Pastor Eric Chang | Bab 11 |


TUJUAN PEMBARUAN

Apa tujuan akhir dari pembaruan? Tidak diragukan lagi, tujuannya adalah kesempurnaan dalam pengertian Alkitabiah, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Kesempurnaan merupakan perwujudan dari kuasa Allah yang luar biasa dalam hidup kita, yang dengannya dosa terus-menerus dikalahkan dan kita diubahkan oleh Roh untuk semakin menyerupai gambar Kristus.

Dosa patut ditakuti karena merusak hubungan kita dengan Allah, Sumber kehidupan dan segala hal yang baik (Yak 1:17). Dosa melanggar hubungan kita dengan Allah, menciptakan jurang pemisah yang lebar antara Dia dan kita. Saat terpisah dari-Nya, kita terputus dari kehidupan dan dari segala berkat yang berasal dari-Nya. Hanya ketika kerusakan itu diperbaiki, jurang tersebut ditutup, dan kita didamaikan kembali dengan Allah, barulah kita dapat memperoleh kehidupan—yaitu kehidupan kekal. Mewujudkan hal ini bukanlah perkara mudah, tetapi Yesus, dengan kasihnya yang rela berkorban, datang untuk melakukan tepat hal tersebut bagi kita—melalui kehidupannya, ajaran-ajarannya, dan terutama melalui kematiannya di kayu salib.

Saat kita menerima hidup yang baru dari Allah, apakah kita hanya duduk diam dan menikmatinya, atau justru kita dipanggil untuk mengikuti Allah dalam “pelayanan pendamaian”-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam 2 Korintus 5:18: “Allah, yang memperdamaikan kita dengan diri-Nya melalui Kristus dan memberi kita pelayanan pendamaian itu”? Bagaimana mungkin kita dapat melakukan pekerjaan Kristus—yaitu pendamaian—jika kita tidak menjadi seperti dia?

Tujuan akhir dari kesempurnaan adalah menjadi seperti Kristus. Apa artinya ini dalam praktik? Apakah berarti meneladani sosok Yesus yang “lemah lembut dan rendah hati”, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah kidung? Hal itu tentu termasuk di dalamnya, tetapi apakah itu merupakan tujuan akhir dari kesempurnaan? Bisakah kita mendeskripsikan tujuan tersebut dengan istilah yang lebih dinamis? Kata “dinamis” di sini merujuk pada suatu tugas atau misi yang dipercayakan kepada kita untuk dilaksanakan di generasi ini. Apakah kita harus bersikap lemah lembut dan rendah hati sebagai tujuan akhir itu sendiri? Ataukah sifat-sifat tersebut—di antara kualitas lainnya—dimaksudkan untuk mewujudkan sesuatu yang lebih besar dalam diri kita, demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan umat-Nya? Menjadi pribadi yang “baik hati” memanglah hal yang baik, tetapi hal itu tidak serta-merta mendefinisikan misi kita sebagai murid-murid Yesus pada masa akhir zaman ini.

Apa artinya menjadi seperti Kristus? Ada dua aspek dalam hal ini: menjadi seperti dia, dan melakukan apa yang dia lakukan. Keduanya sangatlah penting. Aspek yang kedua—melakukan apa yang dia lakukan—berarti Allah memberikan kepada kita tugas yang sebelumnya telah Ia percayakan kepada Yesus. Tujuan dari kelahiran kembali dan pembaruan bukanlah sekadar untuk menjadi orang yang baik, melainkan untuk menggenapi misi penyelamatan Kristus di dunia melalui Roh Allah yang berdiam di dalam diri kita.

Kitab Suci tidak sekadar berbicara tentang menjadi serupa dengan Kristus dalam pengertian umum sebagai orang baik. Kita harus melangkah lebih jauh: menjadi serupa dengan dia dalam mengikuti jejaknya, memikul salib kita, dan—jika perlu—menyerahkan nyawa kita demi umat Allah serta demi keselamatan dunia. Kita memang tidak dapat menebus dosa manusia sebagaimana yang dilakukan Yesus, tetapi kita dipanggil untuk menerima kehidupannya yang menebus itu dan menyalurkannya kepada sesama. Jika kita tidak hidup seperti cara Yesus hidup dan tidak menjalankan misi yang telah ia jalankan, kita belum benar-benar serupa dengan Kristus—meskipun kita memiliki sifat yang lemah lembut dan rendah hati.

Tangkaplah visi mengenai tugas dan panggilan kita. Hidup dengan penuh pengorbanan bagi Kristus dan bagi gereja Allah adalah sesuatu yang—oleh kasih karunia Allah—harus menjadi visi di dalam hati kita. Saat ini, hanya sedikit orang yang memiliki visi. Jika kita tidak memiliki visi, kita tidak akan tahu ke mana kita melangkah, ataupun memahami tujuan dari menjadi serupa dengan Kristus.


Melakukan pekerjaan Yesus

Untuk membahas poin ini lebih lanjut, kita beralih ke Yohanes 14:12, di mana Yesus berkata:

Sesungguhnya, aku mengatakan kepadamu, setiap orang yang percaya kepadaku, pekerjaan-pekerjaan yang aku lakukan, dia juga akan melakukannya; dan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada semua ini karena aku pergi kepada Bapa.

Setiap orang yang percaya kepada Yesus—setiap murid Yesus—akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ia lakukan. Seorang Kristen tidak hanya dipanggil untuk memiliki karakter seperti Kristus, tetapi juga untuk bertindak seperti yang dilakukan olehnya, dengan melanjutkan pelayanan penyelamatannya. Yesus tidak mendefinisikan pemuridan hanya sebatas memiliki karakternya—meskipun hal itu memang diperlukan—melainkan menegaskan bahwa mereka yang percaya kepadanya “akan” melakukan—bukan sekadar “boleh” melakukan—pekerjaan-pekerjaan yang ia lakukan.

Ungkapan “akan melakukan” (bentuk waktu masa depan) mengandung makna prediksi sekaligus janji. Hal ini menyiratkan suatu kepastian bagi siapa pun yang percaya kepada Yesus dan—melalui karya Roh—sedang diubahkan menjadi serupa dengan dia. Ini bukan sekadar kemungkinan yang samar. Melakukan pekerjaannya bukanlah sebuah pilihan yang bisa kita ambil pada waktu luang atau saat suasana hati mendukung. Setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus “pasti” akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pernah ia lakukan.

