Pastor Eric Chang | Bab 12 |


Kristus menurut gambar kita, atau kita menurut gambarnya?

Tujuan dari pembaruan adalah kesempurnaan, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Inilah arah hidup bagi setiap murid Yesus yang sejati. Dalam bab ini, kita akan menelaah beberapa pokok penting yang telah dibahas pada bab sebelumnya, dengan melihatnya dari sudut pandang lain, seraya berharap dapat memperoleh wawasan tambahan yang berharga.

Apa arti “menjadi seperti Kristus” dalam praktiknya? Apakah itu berarti kita harus bersikap “lemah lembut, rendah hati, dan jinak”? Namun, Yesus tidak selalu bersikap “lemah lembut dan jinak” sebagaimana kita memahami ungkapan tersebut. Ada bahaya di mana kita membentuk sosok Kristus menurut citra kita sendiri atau sesuai dengan idealisme kita, alih-alih membiarkan Allah membentuk kita menurut gambar Kristus. Kita tidak boleh mendefinisikan kekudusan semata-mata berdasarkan kebajikan-kebajikan manusiawi. Karakter Allah bukanlah karakter manusia, dan kebajikan-kebajikan-Nya pun bukan sekadar kebajikan manusiawi.

Apakah Yesus bersikap “lemah lembut dan jinak” saat ia mengusir para pedagang dari Bait Suci dan menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang (Yoh 2:14-17; Mrk 11:15-17; Mat 21:12-13)? Tindakannya membuat kita terusik karena tidak selaras dengan gagasan manusiawi kita tentang kebajikan. Kekudusan Kristus—yang dalam peristiwa ini ditunjukkan melalui tindakannya membuat cambuk dan menjungkirbalikkan meja-meja—tidak sesuai dengan konsep kita mengenai kekudusan atau kesucian. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang menjadi seperti Yesus, kita harus mengingat sosok Yesus sebagaimana digambarkan dalam Kitab Suci, bukan Yesus hasil imajinasi kita sendiri.

Menjadi seperti Kristus bukan sekadar meneladani karakternya, melainkan mencakup dua aspek: diubahkan menjadi serupa dengan rupa Kristus oleh Roh Allah, serta menjalankan misi yang telah ia laksanakan. Inilah hakikat pemuridan. Yesus berjalan di depan, dan kita mengikuti “jejaknya” (1Ptr 2:21)—sesuatu yang kini hanya dilakukan oleh segelintir orang Kristen. 


Apakah panggilan kita di dalam Kristus?

Pada bab sebelumnya, kita telah mempelajari pernyataan penting ini: “setiap orang yang percaya kepadaku, pekerjaan-pekerjaan yang aku lakukan, dia juga akan melakukannya” (Yoh 14:12). Kita melihat bahwa pernyataan ini tidak terutama—apalagi semata-mata—berkaitan dengan mukjizat. Di sini, istilah “pekerjaan-pekerjaan” merujuk pada keseluruhan misi yang dipercayakan Allah kepada Yesus. Ungkapan “setiap orang yang percaya kepadaku” tidak memberikan pengecualian kepada siapa pun. Setiap orang percaya yang sejati—setiap orang Kristen sejati dalam pengertian Alkitabiah—akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan Kristus demi keselamatan umat manusia, dengan pengecualian dalam hal menjadi pendamaian bagi dosa.

Banyak orang Kristen merasa bingung dengan pernyataan Paulus: “Sebab demi Kristus kamu telah dikaruniakan bukan hanya untuk percaya kepadanya, tetapi juga untuk menderita bagi dia” (Flp 1:29). Petrus pun mengatakan hal yang sama: “Sebab, untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus juga telah menderita bagi kamu dan meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejaknya.” (1Ptr 2:21).

Kita dipanggil untuk menderita bukan karena Allah senang membuat kita menderita, melainkan karena penderitaan akan muncul saat kita berpartisipasi dalam misi Kristus untuk membawa keselamatan bagi dunia. Tentu saja, kita tidak bisa mati demi dosa-dosa dunia; hanya Yesus, dia yang tanpa dosa, yang dapat melakukannya. Namun, setiap orang Kristen dipanggil untuk menderita demi menghadirkan karya keselamatan Kristus kepada semua orang di dunia.

Meskipun sejumlah orang percaya bersedia untuk turut ambil bagian dalam penderitaan Kristus demi keselamatan umat manusia, dapatkah misi penyelamatan ini diselesaikan oleh mereka saja? Apakah dalam rencana Allah misi ini harus diselesaikan oleh sekelompok kecil orang beriman, ataukah harus diselesaikan oleh jemaat-Nya secara keseluruhan? Apakah Kitab Suci menyatakan bahwa hanya segelintir orang yang dipanggil untuk menderita demi dia, dan bukan seluruh komunitas jemaat?

Jika seluruh jemaat memang dipanggil untuk membawa Injil ke dunia, maka pekerjaan ini harus dimulai dengan pembangunan kembali jemaat secara rohani—memperbaiki tembok-temboknya yang telah runtuh dan jebol. Kita perlu berdoa agar Allah menemukan orang atau orang-orang yang tepat untuk melaksanakan tugas ini.


Keadaan rohani gereja dan keadaan rohani Israel

Pada bab sebelumnya, kita telah membahas Yehezkiel 22:30. Mari kita tinjau kembali ayat 29 sampai 31, di mana terdapat pernyataan-pernyataan tajam yang disampaikan oleh Allah Yahweh:

Rakyat negeri itu telah mempraktikkan penindasan dan melakukan perampokan, menindas orang-orang miskin dan tidak mampu, serta menindas pendatang dengan tidak adil. Aku mencari seseorang di antara mereka, yang akan membangun tembok dan berdiri di celah di hadapan-Ku demi negeri itu, sehingga Aku tidak perlu menghancurkannya, tetapi Aku tidak menemukan seorang pun. Karena itu, Aku telah mencurahkan kegeraman-Ku ke atas mereka dan melahap mereka dengan api murka-Ku. Aku telah membalaskan jalan mereka ke atas kepala mereka,” firman Tuhan Yahweh.

Allah mencari satu orang saja di seluruh tanah Israel, dan apa yang Ia temukan? Ia mendapati orang-orang melakukan pemerasan dan perampokan. Ini tidak berarti bahwa orang-orang Israel saling merampok dengan menodongkan pisau, melainkan mereka memanfaatkan sesama orang Israel demi keuntungan pribadi. Keseluruhan konteks ini berbicara tentang orang-orang yang memerkosa hukum Allah dan menajiskan barang-barang kudus-Nya (ay 26). Mereka membelakangi perintah-perintah Allah, termasuk dua perintah yang terutama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan; serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Mengasihi sesama seperti diri sendiri? Hal itu telah diabaikan begitu saja. Kebenaran telah dibuang ke dalam pembuangan; kekudusan telah lenyap dari Israel.

Apakah kurangnya kasih dan penolakan terhadap kekudusan ini hanya menggambarkan bangsa Israel pada zaman Yehezkiel, atau apakah hal ini juga menggambarkan umat Allah pada masa kini? Adakah kasih terhadap sesama di dalam gereja sebagaimana yang diperintahkan oleh Yesus? “Inilah perintahku: Kamu harus saling mengasihi, sama seperti aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15:12)

Yehezkiel tidak mengatakan bahwa semua orang Israel bersalah karena perilaku yang tidak adil dan serakah. Namun, perilaku tersebut sudah begitu merajalela sehingga menuntut kecaman yang keras. Bukankah ketidakbenaran juga lazim terjadi di kalangan orang Kristen saat ini? Di dalam gereja, kita melihat adanya semangat memecah belah, kebohongan, kesombongan, imoralitas, fitnah—perlukah kita menyebutkan lebih banyak lagi? Apa bedanya kita dengan orang Israel? Akankah Allah menoleransi situasi seperti ini di dalam gereja-Nya?

