitmen merupakan inti dari hubungan kita dengan Allah.

Ketika saya masih seorang Kristen muda di Tiongkok, tidak seorang pun pernah memberi tahu saya tentang komitmen. Akan tetapi, saya memiliki keuntungan karena mengenal Allah pada saat menjadi seorang Kristen itu berbahaya dan ketika para pendeta kami dikirim ke kamp kerja paksa. Kami tahu bahwa tanpa komitmen, kami tidak akan berta­han hidup sebagai orang Kristen. Oleh karena itu, komitmen kepada Allah bukanlah sesuatu yang harus dijabarkan secara eksplisit oleh gereja.

Ketika saya kemudian tiba di Hong Kong, saya berkata kepada diri sendiri, “Sungguh luar biasa hidup di masyarakat yang bebas di mana saya dapat menyembah Allah di gereja dan membeli Alkitab di toko buku.” Namun, ketika saya mulai mengunjungi gereja-gereja di Hong Kong, saya melihat betapa matinya orang-orang Kristen di sana. Hati saya hancur. Saya berkata kepada diri sendiri, “Inikah kebebasan? Orang-orang Kristen ini tidak memi­liki kehidupan!” Saya tidak dapat berbicara dengan mereka tentang hal-hal yang dalam tentang Allah atau bahkan hal-hal yang mendasar.

Ketika saya menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah Allah lakukan dalam hidup saya, mereka tidak dapat mema­hami apa yang saya bicarakan. Mereka menatap saya dengan heran seolah-olah saya datang dari luar angkasa. Setelah mende­ngar pengalaman saya tentang mukjizat-mukjizat Allah, mereka berkata kepada saya, “Hal-hal ini terjadi dalam kitab Kisah Para Rasul. Apakah kamu baru saja keluar dari abad pertama?” Saya berkata kepada diri sendiri, “Apa yang terjadi di sini? Saya bah­kan tidak dapat bersekutu dengan sesama orang Kristen.”

Seiring berjalannya waktu, saat saya mendengarkan khotbah-khotbah yang disampaikan di gereja-gereja, saya mulai melihat ketidakpedulian terhadap masalah penting yang berkaitan dengan hubungan kita dengan Allah. Saat saya berbicara dengan beberapa pendeta, saya merasa sedang berbicara dengan para pebisnis yang lebih tertarik dengan pendapatan gereja atau properti gereja daripada dengan hubungan yang mendalam dengan Allah. Mereka terus-menerus memikirkan cara untuk memper­luas fasilitas gereja dan mengumpulkan dana untuk memperluas organi­sasi mereka, seperti halnya bisnis yang mencoba memperluas pangsa pasarnya. Saya merasa muak di hati dan bertanya-tanya apa masalahnya.

Selama beberapa waktu saya tidak dapat menemukan masa­lahnya. Namun, saat saya menanti jawaban dari Allah, dan mene­liti apa yang Alkitab katakan tentang hal itu, saya mulai melihat bahwa akar masalah­nya adalah kurangnya komitmen. Orang-orang di masyarakat bebas tidak tertarik untuk berkomitmen kepada Allah. Kegagalan gereja untuk mengajarkan komitmen telah mengakibatkan matinya gereja-gereja di sekitar kita. Setiap kali saya mengemukakan masalah komitmen, banyak orang akan berkata kepada saya, “Harga komitmen terlalu tinggi. Jika kamu mengajarkannya, tidak seorang pun akan datang ke gereja atau menjadi orang Kristen.” Terhadap hal ini saya akan berkata, “Namun, komitmen diajarkan di mana-mana dalam Alkitab.”

Mari kita tinjau Alkitab untuk melihat apa yang dikatakannya tentang komitmen. Jangan terima apa yang saya katakan berda­sarkan pendapat manusia, tetapi lihat sendiri apa yang Alkitab ajarkan tentang komitmen.


Kepada siapakah kita berkomitmen?

Alkitab mengajarkan bukan hanya komitmen, tetapi komitmen total. Komitmen adalah fondasi hubungan kita dengan Allah. Kadang-kadang komitmen dinyatakan secara eksplisit dalam Alkitab, dan kadang-kadang secara implisit dalam ayat-ayat yang hanya masuk akal jika dikaitkan dengan komitmen.

