SC Chuah | Paskah 2026 |

1 Korintus 15
2 Oleh Injil itu juga kamu diselamatkan, asal kamu berpegang teguh pada firman yang telah kuberitakan kepadamu, kecuali kamu percaya dengan sia-sia.

10 Namun, karena anugerah Allah, aku adalah aku yang sekarang. Dan, anugerah-Nya kepadaku tidaklah sia-sia.

14 Dan, jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga imanmu.

17 Dan, jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah imanmu, dan kamu masih berada dalam dosa-dosamu.

58 Jadi, Saudara-saudaraku seiman yang kekasih, berdirilah kuat, jangan goyah, melimpahlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab, kamu tahu bahwa jerih lelahmu tidak sia-sia di dalam Tuhan.


BAHAYA KESIA-SIAAN

1 Korintus 15 sering disebut “pasal tentang kebangkitan”. Dalam pasal ini, kata “sia-sia” muncul 6x dan konsep mengenai kesia-siaan mewarnai seluruh pasal.  Hal yang paling ditakuti Paulus adalah “berlari dengan sia-sia dan bekerja keras dengan sia-sia” (Flp 2:16). Kita dianugerahkan untuk hidup hanya satu satu kali. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk “memastikan bahwa apa yang kita kerjakan dan yang sudah kita kerjakan tidak sia-sia” (Gal 2:2). Alangkah tragisnya jika pada hari itu kita menemukan bahwa anugerah-Nya kepada kita ternyata sia-sia di hadapan-Nya.

Ini merupakan salah satu alasan mengapa pujian manusia begitu berbahaya. Pujian manusia berpotensi menyesatkan kita. Kita dibuat berpikir bahwa kita menjalani kehidupan yang bermakna, tetapi dalam kenyataannya sia-sia di hadapan Allah.

Di ayat 19, Paulus memakai istilah “orang-orang yang paling malang dari semua manusia”. Paling malang? Menjadi bagian dari umat pilihan Allah seharusnya menjadikan kita orang-orang yang paling beruntung dari semua manusia. Namun, firman Tuhan memberi tahu kita bahwa kita dapat jatuh dari orang paling beruntung menjadi paling malang. Apakah kita termasuk orang-orang paling malang atau paling beruntung? Sikap kita terhadap kebangkitanlah yang akan menjadi faktor penentu.


KRISTUS TELAH BANGKIT!

Kebangkitanlah yang membenarkan seluruh pelayanan Yesus. Kebangkitanlah yang menjadikan kematian Yesus efektif sebagai korban penghapus dosa. Oleh karena itu, sepenting-pentingnya salib dalam kehidupan seorang murid, jauh lebih penting kebangkitan Yesus oleh kuasa Allah bagi kita. Salib sebenarnya bukanlah simbol yang secara tepat mencerminkan kita. Kita adalah umat Paskah dan Haleluyah adalah lagu kita. Ucapan Paskah tradisional jemaat Kristen Ortodoks adalah “Kristus telah bangkit!” Orang yang menerima ucapan akan menjawab, “Sesungguhnya Kristus telah bangkit!”

Itulah isi pengakuan iman keselamatan kita: “Jika dengan mulutmu kamu mengaku bahwa Yesus adalah Tuan, dan percaya di dalam hatimu bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kamu akan diselamatkan”. Tanpa iman pada kebangkitan, saudara bahkan tidak akan selamat.

Kita beribadah setiap hari Minggu justru untuk merayakan kebangkitannya. Boleh dikatakan kita merayakan Paskah setiap hari Minggu, merayakan kemenangan Kristus atas segala kuasa kegelapan. Setiap Minggu kita seharusnya datang beribadah dengan penuh pengharapan. Banyak sejarawan yang berpendapat bahwa ini merupakan bukti bahwa kebangkitan itu benar-benar terjadi. Bayangkan sebuah umat yang secara setia dan religius beribadah pada hari Sabtu selama ribuan tahun, tiba-tiba mengubah hari ibadahnya menjadi Minggu. Sesuatu yang mengguncang dunia pasti telah terjadi pada hari tersebut. 