Bukankah standar yang lebih tinggi dituntut dari gereja dibandingkan dari Israel? Yesus menegaskan hal ini pada awal pelayanan pengajarannya, dalam Khotbah di Bukit. Dalam Matius 5:2-48, ungkapan “Kamu telah mendengar yang dikatakan kepada nenek moyang kita… Akan tetapi, aku mengatakan kepadamu” diulang beberapa kali. Setiap kali ungkapan ini muncul, penekanan beralih dari ketentuan hukum yang bersifat lahiriah menuju sikap batin yang baru—dari yang tertulis secara harfiah kepada Roh (2Kor 3:6).  Kita hidup di bawah ketentuan perjanjian yang baru dan lebih baik (Ibr 7:22; 12:24), yang ditetapkan melalui darah Yesus, dan kita telah dikaruniai Roh Kudus. Kita pun tidak boleh melupakan prinsip bahwa “Setiap orang yang diberi banyak, dituntut banyak. Dan, mereka yang dipercayakan lebih banyak akan dituntut lebih banyak lagi.” (Luk 12:48) Mengingat fakta-fakta ini, apakah kita masih memuji diri sendiri dengan menganggap bahwa kondisi gereja—dengan tembok-temboknya yang telah jebol—tidak seburuk gambaran yang dipaparkan oleh Yehezkiel?


Dosa menembus tembok-tembok

Dalam Yehezkiel 22, Allah pertama-tama mengecam pemerasan dan perampokan yang dilakukan oleh umat-Nya, lalu dengan sedih menyatakan bahwa Ia tidak menemukan seorang pun yang mau berdiri di celah tembok yang rusak. Apa hubungan antara keduanya? Apa kaitan antara pemerasan dan perampokan yang disebutkan di awal dengan celah tembok yang rusak dalam pernyataan kedua? Yesaya 30:13 menghubungkan keduanya: “kejahatan ini akan seperti retakan tembok yang hampir jatuh”. Kejahatan diibaratkan sebagai celah pada tembok yang membuat umat tersebut kehilangan perlindungan. “Berdiri di celah tembok” berarti memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh dosa, demi memastikan kota tersebut mampu bertahan dari serangan musuh.

Yehezkiel 22:30 menyingkapkan isi hati dan perasaan Allah. Ia tidak mendapati seorang pun yang mau berdiri di celah tembok—tidak ada seorang pun yang cukup peduli terhadap kesejahteraan umat Allah agar mereka tidak binasa. Bahkan ketika ada seseorang yang bersedia berdiri di celah tersebut, seperti nabi Yeremia, bangsa itu justru tidak mengizinkannya. Akhirnya, Allah memerintahkan Yeremia untuk tidak lagi berdiri di celah itu, karena umat tersebut sudah tidak mungkin diselamatkan lagi. Kini, Allah terpaksa mencurahkan murka-Nya ke atas Israel (ay 31)—sebuah penghakiman Allah terhadap umat-Nya sendiri, bukan terhadap orang-orang yang tidak percaya.

Firman Allah digenapi pada tahun 587 SM ketika orang-orang Babel menjebol tembok Yerusalem dan menghancurkan Kota Suci tersebut, meratakannya dengan tanah serta membakar Bait Suci. Sebelumnya, orang Israel percaya bahwa Kota Suci itu tidak mungkin dapat ditembus, dan bahwa bagaimana pun cara mereka hidup, mereka akan tetap aman di dalam tembok-temboknya. Mereka beranggapan bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan kota itu dihancurkan karena itu adalah kota milik Allah; tempat di mana Bait Suci-Nya berada dan tempat Ia berdiam. Mereka menyimpulkan bahwa Allah pasti harus dan akan melindunginya dalam keadaan apa pun. Kota itu aman untuk selama-lamanya! Bahkan orang berdosa pun dapat merasa aman di dalam kota Allah.

Tidak sedikit nabi yang meyakinkan rakyat bahwa segalanya akan baik-baik saja. Nabi-nabi palsu ini mengumandangkan pesan yang menenangkan dan membuat terlena, yakni “Damai, damai” (Yer 6:14; 8:11; Yeh 13:10); jumlah mereka jauh lebih banyak sehingga diterima oleh rakyat. Sebaliknya, rakyat justru menolak nabi-nabi sejati—yang jumlahnya hanya sedikit—yang memperingatkan tentang kehancuran kota itu yang akan segera tiba.

Namun, segelintir nabi yang ditolak ini ternyata benar. Kota itu hancur lebur. Mereka yang tidak tewas di dalam tembok kota diseret dengan rantai menuju pembuangan.

Mikha telah memperingatkan Israel: “Sebab itu, karena kamu, Sion akan dibajak seperti ladang, Yerusalem akan menjadi timbunan puing” (Mi 3:12). Bagaimana tanggapan umat Allah terhadap hal ini? Mereka berseru, “Pengkhianat! Beraninya engkau berkata demikian? Allah berdiam di Kota Suci!” Kita cenderung berpikir—seperti halnya orang Israel—bahwa Allah hanya membinasakan orang yang tidak percaya, dan tidak akan pernah membinasakan orang percaya, sekalipun mereka berbuat dosa. Kesalahan yang tragis ini menjadi dasar bagi “jaminan” yang diyakini oleh banyak orang Kristen, serta menjadi landasan bagi banyak khotbah mengenai “jaminan keselamatan”. Paulus mengatakan:

Sebab, kamu sendiri benar-benar tahu bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri pada malam hari. Ketika orang-orang berkata, “Damai dan aman,” kebinasaan akan datang atas mereka secara tiba-tiba, seperti rasa sakit perempuan yang akan melahirkan, dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri. (1Tes 5:2-3)


Lima prinsip mengenai bagaimana Allah berurusan dengan umat-Nya

Mari kita cermati lima prinsip penting yang akan membantu kita lebih memahami kasih dan kekudusan Allah—dua aspek dari karakter Allah. Hal ini akan menolong kita melihat bagaimana Ia berurusan dengan umat-Nya, serta memperjelas makna rohani di balik tembok yang jebol dan kehancuran yang diakibatkannya.


Prinsip pertama: Allah adalah Juru Selamat, tetapi juga “Pahlawan perang”

Prinsip pertama adalah sebagai berikut: Perjanjian Lama menggam­barkan Allah Yahweh sebagai Juru Selamat, tetapi juga sebagai “pahlawan perang” yang menaklukkan kekuatan-kekuatan jahat demi menjadi Juru Selamat bagi umat-Nya. Kita melihat hal ini dalam Nyanyian Musa:

Yahweh adalah kekuatanku dan nyanyianku, Dia telah menjadi keselamatanku, Dialah Allahku dan aku akan memuji-Nya, Allah nenek moyangku, dan Aku akan meninggikan-Nya. Yahweh adalah pahlawan perang, Yahweh adalah nama-Nya. (Kel 15:2-3)

Perjanjian Lama menggambarkan Allah sebagai sosok pahlawan, sebagaimana terlihat berulang kali dalam kitab Yesaya, di mana Allah disebut sebagai “seorang pejuang” (42:13) atau dengan sebutan yang bermakna serupa (misalnya, 66:15-16).

“Pahlawan perang” berarti seorang pejuang, prajurit, anggota militer, atau seseorang yang terlibat dalam pertempuran. Istilah ini merujuk pada aktivitas seseorang, bukan pangkatnya. Dalam terminologi modern, seorang “pahlawan perang” bisa saja seorang raja ataupun prajurit biasa, seorang jenderal ataupun prajurit pangkat terendah. Raja Daud disebut sebagai “pahlawan perang” karena ia terus-menerus terlibat dalam peperangan dan mahir dalam pertempuran (1Sam 16:18).

Sebagai pahlawan perang, Allah Yahweh perkasa dalam pertempuran melawan kejahatan dan ketidakbenaran: “Yahweh yang kuat dan perkasa, Yahweh yang perkasa di dalam peperangan” (Mzm 24:8). Banyak ayat dalam Perjanjian Lama yang menceritakan tentang Allah yang berperang demi umat-Nya. 

Gambaran Allah sebagai sosok pejuang yang berperang demi umat-Nya juga ditemukan dalam Perjanjian Baru. Paulus berkata, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita?” (Rm 8:31). Jika Allah berperang demi kita, siapakah yang dapat mengalahkan kita? Siapa pun yang melawan umat Allah sedang melawan Allah sendiri.