Banyak orang memandang ayat ini sebagai tantangan yang besar. Namun, mereka juga menganggapnya sebagai sesuatu yang opsional—seolah-olah kita bisa memilih apakah akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Yesus atau tidak. Betapa mudahnya kita berkata, “Tuhan, saya akan mempertimbangkannya. Nanti, kalau saya sudah pensiun dan punya banyak waktu luang, mungkin saya akan mulai melakukan apa yang telah engkau lakukan.” Anggapan ini keliru. Apakah seseorang telah dilahirkan kembali dapat dilihat dari apakah ia melakukan apa yang telah dilakukan oleh Kristus, dengan cara yang dikehendakinya. Inilah wujud menjadi serupa dengan Kristus secara dinamis, yang tampak dalam kehidupan yang rela memberi diri—sebuah kehidupan yang menghasilkan sesuatu di dunia ini demi kemuliaan Allah.


(1) “Pekerjaan”: Menyatakan Allah kepada dunia melalui kehidupan Kristus, perkataan Kristus, dan salib

Pernyataan Yesus dalam Yohanes 14:12 sering dipahami dalam konteks mukjizat, seolah-olah ia berkata, “mukjizat-mukjizat yang aku lakukan, dia juga akan melakukannya… karena aku pergi kepada Bapa ” Salah satu prinsip dasar dalam eksegesis adalah memeriksa konteksnya. Pada pasal sebelumnya, kita membaca:

Simon Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuan, ke manakah engkau akan pergi?” Yesus menjawab dia, “Ke mana aku pergi, kamu tidak dapat mengikuti aku sekarang, tetapi kelak kamu akan mengikuti aku.” Petrus bertanya kepadanya, “Tuan, mengapa aku tidak dapat mengikuti engkau sekarang? Aku akan menyerahkan nyawaku demi engkau!” Yesus menjawab, “Kamu akan menyerahkan nyawamu bagiku? Sesungguhnya, aku mengatakan kepadamu, ayam tidak akan berkokok sebelum kamu menyangkal aku tiga kali.” (Yoh 13:36-38)

Di sini Yesus berbicara mengenai kepergiannya, yakni mati di kayu salib dan pergi kepada Bapa. Inilah “pekerjaan” yang ia datang untuk lakukan. Musuh-musuhnya bersekongkol untuk membunuhnya dengan tujuan mengakhiri pelayanan atau pekerjaannya. Petrus berjanji untuk setia sampai mati—“Aku akan menyerahkan nyawaku demi engkau!”—tetapi Yesus membantunya melihat jati dirinya yang sesungguhnya: “Apakah kamu sungguh akan mati bagiku? Niatmu tulus, tetapi kamu belum siap. Bukan hari ini, besok, atau minggu depan kamu akan siap menghadapi tantangan ini. Kamu akan menyangkal aku tiga kali sebelum ayam berkokok.”

Petrus belum mencapai taraf kesiapan untuk ikut serta dalam “pekerjaan” Tuannya. Kata-katanya yang heroik menunjukkan bahwa ia bahkan tidak menyadari betapa jauh dirinya dari kesiapan tersebut.

Setelah Yudas pergi pada malam hari untuk mengkhianati Yesus, Yesus berkata, “Sekaranglah saatnya Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan melalui dia.” (Yoh 13:31) Ia “dimuliakan” merujuk pada peristiwa ia “ditinggikan” (12:32)—yakni, ditinggikan di atas kayu salib. Melalui kematiannya, ia memuliakan Bapa. Inilah “pekerjaan” yang ia datang ke dunia untuk lakukan. “Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk dikerjakan.” (Yohanes 17:4)

Selain salib, Yesus melakukan pekerjaan lain yang sangat penting bagi keselamatan kita: memberitakan firman Allah. Dalam Yohanes 14:10, tepat sebelum ayat yang sedang kita pelajari (ay 12), istilah “pekerjaan” kembali disebutkan: “Perkataan-perkataan yang aku katakan kepadamu, aku tidak mengatakannya dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang tinggal di dalam akulah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Perhatikan hubungan antara “pekerjaan” dan “perkataan-perkataan yang aku katakan kepadamu”. Dalam aspek pelayanan Yesus ini, melakukan “pekerjaan” Allah merujuk pada tindakan berbicara dan mengajar.

Dari keseluruhan konteks Yohanes 14:12, jelas bahwa kehidupan, pengajaran, dan kematian Yesus merupakan “pekerjaan-pekerjaan”-nya, yakni pelayanannya. Semua ini berkaitan dengan penyataan tentang Bapa: “Siapa saja yang telah melihat aku, dia telah melihat Bapa” (ay 9). Jika Yesus tidak menyatakan Allah kepada kita, kita tidak akan memiliki cara untuk mengenal dan percaya kepada Allah, serta tidak ada jalan menuju hidup yang kekal. “Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Kristus Yesus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3)


(2) Tidak ada rujukan mengenai mukjizat

Dalam bagian Injil Yohanes ini, Yesus berbicara mengenai penyataan Bapa melalui pribadinya sendiri, ajaran-ajarannya, serta kematiannya; tetapi, tidak ada penyebutan mengenai mukjizat. Dalam mengikuti Yesus, misi kita pun serupa, yakni menyampaikan kehidupan Allah dan ajaran Allah kepada banyak orang. Melakukan mukjizat bukanlah fokus utama, meskipun hal tersebut tidak dikesampingkan.

Mari kita perjelas poin ini dalam pikiran kita agar kita tidak terpengaruh oleh orang-orang yang bermaksud baik—terutama teman-teman karismatik kita—yang menafsirkan Yohanes 14:12 semata-mata sebagai tindakan melakukan mukjizat.

Dalam melayani Allah, mungkin saja kita berada dalam situasi di mana kita dipanggil untuk melakukan hal-hal yang bersifat mukjizat. Apakah mukjizat akan sering terjadi melalui diri kita, hal itu bergantung pada karunia rohani yang Allah berikan kepada kita masing-masing. Jika pernyataan Yesus, “setiap orang yang percaya kepadaku, pekerjaan-pekerjaan yang aku lakukan, dia juga akan melakukannya”, diartikan terbatas hanya pada mukjizat, maka pernyataan tersebut tidak mungkin berlaku bagi semua orang percaya. Paulus berkata, “Apakah semuanya rasul? Apakah semuanya nabi? Apakah semuanya guru? Apakah semua adalah pembuat mukjizat? Apakah semuanya memiliki karunia penyembuhan? Apakah semuanya berbicara dengan bahasa-bahasa? Apakah semuanya mengartikan?” (1Kor 12:29-30). Pertanyaan retoris seperti ini mengisyaratkan jawaban “tidak”.

Misi yang kita emban bukanlah terutama mengenai mukjizat, melainkan tentang memperkenalkan Allah melalui kehidupan kita, pengajaran kita akan firman-Nya, serta penderitaan yang kita alami demi Dia. Tujuan dari pekerjaan kita adalah untuk menuntun orang-orang menuju hidup yang kekal di dalam Kristus.