BUKTI KEMENANGAN ALLAH ATAS KEJAHATAN

Kebangkitan Kristus merupakan bukti kemenangan Allah atas Iblis, yaitu bukti kemenangan kebaikan atas kejahatan. Jika Yesus berakhir di salib, tanpa kebangkitan kita tidak memiliki dasar untuk menyimpulkan bahwa Allah lebih kuat daripada Iblis dan bahwa kebaikan lebih kuat daripada kejahatan. Jika salib merupakan akhir, jika semuanya berakhir di salib, apa gunanya menjalani kehidupan yang baik? Jika itu nasib yang menimpa kehidupan yang sempurna, kita dapat menyimpulkan bahwa dunia ini tidak ada moralnya, kebaikan dan kejahatan tidak membawa perbedaan apa pun.

Tanpa kebangkitan, kita dapat bertanya, “Di manakah Allah? Apa gunanya kebaikan jika kejahatan dapat melakukan hal semacam itu pada kebaikan? Apa gunanya mengikuti teladan Yesus? Apa gunanya memikul salib dan mengikut dia? Bukankah kejahatan lebih besar daripada kebaikan, dan kematian lebih berkuasa daripada kehidupan?”

Dalam sebuah novel terkenal di Rusia oleh Dostoevsky, ada kisah tentang seorang pangeran yang setelah melihat lukisan tubuh Yesus yang tak bernyawa diturunkan dari salib, berkata, “Karena lukisan ini, banyak orang yang akan kehilangan imannya.”

Akan tetapi, kebangkitanlah yang mengubah segalanya. Iman pada kebangkitanlah yang menempatkan kita dengan teguh  pada pihak Allah, di pihak kebaikan, kebenaran dan kekudusan. Walaupun untuk sementara waktu tidak tampak seperti itu di dunia yang penuh dosa ini, kita menjalani hidup dengan penuh pengharapan pada kedaulatan Allah atas kejahatan. Kebangkitanlah yang mengubah kawanan murid yang melarikan diri dari Yesus menjadi orang-orang yang menyerahkan nyawanya demi Yesus. Allah akan meluruskan segalanya kelak.


MELAWAN GAGASAN BAHWA KEMATIAN ADALAH AKHIR

Kebangkitan menghapus gagasan bahwa kematian merupakan suatu akhir. Kebangkitan menunjukkan bahwa kematian bukanlah final, justru merupakan sebuah permulaan. Iman pada kebangkitan justru akan melahirkan sebuah lifestyle yang sangat berbeda. Percaya atau tidaknya kita pada kebangkitan akan menghasilkan dua pola hidup yang sangat berbeda. Orang yang percaya pada kebangkitan akan memandang hidup kita yang singkat di dunia ini hanya sebagai sebuah sekolah, sebuah lapangan latihan untuk kehidupan zaman akan datang. Itulah artinya menjadi “murid”. Seorang murid Yesus tidak pernah berhenti belajar, dan dia belajar sampai mati. Dia memiliki pandangan dunia yang unik, yaitu kehidupan di dunia ini sebagai arena untuk belajar. Kebangkitan mendidik kita untuk memandang kematian sebagai gerbang menuju sebuah permulaan yang baru, yaitu kehidupan yang sesungguhnya, dengan demikian menanggalkan rasa takut akan kematian.

Dalam kitab Wahyu, Yesus berkata, “Aku telah mati, tetapi lihatlah Aku hidup sampai selama-lamanya.” Buat sementara ini, hanya Yesus yang dapat berkata seperti itu. Tidak ada manusia lain yang dapat berbicara seperti itu. Semua tokoh manusia lain sebesar apa pun dia, hanya dapat berkata, “Aku telah hidup, tetapi lihatlah aku mati sampai selama-lamanya…”

Jemaat ini ada karena kebangkitan Yesus. Jika Yesus tidak bangkit, sebaiknya kita bubar. Namun, jemaat ini tidak akan tutup karena Yesus telah bangkit. Untuk menjauhi kesia-siaan dalam bentuk apa pun, dalam sisa waktu yang berikut, kita akan melihat siapakah orang-orang yang akan turut mengambil bagian dalam “kebangkitan hidup” (Yoh 5:29). Orang percaya seperti apakah yang akan bangkit untuk hidup?