Wahyu 19:11-16 memberikan gambaran yang luar biasa mengenai bagaimana Allah akan mengalahkan kekuatan dosa dan kegelapan yang berkumpul di bumi untuk melawan Dia dan umat-Nya:

Kemudian, aku melihat surga terbuka, dan muncullah seekor kuda putih; Dia yang duduk di atasnya bernama Setia dan Benar, dan dalam kebenaran Ia menghakimi dan berperang. Matanya seperti nyala api, di kepalanya ada banyak mahkota, dan Ia memiliki nama yang tertulis, yang tidak diketahui seorang pun, kecuali dirinya sendiri. Ia memakai jubah yang telah dicelupkan ke dalam darah, dan namanya adalah Firman Allah. Seluruh pasukan yang ada di surga mengikuti dia dengan menunggang kuda putih dan berpakaian kain linen halus yang putih dan bersih. Dari mulutnya, keluar sebuah pedang tajam yang digunakan untuk memukul bangsa-bangsa. Ia akan memerintah atas mereka dengan tongkat besi. Ia akan memeras anggur dalam batu kilangan, yang adalah murka Allah Yang Mahakuasa. Pada jubah dan pahanya tertulis nama ini: RAJA ATAS SEGALA RAJA DAN TUAN ATAS SEGALA TUAN.

Menjadi seperti Kristus bukan sekadar meneladani kelemahlembutan dan kerendahan hatinya, melainkan—yang sama pentingnya—mengikuti Dia dalam perjuangan demi kekudusan, kebenaran, dan keadilan. Ini adalah perjuangan untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa serta dari kuasa-kuasa jahat yang membelenggu manusia dalam perbudakan tersebut.


Prinsip kedua: Umat Allah adalah kota kudus tempat Allah berdiam

Prinsip kedua adalah sebagai berikut: Ketika Allah menyelamatkan umat-Nya, Ia menjadikan mereka kota yang kudus, suatu umat yang penuh kebenaran. Kota Kudus itu adalah Sion (Yes 52:1; Ibr 12:22, 23). Kota itu disebut kudus karena di sanalah Ia memilih untuk berdiam. Mazmur 135:21 menyatakan, “Pujilah Yahweh dari Sion, yang bersemayam di Yerusalem. Haleluya!”

Demikian pula, umat Allah membentuk tempat kediaman Allah. Paulus berkata kepada jemaat di Korintus, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan Roh Allah tinggal di dalammu?” (1Kor 3:16; bdk. 6:19)

Kota Kudus Allah adalah milik-Nya yang istimewa. Dalam Mazmur 48, kota ini disebut sebagai “kota Allah kita” (ay 1) dan “kota Yahweh, Raja bala tentara” (ay 8). Yesus menyebut Yerusalem sebagai “kota Sang Raja Besar” (Mat 5:35). Umat Allah diibaratkan sebagai sebuah kota yang, seperti Gunung Sion, terletak di atas bukit yang tidak dapat disembunyikan, tempat dari mana terang Allah dipancarkan ke seluruh dunia (ay 14).

Mari kita perjelas misi kita di dunia ini. Allah tidak menyelamatkan kita semata-mata demi keselamatan kita sendiri, melainkan agar kita dapat menjadi terang bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Kita tidak boleh mengelak dari tanggung jawab dengan mengatakan kepada orang lain, “Jangan lihat kami; lihatlah Yesus. Kami di gereja ini hanyalah sekumpulan orang yang gagal.” Sikap seperti itu merupakan penolakan terhadap kehendak Allah bagi kita, sebab kita dipanggil untuk menjadi “kota yang terletak di atas bukit” yang dapat dilihat oleh semua orang. Namun pada kenyataannya, apa yang dilihat orang ketika mereka memandang gereja? Kemuliaan Allah? Ataukah tembok-tembok yang jebol dan runtuh akibat ketidaktaatan?

Keselamatan Yahweh merupakan tembok kedamaian, keamanan, dan keselamatan:

Kekerasan tidak akan terdengar lagi di negerimu, ataupun kehancuran dan keruntuhan di daerahmu. Kamu akan menyebut tembok-tembokmu ‘Keselamatan’ dan pintu-pintu gerbangmu ‘Pujian.’ (Yes 60:18; bandingkan 26:1)

Gambaran yang indah sekali!! Orang-orang akan keluar-masuk gerbang dengan sukacita dan pujian karena tembok-tembok itu adalah Keselamatan, yang menyatakan bahwa Yahweh telah menyelamatkan mereka. Namun, jika tembok-tembok itu melambangkan keselamatan, mengapa tembok-tembok tersebut runtuh? Apa sajakah celah yang terdapat pada tembok-tembok keselamatan itu?


(1) Tembok-tembok yang jebol

Saat Anda mendekati sebuah kota kuno, hal pertama apa yang langsung menarik perhatian Anda? Mereka yang pernah mengunjungi kota tua Yerusalem pasti tahu jawabannya: tembok-temboknya! Tembok merupakan bagian yang paling mencolok dari kota-kota kuno dan dapat terlihat dari kejauhan.

Ketika orang memandang Yerusalem rohani—yaitu gereja—apa yang akan terlihat pada pandangan pertama? Tembok-tembok keselamatan! Mereka yang mendekat akan melihat orang-orang yang telah dibebaskan dari dosa dan diubahkan oleh kasih karunia. Namun, apakah itu yang dilihat orang saat mereka memandang gereja masa kini? Apakah mereka melihat keselamatan Allah yang mulia? Mungkin tidak. Reputasi gereja saat ini begitu buruk, sehingga jika Anda mengajak seseorang untuk menjadi Kristen, ia mungkin akan berkata, “Coba lihat saja gereja-gereja itu!” Lalu, kita pun memberikan jawaban standar: “Jangan melihat gerejanya, lihatlah Kristus.” Namun, mengapa mereka tidak boleh melihat gereja, yang seharusnya menjadi terang bagi dunia? Bagaimana lagi orang bisa melihat kuasa keselamatan Allah? Bagaimana mereka bisa melihat Kristus jika mereka tidak melihat orang-orang yang mencerminkan Kristus?

Apakah kuasa Allah nyata dalam diri mereka yang mengaku percaya kepada Yesus secara samar-samar? Ataukah dalam diri orang-orang kudus yang telah benar-benar dibebaskan dari dosa? Di manakah kuasa Allah terlihat jika bukan dalam kehidupan yang telah diubahkan? Apa gunanya memberitakan tentang Yesus jika orang lain melihat saya dan hanya mendapati keserakahan serta keegoisan? Mengapa berbicara tentang keselamatan dari Allah jika perilaku saya menunjukkan bahwa saya tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak percaya?

Saat Anda mendekati sebuah kota kuno, Anda akan melihat tembok-temboknya dari kejauhan. Demikian pula, Allah telah menetapkan agar dunia melihat tembok-tembok keselamatan:

Yahweh telah memperlihatkan tangan-Nya yang kudus di mata semua bangsa, dan semua ujung bumi akan melihat keselamatan Allah kita.. (Yes 52:10)

Lalu, bagaimanakah bumi akan melihat keselamatan dari Allah? Ayat 7 mengatakan:

Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki-kaki orang yang membawa berita, yang mewartakan perdamaian, yang membawa kabar baik kebahagiaan, yang menyatakan keselamatan, yang berkata kepada Sion, “Allahmu memerintah!”

“Dia telah menebus Yerusalem” (ay 9). Orang-orang akan melihat keselamatan Allah di Sion, penebusan-Nya di Yerusalem. Yahweh memperlihatkan tangan-Nya yang kudus untuk mewujudkan penebusan Yerusalem. Ketika Allah menebus umat-Nya, dunia akan melihat keselamatan-Nya yang perkasa. Mereka akan memandang gereja dan berkata, “Inilah keselamatan dari Allah!”

Namun, apakah seperti itu yang kita lihat saat ini? Apakah orang-orang memandang gereja lalu berkata, “Kita melihat keselamatan Allah dengan mata kepala kita sendiri!”? Ataukah mereka justru melihat orang-orang yang secara rohani biasa-biasa saja, yang hidupnya justru mencoreng nama Allah?

Orang yang rutin beribadah di gereja dianggap sebagai orang Kristen yang “baik”. Mereka yang terlibat dalam berbagai kegiatan gereja dianggap sebagai orang Kristen yang “luar biasa”. Namun, apakah hanya untuk hal semacam ini Yesus mati? Banyak gereja berbicara mengenai kelahiran kembali, tetapi bagaimana dengan pembaruan? Manusia baru diciptakan di dalam Kristus Yesus dalam “kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:23-24).