Kita mulai dengan nas penting dari Kitab Suci Ibrani, Shema dari Ulangan 6:4-5:

4 Dengarlah, hai orang Israel. TUHAN adalah Allah kita. TUHAN adalah satu. 5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.

Di sini komitmen total kepada Allah terlihat dalam kasih total kepada Allah. Kita harus mengasihi TUHAN Allah kita dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita. Tiga kata “segenap” mencakup totalitas dalam pengabdian (segenap hati), totalitas dalam pribadi (sege­nap jiwa), dan totalitas dalam tindak­an (segenap kekuatan).

Dan siapakah TUHAN, Allah kita, yang harus kita kasihi dengan segenap hati kita? Di sini TUHAN dicetak dengan huruf kapital, sebuah konvensi tipografi yang digunakan dalam Alkitab untuk menunjukkan bahwa kata Ibrani aslinya adalah YHWH atau Yahweh.

Oleh karena itu, kita berkomitmen kepada Yahweh! Kita harus mengasihi Yahweh, Allah kita, dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita. Perhatikan terjemahan berikut dari Ulangan 6:4-5 di Indonesian Literal Translation (ILT) dan bagai­mana terjemahan itu mempertahankan nama Yahweh:

Dengarkanlah hai Israel, Yahweh, Elohim kita, Yahweh itu Esa. Kasihi­lah Yahweh, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuat­anmu!


Siapakah sebenarnya Yahweh?

Untuk pembahasan tentang siapa Yahweh, lihat catatan tambah­an di akhir bab ini. Berikut ini adalah ringkasan dalam tujuh poin:

  • “Yahweh” adalah nama pribadi Allah
  • “Yahweh” adalah sebutan utama untuk Allah dalam Alkitab Ibrani
  • “Yahweh” adalah nama unik yang tidak pernah merujuk pada dewa-dewa palsu
  • Yahweh adalah satu-satunya Allah
  • Yahweh adalah satu-satunya Pencipta alam semesta
  • Yahweh adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub
  • Yahweh adalah Allah dan Bapa Yesus Kristus


Mencintai Allah dengan seluruh keberadaan kita

Setelah mencermati Ulangan 6:4-5, sekarang kita perluas ayat tersebut hingga mencakup ayat 6 dan 7, untuk melihat sejauh mana komitmen kita kepada Allah:

Dengarlah, hai orang Israel. Yahweh adalah Allah kita. Yahweh ada­lah satu. Kasihilah Yahweh, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu. Ingatlah selalu perintah-perintah yang kusam­paikan kepadamu hari ini.  Kamu harus mengajarkan semua­nya itu terus menerus kepada anak-anakmu dan bicarakanlah ketika kamu duduk di rumahmu, ketika kamu sedang dalam perjalanan, ketika kamu sedang berbaring, dan ketika kamu bangun. (Ul 6:4-7)

Baik ketika kamu tidur atau terjaga, duduk atau berjalan, di dalam atau di luar rumah, kamu harus mengasihi Yahweh, Allah­mu, dengan sege­nap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuat­anmu. Ini adalah kasih yang total dan komitmen total, dan diulangi di Ulangan 11:13:

Hal itu akan terjadi jika kamu patuh terhadap perintah yang kukata­kan kepadamu hari ini yaitu kasihilah Yahweh, Allah­mu dan layani­lah Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.

Hal ini ditegaskan kembali oleh Yesus di Matius 22:37:

Dan, Yesus berkata kepadanya, “Kamu harus mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu.”

Oleh karena itu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, komitmen total terlihat dalam mengasihi Yahweh, Allah kita dengan seluruh keberadaan kita.


Apakah kata “komitmen” benar-benar ada di dalam Alkitab?

Apakah kata komitmen ditemukan dalam Alkitab atau kita yang menga­rangnya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu dicatat bahwa tidak adanya kata tertentu dalam Alkitab tidak berarti kata tersebut salah. Beberapa konsep Alkitabiah disam­paikan dengan kata-kata yang tidak ditemukan dalam Alkitab. Contohnya adalah kata sakramen yang mengacu pada baptisan dan Perjamuan Kudus.

Contoh lain adalah penebusan (atonement), sebuah kata yang meru­juk pada sesuatu yang dicapai melalui kematian Kristus: ia mati untuk menebus—membayar—dosa-dosa kita agar dapat mendamaikan kita dengan Allah. Kata itu hanya muncul satu kali dalam Perjanjian Baru KJV, di Roma 5:11, sebuah ayat di mana Alkitab modern lebih cenderung menggunakan kata rekonsiliasi. Namun, apakah penebusan digunakan atau tidak, kata itu meng­ungkapkan kebenaran tentang apa yang telah dicapai bagi kita di kayu salib.