Banyak orang Kristen tidak menyadari panggilan mereka sebagai murid-murid Yesus, apalagi aspek penderitaan yang terkandung dalam panggilan tersebut. Mereka tidak dapat memahami perkataan Paulus ketika ia menyatakan bahwa dalam penderitaannya sendiri, “aku melengkapi apa yang kurang dalam penderitaan Kristus, demi tubuhnya, yaitu jemaat” (Kol 1:24). Kita dipanggil untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Kristus, bahkan dalam persekutuan penderitaannya. Ajaran yang sangat penting ini sebagian besar telah hilang pada masa kini, dan justru karena itulah ajaran ini perlu dipulihkan. “Sebab demi Kristus kamu telah dikaruniakan bukan hanya untuk percaya kepadanya, tetapi juga untuk menderita bagi dia.” (Flp 1:29)

Kristus menyatakan Allah bukan hanya melalui pengajarannya, melainkan terutama melalui kehidupannya yang menyerahkan diri serta melalui kematiannya di kayu salib demi keselamatan kita. Sesaat sebelum ia mengucapkan kata-kata dalam Yohanes 14:12, ia telah terlebih dahulu mengatakan:

“Dan, jika aku ditinggikan dari dunia ini, aku akan menarik semua orang kepadaku.” Yesus mengatakan hal ini untuk menunjukkan dengan kematian seperti apa Dia akan mati. (Yoh 12:32-33)

“Sebab, bahkan Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk 10:45)

Jika Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, mengapa kita berpikir bahwa kita ada di sini untuk dilayani, bukannya untuk melayani? Dan apa yang ia maksud dengan melayani? Hal itu berarti menyerahkan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang; inilah yang disebut sebagai “pekerjaan”-nya.


(3) Mendapat bagian dalam pekerjaan penyelamatan Kristus

Setiap orang yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah ia lakukan. Pernyataan ini tidak terbatas pada orang-orang Kristen dari kalangan “elit” saja, melainkan berlaku bagi semua murid. Dengan demikian, kita pun turut ambil bagian dalam pelayanan penyelamatan Kristus.

Dalam doa imam agungnya, Yesus berkata kepada Bapa, “Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk dikerjakan.” (Yoh 17:4) Bagaimana Yesus memuliakan Bapa di bumi? Dengan menyelesaikan pekerjaan yang telah dipercayakan Bapa kepadanya, yaitu menyerahkan dirinya demi keselamatan umat manusia melalui kehidupan, pengajaran, dan kematiannya. Kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang sama, yakni pelayanan penyelamatan yang telah Bapa berikan kepada Anak-Nya. Yesus juga berkata, “Seperti Engkau telah mengutus aku ke dalam dunia, demikianlah aku mengutus mereka ke dalam dunia” (ay 18)—sebuah pernyataan yang ditegaskan kembali setelah kebangkitannya: “Damai sejahtera bagi kamu. Sama seperti Bapa telah mengutus aku, demikian juga sekarang aku mengutus kamu.” (Yoh 20:21)

Menjadi seperti Kristus berarti memiliki pola pikirnya yang berorientasi pada keselamatan—sebuah gagasan yang diungkapkan dengan penuh kuasa melalui perkataan Paulus: “supaya dengan segala cara aku dapat menyelamatkan beberapa orang” (1Kor 9:22). Inilah semboyan hidup Paulus. Ia berkeinginan untuk menyelamatkan orang lain dengan segala cara, persis seperti Tuannya yang datang untuk menyelamatkan manusia dengan segala cara.

Yesus menebus umat manusia melalui darah di kayu salib, mendamaikan manusia dengan Allah, serta memampukan setiap orang untuk menjadi pribadi yang benar-benar baru yang hidup dalam persekutuan dengan Allah, dan menghasilkan buah yang melimpah melalui Roh, demi kemuliaan Allah.

Bagaimana mungkin mereka yang belum pernah berkesempatan mendengar kabar baik dapat percaya, dan melalui iman tersebut, memperoleh berkat-berkat yang terkandung di dalamnya? Bagaimana mereka bisa mendengar jika kita tidak menyampaikan kabar baik itu kepada mereka? Siapa yang akan bertanggung jawab jika mereka binasa tanpa pernah diberi kesempatan untuk mendengar? Bukankah itu menjadi tanggung jawab kita? Kristus telah menyediakan air kehidupan; adalah tanggung jawab kita untuk membawanya kepada mereka yang akan binasa tanpanya.

Paulus tidak seperti beberapa penginjil modern yang merasa puas hanya dengan mendapatkan orang-orang yang bertobat. Banyak penginjil membiarkan orang-orang yang baru bertobat itu berjuang sendiri, yang sering kali mengakibatkan mereka tidak mampu bertahan. Namun, Paulus berjuang keras dan bersusah payah untuk menghadirkan setiap orang dalam keadaan dewasa (sempurna) di dalam Kristus (Kol 1:28). Ia bekerja keras agar mereka menjadi serupa dengan Kristus, sehingga mereka sendiri dapat menjalani hidup yang penuh pemberian diri—hidup yang membagikan kehidupan Kristus kepada orang lain. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah komunitas baru, yaitu gereja, yang bukan sekadar komunitas orang-orang yang telah diselamatkan, melainkan komunitas yang menyelamatkan.


Gambaran pekerjaan penyelamatan Kristus: Berdiri di celah kerusakan

Kini, setelah kita memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai karya penyelamatan yang datang untuk dilaksanakan oleh Yesus, adakah cara konkret untuk menggambarkan pelayanannya melalui bahasa visual yang bahkan dapat dipahami oleh seorang anak?

Perjanjian Lama menyajikan sebuah gambaran yang hidup: sebuah kota yang menjadi tak berdaya karena tembok-temboknya telah jebol. Dalam situasi yang genting itu, tampil seseorang yang berani untuk berdiri di celah tembok tersebut guna memperbaikinya. Secara historis, inilah yang terjadi pada Nehemia, yang karena alasan tersebut menjadi tipologi bagi Kristus. Dari sudut pandang ini, kitab Nehemia bukan lagi sekadar kitab biasa dengan cakupan terbatas mengenai periode yang relatif tidak dikenal dalam sejarah Israel, melainkan sebuah kitab yang menyingkapkan makna dari tindakan berdiri di celah tembok yang jebol.

Dosa merusak hubungan kita dengan Allah. “Kejahatan-kejahatanmulah yang memisahkan antara kamu dan Allahmu, dan dosa-dosamulah yang membuat Ia menyembunyikan wajah-Nya darimu sehingga Dia tidak mendengar.” (Yes 59:2) Dosa menciptakan jurang pemisah yang lebar antara Allah dan kita. Siapakah yang dapat memperbaiki kerusakan tersebut? Siapakah yang dapat berdiri di antara Allah dan kita? Siapakah yang dapat menjadi perantara antara Allah dan manusia?