Allah memandang ke sekeliling, tetapi adakah seseorang yang akan berdiri di celah tembok dan membangunnya kembali? Jika saat ini ada orang yang mengkhotbahkan kekudusan, ia akan ditentang oleh orang-orang Kristen yang berkata, “Kamu mengajarkan keselamatan melalui perbuatan!” Saya mengetahui hal ini berdasarkan pengalaman pribadi, seperti halnya banyak orang lain, termasuk hamba Allah yang setia, John Wesley. Beberapa gereja masa kini bahkan mengusir mereka yang mengkhotbahkan kekudusan. Siapa pun yang bersedia berdiri di celah tembok untuk memperbaikinya mungkin akan mengalami perlakuan buruk yang serupa dengan apa yang pernah dialami oleh nabi Yeremia.


(2) Bagaimana pembenaran dan keselamatan saling berhubungan?

Ada pihak-pihak yang berbicara mengenai “pembenaran oleh iman” dengan cara yang membuat kekudusan tidak lagi diperlukan. Kita mengucap syukur kepada Allah dari lubuk hati yang terdalam karena Ia telah membenarkan kita, orang-orang berdosa, melalui kematian Anak-Nya. Kita memuji Dia atas besarnya anugerah-Nya dalam membenarkan kita. Namun, ada pula yang berbicara tentang pembenaran seolah-olah itulah satu-satunya hal yang dikerjakan Yesus bagi kita, seakan-akan tidak ada pokok bahasan lain di dalam Alkitab. Sebagian orang terus-menerus membahas “pembenaran oleh iman” dan menganggap bahwa mereka telah mencakup keseluruhan teologi.

Pembenaran tentu merupakan tahap yang penting dalam proses keselamatan. Namun, ini hanyalah satu tahap, dan tahap ini berkaitan dengan “pembasuhan kelahiran kembali” (Tit 3:5). Tahap-tahap penting lainnya—pertumbuhan atau pembaruan, kedewasaan atau kesempurnaan—tidak boleh diabaikan jika kita berharap untuk mencapai keselamatan dalam penyempurnaan akhirnya, saat “kita akan diselamatkan”.

Roma 5:9 mengatakan bahwa kita “dibenarkan oleh darahnya”. Ayat berikutnya menyatakan, “lebih-lebih lagi setelah kita diperda­maikan kita akan diselamatkan melalui hidup-Nya!”

Salah satu kekeliruan berbahaya yang berkontribusi terhadap pengabaian kekudusan di dalam gereja adalah anggapan bahwa begitu kita dibenarkan atau didamaikan, kita secara otomatis akan melangkah menuju keselamatan akhir. Waktu yang tersisa dipandang sekadar sebagai penantian untuk masuk ke surga. Pembenaran dan keselamatan akhir dianggap sebagai satu hal yang sama. Namun, tidak ada dasar dalam Kitab Suci bagi kekeliruan yang terus bertahan ini—kekeliruan yang telah menyesatkan banyak orang.

Kita hanya dapat menerima hubungan “otomatis” antara pembenaran dan keselamatan akhir ini dengan mengabaikan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa keselamatan akhir bergantung pada ketekunan dalam iman. Pernyataan-pernyataan tersebut jelas dan tidak memerlukan penjelasan apa pun:

Kemudian, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadanya, “Jika kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar muridku” (Yoh 8:31).

Oleh karena itu, perhatikanlah kebaikan dan kekerasan Allah; kekerasan terhadap mereka yang telah jatuh, tetapi kebaikan Allah kepada kamu jika kamu tetap tinggal dalam kebaikan-Nya. Jika tidak, kamu juga akan dipotong. (Rm 11:22)

…sekarang kamu telah didamaikan dengan tubuh jasmani Kristus melalui kematiannya untuk mempersembahkan kamu sebagai persembahan yang kudus, tidak bercacat, dan tidak bercela di hadapan Allah. Jadi, tetaplah kamu tinggal dalam iman, kukuh, dan teguh, tidak digoyahkan dari pengharapan Injil, (Kol 1:22, 23)

Akan tetapi, orang yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. (Mat 24:13; Mar 13:13)

Mengabaikan pernyataan-pernyataan bersyarat ini akan merugikan kita sendiri. Sungguh bodoh jika kita, sebagai orang percaya, mengira bahwa kita dapat mengabaikan kebenaran atau dosa tanpa menanggung akibatnya. Yesaya berkata kepada Yahweh, mewakili bangsanya: “Engkau menemui dia yang bersukacita dalam melakukan kebenaran, yang mengingat Engkau di jalan-jalan-Mu. Sesungguhnya, Engkau murka karena kami berbuat dosa, kami telah berada di dalamnya sejak lama, dan mungkinkah kami diselamatkan?” (Yes 64:5)

Jika dibiarkan sendiri, kita tidak akan mampu bertahan sampai akhir. Namun, intinya adalah kita tidak dibiarkan sendirian. Roh Kudus berdiam di dalam setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, dan Allah pasti akan menjaga kita agar tidak jatuh, asalkan kita tetap tinggal di dalam Dia serta terus menimba dari anugerah-Nya yang melimpah.

Alkitab tidak mengajarkan keselamatan melalui kekudusan, melainkan kekudusan yang muncul setelah kita diselamatkan dari kesalahan dan kuasa dosa. Kekudusan adalah hasil dari keselamatan, bukan penyebabnya. Ketika kita—seperti halnya Paulus—menekankan pentingnya kekudusan dalam hidup kita maupun di dalam gereja, hal ini tidak berarti keselamatan diperoleh melalui perbuatan. Sebaliknya, kita sedang berbicara mengenai tujuan kematian Kristus: “sekarang kamu telah didamaikan dengan tubuh jasmani Kristus melalui kematiannya untuk mempersembahkan kamu sebagai persembahan yang kudus, tidak bercacat, dan tidak bercela di hadapan Allah.” (Kol 1:22)


Prinsip ketiga: Jika kota kudus itu menjadi tidak kudus, Allah akan menghakiminya

Jika kita, umat Allah, tetap hidup dalam keadaan tidak kudus, apa yang akan Allah lakukan terhadap kita? Jawaban yang lazim diberikan adalah, “Tidak ada apa-apa! Allah tidak akan melakukan apa pun kepada kita karena Yesus telah mati bagi kita. Tentu saja, kita tidak seharusnya terus hidup dalam dosa, tetapi seandainya pun kita melakukannya, Allah tidak akan berbuat apa-apa terhadap kita. Orang Kristen tidak akan terkena penghakiman, karena Yesus telah menanggung semuanya!” Ini merupakan sebuah izin untuk berbuat dosa tanpa takut akan konsekuensi, yang dibungkus dengan dalih, “Yesus telah mati bagi kita.”

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok pemimpin Kristen dalam sebuah konferensi besar bersikeras bahwa begitu seseorang diselamatkan, ia tidak akan mungkin bisa kehilangan keselamatan tersebut dalam keadaan apa pun. Saya bertanya kepada mereka, “Apa sebenarnya maksud Anda dengan pernyataan itu? Apakah maksud Anda jika seorang Kristen melakukan perzinaan, pembunuhan, atau dosa besar lainnya, dan tidak bertobat darinya, ia akan tetap diselamatkan?” Jawaban mengejutkan dari salah satu dari mereka—yang mungkin mewakili kelompok tersebut—adalah jawaban tegas: “Ya”! Anggota kelompok lainnya tetap diam dan tidak menunjukkan keberatan apa pun, sehingga dapat diasumsikan bahwa mereka memiliki pandangan yang sama. Saya menolak untuk terlibat dalam kebohongan ini.

Kita sampai pada prinsip ketiga: Ketika umat Allah menjadi tidak kudus—ketika kota kudus menjadi tidak kudus—Allah akan melawan kota-Nya sendiri dan menghancurkannya. Perjanjian Lama memberikan banyak kesaksian mengenai hal ini. Jika kita beranggapan bahwa cara Allah berurusan dengan Israel tidak berlaku bagi kita karena kita hidup pada zaman Perjanjian Baru, maka jelas kita belum menyimak perkataan rasul Paulus: “Hal-hal ini terjadi atas mereka [yang terjadi pada bangsa Israel di padang gurun] sebagai contoh dan dituliskan sebagai peringatan bagi kita, yang kepada siapa akhir zaman telah datang” (1Kor 10:11).

Apakah kita masih beranggapan bahwa Allah telah menurunkan standar-Nya bagi kita? Bukankah Lukas 12:48 menyatakan bahwa kepada siapa banyak diberikan, darinya akan banyak pula dituntut? Apakah kita mengira Allah akan memejamkan mata terhadap dosa-dosa kita karena kita “bersembunyi” di balik kebenaran Kristus?