Akan tetapi, komitmen tidak termasuk dalam kategori yang sama dengan sakramen atau penebusan karena komitmen adalah kata yang digunakan berkali-kali dalam Alkitab dalam kaitannya dengan Allah. Kata ini ditemukan, misalnya, di Mazmur 31:5 di sebagian besar Alkitab: “Ke dalam tangan-Mu, aku menyerahkan (commit) rohku, Engkau telah membebaskan aku, ya Yahweh, Allah yang setia”. Ketika Yesus sedang sekarat di kayu salib, ia berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan­­-Mu Kuse­rahkan (commit) nyawa-Ku” (Luk 23:46). Menye­rah­kan nyawa kepada Allah berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Kata “serahkan” (commit) ditemukan di Mazmur 37:5 di seba­gian besar Alkitab: “Serahkan jalanmu kepada Yahweh, percaya­lah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”. Sekali lagi, ide dasarnya adalah memper­cayakan, menaruh sesuatu dalam pemeliharaan seseorang. Menyerahkan jiwaku kepada Allah berarti menaruh hidupku, rohku, dalam pemeli­haraan Allah.

Amsal 16:3 mengatakan, “Serahkanlah perbuatanmu kepada Yahweh, maka rencana-rencanamu akan ditegakkan.” Percaya­kan pekerjaan dan usahamu kepada Allah agar Dia dapat membuat semuanya berbuah sesuai dengan kehendak-Nya.

Oleh karena itu, kata “komitmen” tidak termasuk dalam golongan kata-kata seperti sakramen atau penebusan dari segi keha­diran atau ketidakhadirannya dalam Alkitab. Sebaliknya, kata komitmen digunakan berkali-kali dalam Alkitab dalam kaitannya dengan Allah.

“Karena itu, biarlah mereka yang menderita karena kehendak Allah, mempercayakan (commit) jiwanya kepada Sang Pencipta yang setia, sambil terus melakukan apa yang baik.” (1Ptr 4:19) Kata Yunani untuk jiwa juga berarti hidup. Menyelamatkan jiwa berarti menyelamatkan hidup; kehilangan jiwa berarti kehilangan hidup. Mempercayakan jiwa kepada Allah berarti menyerahkan hidup kepada Allah.

Ini sebenarnya adalah prinsip iman dalam Alkitab: memper­cayakan diri Anda kepada Allah. Iman bukan hanya percaya pada doktrin terten­tu, tetapi menyerahkan diri Anda kepada Allah. Percaya dengan sepenuh hati bahwa lift dapat membawa Anda ke atas pada dasarnya berbeda dengan melangkah masuk ke dalam­nya. Jika Anda tidak melangkah masuk ke dalam lift, Anda tidak akan naik meskipun Anda percaya dengan sepenuh hati bahwa lift dapat membawa Anda ke atas. Anda harus berjalan masuk ke dalam lift dan mempercayakan diri Anda kepa­danya. Dalam Alkitab, mempercayakan berarti percaya “ke dalam”. Ketika Anda mempercayakan diri Anda kepada lift, Anda melangkah masuk ke dalam lift dan membiarkannya membawa Anda ke atas.

Demikian pula, Anda tidak diselamatkan hanya dengan perca­ya bahwa Allah dapat menyelamatkan Anda. Setan juga percaya bahwa Allah memiliki rencana keselamatan, tetapi itu tidak akan menyelamat­kannya. Setan percaya bahwa Allah itu esa, tetapi mereka gemetar (Yak 2:19). Untuk diselamatkan, Anda harus percaya kepada Allah sedemi­kian rupa sehingga Anda berkomit­men atau mempercayakan diri Anda kepada-Nya.