Para nabi dan imam adalah perantara. Nabi berbicara kepada umat atas nama Allah, sedangkan imam mempersembahkan kurban kepada Allah atas nama umat. Musa berperan sebagai nabi, sementara Harun berperan sebagai imam. Bersama-sama, mereka membentuk hubungan perantara antara Allah dan manusia; yang satu (nabi) berbicara mewakili Allah, dan yang lainnya (imam) mewakili manusia. Masing-masing mewakili satu pihak. (Tentu saja, Musa juga menjalankan aspek pelayanan imamat dengan menjadi perantara bagi umat.)

Manusia terperangkap dalam cengkeraman dilema ganda: manusia terasing dari Allah dan tidak mengenal-Nya, serta berada di bawah beban kesalahan dan kuasa dosa. Kegelapan akibat ketidaktahuan rohani maupun perbudakan dosa—keduanya berujung pada kematian—sehingga harus diatasi. Yesus menangani masalah ketidaktahuan rohani melalui kehidupan dan ajarannya, serta mengatasi kejahatan dosa melalui kematian dan kebangkitannya.

Salib terletak di pusat karya perantaraannya: pengajarannya mengarah kepada salib, dan kebangkitannya membenarkannya. Di atas saliblah Yesus, dengan tangan terentang, mendamaikan Allah dengan manusia, serta mendamaikan umat manusia dengan segala sesuatu yang ada di bumi maupun di surga (Kol 1:20). Yesus adalah Pengantara yang mulia dan sempurna. Semua pengantara lainnya hanyalah tipe-tipe yang melambangkan dia.


“Berdiri di celah” dalam Perjanjian Lama

Untuk lebih memahami pelayanan keselamatan dalam konteks “berdiri di celah”, mari kita perhatikan gambaran dari Perjanjian Lama dalam Yehezkiel 22:30. Di sini, Allah berfirman kepada nabi besar Yehezkiel:

“Aku mencari seseorang di antara mereka, yang akan membangun tembok dan berdiri di celah di hadapan-Ku demi negeri itu, sehingga Aku tidak perlu menghancurkannya, tetapi Aku tidak menemukan seorang pun.”

Ayat ini penting bagi saya dan saya harap juga bagi Anda, karena ayat ini menyingkapkan kerinduan yang mendalam dari Allah. Allah seolah-olah sedang membuka hati-Nya kepada kita: “Lihatlah ke dalam hati-Ku. Rasakan apa yang Aku rasakan, dan pahamilah pikiran-pikiran-Ku; sebab Aku tidak ingin manusia binasa dalam dosa-dosa mereka.” Untuk memahami latar belakang hal ini, mari kita baca ayat 28-29:

“Nabi-nabinya telah memoleskan dirinya dengan batu kapur, dengan melihat penglihatan-penglihatan palsu dan ramalan-ramalan bohong kepada mereka dengan berkata, ‘Beginilah firman Tuhan Yahweh,’ padahal Yahweh tidak berfirman. Rakyat negeri itu telah mempraktikkan penindasan dan melakukan perampokan, menindas orang-orang miskin dan tidak mampu, serta menindas pendatang dengan tidak adil.”

Allah sedang mencari satu orang saja di seluruh negeri Israel yang telah dirusak oleh dosa dan pemberontakan. Ia berkata, “Aku mencari seseorang di antara mereka”, tetapi tidak dapat menemukan satu orang pun di seluruh Israel untuk melakukan pekerjaan-Nya. Karena itu,

“Aku telah mencurahkan kegeraman-Ku ke atas mereka dan melahap mereka dengan api murka-Ku. Aku telah membalaskan jalan mereka ke atas kepala mereka,” firman Tuhan Yahweh.” (ay 31)

Apakah Anda merasakan isi hati Allah dalam ayat-ayat yang luar biasa ini? Dapatkah Anda, seolah-olah, meletakkan tangan Anda pada denyut nadi Allah dan merasakannya? Israel—suatu bangsa yang dibebaskan Allah dari Mesir dengan tangan-Nya yang kuat, yang Ia tuntun ke Tanah Perjanjian yang berlimpah susu dan madu, yang Ia jadikan sebuah bangsa, yang kepadanya Ia mengutus nabi-nabi-Nya, dan yang dengannya Ia menjalin hubungan istimewa—bangsa ini justru menempuh jalan dosa, dengan melakukan pemerasan dan perampokan. Demikianlah keadaan yang menyedihkan dari Israel, suatu bangsa yang telah ditebus oleh Allah dan dipanggil untuk menyatakan kemuliaan-Nya di dunia.

Allah terpaksa mengulurkan tangan-Nya dengan pedang penghakiman, tetapi kita juga dapat melihat kepedihan di hati-Nya. Ia tidak berkehendak untuk membinasakan Israel. Ia mencari satu orang saja yang mau berdiri di celah tembok agar Ia tidak perlu membinasakan negeri itu beserta umat-Nya, tetapi tidak ada seorang pun yang ditemukan. Murka Allah yang adil terhadap dosa tidak menyisakan pilihan lain selain bertindak dalam penghakiman: yakni “melahap mereka dengan api murka-Ku”.


Penembusaan tembok-tembok di Israel

Mari kita coba memahami gambaran seseorang yang berdiri di celah tembok. Celah tersebut tak lain adalah lubang besar pada tembok sebuah kota.

Mengapa tembok kota runtuh? Salah satu alasannya adalah kurangnya pemeliharaan. Tembok, seperti halnya bangunan, memerlukan perawatan yang berkelanjutan. Tanpa pemeliharaan yang memadai, tembok tersebut pada akhirnya akan hancur.

Alasan lainnya adalah karena bagian-bagian tembok kota terkadang runtuh dalam pertempuran. Pada zaman dahulu, pasukan musuh biasanya menyerang tembok menggunakan alat pendobrak yang berat. Alat ini berupa batang kayu panjang yang kokoh, dengan bagian ujung depan yang dilengkapi kepala domba dari logam lengkap dengan dua tanduknya. Itulah sebabnya alat ini disebut sebagai “domba pendobrak” dalam bahasa Inggris. Batang kayu besar ini digantungkan dengan tali-tali kuat pada sebuah kerangka kayu melengkung, sehingga dapat diayunkan maju-mundur.

Untuk menyerang sebuah kota, para prajurit akan membawa alat pendobrak yang strukturnya dipasang di atas landasan beroda. Mereka akan mendorong alat tersebut hingga merapat ke tembok kota, lalu menarik batang kayu berat ke belakang dan menghentakkannya ke tembok. Ujung logam yang besar akan menghantam tembok, membuat batu-batunya perlahan runtuh. Alat pendobrak—yang juga disebut sebagai mesin pengepung—ini secara bertahap akan menjebol tembok. Sementara itu, pihak yang mempertahankan kota akan menembakkan anak panah dan melemparkan berbagai benda, seperti batu, dari atas tembok. Namun, sulit untuk mengalahkan musuh dengan cara ini karena alat pendobrak tersebut sering kali dilengkapi dengan atap pelindung.