Di manakah orang yang berdiri di celah tembok pada masa kini? Banyak orang di dalam gereja tidak melihat adanya celah pada tembok “kota yang terletak di atas bukit” (Mat 5:14)—yakni kota kudus Allah, yaitu gereja—sehingga mereka merasa aman di balik tembok-tembok tersebut. Untuk apa ada seseorang yang harus berdiri di celah yang sebenarnya tidak ada? Bukankah Yesus sendiri telah berfirman, “Dan, di atas batu ini, aku akan membangun gerejaku dan gerbang-gerbang Hades tidak akan menguasainya” (Mat 16:18)?

Dosa dan maut (Hades, tempat orang mati) tidak akan menguasai gereja, karena di dalam gereja terdapat banyak “gandum” (orang-orang percaya sejati) di samping “lalang” (bdk. Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum, Matius 13:24-30, 37-43). Kerajaan Allah—yang saat ini diwujudkan dalam bentuk gereja—berisi baik gandum maupun lalang. Lalang akan “dikumpulkan dan dibakar dalam api” (ay 40); mereka “akan melemparkannya ke dalam tungku api. Di tempat itu akan ada tangisan dan kertak gigi. Kemudian, orang-orang benar akan bersinar seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, biarlah ia mendengar.” (ay 42, 43)

Fakta bahwa lalang tumbuh subur di dalam Kerajaan itu terlihat jelas dari kenyataan bahwa baru pada “akhir zaman” lalang tersebut dicabut dan dibakar (ay 39, 40). “Anak Manusia akan mengutus para malaikatnya, dan mereka akan mengumpulkan semua batu sandungan serta orang-orang yang melakukan kejahatan dari kerajaannya” (ay 41).

Tidak ada gunanya berbicara mengenai gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan, karena lalang sama terlihatnya dengan gandum. Terlebih lagi, lalang yang tumbuh di antara gandum sulit dibedakan dari gandum itu sendiri, khususnya bagi penduduk kota yang hanya tahu sedikit tentang gandum ataupun pertanian.

Hastings’ Dictionary of the Bible, dalam sebuah artikel panjang mengenai lalang, menyajikan catatan tentang apa yang dipercayai oleh orang-orang pada masa awal mengenai tumbuhan tersebut:

Talmud menyatakan bahwa lalang merupakan gandum yang mengalami degenerasi; dan Tristram (bersama Thomson dan pihak-pihak lain) menyebutkan bahwa penduduk di Tanah Suci meyakini bahwa lalang dan gandum tumbuh dari benih yang sama… serta bahwa pada musim yang sangat basah, gandum itu sendiri berubah menjadi lalang.

Meskipun pandangan semacam itu tidak didukung oleh pengetahuan ilmiah, intinya adalah bahwa mereka yang pertama kali mendengar perumpamaan Yesus menganggap lalang sebagai “gandum yang mengalami kemerosotan”. Dengan demikian, mereka menangkap satu dimensi dari perumpamaan tersebut yang mungkin luput dari perhatian kita, yakni bahaya kemerosotan rohani. Kisah Demas merupakan contoh yang mencolok; ia mengalami kemerosotan—dari seorang rekan kerja Paulus, ia akhirnya justru mencintai dunia dan meninggalkan Paulus (Flm 1:24, yang menyebutkan nama Demas sebelum Lukas; Kol 4:14; 2Tim 4:10).

Sudah sepatutnya kita meresapkan pelajaran-pelajaran ini ke dalam hati, karena Kitab Suci ditulis untuk menjadi peringatan bagi kita (1Kor 10:11). Banyak dari peringatan tersebut berkaitan dengan kejatuhan dan kehancuran Israel sebagai sebuah bangsa, serta pembuangan yang mereka alami. Sudahkah kita memetik pelajaran dari peristiwa-peristiwa tragis ini? “Mereka yang tidak belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya.”

Tembok-tembok Yerusalem mulai jebol akibat ketidaktaatan Israel yang terus-menerus terhadap Allah. Mikha menubuatkan bahwa Kota Kudus itu akan menjadi reruntuhan, dan Sion—kota tempat Bait Suci berdiri—akan dibajak seperti ladang karena dosa serta keserakahan Israel. Namun, bangsa itu menolak peringatan Mikha mengenai bencana tersebut, dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah membiarkannya terjadi: “Bukankah Yahweh ada di tengah-tengah kita? Tidak akan ada malapetaka yang datang menimpa kita.” (Mi 3:11)

Akankah kita terjerumus ke dalam tipu daya yang sama? Allah tidak pernah berkompromi dengan dosa, terlebih lagi dosa yang dilakukan oleh mereka yang telah Ia tebus dengan darah Anak-Nya, Yesus Kristus.


(1) Allah akan menghakimi umat-Nya

Salah satu tema yang lazim dalam Perjanjian Lama adalah bahwa Allah akan menghakimi orang-orang yang tidak benar di antara umat-Nya sendiri. Jika kita gagal melihat hal ini, berarti kita membaca Alkitab dengan mata tertutup.

“Ya Yahweh, jangan menghukumku dalam amarah-Mu; Jangan menghajar aku dalam murka-Mu.” (Mzm 6:1) Ketika umat Allah berbuat dosa, hal pertama yang akan dilakukan Allah adalah menghajar atau mendisiplinkan mereka. Jangan salah sangka mengenai hal ini. Jika Anda mengaku mengenal Allah sebagai Allah yang hidup yang telah menebus Anda, tetapi mengabaikan kebenaran bahwa Allah akan menghajar Anda jika Anda berbuat dosa, tunggulah dan lihatlah apa yang akan dilakukan Allah kepada Anda saat Anda berbuat dosa lagi dan tidak bertobat.

Jika Dia tidak melakukan apa pun terhadap Anda, maka Dia mungkin tidak nyata, atau Anda bukan milik-Nya. Hanya ada dua kemungkinan ini. Kita yang mengikut Allah tahu dari pengalaman betapa nyata-Nya Dia. Jadi, jika Dia tidak melakukan apa pun terhadap Anda, Anda patut khawatir, karena itu berarti Dia tidak mengakui Anda sebagai milik-Nya. Namun, jika Dia mendisiplinkan Anda, Anda justru patut bersukacita, “Sebab, Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan mencambuk orang yang diterima-Nya sebagai anak.” (Ibr 12:6)

Jika Anda, sebagai anak Allah, berbuat dosa, tangan penghajaran-Nya pasti akan menimpa Anda. Ia akan menindak Anda dengan tingkat ketegasan yang terukur. Allah hanya mendisiplinkan mereka yang merupakan anak-anak-Nya. Kita tidak mendisiplinkan anak orang lain. Jika anak tetangga berperilaku buruk, saya tidak akan pergi untuk menghukumnya. Itu adalah tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab saya. Namun, jika anak saya sendiri berbuat dosa, saya akan menindaknya karena saya mengasihi anak saya dan tidak ingin ia terjerumus ke dalam jalan yang jahat. Bagian berikut ini berulang kali berbicara mengenai pendisiplinan:

Dan, apakah kamu telah melupakan nasihat yang diberikan kepadamu sebagai anak-anak? “Hai anakku, jangan anggap enteng didikan Tuhan, dan jangan merasa kecil hati ketika kamu ditegur-Nya. Sebab, Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan mencambuk orang yang diterima-Nya sebagai anak. Kamu harus bertahan demi didikan itu karena itu berarti Allah sedang memperlakukanmu sebagai seorang anak; lagi pula, anak macam apakah yang tidak pernah dididik oleh ayahnya? Jika kamu tidak pernah menerima didikan yang seharusnya diterima oleh semua anak, kamu adalah anak haram, bukan anak yang sah. (Ibr 12:5-8)

Karena Daud adalah anak Allah, dia bertobat di bawah tangan penghajaran Allah yang berat:

“Kasihani aku, ya Yahweh, karena aku lemah. Sembuhkan aku, ya Yahweh, karena tulang-tulangku gemetar. Jiwaku begitu gentar. Yahweh, sampai kapan? Kembali, ya Yahweh, lepaskan jiwaku; selamatkan aku oleh karena kasih setia-Mu.” (Mzm 6:3–5).