Dalam kebanyakan Alkitab, kata percaya digunakan di 1 Petrus 4:19 (dikutip) dan di ayat-ayat seperti 1 Timotius 1:18 dan 2 Timotius 1:12 dan 2:2. Yesus menyerahkan dirinya kepada Allah Bapa, mempercaya­kan rohnya kepada Dia, ketika ia men­derita dan mati bagi kita:

Ketika Ia diejek, Ia tidak membalas dengan ejekan; ketika Ia men­derita, Ia tidak mengancam, tetapi menyerahkan diri-Nya kepada Allah yang akan menghakimi dengan adil. (1Ptr 2:23)


Kisah seorang mantan gangster

Sekarang kita beralih dari penggunaan kata “komitmen” yang eksplisit ke penggunaan kata “komitmen” yang implisit. Kata-kata pertama yang Yesus sampaikan pada awal pelayanannya setelah pembaptisannya adalah: “Bertobatlah karena Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 4:17).

Di sini kata Yunani untuk “bertobat” berarti perubahan hati, peru­bahan pikiran, perubahan sikap. Bertobat berarti mengubah hidup Anda. Anda sedang menuju ke satu arah, sekarang Anda berbalik arah.

Namun, apakah pertobatan mungkin terjadi tanpa komitmen? Inilah yang saya maksud dengan komitmen “tersirat”. Kata “komitmen” mung­kin tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi tanpa komitmen, tidak akan ada perubahan atau pertobatan. Kita tidak berbicara tentang reformasi yang dangkal, tetapi transfor­masi yang luas dari satu keadaan hati menjadi keadaan hati yang lain.

Saya mendengar kesaksian seorang mantan gangster Chicago yang menceritakan apa artinya baginya untuk bertobat dan men­jadi seorang Kristen. Meninggalkan gaya hidup gangsternya, pertama-tama, akan menempatkannya dalam bahaya terus-menerus untuk dibunuh. Mantan gengnya ingin dia mati karena dia tahu terlalu banyak rahasia geng tersebut. Dia bisa masuk ke kantor polisi mana pun dan memberikan nama-nama gangster hingga ke bosnya.

Kedua, karena ia memperoleh uang dan harta melalui kejahat­an, maka pertobatan berarti mengembalikan semuanya kepada korbannya.

Ternyata pertobatan bukanlah hal yang mudah. ​​Mungkinkah mantan gangster ini bertobat seperti yang dilakukannya tanpa komitmen? Dia mempertaruhkan nyawanya. Dia menjual semua yang dimilikinya dan berusaha mengembalikan setiap sen hingga dia tidak punya apa-apa lagi.

Bagi kebanyakan dari kita, menjadi Kristen tidaklah sedrama­tis itu. Namun, apa pun keadaan kita, kita tetap harus berubah dengan cara kita sendiri. Dalam setiap kasus pertobatan, komit­men dibutuhkan karena tanpanya, perubahan tidak akan mung­kin terjadi.

Jika kita tidak mau berkomitmen kepada Allah, kita seharus­nya tidak berbicara tentang pertobatan atau kita akan menjadi­kannya istilah yang hampa. Kita sering kali memahami perto­batan dalam arti merasa menye­sal atas dosa-dosa kita, tetapi itu bukanlah makna pertobatan dalam Alkitab. Pertobatan sejati melibatkan perubahan mendasar dalam hati dan pikiran, bukan sekadar merasa menyesal. Mantan gangster itu merasa lebih dari­pada menyesal ketika ia mempertaruhkan nyawanya; bahkan geng itu pernah mencoba membunuhnya. Ia menjual semua yang dimilikinya dan menjadi miskin. Menjadi seorang Kristen me­ngor­­bankan segalanya; itu adalah perubahan yang membu­tuhkan komitmen total.


Komitmen dan Kerajaan Allah

Sekarang kita lanjutkan ke Kerajaan Allah, tema utama Perjanjian Baru dan ajaran Yesus. Dapatkah Anda memberitakan Kerajaan Allah tanpa berbicara tentang, atau setidaknya menyiratkan, komitmen? Anda tidak dapat melakukan ini kecuali dengan mengabaikan makna alkitabiah dari “Kerajaan”. Namun, jika Anda memahami apa itu komitmen, Anda akan tahu apa itu Kerajaan Allah. Jika Anda menyingkirkan komitmen dari Kera­jaan, Anda akan berakhir dengan istilah kosong yang telah kehi­langan maknanya.