GOL DARI SELURUH KEHIDUPAN KRISTEN

8 Sungguh, segala sesuatu kuanggap rugi dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus Kristus, Tuanku, yang jauh lebih berharga dari apa pun. Demi Kristus, aku telah kehilangan semuanya — karena semua itu sekarang kuanggap sampah! — supaya aku boleh mendapatkan Kristus.
9 …
10 Kiranya aku dapat mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, serta bersatu dalam penderitaan-Nya untuk menjadi seperti Dia dalam kematian-Nya
11 [sehingga dengan cara apa pun] pada akhirnya aku memperoleh kebangkitan dari antara orang mati. (Filipi 3)

Kita mulai dengan Paulus. Di sini Paulus memberi tahu kita motivasi kehidupannya. Paulus bahkah menyebutkan mindset seperti ini sebagai tanda kedewasaan. Siapa saja yang tidak memiliki semangat seperti ini akan ditegur Allah (3:15). Mindset seperti apa? Mindset memberikan segala-galanya untuk mencapai tujuan.

Apakah gol atau tujuan hidupnya? Ayat 11, [sehingga dengan cara apa pun] pada akhirnya aku memperoleh kebangkitan dari antara orang mati. Jika saudara membaca Alkitab Bahasa Inggris yang menerjemahkan secara harfiah seperti NAU, saudara akan melihat di catatan kaki, “Lit. if somehow, one way or another, by any means”. Dengan kata lain, Paulus sedang berkata, aku memberikan segala-galanya supaya (dengan cara apa pun, dengan satu cara atau cara yang lain, entah bagaimana) pada akhirnya aku memperoleh kebangkitan dari antara orang mati.  

Paulus tidak menunjukkan keyakinan dan kesembronoan yang ditunjukkan banyak orang Kristen dewasa ini. Jika Paulus tidak menunjukkan keyakinan seperti itu, tidak seorang pun yang berhak merasa terlalu yakin mereka akan mengambil bagian dalam kebangkitan itu. Bagi Paulus, itu sebuah gol yang dikejar secara terus menerus tanpa lelah.

Berikutnya dia berkata, “Saudara-saudara, aku tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya. Akan tetapi, satu hal yang kulakukan: aku melupakan apa yang di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Paulus melakukan satu hal yang terdiri dari dua langkah. Pertama, “melupakan apa yang di belakangku”. Langkah ini penting karena banyak orang yang suka bernostalgia tentang masa lalu. Masa lalu kita, entah baik atau buruk, entah sukses atau gagal, entah kelam atau cerah, entah pecundang atau pemenang, entah menyakitkan atau menyenangkan, sebaiknya dilupakan saja. Tidak usah dibicarakan melainkan itu memicu kemajuan. Langkah berikutnya adalah “mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku”. Kata “mengarahkan diri” dalam bahasa Yunani berarti, “mengerahkan diri sepenuhnya, meregangkan tubuh, berusaha keras.” Gambarannya di sini adalah seperti seorang atlet yang sedang mencapai garis akhir.


Tiga hal penting disebut di ayat 10

Kiranya aku dapat mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, serta bersatu dalam penderitaan-Nya untuk menjadi seperti Dia dalam kematian-Nya

 Tiga hal disebutkan di sini: mengenal Dia, mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan bersatu dalam penderitaannya. Umumnya kita merindukan dua hal yang pertama. Kita tidak terlalu yakin dengan yang ketiga, yaitu bersatu dalam penderitaannya. Siapa yang rindu menjadi seperti dia dalam kematiannya? Dalam iklim kekristenan yang membesar-besarkan berkat material dan jasmani dewasa ini, kita menemukan bahwa kita tidak sinkron dengan para pengikut awalnya dalam banyak hal.   

Akan tetapi, ketiganya merupakan satu paket yang yang tidak dipisahkan. Dalam pengalaman kita, menderita bersamalah yang seringkali membentuk ikatan yang tak terputuskan. Ketika menderita bersamalah, kita mengenal sesama di tingkat yang paling dalam. Kita menjadi serupa dengan Dia. Demikian pula, kapan kita paling membutuhkan kuasa-Nya? Ketika kita menderita, ketika kita lemah.   

 Bagaimana kita bersatu dalam penderitaannya? Ini membawa kita ke pokok berikutnya. Ada pelbagai cara kita dapat menderita bersamanya, tetapi pada tingkat yang paling dasar, kita menyucikan diri kita sama seperti dia suci.