Daud sedang terkulai, sehingga ia memohon agar disiplin keras yang diterapkan Yahweh kepadanya diakhiri. Daud telah melakukan dosa yang serius, dan Allah harus menindak tegas dirinya.

Allah mendisiplinkan kita agar “kita memperoleh bagian dalam kekudusan-Nya” dan menghasilkan “buah kebenaran yang memberi damai sejahtera” (Ibr 12:10-11). Allah akan mendisiplinkan kita jika kita adalah anak-anak-Nya. Dengan cara itulah kita mengetahui bahwa Allah itu nyata dan bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Melalui pendisiplinan tersebut, kita belajar untuk menjauhkan diri dari dosa.

Allah pasti akan menghukum orang-orang Kristen yang menolak hajaran-Nya, yang bersikap tegar tengkuk seperti orang Israel yang keras kepala—yang digambarkan memiliki urat leher dari besi dan kening dari tembaga (Yes 48:4). Jika mereka terus hidup dalam dosa, inilah yang akan terjadi sebagaimana dinyatakan dalam Mazmur 7:12-13: “Jika seseorang tidak berbalik, Dia akan menajamkan pedang-Nya. Dia telah melenturkan busur-Nya dan membuatnya siap. Dia telah mempersiapkan bagi diri-Nya senjata-senjata mematikan; Dia telah membuat panah-Nya berkobar.”

Allah akan menajamkan pedang-Nya! Dan apa yang Anda lakukan dengan pedang? Menepuk bahu seseorang dengan lembut? Pedang digunakan untuk kehancuran. Allah akan mengasah pedang-Nya dengan batu asah. Dia akan membentangkan busur-Nya dan melesatkan anak-anak panah penghakiman yang berapi-api. Jika seseorang tidak bertobat, ia akan dihancurkan sepenuhnya.

Hal yang sama juga berlaku dalam Perjanjian Baru: “Alangkah mengerikannya jika kita jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” (Ibr 10:31) Ini bukanlah kutipan dari Perjanjian Lama, melainkan sesuatu yang ditulis bagi orang-orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru yang, dengan kecerobohan yang membabi buta, terus hidup dalam dosa dan kefasikan, serta menganggap “najis darah perjanjian yang telah menguduskannya, dan yang menghina Roh anugerah Allah” (ay 29). Dengan mengutip dua ayat dari Perjanjian Lama, kitab Ibrani melanjutkan: “Sebab, kita mengenal Dia yang berkata, ‘Pembalasan adalah hak-Ku; Aku akan menuntut pembalasan.’ Ia juga berkata, ‘Tuhan akan menghakimi umat-Nya.’” (ay 30, mengutip Ulangan 32:35, 36).


(2) Nabi-nabi palsu memberitakan “damai dan aman”

Karena banyak orang Kristen menganggap kekudusan sebagai sesuatu yang tidak esensial—bahkan mengabaikan serta menolaknya—kini kita berada dalam situasi yang mengerikan: tembok-tembok “kota di atas bukit” sedang runtuh, sementara nabi-nabi Allah—di manakah mereka?—tidak lagi memiliki pesan apa pun untuk disampaikan. Lantas, apa yang diberitakan orang-orang saat ini? Kedamaian dan keamanan! Saudara-saudari sekalian, pesan yang menjadi ciri khas nabi-nabi palsu dalam Perjanjian Lama adalah kedamaian dan keamanan! Itulah pesan yang menjadi penanda utama seorang nabi palsu. Dalam Yehezkiel 13:9-11, Allah berfirman:

“Tangan-Ku akan melawan nabi-nabi yang melihat penglihatan-penglihatan palsu dan yang memberikan ramalan-ramalan yang menipu … karena mereka telah menyesatkan umat-Ku dengan berkata, ‘Damai,’ padahal tidak ada kedamaian. Dan, ketika seseorang membangun tembok, lihatlah, mereka melaburnya dengan kapur. Katakan kepada mereka yang melaburnya dengan kapur bahwa tembok itu akan runtuh.

Ayat 16 menyatakan bahwa Allah Yahweh menentang para nabi “yang bernubuat mengenai Yerusalem, dan yang melihat penglihatan-penglihatan kedamaian baginya, padahal tidak ada kedamaian”. Ciri khas nabi-nabi palsu adalah perkataan mereka yang tiada henti mengenai damai sejahtera dan keamanan. Hal ini juga terlihat dalam Perjanjian Baru:

Sebab, kamu sendiri benar-benar tahu bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri pada malam hari. Ketika orang-orang berkata, “Damai dan aman,” kebinasaan akan datang atas mereka secara tiba-tiba … dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri. (1Tes 5:2–3)

Yeremia 6:13–14 berkata:

Sebab, dari yang paling kecil sampai yang paling besar dari mereka, setiap orang tamak akan keuntungan; dan dari para nabi sampai para imam, setiap orang berbuat dusta. Mereka telah menyembuhkan luka jemaat-Ku dengan enteng, dengan berkata, ‘Damai, damai,’ padahal tidak ada kedamaian.

Sekali lagi, pesan khas dari nabi-nabi palsu: “Damai, damai! Semuanya baik-baik saja dan aman. Jangan khawatir. Kalian sudah selamat, jadi tetaplah dalam jaminan akan keselamatan kalian.”

Tuduhan yang sama, yang hampir kata demi kata, terhadap nabi-nabi dan imam-imam ini diulangi dua pasal kemudian:

Semuanya tamak akan keuntungan; dari nabi hingga imam, setiap orang melakukan penipuan. Mereka telah menyembuhkan luka putri jemaat-Ku dengan menganggap enteng, sambil berkata, ‘Damai, damai,’ padahal tidak ada damai. (Yer 8:10–11).

Para nabi dan imam ini didorong oleh hasrat untuk memperoleh “keuntungan”—yakni kehidupan yang nyaman yang bersumber dari penghasilan yang besar. Dan bagaimana mungkin hal itu tercapai jika Anda tidak menyampaikan apa yang ingin didengar oleh orang-orang, sekalipun hal tersebut tidak benar? Seorang pengkhotbah yang menegur dosa-dosa umat akan kehilangan pekerjaannya dan harus menghadapi pertentangan yang sengit.

“Damai dan aman” adalah jenis “kabar baik” yang selalu disambut dengan senang hati. Bahkan nabi atau pengkhotbah palsu pun menginginkannya bagi dirinya sendiri, bukan sekadar bagi para pendengarnya! Ia dapat mengkhotbahkannya dengan penuh keyakinan, terutama jika ia bisa menemukan secuil saja hal yang tampak sebagai bukti pendukung untuk itu.

Bukankah Bait Allah terletak di Yerusalem? Bukankah Bait itu merupakan tempat kediaman Allah? Orang Israel bahkan melontarkan pertanyaan, “Bukankah Yahweh ada di tengah-tengah kita?” Namun, Mikha mengatakan bahwa kata-kata tersebut digunakan oleh nabi-nabi palsu untuk membenarkan diri mereka sendiri. Mikha 3:11 menggambarkan situasinya:

Para pemimpinnya mengadili karena suap, para imamnya mengajar karena bayaran, para nabinya meramal karena uang, padahal mereka bersandar kepada Yahweh dengan berkata, “Bukankah Yahweh ada di tengah-tengah kita? Tidak akan ada malapetaka yang datang menimpa kita.”

Para pemimpin agama ini—baik imam maupun nabi—mengklaim bahwa Allah ada di tengah-tengah mereka, padahal sama sekali tidak ada bukti yang mendukung keyakinan tersebut; ini adalah klaim lancang yang didorong oleh keserakahan dan ketidakbenaran. Namun, meski mengabaikan kenyataan, mereka tetap berani “bersandar kepada Yahweh” dan mengaku beriman kepada-Nya! Mereka pun merasa aman dengan “iman” mereka itu!

Para pemimpin dan nabi ini mengklaim—berdasarkan penalaran yang mereka anggap sah—bahwa pesan perdamaian dan keamanan yang mereka sampaikan adalah sesuatu yang dapat dibenarkan. Orang-orang, dan tentu saja para nabi itu sendiri, membiarkan diri mereka tertipu. Betapa mematikan, tetapi sekaligus meyakinkan, jerat tipu daya dan penipuan diri sendiri ketika kita tidak berjalan di atas jalan kebenaran yang telah ditetapkan Allah bagi kita!