Jika Anda membaca kisah tentang berbagai pertempuran pada zaman dahulu, Anda akan tahu bahwa suara dentuman alat pendobrak tembok membuat perut penduduk yang mendengarnya terasa mual. ​​Bayangkan kota Anda dikepung oleh musuh, lalu Anda mendengar suara alat pendobrak itu beraksi. Bum! Bum! Setiap hantaman membuat perut Anda terasa mulas, dan Anda pun bertanya-tanya kapan tembok itu akan runtuh. Orang-orang di dalam kota berada dalam ketegangan, menanti saat-saat yang menentukan. Ketika saat itu akhirnya tiba, para prajurit musuh akan menyerbu masuk melalui celah tembok bagaikan air bah. Hal itu menandai akhir dari kota tersebut, bahkan mungkin juga kehancuran suatu bangsa. Sayangnya, peristiwa semacam ini sudah terlalu sering terjadi.

Tembok Yerusalem telah ditembus, dan kota itu kini tanpa pertahanan. Tembok tersebut merupakan garis pertahanan utama; begitu tembok itu runtuh, tidak ada lagi keamanan ataupun keselamatan. Musuh akan menyerbu masuk bagaikan banjir, membawa kematian dan kehancuran.

Mereka yang pernah mengunjungi Masada di Israel tentu mengetahui tragedi yang terjadi di sana sekitar sembilan belas abad yang lalu. Orang-orang Yahudi merasa aman di dataran tinggi berbatu Masada, tetapi bangsa Romawi membangun jalan landai hingga ke puncak gunung, mencapai tembok-tembok yang berdiri di sana, lalu membawa naik mesin-mesin pengepungan. Tak lama kemudian, para pembela Masada Yahudi merasakan sensasi yang mengerikan di perut mereka saat mendengar dentuman mesin pendobrak tembok. Bum! Bum! Setiap dentuman menjadi pengingat yang memuakkan akan kematian yang kian dekat.

Lalu, apa yang dilakukan oleh para pembela Masada? Mereka membangun tembok lain di bagian dalam tembok luar, sehingga jika tembok luar runtuh, mereka masih memiliki garis pertahanan kedua. Namun, hal itu tidak menghentikan bangsa Romawi. Mereka pun meruntuhkan tembok kedua tersebut. Lantas, apa yang dilakukan oleh orang-orang di Masada? Mereka melakukan bunuh diri. Saya teringat akan perkataan Yehezkiel: “Mengapakah kamu mesti mati, hai keturunan Israel?” (18:31; 33:11)

Yehezkiel 22:30 menyatakan bahwa Allah mencari di seluruh Israel seseorang yang dapat membangun kembali tembok dan berdiri di hadapan-Nya di celah tembok demi negeri itu, supaya Ia tidak perlu memusnahkannya, tetapi Ia tidak menemukan satu orang pun seperti itu.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, mari kita menilik kembali ke Yesaya 5, mengenai gambaran Allah yang sedang membangun suatu bangsa: Tuhan memiliki sebuah kebun anggur (= Israel) yang terletak di bukit yang subur. Ia mencangkul tanah kebun itu, menyingkirkan batu-batunya, lalu menanaminya dengan tanaman anggur pilihan. Ia membangun menara pengawas untuk melindungi kebun tersebut, serta membuat tempat pemerasan anggur. Namun, hasil akhirnya sungguh tragis. Israel berdosa dengan sangat berat, sehingga Yahweh berfirman, “Oh penghuni Yerusalem dan orang-orang Yehuda… Apalagi yang harus dilakukan untuk kebun anggurku, yang belum aku lakukan? Mengapa saat aku berharap kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, justru menghasilkan buah anggur yang asam?” (ay 3-4)

Tanaman anggur itu menghasilkan buah yang asam. Israel adalah bangsa yang tidak menghasilkan buah, sehingga Allah Israel yang kudus harus mendatangkan penghakiman atas umat-Nya sendiri:

Jadi sekarang, aku akan memberitahumu apa yang akan kuperbuat terhadap kebun anggurku: aku akan membuang pagarnya, dan kebun itu akan dilahap; aku akan meruntuhkan temboknya, dan kebun itu akan menjadi tanah yang diinjak-injak. Aku akan membiarkan kebun itu tandus, kebun itu tidak akan dipangkas dan didangir lagi, semak dan duri akan tumbuh di sana. Aku juga akan memerintahkan awan-awan supaya tidak menurunkan hujan ke atasnya.” (ay 5-6)

Allah akan menghakimi semua orang berdosa, baik mereka umat-Nya maupun bukan, baik mereka orang percaya maupun orang yang tidak percaya. Ada tertulis:

Sudah saatnya penghakiman dimulai dari keluarga Allah. Dan, jika penghakiman Allah dimulai dari kita, bagaimanakah nasib orang-orang yang tidak taat kepada Injil Allah? Jika orang saleh saja sulit untuk diselamatkan, bagaimana dengan orang jahat dan orang berdosa? (1Ptr 4:17-18)


Jemaat, kemuliaan Kristus?

Yerusalem terkadang disebut—terutama dalam lagu-lagu pujian—sebagai Jerusalem the Golden (Yerusalem, Mulia dan Kudus, KJ261). Nama yang indah ini terinspirasi oleh pantulan cahaya matahari yang keemasan pada tembok-tembok Yerusalem.

Kitab Mazmur melukiskan Yerusalem sebagai tempat bersemayamnya Yahweh, yang adalah terang (Mzm 43:3; 102:16). Yesaya menyebut Yahweh sebagai “terang Israel” (10:17). Israel ditetapkan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa, sehingga bangsa-bangsa akan datang kepada terangnya. Nabi Yesaya berkata, “Yahweh akan terbit atasmu dan kemuliaan-Nya akan terlihat atasmu. Bangsa-bangsa akan datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit padamu.” (Yes 60:2, 3) Terang dari Gunung Sion—kota Allah yang terletak di atas bukit—akan terlihat oleh dunia dan akan menarik semua bangsa.