Kerajaan Allah pada dasarnya berarti pemerintahan Allah. Kerajaan Allah menyatakan Allah sebagai Raja. Kata kerajaan yang tradisional, yang telah menjadi standar dalam Alkitab kita, mungkin membi­ngungkan kita pada  zaman modern ini karena kita akan memahaminya dalam istilah wilayah seperti “Kerajaan Inggris”. Namun, itu bukanlah makna dasar kerajaan dalam Perjanjian Baru. Kerajaan Allah pada dasarnya berarti pemerin­tahan Allah—pemerintahan-Nya, kekuasaan-Nya, kedaulatan-Nya—dan tidak terutama berkaitan dengan wilayah (lihat bab 11 dari buku ini, catatan kaki ke-2, tentang makna kata Yunani basileia). Namun, karena kerajaan digunakan dalam Alkitab King James, istilah ini telah menjadi istilah standar, meskipun beberapa terjemahan modern mulai menggunakan istilah peme­rintahan.

Kekuasaan Allah berarti bahwa Allah adalah raja dalam hidup Anda. Jika Anda memikirkan maknanya dalam praktik, Anda akan melihat bahwa itu melibatkan komitmen total. Tanpa komitmen, Anda tidak dapat beralih dari cara hidup yang mementingkan diri sendiri ke dalam kehidupan di mana Allah adalah raja. Dalam cara hidup lama, Anda berbuat semau Anda dan berbuat dosa semau Anda. Anda melakukan hal-hal yang egois dan kehilangan kesabaran semau Anda. Namun, seka­rang setelah Anda hidup di bawah kekuasaan Allah, Anda tidak lagi melakukan apa yang biasa Anda lakukan. Anda bahkan harus menda­patkan izin Allah untuk marah!

“Saya sedang marah. Apakah saya boleh marah?”

“Tidak.”

“Apa yang bisa saya lakukan? Saya hampir meledak.”

Tenangkan diri dan andalkan pertolongan Allah untuk mengendali­kan amarah Anda. Ini bukan berarti orang Kristen tidak boleh marah sama sekali, tetapi ini berarti Anda tidak boleh kehilangan kesabaran dan bertindak di luar kendali, menghan­curkan kursi dan melempar piring. Anda mungkin marah, tetapi Anda tidak boleh berperilaku dengan cara yang tidak menghor­mati Allah.

Kemarahan tidak selalu salah. Paulus berkata, “Marahlah dan jangan berbuat dosa” (Ef 4:26). Kemarahan mungkin dibenarkan ketika kita melihat kejahatan atau ketidakadilan, tetapi kita tidak boleh berperilaku dengan cara yang tidak menghormati Allah. Ini membutuhkan banyak pengendalian diri, suatu kualitas yang merupakan buah Roh (Gal 5:22-23).

Mungkinkah untuk tunduk kepada kekuasaan Allah tanpa komit­men? Sama sekali tidak. Hidup di bawah kekuasaan Allah membutuhkan komitmen: “Aku mempercayakan diriku kepada-Mu dan tunduk kepada kekuasaan-Mu sebagai tanggapan atas kasih-Mu kepadaku.” Namun, Allah tidak akan memaksa Anda untuk tunduk kepada kekuasaan-Nya, karena itu adalah sesuatu yang Anda pilih sendiri.


Apakah kita menjadikan Allah sebagai raja konstitusional?

Bagi kebanyakan orang, kekuasaan Allah adalah konsep yang samar-samar. Allah diperlakukan sebagai raja konstitusional seperti halnya Ratu Inggris yang merupakan raja konstitusio­nal—raja dalam nama. Ia dihormati sebagai Ratu dan disapa “Yang Mulia”, tetapi ia tidak memiliki kekuasaan pemerintahan yang sebenarnya. Perdana Menterilah yang memegang otoritas yang sebenarnya. Gelar “Yang Mulia” pada awalnya berarti keku­asaan tertinggi, tetapi dalam monarki konstitusional, orang yang disapa “Yang Mulia” tidak memiliki kekuasaan yang sebenarnya.

Situasi serupa terlihat dalam kehidupan banyak orang Kristen. Anda mungkin menyebut Allah sebagai Tuan dan Raja, tetapi Anda melaku­kan hal Anda sendiri. Anda adalah Perdana Menteri yang memegang kekuasaan sesungguhnya dalam hidup Anda sedangkan Allah hanyalah seorang raja konstitusional yang tidak memiliki kendali atas hidup Anda. Anda adalah seorang Kristen dalam nama, tanpa komitmen sejati kepada Allah.