MENYUCIKAN DIRI SAMA SEPERTI KRISTUS ADALAH SUCI

1, Perhatikanlah betapa besarnya kasih yang Bapa karuniakan kepada kita sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu, dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
2 Saudara-saudara yang kukasihi, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi seperti apa keadaan kita nanti belumlah tampak. Namun, kita tahu bahwa ketika Dia datang, kita akan menjadi seperti Dia karena kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3 Setiap orang yang memiliki pengharapan ini di dalam Kristus, dia menyucikan dirinya, sama seperti Kristus adalah suci. (1 Yohanes 3)

Perhatikan baik-baik ayat 3. Setiap orang yang memiliki pengharapan ini di dalam Kristus, yaitu pengharapan dibangkitkan dari antara orang mati, ketika tubuh kehinaan kita ini diubahkan menjadi serupa dengan tubuh kemuliaannya (Flp 3:21), dia akan menyucikan dirinya. Itulah tanda orang yang menantikan kedatangannya. Jika ada orang rajin ke gereja dan mengaku mengharapkan hidup yang kekal, tetapi tidak sedang aktif menyucikan dirinya, saya khawatir orang itu sedang menipu dirinya sendiri. Jika saudara tidak menunjukkan bukti bahwa saudara sedang menyucikan diri sendiri, saudara tidak akan mengambil bagian dalam kebangkitan hidup itu. Apakah saudara memiliki tanda penting ini?

Menyucikan diri sampai seperti apa? Sampai sama seperti Kristus adalah suci. Ini berarti kita akan menyucikan diri kita sampai mati. Kita tidak akan pernah berhenti menyucikan diri. Dengan sikap seperti ini, kita akan mengenal Dia dengan lebih baik hari demi hari. Hari ini kita akan mengenal-Nya lebih baik daripada kemarin. Dan besok kita akan mengenal-Nya lebih baik lagi daripada hari ini dan seterusnya. Dengan demikian setiap hari menjadi hari yang bermakna. Setiap hari merupakan anugerah, bukan rutinitas yang tak bermakna, melainkan kesempatan untuk mengenal-Nya lebih baik.

Lebih dari itu, sadar atau tidak, dan sebaiknya tidak sadar, kehidupan kita juga menjadi lebih baik dari hari demi hari. Hari ini kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin. Dan besok kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini dan seterusnya. Pada usia tua nanti, kita tidak akan menjadi grouchy old man (orang tua pemarah), sebaliknya memiliki kepribadian paling prima. 

Selama kita belum suci sama seperti Dia, kita tidak berhenti. Dengan sikap seperti ini, kita tidak akan mengalami kemunduran dalam kehidupan rohani. Kita dapat menggambarkan kehidupan Kristen itu seperti naik sepeda tanpa rem atas jalan menanjak. Jalannya menanjak karena menyucikan diri jauh lebih sulit daripada menajiskan diri. Berbuat benar jauh lebih sulit daripada berbuat salah, mengasihi jauh lebih berat daripada membenci, bersabar jauh lebih menguji daripada marah-marah, bersyukur jauh lebih menantang daripada berkeluh-kesah. Dalam jalan menanjak seperti ini, berhenti berarti mundur sampai jatuh. Tidak ada orang Kristen yang stagnan. Hanya ada yang maju atau yang mundur.


PERGAULAN YANG BURUK MENGHANCURKAN KEBIASAAN-KEBIASAAN YANG BAIK

Di tengah-tengah percakapan panjang lebar tentang kebangkitan di 1 Korintus 15, Paulus tiba-tiba memberikan peringatan tegas tentang pergaulan kita di ayat 33. Pergaulan yang buruk sangat bahaya karena pergaulan mempengaruhi kita secara pelan-pelan tanpa kita sadari. Justru karena itu, di sinilah kebanyakan orang menjadi agak lengah dan terlalu yakin. Kebanyakan orang, terutama anak muda, terlalu percaya diri bahwa mereka tidak terpengaruh oleh pergaulan.

Jauh lebih mudah pengaruh buruk menarik seseorang ke bawah daripada orang baik menarik seseorang ke atas. Jika saudara bergaul dengan orang yang suka mengumpat, lama kelamaan resistensi saudara terhadap mengumpat akan berkurang. Jika saudara bergaul dengan orang yang suka gosip, saudara pelan-pelan akan mulai gosip. Pepatah Inggris mengatakan, “birds of a feather flock together”,  artinya burung yang sama akan hinggap di dahan yang sama. Yang menjadi pertanyaan kita adalah: apakah kita suka bergaul dengan orang-orang saleh, atau dengan orang-orang duniawi? Apakah kita seperti Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja? Atau, justru kita menikmatinya? Kita dapat mengetahui banyak tentang seseorang hanya dengan melihat teman-teman nongkrongnya.