Yesus menerapkan gambaran ini kepada para muridnya dan gereja, yang dimaksudkan untuk menjadi terang dunia, Yerusalem rohani yang tidak dapat disembunyikan (Mat 5:14). Umat Allah adalah Yerusalem baru yang mencerminkan kemuliaan-Nya. Yerusalem merupakan representasi dari gereja (Ibr 12:22, 23; Gal 4:25, 26). Paulus mengatakan:

… seperti Kristus mengasihi jemaat dan memberikan dirinya bagi jemaat, untuk menguduskan mereka dengan membersihkannya lewat pembasuhan air dengan firman. Dengan demikian, Kristus dapat mempersembahkan jemaat kepada dirinya dalam kemuliaan, tanpa noda, atau tanpa kerut, atau semacamnya sehingga jemaat menjadi kudus dan tidak bercela. (Ef 5:25-27)

Jemaat dalam segala kemuliaannya! Mengingat kondisi rohani begitu banyak gereja saat ini, kita mungkin berpikir bahwa Paulus sedang merujuk pada sesuatu pada masa depan, di surga. Namun, adakah cicipan dari hal itu pada masa kini? Bagaimana dengan kata-kata, “untuk menguduskan mereka”? Apakah itu juga terjadi pada masa depan? Kalimat berikutnya merujuk pada sesuatu yang telah terjadi: “dengan membersihkannya”. Apakah ada masa lalu dan masa depan, tetapi tidak ada masa kini? Atau, apakah kita hendak mengatakan bahwa pembersihan itu tidak efektif sampai kita tiba di surga? Apakah pengudusan atau kekudusan hanyalah sebuah status tanpa realitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari?

Penggenapan akhir dan sempurna dari kata-kata dalam kitab Efesus tersebut pastilah akan terjadi di surga; hanya pada saat itulah kita akan benar-benar bebas dari “noda atau kerut”. Namun, apakah itu berarti tidak ada cicipan awal dari kemurnian ini di dalam gereja di bumi pada masa sekarang? Apakah itu berarti gereja tidak memiliki kemuliaan rohani yang dapat dilihat selama berada di bumi?


Di mana ada terang, di situ ada kemuliaan

Dalam Kitab Suci, kemuliaan dan terang saling berkaitan erat. Di mana tidak ada kemuliaan, di situ tidak ada terang. Di mana tidak ada terang, di situ tidak ada kemuliaan. Jika gereja tidak memiliki kemuliaan, ia pun tidak akan memiliki terang. Namun, Paulus berkata kepada orang-orang percaya: “Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang dalam Tuhan. Hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef 5:8). Ia tidak sekadar mengatakan “Dahulu kamu dalam kegelapan”, melainkan “Dahulu kamu adalah kegelapan”. Ia pun tidak mengatakan “kamu berada di dalam terang”, melainkan “kamu adalah terang”.

Pandangan Paulus yang dinamis mengenai Injil sangat kontras dengan pemahaman kita yang lemah mengenainya. Itulah sebabnya banyak orang Kristen merasa kesulitan memahami surat-surat Paulus. Padahal, ia hanya mengulangi apa yang dinyatakan oleh Yesus sendiri: “Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:14), sama seperti Yesus adalah Terang dunia (Yoh 8:12).

Apakah gereja saat ini berfungsi sebagai terang? Apakah gereja menyatakan kemuliaan Allah? Reputasi gereja saat ini begitu buruk sehingga sulit untuk mengajak orang-orang yang berpikiran jernih agar mau datang ke gereja.

Pada zamannya, Paulus dapat berbicara tanpa rasa malu atau perlu meminta maaf saat menyebut gereja sebagai kemuliaan Allah, meskipun gereja pada saat itu belum mencapai kesempurnaan. Dapatkah kita mengatakan hal yang sama hari ini? Dalam Efesus 3:21, Paulus berkata, “Bagi Dialah kemuliaan dalam jemaat dan dalam Yesus Kristus”—dengan urutan seperti itu! Paulus menyatakan bahwa kemuliaan Allah dinyatakan pada masa kini melalui jemaat—kemuliaan yang juga ada di dalam Yesus Kristus. Saat ini, Allah dinyatakan kepada dunia melalui jemaat, yang merupakan tubuh Kristus. Dapatkah kita berbicara mengenai gereja dengan ungkapan yang penuh kekaguman seperti itu, tanpa rasa malu atau canggung?

Pada suatu masa, Israel memancarkan kemuliaan Allah. Pada zaman Daud, reputasi kemuliaan Israel tersebar luas ke mana-mana. Pada masa pemerintahan Salomo, ratu dari Syeba menempuh perjalanan jauh dengan rombongan besar untuk mendengarkan hikmatnya dan menyaksikan kemuliaan negeri itu. Sebelumnya, ia mengira bahwa berbagai kabar mengenai Israel hanyalah dilebih-lebihkan, tetapi setelah tiba di sana, ia mendapati bahwa kabar tersebut bahkan belum menceritakan separuh dari kenyataan yang sebenarnya (1Raj 10:7). Akan tetapi, kemuliaan itu tidak bertahan lama.

Di dalam Kristus, gereja memiliki Pribadi yang jauh lebih agung daripada Salomo (Mat 12:42; Luk 11:31), tetapi apakah kemuliaannya terlihat dalam diri umatnya? Akankah orang-orang datang dari tempat yang jauh untuk mencari dia yang lebih agung daripada Salomo?

Dua ribu tahun memisahkan kita dari Paulus. Pada zamannya, Paulus masih dapat berbicara dengan penuh sukacita mengenai kemuliaan Allah di dalam gereja, meskipun gereja tidak sempurna. Dapatkah kita melakukan hal yang sama saat ini?

Betapa tembok-tembok telah runtuh. Celah-celah besar menganga, tampak jelas oleh siapa pun. Kota yang terletak di atas bukit itu kini sulit disebut sebagai sesuatu yang penuh kemuliaan. Sebagai kota yang tidak mungkin tersembunyi, segala kekurangannya pun tak bisa ditutupi. Di dunia Barat yang sekuler, mereka yang masih menaruh sedikit rasa hormat—alih-alih mencemooh—mungkin hanya menganggap gereja sebagai peninggalan budaya yang telah kehilangan relevansinya di dunia modern. Pilihan di hadapan gereja sangatlah jelas: kita menjadi terang dunia sebagaimana dikehendaki oleh Allah, atau dunia akan menganggap kita tidak lagi relevan, dan Allah akan menjatuhkan penghakiman atas kita.


Allah sedang mencari seseorang untuk berdiri di celah tembok

Allah sedang memeriksa gereja-Nya di dunia saat ini; namun, adakah seseorang yang akan Ia temukan untuk berdiri di celah tembok sebelum gereja dari kalangan bangsa-bangsa lain dipotong? Ya, sebelum gereja yang terdiri dari orang-orang bukan Yahudi—yang mencakup sebagian besar gereja saat ini—dipotong! Hal ini mungkin mengejutkan, tetapi selaras dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 11:21-22:

Sebab jika Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli (Yahudi), Ia juga tidak akan menyayangkan kamu (bukan Yahudi). Oleh karena itu, perhatikanlah kebaikan dan kekerasan Allah; kekerasan terhadap mereka yang telah jatuh, tetapi kebaikan Allah kepada kamu jika kamu tetap tinggal dalam kebaikan-Nya. Jika tidak, kamu juga akan dipotong. (Rm 11:21-22)

Paulus sedang berbicara kepada gereja. Jika kita sebagai orang Kristen tidak terus hidup dalam kebaikan Allah, kita pun akan dipotong, karena kita tidak akan menerima perlakuan istimewa dibandingkan orang Yahudi. Ungkapan “dipotong” merupakan peringatan agar kita tidak menganggap remeh belas kasihan Allah.