Inggris secara nominal adalah negara monarki, tetapi juga demokrasi. Secara teknis, demokrasi tidak bisa menjadi monarki karena itu akan menjadi kontradiksi. Dalam sebuah monarki, raja yang memerintah; dalam sebuah demokrasi, rakyat yang meme­rintah. Namun, hari ini kita telah menyusun pengaturan di mana raja atau ratu mempertahankan gelar raja, tetapi tidak memegang kekuasaan yang sebenarnya. Perwa­kilan terpilih, Perdana Mente­ri, yang memegang kekuasaan pemerin­tahan yang sebenarnya. Ia dan pemerintahannya menulis agenda untuk Parlemen dan Ratu wajib memberikan persetujuannya.

Dalam kehidupan Kristen, kita juga memutuskan apa yang akan kita lakukan. Kita menyampaikan agenda kita kepada Allah yang kita sebut Tuan dan Raja, tetapi pada hakikatnya kita berka­ta kepada-Nya, “Tolong tanda tangani di garis putus-putus dan berkati saya.” Kita mungkin memiliki kesopanan untuk berkata “tolong”, tetapi jika Allah tidak memberkati kita, persembahan akan turun minggu depan. Kita beren­cana untuk memberi $50, tetapi sekarang kita memberi $5 karena Allah tidak memberkati kita seperti yang kita inginkan.

Namun, pemerintahan Allah tidak berjalan seperti itu. Jika Anda menjadikan-Nya sebagai raja konstitusional dalam hidup Anda, Anda akan berakhir sebagai pecundang. Anda mungkin bisa menipu diri sendiri, tetapi Anda tidak akan bisa menipu Allah. Hidup Anda akan menjadi istana kosong tempat Anda melakukan hal-hal sesuka hati, tetapi Allah tidak ada di sana.


Komitmen dan Khotbah di Bukit

Khotbah di Bukit (Matius bab 5, 6, 7) sangat penting untuk pema­haman yang benar tentang ajaran Yesus, tetapi kita bahkan tidak dapat mema­hami Khotbah itu karena kita secara mental telah mengurangi komitmen darinya.

Ketika Anda melihat Ucapan Bahagia (pernyataan-pernyataan “ber­bahagia” dalam Matius 5:3-12), apakah Anda akan mengata­kan bahwa mereka yang digambarkan sebagai “berbahagia” akan dianggap berba­hagia menurut standar dunia? Berbahagialah orang miskin, tetapi dunia menganggap orang kaya yang berba­hagia. Berbahagialah orang yang berdukacita dan menangis, tetapi dunia mengharapkan sukacita dan tawa dari mereka yang berbahagia. Berbahagialah orang yang lemah lembut, tetapi dunia mengagumi yang dominan dan asertif. Ucapan Bahagia diakhiri dengan, “Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran”. Sejak kapan penganiayaan merupakan berkat? Jika Anda dianiaya karena menjadi seorang Kristen, apakah Anda akan merasa itu adalah berkat?

Apa yang Alkitab gambarkan sebagai berkat, tidak dianggap sebagai berkat oleh dunia. Di sini kita melihat bahwa nilai-nilai Allah adalah kebalikan dari nilai-nilai manusia:

“Sebab, pemikiran-Ku bukanlah pemikiranmu, dan jalanmu bukan­lah jalan-Ku,” firman TUHAN. Seperti langit lebih ting­gi dari bumi, demikianlah jalan-Ku lebih tinggi daripada jalanmu, dan pemikiran-Ku daripada pemikiranmu.” (Yes 55:8-9)

Saya selalu mengatakan bahwa Alkitab tidak mungkin dicipta­kan oleh manusia, karena sangat berbeda dengan cara berpikir kita.


Komitmen dan Anugerah

Komitmen tidak dapat dipisahkan dari anugerah, karena tanpa komit­men kita tidak dapat memanfaatkan anugerah dan kuasa Allah, baik itu kemampuan untuk memahami firman-Nya mau­pun untuk memenuhi perintah-perintah-Nya. Cepat atau lambat Anda akan menemukan diri Anda dalam situasi di mana Anda berkata, “Tuhan, ini tidak mungkin dapat dipenuhi, tetapi karena Engkau memerintahkannya, saya akan melakukannya dengan anugerah-Mu.” Dengan komitmen seperti ini, Anda akan menga­lami kuasa Allah.