Konteks ayat ini adalah mengenai orang-orang yang filsafah hidupnya dinyatakan seperti berikut, “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. Di dunia yang semakin hedonistik dan sekuler ini, filsafah hidup ini tanpa malu-malu dinyatakan secara terang-terangan. Pandangan dunia ini menghasilkan gaya hidup parasit yang dangkal. Filsafah hidup yang hedonistik ini bertentangan dengan iman pada kebangkitan yang terfokus pada kekekalan. Iman pada kebangkitan merangkul dengan hati terbuka penderitaan dan kesusahan demi Kristus pada zaman ini.

Apakah melalui pergaulan, apakah melalui handphone atau TV, kita harus berhati-hati dengan hal-hal kita izinkan masuk ke pikiran kita. Itu karena apa saja yang masuk ke pikiran kita, mau tidak mau akan keluar dari mulut kita. Hal ini terutama penting bagi para hamba Tuhan yang memberitakan firman Allah. Para hamba Tuhan bertanggung jawab menyediakan susu murni yang tak tercemar untuk umat-Nya. Kita perlu dengan sangat ketat menyaring apa yang kita izinkan untuk masuk ke pikiran kita melalui mata dan telinga kita. Hanya dengan cara ini kita dapat menyampaikan firman-Nya yang jernih dan tak terkontaminasi. 


MEREKA YANG ADALAH MILIKNYA

21 Sebab, sama seperti kematian terjadi melalui satu orang, maka melalui satu orang jugalah kebangkitan dari antara orang mati terjadi.
22 Karena dalam Adam semuanya mati, demikian juga dalam Kristus semuanya akan dihidupkan.
23 Namun, tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung, setelah itu mereka yang adalah milik Kristus, pada kedatangan-Nya kembali. (1Kor 15)

Perhatikan dengan cermat siapa yang akan dihidupkan: Kristus sebagai buah sulung, setelah itu mereka yang adalah milik Kristus. Apakah saudara milik Kristus? Apakah saudara miliknya sepenuhnya tanpa syarat? Apakah saudara berkomitmen total pada Kristus? Tentu saja, menjadi milik Kristus berarti menjadi menjadi milik Allah. 1 Korintus 3:23 berkata, “kamu adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah”.

Ingatlah satu hal ini tentang Allah: Allah adalah kekasih yang cemburu. Di Keluaran 34:14, bahkan nama-Nya adalah Cemburu. Dia adalah kekasih yang posesif, Dia ingin memiliki kita sepenuhnya. Dia tidak akan berbagi kita dengan berhala dalam bentuk apa pun. Dia tidak akan berbagi kita dengan dosa, dunia, dengan setan. Kita yang bermain-main dengan dunia dan dosa akan membangkitkan amarah besar-Nya. Memiliki berarti memiliki seutuhnya. Ini merupakan persyaratan paling dasar untuk dihidupkan.

Jadi, kita perlu bertanya, “Apakah ada bagian dari hidup kita yang belum diserahkan kepada Kristus? Apakah ada sesuatu atau seseorang yang lebih penting daripada dia? Apakah dalam kehidupan kita ada sesuatu atau sikap yang dibenci Allah?” Jika ada, ingat bahwa ketika dia datang kembali nanti, dia datang hanya untuk miliknya.  Sebaiknya saudara menyucikan diri saudara dari hal-hal itu!

“Aku mengasihi Yakub, tetapi Aku membenci Esau”. Allah tidak segan memakai kata benci untuk menggambarkan diri-Nya. Mengapa Allah mengasihi Yakub? Yakub sepertinya tidak memiliki kepribadian yang menyenangkan, orangnya agak licik. Mengapa Esau pula dibenci? Selain menjual hak kesulungannya, kita tidak tahu apa-apa tentang kepribadiannya yang menyebabkan dia dibenci. Akan tetapi, ada satu perbedaan nyata antara Yakub dan Esau. Yakub merindukan yang terbaik dari Allah. Dia orang yang ingin diberkati Allah seperti Paulus. Sebaliknya, Esau pula orang yang bersikap acuh tak acuh terhadap Allah dan berkat-Nya. Allah benci sikap seperti itu. Seperti Esau, banyak orang di antara umat-Nya yang baik-baik saja, ramah dan santun, tetapi bersikap masa bodoh terhadap Allah.  

Kiranya Paskah ini menjadi Paskah yang bermakna bagi saudara semua. Kiranya Tuhan jauhkan segala bentuk kesia-siaan dari kehidupan kita.

 

← Back

Thank you for your response. ✨