Berdasarkan peringatan Paulus dan kondisi gereja saat ini, kita melihat bahwa masa keberadaannya sudah mendekati akhir, seiring dengan berakhirnya zaman bangsa-bangsa lain (zaman orang bukan Yahudi). Tembok-tembok kota telah runtuh di banyak tempat, dan Allah sedang mencari seseorang untuk berdiri di celah tembok tersebut. Sayangnya, sama seperti Allah tidak dapat menemukan seorang pun di Israel untuk mencegah kehancuran Israel, demikian pula saat ini, Dia pasti kesulitan menemukan orang yang tepat.

Paulus menyampaikan kata-kata yang meresahkan dalam Filipi 2:20-21: “Sebab, aku tidak memiliki orang lain seperti dia (Timotius), yang dengan tulus memedulikan kesejahteraanmu. Sebab, yang lain hanya sibuk memedulikan kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.” Paulus tidak dapat menemukan seorang pun selain Timotius yang menempatkan kepentingan Kristus Yesus di atas segalanya. Rekan-rekan sekerjanya yang lain justru sibuk dengan kepentingan mereka sendiri—bahkan pada masa gereja mula-mula!

Mari kita jujur. Berapa banyak dari Anda yang hidup sepenuhnya demi kemuliaan Allah, bukan demi kepentingan diri sendiri? Paulus hanya menemukan satu orang seperti itu, yaitu Timotius. Syukurlah ada orang-orang seperti Timotius, begitu pula Paulus, Yohanes, Petrus, dan yang lainnya. Jika tidak, akan jadi apa gereja ini?


(1) Musa sebagai teladan seseorang yang berdiri di celah kerusakan

Sejarah Israel adalah sejarah orang-orang yang berdiri di celah kerusakan. Jika tidak ada seorang pun yang berdiri di celah tersebut, Israel tidak akan mampu bertahan selama itu. Bangsa ini mungkin sudah lenyap jauh sebelum kehancurannya sebagai sebuah negara di tangan bangsa Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar pada tahun 587 SM. Israel dapat bertahan dalam waktu yang lama semata-mata karena di setiap generasi, berkat anugerah Allah, selalu ada seseorang yang berdiri di celah tersebut. Namun pada akhirnya, tidak ada lagi seorang pun yang berdiri di celah itu, sehingga malapetaka pun menimpa Israel.

Musa adalah seseorang yang berdiri di celah kerusakan. Mazmur 106:23 menyatakan bahwa Yahweh “mengatakan bahwa Dia akan menghancurkan” Israel akibat peristiwa anak lembu emas (ay 19). Pemazmur melanjutkan: “jika Musa, orang pilihan-Nya, tidak berdiri [di celah] di hadapan-Nya sehingga memadamkan murka-Nya untuk menghancurkan mereka.”

Seandainya Musa tidak berdiri di celah kehancuran dan meredakan murka Allah, sejarah Israel akan berakhir tepat pada saat itu juga. “Tembok-tembok” telah runtuh di padang gurun akibat ketidaksetiaan Israel. Musa berdiri di celah tersebut untuk menahan murka Allah, memohon kepada-Nya agar tidak membinasakan Israel (Kel 32:9-14), bahkan rela jika namanya sendiri dihapus dari kitab kehidupan (ay 32).

Pada dasarnya, Musa berkata, “Tuhan, jika Engkau hendak membinasakan Israel, ingatlah bahwa Engkau sendirilah yang menunjuk aku untuk memimpin mereka. Aku mengakui kesalahanku karena telah gagal menuntun umat-Mu ke jalan kebenaran.” Musa tidak sekadar bersikap rendah hati; ia memikul tanggung jawab atas kegagalan Israel. Itulah sebabnya ia berkata, “Hapuslah namaku” (Kel 32:32), meskipun Allah tidak menimpakan kesalahan kepadanya. Allah hendak membinasakan Israel dan menjadikan Musa “suatu bangsa yang besar” (ay 10). Namun, Musa menjawab, “Engkau telah menjadikanku pemimpin bangsa ini. Aku tidak ingin menjadi bangsa yang besar terpisah dari mereka. Jika Engkau hendak membinasakan mereka, binasakanlah aku bersama-sama dengan mereka.”

Semoga Allah mengasihani gereja, seandainya kita memiliki semangat dan sikap seperti Musa yang berkata, “Tuhan, jika Engkau hendak memotong gereja, janganlah luputkan aku, sebab aku telah gagal membangun tembok-tembok kebenaran.”

Dunia tidak akan berpaling kepada Allah sampai gereja kembali berfungsi sebagai terang dan menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Kita harus berdiri di celah tembok dan membangun tembok-tembok keselamatan, agar apa yang tertulis dapat digenapi: “Kamu akan menyebut tembok-tembokmu ‘Keselamatan’ dan pintu-pintu gerbangmu ‘Pujian.’” (Yes 60:18)


(2) Dosa menyebabkan tembok-tembok runtuh

Dosalah yang meruntuhkan tembok-tembok itu, sebagaimana kita lihat dalam Yesaya 30:13—sebuah bagian lain yang mencolok dan menyakitkan. Latar belakangnya dapat dilihat pada ayat 9-11:

Sebab, mereka adalah bangsa pemberontak, anak-anak yang suka berdusta, anak-anak yang tidak mau mendengarkan perintah Yahweh, yang berkata kepada para pelihat, “Jangan melihat,” dan kepada para nabi, “Jangan bernubuat atas kami tentang apa yang benar, katakan kepada kami hal-hal yang menyenangkan dan nubuat yang menipu. Menyingkirlah dari jalan, minggirlah dari jalan ini. Biarkan kami tidak mendengar lagi tentang Yang Mahakudus Israel.” (Yes 30:9-11)

Sekali lagi, seorang nabi Allah menegur Israel. Kondisi rohani mereka yang sangat memprihatinkan mengingatkan kita pada pernyataan Paulus bahwa akan tiba waktunya—bukankah waktu itu sudah tiba?—ketika orang tidak lagi tahan menerima ajaran yang sehat, melainkan akan mencari pengajar yang sekadar memuaskan keinginan telinga mereka (2Tim 4:3). Israel hanya ingin mendengar “hal-hal yang menyenangkan” dan mendesak para nabi untuk menubuatkan “nubuat yang menipu”. Bangsa itu tidak lagi mau mendengarkan pengajaran dari Yahweh sendiri, bahkan enggan mendengar apa pun mengenai “Yang Mahakudus Israel”! Nabi-nabi palsu telah menyesatkan umat, menjauhkan mereka dari jalan kebenaran. Dalam ayat 13-14, melalui Yesaya, Yahweh berfirman lebih lanjut:

Maka bagimu, kejahatan ini akan seperti retakan tembok yang hampir jatuh, yang menyembul pada tembok yang tinggi, dan akan runtuh tiba-tiba dalam sekejap. Kehancurannya akan seperti kehancuran tempayan tukang periuk, yang dihancurkan tanpa dikasihani sehingga di antara pecahan-pecahannya, tidak satu keping pecahan pun yang ditemukan, yang dapat digunakan untuk mengambil api dari perapian atau mencedok air dari sebuah kolam.”