Bagian dalam kitab Mikha ini mengungkapkan suatu kebenaran yang mengejutkan—kebenaran yang jika kita abaikan, dapat mendatangkan kerugian dan penyesalan kekal bagi kita: seseorang bisa saja hidup dalam dosa yang mendalam, tetapi tetap memiliki keyakinan yang membuatnya merasa aman dengan anggapan bahwa “Tidak akan ada malapetaka yang datang menimpa kita”. “Keyakinan” semacam ini membuat orang berdosa merasa aman untuk selamanya, karena ia yakin bahwa tidak ada malapetaka yang akan menyentuhnya. Ia merasa bisa terus berbuat dosa tanpa rasa takut atau khawatir, sebab “hati nuraninya sudah dicap dengan besi panas” (1Tim 4:2).

Iman semacam ini melenyapkan rasa takut kepada Allah serta kepedulian terhadap kebenaran dan keadilan dari diri seseorang, dan justru membuatnya tetap nyaman terlena dalam kehidupan penuh dosa. Ini adalah puncak dari penipuan diri sendiri. Jika seseorang berbicara mengenai pembenaran, keselamatan, atau jaminan melalui iman, ada baiknya ia mempertimbangkan iman seperti apa yang sedang dibicarakannya, agar ia tidak menjerumuskan dirinya sendiri maupun orang lain ke dalam kebinasaan.

Kehancuran ini digambarkan secara gamblang oleh Mikha dalam ayat berikutnya: “Sebab itu, karena kamu, Sion akan dibajak seperti ladang, Yerusalem akan menjadi timbunan puing, gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan.” (3:12) Kota Suci itu akan berubah menjadi puing kehancuran dan ketandusan, dengan penduduknya turut tersapu dalam bencana tersebut.

Apa kata Allah mengenai nabi-nabi dan pemimpin-pemimpin palsu yang telah menyebabkan semua ini terjadi? “‘Mereka akan jatuh di antara orang-orang yang jatuh. Pada waktu penghukuman mereka, mereka akan tersandung,’ demikianlah firman Yahweh.” (Yer 8:12)

Pada akhirnya, apa yang terjadi dengan Yerusalem? Benar saja, tembok-tembok kota itu akhirnya runtuh, terlepas dari segala jaminan yang diberikan oleh nabi-nabi palsu. Pasukan Babel “merobohkan tembok di sekeliling Yerusalem” (2Raj 25:10) dalam peristiwa penghancuran yang mengerikan oleh Nebukadnezar terhadap Yerusalem yang tadinya dianggap “tak terhancurkan”.

Namun hari ini, kita mendengar pesan yang sama dikhotbahkan. “Damai sejahtera dan jaminan! Semuanya baik-baik saja. Bangunlah tembok tipis yang dipulas putih untuk menutupi celah-celah dan retakan pada tembok itu!” (bdk. Yehezkiel 13:10-15)


(3) Allah melawan umat-Nya jika mereka terus hidup dalam dosa

Allah adalah seorang pejuang yang membela kebenaran dan kekudusan. Jika umat-Nya hidup dalam dosa, Ia akan menjadi musuh mereka dan melawan mereka. Ini adalah prinsip mendasar dalam Kitab Suci. Jika Anda hidup dalam dosa setelah Allah menebus Anda, Ia akan melawan Anda.

Bukti dari Kitab Suci mengenai hal ini sangatlah melimpah. Yahweh berfirman kepada Israel, “Aku sendiri akan berperang melawan kamu” (Yer 21:5). Allah akan secara pribadi memerangi umat-Nya yang memberontak.

Yesaya 63:10 mengatakan tentang Israel, “Mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya” (bdk. Ef 4:30). Lalu, apa yang dilakukan Yahweh? Ayat yang sama memberikan jawabannya: “Dia berbalik menjadi musuh mereka dan Dia sendiri berperang melawan mereka.” Mazmur 106:40-41 menyatakan, “Murka Yahweh bangkit terhadap umat-Nya, dan Dia membenci ahli waris-Nya. Dia menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa.” Kata-kata seperti “murka” dan “benci” memiliki makna yang kuat. Yahweh merasa jijik terhadap umat-Nya sendiri, ahli waris-Nya sendiri. Mazmur 78:59 mengatakan, “Dia murka, Dia benar-benar menolak Israel.”

Kembali pada gambaran mengenai celah pada tembok, penghakiman Allah terhadap umat-Nya dinyatakan dalam kata-kata, “Yahweh membuat keretakan di antara suku-suku Israel” (Hakim-hakim 21:15)—sebuah rujukan pada peristiwa nyaris punahnya suku Benyamin.

Perlukah kita melanjutkan? Mungkinkah seseorang membaca Alkitab tanpa melihat bagaimana Allah bertindak terhadap umat-Nya sendiri ketika mereka berdosa? Tembok Yerusalem, Kota Kudus itu, ditembus dan dihancurkan, lalu Yerusalem pun jatuh pada tahun 587 SM. Gambaran ini sering muncul dalam kitab Mazmur: “Ya Allah, Engkau telah menolak kami, telah [meruntuhkan pertahanan] kami” (60:3). “Mengapa Engkau membongkar tembok-temboknya?” (80:13). “Engkau telah menghancurkan semua temboknya; Engkau telah meletakkan benteng-bentengnya ke dalam reruntuhan.” (89:40)

Apakah kita memiliki telinga untuk mendengar? Jika kita hidup dalam dosa, Allah akan menjebol tembok-tembok yang dulunya memberi kita rasa aman. Ratapan 2:5 mengatakan:

Tuhan menjadi seperti seorang musuh. Dia menelan Israel. Dia menelan semua istananya. Dia menghancurkan benteng-bentengnya…

Benteng-benteng pertahanan Israel telah runtuh dan gerbang-gerbangnya hancur. Seluruh isi pasal 2 kitab Ratapan menjadi bukti akan hal ini; sebagai contoh, perhatikan ayat 8-9:

Yahweh bertekad menghancurkan tembok putri Sion … Dia tidak menahan tangan-Nya untuk menghancurkan. Dia membuat benteng dan tembok meratap … Pintu-pintu gerbangnya tenggelam ke tanah.

Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa waktu bagi gereja semakin singkat. Hari-hari kita sudah terhitung karena “zaman bangsa-bangsa” (Luk 21:24) akan segera berakhir. Roma 11 menyatakan bahwa ketika Israel berdosa, Allah memutus hubungan dengan Israel. Demikian pula, jika kita—gereja dari kalangan bangsa-bangsa lain—hidup dalam ketidaktaatan, Allah tidak akan membiarkan kita begitu saja, melainkan akan memutus hubungan dengan kita juga (Rm 11:21-22). Namun, banyak pengkhotbah di gereja saat ini bersikeras menyerukan, “Damai dan aman! Jangan khawatir, tembok Kota Kudus tidak akan pernah runtuh. Allah tidak akan pernah melawan kita.” Tidakkah kita menahan air mata saat mendengar paduan suara “nabi” dan pengkhotbah yang dengan penuh keyakinan mengumandangkan jaminan semacam itu? Mereka seperti nabi-nabi palsu pada masa lampau yang berseru, “Yerusalem akan berdiri selamanya; tidak ada seorang pun yang dapat menyentuh kota Allah. Bukankah Allah telah memukul mundur orang Asyur di depan tembok Yerusalem?”


Prinsip keempat: Jaminan sejati bagi mereka yang hidup kudus

Prinsip keempat adalah sebagai berikut: Kita tidak dapat memiliki jaminan sejati kecuali kita hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Jika kita mengaku telah diselamatkan, tetapi tetap hidup dalam dosa dengan jaminan keselamatan yang palsu, kita adalah orang bodoh—“bodoh” dalam pengertian Alkitab, yaitu seseorang yang tidak bersentuhan dengan Allah dan tidak memahami realitas rohani. Firman Allah tidak menawarkan jaminan apa pun yang terlepas dari kekudusan dan kebenaran.