Setelah kita memenuhi Ucapan Bahagia, langkah selanjutnya adalah memenuhi ayat-ayat setelah Ucapan Bahagia: Matius 5:13, “Kamu adalah garam dunia,” dan ayat 14, “Kamu adalah terang dunia.” Frasa-frasa ini terdengar akrab bagi kita, tetapi gereja terlalu sering bukan garam dunia atau terang dunia. Sekali lagi akar masalahnya adalah kurangnya komit­men. Anda tidak dapat mengabaikan Ucapan Bahagia dan melanjutkan ke ayat 13 dan 14. Jika Anda mencoba melewati Ucapan Bahagia untuk menjadi garam dunia, itu tidak akan berhasil. Anda menjadi garam dunia hanya ketika Anda berkomitmen untuk memenuhi Ucapan Bahagia: menjadi miskin dalam roh, berduka karena dosa, diania­ya demi kebenaran.

Banyak orang Kristen belum mengalami kuasa Allah yang transfor­matif. Namun, jika kita membiarkan Allah mengubah kita, kita akan mengalami kuasa-Nya dan mengenal-Nya sebagai Allah yang hidup. Kita kemudian akan beralih dari kegelapan menuju terang: “Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang dalam Tuhan. Hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef 5:8).


Tekad untuk tidak berbuat dosa

Yesus melanjutkan Khotbah di Bukit:

Kalau mata kananmu membuatmu berdosa, cungkillah matamu itu dan buanglah itu darimu. Sebab, lebih baik kamu kehilangan salah satu anggota tubuhmu daripada seluruh tubuhmu dibuang ke dalam neraka. Dan, jika tangan kanan­mu membuatmu berdosa, potong dan buanglah tanganmu itu darimu karena lebih baik kamu kehilangan salah satu anggota tubuhmu daripada seluruh tubuhmu dibuang ke dalam neraka. (Mat 5:29-30)

Inilah komitmen sejati! Bahkan kata “komitmen” mungkin terlalu lemah untuk menggambarkan tindakan yang tegas dan menakutkan ini. Anda harus rela memotong tangan kanan Anda jika itu menyebabkan Anda berdosa. Tanpa komitmen semacam ini, Yesus memperingatkan, Anda bisa berakhir di neraka.

Akan tetapi, Yesus tidak bersikap dangkal dengan mengatakan bahwa Anda dapat mengatasi masalah dosa hanya dengan memo­tong tangan Anda. Kita mungkin juga harus memenggal kepala kita karena otak kita masih akan berdosa setelah tangan kita dipotong. Dalam ayat sebelum­nya (Mat 5:28), Yesus mengatakan bahwa masalah dosa terletak di “hati”. Kemudian ia mengguna­kan bahasa yang hidup untuk meng­gam­barkan jenis komitmen yang dibutuhkan untuk melawan dosa. Ia tidak bermak­sud bahwa Anda benar-benar memotong tangan Anda, tetapi Anda harus memiliki tekad dan komitmen untuk melakukan apa pun agar tidak berdosa. Lebih baik kehilangan sesuatu seperti tangan atau mata Anda daripada berakhir di neraka.

Allah kita adalah Allah yang penuh kasih, tetapi juga Allah yang kudus. Kekudusan merupakan ajaran utama dalam Alkitab, tetapi jarang diajarkan di gereja-gereja dewasa ini. Komitmen kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari komitmen terhadap kekudusan.


Membedakan kebenaran

Akhirnya, bagaimana kita tahu apakah suatu ajaran itu benar atau salah? Yesus berkata, “Jika seseorang mau melakukan kehendak Allah, ia akan mengetahui ajaran-Ku, apakah itu berasal dari Allah atau dari diri-Ku sendiri” (Yoh 7:17). Sekali lagi kita meli­hat panggilan untuk berkomit­men. Jika Anda berkomitmen untuk melakukan kehendak Allah, Anda akan tahu apakah suatu ajaran itu benar atau salah, entah itu berasal dari Allah atau dari manusia.

Saya memiliki keyakinan penuh pada kebenaran Allah karena sejak saya mengenal-Nya bertahun-tahun yang lalu, saya telah memprak­tikkan ayat ini. Saya bersaksi bahwa itu benar. Saya telah memper­taruhkan hidup saya padanya, dan saya tahu itu benar. Jika Anda berse­dia berkomitmen kepada Allah, Anda akan mengalami Dia sebagai Allah yang hidup!

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