Di sini digambarkan tembok tinggi yang telah hancur lebur, sedemikian rupa hingga Anda tidak akan menemukan pecahan yang cukup besar untuk menampung bara api yang masih menyala dari perapian, ataupun untuk mencedok air dari bak penampungan. Dosa-lah yang meruntuhkan tembok-tembok tersebut, baik dalam lingkup bangsa maupun individu. Dosa-dosa kitalah yang menyebabkan tembok keselamatan kita jebol dan runtuh.


(3) Syarat penting untuk berdiri di celah

“Bagaikan kota yang roboh tanpa tembok, seperti itulah orang yang tidak bisa mengendalikan diri.” (Ams 25:28)

Sebuah kota tidak dapat disalahkan atas kondisinya yang rusak, tetapi seorang manusia akan disalahkan atas kondisinya sendiri. Seseorang yang tidak memiliki pengendalian diri ibarat sebuah kota yang dibiarkan tanpa pertahanan karena tembok-temboknya telah hancur.

Seseorang yang tidak mampu mengendalikan diri akan terus-menerus jatuh ke dalam dosa. Ia melihat wanita cantik lalu timbul hawa nafsu; ia melihat mobil indah lalu muncul keinginan untuk memilikinya; ia melihat peluang untuk mendapatkan uang lalu bergegas meraihnya. Setiap godaan menjeratnya. Ia membiarkan dirinya terbuka terhadap dosa, bagaikan sebuah kota yang temboknya telah jebol. Ia membiarkan dirinya tanpa perlindungan menghadapi musuh-musuh bebuyutannya—dosa, kedagingan, dan Iblis—yang menyerbu masuk melalui celah tersebut untuk menghancurkannya. Dosa menciptakan celah, dan jalan pun terbuka bagi dosa-dosa lain untuk masuk, yang pada akhirnya menciptakan lebih banyak lagi lubang pada tembok pertahanan itu. Inilah lingkaran setan yang berujung pada kehancuran.

Mengapa pengendalian diri begitu penting bagi kehidupan rohani? Dalam amsal yang baru saja dikutip, kita melihat bahwa seseorang yang memiliki pengendalian diri ibarat sebuah kota yang tembok-temboknya masih utuh. Musuh-musuh bebuyutannya tertahan di luar dan tidak mampu mencelakainya. Dari landasan yang aman inilah ia melangkah maju untuk meraih kemenangan bagi Tuhan.

Pengendalian diri dalam diri seseorang yang telah menjadi manusia baru di dalam Kristus tidaklah sama dengan pemahaman yang kita miliki sebelum kita menjadi Kristen. Sebagai manusia baru di dalam Kristus, kita telah memasuki kehidupan yang berpusat pada Kristus, bukan berpusat pada diri sendiri. Dengan demikian, “pengendalian diri” sebenarnya merupakan “pengendalian oleh Roh”—yakni hidup di bawah kepemimpinan Allah. Hal ini bukan berarti kita menjadi seperti robot; sebaliknya, melalui Roh Allah yang berdiam di dalam diri kita, kita memiliki kuasa untuk mengendalikan diri (pengendalian diri adalah buah Roh, Galatia 5:23; bdk. ayat 22). Yesus menghendaki murid-muridnya menjadi pribadi-pribadi yang berkemenangan, bukan sekadar robot.


Tidakkah sebaiknya kita berdiri di celah itu?

Di manakah orang yang mau berdiri di celah tembok dan membangun kembali tembok-tembok itu? Apakah gereja di bumi masih menjadi kemuliaan bagi Allah? Yeremia meratapi Yerusalem yang telah hancur; tembok-temboknya runtuh dan kemuliaannya telah sirna. Ia menangisi kota itu. Ia berusaha berdiri di celah tembok tersebut, tetapi mereka tidak mengizinkannya! Murka Allah begitu berkobar terhadap Israel sehingga Ia berfirman kepada Yeremia, “Dan kamu, janganlah berdoa bagi bangsa ini ataupun menaikkan seruan atau doa bagi mereka. Sebab, Aku tidak akan mendengarkan ketika mereka berseru kepada-Ku pada masa kesusahan mereka.” (Yer 11:14) Sudah terlambat. Penghakiman Allah telah jatuh ke atas umat-Nya. Jika kita tidak bertobat di hadapan Allah, akan tiba saatnya di mana segalanya sudah terlambat untuk mencegah penghakiman-Nya.

Yeremia berusaha berdiri di celah kehancuran, tetapi ia diseret paksa dengan cara dicengkeram tengkuknya! Ia diperlakukan dengan kasar lalu dilemparkan ke dalam sebuah lubang. Akan tetapi, ketika firman Yahweh yang disampaikan melalui dirinya benar-benar terjadi, Yeremia tidak pernah berkata kepada bangsa Israel, “Sudah kubilang, kan! Kalian memang pantas mendapatkannya!” Sebaliknya, ia justru dikenal sebagai nabi yang menangis. Ketika peringatan-peringatannya bagi Israel menjadi kenyataan dan bangsa itu akhirnya terputus—seperti yang telah ia peringatkan—Yeremia meratapi mereka. Kitab Ratapan merupakan catatan dukacitanya.

Marilah kita berdoa agar hari itu tidak pernah tiba—hari di mana kita akan menangis karena Allah telah memutus hubungan dengan gereja dari kalangan bangsa-bangsa lain (non-Yahudi). Melalui rasul Paulus, Ia telah memberikan peringatan yang jelas: jika kita tidak berdiri teguh dalam iman melainkan menjadi sombong (Rm 11:20), serta tidak terus hidup dalam kebaikan-Nya, maka apa yang telah terjadi pada Israel akan terjadi pula pada kita (ay 22).

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kasih karunia, belas kasihan, hikmat, dan kekuatan untuk berdiri di celah tembok, agar Ia menahan penghakiman-Nya yang adil. Semoga gereja dibangun kembali secara rohani dan tembok-temboknya ditegakkan kembali sebagai tembok keselamatan. Semoga gereja kembali mendatangkan kemuliaan bagi Allah pada akhir zaman ini, sehingga banyak orang di bumi dapat menemukan keselamatan di dalam tembok-temboknya.

Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