Yehezkiel pasal 13 merupakan catatan yang menyedihkan mengenai “nabi-nabi bebal” yang meyakinkan suatu bangsa—yang tidak taat kepada Allah—untuk merasa aman dalam keyakinan mereka yang keliru. Allah Yahweh berfirman kepada Yehezkiel:

Anak manusia, bernubuatlah terhadap nabi-nabi Israel … Celakalah nabi-nabi bodoh yang mengikuti roh mereka sendiri … Kamu [Israel] belum memanjat celah-celah tembok, atau membangun tembok di sekeliling keturunan Israel untuk bertahan dalam pertempuran pada hari Yahweh. Mereka [para nabi palsu] telah melihat ramalan yang palsu dan menipu, yang berkata, ‘Yahweh berfirman,’ padahal Yahweh tidak mengutus mereka … Tangan-Ku akan melawan nabi-nabi yang melihat penglihatan-penglihatan palsu … mereka telah menyesatkan umat-Ku dengan berkata, ‘Damai,’ padahal tidak ada kedamaian … Aku akan merobohkan tembok yang telah kamu labur dengan kapur … Ketika tembok itu roboh, kamu akan mati di tengah-tengahnya, dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Yahweh. Demikianlah, Aku akan melampiaskan murka-Ku terhadap tembok itu” (ay 2, 3, 5, 6, 9, 10, 14, 15 dari Yehezkiel 13)

Rakyat mengabaikan peringatan Yehezkiel yang terasa menusuk telinga dan membuat mereka merasa gelisah serta tidak nyaman. Suaranya tenggelam oleh seruan para nabi palsu yang berteriak serempak, “Damai dan aman!” Sementara itu, tembok-tembok Yerusalem justru sedang runtuh.

Allah tentu memberikan jaminan keselamatan kepada mereka yang hidup dalam kebenaran dan keadilan. Namun, jika kita hidup dalam dosa, jaminan apa pun yang kita rasa miliki bukanlah berasal dari Allah. Kita hanya memperoleh jaminan sejati ketika Roh Allah bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rm 8:16). Itulah dasar dari jaminan sejati menurut Kitab Suci. Jika Anda hidup dalam dosa, mungkinkah Roh bersaksi bersama roh Anda? Bagaimana mungkin Roh bersaksi di dalam diri kita ketika kita tidak lagi bersentuhan dengan Allah, dan ketika dosa memisahkan kita dari Allah (Yes 59:2)?


Prinsip kelima: Allah merindukan seseorang untuk memperbaiki celah kerusakan

Allah tidak suka menghakimi umat-Nya. Di padang gurun, Ia sama sekali tidak berkenan membiarkan orang Israel—yang telah Ia tebus dari Mesir—binasa. Demikian pula, Allah tidak bersukacita dalam mendatangkan penghakiman atas umat-Nya pada masa kini. Mungkinkah Allah akan mencari seseorang untuk berdiri di celah tembok jika Ia—dalam kasih dan belas kasihan-Nya—tidak berkeinginan untuk menyelamatkan umat-Nya dari penghakiman?

Renungkanlah sekali lagi kata-kata yang menyentuh hati dalam Yehezkiel 22:30: “Aku mencari seseorang di antara mereka, yang akan membangun tembok dan berdiri di celah di hadapan-Ku demi negeri itu, sehingga Aku tidak perlu menghancurkannya, tetapi Aku tidak menemukan seorang pun.” Rasakanlah kepedihan di dalam hati Allah. Ia hendak membinasakan Yerusalem dan umat-Nya. Sikap keras kepala mereka yang terus-menerus membuat-Nya tidak memiliki pilihan lain. Ia menahan diri, dengan sungguh-sungguh mencari seseorang untuk berdiri di celah tembok, memperbaiki bagian yang rusak, dan membangun kembali tembok-tembok tersebut, agar Ia dapat menyelamatkan mereka dari malapetaka yang tidak mungkin ditunda lebih lama lagi.

Namun, Allah “tertegun” karena tidak ada seorang pun yang menjadi perantara atau membangun kembali tembok-tembok itu. Yesaya 59:16 mengatakan, “Ia melihat bahwa tidak seorangpun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela.” Ya, Allah sungguh tercengang! Yesaya melanjutkan:

Dia mengenakan kebenaran sebagai baju zirah, ketopong keselamatan di kepala-Nya … Sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka, Dia akan membalas; murka kepada lawan-lawan-Nya, ganjaran kepada musuh-musuh-Nya” (ay 17–18).

Dalam situasi yang genting ini, Allah mengenakan baju zirah kebenaran dan ketopong keselamatan. Untuk apa perlengkapan perang ini? Bagian ini menunjukkan bahwa perlengkapan tersebut digunakan untuk mencapai kebenaran dan keselamatan. Hal ini mengingatkan kita pada perlengkapan senjata Allah dalam Efesus 6, yang juga harus kita kenakan.

Salah satu aspek penting dalam menjadi serupa dengan Kristus adalah menjalankan misi yang telah ia jalankan; oleh karena itu, kita pun harus mengenakan baju zirah kebenaran dan ketopong keselamatan. Misi Kristus adalah keselamatan—menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Kita pun dipanggil untuk memerangi dosa dan membawa sesama kepada kebenaran. Kita tidak sekadar menuntun orang untuk memiliki “kepercayaan” kepada Yesus, melainkan menuntun mereka pada iman yang menyelamatkan—iman yang membawa seseorang beralih dari kegelapan menuju terang, dari ketidakbenaran menuju kebenaran, sehingga mereka menjadi pribadi yang baru di dalam Kristus.

Orang-orang yang bijaksana akan bersinar seperti cahaya cakrawala. Merekalah yang menuntun banyak orang kepada kebenaran, seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya.” (Dan 12:3)

Orang yang bijak adalah orang yang memenangkan jiwa-jiwa dan membawa sesama kepada kebenaran—bukan sekadar menjadikan mereka anggota gereja atau sekadar memiliki kepercayaan yang samar terhadap Yesus. Siapa pun yang belum berbalik dari kegelapan menuju terang, ia belum diselamatkan, meskipun ia mengaku “percaya” kepada Yesus.

Keselamatan dimulai dengan kelahiran kembali, yang menghasilkan transformasi dan kehidupan yang baru. Apakah kita sedang menjajakan keselamatan yang murahan dan Injil yang telah diencerkan? Injil menurut Alkitab adalah Injil yang membawa kita ke dalam kehidupan yang benar-benar baru di dalam Kristus dan menjadikan kita manusia-manusia baru oleh kuasa keselamatan Allah.

Saudara-saudari, bersediakah kita berdiri di celah tembok? Jika ya, Yesaya 58:12 memberikan sebuah visi bagi kita:

“Kamu akan membangun kembali reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan membangun fondasi-fondasi banyak keturunan. Kamu akan disebut, ‘Yang memperbaiki tembok yang berlubang.’”

Akankah Allah menemukan seseorang di dalam gereja yang mau berdiri di celah tersebut hari ini? Ataukah Ia sekali lagi akan “tertegun” karena tidak ada seorang pun yang peduli untuk menjadi perantara, atau berdiri di celah tembok tersebut untuk membangun kembali tembok-tembok keselamatan?

Dalam ayat ini, sebutan “Yang memperbaiki tembok yang berlubang” disebutkan dalam konteks “kebenaran” dan “kejahatan” (ayat 2, 4, 6, 8, 9). Seorang yang memperbaiki kerusakan tembok adalah seseorang yang hidup dalam kebenaran dan menuntun orang lain menuju kebenaran.

Itulah tepatnya yang dilakukan Yesus. Yesus adalah sosok utama yang berdiri di celah pemisah. Di kayu salib, ia merentangkan tangannya untuk menjembatani celah tersebut, memperbaiki kerusakan, dan mendamaikan kita dengan Allah. Ia menyerahkan nyawanya bagi kita; dan kita, sebagai tanggapan atas panggilan serta teladannya, memikul salib kita dan mengikuti dia. Dialah “Yang memperbaiki tembok yang berlubang” yang paling agung. Maka, di generasi ini, melalui Roh Allah yang berdiam di dalam diri kita, kita mengikuti jejak Kristus untuk menjadi seperti dia.

Maukah Anda menjawab panggilan untuk mengikuti jejaknya? Kita dipanggil “bukan hanya untuk percaya kepadanya, tetapi juga untuk menderita bagi dia” (Flp 1:29)—bagi dia yang “mengasihi kita dan memberikan dirinya untuk kita” (Ef 5:2; bdk. Gal 2:20). 1 Yohanes 3:16 menyatakan, “Yesus Kristus telah menyerahkan hidupnya untuk kita. Jadi, kita juga harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita.”

Mari kita menangkap visi untuk membangun kembali tembok-tembok keselamatan, agar gereja dapat dipulihkan kepada kemuliaan, dan ujung-ujung bumi dapat melihat keselamatan dari Allah.

Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